Monday, August 12, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 12

11 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 12

Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Shangyan membawa Xiao Ai dan Su Cheng pergi menjemput Tong Nian dulu ke kampus Tong Nian. Su Cheng bingung, kenapa Shangyan membawa mereka kemari? Shangyan hanya menjawab dengan menyuruh mereka menunggu sebentar.
Tong Nian muncul dengan bahagia. Dia mengira Shangyan datang untuk melihat software yang suadh di buatnya, jadi Tong Nian berkata kalau lebih baik mencoba software itu di komputer Shangyan. Shangyan kaget juga karena Tong Nian cepat sekali membuat software itu.


Saat itulah, Tong Nian baru ngelihat kalau di mobil Shangyan ada Su Cheng dan Xiao Ai. Dengan ramah, Su Cheng mengajak Tong Nian untuk ikut bersama mereka bermain ke taman bermain. Tong Nian ragu karena merasa tidak enak. Tapi, Shangyan menyuruhnya untuk ikut. Yang penting, Tong Nian juga anak kecil saja.
Tong Nian naik ke mobil Shangyan dan duduk bersama dengan Xiao Ai di kursi belakang.
--
Mereka akhirnya tiba di taman bermain,
Tong Nian dan Xiao Ai pergi menaiki wahana komedi putar, sementara Shangyan menunggu bersama Su Cheng. Su Cheng heran, kenapa Shangyan tidak ikut naik? Shangyan malah berkata siapa juga yang mau naik wahana seperti itu.
Di atas kuda-nya (di komedi putar), Xiao Ai bertanya kenapa Tong Nian takut pada Shangyan? Tong Nian berkata kalau dia tidak takut pada Shangyan. Hanya saja… ah sudahlah, percuma saja bicara pada Xiao Ai. Xiao Ai masih terlalu muda dan tidak akan mengerti.
“Bukankah ini hanya masalah pacaran? Apa-nya yang sulit?” komentar Xiao Ai.
Tong Nian malah kaget karena Xiao Ai yang masih kecil, sudah mengerti hal seperti itu. Tidak hanya itu, Xiao Ai bahkan merasa bingung dengan Tong Nian yang menyukai Shangyan, padahal tidak ada yang bagus dari Shangyan.
“Dia itu penuh dengan pesona bagus! Dia mempunyai banyak pesona!” protes Tong Nian.
Eh, tidak di duga, Xiao Ai malah berkata akan memberikan waktu untuk Tong Nian bersama Shangyan. Caranya? Dia ingin naik perahu di wahana selanjutnya! Xiao Ai bahkan memerintahkan Shangyan untuk pergi membeli tiket-nya karena dia kan adalah tamu Shangyan, jadi Shangyan harus melayaninya.
Shangyan sebenarnya malas membeli tiket. Tapi, memang hatinya baik, dia tetap pergi membeli. Sebelum pergi membeli, dia mengajak Su Cheng untuk ikut dengannya membeli tiket, tapi Su Cheng menolak karena dia masih ingin melihat Xiao Ai.
“Kau khawatir padanya? 10 tahun yang lalu, kau sudah menyerah sekali padanya. 10 tahun kemudian, kau memikirkan cara lain?” tanya Shangyan.
“Aku memang selalu lari dari masalah. Jadi, aku tidak bisa mencari kompetitor profesional. Tidak seperti kalian, yang selau berlari mengejar target, tidak pernah menyerah. Untuk Xiao Ai, aku yang membuang-nya telah sangat melukai-nya. Aku tidak tahu bagaimana caranya berbaikan dengannya.”
Shangyan mengerti kegelisahan dan kekhawatiran Su Cheng, karena itu dia menyuruh Su Cheng mencoba dan berusaha dulu untuk mengetahui hasilnya.
--

Tong Nian dan Shangyan naik perahu yang sama. Sementara Xiao Ai dan Su Cheng naik di perahu berbeda. Shangyan jelas kesal, katanya Xiao Ai mau naik perahu bersama, kenapa malah berbeda perahu? Xiao Ai beralasan kalau perahu yang Shangyan naiki terlalu penuh! (Hahahha, padahal perahu yang Shangyan naiki sangat sepi, sementara perahu yang Xiao Ai naiki lah yang penuh orang. Mereka bicara sambil berteriak-teriak, karena kan beda perahu).
Shangyan merasa canggung juga hanya berdua dengan Tong Nian. Dengan gaya sok cuek dan canggung-nya, Shangyan meminta ponsel Tong Nian. Dia akan memotret Tong Nian karena para wanita kan suka foto-foto dan upload ke medsos agar bisa di lihat teman-teman. Dia akan membantu memfoto Tong Nian. Dengan canggung, Tong Nian menolak. Tong Nian malah balik menawarkan diri untuk memfoto Shangyan. Shangyan pun menolak.



Xiao Ai tiba-tiba berteriak memanggil Tong Nian dan memberi tanda agar Tong Nian pindah duduk di sebelah Shangyan. Shangyan jelas bingun. Dan Xiao Ai tiba-tiba berteriak memanggilnya, jadi Shangyan refleks menoleh padanya. Jepret! Xiao Ai memfoto Shangyan bersama Tong Nian. Tong Nian sudah menduga sehingga dia sudah membuat pose V.

Shangyan langsung berteriak marah karena Xiao Ai memfotonya. Xiao Ai tidak takut dan bahkan berkata akan mengupload-nya. Mau semarah apapun Shangyan, Shangyan tetap tidak bisa melakukan apapun karena mereka berada di perahu yang berbeda. Tong Nian sendiri tertawa melihat tingkah Shangyan yang seperti anak kecil bertengkar dengan Shangyan.
Selesai naik perahu, Shangyan malah hendak merebut ponsel Xiao Ai untuk menghapus fotonya. Mereka seperti anak kecil yang bertengkar. Tong Nian sampai hari menenangkan Shangyan, sementara Su Cheng menahan Xiao Ai agar tidak mencari masalah dengan Shangyan lagi.
Setelah bertengkar, Shangyan akhirnya pergi membeli makanan untuk mereka. Tong Nian langsung menawarkan diri untuk ikut. Jadi, hanya tinggal Su Cheng dan Xiao Ai. Dan suasana langsung terasa sangat canggung.
Xiao Ai terus menunduk hingga membuat Su Cheng khawatir. Dia bertanya, apakah Xiao Ai sakit? Beritahu padanya. Dengan ketus, Xiao Ai menyuruh Su Cheng untuk tidak peduli padanya.
“Aku tidak perlu kepedulianmu. Jika perutku sakit setiap bulang, apa kau akan mempedulikanku setiap bulan?” ketus Xiao Ai.
Su Cheng kaget, “Apa kau datang bulan?” tanya Su Cheng. Dia bahkan mengeluarkan pembalut antisipasi yang selalu di bawanya. “Aku punya ini. Jika kau memerlukannya, beritahu aku. Okay?”
Xiao Ai hanya diam dan tidak menjawab.
--
Usai makan, hubungan Tong Nian dan Xiao Ai semakin dekat. Mereka memutuskan untuk bermain rollercoaster. Shangyan menolak ikut dengan alasan dia harus membalas email penting. Tong Nian mengerti dan tidak memaksa lagi.

Shangyan sebenarnya tidak membalas email apapun. Dia malah hanya berdiri dan melihat Tong Nian serta yang lain bermain roller coaster dengan bahagia.



Flashback
Dulu, saat team SOLO ke taman bermain, Shangyan juga di ajak bermain roller coaster oleh Ai Qing, Solo, Xiaomi dan Ou Qiang. Tapi, Shangyan menolak. Xiaomi memberitahu Ai Qing kalau Shangyan itu takut ketinggian. Mendengar hal itu, mereka jadi mengejek Shangyan dan memaksanya untuk ikut naik. Akhirnya, mereka berhasil memasang sabuk pengaman permainan pada Shangyan.
Tapi, Shangyan lebih pintar. Saat semua sudah duduk, Shangyan langsung melepaskan sabuk pengamannya dan pergi dari sana.

Di saat yang lain menikmati roller coaster, Shangyan malah naik komedi putar. Naik komedi putar saja, sudah membuat Shangyan terkagum-kagum dan bahagia.
End
Shangyan terlihat sedih mengingat kenangan membahagiakan itu.
--
Selesai bermain, Xiao Ai langsung menghampiri Shangyan dengan ceria. Tapi, dia jadi penasaran, apakah Shangyan tidak naik karena tidak tertarik atau karena takut? Tong Nian langsung membela Shangyan yang pasti tidak takut apapun.
Shangyan sendiri sibuk bermain gameboy -nya. Xiao Ai mengejek Shangyan yang masih memainkan permainan anak kecil seperti itu. Shangyan kesal karena cara Xiao Ai bicara sangat tidak sopan. Karena itu, dia menantang Xiao Ai untuk memainkannya. Jika Xiao Ai bisa melampaui nilainya, dia akan membelikan air. Tapi, jika tidak, maka Xiao Ai yang harus membelikannya.


Xiao Ai tentu menerima tantangan itu. Tapi, baru juga main, Xiao Ai sudah kalah. Xiao Ai malah marah dan menyebut Shangyan yang curang karena kecepatan bricks-nya turun sangat cepat. Shangyan langsung menegur Xiao Ai yang tidak pandai malah menyalahkan orang lain. Xiao Ai tetap saja ngotot kalau Shangyan yang curang. Untuk membuktikan dirinya tidak curang, Shangyan memainkannya langsung dan tentu saja dia bisa melakukannya dengan mudah.
Tong Nian penasaran ingin coba. Dia meminta izin untuk mencoba memainkannya juga. Shangyan mengizinkan. Dan Tong Nian ternyata mampu memainkannya dengan cukup baik. Shangyan sampai terkejut. Dan saat kalah, Tong Nian merasa kesal pada dirinya sendiri karena dia harusnya bisa mendapat score lebih tinggi lagi.
“Score-mu lebih tinggi dariku dan kau masih belum puas,” komentar Shangyan.
Tong Nian kaget karena tidak sadar akan hal itu. Sementara Xiao Ai sangat senang karena Tong Nian berhasil mengalahkan Shangyan. Su Cheng juga memuji Tong Nian yang bisa mengalahkan Shangyan padahal sebelumnya tidak pernah ada yang bisa.
--

Dan perjalanan mereka pun akhirnya usai. Shangyan menyetir mobil untuk mengantarkan mereka semua. Tong Nian dan Xiao Ai yang duduk di bangku belakang sudah ketiduran karena kelelahan.
Su Cheng berkata pada Shangyan kalau orang tua Tong Nian membesarkan Tong Nian dengan sangat baik. Seorang gadis harusnya seperti Tong Nian, polos tanpa maksud tersembunyi apapun. Dan Tong Nian juga bersinar setiap harinya. Su Cheng menasehati Shangyan untuk berhenti ceroboh dan bina hubungan yang baik dengan Tong Nian.

Akhirnya, Shangyan tiba di kantor SP. Su Cheng membangunkan Xiao Ai untuk turun. Sebelum masuk ke dalam, Xiao Ai menyuruh Tong Nian untuk tidak lupa meng-add akun WeChat-nya dan lihat beranda-nya. Tong Nian langsung melakukannya dan ternyata Xiao Ai mengupload foto yang di ambilnya tadi, foto Tong Nian dan Shangyan.
“Hutangmu saat ayahku menjemputmu dari stasiun sudah lunas. Tapi masih ada hutang saat dia membawamu masuk dalam team, membuatmu memenangkan kejuaran. Jadi, kau harus membayarnya nanti. Juga, jangan terlalu negatif pada ayahku,” ujar Xiao Ai dan kemudian masuk ke dalam.

Shangyan menghela nafas karena sudah lelah seharian ini menghadapi Xiao Ai. Shangyan bertanya, haruskah dia mengantar Tong Nian ke kampus? Tong Nian langsung mengingatkan kalau dia belum menunjukkan software-nya. Mereka belum melakukan apapun.
“Butuh waktu berapa lama?”
“Sekitar 1 jam,” jawab Tong Nian. “Setelah selesai, aku bisa pulang sendiri.”
“Baiklah.”
--
Di dalam kantor SP, Solo sedang bicara berdua dengan Ai Qing. Solo ingin mengganti anggota. Alasan utamanya adalah karena peringkat dunia permainan Xiaomi tidak begitu ideal. Juga, ketika bergabung dengan SP, rangkin solo Xiaomi di China sangat rendah. Ai Qing tampaknya tidak suka Xiaomi di keluarkan dari team utama, karena itu dia meminta kesempatan untuk Xiaomi.
“Sebelum perempatan final, kita akan pergi ke kota Sanya. Ini mungkin akan menjadi kesempatan terakhir-nya. Jika peringkatnya tidak bisa naik menjadi Top Ten nasional, dia akan di keluarkan dari Team satu,” tegas Solo.
Ai Qing tampak berat mendengarnya.

Di suasana tegang itu, Ou Qiang dan Xiaomi datang untuk memberitahu kalau Xiao Ai datang. Xiao Ai datang bersama dengan Su Cheng. Xiao Ai tampak bahagia dan menunjukkan foto Tong Nian dan Shangyan yang di ambilnya tadi pada Solo.
“Kau senang hari ini?” tanya Solo.
“Ya.”
“Siapa yang membelikanmu hadiah?” tanya Solo lagi, melihat Xiao Ai membawa kantong.
“Emmm… mama yang membelikannya,” jawab Xiao Ai, masih berat memanggil Su Cheng dengan panggilan mama.
Melihat foto-foto itu, mereka tertawa karena teringat dulu Shangyan yang kabur karena takut ketinggian saat mereka hendak naik roller coaster.
--

Shangyan membawa Tong Nian ke kantor K&K. Dia mengantar Tong Nian ke dalam ruangan bermain. Di sana ada 3 komputer, dan setiap komputernya terkoneksi internet dan tanpa password. Jadi, Tong Nian bisa memilih menggunakan komputer apapun. Dia akan kembali lagi dalam 1 jam.
“Dapatkah aku pergi bersamamu? Kemanapun kau pergi, aku pergi. Dapatkah aku berada di sisimu?” tanya Tong Nian.
“Pergi denganku?”
“Ya.”
“Maksudmu… kau ingin ke kamarku?” tanya Shangyan. “Rencanaku adalah menggunakan 10 menit untuk mandi, dan 50 menitnya lagi untuk tidur. Kau masih ingin ikut?”
Tong Nian jadi gugup. “Tidak perlu. Aku hanya akan di sini dan menunggumu. Kau bisa pergi melakukan yang ingin kau lakukan.”
Shangyan pun pergi. Dan Tong Nian pun mulai menginstall software yang di buatnya. Setelah menginstall, dia mencoba memainkannya.
Shangyan tidak langsung mandi dan malah bekerja. Dia melihat kalung yang ibu tirinya minta dia ambilkan, dan Shangyan meletakkannya begitu saja di meja.
--

Dan tanpa terasa hari sudah gelap saja. Shangyan ketiduran saat bekerja. Dia segera pergi menemui Tong Nian yang dengan setia menunggunya. Melihat Shangyan, Tong Nian tidak marah karena sudah di biarkan menunggu sangat lama. Sebaliknya, dia malah menjelaskan mengenai software yang di buatnya dan cara kerjanya. Dia membuatkan dua jenis software untuk Shangyan pilih.
Shangyan mencoba software yang Tong Nian buat dan hasil yang di peroleh-nya sangat bagus. Tong Nian sampai kaget. Shangyan tampak bangga.
Shangyan memberikan Tong Nian minuman yang ada di atas meja. Kaleng bir. Tong Nian ragu untuk minum karena itu adalah kaleng bir. Tapi karena Shangyan menyebutnya anak kecil, Tong Nian jadi bilang dia bukan anak kecil dan bisa minum bir. Sebelum minum, Tong Nian melihat kandungan alkohol di bir hanya 3%, dan dia yakin rasanya pasti hampir sama saja seperti air.
Tong Nian mencoba minum dan ekspresi wajahnya tampaknya tidak enak. Tapi, pas Shangyan tanya, Tong Nian malah bilang enak dan bahkan langsung menghabiskan satu kaleng bir tersebut. Shangyan sendiri masih sibuk mencoba software yang Tong Nian buat.
Selesai minum bir, Tong Nian malah sudah mabuk. Dia mengeluh panas dan bahkan mendekatkan wajahnya pada Shangyan. Shangyan bingung dengan perubahan sikap Tong Nian dan sadar kalau Tong Nian sudah mabuk.

 Dalam keadaan mabuk, Tong Nian menjadi lebih agresif hingga membuat Shangyan sedikit kewalahan menghadapinya. Tong Nian bahkan memberitahu pengorbanannya yaitu saat hujan dia tetap datang ke bandara untuk menjemput Shangyan dan untuk membuat software, dia rela untuk tidak tidur.
Shangyan berusaha kabur dengan berkata kalau dia akan memanggil beberapa orang untuk mencoba software yang Tong Nian buat. Dia menyuruh Tong Nian untuk duduk dan tidak beranjak sementara dia keluar. Tong Nian tidak mendengarkannya dan malah memeluk Shangyan dari belakang.
Grunt, One, Demo dan 97 ada di depan pintu dan mendengar suara-suara dari dalam. Mereka mendengar  suara Tong Nian. Grunt berteriak memberitahu kalau mereka membeli dessert untuk Tong Nian, dan silahkan keluar untuk makan. Setelah itu, Grunt mengajak semuanya pergi agar Tong Nian dan Shangyan tidak terganggu.
Di dalam, Tong Nian terus memeluk Shangyan dan tidak mau melepaskannya. Terpaksa, Shangyan menjanjikan akan memberikan Tong Nian hadiah asalkan Tong Nian sekarang melepaskan pelukannya dulu. Mendengar akan mendapat hadiah, Tong Nian pun mau untuk melepaskan pelukannya dari Shangyan.

Shangyan sekali lagi menyuruh Tong Nian untuk menunggunya di sini dan jangan kemana-mana. Tong Nian menganggukan kepala. Tapi, saat Shangyan keluar, dia diam-diam mengikuti Shangyan dan Shangyan tidak sadar akan hal itu. Shangyan ke kamarnya, dan barulah dia sadar kalau Tong Nian mengikutinya.
Masuk ke kamar Shangyan, Tong Nian langsung berbaring di atas kasur Shangyan. Shangyan panik karena jika Tong Nian berbaring di sana, dan jika ada yang masuk, maka bisa terjadi kesalahpahaman. Shangyan meminta Tong Nian untuk duduk di sofa.
Saat mau di dudukan di sofa, Tong Nian malah tertarik melihat puzzle istana yang Sgangyan buat. Shangyan panik dan menahan Tong Nian agar tidak menyentuh puzzle-nya. Tong Nian memberontak dan membuat Shangyan terdorong dan kepalanya mengenai tiang yang ada di kamarnya.
Eh, udah itu, saat duduk di sofa, Tong Nian malah melindungi dirinya dengan bantal sofa dan berkata jangan melakukan apapun padanya! Tidak boleh! Shangyan menghela nafas melihat sikap Tong Nian yang sangat berbeda. Dia menegaskan agar Tong Nian duduk dengan baik di sofa, jangan kemanapun dan jangan memegang apapun. Tong Nian mengiyakan.
Shangyan pergi ke kamar mandi untuk melihat luka di dahinya dan mengobati luka itu sendiri.

Dan Tong Nian malah berkeliling kamar Shangyan. Dia menemukan kalung ibu tiri Shangyan dan meletakkannya di kepalanya. Dia berkata kalau itu pasti hadiah untuknya, sangat cantik dan dia sangat menyukainya. Shangyan panik dan menyuruh Tong Nian untuk mengembalikan hadiah itu. Tapi saat melihat wajah memelas Tong Nian, Shangyan pun akhirnya berkata kalau dia akan memberikan itu untuk Tong Nian.

Tong Nian sangat senang. Dia langsung memeluk Shangyan dan berkata kalau dia sangat menyukai kalung itu. Sangat cantik. Shangyan terdiam. Dia mengelus kepala Tong Nian dengan lembut dan tersenyum. Tong Nian sendiri tertidur di dada Shangyan.
Tong Nian sudah di tidurkan di sofa. Dan Tong Nian tidur dengan memegang erat kalung tersebut. Shangyan berusaha membangunkan Tong Nian untuk menanyakan dimana ponsel Tong Nian, tapi Tong Nian tetap tidak terbangun.

Grunt, Demo, One dan 97 hendak kembali ke kamar mereka, tapi mereka melihat kamar tamu yang pintunya terbuka. Dengan rasa penasaran, mereka pun masuk ke dalam sambil memanggil nama Tong Nian dan Shangyan dengan pelan, tapi tidak ada jawaban. Dan benar, kamar itu memang kosong. Mereka malah menemukan kaleng bir kosong yang telah di minum Tong Nian. Grunt malah bicara omong kosong hingga membuat yang lain menduga kalau Tong Nian pasti sekarang ada di kamar Shangyan.
Shangyan yang melihat mereka ada di kamar tamu, langsung berteriak, ngapain kalian? Semua panik dan langsung berbohong kalau mereka hendak mengambil barang.
“Grunt, apakah kau pernah pacaran atau belum?” tanya Shangyan.
Semua kaget dengan pertanyaan aneh Shangyan yang tidak terduga.
“Biar ku kasih tahu, kehidupan percintaanmu sangat rumit. Manager team (Su Cheng) sudah menempatkan namamu di file, jadi kau sebaiknya berhati-hati! Aku tidak mengizinkan pacaran public, mengerti?” tegas Shangyan.
“Mengerti, boss,” jawab Grunt dengan sedikit bingung.
“97! Kapan kau akan mulai pacaran?” tanya Shangyan. “Ibumu datang mencariku berulang kali. Jika kau tidak pacaran, dia akan membawa seseorang kemari untuk kencan buta denganmu, kau tahu itu?”
“Boss, bukankah kau bilang kalau pacaran tidak di izinkan?” ingati 97. “Bagaimana bisa perspektif-mu sangat berbeda?”
“Aku bilang tidak boleh pacaran public, aku tidak bilang kau tidak bisa pacaran,” jelas Shangyan. “Jelas saja, kapan kau akan mulai pacaran?”
“Boss, bagaimana aku bisa tahu? Aku pulang kampung saat Imlek, dan menghabiskan liburan lainnya di klub ini. Jangankan sebut pacar, aku saja tidak bisa melihat satupun gadis. Tunggu, aku ada melihat wanita, selain daripada ibu Zhou Yi (One), bibi pembersih kita, ada juga team manager yang sudah menikah. Apa yang bisa ku lakukan?”
“Omong kosong apa itu! Tentukan tujuanmu!” ujar Shangyan.
Demo ikutan tertarik dan bertanya apakah dia boleh pacaran? Shangyan langsung melarang. Alasannya? Karena Demo masih terlalu muda. Demo protes karena dia merasa tidak muda. Shangyan mengabaikannya dan menatap One. One langsung berkata untuk tidak khawatir karena ibunya sudah mulai mencarikan jodohnya.  
Dan kemudian, mereka hendak bertanya mengenai Shangyan dan Tong Nian. Tapi, Shangyan langsung dengan tegas bertanya balik, apa hubungannya dengan mereka? Mereka jadi takut dan langsung pergi kembali ke kamar.

Usai itu, Shangyan masuk ke dalam kamar tamu itu. Dia mengambil tas dan jaket Tong Nian yang tertinggal di sana. Kemudian, dia kembali ke kamarnya. Tong Nian masih belum sadar. Jadi, Shangyan membuka tas Tong Nian untuk mencari ponsel Tong Nian. 
Dan dia malah menemukan makalah catatan Tong Nian mengenai cara bermain game. Shangyan tersenyum tipis.

Shangyan menemukan ponsel Tong Nian, tapi ponsel tersebut terkunci. Jadi untuk membukanya, Shangyan menarik mata Tong Nian dan meletakkan ponsel itu di depannya, jadi ponsel itu terbuka dengan pindai retina.
--
Lan Mei sedang istirahat santai di kamarnya. Ponselnya berbunyi dan melihat yang menelpon adalah Tong Nian, Lan Mei langsung menjawab telepon. Dia tidak mendengarkan suara yang menelpon dan langsung nyerocos bertanya apakah Tong Nian sudah berciu*an dengan Shangyan?
“Halo, aku adalah Han Shangyan,” ujar Shangyan.
Mata Lan Mei langsung membesar. Terkejut!

11 comments: