Saturday, March 7, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 11-2

0 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 11-2
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI
Sae Ro Yi yang khawatir menawarkan diri pada nenek untuk menelpon keluarganya. Nenek dengan sedih berujar kalau dia juga punya keluarga dulunya. Dia punya seorang putra yang selalu hidup mengikuti segala permintaan dari ibu yang buruk ini. Tapi, kenapa putranya pergi untuk hidup dengan wanita kulit hitam itu?


Saat itu, Tony sudah kembali dan mendengar ucapannya. Nenek memberitahu kalau putranya menikah dengan wanita asal Guinea. Dia tidak merestui hubungan mereka. Tony langsung menunjukkan foto ayahnya di brosur. Nenek menangis.
“Itu kali pertama... dia mengatakan sesuatu yang dia inginkan. Aku tak setuju dengan hal pertama yang dia inginkan. Dia pasti sangat membenci ibunya ini,” ujar nenek, merasa bersalah.
“Kalau begitu, di mana putramu sekarang?” tanya Yi Seo.
“Dia sudah meninggal... karena kecelakaan. Maafkan aku, Nak.”

Tony jelas sedih. Ayah yang selama ini di carinya, ternyata, sudah meninggal. Nenek juga merasa bersalah. Dia menyentuh tangan Tony dan terus mengucapkan kata maaf.
--
Esok hari,
Staff DanBam, minus Tony, sedang menuju lokasi syuting Kedai Terhebat. Di dalam mobil, mereka membicarakan mengenai Tony. Seung Kwon merasa kasihan karena ternyata ayah Tony sudah tiada. Hyun Yi mengambil sisi positifnya, karena setidaknya, Tony menemukan neneknya. Dan sekarang, tidak akan sulit bagi Tony untuk mendapatkan kewarganegaraannya.
“Apa Tony akan terus bekerja dengan kita?” tanya Seung Kwon.
“Tony yang akan putuskan,” jawab Sae Ro Yi.
--

Soo Ah dan Geun Soo berada di ruang tunggu koki Park (koki perwakilan untuk Jangga). Soo Ah yang baru keluar, kembali dengan bersemangat memberitahu kalau dia sudah mendapatkan info-nya. Challenge untuk babak kedua kompetisi Kedai Terhebat adalah masakan kuah tanpa MSG.
Dan karena itu, Soo Ah menyarankan untuk memasak cheonggukjang. Koki Park langsung setuju tanpa memikirkan apapun lagi. Koki Park juga sangat percaya diri karena cheonggukjang adalah menu andalannya.

Geun Soo penasaran dengan cara Soo Ah bisa tahu hal itu. Soo Ah menjawab kalau dia mempunyai koneksi khusus.
--

Tony ternyata tidak ikut karna pergi menjenguk nenek. Dia bahkan mengupaskan apel untuknya. Mereka tampak berbincang dengan baik. Nenek akhirnya bertanya, apakah Tony tidak membencinya?
“Ayah sering bercerita tentangmu, Nek. "Walau miskin, tapi berkat dia, kami tak pernah tahu itu. Walau nenekmu kelaparan, tapi ayah selalu kenyang. Ayah baru tahu betapa hebatnya itu setelah kau lahir." Ayah tidak membenci Nenek. Ayah sebenarnya kembali ke Korea karena ingin berterima kasih kepada Nenek. Aku akan katakan mewakili Ayah. Nenek. Terima kasih. Nenek. Terima kasih,” ujar Tony.
Nenek menangis mendengar perkataan itu. Tony memeluknya dan nenek balas memeluknya.
--

Hyun Yi berada di ruang tunggu seorang diri, bersiap-siap. Saat itu, Geun Soo datang menemuinya. Hyun Yi jelas senang karena ini pertemuan pertama mereka setelah Geun Soo berhenti dari DanBam.
“Di mana Saeroyi hyung dan Yi-seo?” tanya Geun Soo.
“Mereka sedang bertemu pengarah acara.”
Geun Soo kemudian mengalihkan dengan memuji penampilan Hyun Yi yang tampak cantik.
--

Acara Kedai Terhebat di mulai,
MC acara memberitahu challenge kali ini adalah membuat masakan tanpa MSG, garam dan gula. Dan karena itu, kebanyakan peserta membuat menu jjigae seperti kimchijjigae, eomuktang dan doenjangjjigae.
Dan pemenang babak sebelumnya, Ma Hyun Yi, sedang menyiapkan menu sundubujjigae. Hyun Yi di wawancara sambil masak. Hyun Yi memberitahu kalau sundubujjigae adalah menu yang di sukai oleh bos-nya. Setelah mengatakan itu, Hyun Yi dengan dingin berkata kalau MC mengganggunya memasak.
MC sampai gugup dan meminta maaf. Dia juga memberitahu kalau sifat dingin Hyun Yi membuatnya mendapat julukan Penyihir Es.

Soo Ah yang menonton acara, menanyakan pendapat Geun Soo yang sudah pernah memakan sundubujjigae dari DanBam dan cheonggukjang dari Jangga. Di antara kedua makanan itu, yang mana yang akan menang? Geun Soo menjawab kalau itu tergantung selera juri karena dua-duanya sangat enak. Tapi, Jangga akan kalah.
Soo Ah jelas terkejut mendengar jawaban Geun Soo tersebut.
Masakan sudah selesai dan para juri juga sudah mencicip. Sekarang, saatnya pengumuman.
“Pemenang babak kedua kali ini adalah…. Ma Hyun Yi dari kedai DanBam!”
Para staff DanBam langsung bersorak girang dengan kemenangan itu.
--

Di ruang tunggu Jangga,
Koki Park tidak tampak sedih sama sekali dengan kekalahannya, dua kali berturut-turut. Dia malah dengan santai bertanya ekspresi sedih Soo Ah dan Geun Soo. Soo Ah yang merasa tidak enak, malah berkata kalau koki Park sudah bekerja dengan baik.
“Kau terkenal karena episode sebelumnya, 'kan? Bahkan kau mengadakan sesi tanda tangan. Itu terjadi saat kau harusnya persiapkan babak kedua,” ujar Geun Soo.
“Kau ingin berkata aku tak bekerja keras karena mengadakan sesi tanda tangan?” tanya Koki Park, merasa tersinggung.
“Tentu tidak, Pak. Dia masih belum tahu apa-apa,” ujar Soo Ah, menengahi.
“Hei, apa orang lain bisa dapat juara dua semudah itu?” omel Koki Park, menatap Geun Soo dengan sengit.
“Benar juga. Aku juga berpikir seperti itu, tapi aku dengar kau tak boleh begitu di Jangga. Ayah, maksudku... Presdir Jang berkata begitu. "Jangga... selalu berada di puncak. Bila puas berada di posisi kedua, dia tak punya hak berada di Jangga." Aku hanya khawatir padamu,” jawab Geun Soo.
Tapi, Koki Park tampak benar-benar kesal dan berjalan keluar dari ruang tunggu.
--

Soo Ah dan Geun Soo juga sudah hendak pergi dari gedung acara. Geun Soo meminta maaf pada Soo Ah karena dia pasti sudah kelewatan lagi. Soo Ah tidak marah karena perkataan Geun Soo tadi ada benarnya. Dia juga merasa kalau koki Park terlalu santai tadi.

Pas sekali, mereka berjumpa dengan Sae Ro Yi dan Yi Seo. Mereka menyapa dengan ramah. Soo Ah juga memberi selamat karena mereka mendapat juara pertama. Sae Ro Yi sangat ramah hingga mengajak Soo Ah dan Geun Soo untuk ikut dalam pesta mereka. Yi Seo tidak setuju dan protes untuk apa orang luar di ajak. Tapi, Soo Ah dan Geun Soo dengan santainya menerima ajakan Sae Ro Yi. Tidak hanya itu, Soo Ah bahkan merangkul tangan Sae Ro Yi dan mengajaknya jalan bersama.

Tinggallah Yi Seo dan Geun Soo di belakang.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Geun Soo.
“Marah-marah akan menjadi nilai minus. Semua itu ada waktunya, Geun-soo. Lihat apa yang akan terjadi dua tahun lagi. Bagaimana Jangga? Apa nyaman bekerja dari hasil nepotisme?”
“Aku masih beradaptasi.”
“Begitu rupanya. Kita harus tetap berhubungan. Kau bisa beri tahu rahasia bisnisnya.”
“Apa kabar?”
“Kau belum lama keluar. Untuk apa menanyakan itu?”
“Benar juga. Belum lama, tapi aku sudah rindu.”
“Walaupun begitu, kau keluar begitu saja.”
“Sudah kukatakan, 'kan? Ini semua karena kau,” ingati Geun Soo.
Pembicaraan mereka terhenti karena Sae Ro Yi memanggil mereka untuk bergegas. Yi Seo langsung berlari ke arahnya dengan riang.
--
Mereka semua berkumpul di restoran untuk berpesta. Ada Yi Seo, Sae Ro Yi, Hyun Yi, Seung Kwon, Geun Soo dan Soo Ah. Awalnya, pesta tampak seru dan mereka bisa berbincang dengan sangat santai.

Tapi, Seung Kwon tiba-tiba mengajak mereka semua untuk bermain Truth or Dare. Yi Seo yang pertama terpilih. Geun Soo langsung memanfaatkan itu dengan bertanya, apakah Sae Ro Yi tidak ingin bertanya apapun pada Yi Seo? Sae Ro Yi tidak punya pertanyaan apapun.
“Kalau begitu, aku saja. Kau bilang kau akan datang kepadaku bila aku jadi pewaris Jangga. Apa kau ingat itu?” tanya Geun Soo.
“Aku ingat. Aku ingat itu, tapi...”
“Baik. Pertanyaan selesai,” potong Geun Soo.

Dan karena itu, semua jadi curiga dengan hubungan Yi Seo dan Geun Soo. Mereka menggoda Yi Seo dan Geun Soo. Yi Seo jelas panik dan menegaskan pada Sae Ro Yi kalau dia tidak punya hubungan apapun dengan Geun Soo. Sae Ro Yi hanya mengiyakan.


Botol kembali di putar dan orang yang selanjutnya adalah Sae Ro Yi. Hyun Yi langsung bertanya, kapan ciuman pertama Sae Ro Yi? Sae Ro Yi diam sejenak dan menjawab kalau dia belum pernah berciuman. Hahaha (pdhl Yi Seo sudah pernah menciumnya saat dia pingsan). Seung Kwon dan Hyun Yi antara percaya dan tidak percaya. Yi Seo tersenyum senang dan ingat saat dia mencium Sae Ro Yi yang pingsan.
Seung Kwon bertanya lagi, antara Sae Ro Yi dan Soo Ah, ada hubungan apa? Apa benar mereka berteman? Sae Ro Yi menjawab kalau dia suka pada Soo Ah. Wajah Yi Seo langsung berubah murung. Hyun Yi menyadari hal itu. Dia langsung mencubit Seung Kwon dan memarahinya karena bertanya hal seperti itu. Geun Soo juga sadar akan hal itu, tapi dia malah menambahkan garam ke atas luka Yi Seo.
“Apa kau pernah sekali saja melihat Yi-seo sebagai wanita?” tanya Geun Soo.
“Tidak. Sekali pun tak pernah. Yi-seo hanya adik dan partner bagiku,” jawab Sae Ro Yi.
Yi Seo jadi merasa semakin terluka. Matanya menjadi berkaca-kaca. Seung Kwon yang pertama menyadari kalau Yi Seo menangis. Semua jelas terkejut. Yi Seo menghapus air matanya dan pamit pulang duluan.

“Kenapa kau tak mengikutinya? Kau tak tahu alasan dia terluka? Cepat bawa dia kembali,” ujar Hyun Yi pada Sae Ro Yi.
“Dia terluka?” gumam Sae Ro Yi, tidak mengerti.
“Kau tak boleh susul dia bila begitu. Kau tak lihat dia sebagai wanita, 'kan? Jika kau susul, kau memberi harapan palsu,” peringati Geun Soo.
“Saat ini, kau tak perlu bersikeras menyakiti perasaannya. Dia penting, 'kan? Jangan biarkan dia sendiri,” ujar Hyun Yi memarahi Geun Soo dan menyuruh Sae Ro Yi.
Sae Ro Yi mendengarkan perkataan Hyun Yi. Dia segera pergi meninggalkan Soo Ah dan mengejar Yi Seo. Seung Kwon terkejut karena baru sadar kalau Yi Seo menyukai Sae Ro Yi. Hyun Yi lebih kesal lagi pada Geun Soo karena sudah bersikap menyebalkan seperti ini.
Suasana pesta yang ceria, berubah menjadi suram.
--

Sae Ro Yi berlari mengejar Yi Seo yang terus saja berlari. Dia menarik tangan Yi Seo dan meminta penjelasannya kenapa seperti ini. Yi Seo tidak mau ikut dengannya karena bagi Sae Ro Yi dia bukan wanita. Sae Ro Yi jadi marah dan memarahi Yi Seo yang adalah gadis cerdas kenapa bertingkah seperti bocah?!
“Aku punya rencana untuk dua tahun ke depan. Tapi semua rusak karena Geun-soo berengsek itu. Kalau begitu, akan kulaksanakan rencana cadangan,” gumam Yi Seo. Dia akan memberitahu Sae Ro Yi sekarang juga perasaannya karena hatinya sudah seperti akan meledak.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku mencintaimu,” ujar Yi Seo, cepat. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Bos. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”
Sae Ro Yi tercengang, tapi masih sulit percaya. “Ini mungkin... karena aku seperti keluarga. Kau nyaman sehingga berpikir...”
“Aku tidak salah paham. Aku tak pernah sekali pun menganggapmu seperti keluargaku. Sejak kali pertama kita bertemu hingga saat ini. Tidak ada perasaan yang lebih jelas dari perasaan ini.”
“Geun-soo suka padamu, 'kan?” bahas Sae Ro Yi. “Kau akan terima Geun-soo bila dia berhasil. Dengan begitu, kalian bisa...”
“Kenapa kau bahas Geun-soo?” potong Yi Seo. “Itu hanya... perkataan yang kukatakan begitu saja. Aku memanfaatkan perasaan Geun-soo padaku untuk membantumu dalam berbagai hal.”
“Apa itu? Kau tak pikirkan perasaan Geun-soo? Bagaimana bisa kau tak peduli sama sekali?” tanya Sae Ro Yi, marah.
“Aku tahu. Itu tidak etis untuk dilakukan. Aku tak minta kau memahamiku. Aku tak ingin berbohong padamu. Inilah aku yang sebenarnya. Namun, karena aku tahu kau tak suka hal seperti ini... Karena tahu kau tak suka, aku tak akan seperti itu lagi. Karena itu, jangan bicarakan Geun-soo dan terima saja aku yang sekarang.”
“Yi-seo. Perbedaan umur kita sepuluh tahun. Kita baik saja sampai sekarang, 'kan? Banyak yang harus kulakukan...”
“Hentikan. Bila kau tak menyukaiku, bilang saja tak suka. Masalah pekerjaan atau perbedaan umur. Alasan itu terdengar payah. Aku tak ingin mendengar alasan seperti itu darimu. Aku hanya butuh satu kata saja darimu. Apa aku... benar-benar tak ada kesempatan?” 
Sae Ro Yi menatapnya. “Ya. Jangan sukai aku,” ujarnya dengan begitu dingin.



Yi Seo tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pernyataan cintanya di tolak. Dan dia memutuskan untuk pergi. Sae Ro Yi tampak ingin mengejarnya, tapi menahan dirinya. Dia hanya menatap punggung Yi Seo yang semakin jauh.


Yi Seo berjalan di tengah turunnya salju. Kosong. Tatapannya kosong. Semua kenangannya akan Sae Ro Yi bermunculan di ingatannya. Rasa sakit di hatinya tidak terbendung.




Yi Seo tidak sanggup berjalan. Hatinya sakit. Sangat sakit. Dia menangis terisak-isak. Dia benar-benar mencintai Sae Ro Yi. Dan kini, semuanya terasa sakit. Isak tangisnya semakin keras di tengah turunnya salju, malam itu.



No comments:

Post a Comment