Saturday, January 5, 2019

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 6 - part 2

3 comments


Khun Chai Puttipat (2013) Episode 6 - Part 2

Network : Channel 3

Pagi hari. Dengan riang, Chai Pat turun dari tangga sambil berputar- putar seperti sedang menari, kemudian saat dia menyadari keberadaan Nenek Aiet dan Nenek Oon, maka dia pun berhenti dan memberikan hormat kepada mereka berdua.


Tanpa berbasa- basi, Nenek Aiet dengan tegas menyuruh Chai Pat setelah pulang kerja harus segera pulang ke rumah untuk mengajari Marathee. Dan bila Chai Pat memiliki operasi atau kasus darurat, maka Chai Pat harus melaporkannya, dan mereka yang akan memutuskan dan memberikan izin.

“Kamu pikir metode ini akan membuat ku mencintai Marathee?” tanya Chai Pat dengan kesal.

“Kamu begitu keras kepala sekarang ya. Jika aku suruh jangan lakukan, kamu akan melakukannya. Jika aku suruh lakukan, kamu tidak melakukannya,” tegur Nenek Aiet.


“Chai Pat. Kamu harus membayar kebaikan Khun Chai Taewapan. Seorang anak harus menjaga janji yang dibuat orang tuanya,” jelas Nenek Oon.

“Chai Pat, kamu harus memikirkan kebahagiaan ku. Jika kamu menikahi Marathee, maka aku akan jadi sangat bahagia. Tapi jika kamu merusak janji itu, aku akan jadi tidak bahagia,” tambah Nenek Aiet. Lalu dia mengajak Nenek Oon untuk pergi.

Dengan sedih, Chai Pat menghela nafas, karena tidak tahu bagaimana cara nya untuk melawan perintah kedua Nenek nya tersebut.


Didapur. Keaw mempersiapkan makan malam special untuk nanti, dia memberitahu Katesara bahwa Chai Pat mengatakan kalau ia akan datang ke sini setelah kerja, tapi Keaw tidak tahu jam berapa.

“Bagus. Ketika dia tiba, maka kita akan malam bersama dulu. Dan praktek, setelah selesai. Apa itu bagus Keaw?” kata Katesara.

“Ya. Kemudian, aku akan mempersiapkan makan malam nya dulu,” balas Keaw dengan senang.


Semua hidangan telah selesai. Dan melihat apa yang dimasak oleh Keaw, maka Chinnakorn pun memuji nya. Begitu juga dengan Katesara, menurutnya Keaw lebih bagus dari pada orang di Istana (rumah Katesara disebut Istana).

“Khun Keaw belajar dengan cepat. Dia berbakat. Dia sangat bagus pada pekerjaan di dapur,” puji Yam. Dan Katesara setuju.

“Ini kualifikasi yang Nenek Aiet pasti sukai,” kata Katesara.


Karena Keaw tidak mengenal siapa Nenek Aiet, maka dia pun bertanya. Tapi Chinnakor serta Katesara langsung mengalihkan pembicaraan. Dan semua nya lalu memutuskan untuk menunggu Chai Pat datang dan makan malam bersama.

Sampai hari telah gelap, Chai Pat belum juga datang. Dan karena merasa tidak enak hati telah membuat Katesara serta Chinnakorn menunggu lama, maka Keaw pun mengambil makanan yang ada di atas meja untuk dipanas kan, dan dia mengajak semuanya untuk makan bersama tanpa menunggu Chai Pat lagi.

“Jika Khun Chai tidak datang, maka dia harusnya memberitahu kita,” kata Katesara dengan nada kesal, karena Chai Pat telah membuat Keaw kecewa.


Dirumah. Ternyata Chai Pat sedang sibuk mengajari Marathee berdansa. Dan karena diawasi oleh Nenek Aiet serta Nenek Oon, maka Chai Pee dan Chai Lek pun tidak bisa membantu Chai Pat lagi untuk bisa meloloskan diri.


Saat berdansa, tanpa sengaja Marathee menginjak kaki Chai Pat, dan lalu dia meminta maaf serta menanyakan apa Chai Pat terluka. Dan karena ada Nenek Aiet serta Nenek Oon yang mengawasi, maka Chai Pat pun membalas bahwa dia tidak apa- apa, dan kemudian dia lanjut mengajarkan Marathee lagi.


Saat mulai berdansa lagi, tanpa sengaja Chai Pat menginjak kaki Marathee, dan lalu dia pun meminta maaf serta menanyakan apa Marathee baik- baik saja.

“Kamu sedang balas dendam kan? Aku barusan menginjak kaki mu tanpa sengaja, tapi kamu marah dan balas dendam pada ku,” tuduh Marathee.

“Tidak seperti itu, Marathee. Aku tidak bermaksud melakukan itu,” jelas Chai Pat yang memang tidak sengaja.

“Jangan bicara lagi. P’Chai Pat memang tidak berniat mengajarkan ku. Itu sebab nya mengapa kamu melakukan itu. Aku tahu. Para pria Jutathep adalah gangster, sejak kecil sampai sekarang, mereka selalu menganggu kami,” kata Marathee mengambek.


Nenek Aiet serta Nenek Oon berdiri dan mendekati mereka berdua. Dengan penuh perhatian, mereka mengajak Marathee untuk beristirahat dan makan malam bersama dulu baru lanjut latihan lagi.

Melihat itu, Chai Pat menatap kedua saudaranya untuk meminta solusi. Tapi mereka juga tidak bisa perbuat apapun.

Dirumah. Keaw tampak sedih, karena Chai Pat masih belum datang, dan tidak ada kabar sama sekali. Kemudian menyadari hal itu, maka Katesara yang awalnya berdansa bersama dengan Chinnakorn, dia mendekati Keaw dan mengajarkan nya.

Tepat disaat itu. Yodsawin datang. Dia mengatakan bahwa selesai operasi, karena merasa lapar, maka dia makan malam dulu sebelum ke sini. Lalu dia menanyakan apa Keaw sedang praktek menari seperti orang- orang itu.


“Seperti siapa?” tanya Chinnakorn.

“Oo. Maksudku seperti Khun Chai dan Khun Marathee. Seetelah selesai kerja, dia dan Marathee langsung menuju ke Istana (rumah Chai Pat) untuk praktek. Dirumah sakit Marathee teruse mengatakan tentang itu kepada setiap orang bahwa mereka pasti akan menjadi pasangan pertama yang menari di lantai dansa pada acara Thun Chai Kerk,” jelas Yodsawin.


Mendengar itu, Keaw tampak sangat kecewa, dan Katesara menyadari hal itu. Katesara menjelaskan bahwa itu hanya untuk formalitas dua keluarga saja, makanya Chai Pat dan Marathee menari bersama.

Kemudian Katesara meminta Yodsawin menjadi pasangan dansa Keaw, dan dengan senang Yodsawin menyetujui itu. Lalu dia pun mengulurkan tangannya kepada Keaw.

“Mohon bantuan nya,” kata Keaw.


“Mari lanjutkan dari langkah dasar ya,” balas Yodsawin. Lalu dia memegang Keaw dan mengajari nya cara menari yang benar dengan perlahan.

Melihat hal itu, Katesara dan Chinnakorn tersenyum.


Diruang makan. Nenek Aiet serta Nenek Oon memuji dumpling yang Marathee buat, dan mereka menyuruh agar Chai Pat memakannya juga, karena itu sangat enak. Lalu Chai Pee dan Chai Lek memberikan kode mata agar Chai Pat mencoba nya.


Kemudian Chai Pat pun mencoba dumpling buatan Marathee, dan itu mengingatkan nya pada dumpling yang pernah di cobanya saat di Ayutthaya. “Enak. Sangat enak. Ini sama rasanya seperti yang dulu ya,” kata Chai Pat.

“Ya,” kata Chai Pee dan Chai Lek berbarengan.

“Dumpling ini sangat sulit ditemukan siapa orang yang bisa membuatnya. Aku tidak sangka bahwa Katesara bisa membuatnya,” kata Chai Pat.


“Aku sudah bilang, aku membuatnya sendiri. P’Katesara hanya mengajariku,” balas Marathee, berbohong.

Mendengar itu, Chai Pat, Chai Pee, dan Chai Lek sama sekali tidak percaya. Mereka bertiga tahu bahwa pasti Marathee berbohong. Tapi saat Nenek memuji Marathee sangat bagus, mereka bertiga secara serempak menjawab iya dan saling tersenyum.

Keesokan harinya. Katesara memberikan banyak gaun miliknya untuk di pilih oleh Keaw, dia menjelaskan bahwa setiap ada pesta, dia selalu memakai dress baru, jadi dress lamanya Cuma pernah di pakai sekali. Dan Yam membenarkan itu, dia mengatakan bahwa itu karena Katesara selalu membuat dan mendesign dress nya sendiri.

Tepat disaat itu, terdengar suara Marathee yang datang memanggilnya. Jadi dengan buru- buru, Katesara langsung menyuruh agar Keaw bersembunyi. Ternyata alasan Marathee datang adalah karena dia ingin memesan dumpling lagi untuk hari senin, karena dia akan memberikannya kepada Nenek Aiet, sebab para pria Jutathep sangat menyukai itu.

“Terutama P’Chai Pat. Dia makan banyak sekali, hingga dia lupa untuk memakan nasi,” kata Marathee. Dan mendengar itu dari balik dinding, Keaw tersenyum senang.


Marathee membanggakan dirinya yang sangat disukai oleh Nenek, sehingga Nenek memesankan dress baru untuk nya dari Tailor Shop. Dan bahkan Nenek memijam kan perhiasan nya kepada dia. Nenek memberikan 5 set perhiasan untuk dipilih oleh nya.

“5 set?” tanya Katesara dengan nada terkejut.

“Iya. Ada berlian, pearl, ruby, permata, dan sapphire. Dia bilang, aku bisa mengenakan set yang aku sukai,” kata Marathee dengan senang.

“Kalau begitu, kamu harus menjaga nya dengan baik. Perhiasan itu berharga baginya, jika sempat itu rusak atau hilang, Ayah kita tidak akan sanggup membayar nya,” jelas Katesara.


“P’Katesara. Candaan apa itu. Dia begitu menyayanginku. Siapa tahu, jika dia lihat itu bagus padaku, maka dia akan memberikan nya pada ku. Lagian aku akan menjadi menantu nya,” balas Marathee dengan penuh percaya diri.

Mendengar semua pembicaraan itu, Keaw tampak sangat sedih.


Chai Pat datang mendekati Keaw yang sedang menjahit baju, dan melihat nya, Keaw pun langsung memberikan salam. Lalu Keaw menunjukan dress yang dia design sendiri. Dan Chai Pat memuji Keaw yang sangat bagus dalam banyak hal.

“Bukankah kamu akan pergi ke rumah sakit? Ini sudah telat,” kata Keaw dengan raut sedih, saat Chai Pat memuji nya.


“Aku akan pergi ke sana, tapi aku berhenti sebentar ke sini untuk melihat mu. Bagaimana? Kemarin sudah seberapa jauh kamu belajar menari?” tanya Chai Pat.

“Oh. Tidak masalah. Khun Katesara mengajari ku, jadi aku pikir aku bisa pergi ke pesta tanpa melakukan hal yang memalukan. Terima kasih atas kepedulian mu ya,” balas Keaw.



Dengan raut sedikit suram, Keaw berhenti berbicara kepada Chai Pat dan lanjut menjahit baju nya. Lalu melihat Keaw yang sedang menjahit bunga satu persatu di baju itu, maka Chai Pat menanyakan apa Keaw yakin itu bisa selesai tepat waktu.

“Tidak apa. Aku akan melakukan sebanyak yang aku bisa. Apapun yang aku kenakan itu cantik. Lagian aku tidak berpikir akan ada yang menghitung jumlah bunga pada dress ku,” jelas Keaw.


Keaw kemudian berdiri dan menyuruh Chai Pat untuk menunggu sebentar, karena dia akan memberitahu Katesara dan mengambil kan minum untuk Chai Pat. Tapi Chai Pat langsung menghalangin Keaw, dengan tegas dia mengatakan bahwa dia datang ke sini bukan untuk menemui Katesara serta dia juga sudah minum di rumah.

Keaw tidak mengatakan apapun, dan menyadari itu, Chai Pat menanyakan apa ada yang salah, karena tampaknya Keaw seperti sedang marah padanya. Dan dengan nada datar, Keaw mengatakan bahwa dia tidak ada alasan untuk marah pada Chai Pat.


“Tentang kemarin, aku ada urusan, jadi aku tidak bisa datang untuk mengajari mu,” kata Chai Pat menjelaskan dengan pelan.

“Tidak apa. Urusan mu pastinya lebih penting,” balas Keaw.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Lagian, itu harusnya memang begitu kan?”

“Tidak.”


Tanpa mengatakan apapun, Keaw berjalan pergi, dan Chai Pat pun langsung mengikutinya. Dia meminta Keaw untuk memberitahu nya, jika dia memang ada membuat Keaw merasa kesal. Tapi Keaw tidak mau memberitahu.

“Jika kamu tidak mengatakannya. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai menjelaskan nya,” kata Chai Pat.

“Aku tidak akan mengatakan nya. Aku takut bahwa pertanyaan ku tidak akan sesuai dengan jawaban mu,” balas Keaw.


“Untukmu, aku tidak ada apa- apanya. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tapi aku datang menemui mu sebelum berangkat ke sana. Bukannya bersikap baik pada orang yang merindukan kamu. Kamu malah bersikap seperti aku orang asing, dan kamu mau menang berdebat,” kata Chai Pat.

“Siapa yang ingin menang? Kamu pikir aku berani begitu? Aku tahu bahwa aku harus tahu tempat ku, dan bersikap sopan pada penyelamatku,” balas Keaw dengan nada kecil.

Chai Pat merasa kesal, karena Keaw masih menganggap nya bukan sebagai teman. Lalu karena itu, maka Chai Pat pun pergi.



Chai Pat mengunjungin mall kakek nya. Disana dia dan kakeknya mengobrol saling menanyakan keadaan. Lalu Chai Pat meminta tolong kepada kakek nya itu.

3 comments: