Sunday, January 6, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 09 – 2

3 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 09 – 2
 Images : Channel 3
Khun Nai akhirnya mengakui semuanya. Dia adalah ayah kandung dari Kiew. Ibu Peat, Panee dan Sa hamil di saat yang bersamaan. Jadi, Kiew adalah adik tiri Peat. Peat tidak bisa mempercayai hal itu. Tapi, Tee menyatakan kalau semua itu benar. Kiew benar-benar terkejut.
“Khun Sa memutuskan hubungan denganku karena dia tidak ingin ibumu sedih. Tidak ingin menghancurkan keluarga orang lain. Itu adalah stigma yang Khun Sa jaga di dalam hatinya. Tidak bisa mengatakan kebenarannya pada siapapun. Tapi, aku harus memberitahumu. Karena aku tidak ingin kau berpikiran buruk! Dan menggunakan hal itu sebagai alasan untuk menyakiti adikmu. Lebih penting lagi, itu akan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau… hidup dalam kebencian. Kemarahan. Itu lebih menderita daripada hidup di neraka.”
“Terlambat, ayah! Kau sudah membuatku menderita!” ujar Peat penuh kemarahan dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Khun Nai hendak menghampiri Kiew, tapi Kiew meminta waktu untuk sendiri. Kiew juga masuk dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Peat membanting semua barang yang bisa di banting. Dia menangis. Begitu pula dengan Kiew.
Peat dan Kiew mengingat saat awal mereka bertemu. Mereka sudah saling jatuh cinta, tapi ternyata mereka adalah saudara se-ayah. Hal itu kenyataan menyakitkan bagi mereka berdua!

Tee meminta agar Khun Nai memberikan waktu pada Peat dan Kiew. Khun Nai menangis dan merasa sangat bersalah pada Peat dan Kiew. Karena dirinya, dirinya membuat kedua anaknya harus sedih.
--
Esok hari,
Khun Nai turun untuk sarapan. Tapi, tidak ada siapapun. Taeng memberitahu kalau Peat sudah pergi dari subuh sementar Kiew baru saja pergi. Khun Nai mengerti kalau kedua anaknya ingin menghindari untuk bertemu dengannya.
Kiew pergi ke makam ibunya. Kini dia tahu kenapa ibunya sangat melindunginya dan berbohong padanya karena ibunya tidak ingin dia di panggil sebagai anak haram. Dia merasa sedih membayangkan ibunya selama ini harus hidup dalam kesedihan dan penderitaan.
Khun Nai ternyata datang ke makam Sa juga dan mendengar perkataan Kiew tersebut.
Flashback
Saat khun Nai datang ke rumah Sa dan menggedor pintu. Pada akhirnya, Khun Sa menyerah dan membukakan pintu. Tapi, dia meminta Khun Nai untuk kembali ke sisi penganti Khun Nai.
Khun Nai memeluk Khun Sa, tapi Khun Sa tidak bisa menerimanya.
“Lalu katakan padaku, kalau kau sudah melupakanku. Dan aku akan pergi,” ujar khun Nai.
Tapi, Khun Sa tidak bisa mengatakan hal itu. Dan terjadilah hal itu. khun Sa merasa sangat bersalah dan meminta Khun Nai untuk tidak mencarinya lagi.
“Tapi aku mencintaimu, Sa.”
“Cinta kita hanya menyakiti banyak orang. Aku bersedia menderita, tapi aku tidak mau orang lain terluka.”
“Lalu, bagaimana denganku?”
“Biarkan aku pergi.”
Tidak berapa lama, Khun Nai mendapat kabar kalau Khun Sa hamil. Dia sangat bahagia dan hendak menemui Sa. Sayangnya, Sa mengusirnya pergi.
“Hari ini kau harus memilih. Kau pergi tinggalkan aku atau aku yang meninggalkanmu,” tegas Khun Sa.
“Sa!”
“Jika kau tidak memilih, aku jamin, aku akan mati dari hidupmu!”
End
“Kiew,” panggil Khun Nai.
Khun Nai meminta maaf karena tidak jujur dari awal.
“Aku terlahir karena kesalahan kan, yah?”
“Tidak seperti itu, Kiew. Kau terlahir karena cinta ayah dan ibu. Tapi cinta kami adalah cinta yang mustahil. Itulah kenapa ibumu memilih memutuskan hubungan denganku. Tapi, aku tidak bisa melupakan ibumu. Itulah kenapa aku memerintahkan orang untuk mengawasi mu dan ibumu selama ini.”
“Jadi, ayah tidak mencintai ibu Nai Peat sama sekali?”
“Aku tidak pernah mencintainya. Tapi, aku harus punya anak dengannya. Itu adalah tugas yang harus ku lakukan demi kakek dan nenekmu.” 
Kiew merasa sangat kasihan pada ibu Peat, dan dia mengerti sekarang kenapa Peat sangat membenci ibunya sampai seperti ini. Khun Nai bertanya, bagaimana dengan Kiew? Apa marah dan membencinya?
“Kita tidak bisa melarang cinta yang terjadi. Tapi kita bisa melarang diri kita untuk tidak membiarkan cinta mempengaruhi hal yang benar. Dan aku juga sudah melihat dari ayah dan ibu yang memutuskan hal yang benar. Meski semarah apapun aku, aku mungkin hanya shock. Tapi, aku tidak penah marah atau membencimu.”
Khun Nai senang mendengar nya. Kiew menggenggam tangannya, “Aku lega karena Anda adalah ayah kandungku.”
“Terimakasih, dear! Untuk dapat mengerti dan memaafkanku.”
“Terimakasih karena tidak pernah mengabaikan ibu dan aku juga!”
Mereka saling tersenyum dan berpelukan.
--
Sementara itu, Peat pergi ke makam ibunya.
Flashback
Ibunya duduk di taman dan melihat album foto. Dan kemudian menangis. Peat yang masih kecil saat itu, bertanya kenapa ibunya menangis. Panee hanya merasa sedih karena teringat saat dia menikah dengan Khun Nai. Saat itu, Khun Nai meninggalkannya untuk menemui wanita itu dan meninggalkannya di kamar sendirian. Dia meras seperti masuk ke neraka.
“Peat, kau satu-satu nya kebahagiaanku. Hanya kau kebahagiaanku,” tangis Panee.
End
Peat menangis mengingat saat itu.
“Ayah, kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu!” ujar Peat penuh kebencian.
--
Kiew datang ke kantor dan berpas-pasan dengan Peat. Tapi, Peat melewatinya begitu saja.
Kiew masuk ke ruangannya dan melihat kaca pintu yang masih tertempel post it dan coretan waktu itu, saat dia berdebat dengan Peat. Kiew langsung mencabut semua post it itu dan menghapus tulisan yang ada. Hanya post-it dan tulisan Peat yang tidak di cabut dan di lepasnya.

Khun Nai menemui Peat. Khun Nai hendak minta maaf, tapi sebelum dia mengucapkannya, Peat sudah berteriak menyuruhnya untuk tidak usah minta maaf. Semua yang sudah terjadi, tidak bisa hilang karena kata maaf. Dan Khun Nai tidak perlu melakukan apapun karena dia tidak akan pernah memaafkannya.
Khun Nai meminta kesempatan untuk menebus kesalahannya.
“Aku tidak mau punya adik bernama Kangsadan. Kau bisa melakukannya? Bisa?! Jawab?!”
“Aku tidak bisa melakukannya! Bagaimanapun kau dan Kiew adalah saudara. Itu kebenaran yang tidak bisa di ubah!”
“Tapi aku tidak akan bisa menerima kalau Kangsadan adalah adikku.”
“Sekarang jika kau tidak bisa menerimanya, tidak masalah. Tapi aku mohon padamu, Peat, jangan sakiti Nong lagi. Nong adalah orang baik. Kasihan. Dan tidak tahu apapun. Jika kau mau marah, marahlah padaku.”
“Stop. Kau orang yang salah. Kau yang memulai semuanya. Dan kau masih punya muka  untuk meminta ini dan itu? kau dan ibu Kangsadan adalah orang yang bersalah! Kalian berdua salah karena tidak jujur dengan perasaan sendiri. Ayah masih hidup tapi ibu dan wanita itu sudah tidak ada lagi. Karena itu, wanita itu (Kiew) yang harusnya bertanggung jawab atas kesalahan ibunya! Lihat saja!”
Khun Nai memohon agar Peat tidak melakukan apapun pada Kiew. Tapi, Peat tidak mau mendengarkannya.
--
Kiew sedang melakukan rapat. Peat masuk ke dalam ruang rapat juga. Dan selama rapat, Peat terus melihat pada Kiew. Rapat berlangsung dengan lancar. Dan begitu selesai, Peat langsung pergi keluar.

Diluar, Peat menunggu Kiew. Begitu melihat Kiew, Peat segera menarik Kiew ke tempat sepi. Dia marah karena selama rapat Kiew tidak melihat wajahnya, apa Kiew sangat membencinya? Kiew tidak mau menjawab, tapi Peat terus memaksa.
“Ya! Aku benci! Wajahmu juga aku tidak mau lihat! Sudah puas?!”
“Aku juga membencimu. Kau dengar? Aku juga membencimu?” tegas Peat dan terus mendekat ke arah Kiew.
Kiew terus mundur dan tidak menyadari tangga di belakangnya. Dia hampir terjatuh jika Peat tidak menangkapnya, sama seperti dulu.
“Jika kau jatuh di sini, apa lehermu akan patah?” tanya-nya.
“Kalau begitu lepaskan saja. Jadi segalanya akan berakhir!”
“Jangan menantangku! Kau kira aku tidak berani?”
“Kalau begitu lakukan! Aku tidak takut!”
Tapi, tentu saja Peat tidak melakukannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu mati sekarang?”
“Kenapa? Kau sudah mendapat kesempatan tadi.”
“Terlalu mudah. Aku akan mencari cara untuk membuat hidupmu menderita. Hal itu akan lebih menyenangkan!”

BERSAMBUNG


3 comments:

  1. Makin seru aj nggak sabar nunggu episode2 selanjutnya lanjut y min semangat trus selalu di tunggu update selanjutnya

    ReplyDelete