Monday, April 16, 2018

Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 10 - 4

0 comments

 Company name : Citizen Kane

Setibanya dirumah. Khem langsung membakar semua dokumen-dokumen itu. Dan melihat itu, Trai pun bertanya, sudah berapa lama Ayahnya melakukan kecurangan pajak seperti itu.

“Mungkin kurang dari 15 tahun. Atau mungkin sebelum dia membangun perusahaan ini,” jawab Yada.

“Setiap perusahaan melakukan itu,” bela Khem.


Yada tidak setuju dengan Khem, karena seharusnya mereka menaati hukum yang ada, bukannya malah menipu seperti itu. Mendengar itu, Khem langsung membela Ayah lagi, menurutnya Ayah melakukan itu semua untuk mereka.


“Dia melakukan itu untuk dirinya sendiri,” kata Trai, ikut bicara. Dan saat mereka berdua melihat kearahnya, ia menjelaskan bahwa setiap orang pasti mau menjadi kaya.



Khem merasa menyesal, karena ia bahkan tidak tau sama sekali, ketika semua dokumen ini diambil didepan matanya. Lalu dengan tegas, Khem berkata bahwa sejak sekarang, Krit sama sekali tidak bisa mengancam mereka lagi.

Mendengar Khem berkata seperti itu, Yada pun hanya diam saja lagi, sambil berdiri dan menatap semua dokumen itu dibakar oleh Khem.


Dengan perasaan yang sangat sedih serta kecewa. Kwan menangis sambil membereskan dan menyimpan semua barang-barang pemberian Krit padanya kedalam kardus.


Tassana yang melihat itu, langsung menghentikan Kwan untuk tidak bertingkah kekanakan seperti itu. Tapi Kwan tidak mau mendengar, karena sekaran ia membenci Krit.


Tassana duduk diam disebelah Kwan. Dan lalu, Kwan pun meminta maaf kepada Tassana, karena ia telah membuat Tassana dan Khem menjadi putus.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua salahku. Andai saja aku lebih berani. Tapi segalanya sudah terlambat,” kata Tassana dengan lembut kepada Kwan.


“P’Na. Aku minta maaf,” balas Kwan sambil menangis. Ia lalu menyadarkan kepalanya dibahu Tassana. Dan dengan lembut, Tassana mengelus kepada Kwan dan menenangkannya agar tidak menangis lagi.


Dirumah. Nee mencoba menenangkan Kwan yang berbicara kepadanya dari telpon. Ia berkata bahwa ia pasti akan mengurus semua barang-barang itu. dan sesudah selesai berbicara, Nee pun mematikan telponnya.


Nee lalu membuka kardus yang diberikan Kwan kepadanya. Kardus tersebut berisikan semua barang yang pernah Krit berikan kepada Kwan. Dan didalam nya terdapat sebuah surat dari Kwan. Kembalikan ini kepada P’Krit – Kwan.

Disaat itu, tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Jadi Nee pun keluar untuk melihat siapa. Teryata itu adalah Trai.



“Kamu datang kesini untuk memberitahu hal bagus padaku ya?” tanya Nee. Dan dengan agak tidak bersemangat, Trai menanyakan maksud Nee. Dan Nee pun lalu menjelaskan, bukankah Trai datang untuk memberitahukan tentang perpisahan antara Krit dan Yada.

“Itu mungkin hal bagus yang terjadi,” balas Trai, membenarkan perkataan Nee.



Nee menjadi emosi kepada Trai, karena bersikap seperti itu. Tapi Trai tidak merasa  bersalah sama sekali, karena ia memang tidak mau membiarkan kakaknya mengambil resiko dengan Krit.

“Sebenarnya, aku tidak ingin bekerja sama dengan…” kata Trai, menjelaskan. Tapi mendengar itu, Nee pun menjadi sangat heran.



“Tunggu. Bekerja sama dengan siapa? Apa?  Dan bagaimana?”

“Pernahkah kamu berbohong sebelumnya?”

“Iya. Berbohong ketika itu perlu. Tapi aku tidak pernah berbohong kepada orang yang kusayangin. Sekali kamu  berbohong, kamu harus menutupinya lagi dan lagi. Dan akhirnya kebohonganmu, akan balik melukai kamu,” balas Nee.



Nee meminta agar Trai memberitahukan padanya, kepada siapa sebenarnya Trai telah berbohong dan tentang apa. Tapi Trai sama sekali tidak bisa menjawab.

Disaat Trai masih saja terdiam lama, maka  Nee pun langsung mengatakan pada Trai untuk jangan kembali kesini. Karena ia bukan tempat untuk Trai menginap atau melarikan diri.

Lalu Nee masuk dan meninggalkan Trai diluar rumahnya. Dan Trai yang memang sama sekali tidak mampu bercerita dengan jujur, hanya berdiri diam disana.


Malam hari. Nee datang ketempat Krit sambil membawakan barang dari Kwan. Disana ia memencet tombol bel, mengetuk-ngetuk pintu, serta memanggil nama Krit. Tapi sama sekali tidak ada jawaban.

Didalam ruangan yang gelap. Krit duduk sendirian disana. Ia tampak sangat tidak bersemangat sama sekali. Dan ketika ia mendengar, Nee yang datang, ia sama sekali tidak bereaksi dan membiarkan nya.


“P’Krit! P’Krit! Aku tau kamu ada didalam sana. Tolong buka kan pintunya untukku ya. Aku sedang mengangkat sesuatu yang berat disini!” teriak Nee, memanggil Krit. Lalu tiba-tiba barang yang ia bawa terjatuh dan Nee pun menjerit, seperti kesakitan.



Mendengar jeritan Nee. Krit menjadi khawatir, jadi ia pun bangkit berdiri, berjalan mendekati pintu dan membukakannya untuk Nee. Tapi disana, Nee sama sekali tidak tampak terluka dan baik-baik saja mengangkat barang itu. Dan Krit lalu mau menutup pintunya kembali.



Nee dengan cepat langsung menahan Krit dan masuk kedalam. Didalam, ia meletakan kardus  itu dimeja makan dan memberitahu Krit bahwa Kwan mengembalikan semua barang milik Krit.

“Buang itu,” kata Krit dengan cuek dan dingin, tampak tidak peduli.




“Pekerjaanku hanya mengembalikan itu. Jika kamu mau membuangnya, maka kamu suruh saja anak buahmu,” balas Nee, tapi Krit tidak  merespon sama sekali. Ia mengambil wine nya dan meminum nya.

Nee lalu menyalakan seluruh lampu ruangan dan bertanya bagaimana bisa Krit tinggal ditempat yang gelap seperti ini. Dan Krit dengan tajam menyuruh Nee untuk tidak ikut campur.



Nee sama sekali tidak marah atau kesal dengan sikap Krit kepadanya. Malah dengan penuh perhatian, ia mendekati Krit dan duduk disebelahnya. Lalu Nee memberitahu Krit bahwa tidak seharusnya Krit menyembunyikan dokumen seperti itu dirumah Tassana, karena itu membuat Kwan merasa seperti ia digunakan.

“Mengapa kamu tidak meninggalkan itu kepadaku?” tanya Nee.



“Kamu bisa pergi sekarang,” balas Krit, lembut.

“P’Krit. Kamu hanya punya aku sekarang.”

“Aku tidak butuh siapapun.”

“Hanya Khun Da, kan? Aku tau kamu berharap dia akan kembali. Tapi aku pikir itu akan sulit, karena akun yang ditemukan mereka itu,” jelas Nee.

“Bisakah kamu berhenti?!” kata Krit dengan nada agar keras.

“Jadi... apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Hanya tunggu dan lihat saja.”


Diberanda. Dengan sedih, Yada mengingat semua perkataan Krit yang dengan jujur mengatakan bahwa tidak ada satupun yang memaksa dia dan selama ini dia sudah menunggu akhir dari Ayah Yada.



Yada kembali masuk kedalam kamarnya dan melanjutkan kegiatannya dalam menyusun semua pakaian miliknya yang masih terletak diatas tempat tidur. Dan ketika itu, ia melihat pakaian milik Krit.

Yada lalu mengambil pakaian itu dan memegangnya. Ia mengenang pagi hari antara mereka berdua, hari dimana akhirnya, ia resmi menjadi Mrs. Wong. Dan saat bahagia mereka berdua, pada pagi hari itu.

♪ Mengapa? Mengapa? Semakin aku berlari, semakin aku melihatmu ♪

♪ Aku benci diriku yang mencintaimu ♪



Saat teringat akan semua itu, Yada menjadi semakin sedih. Ia pun mulai menangis segalanya. Ia terduduk diam dan terus menangis. Ia melihat jari tangannya sendiri, yang tiak ada mengenakan cincin pernikahan mereka lagi.

Aku sangat membenci hatiku sendiri

untuk tidak pernah sadar

Disiksa oleh kamu sampai seperti ini

tapi mengapa tidak lari menjauh

Apa rasa sakit itu belum cukup?

 membiarkan kamu datang dan menyakitinya 

Hal yang kamu lakukan tidak bisa dimaafkan

tapi hatiku tidak pernah mengingat itu

Aku harusnya membenci kamu, bukannya menahan ini

Apa alasan yang berada di dalam hatiku?



Nee telah pergi dan meninggalkan Krit sendirian. Dan dalam kesendiriannya itu, Krit memperhatikan cincin milik Yada dengan sedih. Ia diam dan terus menatap itu.

Ia mengingat saat, Yada mengatakan bahwa hubungan mereka telah berakhir. Ia mengingat juga saat Yada melemparkan cincin tersebut kepadanya.

Jangan bilang padaku, aku punya perasaan padamu

Bahwa aku jatuh cinta dengan seseorang yang jahat

itu tidak benar bahwa aku memiliki mu dihatiku, kan?

Hatiku hanya sedang lemah dan merasa emosional

Tidak mungkin untuk hatiku membiarkan kita saling mencintai

Aku tidak pernah memberikannya kepada siapapun



Dengan semakin keras, Yada menangis. Ia menutup bersandar ditempat tidur dan terus-terus menangis. Makin keras. Dan keras.

 Mengapa aku harus memberikannya kepadamu? 

 Itu seperti kamu adalah kelemahanku 



Sedangkan Krit. Ia mengambil kotak cincin yang ada dan lalu menyimpan cincin milik Yada dengan sebaik-baiknya didalam itu. Masih sambil duduk dan diam, memandangin cincin itu.

Aku harusnya membenci kamu, bukannya menahan ini

Apa alasan yang berada di dalam hatiku?

Jangan bilang padaku, aku punya perasaan padamu

Bahwa aku jatuh cinta dengan seseorang yang jahat

itu tidak benar bahwa aku memiliki mu dihatiku, kan?

Hatiku hanya sedang lemah dan merasa emosional

Tidak mungkin untuk hatiku membiarkan kita saling mencintai


Tepat disaat itu, Joe datang ketempatnya. Dan menyadari itu Krit pun bangkit berdiri, berbalik menghadap kearah Joe. Disana Joe berkata bahwa ia kecewa kepada Krit yang bertingkah lemah, seperti bukan dia saja. Bahkan sekarang, musuh Krit telah melarikan diri.


“Aku tidak bisa kembali. Aku harus membalaskan dendam untuk Ayahku dulu. Dan tidak peduli kemana pun dia berlari, aku akan menemukan dia,” kata Krit dengan tegas pada Joe.


“Aku akan menolongmu. Dan berhentilah berbohong kepada dirimu sendiri. Hidupmu adalah milik Boss. Itu bagus, kamu sudah berpisah dengan istrimu. Jadi kamu tidak perlu memilik antara istrimu atau Boss,” balas Joe, tegas dan tajam.


Dan dengan raut wajah yang langsung mengeras, Krit hanya bisa diam. Ditangannya, ia memegangin kotak cincin itu dengan kuat.


Dicafe. Khem yang sedang patah hati juga, duduk disana sambil menangis dan minum wine. Ia tampak berusaha untuk tetap tegar dan kuat.

♪ Sudah berapa kali kamu melihat padaku

seperti aku ada seseorang yang tidak berarti bagimu? ♪




Sedangkan Tassana. Ia berjalan –jalan ditaman rumah sambil mengingat semua perkataan Khem yang menanyakan alasannya menolong dia. Ia mengingat kejadian disaat Khem yang sedang sedih karena ditinggal Krit. Dan pada saat itu, Khem hampir saja tertabrak mobil. Tapi ia berhasil menyelamatkan Khem dan lalu Khem memeluknya sambil menangis.

Serta ia juga mengingat, ketika Khem sedang tertidur dirumahnya. Pada saat itu, ia bertekad untuk melindungi Khem.

♪ Aku ingin kamu tau, aku ingin kamu mengerti kebenarannya ♪

♪ Dan aku mungkin tidak bisa membuatmu mengerti segalanya ♪

♪ Tapi ada satu hal yaitu kebenaran yang tidak pernah berubah ♪

♪ Itu adalah cinta yang aku miliki untukmu ♪

♪ Itu adalah cinta yang berasal dari hatiku ♪

♪ Tolong jangan lihat aku sebagai orang lain ♪

♪ Bahkan walaupun aku tidak ada dalam hatimu ♪

Selama kamu berada denganku

Jangan lihat aku sebagai orang lain, ku mohon padamu

Jika suatu hari kamu merasa lemah ....

Berbaliklah dan lihatlah aku, aku siap menjagamu



Tassana juga mengingat, saat mereka berdua merayakan ulang tahun Kwan bersama-sama disana. Dan saat mereka hampir saja berciuman.

Tolong biarkan aku disisi mu ketika kamu tidak punya siapapun lagi

Aku hanya ingin melihat kamu bahagia, itu saja


Dicafe. Seorang pria datang dan berusaha untuk mendekati Khem yang sedang sendirian. Dan Khem langsung menolak. Tapi tanpa memperdulikan penolakan Khem, pria itu dengan berani langsung duduk dikursi sebelah Khem.


Khem mengambil hpnya dan memotret pria itu berkali-kali. Ia mengancam bahwa ia akan menyebarkan foto itu dengan menggunakan caption “Hati-hati orang mesum”.

Dan karena itu, pria itu pun mengatai Khem gila. Lalu ia pergi dari sana sambil mengajak temannya juga.

 

Setelah pria itu dan temannya pergi, Khem menghapus foto pria itu dari hpnya. Dan ketika itu, ia melihat foto-fotonya bersama Tassana pada saat mereka berada di tempat Krit serta Yada berbulan madu.



Dan dengan kesal, Khem lalu menghapus satu-persatu foto itu. Tapi foto itu terlalu banyak. Hingga akhirnya, Khem pun berhenti untuk menghapus foto itu. Ia meletakan hpnya diatas meja. Lalu ia mulai menangis.

Setelah itu dengan agak ragu, Khem tampak ingin mengambil hpnya yang ia letakan diatas meja tadi. Tapi tidak jadi.



Tassana duduk ditaman rumah. Dan menangis. Ia mengingat saat ia menyatakan cintanya, tapi disaat itu, Khem malah menamparnya. Lalu dengan lemas, Tassana pun berbaring disana.

No comments:

Post a Comment