Thursday, November 29, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 17 – 1

0 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 17 – 1
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
Syuting selesai dan semua bertepuk tangan dengan penampilan Suzy. Khun Nat bahkan sampai memuji Suzy yang sangat hebat. Krit membenarkan. Selesai syuting, Peter memberikan jaket untuk Suzy kenakan dan menuntunnya keluar dari ruangan. Da memperhatikan dengan senyum misterius dan Khun Nat melihat senyum Da tersebut.

Suzy segera masuk ke ruangan gantinya sementara Peter bicara dengan Thi. Thi ingin bertemu dengan Suzy untuk mengucapkan terimakasih, tetapi Peter menyuruh Thi untuk tidak sungkan. Suzy segera keluar ruangan dengan di temani Peter, sementara bodyguard menghalangi Thi agar tidak mendekati Suzy.
Mereka sudah hampir mencapai pintu keluar, ketika tiba-tiba muncul 2 orang pria yang langsung menyerang Suzy. Suzy yang ada ilmu bela diri dengan gampang menjatuhkan para pria itu dengan di bantu oleh Peter. Dan dari jauh, reporter yang menghampiri Da sebelumnya, memotret aksi Suzy tersebut.
Dua orang pria itu mencoba untuk membuka topeng Suzy. Dan berhasil, untungnya Na langsung menunduk dan menarik resleting jaketnya hingga ke atas dan menutupi separuh wajahnya. Peter panik dan berusaha menolong.

Semua datang karena mendengar suara ribut-ribut. Da tampak antusias ingin melihat wajah Suzy dan Khun Nat menyadari hal itu. Thi datang tidak lama kemudian, dan Da dengan panik memberi kode kepada reporter itu untuk segera kabur. Suzy sendiri dengan Peter langsung berlari masuk ke mobil mereka yang sudah tiba.
Khun Nat menarik Da untuk bicara. Sementara Thi, dia melihat topeng Suzy yang terlepas tadi.
Khun Nat langsung menuduh Da sebagai dalang atas kejadian tadi. Da awalnya berpura-pura bodoh, tetapi akhirnya dia mengaku kalau benar dia yang melakukannya. Tetapi, dia melakukannya juga demi perusahaan agar lebih terkenal. Khun Nat sangat kesal, dia meneloyor kepala Da dengan kesal dan memarahi Da karena selalu membuat masalah untuknya setiap hari.  
Da masih merasa kalau dia tidak salah. Khun Nat memperingati Da kalau Thi sampai tahu, dia pasti akan memecat Da. Da tidak merasa takut, karena dia yakin Thi tidak akan memecatnya hanya karena masalah itu.
“Ketika kau membuat masalah dengan simpanan kakaknya saja, dia sudah menurunkan jabatanmu. Apa kau tidak ingat? Khun Thi sangat serius dengan pekerjaan ini. Jadi, kau pikirkan saja jika Khun Thi tahu kalau ini perbuatanmu, dia pasti akan sangat marah. Dan aku tidak akan menolongmu.”
Da jadi takut mendengarnya. Tetapi, Khun Nat sudah pergi dan tidak mau bicara dengannya lagi.
--
Reporter itu menjauh dan melihat hasil foto yang di ambilnya. Krit menemukannya dan menahan reporter itu untuk kabur.
Da dan Khun Nat kembali ke lokasi syuting. Di sana sudah banyak yang berkumpul dan mereka juga sudah menangkap 2 orang pria tadi. Hia dengan marah bertanya siapa mereka? Tetapi, 2 pria itu tetap bungkam. Setelah di omeli, mereka baru bilang kalau mereka hanya orang sewaan yang di perintah untuk melepas topeng dari wanita tadi. Dan mereka juga tidak tahu siapa yang memerintah karena semuanya dilakukan via phone.
Krit datang dan menyeret si reporter. Wajah Da langsung tegang. Thi melihat kalau reporter itu menggunakan tanda nama kru, jadi dia menduga kalau reporter adalah anggota kru Hia. Hia membenarkan kalau tanda nama itu milik mereka, tetapi reporter itu bukan anggota mereka.
Krit memberitahu kalau wanita itu adalah reporter dan dia yang menyewa kedua pria tersebut. Dia ingin mengambil foto Suzy untuk majalahnya. Dan Thi bertanya siapa yang memberikan kartu nama itu padanya? Da makin takut.
Thi mendesak reporter itu. Dan reporter itu menatap Da. Da langsung melotot padanya. Pada akhirnya, reporter itu bohong kalau dia mencuri kartu nama itu dari salah seorang saff. Da langsung akting dengan memarahi si reporter.  Dan si reporter langsung memohon maaf.
“P’Thi. Aku rasa tidak perlu membesarkan masalah ini,” saran Da. Yang tentu saja, agar tidak ketahuan kalau dia terlibat.
“Tapi hal ini melanggar hukum,” ujar Krit.
“Tapi kalau berita ini sampai tersebar, tidak akan bagus untuk perusahaan.”
Krit masih tidak setuju. Tetapi, Thi menengahi. Dia akan membiarkan Suzy yang memutuskan, apa ingin menuntut wanita itu atau tidak. Da jadi makin cemas, apalagi saat dia menatap Khun Nat, Khun Nat memalingkan wajahnya.
--
Na memutuskan untuk tidak menuntut reporter tersebut. Peter dan Nuan jelas kaget dengan keputusan Na tersebut. Krit juga tidak setuju dengan keputusan Na dan menyuruhnya untuk menuntut saja. Na menjawab bijak kalau reporter itu hanya melakukan pekerjaannya, walaupun dengan cara yang salah. Dan dia tidak ingin merusak masa depan orang lain. Ya setuju dengan keputusan Na.
“Sekarang ini, masyarakat sangat sulit memaafkan hingga terjadi kekacauan dimana-mana. Jika reporter itu sudah menyadari kesalahannya dan menyesal, bukankah kita harus memaafkannya?”
Nuan dan Peter jadi merasa tidak enak karena semua orang sangat baik, sehingga mereka terkesan sebagai orang jahatnya. Semua jelas tertawa mendengar ucapan Nuan tersebut.
--
 Thi pulang telat. Dan Na ternyata belum tidur dan menunggunya. Dia bertanya mengenai syuting hari ini, dan Thi dengan semangat bercerita betapa hebatnya Suzy. Dia bahkan sangat berterimakasih karena ide dari Siriya, mereka bisa bekerja sama dengan Suzy. Thi kemudian menanyakan keadaan Siriya, dan Na berkata dia sudah lebih baik.
“Aku punya hadiah untukmu. Kau pasti suka,” ujar Thi dan memberikan topeng Suzy yang di temukannya tadi. “Topeng dari Suzy Roth. Dia menjatuhkannya tadi, jadi ku ambil.”

Na jelas kaget melihat topeng tersebut, apalagi Thi menempelkan topeng itu ke wajahnya dan berkomentar kalau Siriya terlihat seperti Suzy Roth. Na jadi tegang.
“Hey, walaupun kalian terlihat mirip, jangan terlalu senang. Kau hanya seperti copy an dari barang kelas A. Suzy Roth jauh lebih cantik daripada mu,” ujar Thi.
“Bagaimana kau tahu kalau dia cantik? Dia memakai topeng untuk menyembunyikan wajahnya. Dan tidak ada yang bisa kau lihat, kan?”
 “Aww. Khun, orang seperti ku ini, jika melihat wanita, cuma perlu lihat ke matanya saja untuk tahu apa dia cantik atau tidak.”
Dan Na tersipu malu mendengarnya. Thi malah heran melihat Siriya yang tersenyum padahal dia bukan memujinya. Na langsung beralasan kalau dia bukan tersenyum, tapi lagi olahraga mulut. Thi jadi khawatir kalau Siriya masih sakit. Na langsung menyuruh Thi untuk pergi mandi saja.
--
Wiset bertingkah mencurigakan, dia menelpon seseorang diam-diam dan membuat janji ketemu nanti malam. Untunglah, Wat tanpa sengaja mendengarnya.
Wat segera melapor pada Na mengenai Wiset yang menelpon dan mengorder sparepart. Na merasa tidak ada yang aneh dengan hal itu karena Khun Wiset kan di bagian pembelian. Wat membenarkan, tapi yang Khun Wiset pesan itu sparepart yang sebelumnya sudah mereka order dan sudah di antar kemarin. Dan tidak ada rencana untuk memesan spareparts baru lagi. Dia kan kerja di bagian mekanik, jadi dia yang paling tahu apa yang harus di order, dan dia lah yang biasanya melaporkan apa yang harus di order ke bagian pembelian.
“Dan yang lebih aneh, untuk apa bertemu jam 1-2 subuh? Dan kenapa harus bicara sembunyi-sembunyi di garasi mobil? Jika ini adalah lakorn, maka hal ini akan di sebut ‘mencurigakan’!”
Krit jadi curiga juga, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Khun Wiset.
--
Thi mengunjungi Chanat. Dan Chanat memberitahu kalau di hari kecelakaan Khun Pipop, Siriya dan Thi serta di hari si supir truk bunuh diri, ada nomor aneh yang menelpon ke nomor supir truk itu. Mereka mencoba menghubungi nomor itu kembali, tetapi pelaku mematikan ponselnya sejak hari itu. Jadi sekarang, mereka menghubungi provider nomor tersebut untuk mendapat informasi mengenai si pemilik nomor, dan mungkin sebentar lagi bisa di ketahu.
“Dan ada satu lagi. Ini sangat penting dan kau harus tahu,” ujar Chanat.
--
Praw sedang bergosip dengan teman-temannya sambil memegang secangkir kopi. Dia asyik bercerita hingga tidak menyadari kalau Khun Nat ada di belakangnya. Dan dengan ceroboh, Praw berbalik dan tanpa sengaja menumpahkan kopi di tangannya ke baju putih yang sedang Khun Nat kenakan. Praw sangat takut dan meminta maaf.
“Emang kalau minta maaf ada gunanya? Gimana kau akan tanggung jawab? Kau tahu betapa mahalnya baju ini, hah?!”
Dan Krit datang, dia mengomentari Khun Nat yang selalu marah dan mengungkit harga barang-barangnya, yang tentu orang tidak tahu. Khun Nat sedikit malu, dia meminta Krit untuk tidak ikut campur. Ini adalah urusannya dengan Praw.
“Karena aku adalah pengacara dari ST, maka biar aku selesaikan masalah ini,” ujar Krit. Dan Khun Nat tampak terkejut. “Cara terbaik adalah Khun Nat melepas baju itu dan mencucinya,” ujar Krit.
Krit mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan alamat laundry di sekitar kantor. Melihat ponsel Krit yang menggunakan case pemberiannya, membuat Khun Nat sangat senang dan melupakan rasa marahnya. Dia bahkan tidak mempermasalahkan hal ini lagi, dan menyuruh Praw untuk berhati-hati lain kali. Praw sampai kaget tapi senang juga.

Khun Nat menyuruh Krit untuk tidak ikut campur masalahnya lain kali. Krit berkomentar kalau dia tahu Khun Nat hanya menakuti tetapi tidak akan memperpanjang masalah. Khun Nat terkejut dan menyuruh Krit untuk tidak sok tahu mengenai dirinya, dia tidak menyukai hal itu.
“Kau tidak menyukainya… karena aku benar, kan?”
“Jujur saja, kau tidak takut padaku? Atau kau merasa Siriya akan melindungimu, makanya kau tidak takut.”
“Tidak. Aku tidak takut karena aku melihat kalau kau sebenarnya bukan orang yang kejam.”
Khun Nat merasa terharu mendengarnya. Tetapi, dia berusaha menyembunyikannya dengan menyuruh Krit menjaga jarak darinya, layaknya bos dan karyawan. Krit mengerti.
--
Khun Nat masuk ke dalam ruangannya dengan hati berbunga. Dia merasa senang karena Krit tidak takut padanya dan bahkan seolah bisa mengenal dirinya.
--
Krit bersama Nuan dan Na mengadakan rapat. Krit mengemukakan pendapatnya setelah bekerja bersama dengan Khun Nat, dia merasa kalau Khun Nat sebenarnya hanyalah wanita lemah.
“Tetapi kelemahannya dapat menjai kekuatannya untuk mengubahnya menjadi seorang pembunuh,” pendapat Nuan.
“Itu benar juga. Aku akan terus mengawasinya. Dan sekarang ini, dia sudah berhenti curiga kalau aku menyelidikinya. Harusnya sekarang lebih mudah bagiku untuk mendekatinya. Dan mengenai Khun Wiset dan spare part mobil itu, apa yang akan kau lakukan Na?”
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya Khun Wiset lakukan di belakang kita. Dan apa itu ada hubungannya dengan penggelapan dana perusahaan atau tidak. Malam ini, aku akan memeriksanya dengan mata kepalaku sendiri.”
--
Dan untuk melakukan rencananya itu, Na berpura-pura terkena flu dan demam. Nuan juga ikut berakting dan menyuruh Thi untuk menjauh dari Na agar tidak tertular. Thi tidak percaya kalau Na sakit, karena sebelumnya sudah tampak sehat, dia menduga kalau Na tidak mau pergi kerja makanya pura-pura sakit. Na langsung menyuruh Thi untuk melihat tissue-nya yang penuh ingus, kalau tidak percaya. Dan tentu saja, Thi tidak mau. Dia akhirnya memilih untuk percaya saja kalau Na sakit.

Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.


No comments:

Post a Comment