Monday, October 21, 2019

Sinopsis C-Drama : Love You Like the Mountain and Ocean Episode 07

0 comments

Sinopsis C-Drama : Love You Like the Mountain and Ocean Episode 07
Images by : Youku

Jam 07 pagi. Jam alarm Ruining berbunyi dengan keras. Ruining terbangun dan wajahnya tampak pucat. Dia juga batuk-batuk. Dia melihat ke arah tempat tidur Shen Zhen, dan ternyata Shen Zhen sudah tidak ada. Tidak hanya itu, uang yang di letakkannya di meja belajar Shen Zhen, di kembalikan Shen Zhen  ke meja belajar Ruining.
--

Shen Zhen sedang mengantri sarapan di kantin. Dia menghitung kalau dia menggunakan semua uang di kartu siswa-nya hanya untuk membeli roti kukus, maka dia bisa bertahan hingga minggu ini. Shen Zhen juga tampak sakit karena dia batuk-batuk. Dan minggu depan-nya, dia bisa meminta sedikit uang dari ibunya.

Shen Zhen memesan 2 roti kukus. Tapi, teman sekelas yang mengantri di belakangnya, yang melihat Shen Zhen yang hanya memesan 2 roti kukus, langsung bertanya apakah Shen Zhen hanya makan itu? Shen Zhen merasa malu di tanya begitu, langsung menjawab kalau dia belum selesai memesan (huft. Padahal tinggal iyakan saja). Dan akhirnya, dia malah memesan 1 sayur lagi.
--

Di dalam kelas, Ruining terus-terusan batuk. Sementara Huahua, dia malah sibuk menasehati Ruining untuk berhati-hati karena sekamar dengan Shen Zhen. Soalnya ada tuh di internet berita kalau seseorang meracuni teman sekamarnya. Jadi, Ruining harus memastikan untuk tidak minum air galon yang sama. Bahkan walaupun itu minuman botol, Ruining sebaiknya membuangnya langsung.
“Sebenarnya masalah ku dan Shen Zhen, tidak akan sampai di tahap dia ingin membunuh ku,” ujar Ruining.
“Tapi kau sudah membuatnya sangat marah. Dan bahkan kau menggunakan senjata yang paling berbahaya, uang.”
“Jika kami tidak bisa menjadi teman, maka kami sama saja seperti orang asing. Untuk orang asing, kenapa aku harus berkompromi?” balas Ruining.

Ruining kemudian batuk-batuk lagi. Dan Shen Zhen pun demikian. Jadinya, seorang pria yang duduk di belakang-nya, menawarkan masker untuk Shen Zhen gunakan. Shen Zhen menerima masker itu dan berterimakasih.
Pria tadi yang memberikan masker pada Shen Zhen, menghampiri Ruining dan memberikannya obat batuk. Dia juga memberitahu kalau obat itu tidak membuat ngantuk dan sangat manjur. Ruining berterimakasih atas obat pemberian-nya.
Dan Shen Zhen melihat itu. Tatapan matanya tampak iri dan marah.
--
Jam makan siang,
Demi menghemat uang, Shen Zhen memilih untuk tidak makan siang dan menahan lapar. Ruining dan Huahua melihat itu. Ruining merasa sangat bersalah dan meminta tolong Huahua untuk membelikan makanan di kantin untuk Shen Zhen. Dengan tegas, Huahua menolak. Dia tidak mau masuk ke kantin minggu ini karena dia patah hati. Pada Chen Mo.
“Itu bukan patah hati. Tapi, kau malu,” komentar Ruining. “Bukan. Secara teori, jika kau memasukkan kepalamu ke dalam jendela itu, kau harusnya bisa mengeluarkan kepala-mu dengan mudahnya juga. Atau kau mungkin terlalu gugup karena banyak orang di sana?”
Mendengar itu, Huahua jadi kepikiran juga.
--
Shen Zhen pulang ke asrama. Dia memuka laci meja belajarnya dan ada 2 mie instan di sana. Shen Zhen mengeluarkan plastik bening dari dalam tas-nya dan mulai membagi 1 bungkus mie instan menjadi beberapa kepingan dan menyimpannya di dalam plastik itu. Dia hanya memakan sebagian kecil dari mie instan tersebut.
“Tiga hari lagi sudah hari minggu. 1 bungkus kantong (yang sudah di baginya) per hari, harusnya cukup.”
--
Malam hari,
Ye Miao ada di tempat Ye Lin. Dia menerima telepon dari Ruining dan mengabaikannya. Ye Miao tampak memikirkan sesuatu dan akhirnya bertanya pada Ye Lin, apakah outline bagi perbaikan peninggalan budaya harus begitu mendetail? Ye Lin heran mendengar pertanyaan Ye Miao karena biasa-nya, Ye Mioa tidak pernah tertarik akan hal tersebut.
“Aku juga bukannya sekarang tertarik. Hanya saja… sekarang aku kuliah di jurusan ini, aku harus… belajar sesuatu. Benarkan?”
“Sebelum memperbaiki lukisan dan kaligrafi, hal pertama adalah mengetahui secara komprehensif pekerjaan itu, semakin kau mengetahuinya, semakin baik perbaikannya. Kita harus mengetahui penyebab langsung dan tidak langsung kerusakan peninggalan budaya itu. Setelah itu, kita baru bisa menemukan solusi-nya. Contoh lainnya, kita harus tahu latar belakang ketika pembuat membuat peninggalan tersebut bahkan niat aslinya, dan pemikiran-nya. Jadi, kita bisa seperti si pembuat, dan ketika kita memperbaiki, mampu memperbaiki secara tepat,” jelas Ye Lin.
Ye Miao mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Ye Lin. Tapi, kalau begitu, bukankah sulit untuk memperbaiki lukisan Long Days in Still Water? Ye Lin menjawab kalau sebenarnya teknik melukisnya tidak lah sulit, tapi dia ingin hasil yang sempurna. Dan juga, dia selalu bertanya-tanya, antara Qingrui Hall dan keluarga Ye mempunyai semacam takdir.
“Apa maksudnya?” tanya Ye Miao.
“Tidak ada. Hanya perasaanku saja.”
“Apa karena… Xia Ruining?”
Ye Lin terdiam. Ye Miao langsung berkata kalau dia hanya bertanya saja, tidak perlu di jawab. Tapi, Ye Lin malah menjawab kalau benar karena Xia Ruining. Ye Miao semakin penasaran dan bertanya, apakah itu karena Ruining cantik? Atau karena dia berasal dari Qingrui Hall?
“Tidak penting dia siapa. Atau entah dia cantik atau tidak. Hal yang kita pelajari hanyalah sedikit, kau harusnya lebih jelas.”
“Aku tidak mengerti,” jawab Ye Miao (akupun demikian T_T)
Ye Lin menjelaskan bahwa dari kecil yang mereka pelajari adalah mengabaikan atau menjadi tidak berbeda. Dan bahkan menggunakan senyum mereka untuk menolak, menyangka. Namun, dia (Ruining) memiliki hal yang telah lama hilang dari kita. Ketulusan.
Belum selesai Ye Lin berbicara, teleponnya berbunyi. Dari Ruining yang mencari Ye Miao. Dia menelpon Ye Miao tapi tidak di angkat, jadi manatahu Ye Lin tahu Ye Miao ada dimana? Ye Lin dengan polos memberitahu kalau Ye Miao ada di sebelahnya.
Ye Lin bahkan memberikan teleponnya untuk Ruining bicara dengan Ye Miao. Ruining menelepon untuk menanyakan masa kecil mereka. Ye Miao memotong dan berkata kalau lebih baik mereka bicara langsung saja. Ruining setuju dan akan menunggu Ye Miao di depan gerbang kantin.
Begitu selesai teleponan dengan Ruining, Ye Lin permisi untuk melakukan negosiasi sebentar. Ye Lin membawa tas-nya, tapi dia lupa membawa ponsel-nya yang tertinggal di meja.
--

Huahua diam-diam masuk ke dalam kantin yang sudah kosong. Dia menatap jendela kecil, tempat dimana kepalanya tersangkut. Dia memikirkan perkataan Ruining kalau dia bisa memasukkan kepala ke dalam jendela kecil itu, harusnya dia juga bisa mengeluarkannya. Perkataan Ruining itu membuatnya sangat penasaran, kenapa kepalanya bisa tersangkut? Sungguh sebuah misteri.
Dan karena rasa penasaran tersebut, Huahua ingin melakukan eksperimen, mumpung tidak ada seorangpun.
--

Ruining dan Ye Miao bertemu di depan gerbang kantin. Ruining langsung bertanya, apakah anak kecil yang di temuinya dulu adalah Ye Miao? Ye Miao tertawa dan berpura-pura tidak mengerti apa yang Ruining bicarakan.
“Bohong,” ujar Ruining, tahu kalau Ye Miao berbohong.
“Apa hal itu penting?” tanya Ye Miao.
“Apa?”
“Aku tanya apakah itu penting bagimu untuk tahu siapa yang bersamamu saat itu?”
“Kau tidak merasa begitu?”
“Ya, tidak penting sama sekali. Aku tidak mengingat hal yang tidak berguna,” jawab Ye Miao, berbohong.
“Katakan lagi,” pinta Ruining, tidak percaya dengan yang di dengarnya.
“Entah berapa kalipun ku katakan, aku tidak ingat hal-hal yang tidak berguna.”

Di saat lagi berbicara serius, mereka mendengar suara teriakan Huahua dari dalam kantin yang meminta pertolongan. Dengan panik, Ruining dan Ye Miao langsung berlari masuk ke dalam kantin dan mencari Huahua sampai ke gudang dapur.
Lagi mencari, tiba-tiba lampu gedung di matikan. Ruining dan Ye Miao sadar kalau gedung akan di kunci, dan mereka langsung berlari menuju pintu depan.


Sialnya, Chen Mo sudah menggembok pintu kantin dan mengejar Huahua yang lagi-lagi di lehernay ada jendela kecil yang tersangkut. Huahua menangis dan memperingati Chen Mo untuk tidak mempedulikannya dan mengikutinya. Chen Mo tetap mengikutinya karena dia belum menggergaji papan jendela yang tersangkut di leher Huahua.


Ye Miao dan Ruining terkunci di dalam kantin. Mereka ingin menelpon untuk meminta tolong, tapi ponsel Ye Miao tertinggal dan ponsel Ruining kehabisan baterai. Pada akhirnya, mereka berusaha mencari jalan keluar sendiri. Ada atap yang terbuka di atas (lantai 2) dan kebetulan mereka melihat seorang satpam melintas. Ye Miao segera berteriak meminta tolong, tapi satpam itu tidak mendengar teriakannya karena sibuk mendengarkan musik dari headphone. Ruining yang melihat Ye Miao teriak-teriak, malah tertawa.
“Apa kau tidak mau keluar dari sini?” marah Ye Miao karena Ruining hanya tertawa dan bukannya ikut teriak.
“Sangat menyeramkan! Kita harus bagaimana?” ujar Ruining, sok takut.
Ye Miao speechless melihat Ruining yang malah bereaksi demikian.
--

Shen Zhen berada di kamarnya dan membereskan kasurnya. Dia melihat Ruining yang belum pulang dan di atas meja, Ruining meletakan banyak sekali cemilan. Shen Zhen merasa tergiur melihat itu, tapi dia tetap menahan dirinya dengan hanya meminum air putih.
--

Karena tidak bisa keluar, Ruining dan Ye Miao hanya bisa duduk menunggu hingga pintu di buka esok. Pas pula, malah terdengar suara guntur dan petir yang menyambar-nyambar. Ruining langsung membuka pembicaraan dengan bertanya kalau Ye Miao adalah anak itu kan?
Melihat tatapan Ruining yang sangat serius, Ye Miao malah bertanya, apakah ada guna-nya untuk terus tinggal di masa lalu? Ruining menjawab, ya. Dan Ruining balik bertanya, bukankah Ye Miao juga memiliki hal-hala atau orang-orang yang ingin di hargai?
“Aku bukan orang yang membosankan begitu, okay,” ujar Ye Miao, masih berusaha menyangkal kalau dia tidak peduli dengan masa lalunya bersama Ruining.
“Ye Miao. Untuk terakhir kalinya, malam itu (karena setelah bertemu di toko biola, Ruining dan Ye Miao kecil bersama menghabiskan malam)…”
“Malam itu tidaklah masalah. Di pembukaan masuk universitas, kau bilang kau mencintai abangku dan mengatakannya di depan umum, itulah masalahnya,” ingati Ye Miao. “Jika kau ingin tahu hal dan orang yang aku hargai, baik, dengarkan aku. Itu adalah abangku. Hanya dia. Dia telah menjadi pelindungku sejak aku kecil. Tapi, orang tuaku, mereka… kau tidak perlu tahu masalah keluargaku. Karena kau menghargai masa kecilmu, tidak bisa melupakan hal itu. Baik,” ujar Ye Miao dan mengeluarkan sebuah kertas lukisan dari dalam tas-nya dan memberikannya pada Ruining.
Itu adalah lukisan dimana dia dan Ruining kecil bersama menatap langit. Melihat lukisan itu, Ruining tersenyum karena dugaannya benar, anak lelaki yang di ingatnya adalah Ye Miao.
“Kau berasal dari keluarga sejarahwan. Mengenai yang profesor katakan, ingatan bagian dari peninggalan budaya, pendapat ini, kau harusnya setuju kan? Aku akan memberikan itu untukmu. Atau mungkin, kembali kepada pemiliknya. Kau sekarang telah memiliki memori mu kembali,” ujar Ye Miao.
“Aku tidak akan pernah melupakan hari itu dalam hidupku. Apa yang terjadi malam itu. Bagaimana kita bertemu. Dan akhirnya, orang yang duduk bersamaku sepanjang malam itu. Aku akan mengingatnya seumur hidupku,” tegas Ruining. “Apakah ingatan itu bisa di kembalikan?” tanya-nya.
Seiring dengan pertanyaan Ruining, petir mulai menyambar-nyambar.
Dan lukisan yang Ye Miao berikan pada Ruining, mereka letakkan di depan jendela. Ye Miao mengajak Ruining untuk membuat taruhan. Jika hujan turun, artinya dia sudah mengembalikan memori itu kembali pada Ruining (yang artinya, Ye Miao tidak ingin Ruining mengingatnya sebagai anak itu lagi). Dan jika tidak turun hujan, yang walaupun itu tidak mungkin tidak terjadi, tapi dia dan Ruining…
“Baik, aku terima taruhan tersebut,” ujar Ruining, tanpa mendengarkan ucapan Ye Miao selesai.
--
Esok hari, langit bersinar dengan sangat cerah.
Ruining dan Ye Miao terbangun. Ye Miao segera memeriksa lukisan tersebut, dan lukisan itu masih utuh. Tidak turun hujan kemarin malam. Ye Miao sangat terkejut dan merasa tidak percaya. Jelas kemarin malam petir menyambar-nyambar, tapi kenapa tidak turun hujan?

Ruining tiba-tiba mendekat dan menyiram lukisan itu dengan botol air di tangannya. Lukisan itu menjadi basah. Ye Miao terkejut melihat yang Ruining lakukan dan bertanya alasan Ruining melakukannya.
“Karena yang kau katakan benar. Tinggal di masa lalu, tidak ada guna-nya.”
“Kalau begitu, seharusnya tadi malam kau langsung menerimanya. Kenapa harus capek-capek menunggu sepanjang malam dengannya?”
“Karena aku ingin memberitahumu, aku bisa menunggu. Tapi, di saat yang sama, aku bisa menolaknya juga. Ye Miao, apa kau sedang bermain sinetron? Bermain cerita bersambung sepanjang malam? Kau meletakkan dirimu sebagai pemeran utama, memberitahuku bahwa memori ku tidak berharga sedikitpun karena kau ingin melindungi abangmu. Tidak ingin menyakitinya. Jadi, kau membiarkan keputusan kepada Tuhan. Jika hujan turun, aku harus bersama dengan Ye Lin. Jika tidak turun hujan, maka kau akan dengan terpaksa bersamaku. Itu maksudmu kan?  Apa aku adalah batu ujian hubungan mu dengan abangmu? Semua terserah hal yang di sebut takdir?” marah Ruining. “Tapi, aku minta maaf. Aku tidak bisa menerima hal ini. Aku tidak akan pernah percaya pada takdir! Takdir di tentukan oleh manusia. Jika Tuhan ingin tetap menjaga lukisan ini, aku tidak akan membiarkannya,” tegas Ruining. “Dan Ye Miao, aku memandang rendah padamu.”
Usai mengatakan semua itu, Ruining mengeluarkan ponselnya. Dia menelpon ke petugas keamanan dan memberitahu kalau dia terkunci di kantin dan meminta di bukakan pintu. Wow, berarti dari awal Ruining berbohong kalau ponselnya kehabisan baterai.
(Oke, kesimpulannya, karakter Ruining sangat kuat! Jarang ada karakter wanita di drama percintaan sepertinya. Dia mempunyai prinsip dan karakternya sendiri yang tidak akan goyah. Menghadapi Shen Zhen yang selalu bertingkah seolah teraniaya, Ruining tidak iba. Jika dia salah pada Shen Zhen, dia akan mengakuinya. Tapi, jika tidak, Shen Zhen tidak boleh mengganggu ataupun mengintimidasinya. Dia menyukai Ye Lin karena mengira Ye Lin adalah anak dari masa kecilnya, yang menemaninya sepanjang malam hingga ibunya datang menjemputnya. Tapi, saat dia tahu dia salah, dia ingin menanyakan kebenarannya pada Ye Miao. Tapi, Ye Miao malah terus berpura-pura tidak mengganggap hal itu penting. Dan pada akhirnya, Ruining menggunakan jalan di atas. Dia tidak suka saat Ye Miao terus menyangkal dan malah ingin menggunakan taruhan ‘takdir’ sebagai penentu. Karena itu, hujan tidak turun dan lukisan tidak hancur, maka Ruining menghancurkan lukisan itu dengan menyiramnya dengan sebotol air.
Ye Miao sebenarnya tidak bisa di salahkan. Dari awal, Ruining tidak mencari tahu dan malah langsung menyimpulkan sendiri kalau Ye Lin adalah anak itu dan malah mengumumkan secara umum kalau dia menyukai Ye Lin. Setelah itu, dia terus mendekati Ye Lin karena salah paham. Dan ingat pembicaraan Ye Miao dengan Ye Lin sebelumnya, dari sana, Ye Miao bisa tahu kalau Ye Lin sudah mulai menyukai Ruining. Dia tidak ingin kakak yang selalu melindungi dirinya, terluka. Dia tidak ingin Ye Lin tahu fakta bahwa rasa suka Ruining pada Ye Lin hanyalah kesalahan, di saat Ye Lin sudah mulai menyukai Ruining. Hmmm)
Ye Miao berdiri dan menatap lukisan masa kecilnya dan Ruining yang sudah hancur.
--

Ye Miao membawa pulang lukisan tersebut. Dia terus melihat lukisan itu dan tampak memikirkan sesuatu. Saat itu, Ye Lin datang ke kamarnya untuk mengembalikan ponsel Ye Miao yang tertinggal di studio kerjanya dan juga membawakan Ye Miao sarapan.

Ye Lin penasaran dan bertanya, jadi siapa yang menang? Ye Miao atau Ruining? (Kemarin kan Ye Lin minta izin karena ingin negosiasi dengan Ruining. Walaupun Ye Lin tidak tahu mengenai apa).
“Dia,” jawab Ye Miao.
“Aku bisa melihatnya (dari ekspresi Ye Miao).”
Ye Lin kemudian melihat lukisan masa kecil Ye Miao dan Ruining itu. Dia bertanya, apakah Ye Miao yang menggambarnya? Kenapa bisa sangat rusak begitu? Melihat ekspresi sedih Ye Miao, Ye Lin berkomentar kalau itu kan hanya gambar sederhana dan Ye Miao bisa menggambarnya ulang kan?
“Tidak sama. Memori tidak bisa di duplikat. Ini adalah memorinya,” jawab Ye Miao dengan sedih.
“Memori siapa?”
Ye Miao hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ye Lin.
“Ye Miao, apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku? Siapa dia?”
“Aku tidak tahu kenapa. Setiap kali dia memarahiku, aku tidak marah. Tapi, aku merasa sangat sedih di dalam hatiku.”
“Jika itu adalah memori-nya, maka kau tidak bisa menggambarnya lagi. Bagaimana… jika aku memperbaiki lukisan itu untukmu?”
Ye Miao menolak bantuan Ye Lin karna Ye Lin kan sangat sibuk. Ye Lin berkata kalau selain dirinya masih ada orang lain yang bisa memperbaikinya. Ye Miao jadi penasaran dan bertanya siapa?
“Kau,” jawab Ye Lin. “Jangan lupa kau jurusan apa walaupun kau tidak menyukainya.”
Ye Miao menegaskan kalau dia tidak menyukai jurusan-nya ini. Ye Lin ragu. Dia mengajukan pertanyaan pada Ye Miao, apakah Ye Miao benar-benar tidak menyukai jurusannya ini atau hanya ingin menunjukkan pertentangan dengan ayah? Ye Miao tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Dan setelah memikirkan beberapa saat, Ye Miao memberitahu kalau lukisan itu dia yang lukis dan merupakan kenangannya dengan Xia Ruining saat mereka kecil dulu.
Ye Lin tampak terkejut mengetahui hal itu.
--

Di kelas melukis,
Shen Zhen kesulitan untuk berkosentrasi melukis karena perutnya terasa sakit. Dia kekurangan makanan.

Sementara itu, Huahua masih merasa marah sehingga dia melukis secara asal-asalan. Chen Mo memanggilnya, tapi Huahua melarang Chen Mo bicara padanya ataupun menyebut namanya. Chen Mo jadi sedih karena dia tidak tahu apa kesalahan yang telah di perbuatnya.
Ye Miao juga kesulitan untuk berkosentrasi pada lukisannya dan terus memandangi Shen Zhen.
--
Di jam istirahat kampus,
Ye Lin menghabiskan waktu untuk bermain basket. Fang Yuan ada di sana dan menyemangati Ye Lin dengan heboh.
Ye Miao juga datang ke lapangan basket. Chen Mo mengikuti Ye Miao sambil bertanya pendapat Ye Miao, kesalahan apa yang sudah dia lakukan pada Huahua?
“Kau melihat Lu Huahua dua kali di momen yang paling memalukan baginya. Tentu saja, dia jadi marah padamu. Aku berani bertaruh kalau dia pasti ingin membunuhmu jika itu memungkinkan. Itulah yang dia rasakan sekarang ini.”
Chen Mo yang polos makin tidak mengerti setelah mendengar pendapat Ye Miao. Apakah teman akan peduli jika terlihat memalukan di depan teman lainnya? Ye Miao sampai kesal karena Chen Mo sangat bodoh. Sudah sangat jelas kalau Lu Huahua tidak menganggap Chen Mo sebagai orang lain. Dan Chen Mo selalu melihatnya di saat memalukan seperti itu. Tentu saja moodnya menjadi jelek. Tidak sepeti dia dan…


Ye Miao teringat semua kenangan memalukannya dengan Ruining. Seperti di saat dia di kejar dan di patuk angsa. Di saat dia terjatuh dari sepeda. Di saat mereka mendapatkan penghargaan karena menyelamatkan anjing.
Saat itu, Fang Yuan melihat Ye Miao dan menyapanya dengan ceria. Dia juga mengajak Ye Miao dan Chen Mo untuk ikut bermain basket. Semua penonton jadi bersemangat bisa melihat dua saudara Ye bertanding.

Berita mengenai Ye bersaudara yang akan bertanding dengan cepat tersiar. Bahkan orang di kelas Shen Zhen segera mengajak Shen Zhen untuk ikut menonton. Awalnya, Shen Zhen menolak, tapi setelah mendengar kalau itu adalah pertandingan Ye bersaudara, Shen Zhen menjadi tertarik.
Ye Miao dan Ye Lin saling berhadapan.


No comments:

Post a Comment