Sunday, December 2, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 5 - part 3

0 comments


Network : GMM One
Kompetinsi selanjutnya, yaitu Kompetensi matematika. Didalam kelas, guru menyebut Punn sebagai siswa berbakat dari SMA Ritdha Wittayakom yang harus diwaspadai. Dan mendengar itu, Punn hanya diam saja dengan raut suram diwajanya.

Punn mengingat kejadian saat dikantin. Punn menjelaskan kepada Claire bahwa dia tidak bisa berhenti dan harus menyelesaikan semuanya. Lalu dengan sikap perhatian, Claire membalas bahwa mungkin saja semuanya bisa semakin parah.

“Aku sudah bilang akan berkompetisi. Aku tidak mau mengecewakan mereka,” jelas Punn.


“Jawab aku, Punn. Apa yang sebenarnya yang ingin kamu buktikan?” tanya Claire, sama seperti apa yang ditanyakan oleh Guru Pom.

“Aku hanya melakukan yang harus ku lakukan,” jawab Punn.


Saat Korn memotretnya. Punn pun tersadar dari lamunan nya.

Diruang rapat. Guru Pom memperlihatkan data yang dikumpulkannya dan menjelaskan kepada Direktur. Semua potensi Punn dalam belajar berasal dari imitasi. Dan setiap imitasi tersebut, menciptakan kepribadian baru pada diri Punn.

“Sudah ada hasil tes psikologinya. Gejala Punn sesuai dengan kriteria gangguan kepribadian ganda,” jelas Guru Pom.

“Ayahnya sudah tahu?”

“Belum. Punn bilang padaku, dia stress. Aku mencemaskannya. Jadi aku memintanya menggambar untuk melihat masalahnya. Punn mengumpulkan lukisan sebanyak lima kali, tanpa ingat dia sudah pernah mengumpulkannya. Kurasa tiap gambar mewakili tiap kepribadiannya,” jelas Guru Pom.

Dan dengan serius, Direktur melihat semua gambar pohon yang di gambar oleh Punn.



Didalam kelas. Punn mulai tampak kelelahan. Saat diberikan pertanyaan, dia berpikir sangat lama. Tidak seperti biasanya. Pertanyaan nya adalah mereka harus menggunakan angka- angka dalam persamaan kalian yang diberikan untuk mencapai hasil 570.

“Kepribadian Punn yang paling menonjol adalah kepemimpinannya. Sebagai pemimpin, dia teguh, mengejar kesempurnaan, dan siap menanggung beban harapan tinggi. Ini kepribadian yang dia tunjukkan pada orang lain,” lanjut Guru Pom menjelaskan.


Didalam kelas. Punn mengangkat tangannya. Punn menjawab dengan sangat baik, rumus dan angka yang disebutkannya mendekati angka 570 yaitu 569. Namun karena belum pas mendekati, maka guru mempersilahkan murid yang lain untuk menjawab bila ada jawaban yang pas nilai hasil akhirnya dengan 570.


Lalu disaat hampir saja Punn memenangkan kompetesi tersebut, Wave yang berada disana menjawab dan dia berhasil mendapatkan hasil 570 menggunakan angka dan rumus yang diberikan. Dan guru pun memujinya. Sementara Punn sendiri, dia tampak tidak senang.

“Kamu hebat. Kenapa tidak ikut berkompetisi?” tanya Guru pada Wave.

“Punn mungkin lebih pintar dariku,” sindir Wave.



“Kepribadian lain terwujud jauh di dalam perasaan nya. Yang pertama, paranoia. Tingkat kecemasannya tinggi, tidak pernah merasa aman. Dia selalu berpikir, ada yang mau melukai nya,” lanjut Guru Pom menjelaskan.

Punn mulai merasa gelisah. Dengan marah dia mendekati Wave dan menanyakan kenapa Wave melakukan ini, apa yang Wave mau. Korn meminta Punn untuk tenang, tapi Wave membalas dengan keras bahwa dia tidak berbicara kepada Korn.


“Kamu pikir dengan melakukan ini, kamu pantas jadi Ketua Kelas?” teriak Punn kepada Wave.

“Buat apa aku peduli soal itu? Toh aku lebih pintar darimu,” balas Wave dengan santainya sambil tersenyum. Dan mendengar itu, Punn mendengus.


“Kepribadian lain yang tersembunyi dalam dirinya didorong oleh rasa amarah. Kepribadian ini membuanya kasar, berani ambil resiko, dan tidak bisa menahan diri,” lanjut Guru Pom.



Punn duduk diatas meja Wave dengan sikap tenang. “Lebih pintar?” tanya nya, kemudian dia menendang Wave dengan keras, hingga Wave terjatuh. Dan sebelum Punn sempat memukuli Wave, Korn dengan segera langsung menahannya dan memukulnya agar sadar.

“Maaf,” kata Korn merasa menyesal.

“Tidak apa- apa. Kamu sudah lama ingin meninjuku, kan?” balas Punn. Lalu dia balas meninju Korn. Dan tidak berhenti disitu saja. Punn memukuli dan menendang Korn berkali- kali.



Melihat itu, Wave menjadi terkejut sendiri dan tidak tahu harus perbuat apa. Begitu juga dengan yang lain, beberapa berteriak, beberapa menjauh, tapi tidak ada yang menghentikan tindakan Punn sama sekali.

Tidak puas hanya memukuli dan menendang Korn saja. Punn mengambil kursi dan memukuli Korn menggunakan itu. Dan disaat Punn mengambil kursi yang kedua, Claire datang dan berteriak memanggil nama Punn. Sehingga Punn berhenti.



Claire menatap terkejut melihat perbuatan Punn kepada Korn. Lalu karena Punn sudah berhenti, maka para guru langsung menarik dan menahannya.

 Claire memperhatikan Punn dari luar UKS. Lalu Claire bertanya kepada Guru Pom yang berdiri dibelakangnya, apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Punn.


Dari jauh. Korn yang mendengar pembicaraan itu tampak sedih. Karena dia terluka sangat parah, tapi Claire malah lebih memperdulikan Punn.


“Cobalah untuk memahaminya. Mungkin dengan begitu, dia bisa memahami diri sendiri,” jelas Guru Pom sambil menyerahkan gambar Punn. Kemudian dia pergi.


Saat Claire melihat ke dalam UKS. Dia sangat terkejut, karena Punn telah menghilang. Punn kabur melalui jendela didalam ruangan UKS. Dan dengan cemas, Claire pun segera berlari untuk mencarinya.


Punn terduduk diam di depan piano dengan pandangan kosong. Kemudian tampak lah semua kepribadian yang berada di dalam dirinya.




Diri Punn sangat gelap. Semua kepribadian nya saling bertengkar dan menyalahkan. Dan Punn pun menghentikan mereka, karena apa gunanya saling menyalahkan.

Penakut : Tapi siapa yang duluan menghajar Wave?

Pemarah : Brengsek. Siapa yang tanya pertanyaan bodoh itu? Kalau aku diam saja, kamu bakal bikin kita kelihatan bodoh.

Pemimpin : Diam!

Pemarah : Kamu yang diam! Semua ini gara- gara kamu bertingkah jadi anak baik.

Pemimpin : Kamu pikir, kalian bisa lebih baiki daripada aku? Berkat aku, kita jadi Ketua Kelas, anak terpintar di kelas. Aku membuat Guru Pom menghargai kita dan Direktur bangga pada kita. Apa yang bisa kalian lakukan? Si brengsek? Atau si gila?

Penakut : Aku tidak gila. Aku lebih pintar darimu. Aku yang terpintar.

Pemarah : Apa untungnya jadi orang baik? Sudah berapa lama kita menderita begini?

Pemimpin : Aku mohon. Apa kalian lupa? Tiap kita bertengkar, dia bakal keluar.


Semua kepribadian langsung terdiam. Lalu si Penakut mengatakan bahwa ini bukan tergantung kepada mereka, tapi tergantung kepada… katanya sambil menatap kearah Piano yang kosong.


Tiba- tiba saja terdengar suara angin yang berhembus. Dan jantung yang berdetak dengan keras. Lalu muncullah kepribadian yang lain, sebuah kepribadian yang paling gelap dan menakutkan.


Kepribadian lain itu masuk ke dalam ruangan. Dia berjalan dengan perlahan mendekati si Pemimpin. Dan si Pemimpin meminta agar si Kepribadian lain ini jangan membuat lebih banyak masalah.

“Aku bukan mau membuat masalah. Tapi mau menyingkirkannya. Dan kamu yang membuat kita kena masalah,” katanya dengan dingin. Lalu dia memukul si Pemimpin. Dan 3 kepribadian yang lain juga ikut terjatuh karena pukulan tersebut.



Punn terjatuh. Dengan raut yang tampak kesakitan dan ketakutan. Lalu dia berdiri dan memukul dirinya sendiri dengan keras. Dan tepat disaat itu, Claire datang.

No comments:

Post a Comment