Saturday, January 12, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 12 – 2

0 comments
Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 12 – 2
Images : Channel 3
Pa merasa ada yang aneh dengan Kiew. Dia merasa Kiew seperti sedang berbohong. Pa terus bicara sambil memakan makanan yang Katha pegang.
“Aku rasa kau bisa mencurigai apapun, tapi sekarang ini kau sedang makan makananku! Ini makananku! Dan itu makananmu,” tegas Katha sambil menunjukkan kotak makanan Pa yang ada di sebelah.
Pa langsung malu dan meminta maaf. Dia beralasan kalau dia butuh makan agar bisa berpikir. Katha dengan manisnya memberikan makanannya untuk Pa makan agar Pa bisa berpikir penuh. Pa langsung tersenyum lebar dan berterimakasih.
 “Aku tadi bilang sepertinya Kiew pasti menyembunyikan sesuatu.”
“Oi, maksudmu temanmu berbohong kalau dia belum bertemu dengan Ai-Peat? Tapi untuk mencari Peat, itu bukan perkara mudah!”
“Oh, benar juga ya!”
--
Peat membawa Kiew ke sebuah rumah. Kiew terus berjalan sambil menarik baju belakang Peat. Kiew bertanya, rumah siapa?
“Rumah ibuku. Sekarang, kau bisa melepas ku kan?” tanya Peat karena Kiew terus menarik baju belakangnya.
“Kau tidak akan kabur kan?”
“Jika kau tidak memberitahu siapapun.”
Dan Kiew melepaskan pegangannya dari baju belakang Peat. Saat Peat berjalan masuk ke dalam rumah, Kiew kembali menarik baju belakang Peat karena dia takut. Peat hanya menatapnya dan membiarkannya. Saat sudah masuk ke dalam rumah dan sudah menyalakan lampu, Peat menyuruh Kiew untuk melepasnya sekarang.
Kiew melihat dalam rumah yang masih rapi dan tidak berdebu, jadi pasti ada orang yang datang secara rutin ke rumah itu dan membersihkannya.
“Pengacara ibuku yang membantu mengatur asetku. Kau bertanya terlalu banyak. Pulang sana,” usir Peat.

Kiew tidak mau karena dia mau membantu Peat. Tetapi, Peat terus menyuruhnya pulang dan mengingatkan Kiew untuk tidak memberitahu siapapun.
“Hati-hati ya,” ujar Peat. Kiew tersenyum dan mengangguk.
Pa dan Katha lanjut mencari Peat ke café-café. Karena belum bertemu, mereka kembali beristirahat. Pa sangat lelah dan menguap berkali-kali. Katha menyarankan Pa untuk meninggalkan mobilnya dan dia yang antar pulang. Besok Pa bisa datang lagi untuk mengambil mobilnya. Pa menolak karena dia tidak mau berhutang budi. Di tambah lagi, mereka bukan teman dekat, jadi dia tidak ingin Katha tahu dimana rumahnya. Pa juga mengingatkan Katha untuk memberitahunya jika sudah menemukan Peat, jadi dia juga bisa berhenti mencari Peat.

Katha mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor Pa agar dia bisa menghubungi Pa jika Peat sudah ketemu. Pa langsung memasang muka seolah Katha modus minta nomornya. Katha menyadari hal itu, dan menyuruh Pa untuk tidak usah ge-er karena dia tidak akan menggoda Pa. Pa bukan wanita idamannya. Wanita yang di sukainya itu, tinggi, body nya bagus, sexy dan pokoknya bertetangan sama Pa.
Pa langsung memukul kepala Katha. Dia juga menegaskan kalau walaupun Katha menggodanya, dia tidak akan tertarik. Pria idamannya itu tinggi, tampan, body nya bagus, dan kulitnya cokelat, berbeda dari Katha!
Katha tidak peduli dan memberikan ponselnya. Pa segera memberikan nomornya dan langsung pergi.
“Terimakasih langit, karena aku bukan pria idamanmu. Terimakasih,” doa Katha (hahaha!)
Pa jelas kesal dan balik untuk neloyor kepala Katha.
--
Kiew pulang ke rumah dan melihat Khun Nai yang sedang melihat foto Peat. Khun Nai menyuruh Kiew untuk beristirahat dan bisa bangun siang besok. Mengenai pencarian Peat, biar dia dan Tee yang mencari.
“Ayah, aku…” ujar Kiew.
Akhirnya Kiew memberitahu Khun Nai kalau dia sudah menemukan Peat. Khun Nai langsung minta di antarkan ke tempat Peat, tapi Kiew tidak mau. Dia meminta Khun Nai memberikan waktu pada Peat. Jika Khun Nai pergi sekarang, Peat akan kabur lagi. Dia ingin Khun Nai menunggu hingga Peat siap. Khun Nai masih merasa khawatir, tapi setelah penjelasan panjang lebar Kiew dan Kiew sampai memohon, Khun Nai akhirnya bersedia menunggu.
“Suatu hari Peat akan tahu kalau kau adalah orang yang paling menyanyanginya,” ujar Kiew.
--

Selesai bicara dengan ayahnya, Kiew menelpon Pa dan bertaya apa Pa sudah pulang? Pa menjawab sudah. Dan Kiew mengucapkan rasa terimakasihnya karena Pa sudah membantunya hari ini. Pa kemudian menginterogasi Kiew, Kiew tidak berbohong padanya kan?
“Tidak. aku tidak berbohong. Udah dulu, ya,” hindar Kiew dan langsung mematikan telepon.
Setelah itu, Kiew kembali mengingat saat Peat menyatakan cinta-nya, Peat terus tersenyum. Dia benar-benar senang.
Sementara Peat, dia berbaring di sofa dan ternyata dia tersadar saat Kiew mencium keningnya. Dia memikirkan maksud ciuman Kiew itu.
--
Esok pagi,
Secara diam-diam, Kiew masuk ke dalam kamar Peat dan mengambilkan beberapa pakaian dan handuk untuk Peat. Saat Taeng lewat, Kiew langsung bersembunyi.
Setelah itu, Kiew memasak makanan untuk di bawa ke tempat Peat. Taeng heran melihat Kiew pagi-pagi sudah masak, dan Kiew bohong kalau dia masak untuk dia bawa ke kantor. Dia akan makan di kantor. Dia juga membuat banyak untuk ayah dan Taeng. Setelah itu, Kiew segera memasukkan makanannya ke kotak bekal dan langsung pergi.
Kiew juga mampir ke apotek dan membeli beberapa obat. Dia juga pergi ke supermarket untuk membeli buah.
--
Chaya dan Katha berkumpul di tempat Kris. Mereka merasa khawatir karena belum menemukan Peat. Kris menyuruh mereka untuk tenang saja, Peat pasti akan kembali nantinya. Katha tetap khawatir, dia takut kalau Peat akan melukai diri sendiri. Chaya langsung marah karena Katha sudah berpikir gila seperti itu. Kris malah membenarkan perkataan Katha. Dia dan Chaya mulai bertengkar lagi.
Katha menyuruh mereka untuk tidak bertengkar. Katha juga menyuruh Kris untuk melakukan sesuatu juga, jangan hanya diam seperti ini.
Kris kemudian sibuk memainkan ponselnya. Dia melihat youtube dan menemukan video saat Peat di pukuli orang-orang kemarin. Bukannya memberitahu Katha dan Chaya, dia malah menyembunyikan hal tersebut.
Chaya memutuskan untuk menemui Khun Nai, mana tahu ada informasi. Katha menyuruh Chaya untuk memberitahunya jika mendapat informasi.
--
Chaya datang ke perusahaan Khun Nai dan langsung bertanya kepada karyawan di sana, ada dimana Khun Nai? Dengan sopan karyawan itu memberitahu kalau Khun Nai sedang rapat dan menyuruh Chaya untuk menunggu di ruang tunggu. Nanti dia akan memberitahu Khun Nai.
“Tidak perlu! Aku akan ke sana langsung,” ujar Chaya (ihh… macam pemilik perusahaan saja!)
Selesai rapat, Khun Nai menyuruh Tee untuk berhenti mencari Peat. Tee jelas heran karena Peat kan belum di temukan. Khun Nai memberitahunya kalau Kiew sudah menemukan Peat, tapi tidak mau memberitahunya Peat ada dimana. Dia meminta mereka memberi waktu untuk Peat.
Dan Chaya mendengar semua ucapan Khun Nai tersebut. Khun Nai kaget melihat Chaya. Chaya langsung memberi salam dan meminta maaf karena sudah menguping.
“Tapi aku rasa kita harus bertanya pada Kiew dimana Peat. Aku takut.”
“Takut apa? Sekarang Peat tidak dalam bahaya. Kiew menjaganya.”
“Tapi aku takut kalau Peat akan melukai diri sendiri. Aku minta maaf karena harus mengatakan ini langsung. Tapi, bagaimana jika Peat mengambil jalan pintas (bunuh diri)? Kiew sendirian tidak akan bisa menghentikan Peat,” ujar Chaya (ih, tadi dia yang marah pada Katha ngomong gitu, eh, tapi dia malah bilang gitu ke Khun Nai. Ular!)
“Khun Kiew tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi,” ujar Tee.
“Tapi Kiew tidak ada selalu bersama Peat siang dan malam, kan? Jika ini terjadi saat Kiew tidak ada, siapa yang akan menolong Peat?”
Khun Nai merasa kalau perkataan Chaya ada benarnya. Jadi, dia meminta Tee untuk menyuruh orang mengikuti Kiew, dan segera berikan kabar padanya. Chaya langsung meminta untuk di kabari juga dan berjanji tidak akan mengganggu Peat. Khun Nai mengerti dan berkata akan memberitahu Chaya. Dia juga berterimakasih karena Chaya sudah mengkhawatirkan Peat.
Chaya tersenyum senang setelah Khun Nai pergi.
--
Peat akhirnya bangun. Dan dia langsung kaget saat melihat Kiew sudah ada di sebelahnya dan menatapnya. Kiew mengejek Peat yang bangun sangat telat. Dia datang untuk merawat Peat dan juga membawa beberapa barang untuk Peat. Ada obat, peralatan mandi, dan juga dia sudah menyiapkan sarapan untuk Peat. Dia juga sudah mengisi kulkas Peat.
Setelah itu, Kiew mengambil handuk basah dan menyuruh Peat untuk membuka baju. Dia ingin membersihkan badan Peat karena Peat pasti kesulitan karena tangan Peat kan masih sakit. Peat menolak dan menegur Kiew yang wanita tapi mau membuka baju pria. Mereka berdebat untuk buka membuka baju, dan membuat wajah mereka sangat dekat. Dengan canggung mereka menjauh.
Kiew merasa kalau Peat malu padahal dia hanya ingin membersihkan badan Peat. Peat menjauh, tapi Kiew menahannya dan menggodanya yang malu. Peat akhirnya berbalik dan membuka bajunya.
Dia membiarkan Kiew untuk mengelap badannya, tapi Kiew malah malu dan menjauh. Balas Peat yang menggodanya.
BERSAMBUNG
  

No comments:

Post a Comment