Sunday, December 2, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 5 - part 2

0 comments
Network : GMM One
Didepan mading sekolah. Punn berdiri memandang berita tentang dirinya sendiri. Disana foto nya dipajang sendirian. Dan di beri tulisan Punn Taweesilp Kebanggaan Sekolah Kita.


“Kamu tahu, kan, papan ini tidak berarti apa- apa?” tanya Wave mendekati Punn. “Atau kamu memang berpikir kamu sehebat itu?” lanjut Wave.

“Kamu tahu, kan, ini tidak akan mengubah kenyataan bahwa Direktur memilihku sebagai Ketua Kelas?” balas Punn

Dan Wave mengiyakan. Namun setidaknya, orang yang pantas menjadi pemimpin nya adalah seseorang yang sepadan dengannya. Dan setelah mengatakan itu, Wave langsung berjalan pergi meninggalkan Punn.


Diruang musik. Punn memainkan biolanya dengan kuat, seperti sedang melampiaskan emosinya. Sehingga benang pada biolanya patah dan melukai jarinya.

Tepat disaat itu, Guru Pom masuk ke dalam ruangan.


Selagi Punn mengobati jarinya. Guru Pom menjelaskan bahwa sejujurnya dia takut kalau Punn kebanyakan memakai potensinya tanpa tahu efek sampingnya. Dan Punn membalas bahwa ini cuma gara- gara stress saja.



“Bapak takut bukan cuma itu,” kata Guru Pom dengan serius.

“Maksud Bapak?” tanya Punn tidak mengerti.

“Bukan apa- apa. Tapi beri tahu aku kalau kamu punya masalah,” balas Guru Pom, seperti tidak mau menjelaskan maksudnya. Kemudian dia pamit dan berdiri untuk pergi.


Sebelum Guru Pom pergi, Punn menanyakan apa Guru Pom tidak menginginkan gambarnya. Dan Guru Pom pun berhenti serta menanyakan apa maksud Punn dengan heran. Kemudian tanpa menjawab, Punn memberikan gambarnya.

“Apa makna pohon di gambar ini?” tanya Guru Pom.

“Aku,” jawab Punn.



“Selamat datang kepada perwakilan dari 15 sekolah di Kompetisi Keunggulan Akademis 2018 di SMA Ridtha Wittayakom yang bertujuan memicu dan mengembangkan kemampuan.”

Didalam gedung olahraga. Punn melakukan lompat tali. Push-up. Dan berbagai pemanasan lainnya dengan sangat baik. Namun disaat akhir, dia tampak seperti kelelahan.


Pidato oleh Punn. “Karena itu, penting mengembangkan kompetensi kita. Untuk menunjukan jati diri kita, apa yang bisa kita lakukan…”

Didalam ruangan kelas. Punn berdiri di hadapan semua guru penilai. Disana dengan lancar dan sikap yang tegas tanpa keraguan, dia membacakan pidatonya dengan sangat baik. Dan sampai berbicara, Punn memegang sisi meja dengan kuat.


“Dunia saat ini bergerak tanpa henti. Tidak ada tempat untuk pencundang…”

Didalam ruangan kelas yang lain. Punn mengikuti kompetensi teka- teki. Disana dengan sangat baik dan hebatnya. Dia dapat menyelesaikan semuanya dengan mudah. Bahkan murid lain pun terpana melihat kepintaran nya. Dan Punn tersenyum bangga.


“Kompetensi membantu kita agar tidak tertinggal…”

Didalam ruangan kelas yang lain. Punn mengikuti kompetensi merangkai bunga. Disana dengan sangat cepat, Punn mampu merangkai bunga dengan begitu indahnya. Dan murid perempuan lain yang merupakan peserta sampai tidak percaya melihatnya. Sementara guru penilai bangga kepadanya.


“Saat kita belajar dan mengatasi keterbatasan kita, saat itulah kita ada,” kata Punn mengakhiri pidatonya dengan baik di hadapan para guru penilai.

Diruangan kelas yang lain. Punn mengikuti kompetensi bermain musik. Disana dia memainkan musik yang indah menggunakan biolanya. Dan ketika dia selesai bermain, semua orang bertepuk tangan untuknya.

 Didalam kantor Guru Pom. Punn menjelaskan bahwa karena dia telah dipilih menjadi ketua kelas di Kelas Berbakat, makanya dia tidak mau dianggap tidak berguna.

“Mon ikut berkompetisi, tapi hanya bidang olahraga. Itu karena potensinya terbatas pada olahraga,” jelas Guru Pom.

“Aku bisa segalanya,” balas Punn.


Dengan serius, Guru Pom bertanya apa yang sebenarnya ingin Punn buktikan. Dan dengan gugup, Punn memainkan tangannya di bawah meja, lalu dia menjawab bahwa dia hanya ingin menjadi yang terbaik.

“Terbaik untuk siapa?” tanya Guru Pom. Dan Punn terdiam.


Dikamar mandi. Punn berekspresi seperti baru saja tersadar. Dan dengan sikap kelelahan, dia menarik nafas. Lalu memandang dengan cemas ke sekelilingnya. Kemudian saat sudah lebih tenang, dia melihat pesan yang dikirim kannya kepada Ayahnya barusan.


Ayah, Direktur menunjukku sebagai ketua kelas. Jangan mengecewakannya. Kompetisi nya hari ini. Aku memenangkan semua perlombaan pagi ini.

Didekat wastafel. Ada tiga orang yang sedang bercermin di cermin kamar mandi. Lalu disaat itu, tiba- tiba saja mereka mendengar suara seseorang yang seperti sedang berbicara dengan banyak orang.

Bodoh, kenapa kamu melakukan hal bodoh? | Dia kenapa? Pesannya dibaca, tapi tidak dibalas | Dia tidak punya waktu | Tidak punya waktu atau tidak peduli? | Ayolah, lakukan saja tugas | Dan apa yang akan kita dapatkan?

Heran mendengar itu, maka seorang dari mereka bertiga menendang pintu kamar mandi yang menjadi asal suara. Dan ternyata orang yang berada di dalam sana, ialah Punn sendiri.

“Kamu bicara dengan siapa?” tanya nya. Tapi Punn tidak menjawab.



Punn keluar dari kamar mandi dan menuju westafel untuk mencuci tangan, tapi sayangnya tidak air. Kemudian si Murid yang menendang pintu tadi mendekatinya dan menawarkan rokok padanya. Dan saat Punn ingin mengambilnya, si Murid tadi menarik rokok itu.

“Atau kamu mau mengisap yang lain?” tanya nya pada Punn sambil tertawa. Diikuti oleh kedua orang temannya juga. Dan Punn sendiri pun ikut tertawa  juga.


Lalu semua nya menjadi gelap. Dan ketika semuanya kembali menjadi terang. Terlihat Punn yang sedang memukuli si Murid tersebut sampai murid tersebut tidak sadarkan diri. Kemudian setelah akhirnya Punn tersadar, Punn menjadi ketakutan sendiri kepada dirinya.


Didalam gedung olahraga. Punn berdiri terdiam. Dan melihat itu, seorang guru memanggil namanya berkali- kali sambil memegang bahunya. Kemudian barulah Punn tersadar.

“Sudah waktunya. Ayo,” kata si Guru. Dan Punn mengiyakan.


Kompetensi tenis meja. Punn bermain melawan saingannya dengan pandangan kosong. Namun walau begitu, dia berhasil bermain dengan sangat baik.


Saat waktu beristirahat. Punn duduk sambil meminum minumannya. Kemudian setelah itu, dia kembali bermain lagi. Dengan sangat fokus, Punn berhasil mengalahkan saingannya.


Keesokan harinya. Diumumkan pemenang lomba kompetensi. Dan Punn berhasil menjadi pemenangan dalam semua kompetensi yang diadakan. Lalu mengetahui hal itu dan melihat jadwal Punn yang begitu padat, Claire menjadi khawatir.

Didalam kantor. Guru Pom memperhatikan semua biodata dari berbagai orang. Kemudian dia menghubungin seseorang dan memintanya untuk mengirimkan hasilnya hari ini.



Didalam ruangan kelas. Punn mengikuti kompetensi mengeja. Dengan sangat hebat, Punn bisa mengeja dengan sangat baik sebelum batas waktu yang diberikan padanya habis. Dan ntah karena apa, disaat terakhir, Punn tiba- tiba terdiam agak lama, tapi walau begitu dia berhasil mengeja dengan sempurna hurup dari kalimat bahasa inggris yang diberikan oleh Guru. Sebelum waktunya habis.

Punn berhasil memenangkan lomba mengeja. Dan selanjutnya adalah lomba dansa ballroom. Melalui pengeras suara, guru mengumum kan agar semua peserta segera mendaftarkan diri dalam waktu sepuluh menit.

Dikantin. Claire mempersiapkan makanan dan minuman. Kemudian saat Punn datang, dia mengajak Punn untuk makan bersama. Namun dengan heran, Punn bertanya bukankah ini waktunya untuk lomba dansa ballroom. Dan Claire membenarkan.

“Jadwalmu padat hari ini. Kamu pasti capek. Aku mundur dari dansa ballroom agar kamu bisa makan,” jelas Claire sambil memegang tangan Punn. Tapi Punn menepis dengan kuat tangan Claire.



Punn berjalan mendekati meja dan memperhatikan makanan serta minuman yang telah Claire siapkan. Dan dengan riang, Claire menjelaskan bahwa itu semua adalah makanan kesukaan Punn. Dalam menyiapkan semua ini, Claire sampai bermasalah dengan  Bu Ladda, tapi karena Direktur mengizinkan siswa Berbakat boleh pesan antar, maka Claire pun bisa menyiapkan semua ini.

“Apa- apaan? Ini bukan waktunya. Aku harus bertanding,” kata Punn tidak senang.

“Aku mundur dari lomba demi kamu. Kamu sudah melakukannya seharian, Punn,” balas Claire.



Bukannya senang dengan perhatian Claire, Punn malah marah. Dan Claire berusaha menenang kannya. Tapi Punn menolak makanan dari Claire. “Jangan menggangguku!” teriaknya sambil menepis tangan Claire yang ingin menyuapinya.

“Ada apa?” tanya Claire dengan rasa terkejut.

“Jangan menggangguku!” teriak Punn, lalu berjalan pergi.


Claire berjalan mengikuti Punn, dia mengatakan bahwa ini adalah akibat Punn terlalu banyak memakai potensinya dan dia melakukan ini karena dia peduli pada Punn. Mendengar itu, Punn berbalik dan berjalan mendekati Claire.



“Peduli padaku? Kamu peduli padaku? Tidak ada yang baik padaku. Tidak ada! Tidak seorang pun! Tidak pernah! Tidak pernah!” teriak Punn sambil mulai menangis dan berbalik untuk pergi.

“Kamu siapa?” tanya Claire yang merasa aneh melihat sikap Punn.


Saat Punn berbalik ke arah Claire kembali. Aura nya tampak berbeda. Dia tidak menangis lagi. “Bukan apa- apa. Maaf. Aku cuma lelah. Entah apa yang ku lakukan,” kata Punn dengan lembut.



Tanpa mengatakan apapun atau bertanya lagi. Claire memeluk Punn dengan erat. Dan Punn balas memeluk Claire juga dengan erat.

No comments:

Post a Comment