Sunday, January 6, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 09 – 1

0 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 09 – 1
Images : Channel 3
Kris dan Peat sudah hendak saling meninju lagi. Katha benar-benar kesal dan menyuruh mereka untuk bertengkar di luar saja, pukul hingga salah satu dari mereka meninggal. Lupakan saja pertemanan mereka selama ini.
Tapi, karena teriakan Katha itu, Kris dan Peat tidak jadi saling meninju. Katha menyuruh mereka untuk minum segelas jika mereka masih teman. Katha minum segelas. Kris juga minum segelas baru keluar. Peat minum segelas dan menyusul Kriss. Katha mengikuti mereka.
Pa keluar dari kamar mandi saat mereka sudah pergi keluar, jadi dia tidak melihat hal tadi.

“Kau menyukai Kiew?” tanya Peat pada Kris.
“Apa?”
“Aku tahu kau dengar aku. Jawab!”
“Ya! Aku suka pada Kiew! Kau bertanya padaku sudah sampai tahap mana kami kan? Aku akan menjawabnya, jadi dengarkan baik-baik. Aku sekarang sedang mendekati Kiew dan Kiew juga kelihatannya tidak akan menolakku. Jika kau masih menganggapku sebagai teman, jangan mengganggu! Kau sudah dapat jawabannya kan? Sekarang kau bisa berhenti menghinaku dan Kiew. Jika kau membenci Kiew, maka kau tidak perlu ikut campur. Kita hidup dengan cara masing-masing, jadi tidak akan ada masalah.”
Peat emosi lagi (sering banget emosi) dan hendak meninju Kris. Pas sekali, Kiew tiba dan menyapa Kris. Dia bertanya apa mereka ada masalah?
“Tidak ada,” jawab Kris. “Hmm… kau datang untuk bermain?”
“Ya, temanku menunggu di dalam.”

Kris kemudian menawarkan untuk mengantarkan Kiew ke dalam. Dia menggenggam tangan Kiew dan hal itu membuat Peat sangat-sangat cemburu. Katha memintanya untuk tenang, tapi Peat menepis tangan Katha dengan kasar dan pergi.
Pa heran melihat Kiew datang bersama dengan Kris. Kiew memberitahu kalau dia bertemu dengan Kris di depan tadi. Kris pamit undur diri. Dan saat dia melihat Katha, Kris memperingati Katha untuk tidak memberitahu masalah tadi pada Kiew kalau dia dan Peat bertengkar karena Kiew.

“Kenapa?” tanya Katha.
“Kau ingin temanmu aman kan? Jika mau, maka lakukan saja! Atau kau akan menjadi orang lain yang bermasalah denganku.”
“Baiklah. Aku tidak akan beritahu. Puas?”
Kris langsung pergi. Dan Katha melihat ke arah meja Kiew dan Pa dengan pandangan marah. Pa sepertinya melihat tatapan Katha tersebut.
--

Kiew sudah pulang ke rumah. Pikirannya tidak tenang. Dia memikirkan perkataan Chaya kalau Kris dan Peat bertengkar karenanya. Peat juga berdiri di depan kamar Kiew, dia ingin mengetuk pintu kamar Kiew. Tapi, mengurungkan niatnya. Kiew juga ingin menemui Peat, tapi dia ingat perkataan Chaya yang menyuruhnya menjauhi Peat. Peat ragu untuk menemui Kiew karena ingat perkataan Kriss kalau dia menyukai Kiew.
Akhirnya, Peat memilih kembali ke kamarnya.
--
Esok pagi,
Peat sudah siap duluan di meja makan. Dia memerintahkan Taeng untuk mengambilkan nasinya, Taeng bertanya, apa tidak mau menunggu Khun Nai dan Kiew? Peat langsung melotot, Taeng langsung ngerti dan ngambilkan sup untuk Peat.
Peat memakan sup itu dan rasanya enak.
“Kemampuan masakmu semakin baik,” puji Peat.
“Enak atau tidak?”
“Mm!”
Taeng tertawa senang, “Bukan aku yang membuatnya. Khun Kiew yang buat. Sekarang ini, semua makanan di rumah ini, Khun Kiew orang yang bertanggung jawab membuatnya. Setiap makanan jadi enak setiap hari!”
Pas sekali, Kiew dan Khun Nai tiba di meja makan. Peat jadi tidak mau makan lagi dan mengatakan kalau makanan itu tidak enak. Saat Khun Nai dan Kiew duduk untuk makan, Peat langsung pergi. Khun Nai mengajak Peat untuk berangkat kerja bersama, tapi Peat tidak mau.
--
Begitu tiba di kantor, Peat mulai bekerja dengan serius.

Dan entah karena angin apa, dia pergi ke depan ruangan Kiew dan melihat-lihat. Kiew tidak suka melihatnya dan langsung menulis kertas post-it dan menempelnya di cermin : Mencuri ide.

Peat juga ngambil kertas post-it dan membalas pesan Kiew. Mereka saling beradu argumen di cermin pintu itu. Terakhir, KIew menggambarkan wajah kucing berkumis dengan telinga iblis. Dia mengejek Peat sebagai sosok itu. Peat kesal dan balik ke ruangannya.
--
Kiew pergi ke restoran Kris dan Kris menghidangkan makanan untuk Kiew. Dia memuji makanan Kris yang sangat enak. Kris kemudian melihat presentasi yang Kiew buat dan memberikan beberapa saran. Kiew suka dengan ide Kriss dan langsung menambahkan dan memperbaiki presentasinya.
Mereka bekerja sama sampai malam. Kris sudah menyukai presentasi Kiew dan menyuruh Kiew untuk melanjutkan detailnya. Kiew berterimakasih.
“Kau percaya padaku? Kau tidak takut kalau aku menjebakmu dan membuatmu kalah?” tanya Kris.
“Kau adalah orang yang punya alasan. Dan segala yang kau rekomendasikan, aku juga setuju. Aku tidak hanya percaya membabi buta padamu. Dan satu lagi, kau adalah orang baik dan juga berbakat. Lebih penting lagi, jika aku kalah, aku tidak lihat kau akan dapat keuntungan apapun dari ini. Kecuali…”
“Apa?”
“Kau mendapat pekerja lama kembali bekerja untukmu.”
Kris mengerti kalau Kiew percaya padanya dan karena itu dia akan memberikan dukungan moral pada Kiew. Kiew berterimakasih dan berjanji akan mentraktir Kris jika dia menang nantinya.
--


Hari presentasi tiba,
Kiew sangat gugup. Sementara Peat, tampak sangat percaya diri. Khun Nai yang menyadari kegugupan Kiew, memegang tangan Kiew untuk memberikan dukungan. Sayangnya, hal itu terlihat oleh Peat dan membuatnya marah.

Presentasi di mulai. Kiew dan Peat masing-masing menyampaikan ide yang menarik. Presentasi selesai. Para peserta rapat memuji Kiew dan Peat yang sama-sama hebat.
Saat pengambilan vote, Kiew dan Peat menunggu di luar. Mereka tampak cemas.
Akhirnya hasil vote keluar. Hasilnya seimbang, karena kedua – duanya merupakan ide yang menarik. Kiew dan Khun Nai senang karena tidak ada yang kalah maupun menang. Tapi, Peat tidak tampak menyukainya. Khun Nai meminta agar Kiew dan Peat bekerja sama untuk mengerjakan project itu.

Saat peserta rapat sudah keluar semua, Peat langsung marah pada Khun Nai dan menuduhnya yang sudah mengatur hasil vote tersebut!
“Peat, aku tidak bisa memaksa siapapun. Kau juga lihat mereka melakukan vote sendiri saat rapat. Aku tidak ikut campur sama sekali.”
“Kau tidak melakukannya di dalam ruangan ini. Tapi mungkin kau melakukannya sebelum mereka datang ke rapat ini,” tuduh Peat.
“Hey, tadi kau kan juga lihat sebaik apa presentasiku. Aku tidak perlu ayah untuk membantuku,” jelas Kiew.
“Ayah tidak membantumu, lalu siapa yang membantumu?”
“Aku tidak akan memberitahumu. Kau bilang tidak boleh membiarkan ayah membantuku, dan aku sudah melaukannya.”
“Licik!”
“Kau juga sama. Bersaing dalam hal yang kau di untungkan! Kenapa tidak bersaing memasak denganku dan lihat hasilnya? Aku juga mau lihat apa kau bisa melakukannya atau tidak.”
Peat kesal dan memilih keluar dari ruang rapat. Setelah Peat keluar, Khun Nai memuji Kiew yang sangat hebat. Kiew tersenyum mendengar pujian Khun Nai.
--
Peat pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya berkali-kali. Dia benar-benar tampak marah.
Kiew membahas lebih lanjut mengenai presentasi itu dengan Khun Nai. Dan Khun Nai berkali-kali menggerakan kepalanya karena pegal. Kiew menyadari hal itu dan menawarkan untuk mengurut Khun Nai.

Peat lewat di depan ruangan Khun Nai. Dan dari kaca buram yang terpasang, terlihat kalau Kiew sangat dekat dengan Khun Nai. Hal itu membuat Peat jadi berpikiran negatif. Dia langsung berlari masuk dan membuka pintu tanpa mengetuk. Tapi, yang di lihatnya Kiew sedang mengurut khun Nai sambil berbincang-bincang. Malu, Peat langsung lari ke ruangannya.
Tapi, pikiran negatif Peat makin menjadi. Dia menduga ada sesuatu antara Kiew dan ayahnya mengingat Khun Nai memegang tangan Kiew saat di ruang rapat tadi.
--

Di rumah,
Khun Nai hendak pergi ke pesta salah seorang customer. Kiew mengantarnya ke depan pintu sambil memeluk Khun Nai. Tapi, Peat melihatnya dan salah paham pada kedekatan mereka.
--
Khun Nai tidak ada di rumah. Dan Peat langsung mencerca Kiew dengan pertanyaan, apa hubunganmu sebenarnya dengan ayahku?
“Kami ayah dan anak!”
“Bohong! Aku tahu kalau kau merayu ayahku. Kau ingin menjadi istri ayahku mengikuti jejak ibumu kan?” tuduh Peat.
Khun Nai dalam perjalanan ke pesta. Dan dia baru sadar kalau ponselnya tertinggal, jadi dia meminta Tee untuk putar balik ke rumah.

Kiew marah karena pikiran kotor Peat. Kiew menegaskan kalau dia mencintai Khun Nai seperti ayahnya. Tapi, Peat tetap pada pemikiran negatifnya. Dia terus menerus menuduh Kiew yang mengincar pria kaya.
“Kau seperti ibumu! Bersedia menggunakan tubuhmu untuk mendapatkan sesuatu! Hanya memikirkan uang hingga tidak punya harga diri!”
Plak! Kiew menamparnya. Dengan marah, Kiew menyuruh Peat untuk tidak pernah menjelekkan ibunya! Dia benar-benar benci pada Peat!
Peat malah mencium Kiew.
Khun Nai pulang bersama Tee dan melihat hal itu.
“Kenapa kau seperti ini?” tanya Kiew sambil menangis. “Apa yang sudah ku lakukan padamu?”
“Benci. Aku benci karena kau dan ayah berbohong. Berbohong pada semua orang di dunia ini.”
“Bohong mengenai apa?”
“Sebenarnya kau adalah istri ayahku! Tapi kau menipu semuanya dengan menjadi putri adopsi! Kau tidak berbeda dari ibumu!”
Khun Nai marah mendengar dugaan Peat. Dia masuk dan memarahi Peat karena berpikiran seburuk itu padanya. Peat tetap pada pemikirannya.
“Kiew adalah putri kandungku dengan Khun Sa!” teriak Khun Nai penuh amarah.
Kiew terkejut mendengarnya, “Apa?”


No comments:

Post a Comment