Saturday, March 18, 2017

Sinopsis Drama Special : Queen Of The Ring Episode 03

1 comments
Content and Images by MBC

Nan Hee masih berpikir tentang maksud Se Gun pernah bertemu dengan dirinya, Nan Hee beauty. Dia menggelengkan kepalanya berusaha memghilangkan pikiran yang tidak-tidak.



Nan Hee berpapasan dengan temannya, Mi Joo. “Mi Joo-yah,” panggil Nan Hee terkejut.


Se Gun melihat Nan Hee beauty dan Mi Joo dari jauh tetapi posisi badan Mi Joo membelakanginya sehingga tidak terlihat. Perhatian Se Gun teralih karena Deuk Chan menghubunginya. Deuk Chan berteriak menyuruh Se Gun untuk kembali ke ruangan klub.

Di ruangan klub, semua anggota masih bingung dengan pilihan model Se Gun, yaitu Nan Hee. On Hwa bahkan menganalisa kalau mungkin Se Gun menganggap Nan Hee sebagai urinoir, sama seperti Duchamp* yang memamerkan urinoir**.

*Duchamp : Marcel Duchamp, seniman dari Prancis dianggap merupakan sosok yang mengawali kemuncul conceptual art. Karya-nya yang paling terkenal adalah Fountain yang dibuat pada 1917. Yang pada saat itu, masih mengalami penolakkan.
**Urinoir : Tempat buang air kecil berdiri yang digunakan laki-laki.

Tidak lama Se Gun tiba, dan Deuk Chan langsung menghentikan On Hwa untuk berhenti menganalisa. Se Gun sendiri bingung melihat ruangan yang sangat tenang. Deuk Chan tertawa dan menghampiri Se Gun.

“Kamu orang yang sangat dermawan. Aku tidak tahu kamu punya niat yang mendalam,” ujar Deuk Chan.

“Apa maksudmu?” tanya Se Gun bingung.

“Apa dia benar-benar modelmu?”


Se Gun menghela nafas dan berkata kalau Nan Hee beauty tidak ingin menjadi modelnya. Deuk Chan malah senang dan berkata tentu saja, dia tidak mau. Se Gun bingung kenapa Deuk Chan malah setuju dengan keputusan Nan Hee, begitu juga dengan semua orang di ruangan klub.


Se Gun malah bertanya bagaimana kalau dia memaksanya? Dan On Hwa langsung menjawab kalau hal itu akan dikenang dalam sejarah kompetensi ini. Deuk Chan kesal mendengar jawaban Oh Hwa tersebut. Se Gun berpikir kalau dia sudah membebani Nan Hee dengan mengajaknya jadi model di kompetensi.

Nan Hee berbincang dengan Mi Joo. Dia kaget karena Mi Joo tiba-tiba datang dan tidak mengabarinya. Dia bertanya pada Mi Joo apakah Byun Tae tau Mi Joo kembali?


Mi Joo mengalihkan pembicaraan dengan melihat ke papan informasi di sebelahnya. Dia melihat nama Nan Hee yang berada dalam daftar mahasiswa penerima beasiswa. Mi Joo memujinya. Nan Hee menjelaskan kalau itu karena dia mengalami banya penghinaan dengan bekerja paruh waktu sehingga dia memutuskan untuk lebih menyukai belajar daripada bekerja.

Mi Joo terlihat iri dengan Nan Hee. Dia berkata ketika dia pulang ke rumah, Ibunya mengomelinya agar seperti Nan Hee. Dan Nan Hee balas menjawab kalau dia berharap bisa punya setengah dari kecantikan Mi Joo. Nan Hee kemudian bertanya kalau Mi Joo tidak pulang dari Paris untuk selamanya kan? Tetapi Mi Joo hanya diam menatapnya.

“Apakah terjadi sesuatu?” tanya Nan Hee khawatir melihat ekspresi Mi Joo.

“Tidak ada apa-apa.”


Nan Hee hendak bertanya lagi kenapa Mi Joo kembali dari Paris di tengah-tengah semester tetapi Mi Joo mengalihkan hal itu dengan bertanya apa Nan Hee pernah melihat buku catatan merahnya di ruangan klub?

“Aku membawanya pulang agar bisa memberikannya kepadamu saat kembali,” jawab Nan Hee. Mi Joo senang mendengarnya.

“Apa ada sesuatu yang penting?”

“Mungkin begitu. Untuk pria yang kutemui.”

Flashback



6bulan lalu di Namsan Tower

Se Gun sedang memotret Namsan Tower dari jauh. Ketika dia berbalik, hendak pergi, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Mi joo yang sedang terburu-buru. Hal itu membuat buku catatan merah Mi Joo terjatuh. Se Gun mengambilkannya dan saat melihat wajah Mi Joo, Se Gun langsung terpesona.



“Aku bukan orang aneh,” ujar Se Gun dan memberika buku catatan merah tersebut.

“Kebanyakan orang yang bilang begitu adalah orang aneh,” jawab Mi Joo dan mengambil buku catatannya dari tangan Se Gun.

“Bolehkah aku minta nomor teleponmu?”


“Benar, bukan? Kamu aneh.” Mi Joo beranjak pergi. Se Gun menghentikannya dan memberikan nomor ponselnya. Awalnya, Mi Joo tidak mau mengambilnya tetapi Se Gun tetap memberikannya dan berkata kalau Mi Joo pasti akan menelponnya.  

Flashback END

Nan Hee bercerita ke Ibu mengenai keanehan Se Gun yang pernah melihatnya di Namsan Tower padahal dia belum pernah ke Namsan dengan mengenakan cincin tersebut. Ibu juga merasa aneh tetapi dia teringat sesuatu.

“Ah! Mungkinkah dia melihat tipe gadis idealnya disana? Setelah Ibu pikir-pikir, bagi kakekmu, nenekmu terlihat persis seperti aktris Um Aing Ran. Apa itu tahun 1978? kakekmu pernah bertemu Um Aing Ran di jalan. Dia memegangnya karena mengira dia nenekmu, lalu dia ditampar.”


Nan Hee terlihat sedih dan berpikir apakah ketika dia memakai cincin ini, dia terlihat seperti gadis itu bagi Se Gun? Nan Hee menatap cincinnya.

Queen of The Ring



Di kantin kampus, Se Gun duduk jauh dari Nan Hee beauty dan terus memandanginya. Dia masih memikirkan perkataan Nan Hee yang berkata kalau gaun itu bukan untuknya.

Setelah melihat teman semeja Nan Hee beauty pergi, Se Gun langsung datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Nan Hee terkejut.

“Pukul dua siang hari Jumat ini. Luangkanlah waktu untukku,” pinta Se Gun. Dia ingin mengenal Nan Hee beauty lebih dekat lagi sehingga dia bisa membuat gaun yang sesuai untuk Nan Hee beauty. Nan Hee menolak karean dia tidak mau menjadi model Se Gun.

Se Gun berkata kalau dia akan membuat perubahan dalam gaunnya. Dan jika Nan Hee masih tidak menyukainya, dia akan menyerah. Nan Hee bertanya apa Se Gun sungguh akan menyerah jika dia tidak menyukai gaun baru rancangan Se Gun. Se Gun menyakinkan.



Di rumah, Nan Hee meminta Ibunya untuk meminjamkan cincin padanya pada hari Jumat dan Ibu bisa pergi ke rumah Nenek untuk bersembunyi dari Ayah sampai dia pulang. Ibu menolak karena neneknya Nan Hee sudah meninggal pada tahun 1999. jadi dia tidak bisa pergi kemana-mana. Nan Hee terus membujuk Ibu. Ibu akhirnya setuju. Nan Hee memeluk ibunya bahagia. Ibu juga memberitahu kalau sepertinya Ayah akan ada dinas minggu depan. Nan Hee langsung melonjak senang.


Ponsel Ibu berbunyi. Ibu melihatnya dan langsung kaget. Dia segera memberikannya pada Nan Hee. Telepon dari Park Se Gun. Nan Hee heran untuk apa Se Gun menelponnya (Se Gun menelpon Nan Hee asli yang tidak menggunakan cincin).






Ternyata, Se Gun meminta bertemu dengan Nan Hee real di sebuah restoran. Nan Hee sangat senang dengan semua makanan yang dipesan oleh Se Gun. Dan Se Gun bahkan menyuapi Nan Hee real sepotong daging. Nan Hee real mengira Se Gun mengajaknya makan sebagai teman tetapi ternyata Se Gun membawa Nan Hee real makan di restoran tersebut karena pada hari Jumat dia akan membawa Nan Hee beauty makan di restoran ini. Dia memerlukan bantuan Nan Hee real untuk memberitahunya makanan mana yang akan disukai Nan Hee beauty. Nan Hee real terlihat kecewa.

Mereka juga pergi ke bioskop. Dia meletakkan popcorn di sisi sebelah kanan kursi Nan Hee dan soda di sisi sebelah kiri kursi.


“Jika kamu ingin memegang tanganku, di sebelah kananmu orang asing. Aku di sebelah kirimu,” ujar Se Gun.

Nan Hee terperangah mendengarnya. Dia menatap lama Se Gun.


Tetapi, Se Gun langsung kecewa dan berpikir bahwa kalimatnya pasti sangat lemah. Ternyata, Se Gun sedang berlatih kalimat yang akan diucapkannya pada Nan Hee beauty di kencan besok. Nan Hee sampai kaget karena Se Gun bahkan melatih ucapannya. Dia terlihat kecewa.

“Jangan bersemangat,” ujar Se Gun.

“Aku tidak bersemangat.”

“Jangan terlalu menikmatinya. Kita tidak sedang berkencan. Ini hanya latihan. Aku mengatakan ini kepadamu agar kamu tidak akan sedih dan bilang aku menyakitimu. Hanya ada dua kasus saat pria setampan ini menyukaimu. Dia seorang penipu atau ayahmu,” ujar Se Gun.


Nan Hee sampai kaget mendengar kalimat terakhir Se Gun dan memuncratkan minumannya. Se Gun membantu Nan Hee real membersihkan mulutnya, “Para pria menyukai gadis cantik.” Nan Hee kesal mendengarnya dan merebut tissue dari tangan Se Gun dan membersihkan dirinya sendiri.

Mereka berjalan pulang. Nan Hee real memberitahu apa saja yang menjadi kesukaan Nan Hee beauty. Se Gun melihat penjual apel. Dan Nan Hee mengira Se Gun ingin mengetahui buah kesukaan Nan Hee beauty sehingga dia memberitahunya. Se Gun menghentikannya dan berkata yang ingin dia tahu buah kesukaan Nan Hee real. Nan Hee sampai terkejut.

“Kupastikan untuk membayar usaha orang lain,” ujar Se Gun dan segera beranjak membeli apel tersebut.


Se Gun bertanya harga apel tersebut. 10dollar untuk 8apel. Se Gun mulai memilih apel yang cantik dan mulus. Nan Hee melihatnya dan mengambil semua apel yang sudah dipilih Se Gun. Dia mengembalikannya dan berkata kalau dia saja yang akan memilihnya.  

Nan Hee memilih apel yang jelek dan tidak mulus. Se Gun bingung dan bertanya kenapa dia memilih apel yang jelek ketika ada yang cantik?


“Pada akhirnya itu akan ditinggalkan. Buah yang cantik akan dipilih oleh orang lain. Tidak ada orang lain selain aku yang menginginkan buah jelek ini,” jawab Nan Hee. Se Gun terperangah mendengarnya.


Penjual memuji Nan Hee yang pandai memilih apel. Dia memberitahu kalau apel yang jelek terasa lebih enak sedangkan yang cantik ditutupi bahan kimia. Apel jelek dapat bertahan menghadapi badai dengan kemampuannya sendiri. Penjual bahkan berkata kalau dia akan memberikan tambahan 2 buah apel karena sudah memilih yang jelek.


“Tidak. Apel jelek tetaplah apel. Kenapa di obral? Kamu membuat mereka terlihat seakan-akan kurang bernilai. Aku hanya akan mengambil apel sebanyak 8buah untuk 10dollar.” Se Gun terperangah mendengar jawaban Nan Hee. Dia membayar apel tersebut.


Mereka berjalan pulang. Tetapi Nan Hee berhenti dan meminta Se Gun untuk tidak menghubunginya lagi. Se Gun terdiam.

“Aku hampir merasa terluka. Kedengarannya seperti kamu mencampakkanku,” ujar Se Gun.

“Kamu dan aku tidak boleh bertemu. Karena kamu sudah berlatih, Nan Hee akan menikmati kencan itu.”

“Apa ini kali terakhir aku bertemu denganmu?” tanya Se Gun. Nan Hee mengangguk.


Se Gun meminta berjabat tangan dengannya sebagai tanda perpisahan. Dia berterimakasih atas bantuan Nan Hee beauty. Nan Hee terperangah namun segera menarik tangannya dan beranjak pergi.

Se Gun memandangi punggung Nan Hee real yang berlalu dan terlihat sedih. “Ada apa dengannya? Dia bersikap seolah-olah kami putus.”


Dikamarnya, Nan Hee sedang merancang baju yang akan diikutkannya dalam kompetensi 11hari lagi. Dia memandangi apel yang dibelikan Se Gun padanya dan teringat perkataan Se Gun kalau para pria menyukai gadis cantik.



“Tidak apa-apa. Aku bisa bertemu dengannya terlihar secantik Nan Hee. Selama aku memakai cincin itu, aku menjadi gadis tercantik baginya,” ujar Nan Hee menyakinkan dirinya sendiri. Dia teringat perkataan Se Gun yang mengatakan kalau mereka bertemu di Namsan dan karena itu Se Gun menciptakan gaun untuknya. “Aku ingin tahu bagaimana wajah gadis itu.” Nan Hee memandang wajahnya di cermin sedih.



Se Gun dikampus. Dia sedang berpikir mengenai ucapan Nan Hee real kalau Nan Hee beauty hubungan yang paling biasa. Se Gun terlihat bingung mengenai hubungan yang biasa itu seperti apa.



Mi Joo mendatangi Nan Hee di kampus. Nan Hee memberikan buku catatan merah milik Mi Joo. Mi Joo segera memeriksanya dan senang karena nomor telepon Se Gun masih ada disana. Dia kemudian bertanya pendapat Nan Hee apakah lebih baik menelpon atau mengirim pesan pada seseorang yang ditemui 6bulan lalu?


“Kamu harus menelpon. Menunggu pesan balasan akan menjengkelkan.”

Mi Joo segera mengikuti pendapat Nan Hee dan menghubungi Se Gun.

Se Gun menerima telepon itu tetapi karena tidak mengenali nomornya, dia memilih untuk mengabaikannya.

Se Gun tanpa sengaja melihat Nan Hee beauty yang sedang bertemu dengan Mi Joo. Dia terlihat kaget karena melihat dua Nan Hee di depannya.  



Se Gun sampai berpikir apakah dirinya sakit atau perlu disuntik? Dia memenjamkan matanya dan melihat kembali. Tetapi, hanya ada seorang Nan Hee beauty. Mi Joo sudah pergi.


Nan Hee beauty melambai dan memanggilnya. Se Gun menghampirinya dan hendak memberitahu kalau dia tadi melihat dua Nan Hee namum mengurungkannya karena dia kira kalau dia terlalu menyukai Nan Hee beauty sehingga semua orang mulai terlihat seperti Nan Hee.




Se Gun membawa Nan Hee makan direstoran kemaren. Dia bahkan menyuapi Nan Hee beauty potongan steaknya. Nan Hee beauty pun bersikap seolah dia baru pertama kali makan ditempat ini.


Mi Joo kembali menghubungi Se Gun. Tetapi Se Gun tetap menolak panggilan tersebut karena tidak mengenal nomornya. Dia melanjutkan kencan dengan Nan Hee beauty.



Mereka pergi ke mall. Dan Nan Hee mencoba eyeshadow disana. Walaupun eyeshadow yang dipakai Nan Hee berantakan dan menyeramkan tetapi tetap saja Se Gun melihatnya terlihat menawan.





Mereka lanjut mengedarai sepeda. Mereka terlihat bahagia. Se Gun kagum akan kecantikkan Nan Hee beauty hingga tidak sadar ketika dibelokkan, dia tetap melaju lurus dan menabrak trotoar. Se Gun terjatuh dan Nan Hee beauty menghampirinya. Se Gun langsung bangkit dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Nan Hee tersenyum melihatnya. Dia kemudian mengangkat sepeda Se Gun dengan pundaknya. Se Gun sampai kaget melihatnya.



Nan Hee sedang beristirahat sembari menunggu Se Gun membeli minuman. Ada tiga orang wanita yang duduk didepannya dan sedang berias.

Se Gun datang dan melambai pada Nan Hee. Ketika wanita terperangah melihat ketampanan Se Gun dan mengira Se Gun melambai pada mereka sehingga mereka balas melambai. Namun, Se Gun melewati mereka dan menghampiri Nan Hee.

Nan Hee segera mengolok-olok para wanita itu untuk bergerak cepat jika jelek. Se Gun memuji Nan Hee yang sempurna. Para wanita jadi penasaran ingin melihat wajah Nan Hee dan berbalik.
Tetapi, tidak sesuai dengan bayangan mereka. Nan Hee balas tersenyum pada mereka.



Se Gun mengantar Nan Hee beauty pulang. Dia bertanya ingin tahu berapa banyak pria yang telah melewati jalan ini dengan Nan Hee beauty. Nan Hee ingat bahwa teman prianya tidak mau mengantarnya pulang ketika hujan sehingga dia berlari pulang sendiri. Nan Hee menjawab pertanyaan Se Gun kalau ini adalah pertama kalinya.

Se Gun kemudian bertanya mengenai rumah Kang Mi Joo (Nan Hee real). Nan Hee asal menunjuk arah dengan tangannya dan memberitahu rumah Mi Joo sekitar sana.  Nan Hee bertanya kenapa? Se Gun berkata dia hanya bertanya-tanya apakah disana juga gelap?

Se Gun melihat ada pecahan beling di tengah jalan. Dan segera menghentikan Nan Hee beauty melangkah ke beling tersebut. Dia memeluk Nan Hee beauty. Mereka saling bertatapan.

Nan Hee mengalihkan suasana canggung mereka dengan bertanya-tanya kenapa ada beling di jalan? Dan berkata kalau dia tidak akan lewat jalan ini lagi.

“Kamu tidak perlu mengingatnya. Mulai sekarang aku akan mengantamu pulang, entah turun hujan atau salju,” ujar Se Gun. Nan Hee terharu mendengarnya dan tersenyum.


Mereka sudah sampai di depan rumah Nan Hee. Se Gun memberikan hadiahnya yaitu pafrum wangi mawar (dia tahu dari Nan Hee real) dan meminta Nan Hee beauty untuk memakainya setiap kali mereka bertemu. Nan Hee berterimakasih.



Se Gun kemudian pamit pulang dan meminta Nan Hee melihatnya pergi sampai dia menghilang. Karena rasanya akan menyenangkan mengetahui kalau ada gadis cantik yang melihatnya pergi. Dia berbalik pergi dan Nan Hee terus melihatnya.

“Jadi, beginilah rasanya diantar pulang oleh seseorang.” Nan Hee menatap cincinya, “Mudah sekali dengan ini.”

Pagi hari.

Ayah bersiap-siap untuk berangkat dinas dan Ibu membantunya memasukkan baju ke koper.




Dan ada yang aneh disini, kamera menyorot kalau cincin pusaka tidak dipakai Ibu dan tergeletak di meja samping koper. Dan ketika Nan Hee keluar dari kamarnya, Ibu segera meraih cincin tersebut dan memakainya terburu-buru.


Nan Hee menghampiri Ayah dan senang karena Ayah akan pergi dinas. Ibu memberitahu kalau Ayah akan pergi ke Shanghai dan Vladivostok. Nan Hee sangat senang mendengarnya dan bahkan meminta Ayah untuk tidak langsung pulang dan pergilah keliling Rusia.

Ayah tidak senang mendengarnya. Dia berkata bagaimana jika Ibu diculik seseorang jika dia pergi? Nan Hee menyakinkan itu tidak akan terjadi. Ayah menatap Ibu dan mengenggam tangannya, dia meminta untuk dilakukan panggilan videon setiap malam.


Nan Hee sedang menatap cincin di jarinya di minimarket sambil memakan kimbap. Byun Tae menghampirinya dan mengajak Nan Hee keluar minggu depan. Nan Hee terkejut dan bertanya hanya mereka berdua?

Byun Tae menatap Nan Hee dan berkata hanya untuk pekerjaan. Nan Hee mengerti.

“Perusahaan kakakku sedang syuting pernikahan dan mereka butuh tenaga kerja. Tempatnya di dekat Yongin, yang dekat dengan rumahmu, dan bayarannya sebanyak ini,” jelas Byun Tae dan menunjukkan jumlah bayarannya dengan sepuluh jari. Nan Hee setuju.

Byun Tae melihat jari di tangan Nan Hee dan mengomentari cincin itu yang jelek. Nan Hee sedikit gugup dan berkata iti pusaka keluarga milik neneknya. Byun Tae mengingatkan kalau Nan Hee mebenci neneknya karena memberi namanya Mo Nan Hee. Nan Hee menyangkalnya.

Byun Tae memberitahu kalau dia melihat Nan Hee kemaren dengan Se Gun. Nan Hee langsung gugup. Byun Tae bertanya-tanya kenapa Se Gun bisa tertarik pada Nan Hee.

“Dia suka mencampakkan seleberitas. Dia menilai gadis berdasarkan penampilannya. Dia berbahaya,” ujar Byun Tae.

“Dengan kata lain, aku jelek. Adakah pria yang tertarik kepadaku dalam 15tahun terakhir? Jika pria seperti Park Se Gun tertarik kepadaku, bukankah kamu harus mendoakanku, bukannya mengkritik?” marah Nan Hee.

“Kenapa kamu ingin aku mendoakanmu?” balas Byun Tae marah.

Se Gun menghubungi Nan Hee dan mengajak bertemu. Byun Tae melihatnya. Nan Hee mematikan telponnya dan pamit pergi pada Byun Tae.


Ternyata, Se Gun ingin mengukur tubuh Nan Hee beauty sehingga bisa membuat baju sesuai badan Nan Hee beauty. Nan Hee mengingatkan kalau Se Gun berkata dia tidak perlu menjadi modelnya. Se Gun beralasan kalau dia perlu ukuran tubuh Nan Hee untuk bisa membuat gambarnya.


Dia mulai dari mengukur tubuh Nan Hee. Nan Hee gugup. Dan Se Gun lebih kaget lagi karena mengetahui tinggi tubuh Nan Hee beauty adalah 158cm.

“Itu aneh. Kelihatannya setidaknya tinggimu 170cm,” ujar Se Gun. Soalnya dalam mata Se Gun, bayangan cewek impiannya yang dilihat dalam diri Nan Hee itu tinggi, ramping dan seksi.

“Itu karena aku punya proporsi yang baik. Orang bilang aku terlihat tinggi karena proporsi tubuhku ideal,” alasan Nan Hee gugup.



Tetapi, tetap saja Se Gun merasa aneh. Dia mulai mengukur pinggang Nan Hee. Nan Hee menahan nafasnya. Se Gun tambah kaget karena ukuran pinggang Nan Hee adalah 29cm padahal punya dia saja hanya 30cm.

“Ah! Menu makan siangnya daging pedas, jadi, aku makan tiga porsi. Apa akumakan terlalu banyak?” alasan Nan Hee lagi.


Se Gun merasa aneh dan bertanya-tanya apa matanya salah? Nan Hee mengalihkan perhatian Se Gun dengan menyuruhnya untuk mengukur lingkar dadanya. Nan Hee dengan percaya diri membusungkan dadanya.

“Aku memakai tambaln bra.” ujar Nan Hee dalam hati.





Nan Hee bertanya berapa ukurannya. Se Gun menjawab kalau tidak jauh dari bayangannya. Mereka saling menatap. Se Gun terpesona dengan wajah cantik Nan Hee dan tiba-tiba mencium bibir Nan Hee.



Diluar, Nan Hee memegang dadanya yang berdegub kencang. Sebuah daun layu jatuh kebajunya. Nan hee meraihnya dan tersenyum senang mengingat ciuman tersebut.


Nan Hee masih mengingat ciuman tersebut sampai keesokkan harinya. Dia sedang berada di zebra cross dan hendak menyeberang. Se Gun datang dan berdiri disampingnya. Mereka saling terdiam dan merasa canggung.

Se Gun mengirim pesan pada Nan Hee lewat line. Mereka bicara dengan mengirim pesan.

Se Gun menerima sebuah pesan di ponselnya dan merasa kesal. [Hai. Aku gadis yang kamu temui di Namsan. Aku mengirim pesan karena kamu tidak mengangkat teleponmu. Hubungi aku di nomor ini jika kamu tidak sibuk.]


Se Gun membaca pesan itu. Nan Hee kaget mendengarnya. Se Gun bertanya-tanya siapa orang yang mengirim pesan tersebut padahal Nan Hee beauty berada di sampingnya. Nan Hee berkata mungkin saja itu sebuah kesalahan. Se Gun tetap merasa aneh karena orang tersebut mengetahui mengenai kejadian di Namsan. Se Gun memutuskan untuk menelponnya. Nan Hee takut ketahuan dan segera mencium Se Gun. Semua penyeberang memandang terkejut mereka.


Perhatian Se Gun sukses teralih. Nan Hee merasa malu setelah melakukan hal itu. Mi Joo menelponnya dan Nan Hee segera pergi.


Nan Hee dalam perjalanan menemui Mi Joo. Dia bertanya-tanya sepanjang perjalanan siapa gadis yang ditemui Se Gun di Namsan dan kenapa dia tiba-tiba menghubungi Se Gun?

Mi Joo sedang berada di sebuah bar. Dia menari di lantai atas dengan dikelilingi para pria. Nan Hee tibda dan melihatnya. Dia segera membantu Mi Joo. Mi Joo merasa sangat pusing. Dia menekan kuat jari kelingkingnya. Nan Hee melihatnya dan membawa Mi Joo kembali ke mejanya.

Nan Hee mengajak Mi Joo pergi dari sana. Tetapi Mi Joo menolak.
Dia melihat ponselnya dan merasa kesal karena Se Gun masih belum membalas pesannya ataupun menelponnya.



Teman-teman pria Mi Joo datang ke meja dan Mi Joo memperkenalkan Nan Hee kepada mereka sebagai sahabatnya sejak TK.

Para pria itu kaget melihat penampilan teman Mi Joo, Nan Hee, yang sangat berbeda dengan Mi Joo. Nan Hee juga protes karena mengira Mi Joo sendirian tadi.

“Kamu bilang dia yang terbaik di departemenmu.”

“Ya. Dia yang terbaik. Dia mendapat beasiswa semester yang lalu.”

“Ahhh.. Jadi, itu maksudmu. Aku kira…”


Nan Hee tau maksud mereka. Dia kemudian pamit pergi pada Mi Joo tetapi Mi Joo tidak mengizinkannya pergi. Dia malah meminta Nan Hee untuk membuatkan teh celup Soju buatannya. Nan Hee terlihat kecewa dan sedih.

“Kamu tidak mau melakukanny?” tanya Mi Joo. “Aku sedih. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta. Benar, kamu tidak pernah memintaku melakukan apapun, karena lebih baik dariku dalam segala hal.”

“Apa aku pramutama barmu?” tanya Nan Hee terluka.

“Tidak bisakan kamu melakukannya untuk seorang teman.?”

“Seberapa banyak yang harus dilakukan seorang teman?”

“Setidaknya sebanyak yang kulakukan.”

“Apa yang sudah kamu lakukan untukku?”


“Aku membiarkanmu bergaul dengan pria yang tidak bisa kamu dapat tanpaku.”

Nan Hee sangat terluka. Apalagi, Mi Joo mengatakan itu di depan teman-teman pria Mi Joo. Nan Hee berkata dia datang karena merasa khawatir pada Mi Joo namun…  Mi Joo langsung menghentikan perkataan Nan Hee. Dia menduga kalau Nan Hee sudah mendengar rumor mengenai dirinya (rumor yang menimpanya di Paris). Dia menuduh Nan Hee meremehkannya dan berpura-pura menjaganya.

Nan Hee mengeluarkan teh celup sojunya dan meletakkannya di meja. “Hubungi aku saat kamu butuh temanmu Nan Hee, dan bukan teh celup soju.”

Nan Hee beranjak pergi. Teman pria Mi Joo menghina amarah Nan Hee yang seburuk wajahnya.

Nan Hee merasa sangat terluka. Diluar Bar, hujan turun.


Se Gun sudah menyelesaikan rancangannya. Dia berharap Nan Hee beauty akan menyukainya. Se Gun menghubungi Nan Hee beauty dan bertanya dimana Nan Hee beauty sekarang? Se Gun segera berlari hendak keluar tetapi matanya tertuju pada kotak pizza yang sedang dinikmati teman-temannya.


Nan Hee sedang berdiri di depan kedai kopi. Dia melindungi hujan dengan tangannya. Se Gun tiba-tiba muncul dengan kotak pizza di atas kepalanya. “Aku akan mengantarmu pulang, entah turun hujan atau salju.”

Nan Hee terperangah melihat Se Gun. Dia senang. Amarahnya yang tadi sudah menghilang.

“Tapi… jika kamu berciuman, artinya kamu berpacaran, bukan?” tanya Se Gun tiba-tiba.

Nan Hee terkejut dan berucap, “Oh??” dan itu diartikan sebagai ‘Ya’ oleh Se Gun.

Mereka sudah sampai di depan rumah Nan Hee. Dan Se Gun meminta berfoto dua dengan Nan Hee sebagai tanda hari jadian mereka pertama.



“Apa yang terjadi dengan foto? Akankah dia melihat wajah asliku?”tanya Nan Hee dalam hati.

Se Gun mengajak Nan Hee berfoto tetapi Nan Hee segera menghentikannya. Dia beralasan kalau dia mengkhawatirkan Ibunya. Nan Hee kemudian mengirim pesan chat pada ibunya. Dia bertanya apa yang terjadi jika mereka berfoto.

Tetapi, Se Gun tiba-tiba memanggil Nan Hee. Nan Hee berbalik dan Se Gun segera mencium dan memotretnya.



Se Gun melihat hasil fotonya dan terlihat kaget. “Apa yang…. kenapa dengan wajahmu…”

Nan Hee juga gugup. Se Gun menatap Nan Hee.


1 comment:

  1. Kuharap endingnya nan hee sama byun tae aja,dia menyukai nan hee apa adanya.

    ReplyDelete