Thursday, October 10, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 6 - part 1

0 comments

Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 6 – part 1
Network : KBS2


Selama sesaat, Nok Du serta Dong Ju saling bertatapan. Dan mereka berdua tampak sama-sama seperti merasa gugup. Namun Nok Du kemudian tersadar, dan langsung mengalihkan pandangan nya.
“Hei. Aku serius saat mengatakan ini ..” kata Nok Du dengan sikap serius, dan Dong Ju pun merasa gugup menunggu lanjutan nya. “Mari kita cari karier baru untuk mu. Ya?”
Mendengar itu, Dong Ju merasa kesal dan langsung mendorong Nok Du untuk menjauh.

Nok Du mengomentari bahwa dia tidak percaya kalau Dong Ju di takdirkan untuk menjadi seorang Gisaeng. Lalu dia memberikan nasihat, dalam hidup, kita tidak bisa melakukan semua yang kita mau.
Dengan sedikit ketus, Dong Ju menanyakan, kapan dia pernah bilang mau menjadi Gisaeng. Dia tidak melakukan ini, karena menginginkan nya. Dia tidak mau menjadi Gisaeng. Mendengar itu, Nok Du pun terdiam. 
“Tidak bisa melakukan semua yang kita mau? Tidak. Kita tidak bisa menghindari beberapa hal semau kita. Itulah hidup,” jelas Dong Ju dengan sinis.
“Pikiran ku sempit. Maaf,” balas Nok Du, merasa tidak enak.
Dong Ju memaafkan Nok Du. Lalu dia mengomentari betapa beruntung nya Nok Du sebagai budak yang tidak perlu bersusah payah berkat kekasih. Dengan sedikit sinis, Nok Du mendengus, dia menjelaskan bahwa dia tidak diizinkan melakukan apapun termasuk yang di ingin nya, dan yang tidak ingin di lakukan nya.

“Tapi sekarang, aku tidak akan hidup seperti itu. Aku akan melakukan yang ku inginkan, dan melakukan yang tidak ku inginkan. Sama seperti orang lain,” kata Nok Du, penuh dengan tekad dan keyakinan.
“Seperti orang lain?” gumam Dong Ju, pelan.
Nok Du merasa hidup Dong Ju pasti sulit, karena harus tinggal disini dan melakukan hal yang Dong Ju tidak ingin kan. Mendengar itu, Dong Ju diam dan menatap Nok Du.

Menyadari hal itu, Nok Du dengan percaya diri bertanya, apakah Dong Ju tiba- tiba menganggap nya tampan. Dan Dong Ju pun langsung mengalih kan tatapan nya dengan gugup. Melihat reaksi itu, Nok Du merasa heran, karena dia mengira Dong Ju akan melemparkan sesuatu padanya.
“Kamu sama sekali tidak tampan,” kata Dong Ju sambil memukul Nok Du sekali dengan pelan. Lalu dia mengajak nya untuk kembali, karena pakaian mereka sudah kering. Dan Nok Du pun mengikuti nya.


Dalam perjalanan kembali dari sungai, mereka berdua bertemu dengan Yul Mu. Dan dengan ramah Yul Mu menyapa Dong Ju, namun dengan pandangan menatap kosong ke depan, Dong Ju berjalan, mengabaikannya. Melihat itu, Yul Mu pun ingin mendekati nya. Tapi Nok Du langsung menahannya.
Nok Du memberikan tanda kalau Dong Ju sedang bad mood, jadi sebaiknya Yul Mu tidak mendekati nya dulu, jika Yul Mu tidak ingin mati.
“Jadi, dia jatuh ke air saat berlatih menari?” tanya Yul Mu sambil tertawa, setelah selesai mendengarkan cerita dari Nok Du mengenai apa yang terjadi. Lalu dia mengatakan, kalau Nok Du pasti telah melihat tarian Dong Ju.
“Ya, aku melihat nya. Itu ..”
“Manis, bukan?” tanya Yul Mu, memuji Dong Ju. Sebelum Nok Du selesai berbicara.
“Tentu. Aku tidak menduga kamu akan menyebut itu manis,” balas Nok Du, sarkatis.
Yul Mu kemudian mengomentari bahwa seharusnya Nok Du meminjamkan mantel kepada Dong Ju, sebab Dong Ju rentang terkena flu. Mendengar itu, Nok Du mendengus, dan memberitahu kalau dia juga jatuh ke air, serta dia juga tidak suka kedinginan.
“Maafkan aku. Kamu mau ini?” kata Yul Mu. Dia memberikan sesuatu kepada Nok Du, kemudian dia berlari mendekati Dong Ju.

Dong Ju sudah mengerti, kalau Yul Mu pasti mau memberikan mantel nya. Jadi Dong Ju pun langsung menolak, sebelum Yul Mu melakukannya. Mendengar itu, Yul Mu pun tidak jadi melepaskan mantel nya, dan mulai merogoh- rogoh saku nya. Tapi Dong Ju langsung menolak lagi.

“Kamu cepat tanggap,” puji Yul Mu. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya, dan secara rahasia dia memberikan itu kepada Dong Ju, tanpa ingin membiarkan Nok Du yang berada di belakang mereka melihat.
Namun melihat itu, Nok Du malah merasa lebih penasaran dan ingin tahu.

“Ini sangat lezat. Ambil dan sembunyikan. Pastikan kamu makan ini sendiri,” kata Yul Mu, menjelaskan. Dan Dong Ju pun membuka kain hadiah yang diberikan padanya. Isi kain tersebut adalah manisan Okchundang.
Melihat itu, Dong Ju memanggil Nok Du. Dan dengan bersemangat, Nok Du pun langsung berlari mendekati nya. Lalu Dong Ju memberikan hadiah itu kepada nya.
“Dia memberiku ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun,” jelas Dong Ju. Lalu dia pun berjalan pergi duluan. Tanpa bisa mengatakan apapun, Yul Mu pun hanya bisa pasrah membiarkan Nok Du mengambil hadiah itu.
“Aku bukan anak kecil,” kata Nok Du seolah tidak suka. Tapi kemudian dengan senang, dia memakan Okchundang tersebut dan tersenyum.
“Kalau dipikir- pikir, hari ini adalah ..”

“Ada apa? Apa hari ini ulang tahun seseorang?” tanya Nok Du, ingin tahu. Dan Yul Mu menjawab tidak apa- apa, lalu dia pun berjalan pergi.
Di paviliun istana. Yang Mulia datang menemui Permaisuri (Ini bukan Permaisuri, Ibu dari Pangeran Yeongchang seperti nya). Disana mereka berdua mengobrol bersama.

Permasuri mengenang saat dia mengikuti Yang Mulia keluar istana selama perang, disaat itu dia sadar bahwa dirinya mengandung. Dia tidak berselera makan. Dan hanya bisa memakan okchundang yang dibawakan oleh Dayang Kim untuk nya. Ntah apakah Yang Mulia mengingat saat itu.

“Kamu selalu mengatakan nya tiap tahun. Mana mungkin aku tidak ingat?” komentar Yang Mulia, menanggapin.
“Jika anak itu hidup, apakah menurutmu anak itu juga menyukai okchundang?”

“Anak itu sudah meninggal. Anak itu sudah tiada,” tegas Yang Mulia. “Tolong hentikan,” pintanya. Tapi Permaisuri tidak mau berhenti.
“Kita harus berpisah begitu aku melahirkan anak kita. Kenapa aku tidak boleh merindukan anakku yang hilang? Kenapa kamu selalu terlihat sangat terkejut?” tanya Permaisuri dengan sedih.

Mendengar itu, tanpa menjawab, Yang Mulia berdiri dari duduk nya. Dan Heo Yoon yang sedari tadi berdiri di luar, dia tampak mendengarkan hal tersebut. Tapi Yang Mulia mengabaikannya dan berjalan pergi.


Okchundang yang berada di atas meja terjatuh. Begitu juga dengan okchundang yang sedang di pegang oleh Nok Du. Okchundang tersebut jatuh ke tanah, dan dengan segera Nok Du pun memungut nya, lalu membersihkannya. Sesudah itu, dia menatap kepada Yul Mu dan menawarkan itu kepadanya.

Melihat itu, Yul Mu dan Dong Ju sama- sama mengabaikan Nok Du dan berjalan pergi meninggalkan nya. Dengan senang, Nok Du pun memasukan okchundang itu ke dalam mulutnya yang sudah penuh, dan mengikuti mereka berdua.
Si Pria bangsawan yang membuat onar tempo hari. Hingga karena itu Dong Ju terpaksa harus memotong rambutnya sendiri menjadi pendek. Pria tersebut datang bersama bawahan nya, dan memperhatikan Dong Ju dari jauh.
“Aku langsung tahu, dia sudah berusia lebih dari 12 tahun,” gumamnya.
Malam hari. Yun Jeo berniat untuk pergi. Tapi Jang Koon menghentikan nya. Dia menanyakan, kemana Yun Jeo mau pergi selarut ini. Dan Yun Jeo menjawab bahwa karena semua orang sudah aman, maka dia harus mencari Nok Du.

“Kamu pikir kamu bisa membujuknya? Kamu melihat wajahnya saat dia pergi? Entah apa yang terjadi, tapi dia tidak akan pernah kembali, sebelum dia tahu apa yang ingin dia ketahui,” jelas Jang Koon.
“Tapi itu terlalu bahaya,” balas Yun Jeo, cemas.
Jang Koon menyakinkan Yun Jeo untuk tidak perlu cemas, karena Nok Du bisa bela diri. Namun jika, Yun Jeo pergi selarut ini, bukan hanya akan gagal mencapai Hanyang, tapi Yun Jeo akan di makan hidup- hidup oleh harimau juga.
Mendengar itu, Yun Jeo pun berpikir. Dan sambil tersenyum, Jang Koon mengajak nya untuk masuk kembali bersama.

Dong Ju mengikat tangannya dengan tangan Nok Du menggunakan tali. Tapi mereka terpisahkan oleh pintu. Nok Du mengomentari bahwa percuma Dong Ju mengikat nya, karena jika dia melepaskan ikatannya, maka Dong Ju pun tidak akan tahu. Sebab Dong Ju tidak bisa mendengar apapun, saat sudah tertidur.

“Apa? Apa yang kamu lakukan saat aku tidur?” tanya Dong Ju, curiga.
“Lupakan saja,” balas Nok Du, malas.

Nok Du kemudian menjelaskan bahwa dia sungguh tidak tertarik kepada wanita. Dia tidak  boleh, dan juga tidak punya waktu untuk itu. Mendengar itu, Dong Ju menanyakan, sebesar itukah cinta Nok Du untuk kekasih Nok Du.


“Tentu saja. Aku mendambakan nya. Aku merindukan nya,” jawab Nok Du sambil menatap kearah bayangan Dong Ju di pintu. “Maksud ku, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu,” jelasnya.
Mendengar itu, Dong Ju tampak seperti kecewa. “Baiklah. Terima kasih atas pengakuan cinta yang tidak membuat ku penasaran,” komentarnya.
Nok Du lalu menyuruh Dong Ju untuk mematikan lilin, karena mereka harus berhemat. Dengan kesal, Dong Ju pun memukul pintu dengan keras supaya Nok Du diam. Dan seperti senang akan reaksi Dong Ju itu, Nok Du tersenyum.

Pagi hari. Dong Ju membaca pesan yang ditinggalkan oleh Nok Du. Aku di tempat pembuatan bir untuk membuat malt.
Membaca pesan itu, Dong Ju tersenyum. “Siapa kamu?” gumannya.
Yeon Geun datang dan mendengar itu, jadi dia pun bertanya siapa yang sedang Dong Ju bicarakan serta apakah ada orang yang mencurigakan. Dan Dong Ju pun langsung menjawab tidak ada apa- apa, lalu dia menanyakan, kenapa Yeon Geun datang. Dan dengan sikap malu- malu, Yeon Geun menanyakan, apakah Nok Du ada didalam kamar.

“Tidak. Dia sedang di desa janda,” jawab Dong Ju.
“Dia tidak  boleh berkeliaran. Itu berbahaya,” gumam Yeon Geun, cemas.
“Apa?”
Ditempat pembuatan bir. Nok Du membantu para Pasukan Muweol yang sedang bekerja sebagai wanita- wanita biasa. Dan dia menggunakan kesempatan itu, dengan menawarkan diri untuk membawa barang dan menyimpan kan nya.

Nok Du masuk ke dalam salah satu ruangan, dan berniat untuk memeriksa nya. Didalam ruangan tersebut, ada gudang kecil juga. Tapi tepat disaat itu, Rekan no. 1 datang. Jadi Nok Du pun langsung berpura- pura bahwa dia sepertinya salah masuk ruangan.

“Ada pintu samping disana yang menuju halaman belakang,” kata Rekan no. 1, memberitahu arah yang benar.
“Pantas saja. Aku merasa aneh, menyimpan tempayan di dalam ruangan,” jawab Nok Du dengan cepat. Lalu dia pun keluar dari ruangan.
Namun sebelum pergi ke halaman belakang, Nok Du menanyakan kepada Rekan no. 1, apakah dia akan dibayar dengan mengerjakan ini. Dan Rekan no. 1 mengiyakan.

Deul Le membandingkan gambar Pria yang di buatnya dan di ingat nya. Dengan gambar pria yang dibuat oleh Nok Du saat itu.

Dong Ju duduk di pinggir kolam. Dia memikirkan cerita yang diberitahu oleh Yeon Geun barusan. “Dia masuk ke desa janda dan di usir. Tapi dia gagal mendapat pelajaran dan kembali ke sana lagi. Ku dengar dia cukup jahat. Jika menyangkut wanita, dia menggoda siapapun, dari Gisaeng hingga Janda.”
Mengingat itu, Dong Ju tampak kesal, dan membuang batu kecil ke dalam kolam.

Dong Ju berlari untuk menemui Nok Du. Tapi tepat disaat itu, dia melihat Nok Du sedang bermesraan dengan Rekan no. 3. Kepadahal kenyataannya, Rekan no. 3 tidak sengaja tersandung dan hampir saja terjatuh, tapi untung nya Nok Du langsung menangkap nya. Lalu dia menanyakan, apakah Rekan no. 3 baik- baik saja.


“Bagaimana kamu tahu aku tersandung?” tanya Rekan no. 3 dengan senang. Lalu dia memukuli dada Nok Du dengan sikap genit. “Hentikanlah. Kamu membuat jantungku berdebar. Jika kamu pria, aku akan ..” katanya sambil bersandar di dada Nok Du.
Mendengar itu, kedua rekannya merasa geli sendiri. Dan Nok Du juga merasa kan hal yang sama, dia merasa geli dan risih saat Rekan no. 3 bersandar di dadanya. Untung saja, Rekan no. 2 langsung membantunya untuk menghentikan Rekan no. 3.

“Dia hanya kesepian, jadi, abaikan saja,” jelas Rekan no. 1. Lalu mereka bertiga pun pergi. Dan Nok Du pun berniat pergi juga.

Tapi tiba- tiba Dong Ju datang dan menyentuh bahu nya dari belakang.

Deul Le datang ke tempat Gisaeng, dan menanyakan kepada mereka dimana kamar Dong Ju. Dan mereka pun menunjukan kepadanya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Nok Du langsung menjelaskan kepada Dong Ju bahwa dia tahu apa yang sedang Dong Ju pikirkan, jadi bisakah mereka membicarakan itu nanti malam saja.

“Orang yang diusir dari desa. Itu kamu, bukan?” tanya Dong Ju, langsung. Dan Nok Du kesulitan untuk menjawab. “Tapi kamu masih berkeliaran? Kamu harus bersembunyi sampai kekasihmu datang.”
“Begini .. aku ..”
Dong Ju mengambilkan barang Nok Du, dan menyuruh Nok Du untuk keluar, karena dia telah mendengar semuanya. Dia mendengar kalau Nok Du sedang mencoba untuk menggoda semua jenis wanita.
“Hei,” protes Nok Du.
Deul Le berdiri di luar kamar, dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

“Benarkah itu pendapatmu tentang ku?” tanya Nok Du, tampak terluka.
“Pendapatku tidak penting. Di desa, begitulah mereka melihat mu. Kamu akan mati jika tertangkap,” balas Dong Ju. Dan Nok Du mengerti.

Deul Le bersiap untuk mengeluarkan pisau nya. Tapi kemudian dia teringat tentang Nok Du yang berhasil mengalahkan nya saat itu. “Aku tidak bisa melakukan ini sendirian,” pikirnya. Lalu dia pun pergi darisana.


Dong Ju menanyakan, kemana Nok Du ingin pergi. Dan Nok Du membalas, apa peduli Dong Ju. Mendengar itu, Dong Ju mengerti, namun dia tetap mengingatkan Nok Du. Dia menyuruh Nok Du untuk jangan melakukan hal bodoh dan bersembunyi, saat kekasih Nok Du datang nantinya, maka dia akan ..
“Jika sesuatu terjadi kepadaku, bilang saja kamu tidak tahu. Aku pun akan mengatakan hal yang sama,” potong Nok Du. Lalu dia pun berbalik untuk pergi.
“Hei. Sebentar,” panggil Dong Ju. Lalu dia berjongkok di depan Nok Du.

Dengan heran, Nok Du bertanya, apa yang sedang Dong Ju lakukan. Dan Dong Ju pun berdiri, lalu dia menggulung kan lengan baju Nok Du, dan dia mengikat kan kain sebagai perban di pergelangan tangan Nok Du yang terluka.
“Pergilah,” kata Dong Ju, kemudian. Lalu dia berlari pergi.

Deul Le berlari secepat mungkin melalui jalan hutan. Tapi kemudian tiba- tiba saja, seseorang mengarahkan pedang pada nya. Sehingga dia pun berhenti.

No comments:

Post a Comment