Thursday, January 10, 2019

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 11 – 2

4 comments

Sinopsis Lakorn : Trabab See Chompo (Pink Sin) Episode 11 – 2
Images : Channel 3

Chaya memberikan hasil test DNA pada Peat. Dan Peat langsung melihat laporan test DNA tersebut, hasilnya adalah kemungkinan orang tua 2.88%. Tidak cocok. Dia dan Khun Nai bukanlah ayah dan anak. Peat menangis menyadari kenyataan itu.
Chaya berusaha menguatkan Peat dengan berkata kalau itu bukan masalah. Tapi, Peat tidak siap menerimanya karena itu artinya, dia anak siapa? Teriakan Peat terdengar oleh Katha dan Kris yang baru datang. Katha langung bertanya pada Chaya apa yang terjadi? Sementara Kris, dia memungut kertas hasil test DNA yang Peat buang ke lantai.
“Peat, dia…,” Chaya tidak bisa menjelaskannya.
Dan Kriss memberikan kertas hasil test tersebut. Katha terkejut, tapi tidak dengan Kriss. Sekilas aku seperti melihat senyum kemenangan Kriss.
“Aku minta maaf, Peat,” ujar Kris.
Katha memberikan isyarat pada Kris untuk keluar dan memberi waktu pada Peat. Kris mengikuti Katha keluar dan sebelum keluar, Kris menjatuhkan hasil test DNA itu ke lantai dan bahkan menginjaknya.
Pas sekali, Khun Nai dan Kiew tiba. Mereka heran melihat Kris dan Katha yang berdiri diam di depan ruangan Peat. Katha kesulitan menjawabnya pertanyaan Khun Nai dan hanya membawa mereka masuk ke dalam ruangan Peat. Tee melihat kertas hasil test DNA dan memberitahu kepada Khun Nai.
“Peat, kenapa kau seperti ini?” tanya Khun Nai.
Melihat Khun Nai, membuat Peat teringat sikap kurang ajarnya pada Khun Nai. Dia selalu marah, membentak dan bahkan mengancam Khun Nai.
“Aku bukan putramu,” ujar Peat.
“Apapun hasilnya, aku tidak peduli. Bagaimanapun kau adalah putraku!” tegas Khun Nai.
Kiew juga berusaha memberi pengertian pada Peat kalau tidak ada yang berubah, cinta Khun Nai pada Peat tetap sama seperti sebelumnya.
“Kau bukan aku, makanya kau bisa bilang begitu!” marah Peat.
Khun Nai berusaha bicara, tapi Peat dengan tegas meminta waktu sendiri. Khun Nai dengan sedih keluar dari ruangan Peat di ikuti oleh Kiew. Air mata Peat menetes. Semuanya mengerti kalau Peat perlu waktu sendiri. Jadi, semuanya pergi keluar dan meninggalkan Peat sendirian di ruangan.
Khun Nai menjauh dari yang lain. Dia menangis dan berusaha menyembunyikan tangisan itu. kiew menghampirinya dan berusaha menguatkan Khun Nai agar tetap kuat.
“Aku kasihan pada Peat. Apa yang harus ku lakukan sekarang?” tanya Khun Nai dengan sedih.

Peat sendiri berusaha menghapus air matanya. Dia terdiam sesaat dan mulai mengambil koper yang telah di sediakan Taeng untuknya. Peat menukar baju pasiennya dengan baju biasa, mengambil kunci motor, dompet dan ponselnya dari dalam laci. Peat memutuskan untuk pergi.
--

Kiew juga menjauh dari yang lain. Dia tampak benar-benar sedih dengan kenyataan yang harus di hadapi Peat. Pas sekali, Pa menelponnya. Mendengar suara Kiew yang bergetar membuat Pa merasa khawatir dan bertanya ada masalah apa?
“Aku merasa kasihan pada Nai Peat. Aku kasihan pada Ayah. Aku kasihan pada setiap orang yang harus terluka karena masalah ini,” cerita Kiew.
Chaya, Kris dan Katha sudah turun ke lobby untuk pulang. Tapi, tiba-tiba saja Chaya ingin kembali untuk menemani Peat. Kris segera menghentikannya.

“Jika aku adalah Peat, aku pasti sudah gila!” komentar  Pa.
“Tapi semuanya terjadi karena aku,” tangis Kiew. “Jika bukan karena aku membuatnya marah dan membuatnya mengendarai motornya dengan ngebut dan mengalami kecelakaan, dia mungkin tidak harus menghadapi masalah darah ini. Tidak harus menghadapi kenyataan menyakitkan ini.”
“Kau tidak harus merasa bersalah. Kebenaran tetap akan terungkap suatu hari nanti, walaupun itu akan lebih cepat atau lebih lama dengan metode apapun. Tetaplah kuat, Kiew. Sekarang kau harus kembali ke ayahmu dulu, ayahmu pergi dukungan moral sekarang.”
“Kau benar. Aku harus kuat dan harus mencari cara untuk menolong ayah terkait Nai Peat.”
Pa terus menyemangati Kiew dan Kiew berterimakasih atas dukungan Pa padanya.

Chaya ngotot ingin kembali ke ruang rawat Peat, tapi Kris terus melarangnya. Katha juga mengajak Chaya untuk pulang karena Peat pasti tidak mau menemui siapapun sekarang.  Chaya tetap pada pendiriannya untuk kembali. Kris dan Katha terpaksa mengikutinya.
Pas sekali, mereka masuk ke lift untuk naik. Sementara Peat keluar dari lift di sebelah lift mereka untuk turun. Jadi, mereka tidak saling bertemu.
--
Khun Nai merobek kertas hasil test DNA yang di pungut oleh Tee di lantai. Khun Nai memerintahkan Tee untuk menyimpan rahasia ini karena Peat akan selalu menjadi anaknya, saudara Kiew. Tidak akan ada yang berubah. Dia juga akan membicarakan hal ini dengan teman-teman Peat.
Chaya, Kris dan Katha tiba di depan ruangan Peat. Kris masih berusaha mengingatkan Chaya kalau Peat bilang butuh waktu untuk sendiri. Chaya tidak mau mendengar dan hendak masuk ke dalam ruang rawat Peat.
“Tunggu,” panggil Khun Nai yang datang bersama dengan Kiew dan Tee. “Aku punya hal yang ingin ku bicarakan.”
Mereka bicara bersama. Dan Khun Nai menyampaikan maksudnya kalau dia ingin Chaya, Kris dan Katha menyimpan rahasia mengenai Peat yang bukan putranya.
“Aku akan menjaga rahasia ini,” janji Katha.
“Aku tidak akan memberitahu siapapun,” janji Chaya.
Hanya Kris yang tetap diam dan tidak mengatakan apapun. Semua menanti jawaban Kris.
“Kris juga tidak akan memberitahu siapapun,” ujar Katha menggantikan Kris menjawab.  “Bukankah begitu, Kris?”
“Ya. Paman tidak perlu khawatir. Kami adalah teman Peat. Teman tidak akan menyakiti temannya,” ujar Kris (aneh, kenapa Kris tidak mau berjanji seperti Katha dan Peat ya?)
Setelah pembicaraan itu, mereka masuk bersama ke dalam kamar rawat Peat. Tapi, kamar itu kosong. Semua langsung panik mencari Peat yang menghilang, tapi tidak ada hasil.
Peat sudah pergi dari lingkungan rumah sakit dengan taksi. Tangannya mengepal penuh amarah.
 Tee melapor pada Khun Nai kalau dia sudah memeriksa kamera CCTV, dan Peat sudah pergi dengan taksi tadi. Khun Nai segera memberi perintah untuk menurunkan orang-orangnya mencari Peat.
--
Peat pergi ke makam ibunya, Panee.
“Kau menipuku, bu,” tangis Peat. “Membuatku mengira kalau kau adalah korban, tapi ternyata tidak! Kau membuatku menjadi setan! Menggunakanku sebagai alat untuk menyakiti ayah! Karena ayah jahat padamu. Tapi kau juga tidak berbeda jauh darinya, malah lebih kotor darinya. Ibu berani menggunakan anak dari selingkuhanmu untuk berbohong kalau dia adalah putra ayah! Setiap perkataan yang ku gunakan untuk menghina orang lain, sekarang berbalik padaku. Apa kau dengar, ibu?! Aku iri pada ibu, karena tidak harus lagi hidup untuk menghadapi semuanya. Ibu, bisakah kau membawaku? Aku tidak berani untuk bertemu siapapun sekarang. Terlebih ketika ayah bilang dia menyanyangiku. Semakin dia melindungiku, semakin aku merasa kalau aku sangat jahat,” tangis Peat. “Tidak ada yang akan mencintaiku. Menginginkanku. Aku tidak menerima cinta dari siapapun.”
--
Khun Nai bersama dengan Tee pergi mencari Peat. Dia benar-benar cemas pada Peat yang menghilang.
Khun Nai pergi ke makam Panee. Tapi, Peat tidak ada di sana. Khun Nai berdoa memohon agar Panee membantunya agar Peat kembali pulang. Dia sangat mengkhawatirkan Peat.
--
Kiew menelpon Pa dan meminta bantuan Pa untuk membantu mencari Peat. Jika dia melihat atau menemukan informasi Peat, tolong hubungi dirinya.
Chaya mencari Peat ke condo yang pernah di tinggali Peat 4 tahun yang lalu, tapi Peat tidak ada. Chaya akhirnya meninggalkan pesan suara, meminta agar Peat menghubunginya jika sudah menyalakan ponsel.
--
Pa pergi ke café-café dan meminta mereka menghubunginya jika melihat Peat. Pa memberikan nomor ponselnya. Dan ternyata dia bertemu dengan Katha yang juga datang ke café untuk melakukan hal yang sama.
Pa ingin menghindari Katha, tapi Katha menghalanginya. Seperti biasa, mereka bertengkar sebentar dulu sebelum ngomong baik-baik.
--
Sementara itu, Kriss kembali ke restorannya. Anehnya, Kris tidak sibuk mencari Peat. Sebaliknya, dia malah menyalakan musik dan duduk menikmati segelas wine.
Katha menelpon Kris dan Kris segera mengangkatnya.
“Kris, kau dimana? Apa sudah menemukan Peat?”
“Aku berhenti di restoran, tapi tidak melihat Peat. Aku berencana mencarinya di tempat lain lagi.”
“Eum, jika kau sudah menemukannya, telepon dan beritahu aku, ya!”
Kriss meng-iyakan. Dan kemudian mematikan teleponnya.
Setelah itu, Kris tersenyum sinis. Dai tidak berusaha mencari Peat, sebalinya, dia lanjut meminum wine-nya. Kris terus tersenyum seolah senang karena Peat telah menghilang.



BERSAMBUNG
  

4 comments: