Tuesday, August 20, 2019

Sinopsis Lakorn : Endless Love Episode 2 - part 1

0 comments

Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.

Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

Sinopsis Lakorn : Endless Love Episode 2 - Part 1
Network : GMM 25
Min merasa sangat bersalah, sehingga dia pun tidak nafsu untuk makan. Menyadari itu, Ayah menanyakan, apakah Min sedang bertengkar dengan Phon. Dan Min menjawab tidak, hanya saja dia ada sedikit bertengkar dengan teman sekolah nya.

“Apa kamu ingin memberitahuku tentang apa itu? Mungkin itu akan membuat kamu merasa lebih baik,” kata Ayah dengan perhatian.
“Itu .. aku baru menyadari bahwa aku menempatkan dia dalam situasi yang sulit. Tapi itu bukan niat ku,” jelas Min, bercerita.
Ayah mengerti masalah Min. menurutnya setiap orang pasti pernah berbuat salah, baik sengaja maupun tidak disengaja. Tapi jika Min merasa bersalah, maka Min bisa meminta maaf kepada orang tersebut.

“Bagaimana jika dia tidak memaafkan ku?” tanya Min, cemas. “Apa yang ku lakukan benar- benar buruk.”
“Apa? Bukan kah kamu barusan bilang cuma bertengkar kecil?” balas Ayah dengan sedikit geli. “Baiklah. Jika kamu masih peduli dan ingin dia memaafkan mu. Kamu harus menunjukan itu kepadanya, bahwa kamu tidak pernah berniat itu terjadi dan kamu merasa sangat bersalah untuk itu,” kata Ayah, memberi saran.
“Itu berarti, jika aku melakukan nya, akankah dia memafkan ku. Benar?” tanya Min. Dan Ayah mengiyakan.

Min datang ke rumah Day. Dari jauh dia memperhatikan Day serta Cue yang sedang menggosok dinding rumah.
Cue menanyakan, kenapa Day tidak membeli cat saja dan mencat ulang dinding rumah yang menghitam karena kebakaran semalam. Dan Day menjawab, darimana dia punya uang untuk membeli cat, untuk makan saja dia tidak punya uang yang tersisa.

“Untungnya, api cuma membakar kamar ini saja. Jika seluruh rumah terbakar, kamu harus membangun gubuk untuk tidur,” komentar Cue.
Mendengar pembicaraan mereka, Min merasa semakin bersalah. Dia memperhatikan uang yang dibawanya untuk di kembalikan kepada Day.

Theep datang membawa air dan menyiram Day. “Hari Songkran. Yeah!” katanya.
Dengan lembut, Day meminta Ayahnya untuk berhenti menyiram air padanya, karena dia sedang membersihkan dinding rumah mereka. Tapi Ayah tidak mau berhenti, dan semakin menyiramkan banyak air kepada Day.


“Berikan padaku,” pinta Day. “Kamu membuat nya makin kacau, yah,” jelas Day. Tapi Ayah sama sekali tidak mau mendengarkan.
“Cue, perhatikan dia untukku sebentar,” pinta Day dengan kesal. Lalu dia pergi dari rumah. Melihat itu, Min langsung bersembunyi.
Day berlari cepat.

Min keluar dari tempat persembunyiannya. Dan memperhatikan Cue yang sedang mencoba untuk menghentikan Theep dari menyiram air terus. Min berpikir, lalu dia tersenyum seperti mendapatkan sebuah ide bagus.
Day menemui Boss, dia bersedia untuk ikut dalam pertarungan. Dan mendengar itu, Boss dengan ramah langsung menyambutnya.
Di arena pertarungan, Boss menyuruh Day untuk jangan merasa bersalah atau menyesal, karena Day telah membuat keputusan yang tepat. Dengan cara ini, mereka bisa mendapatkan uang dan segalanya selesai. Yang harus Day lakukan adalah tetap berdiri sampai ronde ke 5, ketika bel ronde 5 berbunyi, maka Day bisa mendapatkan uang.
“Ingat. Kamu melakukan ini untuk uang,” jelas Boss. Dan Day mengiyakan.

Seorang penonton kaya, menonton pertandingan itu. Asistennya berbisik di dekatnya, dan memberitahukan apakah mereka harus bertaruh untuk Day, sebab Day merupakan atlet taekwondo hebat di Universitas. Dan si penonton setuju.

Pertandingan dimulai. Ronde pertama, Day berhasil membuat lawannya terjatuh. Melihat itu, si penonton kaya merasa puas.

Ronde kedua, Day membiarkan dirinya untuk dipukuli oleh lawan nya. Melihat itu, banyak orang yang merasa kecewa.

“Dalam ronde ini. Bertahanlah, dan kamu akan mendapatkan uangmu,” jelas Boss. Sebelum ronde selanjut nya dimulai. Dan si penonton kaya, menunggu dengan bersemangat.
“Mengapa dunia begitu kejam? Mengapa hidup tidak adil padaku?” pikir Day sambil memperhatikan ke sekitarnya. Lalu saat ronde selanjutnya dimulai, Day memukuli lawannya hingga terjatuh.
Day mengingat pengasuh Ayahnya yang berhenti, karena dia tidak bisa membayar tepat waktu. Dia mengingat setiap perkataan kasar Min kepadanya. Dia mengingat rumahnya yang terbakar.

Boss memberikan tanda agar Day jangan mengalahkan si pemenang, karena yang harus Day lakukan hanyalah bertahan hingga ronde ke 5. Dan karena itu, maka Day pun berhenti memukuli lawannya dan membiarkan dirinya untuk dipukuli.
Si penonton kaya merasa kecewa dengan Day, jadi dia pun pergi darisana bersama dengan para bawahannya. Lalu lonceng ronde ke 5 berbunyi, yang menandakan pertandingan selesai. Dan para penonton berseru kecewa pada Day.
Day memberikan gaji dan uang ekstra kepada pengasuh Ayahnya. Dia memohon agar si pengasuh bisa kembali untuk menjaga Ayahnya. Dan si pengasuh mengiyakan, lalu dia menanyakan apa yang terjadi pada wajah Day hingga banyak memar disana. Namun Day tidak menjawab dan langsung pamit pergi.


Malam hari. Day membersihkan wajah Ayahnya. Lalu dia memasangkan selimut kepada Ayahnya. Dan kemudian seperti biasa, dia duduk di dekat tempat tidur Ayahnya sambil memandangin foto Ibunya.
“Bu, aku merindukan mu. Aku benar- benar merindukan mu,” kata Day sambil menangis dan memeluk foto Ibu nya.


Disekolah. Min menghampiri Day untuk mengajaknya bicara. Namun dia merasa terkejut saat melihat wajah Day yang penuh dengan luka memar, jadi dia pun bertanya, apa yang tejadi. Tapi Day mengabaikan Min dan berjalan pergi.


Ne memeriksa barang- barang yang dibeli oleh Min. Ada obat sakit, salep untuk luka memar, kapas, dan perban. Melihat itu, Ne bertanya, apakah Min yakin tidak tertarik kepada Day sama sekali. Dan Min menjawab tidak, dia hanya melakukan apa yang disarankan oleh Ayah nya saja supaya dia tidak merasa bersalah lagi.
Min kemudian mengajak Ne untuk mencari Day. Dan Ne pun mengikuti saja.


Dilapangan. Seorang wanita memberikan hadiah coklat  untuk Day, yang itu berarti dia menyukai Day. Melihat itu, orang- orang mengomentari si wanita yang sama sekali tidak ada tahu malu dengan menembak Day di depan orang banyak.
“Terima kasih banyak. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Kita belum saling mengenal. Jadi bagaimana mungkin kamu menyukai ku?” kata Day, menolak dengan halus.

“Ayolah, P’Day. Tidak seorang pun yang saling mengenal, sejak mereka lahir. Namun mereka bisa saling mengenal sekarang,” jawab si wanita, berani. “Aku benarkan, semuanya?” tanyanya. Dan semua orang mengiyakan.
Lalu semua orang bertepuk tangan dan berseru agar Day menerima si wanita.

Day memuji betapa cantik dan manisnya si wanita. Mendengar itu si wanita tersenyum senang. Namun saat Day mulai menceritakan tentang dirinya sendiri, si wanita berhenti tersenyum dan diam saja.
Day mengakui bahwa dirinya benar- benar miskin, tidak punya mobil, ataupun rumah mewah, dan hape yang mahal. Bahkan dia tidak memiliki uang untuk membuka Facebook. Lalu seusai kelas, dia harus berjualan di jalanan. Serta Ayahnya mengalamin kepikunan, sehingga Ayahnya tidak bisa menjaga diri sendiri dan membutuhkan orang lain untuk merawatnya.

“Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Jika kamu masih ingin berkencan denganku, aku akan menerima nya dengan senang hati. Jadi?” tanya Day.
“Kalau begitu, tolong lupakan saja. Aku pikir kamu mungkin butuh waktu untuk mengurus Ayahmu. Aku akan mendukung mu dari jauh,” kata si wanita. Lalu dia pergi dengan cepat. Begitu juga dengan semua orang.
Min meminta Ne untuk menunggu nya. Lalu dia berjalan menghampiri Day. Dia memanggil Day dan bertanya, apakah Day harus bicara sampai seperti itu kepada wanita, karena tindakan Day cuma membuat wanita itu malu.

“Aku tidak mengatakan apapun yang salah. Itu semua kenyataan,” jelas Day.
“Aku tahu. Tapi dia telah memberanikan diri untuk menembak, Setidaknya kamu bisa bilang bahwa kamu sudah punya pacar, atau dia bukan tipe mu. Karena kamu hanya melukai perasaan nya dengan menolak seperti ini,” balas Min.


“Terluka? Menurutmu siapa yang lebih terluka? Apa yang barusan aku katakan padanya, apa kamu pikir aku hanya bercanda? Aku mungkin tersenyum, tapi di dalam aku sakit, kamu tahu? Tapi aku harus menahannya, karena ini hidup ku. Kamu tahu, jika aku tidak menyuruh diriku sendiri untuk terus tersenyum, aku mungkin sudah mati sejak lama!” jelas Day dengan emosi. Lalu dia pergi.
Dan Min pun terdiam disana.
Saat berjualan, Cue menanyakan apakah Day baik- baik saja, sebab Day tampak masih kesakitan sambil memegang memar di wajahnya. Jika Day tidak baik- baik saja, maka dia menyarankan agar Day pulang saja. Dan Day menjawab bahwa dia tidak mau pulang, karena dia tidak mau merepotkan Cue.
Day kemudian berteriak menawarkan pakaian dagangan nya. Dan tidak mau kalah, Cue ikut berteriak menawarkan barang dagangannya. Lalu mereka berdua tertawa.


Tepat disaat itu, Min datang. Dia memberikan kantong obat kepada Day, namun Day tidak mau menerima obat apapun. Dan Min pun mengeluarkan obat yang dibawanya sambil menjelaskan fungsi obat tersebut, lalu dia ingin memakai kan nya ke wajah Day.
“Tidak. Dengar. Tidak!” kata Day, menolak. Tapi Min memaksa.
“Jangan bergerak. Jika tidak, kamu tidak boleh menyalahkanku, jika jariku menusuk matamu. Diam ya,” kata Min. Dia memakaikan obat itu di dekat mata Day.

Day meringis kesakitan, saat Min melakukan itu. Jadi Min pun memberikan sisa obat yang ada dan menyuruh Day untuk memakainya sendiri. Dan Day pun menerima obat itu. Lalu Min pun berbalik untuk pergi, tapi Day memanggilnya.
“Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya dengan niat baik,” kata Min dengan bangga. Lalu dia berbalik lagi.
“Bisa aku minta tutupnya?” pinta Day. Dan mendengar itu, Min dengan malu- malu menyerahkan tutup obat nya, lalu dia berjalan pergi dengan cepat.
Cue memanggil Day, dan bertanya siapa itu. Dan Day menjawab teman. Tapi Cue tidak percaya, sebab mana ada teman yang seperhatian itu memakai kan obat di dekat bibir Day. Dan Day membalas bahwa itu benar temannya, lagian Min hanya memakaikan obat di dekat mata nya saja.

Malam hari. Min datang ke rumah Day dengan membawa kan buah- buahan. Tapi ketika dia mengetok pintu dan memanggil, tidak ada seorang pun yang menjawab nya. Sehingga Min pun membuka pintu rumah Day yang di kunci menggunakan sendok.
“Permisi. Apa ada orang di dalam?” teriak Min, memanggil lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban, jadi dia pun masuk begitu saja ke dalam rumah Day.

Didalam rumah. Min memperhatikan seluruh  rumah Day, dan saat dia melihat foto keluarga Day, dia tersenyum. Tapi tiba- tiba Theep mengetuk kepalanya menggunakan spatula, sehingga dia pun terkejut.
“Kamu, pencuri! Apa kamu akan mencuri di dalam rumahku?” tuduh Theep dengan sikap waspada.
“Tidak. Namaku Min,” jelas Min dengan cepat. “Aku membawa sekeranjang  buah untukmu,” kata Min sambil menunjukan buah yang dibawanya.

Dan melihat itu, Theep langsung merasa tenang. Dia menyambut Min dengan ramah, dan meminta buah- buahan yang di bawa oleh Min. Dan Min mempersilahkan Theep untuk mengambil semua buah yang memang dibawanya untuk Theep.
“Tidak. Tidak. Aku tidak boleh makan buah sebelum makan malam,” jelas Theep. Lalu perutnya berbunyi. Dan Min tersenyum mendengar itu.

Min memesankan pizza dan mempersilahkan Theep untuk memakan semuanya. Kemudian tepat disaat itu, si pengasuh kembali sambil membawa kan makan malam. Dan Min pun langsung menyapa nya dengan sopan.
“Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?” tanya si pengasuh. Lalu dia melihat banyak nya pizza mahal yang di pesankan oleh Min.
“Dia teman ku,” kata Theep. Dan Min mengiyakan bahwa benar dia adalah teman Theep. Mendengar itu, si pengasuh merasa heran.
“Jadi dia gadis yang membuat mu ke dalam masalah,” kata Cue, kaget.
“Tidak baik menyalahkan semuanya pada dia. Jika aku tidak merobek bajunya, maka semua ini tidak akan terjadi,” balas Day, membela Min.
Mendengar itu, Cue menanyakan apakah barusan Day membela Min, kepadahal rumah Day baru saja kebakaran dan Ayah Day hampir mati, jadi bagaimana bisa Day masih begitu optimis dan bersikap sebagai pria baik.

“Lupakan itu. Itu semua sudah berlalu,” kata Day sambil menatap obat dari Min.
“Kalau sebelumnya aku tahu, aku pasti akan meneriaki nya di depan semua orang,” balas Cue. Dan Day tampak tidak mendengarkan nya.
Melihat Day yang tersenyum- senyum sendirian, Cue pun menanyakan apakah Day menyukai Min. Dan dengan gugup, Day langsung menyangkali nya, dia beralasan bahwa dia tersenyum, karena dia sedang berjualan. Lalu dia menyuruh Cue untuk mengurus pelanggan yang datang.
Cue sebenarnya tidak percaya, tapi karena harus mengurus para pelanggan, maka dia pun berhenti membahas topik itu dan mengurus para pelanggannya. Sementara Day, dia kembali lanjut tersenyum- senyum sendirian.

“Kamu merasa bersalah pada Day, tapi kamu tidak punya keberanian untuk meminta maaf kepadanya. Jadi kamu datang ke sini langsung?” tanya si pengasuh. Dan Min mengiyakan. “Apa kamu benar- benar ingin aku mempercayai itu? Sebenarnya, aku berpikir kamu memiliki rasa pada Day,” goda si pengasuh.
“Tidak. Aku tidak memiliki agenda tersembunyi. Percaya padaku,” kata Min, menyakali itu dengan cepat. Dan si pengasuh kembali menggoda Min, yang menurutnya tampak memerah, ketika mereka membicarakan tentang Day.

Mendengar itu, Min langsung menyentuh wajahnya dan bercemin. Lalu dia menjelaskan bahwa tampaknya pagi ini dia terlalu banyak memakai blush on, jadi karena itulah wajahnya memerah. Dan si pengasuh tersenyum tidak percaya.

Min kemudian dengan canggung meminta agar si pengasuh mau membantunya. Dan si pengasuh mendengarkan.

No comments:

Post a Comment