Monday, December 10, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 6 - part 3

0 comments
Network : GMM One
Merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan didalam gedung olahraga. Koi dan Mamuang mengintip ke dalamnya, karena menurut Koi, tadi pasti Art sedang menyembunyikan sesuatu. Dan tepat disaat itu Bu Ladda datang, dia bertanya apa yang mereka sedang mereka berdua lakukan.


“Klub Jurnalis bertugas menggali dan melaporkan keanehan apapun kepada publik,” jelas Mamuang beralasan.

“Omong kosong. Keanehan apa? Aku sendiri yang mengurus klub ini, semua baik- baik saja,” balas Bu Ladda.

“Kalau begitu kenapa kami dilarang masuk?” tanya Koi dengan berani.


Bu Ladda langsung menegur mereka yang telah kelewatan, tapi karena mereka berdua tetap berdiri didepan pintu, maka Bu Ladda pun setuju untuk mengizinkan mereka masuk ke dalam ruangan olahraga.


Selesai mendengarkan Guru Pom melalui telpon, Mon meminta Art untuk mengambilkan bebat untuk Pang yang terluka. Dan dengan kebingungan, Art pun pergi. Kemudian setelah itu, dengan lemas Mon langsung berjongkok dan menghela nafas.

“Mon, ada apa?” tanya Pang sambil mendekat dengan jalan sedikit pincang.

“Pak Pom bilang, dari hasil pemeriksaanku, setelah potensiku bangkit. Ada peningkatan feromon di tubuhku. Feromon ini dikeluarkan bersama keringat. Itu yang membuat semua orang menggila,” jelas Mon.



Masuk ke dalam ruangan olahraga. Bu Ladda merasa aneh, karena ruangan yang sangat pengap. Namun karena para murid tampak biasa saja dari belakang, maka Bu Ladda menganggap itu baik- baik saja. Dan Koi pun mulai mengambil foto.

“…. Saat seseorang menghirupnya, feromon akan menstimulasi sistem saraf,” jelas Mon.

Seluruh murid tiba- tiba berbalik memandang kearah mereka secara bersamaan. Dan Bu Ladda terkagum karena hal itu. Tapi tiba- tiba saja para murid yang kelihatan seperti zombie hidup, mereka terus menatap tajam dan diam kepada Bu Ladda, Koi, dan Mamuang.

“… Meningkatkan kekuatan, tapi menurunkan kesadaran.”

Bu Ladda dengan tegas menyuruh mereka semua murid untuk kembali duduk, tapi mereka malah hanya diam saja.

“…. Mereka berani melakukan hal yang biasanya tidak mereka lakukan. Melepaskan perasaan bawah sadar.”

Bu Ladda berteriak, karena mereka semua tidak mendengarkannya. Sementara Koi terus memotret mereka.



“… Mereka bisa melakukan apapun, baik menyerang atau membunuh orang.”

Tiba- tiba saja semua murid berteriak dan berlari kencang ke arah mereka. Lalu melihat situasi itu, Bu Ladda dengan segera berjalan cepat ke arah pintu. Begitu juga dengan Koi yang langsung mengikuti. Sementara Mamuang yang tanpa sengaja terjatuh, dia berteriak meminta Koi untuk menolongnya

“Jangan, lari!” tegas Bu Ladda kepada Koi sambil menutup pintu olahraga.

“Kenapa bilang begitu, Bu?” teriak Mamuang. Dan tepat disaat itu, para murid yang telah menggila itu menyerang Mamuang yang tidak perdaya.

Pang menyuruh agar Mon ternang, karena Guru Pom pasti akan mengurusnya. Dan pas disaat itu, Art kembali. Lalu Mon berdiri dan bersikap seperti biasa saja. Kemudian pas disaat itu terdengar suara teriak dari dalam gedung olahraga.

Dengan segera mereka bertiga pun berlari ke arah sana. Namun karena Pang sedang terluka, maka Mon menyuruh Pang untuk tidak ikut dan ke klinik saja.



Melihat semua anggota klub yang berlari seperti zombie hidup, Art langsung menuduh bahwa ini pasti karena Duke. Tapi Mon segera membalas bahwa ini bukan karena Duke. Lalu dia mengajak Art untuk tidak membahas itu dulu dan membantu Bu Ladda.


Bu Ladda dan Koi berhasil tiba dengan selamat ke dalam ruang guru. Disana dengan segera Bu Ladda langsung mengambil pemukul dan mengunci pintu. Kemudian dia kembali bersikap tenang dan cool.

Guru yang melihat Bu Ladda kembali bertanya bagaimana meditasi nya. Dan Bu Ladda tidak bisa menjawab. Tepat disaat itu, para murid yang menggila itu sampai dikantor juga. Mereka memukul- mukul kaca pintu dengan kuat.


“Mereka pasti lelah. Nanti juga berhenti. Instrukturnya pasti punya cara menghentikan ini,” kata Bu Ladda dengan tenang.

“Si Insturkturnya juga menggila,” kata Koi dengan ngeri sambil menunjuk ke arah luar. Dimana si Instruktur juga sama saja dengan yang lain.

“Sudah cukup dengan Instruktur. Lain kali, panggil biksu saja,” balas Bu Ladda.



Melihat Art dan Mon, maka para zombie saling memanggil yang lain untuk berkumupul. Dan kemudian mereka memaki Mon yang telah merebut semuanya. Lalu karena syok mendengar itu, Mon pun terdiam.

Art memanggil nama Mon dan meminta Mon untuk segera lari, tapi Mon hanya berdiri diam saja. Jadi karena itu, Art pun melawan mereka semua. Lalu saat Art telah terkunci dan seseorang ingin memukulnya dengan tongkat kayu, barulah Mon tersadar dan mulai menyerang balik.



Bersama Mon dan Art saling bekerja sama menyerang mereka semua. Dan ketika telah selesai, Art menanyakan apa yang terjadi kepada Mon, karena Mon tampak sangat berkeringat. Lalu saat melihat tali sepatu Mon yang terlepas, Art pun langsung mengira bahwa itu alasan Mon bersikap aneh.



Pas disaat itu, para murid yang telah dikalahkan itu kembali bangkit berdiri dan menggelilingin mereka berdua. Lalu Mon meminta Art jangan melakukan apapun, biarkan saja dia. Dan karena Mon sangat yakin, maka Art membiarkan Mon untuk melawan semua nya sendiri.


Lalu ketika semua nya telah selesai, Mon segera berlari ke dalam ruangan olahraga dan duduk dengan sikap sangat lelah. Kemudian saat Art yang mengikutinya ingin mendekati nya, Mon dengan segera menyuruh nya untuk jangan mendekat. Dan Art pun menjadi keheranan.



Mon mengambil handuk dan menlap semua keringat nya. Kemudian setelah itu, Mon dengan sedih bahwa semua anggota klub membencinya. Dan Art membalas bahwa semua nya begitu tadi adalah karana obat- obatan Duke. Tapi Mon tahu bahwa itu bukan karena Duke.

“Mereka berpura- pura menyukai ku?” tanya Mon dengan keras.

“Memang kenapa kalau mereka pura- pura? Setidaknya aku sungguhan menyukai mu,” balas Art. Dan Mon pun terdiam.


Art berjanji bahwa apapun yang terjadi, dia tidak akan melakukan hal itu kepada Mon atau melukai Mon. Mendengar itu, Mon pun menjadi tenang kembali. Dan kemudian dengan perhatian, Art menlapkan hidung dan air mata Mon, dan Mon tersenyum senang.




Setelah itu, Mon berdiri untuk pergi. Tapi karena menyentuh Mon barusan, Art menjadi aneh. Dan dengan heran Mon pun bertanya apa yang Art lakukan.

No comments:

Post a Comment