Monday, October 21, 2019

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 6 - part 1

0 comments

Sinopsis C- Drama : Arsenal Military Academy Episode 6 – part 1
Network : iQyi Netflix

Jun Shan mengendong Liang Chen di punggung nya untuk kembali ke markas. Dan ketika Jun Shan mengendong nya itu, Liang Chen teringat kepada kenangan bersama kakak nya, saat dulu kakak nya juga pernah mengendong nya di punggung.

Ditempat lain. Man Ting mengendong Yan Zhen yang pingsan di punggung nya, dengan sedikit di seret, karena Yan Zhen sangat berat. Dan sepanjang perjalanan, dia terus mengeluh kan hidup nya.
“Apakah aku berhutang budi pada mu di kehidupan ku sebelum nya? Aku membawa pria yang kuat seperti mu dengan sepatu hak tinggi dan rok. Kenapa aku harus begitu sial akhir-akhir ini. Aku harus membawa mu saat di kejar. Aku pikir kamu disini untuk menyelamat kan ku. Tapi sekarang aku menggendongmu diantah berantah. Gu Yan Zhen, aku kasih tahu, kamu akan berutang padaku selamanya,” keluh Man Ting sambil merengek.

Huang Song serta Yan Lin berjalan dengan hati- hati di dekat semak- semak untuk mencari Liang Chen yang hilang. Dibelakang mereka, Tao serta Yang mengikuti mereka berdua untuk mencari Man Ting.


Setelah cukup lama berjalan, Huang Song merasa seperti melihat sesuatu, jadi dia pun memberikan tanda supaya mereka semua menunduk. Dan Yan Lin pun langsung menunduk, lalu dia memberikan tanda juga pada Yang dan Tao yang berada di belakang nya untuk menunduk.

Jun Shan memeriksa mayat yang mereka temukan. Dan melihat mayat itu, Liang Chen bertanya siapa yang melakukan itu. Dengan waspada Jun Shan pun melihat ke sekelilingnya.

Ketika para orang Jepang akan berjalan melewati mereka, Huang Song secara waspada memperhatikan mereka, lalu menggunakan pistol panjang ditangannya, dia menyandung kaki salah satu dari mereka dan memukul nya.

Mendengar suara itu, yang lain langsung menembak ke arah Huang Song. Namun dengan hebat, Huang Song merampas pistol dari orang yang telah di jatuhkannya, dan dia menembak balik orang yang menembak nya.
Sementara Yan Lin, dia melindungin Yang serta Tao yang berada dibelakang nya. Melihat kejadian itu, Yang terkejut dan ingin berteriak, tapi Tao langsung menutup mulutnya supaya tidak berteriak.
Mendengar suara tembakan itu, Jun Shan dengan segera memapah Liang Chen untuk segera pergi menjauhi mayat tersebut.
Setelah dirasa cukup aman, Huang Song memberikan tanda kepada Yan Lin dan yang lainnya untuk segera bergerak pergi darisana.


Jun Shan membawa Liang Chen ke tempat yang cukup aman serta tersembunyi, dan dia menyuruh Liang Chen untuk menunggu nya disana. Dan Liang Chen pun mengerti, dia menyuruh Jun Shan untuk berhati- hati.

Setelah itu, Jun Shan pun pergi. Dan Liang Chen duduk sendirian di bawah pohon dengan sikap yang waspada sambil memegang erat pistol di tangan nya.

Jun Shan menemukan Orang- orang jepang yang lain. Tepat ditempat, dimana Huang Song membunuh rekan mereka. Dan secara perlahan dia pun berniat untuk mendekati mereka. Tapi sialnya, dia tidak sengaja menginjak ranting pohon dan membuat sedikit suara.
Mendengar suara itu, mereka semua pun langsung menembak ke arah Jun Shan. Namun dengan cepat, Jun Shan berhasil melarikan diri darisana.
Mendengar suara tembakan tersebut, Liang Chen langsung mengarahkan pistol nya, dan bersiap- siap, jika ada orang yang mendekati nya.

Tiga orang jepang yang mengejar Jun Shan merasa kebingungan, karena Jun Shan menghilang begitu saja, ntah ada dimana.
Jun Shan yang sebenarnya sedang bersembunyi dibelakang pohon. Dia bersiap menunggu mereka untuk mendekat ke arah nya. Lalu saat salah satu dari mereka mendekat ke arahnya, dia pun langsung menusuk orang tersebut menggunakan pisau kecil yang dimilikinya.
Menyadari hal itu, dua yang lainnya langsung menembak ke arah Jun Shan. Tapi Jun Shan dengan gesit berhasil menghindari tembakan tersebut, dan menembak balik salah satu dari mereka menggunakan pistol yang direbut nya dari orang pertama.
Lalu Jun Shan mengejar orang ketiga yang melarikan diri darisana.


Liang Chen berdiri, dan memperhatikan sekitar nya. Lalu saat orang ketiga yang berlari, mendekat ke arah nya, dia langsung mengarahkan pistolnya untuk menggertak. Tapi orang ketiga tersebut malah ingin menembak nya juga. Untung saja, tepat disaat itu, Jun Shan datang dan menembak Orang ketiga itu langsung. Sehingga Liang Chen pun selamat.
Dengan perhatian, Jun Shan mendekati Liang Chen, dan menanyakan apakah Liang Chen baik- baik saja. Dan dengan lega, Liang Chen menjawab bahwa dia tidak apa- apa.
“Disini tidak aman. Kita harus pergi sekarang,” ajak Jun Shan, dan dia pun membantu Liang Chen untuk berjalan pergi darisana.
Man Ting masih mengendong Yan Zhen, dan dia mengeluhkan Yan Zhen seberat babi, sehingga dia pun sangat lelah.

Ting Bai datang ke kantor pusat, bersama dengan para bawahannya. Para bawahan nya menembak dan menahan orang- orang Sato. Lalu dengan sikap santai dan tenang, Ting Bai berjalan menuju ke ruangan kerja Sato

Sato berusaha menelpon seseorang, tapi tepat disaat itu Ting Bai masuk ke ruangannya. Dan merasa terkejut, Sato pun langsung mematikan telpon nya.
“Tn. Sato, senang bertemu denganmu. Tolong maafkan aku atas kunjungan mendadak ku,”kata Ting Bai sambil tersenyum.
“Shen Ting Bai, kamu disini untuk apa?” tanya Sato.
“Aku mau membicarakan sesuatu dengan mu.”

“Dengan menerobos ke tempat ku?”
Ting Bai dengan tenang bahwa Cina adalah negara etiket, jadi mereka selalu mencoba cara yang adil sebelum menggunakan kekerasan. Sehingga karena prinsip itu tidak berlaku untuk Sato, maka dia pun melakukan ini.

Lalu tepat disaat itu, telpon Sato berbunyi, dan Ting Bai ingin mengangkatnya, tapi Sato langsung menahan gagang telpon nya. Namun akhirnya, Sato membiarkan juga Ting Bai untuk mengangkat telpon itu, karena takut pada tatapan tajam Ting Bai.

“Ini Shen Ting Bai,” kata Ting Bai, memperkenalkan diri. Kemudian dia memberikan itu kepada Sato, dan dengan bingung, Sato mengangkatnya.
“Pak Sato bantu aku!” pinta Yumi dari telpon.
“Yumi? Yumi!” panggil Sato terkejut, tapi lalu telpon mati.

Dengan panik, Sato menyuruh Ting Bai untuk melepaskan mereka sekarang, jika Ting Bai berani menyentuh mereka, maka dia bersumpah kalau Ting Bai akan membayar untuk itu. Dan mendengar itu, Ting Bai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Anhe. Kenapa kamu selalu mencuri dialogku?” tanya Ting Bai, sambil memberikan Sato tanda supaya Sato mengembalikan gagang telpon itu ke tempat nya. Dan Sato melakukan nya. Lalu Ting Bai berjalan ke arah nya, dan memegang bahunya.


Ting Bai mengatakan bahwa sekarang Sato pasti sudah tahu rasanya kekuatan hukum, tapi itu masih belum cukup. Yang harus Sato lakukan sekarang adalah berdoa semoga Man Ting dapat kembali dengan selamat, dan berdoa juga untuk kesehatan serta kebahagiaan Man Ting. Karena jika Man Ting bersin sekali saja, maka Sato harus membayar seratus kali lipat untuk itu. Ting Bai mengatakan semua ancaman itu dengan nada yang harus.

Mendengar ancaman tersebut, Sato tidak perdaya untuk melakukan apapun. Lalu saat Ting Bai menjauhinya, dia pun memukul meja nya dengan emosi. “Aku akan membunuhmu!” desis Sato.
“Kamu bisa mencoba. Tapi jika kamu gagal, aku akan membunuh seluruh keluarga mu,” balas Ting Bai sambil tersenyum tenang. Lalu dia pun pergi.
“Shen Ting Bai!” teriak Sato, marah.

Tepat disaat Ting Bai baru keluar dari ruangan Sato dan berjalan menuruni tangga, Tiga orang anak buah Sato sampai di sana. Dan melihat kedatangan nya, anak buah Ting Bai langsung menembak mati dua dari mereka bertiga. Kemudian untuk yang terakhir, Ting Bai secara pribadi menembak nya.



Pada tembakan pertama, Si ketiga hanya  terkena tembakan di bagian perut nya, jadi dia tidak mati. Namun sebelum keluar dari pintu, Ting Bai sekali lagi menembak nya.

Ketika terbangun, Yan Zhen merasa bingung sedang dimana dia sekarang. Dengan kepala yang masih terasa sedikit sakit, dia turun dari tempat tidur.

Di dapur. Man Ting memasak dengan takut- takut dan juga kebingungan. Melihat itu, Yan Zhen menanyakan, apa yang sedang Man Ting lakukan. Dan Man Ting pun langsung menyapanya, kemudian dia menanyakan bagaimana keadaan Yan Zhen.
“Woi!” teriak Yan Zhen, terkejut, saat melihat api di wajan membesar. Dan dengan takut, Man Ting pun langsung melindungin dirinya sendiri. Lalu dengan sigap, Yan Zhen pun membantunya, dengan menutup panci.

Diruang makan. Man Ting mengomentari, kalau dia tidak menyangkan Yan Zhen bisa memasak. Dan Yan Zhen dengan bangga membalas bahwa dia bisa melakukan banyak hal, namun Man Ting akan terkejut bila dia memberitahu.
“Pembohong,” keluh Man Ting. “Kenapa kamu ada di hutan?” tanyanya.
“Aku punya misi. Bagaimana dengan mu?” balas Yan Zhen.
“Aku di buru. Aku berhasil melarikan diri.”
“Diburu? Oleh siapa?”
“Mungkin orang Jepang?”

Yan Zhen dengan sedikit bercanda dan cuek, dia menanyakan apakah Man Ting di kejar, karena para Orang jepang itu menyukai nyanyian Man Ting. Dan mendengar itu, Man Ting merasa seperti ingin memukul Yan Zhen. Lalu dia berpikir sejenak, dan mengatakan bahwa sepertinya dia sudah tahu mengapa dia dikejar oleh mereka.
“Oh ya, dimana kita?” tanya Yan Zhen.
“Rumah bibiku. Itu telah di bersihkan kemarin, dan aku berencana untuk tinggal di sini selama beberapa hari. Aku tidak berharap seseorang akan mengejarku,” balas Man Ting.

Yan Zhen kemudian berhenti makan, dengan alasan sudah kenyang. Dan dia melihat- lihat keadaan rumah Bibi Man Ting. Lalu dia menemukan sebuah foto, dan bertanya, apakah ini adalah Bibi Man Ting.
“Dia dan Ibuku kembar, tetapi mereka tidak mirip,” jawab Man Ting.
“Dimana dia? Dia tidak tinggal disini?”
“Dia meninggal karena sakit beberapa tahun yang lalu. Aku tidak bisa melihat nya,” jelas Man Ting. Kemudian dia teringat, tanggal berapa hari ini? Dan Yan Zhen menjawab.

Ternyata ini adalah hari ulang tahun Ibu Man Ting. Dan mengetahui itu, dengan sikap sedikit cuek, Yan Zhen langsung mengucapkan selamat ulang tahun.

Mendengar itu, Man Ting mengeluh, karena saking sibuk nya dia, sehingga dia lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Ibunya, jadi ketika dia pulang ke rumah, dia pasti akan di omeli. Dan sekarang keluarga nya pasti sedang mengatakan pesta, dan makan kue di rumah, sementara dia harus bersembunyi disini serta makan mie yang hambar. Bahkan yang paling buruk adalah dia terjebak disini bersama dengan Yan Zhen.

Yan Zhen tertawa mendengar itu, dan mendekatinya. “Kita berada di antah berantah sekarang, dan hanya ada kamu dan aku. Jika aku ingin melakukan sesuatu yang buruk, kamu tidak punya tempat untuk bersembunyi,” jelasnya, menggertak.
Dan Man Ting mendengus geli, karena mengira Yan Zhen tidak akan mungkin berani. Namun Yan Zhen malah semakin mendekat padanya, sehingga dia pun terkejut dan meneriaki Yan Zhen.

Melihat itu, Yan Zhen menakuti Man Ting dan seperti menggongong padanya. Sehingga dengan takut, Man Ting pun langsung berdiri menjauhinya, bahkan saking takutnya, dia hampir saja terjatuh saat berdiri. Dan Yan Zhen tertawa.

Setelah selesai memeriksa anak Sato, yaitu Sachiko. Dokter memberitahu kalau kondisi Sachiko tidak terlalu baik, asma Sachiko sudah parah, apalagi kali ini ketika asma Sachiko kambuh, dia tidak segera di rawat tepat waktu. Jadi Dokter menyarankan Sato untuk membawa Sachiko kembali ke Jepang dan dirawat disana, itu jika Sato memang masih peduli pada Sachiko.
Mendengar itu, Sato merasa bingung dan cemas.
Di kantin. Dengan perhatian, Huang Song mengambilkan makanan untuk Liang Chen yang kakinya masih terluka, sehingga Liang Chen masih berjalan dengan sedikit pincang. Dan Liang Chen meminta nya untuk jangan khawatir, karena dia baik- baik saja. Lalu mereka berdua pun duduk bersama di meja makan.

Dan tepat disaat Jun Shan datang. Melihat nya, Liang Chen pun langsung berteriak memanggilnya, dan mengucapkan terima kasih padanya. Dengan ramah, Jun Shan mengiyakan dan meminta Liang Chen untuk lebih banyak beristirahat. Kemudian Jun Shan dan Ji Jin pergi untuk mengambil makanan.

Huang Song memberitahu Liang Chen bahwa nilai hasil pelatihan lapangan sudah keluar. Dan Jun Shan mendapatkan tempat kedua, karena dia tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Mengetahui itu, Liang Chen merasa itu tidak adil, dan Huang Song menyaran kan nya untuk protes kepada Zhong Xin.

Liang Chen lalu menebak, kalau dirinya pasti yang berada di tempat terakhir. Dan Huang Song menjawab itu salah, Yan Zhen yang berada di tempat terakhir, karena meninggal kan lapangan pelatihan tanpa izin dan di selamatkan oleh warga sipil. Mendengar itu, Liang Chen tertawa, karena merasa itu bagus.

Lalu untuk tempat pertama, yang berhasil mendapatkan nya adalah Huang Song. Dengan bangga dia mengatakan bahwa dia adalah master di alam liar, dan dia sudah pernah mengatakan itu. Mengetahui itu, Liang Chen merasa bangga padanya dan memuji nya.
Kemudian mereka berdua pun lanjut makan lagi.


Man Ting duduk diam di dalam kamarnya sambil mendengarkan omelan dari Ayahnya yang berada diruang tamu.
Ayah Man Ting membanggakan Shen yang walaupun bukan keluarga terkenal, tapi itu masih merupakan keluarga kaya. Bahkan dia sudah mengenal Ting Bai sejak dari Ting Bai masih kecil. Dan Ting Bai adalah orang yang baik. Juga yang terpenting adalah Ting Bai sangat mencintai Man Ting.
“Dia tidak akan menyesal menikahi pria seperti itu. Tidak ada yang bisa mendapatkan pernikahan yang sempurna, tapi dia masih belum puas! Apa yang dia inginkan? Apa dia lupa siapa dia?” kata Ayah Man Ting dengan suara sengaja di perkeras, supaya Man Ting mendengar.
Ibu Man Ting berusaha menenangkan Ayah supaya tidak berbicara seperti itu. Dan karena malas mendengarkan omelan itu, maka adik Man Ting pun naik ke lantai atas.


Adik menawarkan makanan hangat untuk Man Ting, Namun man Ting diam tidak menjawab. Adik pun mengambil kursi dan duduk di depannya sambil memegang tangannya. Dia meminta Man Ting supaya jangan marah kepada Ayah, dan dia menyakin kan supaya Man Ting menerima saja Ting Bai.
“Apakah kamu mencoba untuk menyakin kan aku?” tanya Man Ting, tegas. Dan Adik langsung menjawab tidak.

Man Ting kemudian mulai bercerita, “Ketika Ayah Shen meninggal, putra- putranya ingin membagi harta itu. Sehingga bisnis mereka dalam kesulitan. Jadi Paman Shen datang kepada kita untuk meminta bantuan, tapi apa yang Ayah kita lakukan? Dia sangat memikirkan dirinya sendiri, dan memandang rendah keluarga Shen. Dia melemparkan semua hadiah yang Paman Shen bawa keluar dari gerbang. Semua orang dikota tahu tentang itu. Kamu masih muda saat itu, tapi kamu harus nya ingat itu,” jelas Man Ting. Dan Adik mengangguk mengiyakan.
Man Ting menjelaskan bahwa hubungan nya dengan Ting Bai memang sangat baik. Tapi sejak kejadian itu, Paman dan Bibi Shen tidak pernah mau bertemu dengan nya dan mengatakan sesuatu kepadanya.


“Kak, tapi …”
“Jangan bilang, itu tidak akan menghalangin pernikahan kami. Lalu mengatakan bahwa Shen Ting Bai menyinggung orang Jepan dan Kazuo Sato untuk ku. Jika bukan karena dia, Orang jepang tidak akan tahu siapa aku. Daripada melindungi ku, dia melindungi martabatnya. Jika dia tidak punya keberanian, dia sudah mati sejak lama, dan tidak akan ada COC di Shunyuan,” jelas Man Ting, emosi.

Man Ting menjelaskan lagi mengenai Ting Bai yang sudah ada membunuh banyak orang. Dan Adik membalas bahwa setidak nya Ting Bai baik kepada Man Ting. Dengan sedikit ketus, Man Ting menanyakan, apakah dia harus menikahi semua orang yang baik kepadanya?
“Lalu siapa yang kamu ingin kan?” tanya Adik.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin .. aku belum bertemu dengan nya. Tapi setidaknya aku tahu apa yang aku inginkan, dan apa yang tidak ku inginkan. Apa yang kusuka, dan tidak ku suka,” jawab Man Ting.

Man Ting kemudian mengambil topi dan tas nya, lalu dia berjalan turun. Melihat itu, Ibu menanyakan, kemana Man Ting ingin pergi. Dan Man Ting menjawab kalaau dia ingin menemui seorang teman.
“Berhenti disana!” tegas Ayah. Dan Ibu membujuk Man Ting untuk jangan keluar malam seperti ini, karena diluar sangat berbahaya. Tapi Man Ting tidak mau.

Ayah memanggil dan memarahi Man Ting yang tidak patuh. Dan Man Ting pun melawannya. Melihat itu, Ibu meminta Man Ting untuk tidak melawan Ayah seperti itu, dan meminta maaf. Namun Man Ting tidak peduli.

“Kamu bisa menjadi wanita terhormat, tapi kamu memilih menjadi gadis panggung di Shang Hai. Apa kamu punya harga diri? Siapa yang mau menikah denganmu, jika kamu merusak reputasi mu sendiri?!” bentak Ayah, bertanya.
“Gadis panggung? Apa salahnya dengan itu? Aku suka menjadi Gadis Panggung. Dan aku tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Aku menghasilkan uang ku sendiri, bukan kah ini lebih baik dari wanita- wanita itu yang mengandalkan suami untuk mencari nafkah?!” balas Man Ting dengan kesal. Lalu dia pun keluar dari rumah.
Dengan emosi, Ayah pun meneriaki Man Ting. Dan Ibu meminta nya untuk tenang.

Ting Bai datang, dan melihat Man Ting keluar dari rumah, dia pun memanggilnya dan bertanya, kemana Man Ting mau pergi. Namun Man Ting mengabaikan nya, dan terus berjalan pergi.
Dengan bingung, Ting Bai pun menatap heran dan membiarkannya.

No comments:

Post a Comment