Sinopsis C-Drama : Die Now (Episode 5 : Labirin) part 2


Network: Sohu TV


Nomor 2 mulai pesimis, tidak peduli apapun yang mereka lakukan, mereka akan tetap terjebak disini. Sedangkan nomor 6 berusaha untuk optimis, ia yakin mereka akan bisa menemukan jalan keluarnya.

Saat nomor 2 mulai optimis, Guru Li menyela bahwa mungkin saja permainan ini ada batas waktunya, hanya saja tidak disebutkan. Karena ditempat ini tidak ada makanan dan minuman, jadi jika mereka tidak keluar dalam 3 hari, maka mereka akan tetap mati.



“Tidak mungkin untuk permainan ini berlanjut tanpa akhir,” jelas Guru Li.

“Kalian semua pernah mendengar hal berputar-putar?” tanya nomor 5.

“Tentu saja,” jawab Guru Li.

“Itu ketika kamu dilapangan terbuka tanpa ada jalan keluar. Kamu selalu kembali ke tempat asal,” jelas nomor 5.



Mendengar itu, nomor 6 mulai ketakutan akan melihat hantu. Sedangkan Guru Li tetap tenang, ia menjelaskan ketika mata kita ditutup, maka kita akan kehilangan titik acuan, otak kita jadi tidak bisa menyesuaikan posisi dan itu menyebabkan kita berjalan dengan bersandar di satu sisi.



Dari penjelasan Guru Li, nomor 2 mengatakan bahwa situasi mereka berbeda dengan itu. Mereka tidak kehilangan titik acuan, karena mata mereka masih terbuka. Tapi untuk lingkaran mati itu, ia percaya.



“Meskipun berbeda tapi ini sebuah permainan. Mungkin prinsipnya sama, tapi hanya terbalik. Kali ini titik acuannya yang membingungkan kita. Jika kamu tidak bisa keluar dengan mata terbuka, maka berjalanlah dengan mata tertutup,” jelas nomor 5 kepada mereka semua.



Guru Li menolak untuk menutup matanya, karena ia merasa jika ia menutup matanya, maka seseorang akan mencoba untuk mengambil keuntungan darinya.

Metode menutup mataku mungkin berhasil. Tapi aku tak bisa melakukannya disini, saat aku menutup mataku. Aku tidak yakin jika yang lainnya juga menutup mata mereka. Jika seseorang menyerang pada waktu itu. Pikir Guru Li dalam pikirannya.


Nomor 2 pun juga mulai ragu, Jika seseorang membunuh target mereka pada waktu itu, yang lain mungkin juga tak akan melakukan apapun terhadapnya, karena setelah menyelesaikan misinya, dia tak akan membunuh siapapun. Melainkan dia akan menjadi yang paling dipercayai.


Melihat situasi yang ada, nomor 6 juga ikut ragu dan khawatir. Bagaimana? Kelihatannya perpecahan grup akan terjadi cepat atau lambat. Saat ini, hanya kehilangan sumbu pemicunya.



Xia Chi serta Xu Xiang mulai merasa sangat kedinginan sekali. Dan yang paling parah adalah Xu Xiang, karena ia merasa tangannya seperti telah membeku.

Mengetahui hal itu, Xia Chi memegang tangan Xu Xiang dan mendekatkannya kearah mulutnya. Lalu meniup- niup serta menggosok tangan Xu Xiang agar tidak begitu kedinginan. Dan untuk membuat Xu Xiang tetap sadar, Xia Chi menanyakan beberapa pertanyaan pelajaran dan meminta agar Xu Xiang menjawabnya.



“Hei, Chun Xu Xiang! Jangan tertidur Chun Xu Xiang!” teriak Xia Chi sambil mengocang bahu Xu Xiang yang tertidur karena dingin. Dan karena teriakan itu, Xu Xiang tersadar.

“Aku tak bisa memecahkannya,” balas Xu Xiang sambil tersenyum sedih. Lalu mengatai Xia Chi bodoh karena telah begitu baik padanya.



Xia Chi mengingat kenangannya bersama dengan Qing Zhi. Dan kepada dirinya sendiri, ia berbicara, meminta agar Qing Zhi menunggunya. Lalu Xia Chi berdiri dan mengeluarkan dari sakunya, koin dari Qing Zhi dulu.

“Qing Zhi masih menungguku,” kata Xia Chi padanya dirinya sendiri. Lalu ia mulai berpikir.


Aku sudah tahu. Xia Chi tersayang kita yang paling berani dan gigih. Bagaimana jika begini? Aku akan memberimu petunjuk. Kata GM memuji Xia Chi. Lalu tiba- tiba saja hantu anak kecil muncul dihadapan Xia Chi.



Hantu anak kecil tersebut, menunjuk kerah lubang dimana kaki Xu Xiang pernah terjebak tadi. Dan dengan cepat, Xia Chi mendekat dan mengintip kedalam lubang tersebut.



Xia Chi melihat katup di dalam lubang itu. Ia menarik katup tersebut dengan sekuat tenaga. Dan disaat itu sebuah layar kecil terbuka di dinding samping pintu.

Dilayar itu terdapat enam lubang kecil, bekas tembakan. Dan dibawahnya terdapat angka 0 sampai dengan 9.




“Kata… kata sandi? Bagaimana kita bisa tahu kata sandinya?” tanya Xu Xiang dengan heran ketika melihat itu. Lalu dengan cerewet, ia mulai berbicara panjang lebar, tapi Xia Chi segera memberikan peringatan.

“Aku percaya ada petunjuk mengenai kata sandinya diruangan ini,” lanjut Xu Xiang, saat Xia Chi memberikan peringatan kepadanya.



Karena ada enam bekas lubang peluru, maka Xu Xiang menebak bahwa sandinya ada angka, yaitu 1 3 5 7 8 0. Tapi Xia Chi yang cermat, tidak berpikir demikian. Sambil memainkan koin yang ada ditangannya, Xia Chi mulai berpikir. Lalu saat ia telah mendapatkan jawabannya, ia melemparkan koin itu keatas dan menangkapnya lagi.




“Waktu dimana garis retaknya muncul, harusnya berbeda. Sedangkan untuk bentuk kacanya, retakan dari lubang peluru yang baru akan menindih retakan lain dari yang lama. Itu berarti urutan nomornya adalah 5 7 0 8 3 1,” jelas Xia Chi.



Akhirnya Xia Chi serta Xu Xiang berhasil keluar dari ruangan tersebut. Dan dengan sangat senang, Xu Xian memeluk lengan Xia Chi serta berterima kasih. Sedangkan Xia Chi hanya diam saja.



Dengan sikap jaim, Xu Xiang melepaskan lengan Xia Chi dan lalu menuduh Xia Chi yang mengambil keuntungan disaat seperti ini. Setelah itu, ia mengembalikan jaket milik Xia Chi.

Dipermainan tadi, sistemnya bisa menjebak dan membunuh kami. Mengapa tiba- tiba memberikan kami petunjuk? Pikir Xia Chi.

Xia Chi sayang, rahasia ini antara kita berdua. Balas GM.



“Akhir- akhir ini aku mendengar bahwa ada pemain yang kalah diakhir permainan, tapi nilainya yang tertinggi,” kata Xu Xiang, mulai ceria dan cerewet kembali.

“Jadi apa itu berarti nilai sama sekali tidak berhubungan dengan kalah atau menang?” tanya Xia Chi, ketika mendengar itu.

“Tidak yakin. Pasti ada hubungannya dengan kepintaran. Terkadang, butuh kekuatan. Tapi aku masih berpikir hal yang paling penting adalah keberuntungan,” jelas Xu Xiang.



“Keberuntungan? Tidak mungkin. Permainan ini memiliki sistem penilaian, juga sistem penghargaan. Jika kita bisa mengetahui peraturan evaluasi GM, mungkin kita bisa menemukan arti permainan ini,” balas Xia Chi, serius.



Seperti terpikir sesuatu, dengan bangga Xia Chi mengatakan bahwa ia bisa menyelesaikan misi pilihannya. Dan itu membuat Xu Xiang bertanya, bagaimana Xia Chi bisa membunuh targetnya.

“Aku tak perlu menemukan targetku. Aku akan membunuhnya dari jarak jauh,” jelas Xia Chi dengan penuh percaya diri. Sambil menunjuk dinding dihadapannya.



Guru Li mulai kesal, ia memperingati nomor 5 untuk tidak memberikan ide  yang buruk, karena ia tidak mau grup mereka menjadi kacau.

“Guru Li, dari permulaan, kamu selalu mengatakan kami tidak bisa melakukan ini atau itu. Baiklah, apa kamu punya ide? Katakan,” kata nomor 2 yang mulai emosi juga, menantang.



Tiba- tiba disaat itu, mereka berempat yang berada disana mendengar suara teriakan Xia Chi yang begitu keras. Dan menjadi terkejut. Sedangkan nomor 5 hanya tersenyum saja.

“Dia sudah mulai membuat pergerakan,” kata nomor 6, panik.



Xu Xiang yang berdiri disamping Xia Chi menutup telingannya. Lalu meminta agar Xia Chi berhenti. Dan menanyakan kenapa Xia Chi berteriak begitu keras dilorong yang bergema kuat seperti ini.

“Benar. Semuanya bisa mendengarnya,” kata Xia Chi, singkat.

“Apa ini maksudmu dengan membunuh dari jarak jauh?” tanya Xu Xiang, kagum, saat ia sadar maksud Xia Chi.



“Targetku berada digrup empat orang. Grup ini sangat rapuh. Selama ada kebimbangan dalam grup, mereka akan jatuh. Apalagi ada Bo Bian (nomor 5), meskipun aku tidak bisa meramalkan apa yang akan dia lakukan, tapi aku yakin dengan pasti, dia adalah orang dengan kemampuan yang kuat,” jelas Xia Chi.


Mendengar penjelasan Xia Chi, Xu Xian mau ikut berteriak. Tapi dengan segera Xia Chi menahannya, karena mereka harus menunggu dulu sebentar untuk melihat apa yang terjadi.



Nomor 2 mulai merasa heran dan menanyakan Bo Bian, apa benar nomor 7 (Xia Chi) adalah targetnya. Dan Bo Bian membenarkan.

“Berhenti bermain. Semenjak kamu memasuki lorong ini, kamu selalu bersama dengan kami. Bagaimana kamu bisa membunuhnya? Atau nomor 7 bukan targetmu ?” tanya nomor 2, mulai curiga.



“Jika kamu bicara seperti itu, maka kita punya masalah. Kita semua sekutu. Apa kamu meragukanku?” balas Bo Bian.

“Benar. Aku pikir kita tidak seharusnya meragukan sekutu kita,” kata nomor 6, setuju dengan Bo Bian.

“Aku tidak secara acak meragukan siapapun. Aku menilai situasinya berdasarkan bukti,” balas nomor 2.



“Ini hanyalah cara pemain lain untuk menciptakan ketidak percayaan diantara kita. Kamu jelas tahu kalau targetku nomor 7, tapi kamu masih menyerang nomor 7. Itu sudah jelas bermaksud untuk memisahkan kita. Jangan makan umpannya,” jelas Bo Bian.



Nomor 6 membela Bo Bian lagi, karena ia setuju. Dan hal itu membuat nomor 2 tidak senang. Lalu dengan sengaja, Bo Bian memegang bahu nomor 6 dan mengatai nomor 2 yang hanya peduli diri sendiri dan menyembunyikan pisau.


Orang ini. Dia sengaja menggunakan aku untuk melawan nomor 2. Yang dia lakukan sekarang adalah mengisolasi nomor 2 dari sisa grup ini. Pikir nomor 6, mulai curiga, tapi tidak bisa berbuat apapun, selain tetap diam.

Guru Li juga ikut membela Bo Bian dan menyalahkan nomor 2. Mungkin karena dari awal, ia sudah tidak senang dengan nomor 2.



“Guru Li, kamu tidak mungkin tertipu oleh nomor 5 juga kan?” tanya nomor 2, mulai semakin tidak senang.

“Setidaknya sampai sekarang. Nomor 5 tidak pernah melakukan apapun untuk membahayakan grup kita,” balas Guru Li.



Nomor 2 semakin emosi, hanya karena ia memungut pisau dari tanah, ia dianggap membahayakan grup. Lalu dengan tidak senang, ia mengacungkan pisaunya kepada Guru Li, mengancam.



Disaat itu, nomor 6 mulai panik. Dan dengan satu dorongan, Bo Bian mendorong nomor 6 kearah nomor 2. Sehingga karena terkejut, nomor 2 berbalik dan tanpa sengaja menusuk nomor 6. Dan melihat itu, Bo Bian tertawa. Sedangkan nomor 2 terkejut.



“Bukan aku. Bukan aku. Kamu yang menabraku,” kata nomor 2 dengan gugup, membela dirinya. Saat nomor 6 terbaring, berlumuran darah.

Sedangkan Bo Bian dengan tenang dan wajah tersenyum. Ia mengeluarkan hpnya dan memotret nomor 6 yang telah mati.



“Bukankah kematian hal yang indah? Terima kasih padamu yang telah membuat sebuah seni artistik. Nomor 2, kamu memang seorang artis,” kata Bo Bian sambil tertawa senang.




Guru Li mau merebut pisau nomor 2. Dan akibat masih merasakan terkejut, maka nomor 2 yang panik menyerang Guru Li. Lalu disaat itu, Guru Li meminta agar Bo Bian membantunya.

Post a Comment

Previous Post Next Post