Tuesday, August 20, 2019

Sinopsis Lakorn : Endless Love Episode 2 - part 3

0 comments


Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.
***

Sinopsis Lakorn : Endless Love Episode 2 - Part 3
Network : GMM 25

Min pulang dan memeluk Ayahnya dari belakang. Lalu dia membaca artikel yang sedang dibaca oleh Ayahnya.  “Mr. Piroj Songwattanagun. CEO dari Wattana Rungrueng Co.Ltd. membuat pernyataan publik tentang pembukaan rumah sakit baru untuk masyarakat kurang mampu. Rumah sakit tidak akan mengenakan biaya apapun untuk anak- anak, orang tua, dan pasien miskin. Dsb,” baca Min.
Min mengaku bahwa dia merasa bangga pada Ayah, dan lalu dia mencium pipi Ayah.

Piroj merasa senang, karena Min tampak bahagia. Itu berarti masalah Min dengan teman yang pernah Min ceritakan, segalanya berjalan dengan baik. Dan Min membenarkan. Mengetahui itu, Piroj merasa bangga pada Min, karena jika mereka memiliki kelebihan, maka mereka memang harus berbagi kepada sesama.
“Apa kamu tahu bahwa kamu adalah idolaku? Apapun yang kamu katakan, aku selalu mendengarkan,” kata Min sambil mengurut tangan Ayahnya.

Piroj kemudian melihat jam ditangannya, dan mengajak Min untuk ikut makan bersama dengannya dan Phon serta Ibu Phon. Dan Min menolak untuk pergi. Namun Piroj tidak mengizinkan, karena mereka sudah lama tidak makan bersama.
Dan sambil tersenyum, Min pun mengiyakan.
Dirumah sakit. Seorang perawat memberikan uang kembalian milik Phon. Kemudian dia mengomentari Phon yang selalu berbuat baik, seperti membayarkan biaya obat tambahan untuk para pasien, tanpa membiarkan para pasien tahu. Dan si perawat menyarankan agar Phon memberitahu para pasien supaya mereka tahu.

“Lebih baik tidak memberitahu mereka. Jika tidak mereka akan mencoba untuk memberikan sesuatu untukku sebagai gantinya. Aku tidak ingin merepotkan mereka. Lagian itu bukan jumlah uang yang banyak,” jelas Phon, bermurah hati.
“Aku senang para pasien memiliki dokter sebaik kamu,” puji si perawat. Dan Phon mengucapkan terima kasih padanya.

Direstoran. Piroj membahas tentang rumah sakit barunya, dan dia menawarkan Phon untuk datang serta bekerja di tempatnya. Dan Phon setuju, dia menjelaskan bahwa dia telah mengajukan pengunduran diri dan saat ini sedang dalam proses persetujuan.
“Aku berharap kamu bisa resign hari ini. Jadi kamu bisa segera membantu dia sekarang,” kata Phen. Tapi anehnya raut wajahnya tampak tidak senang.
“Ayolah, ma. Aku bekerja di rumah sakit bukan di hotel. Aku tidak bisa check in dan chek out kapapun aku mau,” balas Phon. Dan Phen tertawa.
Min permisi ke kamar mandi. Lalu Phen bertanya kepada Piroj, kenapa hari ini Min tampak sangat pendiam. Dan Phon menjawab bahwa Min marah kepadanya, karena kemarin dia membawa teman wanita nya ke galeri lukisan.
“Mengapa kamu melakukan itu?” tanya Phen, tidak senang
“Dia temanku,” jawab Phon, santai.

Dengan serius, Piroj memberitahu bahwa ada sesuatu yang ingin dia diskusikan. Dan mendengar itu, Phen tersenyum seperti sudah tahu. Sementara Phon merasa bingung, karena tidak tahu.

Ketika Min kembali, dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Ayahnya yang sedang membicarakan tentang pertunangan dirinya dengan Phon. Sehingga Min pun tidak jadi mendekat dan mendengarkan dari jauh.

Piroj : “Aku ingin Phon dan Min bertunangan sekarang. Ketika Min menyelesaikan gelar master nya, mereka bisa mengadakan pernikahan. Apa pendapatmu tentang ini?”
Phen : “Aku tidak bisa mengatakan tidak. Aku bahagia tentang ini. Aku telah melihat Min sejak dia kecil. Aku mengasihinya seperti dia putriku sendiri.”
Mendengar pembicaraan itu, Min tersenyum senang.

Piroj kemudian menanyakan pendapat Phon. Dan Phon menjawab bahwa pertama- tama dia mengucapkan terima kasih untuk kepercayaan yang Piroj berikan kepadanya, tapi dia berpikir bahwa mereka seharusnya menunggu Min menamatkan studinya dulu.
“Apa kamu sudah punya seseorang?” tanya Piroj.

Dibawah meja, Phen menekan paha Phon, seperti memberikan tanda agar Phon tidak berbicara sembarangan, tapi Phon mengabaikan hal itu.
“Aku belum ada memiliki seseorang. Tapi sejujurnya, sewaktu dia pergi sekolah keluar negeri untuk waktu yang cukup lama nantinya, mungkin dia akan menemukan seseorang yang lebih baik daripada aku. Aku tidak mau menjadi egois. Aku tidak ingin mengikat dia hanya padaku saja,” jelas Phon.

Mendengar itu, Min merasa sedih. Tapi dia menghapus air matanya sendiri, dan lalu mendekati mereka.
“Ayah. Aku tidak akan pernah mengubah hatiku. Aku tidak akan pernah mencintai orang lain,” jelas Min dengan tegas.

Mendengar itu, Phen merasa lega dan senang. Dia menjelaskan bahwa menurutnya Min serta Phon sangat cocok bersama. Serta dia setuju dengan ide Piroj. Jadi dia ingin mereka segera merayakan hal ini. Lalu dia pun memanggil pelayan untuk membawakan sebotol wine untuk mereka.
Tanpa bisa menolak, Phon pun diam dengan wajah suram dan menunduk ke bawah. Dan Min memperhatikannya dengan tatapan tajam.
Didalam mobil. Min protes kepada Phon. Jika Phon memang tidak ingin menikah dengannya, maka Phon seharusnya berbicara jujur kepada Ayahnya. Lalu dia menegaskan bahwa sedari dulu mereka sudah terikat benang merah, dan dia tidak akan pernah mencintai orang lain.
“Lalu bagaimana pria itu? Day? Bukankah dia pacarmu?” tanya Phon. “Aku melihat mu bergadengan tangan hari itu.”
“Aku sudah bilang, dia cuma teman saja. Cuma teman, kamu tahu?”

Dengan jujur, Phon memberitahukan perasaan nya. Baginya Min adalah adik kecilnya. Dia tidak bisa memikirkan ataupun merasakan untuk mencintai Min sebagai seorang wanita, atapaun sebagai seseorang yang bisa dia cium. Dan dia meminta maaf, kemudian dia berjanji akan membicarakan ini dengan Piroj.
Mendengar itu, Min merasa sedih dan menangis.
Phon kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan Min pulang, sebelum dia harus pergi ke rumah sakit. Dan Min menolak. Min melepaskan sabuk pengamannya, dan menyuruh Phon untuk langsung pergi saja ke rumah sakit, karena dia bisa pulang sendiri ke rumah. Lalu Min pun keluar dari dalam mobil.
“Tapi Ayah mu menyerahkan mu dalam penjagaanku,” kata Phon, menghentikan Min.
“Aku sudah besar,” balas Min, berjalan pergi.
Phon keluar dari mobil, dan mengikuti Min. Dia meminta Min untuk kembali masuk ke dalam mobil, karena jika tidak maka Piroj akan merasa khawatir. Tapi Min menolak, dan berteriak bahwa dia bisa pulang sendirian ke rumah.
“Tapi Ayah mu menyuruhku mengantarkan mu pulang,” jelas Phon. “Min, ikutlah denganku,” bujuknya sambil meraih tangan Min.
Tapi Min  langsung menjauhi tangannya. “Pergilah. Aku akan pulang sendiri ke rumah,” jelas Min, lalu dia menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya.
Phon menahan pintu taksi, dan meminta Min untuk berjanji agar menelponnya setibanya Min dirumah. Tapi Min tidak menjawab, dan menutup pintu taksi.

Dengan sempoyongan, Min yang mabuk berjalan dan duduk di depan gedung galeri. Kemudian dia mengeluarkan hape nya, dan menghubungin Day.

Ketika Min menelpon nya, Day sedang berjualan di jalanan.

Min menangis di telpon, dan meracau mencurahkan isi hati nya. “Mengapa kamu tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita? Mengapa kamu selalu memikirkan ku sebagai adik kecil? Setiap orang mengetahui itu. Aku hanya mencintai kamu.”
“Kamu salah nomor. Aku bukan P’Phon,” balas Day.

“Apa kamu melupakan tentang benang merah kita? P’Phon. Aku mencintamu, kamu tahu? Tidak peduli apa yang terjadi, aku hanya akan mencintai kamu,” rengek Min. Kemudian dia merasa mual dan muntah.
“Apa kamu baik- baik saja. Ini Day. Aku Day,” jelas Day.

Mendengar itu, Min pun langsung memperhatikan layar hape nya. Kemudian dia kembali menangis lagi, dan menceritakan kepada Day bahwa dia sedang patah hati sekarang.
Dengan perhatian, Day menanyakan dimana Min berada sekarang. Dan Min menjawab bahwa dia tidak tahu dimana dia sekarang, tapi mungkin dia di depan galeri. Mendengar itu, maka  Day pun langsung mengambil tas nya dan meninggalkan barang dagangannya. Day berlari sekencang mungkin untuk menemui Min.
Day : “Ini pertama kali nya, aku meninggalkan segalanya dan berlari untuk seseorang yang bukan Ayahku.”
***

Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.

No comments:

Post a Comment