Sunday, January 6, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 08 – 2

1 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 08 – 2
 Images : Channel 3

Peat sedang mempelajari dokumen. Tapi, dia tidak mendapatkan ide sama sekali. Chaya menelponnya dan mengajaknya untuk makan bersama.
Sambil makan, Chaya memberitahu kalau dia bertemu dengan Kris tadi. Dia juga mengatakan pada Peat kalau mereka sudah lama berteman, kenapa harus bertengkar karena orang lain?
“Itu karena kita teman, itulah kenapa aku merasa marah. Dia memihak dengan orang yang … aku benci!”
“Kau benar-benar membencinya?”
“Ya!”

Peat kemudian meminta untuk ganti topik. Chaya langsuung membahas mengena hari kerja pertama Peat hari ini. Peat menjawab kalau baik-baik saja dan dia juga akan melakukan kompetisi presentasi dengan Kiew, dimana yang kalah harus meninggalkan perusahaan. Chaya langsung bersemangat mendengarnya, dia menyakinkan Peat akan menang dan kalau perlu bantuan, bisa beritahu untuknya.
Setelah itu, Chaya mengikuti Peat ke perusahaan sambil menggandeng tangan Peat. Hal itu tentu menarik perhatian para pekerja lainnya. Chaya memuji ruangan Peat yang bagus dan tanpa malu berkata akan sering mampir.
Peat tidak mengatakan apapun dan mulai menyalakan laptop-nya untuk kerja. Chaya nggak sadar diri dan malah duduk di sofa yang ada di ruangannya. Peat menyuruh Chaya untuk pulang karena dia harus bekerja.
“Pulang ke rumah, juga tidak ada yang harus ku lakukan,” ujar Chaya. “Aku bosan berada di rumah tanpa melakukan apapu. “ (Pffft! Minta kerjaan sama ortu mu dong atau lamar jadi baby sister Peat biar bisa ngikuti Peat seharian).
“Lalu, mulai bekerja,” komentar Peat lanjut.
“Aku sedang menunggu ayahku menemukan posisi untukku di perusahaan.”
“Kenapa menunggu? Lalukan apapun yang kau inginkan, jangan buang waktu.”
Chaya tersindir dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia malah dengan manja memanggil Peat dan melingkarkan tangannya di leher Peat. Peat dengan tegas memperingati Chaya kalau dia mau kerja. Dengan kesal, Chaya akhirnya pamit pulang. Dia ngira kalau Peat akan menghentikannya, tapi Peat malah menyuruhnya untuk hati-hati.
Saat keluar dari ruangan Peat, dia malah bertemu dengan Kiew dan langsung mengajak Kiew untuk bicara.
“Kapan kau akan keluar dari hidup Peat?” tanya Chaya dengan suara besar seolah Kiew melakukan hal yang salah.
“Aku menjalani hidupku. Dialah yang datang dan keluar masuk hidupku!”
“Bagaimana bis akau bilang begitu? Tidak tahu malu! Kau masih tidak tahu kalau kau membawa sial!”
“Aku sudah bilang kalau aku menjalani hidupku. Aku tidak pernah mengacaukan hidupmu atau hidup orang-orangmu. Apa yang ku lakukan padamu?”
“Kriss dan Peat bertengkar. Dua orang sahabat berhenti berteman karena kau! Menjauh dari Kriss dan Peat! Jika ada masalah lagi, aku tidak akan membiarkanmu bersikap seolah kau tidak tahu hal seperti ini terjadi! Kangsadan!” peringati Chaya.
--

Kiew pergi ke restoran Kriss dan melihat wajah Kriss yang memar. Dia langsung bertanya, apa alasan Kriss bertengkar? Kriss tidak mau membahasnya karena itu bukan hal lebih penting. Kriss bahkan mengalihkan topik dengan bertanya, bagaimana hari kerja pertama Kiew? Kiew menyadari kalau Kriss mengganti topik.
Kiew merasa stress kalau harus membahas kerjaan. Kris menyuruh Kiew untuk curhat saja padanya. Kiew akhirnya memberitahu kompetisi-nya dengan Peat dan masalahnya dia tidak mengerti sama sekali. Dia membaca dokumen dan tidak mengerti, jadi dia merasa kepalanya seakan akan peacah.
“Jadi, kau ingin menang atau tidak?” tanya Kriss serius.
--

Peat pulang ke rumah setelah 4 tahun pergi. Dia ingat kenangan buruknya di rumah itu dan saat ayahnya mengusirnya dari rumah. Taeng kebetulan keluar rumah dan begitu melihat Peat, dia langsung berteriak heboh dan berlari hendak memeluk Peat.
“Berhenti!” perintah Peat.
Taeng otomatis berhenti dan tidak jadi memeluk Peat. Dia merasa sangat senang karena akhirnya Peat pulang. Peat dengan sedih berkata kalau mungkin hanya Taeng yang senang dengan kepulangannya.
Khun Nai keluar rumah karena teriakan Taeng dan menatap Peat.
--
“Aku bisa menjadi konsultanmu,” ujar Kriss.
Kiew jelas senang dan bertanya keseriusan Kriss. Kriss menyatakan kalau dia serius. Kiew tambah senang, tapi dia kemudian teringat kalau Peat bilang dia tidak bisa mendapatkan bantuan dari siapapun.
“Aku tidak membantumu mengerjakan project. Aku mengajarimu dan kau belajar melakukannya. Kau punya hak untuk bertanya ilmu dari orang lain. Bukankah begitu? Aku tidak merasa kalau itu akan melanggar janjimu atau melakukan hal yang memalukan. Jika Ai-Peat akan menggunakan hal ini sebagai alasan, aku merasa dia bukan pria sejati.”
“Kalau gitu, aku terima. Tolong jaga aku dengan baik, guru!”
Kiew dan Kris saling tersenyum.
--
Peat dan Khun Nai bicara sambil menatap kolam renang (?).  Khun Nai meminta Peat untuk kembali ke rumah jika Peat tidak membuat masalah untuk orang lain. Peat malah memancing dengan bertanya ‘orang lain’ yang di maksud Khun Nai apakah adalah putri tercintanya, Kiew?
“Setiap orang,” tegas Khun Nai.
“Itu mudah. Kita akan tinggal dengan cara terpisah. Tapi jika putrimu datang dan mengacaukan hidupku, maka aku tidak bisa menolong (jika mengacau)!”
Khun Nai kehilangan kata-kata dan Peat masuk ke dalam rumah dengan senyum sinis.
--
Kris mulai mengajari Kiew. Dia memberikan buku-buku yang harus Kiew pelajari karena itu semua adalah dasar yang penting untuk Kiew. Kris menyuruh Kiew untuk membacanya, dan jika punya pertanyaan, Kiew bisa bertanya padanya.
Kiew langsung menahan tangan Kris, dia mau tanya sekarang. Kris tersenyum dan mulai mengajari Kiew dari awal (ahhh… nge-ship pasangan ini juga ^^ suka banget dengan sikap dan sifat Kriss yang dewasa dan pengertian!)
--

Peat berada di taman, sepertinya dia menanti Kiew yang belum pulang juga hingga malam. Tidak lama, dia mendengar suara mobil, dan melihat Kiew yang di antar pulang oleh Kriss. Mereka tampak akrab. Kiew juga membawa banyak buku dan berkata akan mempelajari semuanya hari ini.
Peat masuk ke dalam kamarnya dengan kesal (dia suka sama Kiew, tapi rasa sukanya tertutup dendam). Saat sedang kesal-kesalnya, dia mendapat telepon dari Katha.
Sementara itu, Kiew mulai mempelajari buku yang di berikan Kris padanya. Setelah belajar lama, Kiew pergi ke bawah untuk mengambil minum.
Saat sedang minum, Peat muncul di belakangnya. Kiew kaget tapi Peat membekap mulutnya dan menyuruh Kiew untuk menelan air yang ada di mulut Kiew. Setelah nelan air, Kiew tanya, apa Peat kembali tinggal di sini?
Kiew membuka paksa tangan Peat dari mulutnya. Dan hendak pergi tapi Peat malah menghalanginya. Kiew benar-benar kesal dan bertanya apa yang sebenarnya Peat inginkan?
“Aku tidak ingin dekat denganmu. Tapi aku punya hal yang ingin ku katakan!”
“Bicara saja. Tapi bisa kau berdiri jauh dariku?”
Tapi, Peat malah mendekatkan wajah ke wajah Kiew. Dia berkata kalau mereka akan hidup dengan cara masing-masing, dan Kiew jangan berhubungan dengan temannya. Kiew bertanya, siapa maksud Peat? Kris?
“Ya! Jika kau ingin menipu dan mendapatkan pria kaya, cari orang lain yang bukan temanku!”
“Aku tidak pernah menipu. Dan kau juga tidak punya hak untuk melarangku. Orang yang punya hak untuk melarangku adalah Khun Kriss, bukan kau!”
“Tidak ada cara agar dia berhenti berhubungan denganmu. Karena kau telah membuatnya terobsesi padamu dari atas hingga bawah!”
“Baguslah kalau kau tahu!”
“Aku bicara baik-baik dan kau tidak mau mendengarkanku, kan?” tanya Peat dan mendekati Kiew. Kiew takut dan hendak kabur. Tapi, Peat memeluknya dari belakang.
Kiew menyindir Peat yang tidak bersikap seperti pria dan terus menyakiti perempuan. Peat malah berkata akan melakukan hal yang seperti ini. Kiew tidak tahan lagi dan menendang kaki Peat dengan keras hingga Peat berteriak kesakitan.

“Jangan memerintah orang lain sesukamu!” peringati Kiew. “Karena kau bukanlah pusat dari segalanya. Kau hanya pria sakit! Semakin kau melarang, semakin aku tidak mau behenti!”
Setelah itu, Kiew kembali ke dalam kamarnya.

Kiew mendapat telepon dari Pa. Pa telepon untuk menanyakan hari kerja pertama Kiew. Mereka bicara panjang lebar. Pa nelepon di café, dimana Katha juga kerja sambilan di sana, dan Pa tidak sadar saat dia bicara dengan Kiew, Katha ada di belakangnya.
“Kiew, ingat, jangan sampai kau kalah dari anak pecemburu itu!” peringati Pa.
“Aku berusaha mengerti apa pikirannya, tapi akhirnya aku tidak tahu apa yang di pikirkannya. Semenit baik, semenit kemudian jahat.”
“Aku rasa dia sendiri juga tidak mengerti dirinya. Jangan peduli padanya! Aku rasa sebaiknya kau memikirkan mengenai presentasi itu saja.”
“Benar juga. Untungnya, Khun Kriss mau membantuku.”
“Bisa dia di percaya? Dia teman dari Nai Peat. Mereka mungkin bekerja sama untuk menghancurkanmu. Aku rasa sebaiknya kau tidak berhubungan dengan Nai Kriss. Err… sebaiknya jangan berhubungan dengan gang mereka. Berbahaya!”
Katha tertawa dalam diam mendengar Pa menjelek-jelekan mereka.
Sementara itu, Kiew memberitahu kalau Kris adalah orang baik dan tulus. Dia mengenal Kris dengan baik. Pa berharap semoga hal itu benar. Pa kemudian mengajak Kiew untuk keluar dan menemuinya di café untuk melepaskan stress bersama teman-temannya. Kiew setuju.
Selesai teleponan dengan Kiew, Pa berbalik untuk memesan minuman. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Katha di belakangnya. Dan Katha dengan tenang memberitahu kalau dia bekerja di café ini.
“Kau tidak dengar apapun, kan?”
“Semuanya!”
“Err… kau tidak berniat untuk ganti kerjaan?”
“Jangan alihkan topik. Aku ingin memperbaiki gossip. Aku, Kriss, Peat dan Chaya, kami bukan orang berbahaya! Sebaliknya, temanmu itu yang berbahaya!”
Pa tidak terima dan membela Kiew. Mereka saling berdebat siapa yang berbahaya. Mereka juga saling tatap-tatapan.

Katha malah menggoda dengan berkata takut pada Pa yang seperti gangster. Pa kesal dan memperlihatkan tinjunya. Katha menantangnya, dan Pa langsung meninju Katha. Katha berhasil menahan tangannya, tapi bukan pergelangan tangan Pa, jadi Pa masih bisa menggerakan tangannya memukul pipi Katha. Setelah itu, Pa bersikap seperi tangannya telah memegang kotoran dan harus di cuci bersih. Katha kesal tapi nggak bisa berbuat apa-apa.
--

Katha ke depan café. Dia menunggu kedatangan Peat dan Kriss. Kris datang terlebih dahulu dan bertanya ada apa? Dan Peat datang tidak lama kemudian.
Katha membawa mereka masuk ke dalam café dan menghindangkan minuman. Katha berusaha mencairkan suasana antara Kriss dan Peat. Peat tidak mau, dan mau pergi.

“Tunggu. Aku memanggil kalian berdua ke sini karena ada yang ingin ku katakan,” ujar Katha. Dan dia mengeluarkan kertas bon. “Kalian semua lihat angkanya? Itu adalah tagihan untuk kerusakan yang kalian sebabkan kemarin. Kalian lihat berapa banyak angka nol yang ada dan membuat dompetku bergetar? Ai-Kriss, Ai-Peat, kalian harus tanggung jawab. Bayar! Jadi aku bisa berhenti bekerja sebagai bartender! Aku lelah!”

Tapi, Peat tidak mau bayar, karena Kriss yang salah. Kriss juga tidak mau. Mereka berdebat siapa yang salah. Mereka sudah akan bertengkar lagi.

BERSAMBUNG

1 comment: