Thursday, August 1, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 07

6 comments
Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 07
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi


Pintu kamar Shangyan di ketuk dan karena ketukan tersebut, Shangyan berhenti melamun dan berjalan ke pintu. Yang mengetuk adalah Demo, dan begitu mendengar langkah kaki Shangyan yang mendekat, Demo langsung berlari dengan cepat dan turun tangga. Tapi, dia malah terpeleset dan terjatuh di dekat tangga. Pas dengan Shangyan yang membuka pintu. Di depan pintu, Shangyan melihat makanan yang di bawakan Demo. Dia berjalan mendekati Demo yang terjatuh. Demo langsung berkata kalau dia tidak merasa sakit sama sekali. Demo malah lebih mengkhawatirkan Shangyan yang belum makan sama sekali. Dia meminta Shangyan untuk mencoba masakannya karena rasanya cukup enak.
Demo mengambil makanan yang di letaknya di depan pintu Shangyan dan meletakkannya ke atas meja komputer Shangyan. Dia berkata kalau dia tidak tahu kenapa Shangyan mendadak tidak mau makan, jadi dia memasak 2 makanan lain dan berharap Shangyan menyukainya.
Shangyan jadi merasa bersalah pada Demo. Padahal dia makan bukan karena tidak menyukai masakan Demo, akan tetapi karena hatinya yang mendadak berubah menjadi buruk karena teringat kenangan masa lalu.
“Maaf, untuk hari ini,” ujar Shangyan. “Ayo makan bersama.”

Demo sedikit kaget mendengar Shangyan yang meminta maaf padanya. Tapi, hal itu membuat dia menjadi lebih tenang karena artinya Shangyan tidak marah padanya. Dia dengan semangat duduk di samping Shangyan dan menunggu reaksi Shangyan terhadap masakannya. Dia terus bertanya, apakah masakannya dingin? Dia ada memasak telur. Telurnya baru di beli tadi sore, jadi masih sangat fresh. Dia tidak tahu Shangyan suka makan telur yang di apain (di goreng, di rebus atau di kukus) jadi dia membuat telur orak arik, tapi dia bisa membuat berbagai jenis masakan telur kok. Dia tidak tahu apakah Shangyan suka makanan pedas atau tidak, jadi dia membuat masakan yang tidak pedas. Kalau Shangyan suka masakan pedas, besok dia akan membuat masakan pedas. Dia terus saja bicara hingga Shangyan merasa terganggu.
Ah, senangnya melihat mereka. Shangyan bahkan memuji masakan Demo yang cukup enak. Demo sangat senang mendengarnya.
--


Esok hari,
Demo berada di dalam bandara dan mengangkat banner nama tinggi-tinggi sambil menunggu di ruang kedatangan. Dia hendak menjemput kakek. Tapi, walaupun sudah menunggu lama, dia tidak bisa menemukan kakek. Demo jadinya menelpon Wu Bai dan memberitahu kalau kakek masih belum ketemu. Apa Wu Bai bisa memberitahunya, bagaimana rupa kakek? Atau apa yang kakek kenakan?
“Okay, aku cek dulu. Kamu tolong angkat banner-nya sedikit lebih tinggi. Aku takut kakek tidak melihatnya, karena kakek sudah cukup tua,” ujar Wu Bai.
Setelah bicara dengan Demo di telepon, Wu Bai bicara dengan Shangyan. Dia memberitahu kalau Demo belum menemukan kakek. Apa Shangyan benar-benar tidak akan masuk untuk menjemput kakek?
“Jika aku ke sana, dia akan memarahiku. Jika aku tidak pergi, dia pun akan memarahiku. Jika aku harus di marahi olehnya di depan umum, lebih baik aku menunggu di mobil sambil mengumpulkan tenaga. Kenapa kau sendiri tidak pergi?”
“Aku pikir, sudah cukup Demo yang pergi,” jawab Wu Bai.
Dan akhirnya, tidak berapa lama, Demo datang dengan kakek. Begitu melihat Shangyan yang menunggunya di parkiran, kakek langsung berteriak memarahinya. Dia sudah tua, dan datang sangat jauh kemari, kenapa Shangyan tidak masuk untuk menjemputnya? Shangyan mah sudah biasa di marahi kakek, jadi dia sudah tenang-tenang saja dengan menjawab kalau dia kesulitan mencari parkiran tadi. Jadi, jangan marahi dia di depan umum lagi. Kakek semakin marah, kalau Shangyan takut malu di marahin depan umum, maka Shangyan harusnya mendengarkannya.

Wu Bai menyapa kakek. Dan kakek langsung bersikap sangat baik pada Wu Bai. Berbeda 180 derajat dari sikapnya pada Shangyan. Kakek memperhatikan Wu Bai yang menurutnya semakin kurus, dan dia pun mulai memarahi Shangyan yang pasti tidak memberikan makanan enak untuk Wu Bai.
“Jika aku tidak memberikannya makanan enak, apa mungkin dia bisa jadi begitu tampan? Jangan menyalahkanku,” ujar Shangyan.
“Kau kira aku tidak tahu kau? Workaholic (penggila kerja)! Sekali kau mulai kerja, apa kau ada waktu untuk menjaganya?” omel kakek.
“Kakek, kami semua di jaga dengan baik. lihat. Aku baik-baik saja dan sehat,” ujar Demo, membela Shangyan.
Kakek tertawa karena menurutnya Demo lucu dan baik. Shangyan yang sudah capek, menyuruh semuanya untuk segera naik ke dalam mobil.
--
Begitu sampai di rumah Shangyan, kakek langsung tertawa senang. Mereka duduk bersama di ruang tamu. Kakek menasehati Demo untuk segera pulang ke rumah saat sudah selesai kompetisi dan cari pekerjaan yang bagus. Demo jangan sampai jadi seperti Han Shangyan, yang hanya membuat masalah siang malam.
“Kakek, boss kami tidak asal membuat masalah,” ujar Demo, membela Shangyan.
“Boss? Kau sekarang jadi bagian dari mafia hah, bos?” sindir kakek sambil menatap tajam Shangyan.
Kakek kemudian baru tersadar, sekarang kan malam tahun baru, kenapa Demo tidak pulang ke rumah? Demo pun memberitahu kalau ayah dan ibunya sedang dalam perceraian dan pembagian harta gono gini. Jadi, walau dia pulang, dia juga tidak punya tempat tinggal. Kakek sedih mendengar cerita Demo tersebut.
“Han Shangyan, kau harus menjaganya dengan baik! Dia masih sangat muda!” peringati Kakek pada Shangyan.
“Kakek, aku sudah tidak muda lagi. Aku hanya terlihat muda,” ujar Demo.

Kakek tertawa senang. Demo benar-benar pandai mengambil hati kakek. Dia bahkan menawarkan diri untuk memberi kakek pijatan karena kakek pasti lelah setelah perjalanan jauh.
Sambil di pijat oleh Demo, kakek menyuruh Wu Bai membantunya membeli sesuatu. Dan kemudian, mereka akan bertemu seseorang untuk makan malam bersama. Sementara itu, dia memerintahkan Shangyan membawa masuk koper-nya dan bicara dengannya di kamar.
--

Ibu berteriak memanggil Dounan untuk turun karena kakak Dounan sudah pulang. Setelah itu, ibu kembali ke ruang tamu. Di ruang tamu ada ibu dan kakak Dounan. Kakak Dounan dengan baiknya menunjukkan oleh-oleh yang telah di belinya untuk ibu Tong Nian.
Di atas, Dounan sedang bermain di kamar Tong Nian. Dia penasaran, apakah Tong Nian masih ada main game waktu itu? Tong Nian dengan lemas menjawab kalau dia sudah tidak memainkannya. Dounan jadi penasaran dan bertanya, apakah Tong Nian sudah tidak suka para pria itu (Shangyan)?
“Bukan,” jawab Tong Nian.
Dounan semakin-makin penasaran dan meminta Tong Nian menjelaskan lebih jelas padanya. Akhirnya, Tong Nian pun memberitahu kalau Shangyan bilang tidak ingin pacaran sekarang dan ingin fokus dalam karirnya. Jadi, dia di tolak secara langsung.
Sama seperti Yaya, Dounan merasa itu hanyalah alasan yang di buat-buat. Dan untuk menghibur Tong Nian, Dounan menyebut Shangyan yang terlalu tua dan tidak cocok untuk Tong Nian. Tong Nian kesal dan menyuruh Dounan untuk turun saja dan bersiap karena mereka akan makan malam bersama.
“Aku tidak ingin pergi. Setiap kali kakak pulang, aku selalu di abaikan dan di marahi,” ujar Dounan. “Setiap orang di keluarga ku itu tirani, kecuali aku.”
“Kau tidak tahu diri ya? Bukankah kakak mu selalu membawakan oleh-oleh untukmu?”
“Semakin bagus hadiahnya, semakin ibuku berpikir aku bukanlah apa-apa,” jawab Dounan.
Tong Nian malah mengejeknya karena tidak rajin belajar. Dounan tidak menjawab lagi dan bermain dengan laptopnya. Tong Nian pun main dengan laptop-nya.
--
Di bawah, kakak Dounan bertanya pada ibu Tong Nian, apa yang Tong Nian dan Dounan lakukan di kamar? Ibu menjawab kalau Dounan mengajarkan Tong Nian bermain game. Jadi, mungkin sekarang sedang main game bersama.
“Ma, kau harus berhati-hati. Pastikan dia tidak kecanduan game,” ujar kakak Dounan pada ibunya.
“Okay, okay. Ibu akan memarahinya dengan benar di rumah,” ujar ibu Dounan.
Lho, berarti benar seperti kata Dounan lah. Kakaknya ini menyebalkan.
Dan tampaknya, mereka juga sedang menunggu seseorang. Mereka terus melihat jam dan berkata mungkin ‘mereka’ sedang dalam perjalanan. Ibu Dounan juga menceramahi kakak untuk tidak bersikap ceroboh karena ini adalah hal penting.
--


Di atas, Tong Nian diam-diam memperhatikan Dounan. Setelah yakin Dounan sibuk bermain game di ponsel, Tong Nian memakai headphone-nya dan mendengarkan video rekaman Han Shangyan. Owh, dia masih menyukai Shangyan.
Dounan sudah siap main game, dan melihat Tong Nian yang senyum-senyum sendiri sambil melihat laptop. Dia langsung bertanya, apa yang diam-diam Tong Nian lihat? Tong Nian segera melepas headphone-nya dan berkata dia tidak melihat apapun. Tong Nian segera mematikan video dan pergi ke kamar mandi.
Baru juga jalan di kamar mandi, dia malah mendengar suara dari laptop-nya. Ternyata, screen saver yang Tong Nian pasang di laptop adalah karikatur gambar Shangyan dan dirinya, dan karikatur itu mengeluarkan suara. Dimana yang di bicarakan karikatur tokoh Shangyan adalah saat menolak Tong Nian.
Dounan jelas mendengarnya dan langsung berlari ke laptop Tong Nian. Tong Nian juga lari dan melarang Dounan melihat laptop-nya. Walaupun tidak lihat, Dounan udah dengar. Mereka mulai saling berdebat.
“Kau pacaran ya? Kau pacaran!” yakin Dounan.
Tong Nian berkata tidak. Dan mulai memukuli Dounan.
--
Kakek dan Shangyan tiba di sebuah rumah. Itu rumah yang ingin di tuju oleh kakek. Pas udah turun dari mobil, kakek baru sadar kalau Shangyan memakai baju warna hitam. Dengan santai, Shangyan menjawab kalau lemari pakaiannya isinya ya pakaian seperti ini semua.
“Hari ini adalah perjodohanmu, tidak bisakah kau menggunakan baju yang lebih bagus?” marah kakek.
“Mana aku tahu kalau kakek membawaku ke sini untuk perjodohan. Aku kira kakek mau ke sini karena ingin bertemu teman lama.”
“Aku kasih tahu ya, perjodohan hari ini harus sukses dan tidak boleh gagal.”
Kakek malah berkata kalau kakek harusnya sekalian menyiapkan pernikahannya saja daripada perjodohan seperti ini. Dia menyuruh kakek untuk masuk dan dia akan pergi. Setelah selesai, kakek tinggal menelponnya saja.
Kakek langsung berakting dada-nya sakit supaya Shangyan tidak pergi. Eh, tapi, Shangyan tidak tertipu sama sekali. Jadi, kakek menyuruh Shangyan untuk ikut dengannya saja masuk ke dalam.
Ternyata, rumah yang di tuju oleh kakek adalah rumah Tong Nian. Kakek ingin menjodohkan Shangyan dengan kakak Dounan. Kakek Tong Nian dan kakek Shangyan adalah teman dulu.
Kakak Dounan tampak sekali berusaha bersikap sangat elegan. Kakek sih tersenyum senang. Sementara Shangyan tampak malas.
“Halo, aku Hu Yuejiao,” ujar kakak Dounan, memperkenalkan diri dan menyodorkan tangan.
“Han Shangyan,” jawab Shangyan, tidak membalas sondoran tangan Yuejiao. Yuejiao jelas malu dan kakek melihat hal itu, langsung menarik tangan Shangyan agar bersalaman dengan Yuejiao.
 Yuejiao berusaha tidak malu dan berbaik-baik pada kakek.

Saat itu, Tong Nian dan Dounan turun ke ruang tamu. Tong Nian masih mengenakan piyama, dan dia sangat terkejut melihat Shangyan. Dia sampai terjatuh ke belakang dan untunglah ada Dounan yang menahannya dari belakang. Shangyan juga kaget melihat Tong Nian. Ibu memarahi Tong Nian karena mengenakan piyama dan menyuruhnya untuk segera bertukar pakaian.
“Tunggu,” ujar Shangyan dan berjalan menghampiri Tong Nian yang sudah mau naik tangga. “Ini… rumahmu?”
“Ya… sungguh kebetulan kan?” ujar Tong Nian dalam hati. Tapi, dia hanya tersenyum terus dan mengangguk dengan malu.
Ibu jelas heran melihat mereka. Dan Shangyan langsung berpura-pura menanyakan kamar mandi. Sementara Tong Nian langsung naik ke kamarnya.

Tong Nian sudah selesai bertukar baju dan bergabung dengan mereka. Dounan dan Tong Nian saling berpandangan, Dounan berbisik bertanya pada Tong Nian, kenapa Shangyan bisa ada di sini? Tongnian mana tahu.
Ibu memberitahu kakek kalau Tong Nian sekarang sedang kuliah jurusan komputer. Kakek memuji Tong Nian yang tampak baik. Dan kakek langsung memberitahu kalau dia punya seorang cucu yang sangat tampan. Cucunya juga kuliah jurusan ilmu komputer. Dia berharap kalau Tong Nian dan cucunya bisa saling berkenalan. Dan nanti cucunya akan bergabung dengan mereka makan malam.
“Hey, bukankah kau merasa Xiao Bai (Wu Bai) dan dia sangat cocok?” bisik kakek pada Shangyan.
“Aku tidak tahu. Jika kau merasa mereka cocok, maka mereka cocok,” jawab Shangya, balas berbisik.
Kakek kesal dengan jawaban Shangyan itu. Walau kesal, dia tetap menyuruh Shangyan mengirim pesan pada Wu Bai agar tidak terlambat datang di makan malam nanti.
--
Setelah selesai berbincang, mereka bersama-sama pergi ke restoran. Kakek ikut dengan mobil keluarga Tong Nian. Sementara Tong Nian, Dounan dan Yuejiao ikut mobil Shangyan. Sebelum masuk mobil, kakek memperingati Shangyan untuk bertanya berat, tinggi dan apa yang Yuejiao sukai. Shangyan hanya diam saja dan terus menatap ke arah Tong Nian.

Tong Nian dan Dounan bingung. Pas saat itu, ibu mendekati Tong Nian dan memberitahu kalau Yuejiao di jodohkan dengan Shangyan. Jadi, nanti saat di dalam mobil, Tong Nian harus mendengarkan apa yang mereka bicarakan dan lakukan. Tong Nian shock dengar mengenai perjodohan.


Shangyan sudah naik duluan ke dalam mobil. Dia dengan sengaja, melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi penumpang sebelahnya. Sementara itu, Tong Nian menolak untuk duduk di mobil Shangyan.
Dounan sudah masuk ke dalam duluan sambil meminta maaf karena harus menumpang di mobil Shangyan. Shangyan hanya diam. Hal itu membuat Dounan semakin takut. Ibu sendiri membujuk Tong Nian untuk menjadi anak baik dan masuk ke dalam mobil.
Tong Nian sedang sedih sebenarnya, karna Shangyan kan menolaknya dengan alasan tidak mau pacaran. Kenapa sekarang malah mengikuti perjodohan? Tong Nian memarahi dirinya sendiri yang sudah bodoh. Jelas, Shangyan hanya tidak mau berurusan dengannya hingga membuat alasan seperti itu.

Tong Nian naik ke dalam mobil Shangyan dan duduk di bangku belakang bersama Dounan. Yuejiao memilih duduk di bangku depan. Tapi, dia melihat ada jaket dan memberitahukannya pada Shangyan. Tapi, Shangyan hanya diam. Yuejiao sadar kalau artinya dia tidak boleh duduk di sampingnya. Terpaksa, Yuejiao duduk di bangku belakang  bersama Tong Nian dan Dounan.
Saat duduk di bangku belakang, Yuejiao menyindir Shangyan sebagai pria yang tidak tahu sopan
santun. Shangyan pasti bisa dengan jelas mendengar sindirannya, tapi dia mengabaikanya.
Dalam perjalanan, Yuejiao benar-benar sudah kesal. Dia berkata kalau mereka sudah dewasa, jadi lebih baik langsung saja. Dia akan memperkenalkan dirinya. Dia bekerja sebagai marketing dan me-manage brand-brand.
“Aku tidak punya pekerjaan,” jawab Shanngyan.
“Lalu, kau pasti punya karir. Aku dengar dari bibi kalau kau memulai bisnis mu sendiri.”
“Karir? Apa bermain komputer termasuk?”
“Bermain komputer? Jadi, kau orang tanpa pekerjaan jelas yang tinggal menumpang pada orang tua,” ejek Yuejiao.
Tong Nian  tampaknya tidak suka mendengan ejekan Yuejiao, sehingga dia berkata kalau apa yang Shangyan lakukan adalah karir standar pada umumnya.
“Mereka adalah jenius cybersecurity. Mereka menang mendali di kompetisi,” ujar Tong Nian. “Dan jika mereka menang, mereka mendapatkan hadiah uang. Hadiah uang yang sangat besar! Tapi, mereka melakukannya bukan hanya untuk uang, tapi juga untuk kebanggaan. Sebenarnya di China, ada banyak teknologi internet kita yang lebih maju dari negara lain di dunia, dan menerima banyak mendali.”
Shangyan mendengarkan semua ucapan Tong Nian tersebut. Tampaknya, dia suka dengan Tong Nian yang tidak memandang hina pekerjaannya, dimana biasanya banyak orang awam yang mengira apa yang di kerjakannya adalah hal tidak berguna. Yuejiao tetap saja memandang remeh Shangyan. Shangyan sudah kesal dan meminggirkan mobilnya.
“Biar ku perjelas saja. Aku tidak tertarik padamu. Dan bahkan untuk ke depannya, aku pastikan tidak akan pernah tertarik padamu. Tentu saja, kau bisa saja tidak tertarik pada orang sepertiku. Kita sudah dewasa. Ayo kerja sama untuk menghabiskan makan malam dan jelaskan pada orang tua masing-masing. Bagaimana?” ujar Shangyan dengan tegas pada Yuejiao. “Juga, kau jangan bertingkah seperti kau tidak mengenalku. Apa kau tidak lelah berpura-pura?” ujarnya pada Tong Nian.

Tong Nian kaget. Yuejiao langsung menatapnya. Dounan terus menundukan kepala, tidak mau ikut campur. Yuejiao langsung tanya, apakah Tong Nian dan Shangyan saling mengenal? Tong Nian akhirnya jujur kalau mereka pernah bertemu tidak lama ini.
“Dia kan baru pulang dari luar negeri. Kau juga masih sekolah dan tidak punya pekerjaan. Bagaimana kalian bisa saling mengenal?” curiga Yuejiao.
“Di… di internet café.”
“Teman online?”
“Bukan. Aku bertemu dengannya di internet café.”
Dounan membenarkan. Yuejiao malah semakin curiga. Ada yang aneh.
--
Mereka akhirnya tiba di restoran. Keluarga mereka sudah lebih dahulu tiba. Begitu tiba, Yuejiao langsung di interogasi ibu. Yuejiao langsung bilang kalau Shangyan itu tidak punya pekerjaan serius dan tidak bisa di harapkan. Dia juga memberitahu kalau Tong Nian dan Shangyan juga tampaknya saling mengenal. Ibu Yuejiao juga ikutan curiga.

Tong Nian memilih masuk dengan Shangyan, dengan alasan demi sopan santun. Sebelum masuk, Shangyan memberitahu Tong Nian kalau dia tidak tertarik dengan Yuejiao.  Dan lebih baik jika Yuejiao tidak tertarik padanya juga. Dan apa yang Tong Nian katakan di mobil tadi, sama saja seperti membuat Yuejiao tertarik padanya. Dia tidak perlu orang luar untuk mengerti seperti apa karir-nya. Jadi, lain kali Tong Nian tidak perlu menjelaskan apapun pada Yuejiao mengenai dirinya. Dan juga, alasan kenapa dia membuka fakta mengenai mereka saling mengenal, bukan untuk membuat Tong Nian terlihat buruk. Tapi, karena kebohongan ini tidak bisa terus di tutupi. Nanti sepupunya (Wu Bai) akan datang dan pasti mengenali Tong Nian. Wu Bai pasti akan memberitahu kebenaran kalau mereka saling mengenal, jadi mereka tidak ada gunanya berpura-pura tidak mengenal. Mengerti?
“Mengerti. Kita bukan orang asing (tidak saling mengenal),” jawab Tong Nian.
“Ayo masuk.”
Mereka masuk ke ruangan yang sudah khusus di pesan. Begitu masuk, ibu Yuejiao (bibi Tong Nian) langsung menarik Tong Nian keluar untuk bicara dengannya. Dia bertanya, apakah Tong Nian mengenal Shangyan? Orangnya seperti apa?
“Aku hanya mengenalnya seminggu. Aku hanya tahu kalau dia sangat hebat bermain komputer.”
“Aku hanya ingin tahu kualitas-nya. Apa dia benar-benar tidak punya pekerjaan pasti? Atau dia hanya berpura-pura?”
“Bagus dalam komputer bukan berarti dia tidak peduli untuk memiliki pekerjaan jelas, kan?”
“Jadi, menurutmu, dia dan kakakmu…”
“Bibi,” potong Tong Nian. “Ponselku bergetar. Ada telepon. Dari teman sekelasku. Aku angkat dulu ya,” ujar Tong Nian dan mengangkat telepon. Dia sebenarnya bohong, tidak ada yang menelpon sama sekali.
Wu Bai tiba saat itu dengan membawa barang yang kakek suruh beli.



Begitu Wu Bai masuk, kakek langsung memperkenalkannya pada semua orang. Wu Bai bingung apalagi melihat Tong Nian masuk ke dalam ruang makan itu. Dia berbisik, bertanya pada Shangyan, kenapa gadis yang menyukai Shangyan bisa ada di sini? Shangyan dengan santai malah menjawab kalau keluarga mereka adalah teman dan juga kakek ingin Wu Bai kencan buta dengan Tong Nian. Wu Bai kaget. Dia tidak mau di libatkan hal seperti ini.
Eh, benar saja, kakek memanggil Tong Nian mendekat dan memperkenalkannya pada Wu Bai. Semua anggota keluarga tampak antusias. Kakek bahkan menyuruh Wu Bai dan Tong Nian duduk bersebelahan.
“Aku mengenalnya,” ujar Wu Bai, memberitahu semuanya. “Aku pikir dia… pacar abangku (Shangyan),” ujar Wu Bai.

Semua shock. Shangyan juga shock, lebih seperti di khianati sih. Dia bahkan langsung berdiri dan memarahi Wu Bai yang asal bicara. Kakek menyuruh Shangyan diam. Dia meminta Wu Bai menjelaskan dan hanya akan percaya pada omongan Wu Bai. Tong Nian juga panik.
“Aku tidak tahu detail-nya, tapi seluruh anggota klub kami memanggilnya ‘kakak ipar’,” beritahu Wu Bai.
Semua langsung menuntut penjelasan Tong Nian. Tong Nian kebingungan untuk menjelaskannya. Kapan Tong Nian dapat pacar? Kenapa mereka tidak tahu? Tong Nian menjawab kalau Shangyan bukan pacarnya. Bukan begitu situasinya. Shangyan hendak menjelaskan, tapi kakek marah dan menyuruhnya diam.
“Dounan, kapan kakakmu (Tong Nian) punya pacar?” interogasi bibi.
“Aku tidak tahu jelas-nya… tapi kakak suka padanya,” ujar Dounan. Tong Nian protes. “Aku bilang yang sebenarnya. Bukankah kau jatuh cinta pandangan pertama padanya? Tapi, aku tidak tahu kalau mereka jadi begitu dekat. Aku rasa mungkin saat di Guangzhou.”
“Kau, diam saja!” marah Tong Nian.
Situasi semakin rumit. Tidak ada yang mau mendengarkan penjelasan dari Shangyan ataupun Tong Nian. Dan mereka malah percaya Shangyan dan Tong Nian pacaran. Ayah Tong Nian saja sampai bilang, anggap saja hari ini pertemuan keluarga. Jika Shangyan ada waktu, Shangyan bisa datang ke rumah untuk berkunjung. Dan bibi yang tampak kesal, merasa seperti sudah di permalukan.
Shangyan sudah tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi pada semuanya. Dia akhirnya memperkenalkan diri pada ayah dan ibu Tong Nian.
“Namaku Han Shangyan. Aku dan Tong Nian belum lama ini bersama. Aku tidak mendapat izin-nya, jadi tidak ingin secara sembarangan berkunjung. Aku harap bibi dan paman bisa memaafkanku,” ujar Shangyan.
Ayah Tong Nian tampaknya tidak masalah. Tapi, ibu Tong Nian, tampak jelas tidak menyukai Shangyan. Ayah dan kakek bahkan mencoba mencairkan suasana tegang dengan mengajak semuanya untuk makan karna ini kan malam tahun baru.
Ibu diam-diam berbisik pada ayah kalau dia tidak suka pada Shangyan yang jauh lebih tua daripada Tong Nian. Dia tidak suka.

Shangyan sendiri mengajak Wu Bai untuk bicara dengan alasan masalah klub. Wu Bai mah tahu Shangyan ingin bicara apa padanya.
--
Diluar, Shangyan memarahi Wu Bai yang pasti sudah tidak ingin hidup lagi ya.
“Siapa suruh kau hanya duduk dan melihat saja?” protes Wu Bai, balik.
“Jika di ruangan itu tidak di isi oleh orang-orang asing, aku pasti sudah bersikap kejam padamu!”
“Tapi kau menerimanya?”
“Bagaimana bisa aku tidak menerimanya! Ini malam tahun baru! kakek sudah semakin tua. Jika terjadi sesuatu, kau mau bertanggung jawab?” jawab Shangyan dengan kesal. “Kakek juga. Dia tidak percaya siapapun dan malah memilih percaya pada pembohong besar sepertimu!”
Wu Bai mah Cuma senyum-senyum saja. Dounan malah keluar dan memanggil Shangyan dengan panggilan ‘abang ibar’. Dia berkata kalau mereka pasti bertakdir hingga bisa bertemu lagi. Dan juga, dia keluar karena kakek menyuruh mereka untuk masuk dan makan.
Di dalam, kakek berusaha memuji Shangyan di depan ibu. Dia memberitahu kalau Shangyan itu orang yang bertanggung jawab walaupun mukanya jutek. Dan juga, Shangyan berulang tahun tanggal 14 Februari dan Tong Nian tanggal 20 Maret, bukankah itu sangat dekat? Bukankah itu hal bagus? Ibu tampak sangat tidak suka mendengarnya.
Pas Wu Bai masuk, kakek menyuruh Wu Bai duduk di sebelahnya agar Shangyan yang duduk di sebelah Tong Nian. Shangyan mau bantah pun tidak bisa.
Tong Nian menulis pesan di ponselnya dan diam-diam menunjukkan pada Shangyan. Dia bertanya, kenapa Shangyan berbohong? Shangyan dengan suara kecil memberitahu kalau Wu Bai menyukai seseorang. Dan tidak ingin terlibat dengan wanita lain. Kemudian, ini adalah malam tahun baru dan dia tidak ingin merusak suasana. Setelah malam ini, mereka bisa mencari alasan kalau mereka putus.
“Baiklah,” ujar Tong Nian.
“Maaf.”
“Tidak apa. Ini kan untuk membantunya, kan?”
Shangyan mengangguk.

Kakek malah nyuruh Shangyan untuk ambilkan makanan untuk Tong Nian. Shangyan memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan banyak makanan dan minuman untuk Tong Nian. Sepertinya, dia ingin membuat orang tua Shangyan tidak menyukainya. Dan apa yang di lakukannya berhasil, karena ibu Tong Nian tampak semakin membencinya melihat cara dia memperlakukan Tong Nian.
Saat pulang, ibu bahkan langsung nyuruh Tong Nian masuk ke dalam mobil mereka. Tapi, kakek malah menyarankan agar Tong Nian naik di dalam mobil Shangyan. Karena kakek yang bicara, dan dia tidak enak pada orang tua, ibu Tong Nian dengan wajah muram menyetujui.
--
Shangyan tiba di depan rumah Tong Nian. Di dalam mobil hanya ada Tong Nian dan Shangyan saja. Tong Nian bahkan duduk di sebelah Shangyan.
“Aku ingin bertanya satu hal,” ujar Tong Nian.
“Jika ada yang mau di katakan, katakan saja.”
“Kapan kita akan putus?” tanya Tong Nian. “Karena… selalu ada waktu-nya, kan? Jadi aku bisa memberitahu orangtua ku.”
“Kapan kau ingin putus?” Shangyan bertanya balik. “Kau belum memikirkannya?”
Tong Nian bingung juga, “Bagaimana… bagaimana kalau bulan depan? Putus saat masih perayaan tahun baru China terlalu cepat. Itu tidak bagus.”
“Begini saja. Kau yang memutuskan. Ketika kau tahu kapan harus putus, kau beritahu aku. Selama kita belum putus, kau masih pacarku. Apapun yang kau inginkan, katakan saja. Aku akan berusaha yang terbaik melakukannya.”
Tong Nian kehilangan kata-kata. Dia menyukai hal itu.
Pembicaraan mereka harus berakhir karena ibu Tong Nian sudah keluar rumah untuk menjemput Tong Nian.
--
Di dalam, ibu bicara dengan ayah. Dia merasa cemas karena ini pertama kalinya Tong Nian pacaran dan tampaknya terlalu senang. Ayah berusaha menenangkan ibu untuk tidak terlalu khawatir. Dan alasan ibu khawatir adalah karena pacar Tong Nian adalah Shangyan.



6 comments: