Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 15 - part 1




Network : tvN Netflix
Tokoh, Kejadian, Organisasi, dan Latar Belakang adalah Fiksi


Seung Jun berlari ke atas atap. Dia mencoba mencari jalan keluar seperti tangga atau atap pendek ataupun semacamnya. Tapi sayangnya tidak ada. Lalu tiba- tiba pintu atap terbuka dan seseorang datang. Melihat orang tersebut Seung Jun merasa sangat kaget. Orang tersebut adalah Cheon. Dia datang dan mengarahkan pistol nya ke arah Seung Jun.
Melihat itu, Seung Jun pun hanya bisa diam di tempat.

Cheol Gang mendapatkan pesan dari Utara. “Direktur Ri menangani ini lebih baik dari dugaan. Kami memberikannya foto, tapi dia beralasan bahwa misi ini untuk membawa Yoon Se Ri. Direktur Ri menjamin kalau Ri Jung Hyuk kembali dalam beberapa hari. Singkirkan Ri Jung Hyuk. Jika kamu gagal menyingkirkannya, tidak ada gunanya kamu kembali.”

Membaca pesan tersebut, Cheol Gang tampak kesal. Dia membereskan barang- barang nya dan bersiap untuk pergi dari tempat persembunyiannya. Tapi tepat disaat itu Jung Hyuk datang sambil mengarahkan pistol kepadanya. Sehingga diapun mundur.
Para petugas BIN mengelilingi luar gedung. “Turunkan senjata kalian! Jika jatuhkan senjata dan ikuti kami, hukuman kalian akan dikurangi. Biar kuulangi. Turunkan senjata kalian!”


Cheol Gang membuang tas nya ke lantai dan mengangkat kedua tangannya. Sementara Jung Hyuk tetap diam ditempat sambil mengarahkan pistolnya kepada Cheol Gang.


Para petugas BIN yang berada diatas atap bersiap untuk menembak bila terjadi sesuatu. Mereka mengarahkan semua pistol mereka kepada Jung Hyuk yang masih belum menurunkan senjata.

Cheol Gang tersenyum melihat itu. Lalu dia berbalik seolah telah menyerah. “Kenapa? Tidak bisa memutuskan? Jika kamu menembakku, kamu akan mati juga,” katanya. Dan Jung Hyuk tetap diam. “Benar. Pria yang lahir di kalangan atas sepertimu tidak boleh mati di tempat kumuh begini,” oceh Cheol Gang. Lalu dia mengeluarkan pistol di dalam jaket nya dan dengan ccepat berbalik untuk menembak Jung Hyuk.
Menyadari hal itu, Jung Hyuk pun langsung tiarap di lantai. Sehingga Cheol Gang gagal menembak nya. Dan pistol petugas BNI yang awalnya mengarah kepada Jung Hyuk, berbalik mengarah kepada Cheol Gang dan langsung menembaknya.

Kaca jendela pecah. Disertai dengan Cheol Gang yang terus di tembak, hingga dia terjatuh. Sementara Jung Hyuk dengan segera langsung tiarap dan bersembunyi di dekat dinding untuk menghindari semua tembakan tersebut.
“Kamu tidak bisa kembali. Aku sudah kirim semuanya. Bukti yang membuktikan kamu bersama jalang itu di sini. Jika kamu kembali, orang tuamu akan dieksekusi,” kata Cheol Gang dengan susah payah. “Menurutmu kenapa ayahmu memilih tidak menyelidiki pembunuhan kakakmu? Itu karena dia tahu bahwa dialah penyebab kematian putranya. Sebab itulah dia menguburnya,” jelas nya sambil tersenyum puas. “Karena itulah, aku yakin ayahmu ingin kamu mati di sini. Situasi kita sama. Kamu tidak bisa kembali. Walau kamu kembali ke Utara, atau ditangkap di sini, orang tuamu akan tetap mati. Jadi, marilah kita pergi bersama,” ocehnya sambil mengulurkan tangannya untuk meraih Jung Hyuk. Namun sebelum dia sempat merahi Jung Hyuk, dia menghembuskan nafas terakhirnya. Cheol Gang mati. 

Jung Hyuk menutup mata nya untuk menenangkan emosinya. Dia merasa sangat bimbang dan bingung. Dia mengangkat pistolnya dan seperti ingin menembak kepalanya sendiri.


Para petugas BIN masuk ke dalam. “Letakkan pistolmu! Letakkan pistolmu!” teriaknya.
Jung Hyuk mengangkat pistolnya dan memandang Cheol Gang sambil menetes kan air mata. Dia membuang pistolnya.

Man Bok memandangi hujan di luar jendela. Dan memikirkan tentang keluarga nya.
“Hujannya makin deras,” komentar Se Ri. “Ke mana perginya Jung Hyuk? Kenapa dia belum kembali?” tanyanya. Dan semua nya juga tidak tahu.
Guntur berbunyi keras di langit.

Young Ae mengomeli Wol Suk karena datang malam- malam ke rumah nya untuk cukur rambut. Dan dengan rasa bersalah Wol Suk menjelaskan bahwa dia ingin melakukan penebusan di tempat kejadian sebagai introspeksi diri. Ok Geum pun bersiap untuk membantu Wol Suk.
Dengan erat, Wol Suk memejam kan matanya dan menyiapkan hatinya untuk di cukur semua rambut nya. Dan Ok Geum bersiap untuk mencukur kan. Tapi sebelum Ok Geum sempat mencukur rambut Wol Suk, tiba- tiba saja terdengar suara teriakan Myeong Sun di luar.

Myeong Sun memohon kepada kedua petugas yang ingin membawa paksa dirinya dan U Pil. Dia meminta mereka supaya membiarkan U Pil dititip kan kepada temannya terlebih dahulu dan dia sendiri yang akan ikut dengan mereka berdua. Namun mereka berdua tidak mau dan tetap menarik Myeong Sun serta U Pil untuk ikut bersama mereka.
“Ibuku dan aku tidak akan pergi bersama kalian!” teriak U Pil sambil merentangkan kedua tangan nya di depan Myeong Sun untuk melindungi nya.
“Dasar berandal!” bentak seorang petugas. Ingin memukul U Pil. Dan Myeong Sun segera memeluk U Pil untuk melindungi nya.

Young Ae keluar dari dalam rumah dengan membawa tongkat kayu. Dengan sikap berani, dia menyuruh si petugas yang ingin memukul U Pil untuk berhenti dan jangan memukul. Lalu dengan sedikit takut, dia menjelaskan bahwa dia sedang mencuci baju, makanya dia memegang tongkat. Dan dia memperkenal kan dirinya sebagai Istri Letkol Batalion Polisi Militer. Namun kedua petugas tersebut sama sekali tidak peduli dengan siapa Young Ae.
“Aku sedang bercocok tanam,” teriak Wol Suk dengan keras sambil memegang cangkul kecil. “Namaku Na Wol Suk, kepala desa ini. Aku tidak bisa mengabaikan saat orang luar bertamu tanpa melapor kepadaku dan berusaha membawa tetangga kami secara paksa, bukankah begitu?” jelas nya. Dan semua orang mengiyakan.

Si Petugas memperkenalkan dirinya sebagai anggota Badan Keamanan. Namanya Ryu Jeong Min. Mendengar nama itu, Young Ae merasa terkejut dan aneh. Jadi dia pun mengetes mereka berdua. Dia meminta mereka berdua untuk menyampaikan salam nya kepada Ma Yeong Seop yang merupakan Direktur Badan Keamanan. Dan kedua petugas tersebut mengiyakan. Lalu mereka ingin pergi.
“Omong-omong, Ma Yeong Seop itu adikku. Dia bukan direktur,” kata Young Ae, menghentikan kedua petugas tersebut. Mendengar itu, semua orang langsung menarik Myeong Sun dan U Pil ke pihak mereka. Sebab sudah jelas kalau kedua petugas tersebut adalah petugas gadungan.


Dengan kesal, kedua petugas gadungan tersebut menatap tajam Young Ae dan semua orang. Dan tanpa takut, Young Ae menyuruh mereka berdua untuk pergi. Begitu juga dengan para warga, mereka sudah bersiap untuk menyerang. Sehingga kedua petugas gadungan itu pun pergi darisana.

Setelah kedua petugas gadungan tersebut pergi. Para warga menanyakai Myeong Sun tentang siapa kedua petugas gadungan tersebut. Tapi Myeong Sun juga tidak tahu, jadi dia pun hanya diam dan menangis saja.
“Myeong Sun, kamu dan putramu menginaplah bersama kami. Tidak ada yang lebih aman selain rumahku di desa ini. Ya?” tanya Young Ae, perhatian.
“Terima kasih,” balas Myeong Sun dengan penuh rasa syukur.


Sang Ah menemui Se Hyung yang sedang merenung sendirian di tangga darurat. Dia memberitahu Se Hyung bahwa semuanya belum berakhir, mereka masih memiliki satu peluang. Sebab dia barusan ada bicara dengan Cheol Gang. Se Ri ada membawa orang- orang dari Utara untuk tinggal bersama.
Mengetahui itu, Se Hyung mendengus senang.

Eun Dong penasaran dengan mesin minuman otomatis yang ada di lorong rumah sakit. Dan Ju Meok pun menjelaskan dengan jujur. Tapi Sersan Pyo sengaja berbohong untuk menggoda Eun Dong. Dan karena itu, Ju Meok pun ikut berbohong juga sambil diam- diam menahan tawanya di belakang Eun Dong.
Sersan Pyo menjelaskan kepada Eun Dong bahwa dalam mesin minuman otomatis ini ada manusia yang menuangkan minuman untuk mereka. Dan Ju Meok mengiyakan. Polosnya Eun Dong mempercayai mereka berdua, jadi dia pun tidak mau membeli minuman di mesin tersebut.

Eun Dong mengetok mesin minum otomatis itu dan mencoba untuk mengintip ke dalamnya. “Semoga sukses,” katanya. Dan dengan susah payah Sersan Pyo serta Ju Meok berusaha menahan tawa mereka dibelakang Eun Dong.
Tepat disaat itu, para petugas BIN datang. Dan melihat itu, dengan panik Sersan Pyo dan Ju Meok langsung menarik Eun Dong untuk kabur.


Petugas BIN yang lain masuk ke dalam kamar rawat Se Ri untuk menangkap Letnan Park dan Man Bok yang berada disana. Se Ri mencoba untuk menjelaskan kepada para petugas BIN agar tidak menangkap mereka berdua. Tapi mereka tidak mau mendengarkan.
“Kami akan baik-baik saja. Tetaplah di sini,” kata Man Bok, menenangkan Se Ri.
“Jangan menyusul kami,” tambah Letnan Park.

Se Ri merasa sangat cemas. Dia mencabut jarum infus di lengan nya dan keluar dari dalam kamar nya untuk menyusul mereka semua.
Sersan Pyo, Eun Dong, dan Ju Meok, yang sedang bersembunyi. Mereka bertiga merasa panik dan tidak tahu harus bagaimana. Sersan Pyo menjelaskan kalau Badan Keamanan sampai menangkap mereka, maka mereka tidak akan bisa keluar hidup- hidup. Eun Dong menambahkan kalau mereka sampai tertangkap maka kuku mereka akan di cabut satu persatu. Ju Meok menambahkan lagi kalau mereka sampai tertangkap, mereka tidak akan di berikan sebutir nasi atau setetes air pun.

Sersan Pyo bersiap untuk mengorbankan dirinya. Dia menyuruh Eun Dong serta Ju Meok untuk kabur setelah dia mengalihkan perhatian para petugas BIN. Sebab dia sudah tidak memiliki orang tua, jadi tidak ada yang menunggu kepulangannya. Tapi Eun Dong serta Ju Meok lain, mereka masih memiliki keluarga yang menunggu mereka dan harus mereka tanggung.
“Aku tidak bisa,” kata Ju Meok sambil menangis.
“Kepala Sersan Pyo,” kata Eun Dong.
“Aku tidak mau dengar. Semoga kalian selamat,” tegas Sersan Pyo dengan penuh tekad. Lalu dia belari keluar dari dalam ruangan.

Ketika Sersan Pyo bertemu dengan para petugas BIN, dia mencoba untuk memancing mereka supaya mengejarnya. Tapi tidak ada satupun dari para petugas BIN yang mengejar Sersan Pyo, sebab arah Sersan Pyo berlari, itu adalah jalan buntu. Jadi mereka hanya menunggu disana untuk Sersan Pyo kembali. Dan yang lainnya memeriksa ke dalam ruangan- ruangan yang ada disana.
Pada akhirnya, Sersan Pyo, Ju Meok, dan Eun Dong. Mereka bertiga tertangkap oleh para petugas BIN dan mereka di bawa.

Se Ri menghampiri para petugas BIN yang membawa kelima anggota tim Jung Hyuk. Melihat kedatangan Se Ri ke arah mereka, kelima anggota tim Jung Hyuk merasa khawatir padanya, sebab Se Ri belum sembuh total dan belum boleh terlalu banyak bergerak. Tapi Se Ri tidak peduli dengan kesehatannya.
“Bawa aku bersama kalian. Aku bisa jelaskan semua. Ini semua terjadi karena aku. Interogasi aku dahulu,” jelas Se Ri dengan lemah kepada para petugas BIN.
“Tentu. Kami akan jadwalkan pertemuan denganmu juga. Doktermu bilang, kamu belum boleh keluar,” balas petugas BIN.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku ikut mereka,” pinta Se Ri.
Dengan keras, Sersan Pyo membentak Se Ri untuk mendengarkan perkataan Dokter dan jangan membantah. Lalu dia pun mengikuti para petugas BIN yang menariknya.
Dilantai atas. Se Hyung dan Sang Ah hanya berdiri diam dan menonton itu.

Ibu menarik Se Ri ke dalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkan nya. Dengan sedih, Se Ri menyalahkan dirinya, sebab semua ini terjadi karena dirinya.
“Tidak. Ini bukan karena dirimu. Tidak apa-apa,” hibur Ibu.
“Aku harus apa? Aku harus apa?” tanya Se Ri sambil menangis cemas.

Se Ri kembali di rawat oleh para dokter. Dan Ibu menemani nya.
Jung Hyuk dibawa oleh para petugas BIN.

Didalam bus BIN. Sersan Pyo menyuruh mereka berempat untuk memberikan padanya nanti. Dan dengan bingung, mereka semua memandangnya. “Dalam menghadapi situasi ini, mereka pasti memberimu racun yang bisa membunuh langsung begitu dimasukkan ke mulut,” jelas Sersan Pyo. Dan Man Bok tidak percaya. “Jadi, kamu tidak punya rencana?” tanya Sersan Pyo, frustasi.

“Kamu ingat apa yang dikatakan oleh pria dari Divisi 11 itu?” tanya Ju Meok dengan serius. Dan mereka semua pun mengingat tentang Dong Gu yang masih hidup sampai sekarang. “Jadi jangan takut. Paham?” jelas Ju Meok. Dan semua nya mengangguk, kecuali Sersan Pyo.

“Hei, kamu tidak ingat kondisinya?” tanya Sersan Pyo dengan raut suram. Dan mereka semua pun mengingat tentang tingkah bodoh Dong Gu. “Bayangkan apa yang telah dia alami sampai dia jadi begitu. Membuat ku berpikir dia pasti di siksa dengan sesuatu seperti disetrum. Itu menurutku,” jelas Sersan Pyo. Dan semua nya merasa ngeri.
Petugas BIN 2 memandangi mereka berlima dengan tatapan tajam. Sehingga mereka berlima pun langsung terdiam dan berhenti berbicara.

Kelima anggota tim Jung Hyuk di bawa ke dalam sebuah ruangan putih besar. Disana mereka di suruh untuk memakai pakaian serta sepatu yang telah disediakan. Dan dengan patuh mereka pun melakukan nya. Kemudian mereka satu persatu di foto dari depan, samping kanan, samping kiri. Dan lalu mereka mengisi data diri mereka di sebuah formulir.

Selanjutnya mereka berlima masuk ke dalam ruangan check up. Disana tinggi mereka di ukur. Berat mereka di timbang. Dan darah mereka di ambil untuk di cek kesehatan nya.


Setelah semua itu selesai. Satu persatu dari mereka masuk ke dalam ruangan introgasi. Dengan gugup Sersan Pyo duduk di kursi kejujuran, di jarinya dia pasangin kabel dan tekanan darah nya di cek oleh dokter untuk mengetahui apakah dia berbohong atau tidak.
Namun karena Sersan Pyo terlalu gugup, maka tekanan darah dan detak jantungnya menjadi sedikit sulit untuk di baca. Jadi petugas BIN 2 pun mempersilahkan Sersan Pyo untuk makan dahulu, kemudian setelah dia tenang, baru introgasi akan di lanjutkan kembali.

Sersan Pyo sama sekali tidak nafsu untuk makan. Ketika Eun Dong datang, dia langsung memeriksa apakah Eun Dong baik- baik saja. Dan dengan santai, Eun Dong menjelaskan bahwa dia baik- baik saja dan dia merasa sangat senang karena mereka bisa makan sebanyak yang mereka mau.

“Kamu kemari demi makanannya?” tanya Sersan Pyo dengan ketus. Dan Eun Dong meminta maaf sambil menundukkan kepala dengan rasa bersalah. “Cara mendapatkan hati pria adalah melalui makanan. Mereka mengira kita akan mengumbar rahasia jika kita kenyang,” jelas Sersan Pyo dengan serius.
“Mereka sudah tahu semuanya,” balas Eun Dong. “Mereka bahkan tahu kampung halaman ku,” bisik nya dengan bersemangat.

Flash back
Petugas BIN menunjukkan peta korea Utara, dan menanyakan, apakah ini adalah kampung halaman Eun Dong. Dan dengan polos Eun Dong mengiyakan serta menunjukkan dimana dia berasal. Lalu dia menanyakan, apakah dia bisa melihat Ibunya juga, karena dia ingin sekai melihat Ibunya.
Flash back end

Mengingat itu, Eun Dong jadi merasa kagum kepada BIN, karena mereka bisa menemukan kampung halaman nya. Sementara Sersan Pyo merasa heran, kenapa BIN hanya menunjukkan kampung halaman Eun Dong. Dan Eun Dong juga tidak tahu kenapa. Namun yang pasti tidak ada sentruman, jadi Eun Dong merasa lega serta senang juga.
“Mereka sedang memanipulasimu. Tetap tegar,” kata Sersan Pyo dengan yakin.
“Menurutmu, Kapten Ri ada di sini juga?” tanya Eun Dong, saat menyadari kalau hanya ada mereka berlima saja di tempat ini.

Jung Hyuk di introgasi di ruangan terpisah. Dia tidak bicara. Tidak ada makan apapun juga.
Dua orang petugas BIN yang mengawasi dari luar bertanya- tanya, apakah Jung Hyung benar putra dari Direktur Biro Politik Umum. Karena jika iya, maka ini akan menjadi masalah besar. Dan jika Korea Utara sampai tahu, maka bisa terjadi kekacauan juga disana.
“Pak, bukankah dia tampak terlalu tenang?” tanya petugas BIN 2. “Mungkin dia bertekad melakukan sesuatu? Alasan klasik. Demi orang tuanya di Utara, serta menghindari apa pun yang menjatuhkan Se Ri dan orang yang membantunya, dia tampak mau menanggung semuanya. Bisa terlihat dari matanya,” jelas nya dengan yakin.
“Kamu cenayang?” tanya petugas BIN 1 sambil mendengus geli.


Bawahan Ayah Jung melaporkan mengenai kejadian tersebut kepada Ayah Jung. Dan mengetahui informasi tersebut, Ayah Jung merasa cemas. “Jung Hyuk. Setidak nya dia selamat?”
“Ya, Pak. Cho Cheol Gang ditemukan tewas di tempat, tapi Kapten Ri selamat,” jawabnya. Dan Ayah Jung merasa lega. “Akan kucari informasinya lagi lewat jalur rahasia di Selatan. Tapi, untuk berjaga-jaga, aku ingin kamu bersiap, Pak,” jelas nya dengan serius.

Didalam mobil. Seung Jun mencoba mengajak Cheon untuk mengobrol. Tapi Cheon mengabaikannya dan lalu dengan kesal dia menyuruh Seung Jun untuk diam.
“Kamu dibayar berapa untuk ini? Berapa hargaku? Katakan berapa hargaku?” tanya Seung Jun dengan kesal. Dan Cheon langsung menutup mulutnya dengan lakban.
“Diam,” tegas Cheon. Dan Seung Jun pun langsung diam.
“Kita bepergian beberapa hari untuk sampai perbatasan Tiongkok. Kini sudah malam, mari menginap di dekat pasar,” kata Cheon kepada supir.
“Baik.”


Se Jung dan Hye Ji bersulang dengan senang. Seba para lawan mereka sudah jatuh semua, jadi hanya tersisa mereka berdua saja. Namun ntah mengapa mereka masih merasa ada yang janggal, seolah ini belum berakhir. Dan mereka menunggu Pimpinan Yoon untuk menelpon mereka serta memuji mereka. Tapi tidak peduli berapa lama pun mereka menunggu, Pimpinan Yoon sama sekali tidak ada menghubungi mereka berdua.

Se Jung dan Sang Ah menemui Pimpinan Yoon. Mereka membahas tentang Se Ri yang terlibat dalam masalah hukum keamanan nasional. Dan Pimpinan Yoon tidak mau mendengarkan mereka berdua, sebab dia tidak ingin membahas masalah keluarganya dengan orang luar. Mendengar itu, Se Jung dan Sang Ah tetap tidak menyerah.


“Aku tahu Ayah Mertua kesal kepada kami. Kami tidak perlu membela diri. Tapi, Ayah Mertua tidak boleh memihak dalam masalah ini,” kata Sang Ah.
“Jika kita berusaha menolong Se Ri, kita bisa jatuh,” tambah Se Jung.
“Usiaku sudah tua, melihatmu saja membuatku sadar telah membuang waktuku. Cemaskan saja masa depan kalian,” balas Pimpinan Yoon. Lalu dia pergi menjauhi mereka.

Sang Ah menyuruh Se Jung untuk jangan mengikuti Pimpinan Yoon. Dan Se Jung menurut. Sang Ah menjelaskan kalau yang harus mereka lakukan sekarang adalah mengarang cerita sebaik mungkin.
Se Hyung dan Hye Ji yang sedang bersembunyi mendengar hal itu. Dan mereka berdua merasa ngeri mendengar hal tersebut.

Se Hyung dan Hye Ji menceritakan apa yang mereka dengar kepada Se Ri. Dan Se Ri langsung menyuruh mereka berdua diam, sebab kepalanya sangat sakit. Dan Se Jung serta Hye Ji pun bersikap lebih tenang dan bercerita.

“Mereka tidak ada keinginan membunuh atau menculik, tapi mereka hanya patriot yang menyerang mata-mata. Itulah skenario yang mereka tulis,” jelas Hye Ji. Memberitahukan rencana yang Se Jung serta Sang Ah untuk menghindari masalah sendirian.
“Mereka juga bilang mau membawa Gu Seung Jun,” tambah Se Jung. “Omong-omong, benarkah dia kabur ke Utara dan sembunyi di sana?”
“Bagaimana bisa kalian bertemu di sana? Apakah takdir?” tanya Hye Ji, penasaran.
“Bukan takdir. Kebetulan,” jawab Se Ri dengan tegas. “Maksudmu, mereka mau membawa Gu Seung Jun kemari? Dia sudah tertangkap?”

Pagi hari. Saat para petugas masih tidur dengan nyenyak, Cheon bangun dan mendekati Seung Jun. Dia memotong tali yang mengikat tangan Seung Jun, lalu kemudian dia menyuruh Seung Jun untuk mengikat tangannya. Dan Seung Jun merasa bingung.


Dengan tidak sabaran, Cheon melakukannya sendiri. Dia mengambil lakban yang menelpen di mulut Seung Jun untuk menutup mulut nya sendiri. Lalu dia mengulurkan tangan nya dan tali kepada Seung Jun. Sambil memberikan isyarat supaya Seung Jun cepat melakukannya dan kabur.
“Apa boleh begini?” tanya Seung Jun, ragu. Dan Cheon mengiyakan.

Ketika Seung Jun sedang mencoba mencari kendaraan untuk pergi, dia melihat para petugas yang datang untuk menangkap nya. Jadi dia pun segera bersembunyi.

Anak pengemis yang pernah Se Ri tolong. Mereka yang menolong Se Jung. Mereka menolong dengan cara memberikannya tempat untuk bersembunyi. Lalu mereka pergi mengemis di jalanan.
Aku tidak punya orang tua
Tidak punya kakak adik juga
Aku yatim piatu miskin
Saat mati, aku kembali ke alam
Siapa yang akan menguburku?
Siapa yang akan menyelimutiku?
Siapa yang menuang tiga seloki untukku?
Ditempat persembunyiannya. Seung Jun bisa mendengarkan nyanyian yang anak pengemis tersebu nyanyikan. Dan dia merasa sedih.


“Mereka sudah pergi,” kata anak pengemis, memberitahu Seung Jun.
“Kamu mirip denganku. Aku juga tidak punya orang tua dan saudara,” kata Seung Jun sambil menatap si anak pengemis dengan mata bersimpati. “Aku tidak punya siapa pun yang menangisi kematianku,” jelasnya. Lalu dia memberikan seluruh uang nya. “Jangan sampai direbut, dan jangan hilang. Kamu bisa? Ini karena kamu menolongku. Beli makanan untukmu dan saudaramu.”

Setelah mengatakan itu, Seung Jun pun pergi. Dan dengan terbengong, si anak pengemis menatap segulung uang yang diberikan kepadanya.

Seung Jun melihat tempat pergadaian yang pernah Se Ri katakan.

Post a Comment

Previous Post Next Post