Friday, October 11, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 7 - part 1

0 comments


“Aku Dong Ju dari Rumah Yeonhwa,” kata Dong Ju, memperkenalkan dirinya.
Mendengar itu, Nok Du tersenyum, dan secara perlahan berjalan mendekat ke arah nya. Dan dengan gugup, Dong Ju bersiap untuk mengeluarkan senjata kecil yang disembunyi kan nya di dalam lengan baju.

Namun saat, Nok Du memegang dagu nya dan mengangkat wajah nya. Dong Ju merasa sangat terkejut. Sementara Nok Du dengan santai tertawa dan mengomentari betapa gugupnya Dong Ju. Dan Dong Ju langsung menepis tangannya, serta bertanya, kenapa Nok Du berada disini.
“Ada yang ingin ku katakan,” kata Nok Du dengan serius.
“Sekarang? Disini?”
“Ya. Ini waktu dan tempat yang sempurna.”
“Apa itu?”

Nok Du berjalan mendekat, dan mengatakan dengan serius bahwa dia adalah Ibu Don Ju. Mendengar itu, Dong Ju merasa heran dan mengira dirinya sudah salah dengar. Dan Nok Du berjalan semakin mendekat kepadanya, dan bahkan mendekat kan wajahnya.
“Aku . Ibu. Mu,” kata Nok Du dengan serius. Mendengar itu, Dong Ju mendengus geli. “Apa aku mengejutkan mu?” tanyanya.
“Astaga, mana mungkin tidak?” balas Dong Ju, mendorong bahu Nok Du.


Nok Du merentangkan kedua tangannya, dan bertanya, apakah dia terlihat gagah dengan jubah mahal tersebut dan membuat Dong Ju gila. Tapi respon Dong Ju malah, apa kamu sakit, atau mabuk, lalu dia menanyakan, maksud Nok Du yang mengatakan kalau Nok Du adalah Ibunya serta gagah apa nya, serta bagaimana ini bisa terjadi.
“Kamu tidak tahu? Kamu tidak perlu menjadi Gisaeng lagi. Lagipula, kamu tidak ingin menjadi Gisaeng. Jadi jangan menjadi Gisaeng mulai sekarang,” jawab Nok Du, dengan sikap santai dan enteng.


Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 7 – part 1
Network : KBS2
“Itu juga takdir seorang Gisaeng,” gumam Ny. Chun dengan pandangan tidak berdaya.
Kemudian tiba- tiba saja, Nok Du masuk menerobos ke dalam kamar nya dengan nafas terengah- engah, seperti kecapekan. Dan menanyakan, apakah jalan pintas menuju ke penginapan. Lalu dia memberikan kodok emas milik nya kepada Ny. Chun.

Ny. Chun memandangin pintu keluar dari Rumah Gisaeng miliknya. Sambil mengingat kembali perkataan Nok Du padanya barusan.

“Dia dan aku bisa menjadi keluarga,” kata Nok Du.
“Kamu ingin mengadopsi Dong Ju sebagai putrimu? Namun, bagaimana bisa aku membiarkan mu membawa nya, padahal aku tidak tahu apapun tentang mu?”
“Aku bisa memahami ke khawatiran Anda, jadi, aku punya usul. Bagaimana jika Dong Ju dan aku tinggal di desa untuk para janda? Tempat yang dekat dengan Anda,” jawab Nok Du dengan bersungguh- sungguh.

Dengan heran, Ny. Chun menanyakan, kenapa Nok Du sampai bertindak sejauh ini untuk membantu Dong Ju. Dan Nok Du menjawab bahwa dia tidak tahu, hanya saja dia merasa mulai menyayangin Dong Ju dan ingin membantu Dong Ju dalam melakukan satu hal yang Dong Ju inginkan didalam hidup.
Mendengar jawaban itu, Ny. Chun tersenyum.
Nok Du tertawa sendiri, dan mulai berlatih akting yang bagus bagaimana. “Kamu, jadilah putri ku,” kata Nok Du dengan suara Pria.
“Astaga. Kamu sudah pulang, Nak,” katanya dengan suara Lembut seperti wanita.
“Hei, Dong Dong Ju. Mulai hari ini, aku adalah ..” katanya. Kemudian dia terkejut memandangin pantulan dirinya sendiri di cermin yang tampak seperti wanita.

Nok Du pun kemudian membuka lemari penyimpanan nya, dan mengambil baju Pria yang ada di dalam sana.

Dan sekarang, disinilah Nok Du berada. Dia tersenyum kepada Dong Ju. Lalu setelah mendengarkan cerita Nok Du, dengan heran Dong Ju menanyakan, kenapa Nok Du melakukan ini untuk nya.
“Karena, aku harus tinggal di desa untuk para janda, tapi kamu terus mengusirku,” jawab Nok Du dengan gugup. Dan mendengar itu, Dong Ju terkejut, apakah hanya karena alasan itu saja, maka Nok Du menghabiskan banyak uang untuknya. Dan Nok Du mengiyakan.

Dengan tidak percaya, Dong Ju diam dan memperhatikan Nok Du. Dan dengan gugup Nok Du pun bertanya, apakah Dong Ju benar- benar takut kalau dirinya akan memanfaatkan para wanita.
“Kalau begitu, lebih baik tinggal di rumah Gisaeng dengan kekayaanmu,” balas Dong Ju.
“Kalau begitu, apa kamu takut aku akan ketahuan, dan terjadi sesuatu padaku?” tanya Nok Du dengan pandangan penuh harap dan senang.
“Ya,” jawab Dong Ju. Dan Nok Du terkejut, karena tidak menyangka. “Jika mereka, tahu, apa yang akan mereka pikirkan tentang ku? Semua orang akan berpikir aku gila, karena bekerja dengan perayu jahat,” jelas Dong Ju dengan suara keras.
“Aku tidak akan ketahuan. Aku akan pergi secepat mungkin. Jangan khawatir.”

Dong Ju merasa itu mustahil untuk tidak khawatir, karena dia masih tidak mengerti banyak hal dan punya banyak pertanyaan. Tapi dia akan membantu Nok Du agar tidak ketahuan, karena Nok Du telah mengeluarkannya dari rumah Gisaeng. Sehingga mereka pun impas.
Mendengar itu, Nok Du memegang tangan Dong Ju. “Tidak. Ada satu hal lagi,” katanya. Dan dengan gugup, Dong Ju bertanya apa.

Nok Du menaruh Ibu jari Dong Ju di batu tinta yang basah, lalu menempelkan cap jari nya ke atas kertas perjanjian. Dia menjelaskan bahwa Dong Ju harus melunas kan itu. Dan dengan heran, Dong Ju pun membaca nya, lalu dia terkejut saat melihat kertas hutang nya tertulis bunga 70 %. Dengan kesal, dia pun protes.
“Hei, suku bunga ini akan membuatmu di penjara!”

“Tidak. Kamu seharusnya mengatakan itu sebelum kamu memberi cap jempol mu,” balas Nok Du sambil merebut kertas itu dari tangan Dong Ju.
Tentu saja, Dong Ju tidak terima dan protes. Lalu dia juga ingin merebut surat itu. Tapi Nok Du menolak untuk memberikan surat itu, dan menyembunyikannya.
“Kenapa bilang begitu pada Ibumu?” keluh Nok Du.
“Hentikan omong kosong ini,” balas Dong Ju.
Kemudian tepat disaat itu, terdengar suara Yul Mu yang memanggil Dong Ju. Dan mendengar itu, Dong Ju serta Nok Du pun langsung sama- sama terdiam.
Dong Ju keluar menemui Yul Mu, dan menanyakan kenapa Yul Mu datang. Dan bukannya menjawab, Yul Mu malah menatap terpesona kepada Dong Ju, dan memuji bahwa Dong Ju tampak cantik.
“Kenapa kamu kemari?” tanya Dong Ju, lagi.
Di dalam kamar. Nok Du dengan terburu- buru segera menukar pakaian nya menjadi pakaian wanita kembali.

Yul Mu menanyakan, apakah Dong Ju takut, dan alasan dia datang kemari adalah untuk menjemput Dong Ju. Untuk Pria pembuat onar yang menjijikan itu ..
Sebelum Yul Mu selesai berbicara, tepat disaat itu, Nok Du keluar dari dalam kamar. Dan melihat nya, Yul Mu merasa kaget serta bingung. Namun dengan sopan, Nok Du tersenyum dan memberikan hormat kepadanya.
“Aku penasaran kemana perginya pria menjijik kan itu. Jadi, dia mengurus pria tua itu. Kukira dia hanya pria biasa,” gumam Nok Du.
“Aku tidak tahu. Bagaimana aku tahu itu?” balas Dong Ju, cuek.
Yul Mu mengikuti Nok Du serta Dong Ju dari belakang.
Nok Du menebak, apakah Yul Mu seorang pejabat tinggi, atau berasal dari keluarga terpandang. Karena meskipun Yul Mu begitu ..
“Meskipun dia begitu?” tanya Dong Ju, penasaran.
“Dia tidak setampan aku,” jawab Nok Du, narsis. Dan mendengar itu, Dong Ju hanya tersenyum saja tanpa berkomentar.

Nok Du kemudian teringat akan sesuatu, dan dia pun menyuruh Dong Ju untuk pergi duluan tanpa dirinya, karena dia harus menyelesaikan sesuatu disini. Dengan heran, Dong Ju pun bertanya apa itu.
“Kamu pikir mudah menjadi Ibumu? Pergilah. Cepat,” kata Nok Du, tidak mau memberitahu. Dan tanpa bertanya lagi, Dong Ju pun pergi.
Yul Mu lalu berjalan melewati Nok Du. Dan Nok Du pun memberikan hormat padanya.
Kemudian setelah mereka berdua pergi, Rekan no. 1 keluar dari persembunyian dan mengarahkan pedang nya kepada Nok Du. Melihat itu, Nok Du tidak tampak kaget sama sekali, karena dia sudah tahu bahwa Rekan no. 1 mengikuti nya.
“Kenapa kamu berhenti bekerja?” tanya Rekan no. 1, tajam.
“Aku tidak berhenti. Hanya tertunda. Aku hanya berpikir menyelematkannya lebih penting daripada membunuh seseorang,” jawab Nok Du. “Aku setuju menghukum bangsawan kotor. Tapi aku tidak bisa mengabaikan wanita yang tidak berdaya yang terpaksa di bunuh,” jelas Nok Du.

Rekan no. 1 tidak mau menerima jawaban itu, karena itu bukan lah janji yang Nok Du buat dengan mereka. Sehingga Nok Du tidak boleh mengeluh, jika dia membunuh Nok Du. Dan Nok Du dengan yakin menjawab bahwa dia tidak akan menyesal, karena telah menyelamat kan gadis yang tidak bersalah.
“Kamu pikir aku tidak akan membunuhmu?” tanya Rekan no. 1.
“Sejujurnya, ya,” jawab Nok Du dengan percaya diri.
“Berdasarkan apa?”

“Aku tahu kamu penasaran denganku. Aku juga tahu akan sia- sia jika membunuhku. Apa aku benar?” tanya Nok Du, dengan yakin.
Mendengar pertanyaan itu, Rekan no. 1 tertawa. Lalu dia pun menaruh pedang nya di depan leher Nok Du. Dia memperingatkan bahwa jika Nok Du bertingkah lagi, maka dia akan memengal kepala Nok Du. Karena membunuh orang seperti Nok Du, itu adalah hal mudah bagi nya.
“Baiklah. Aku akan mengingat itu,” jawab Nok Du, patuh.
Ny. Chun dan Hwa Su merasa senang untuk Dong Ju yang beruntung bisa mempunyai seorang Ibu yang hebat. Dan Dong Ju membenarkan itu, tapi kemudian dia memandangin Nok Du yang sedang berbicara bersama Yeon Geun dengan pandangan sinis.
“Besanku? Apa aku harus menulis tentang mereka?” tanya Nok Du, ketika diharuskan mengisi formulir untuk mengangkat anak.
“Ini hanya formalitas untuk berjaga- jaga jika terjadi sesuatu. Tolong tulis nama mereka disamping namamu,” jawab Yeon Geun sambil senyum- senyum.
Dan Nok Du pun menuliskan besan nya di buku tersebut. Tapi kemudian, dia merasa lelah kepada Yeon Geun yang malah berbicara dengan keras dan bersemangat kepadanya.

“Kamu menantu Tuan Park Jong Chil! Pantas saja. Kamu tampak cukup anggun,” kata Yeon Geun, memuji. Dan dengan lelah, Nok Du pun langsung mengembalikan bukunya, dan mengajak Putrinya, yaitu Dong Ju untuk segera pergi sekarang.
Dong Ju pamit kepada Ny. Chun serta Hwa Su. Dan dengan senang, mereka pun mengiyakan. Hwa Su mengingatkan agar Dong Ju sering- sering datang berkunjung nantinya. Dan Dong Ju mengiyakan.

“Baik, perlakukan aku seperti seorang Ayah,” kata Yeon Geun kepada Dong Ju. Namun Dong Ju langsung mengabaikannya. Begitu juga dengan Nok Du. Tapi Yeon Geun tetap saja tidak mau berhenti berbicara. “Aku akan menghargaimu seperti putri ku sendiri. Jika terjadi sesuatu kepada Ibumu, hubungin aku, ya?” teriak nya.
Setelah menjauh dari gerbang Gisaeng, Nok Du mengingatkan Dong Ju untuk menyapanya setiap pagi dan malam. Dan dengan kasar, Dong Ju langsung menepis tangan Nok Du yang menggandeng nya. Dia berharap semoga mereka tidak akan saling ikut camput nanti nya.
“Omong- omong, dimana rumahku?” tanya Nok Du. Mendengar itu, Dong Ju pun baru terpikir akan hal itu juga. Dan mereka berdua pun saling berpandangan dengan bingung.

Pasukan Wanita Berbudi menunjukan rumah baru untuk Nok Du serta Dong Ju tinggalin mulai saat ini. Dan melihat betapa kecilnya rumah tersebut, Dong Ju bertanya dengan syok, apakah mereka akan tinggal di kamar sekecil itu. Dan Pasukan Wanita Berbudi menganggukan kepala, tanda iya.
“Dan kami tinggal bersama kalian?” tanya Nok Du, terkejut.
“Benar. Kalian bisa tinggal disana. Karena kita akan bertetangga, kalian tidak perlu khawatir,” jawab Wanita besar no. 3 dengan gembira.

Nok Du merasa syok, dan mengeluh. Sebelumnya Ny. Chun bilang padanya bahwa dia akan mempunyai tempat nya sendiri. Dan Wanita besar no. 2 menjawab bahwa Ny. Chun meminta mereka untuk menggosongkan satu kamar saja.
“Karena kamu masih asing dengan tempat ini, dia ingin kami membantumu,” jelas Wanita besar no. 2. Dan Nok Du langsung protes, dia menjawab bahwa dia sama sekali tidak merasa asing lagi di tempat ini, malah dia sudah merasa nyaman seperti di rumah.

Dong Ju hanya diam saja, tapi saat Nok Du menyenggol tangan nya, maka dia pun ikut berbicara. “Benar. Aku akan menjaga Ibuku dengan baik, jadi, rumah kosong mana pun tidak masalah,” jelas Dong Ju.
“Tidak ada satupun,” jawab Sun Nyeon, tegas. Lalu dia mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam. Dan dengan ketakutan, Nok Du pun menolak, tapi mereka memaksa nya untuk tetap masuk ke dalam.
Kemudian setelah itu, mereka bertiga tertawa. Ternyata alasan sebenarnya, mereka membuat Nok Du tinggal berdekatan dengan mereka adalah karena mereka ingin menjadikan Nok Du sebagai anggota keempat mereka, yaitu Pasukan Wanita Berbudi. Namun mereka tidak mau bertindak terlalu terburu- buru.
Dengan gembira, mereka bertiga tertawa, dan lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Rekan no. 2 kebingungan mencari- cari dimana Deul Le, karena dari kemarin Deul Le belum juga pulang, dan dia bahkan tidak ada  mendengar apapun tentang nya. Serta tidak ada jejak Deul Le telah berkemas dan pergi.
“Menurutmu telah terjadi sesuatu? Kamu pikir itu si Brengsek itu?” tanya Rekan no. 3 dengan perasaan cemas. Dan Rekan no. 1 menyuruh mereka untuk terus mencari, karena mungkin saja Deul Le sedang melakukan penyelidikan sendirian.

Rekan no. 3 kemudian dengan sikap manja, menanyakan, bagaimana dengan Nok Du. Dan Rekan no. 1 menjawab bahwa dia merasa kagum kepada Nok Du yang mau mengorbankan nyawa sendiri demi menyelamatkan seorang teman. Tapi Rekan no. 2 tidak setuju, baginya aturan adalah aturan, mereka telah sepakat jika Nok Du gagal, maka Nok Du akan mati. Sehingga karena itu, mereka harus membunuh Nok Du saat waktu nya tepat.
“Tapi sayang untuk membunuh nya,” komentar Rekan no. 3, merasa sayang.


Dong Ju tidak percaya bisa terjebak di tempat ini bersama dengan Nok Du. Dan Nok Du memintanya untuk bersabar, karena mereka tidak akan hidup seperti ini selamanya. Dengan raut wajah seperti cemburu, Dong Ju pun bertanya, apakah itu hanya sampai kekasih Nok Du datang. Dan Nok Du mengiyakan. Lalu dia menanyakan, bagaimana dengan Dong Ju yang tidak memiliki tempat tujuan.
“Apa maksudmu? Tentu ada. Aku akan meninggalkan tempat ini saat waktunya tepat,” jawab Dong Ju.

“Kemana?” tanya Nok Du, ingin tahu.
“Jangan khawatir. Aku akan membalas budi kepadamu sebelum itu.”
“Itu sudah pasti. Tapi kamu mau kemana?” tanya Nok Du, mendesak nya.
“Kenapa kamu ingin tahu? Itu rahasia,” balas Dong Ju, tidak mau memberitahu.
Mendengar jawaban sejenis itu, Nok Du akhirnya mengerti, saat orang bilang membesar kan anak itu tidak ada gunanya. Kepadahal dia telah menyelamatkan nyawa Dong Ju, tapi Dong Ju malah merahasia kan sesuatu darinya.
“Kamu mau kemana?” tanya Dong Ju, saat Nok Du ingin membuka pintu.
“Kita butuh hidangan jika ingin makan. Kita juga hanya punya satu selimut,” jawab Nok Du, menjelaskan. Dan Dong Ju pun ingin ikut juga, tapi Nok Du menolak.

Dong Ju ngotot ingin ikut juga. Dia memanggil Nok Du dengan Hei. Dan mendengar itu, Nok Du pun langsung memukul Dong Ju dengan pelan dan menasehati nya. Sebab seharusnya Dong Ju memanggilnya dengan sebutan Ibu, bukan Hei.
“Kamu serius? Kamu sungguh ingin aku memanggilmu seperti itu?” tanya Dong Ju. Lalu selama sesaat mereka berdua pun sama- sama terdiam. Kemudian setelah membayangkan nya, mereka berdua sama- sama langsung merasa merinding sendiri.
“Itu tidak benar,” keluh Nok Du.
“Cepat, cepat,” balas Dong Ju.


Dipasar. Nok Du membeli banyak sekali barang. Dan dengan peraasaan geram, Dong Ju memanggil nya dengan sebutan Ibu, dan mengingatkannya bahwa itu sudah cukup. Tapi dengan sikap sok kewanitaan, Nok Du menjawab, “Baiklah, putriku,” kata nya. Lalu dia pergi ke tempat lain untuk belanja lagi.
“Apa? Kamu mau kemana?” teriak Dong Ju. Dan ketika dia menyadari tatapan dari si penjual yang berada di dekatnya, maka dia pun langsung berbicara dengan lebih manis. “Ibuku tersayang,” panggil nya.
Dong Ju menyuruh Nok Du untuk berdiskusi dengannya, sebelum membeli apapun. Dan Nok Du membalas bahwa Dong Ju bisa mengurus rumah, dan dia akan mengambil kayu. Tapi Dong Ju tidak mau mencuci piring.
“Jika kamu memasak, aku akan melakukannya. Kamu bisa mencuci pakaian, dan aku akan membersihkan rumah, ya?” jelas Nok Du.
“Sepakat,” balas Dong Ju, lalu dia pergi ke tempat lain.

Dong Ju memperhatikan anak- anak ayam yang manis dan imut. Melihat itu, Nok Du bertanya, apakah Dong Ju mau. Dan Dong Ju menjawab tidak serta berterima kasih. Kemudian dia mengambil seekor anak ayam dan memandanginnya sambil tersenyum gembira sekali.
“Mari kita beli dua,” kata Nok Du.
“Tidak. Mereka akan membuatku menyayanginnya, dan itu tidak akan bagus,” jawab Dong Ju. Lalu dia mengambil barang bawaannya, dan mengajak Nok Du untuk pergi.

Di depan halaman desa. Dong Ju berhenti, dan memperhatikan ayunan kayu yang berada disana. Dia tampak seperti ingin menaikinya, jadi melihat itu, Nok Du pun bertanya. Tapi Dong Ju menjawab tidak, lalu dia berjalan pergi. Dan Nok Du pun mengikuti nya.

Sesampainya dirumah. Nok Du terkejut melihat Rekan no. 2 berdiri di depan rumahnya seperti telah menunggu nya. Sementara Dong Ju yang tidak tahu apapun, dia menatap Nok Du dengan pandangan bertanya- tanya, ada apa.
Tanpa mengatakan apapun, Rekan no. 2 memberikan tanda supaya Nok Du mengikuti nya. Dan Nok Du pun mengerti.

Nok Du diikat di kursi, dan dia berikan penjelasan bahwa dia akan mati dan kemudian kematiannya di samarkan sebagai bunuh diri. Dan dengan panik, Nok Du memohon kepada mereka supaya melepaskannya, karena dia punya Putri yang harus di urusnya. Tapi Rekan no. 2 tidak peduli, karena itu bukan masalahnya.

“Dia mungkin melanggar janji kita, tapi dia menyelamatkan hidup orang lain. Jadi, dia tidak mengkhianati kita,” jelas Rekan no. 1. “Bagaimana kalau kita beri dia kesempatan lagi?” tanyanya dengan bersemangat.
“Aku setuju,” jawab Rekan no. 3, langsung.
Rekan no. 2 tidak setuju. Dan Nok Du mengabaikannya, dia mengatakan kepada Rekan no. 1 bahwa dia bisa melakukan apapun itu. Mendengar itu, Rekan no. 3 menyarankan kepada mereka untuk jangan memberikan misi sungguhan kepada Nok Du, tapi sesuatu yang sama sulit nya. Sehingga walaupun Nok Du mengacaukannya, itu tidak akan memengaruhi mereka.
“Kamu bilang ayah mertuamu adalah Tuan Park Jong Chil, bukan?” tanya Rekan no. 1. Dan dengan heran, Nok Du memandanginnya.

Dong Ju menjemur kain sambil mengeluh kemana pergi nya Nok Du di saat ada banyak pekerjaan. Dan tepat disaat itu, Nok Du kembali dengan mengkaget kan nya. Dengan kesal, Dong Ju pun protes kenapa Nok Du lama sekali, kepadahal dia sudah kelaparan.
“Aku tidak sendirian,” jawab Nok Du. Mendengar itu, Dong Ju dengan waspada langsung memperhatikan ke sekitarnya.

“Siapa yang datang?”
Nok Du menunjukan dua ekor anak ayam yang di sukai oleh Dong Ju. Dia mengatakan bahwa tidak salah bila Dong Ju menyayangin anak ayam tersebut, dan membesarkan nya, jika itu memang keinginan Dong Ju. Dan Dong Ju menerima itu sambil diam saja.

Dengan gugup, Nok Du pun menunggu Dong Ju untuk berbicara. Dan Dong Ju yang merasa gugup juga, dia menarik nafas, lalu dia berbicara, “Sudah kubilang, berdiskusilah denganku sebelum membeli apapun,” omelnya, tapi wajahnya tampak senang.

“Aku sudah menemainya. Yang ini Dong Dong. Yang ini Dong Ju,” kata Nok Du memberitahu. Dan mendengar itu, Dong Ju protes.
Nok Du menjelaskan bahwa dia berharap Dong Ju bisa akur dengan anak- anak ayam tersebut, selagi dia pergi. Dan dengan heran, Dong Ju bertanya, kemana.
“Aku akan pergi ke Hanyang untuk menemui kekasih ku. Aku berkesempatan melihatnya dari jauh. Beritahu yang lain bahwa aku pergi menemui keluargaku,” jelas Nok Du.

Mendengar itu, Dong Ju tampak seperti kecewa. “Dasar romantis. Kamu akan kemana untuk melihatnya?”
“Apa? Ada sebuah penginapan, tepat di sebelah kantor polisi di Hanyang. Aku akan pergi kesana,” jawab Nok Du dengan gugup. Dan Nok Du mengerti.

Sambil memakan timun dan memandangin langit, Aeng Du mengatakan bahwa dia juga ingin pergi ke Hanyang, karena di situlah Nok Du- nya sekarang. Mendengar itu, Hwang Tae tersenyum dan mengatakan bahwa Aeng Du pasti sangat merindukan Nok Du.
“Aku penasaran apa itu,” gumam Aeng Du. “Hanyang. Sebenarnya apa itu? Jika aku berlari sangat cepat, berapa lama untuk sampai ke sana?” tanyanya dengan bersemangat.
Dan tanpa menjawab, Hwang Tae hanya tersenyum serta mengelus kepala Aeng Du.

Yeon Geun dengan cemas, menanyakan, apakah Nok Du pasti akan kembali. Dan dengan lelah, Nok Du menjawab bahwa dia sudah mengatakan nya berkali- kali bahwa dia akan kembali besok.
“Aku akan mengadakan pesta besar untuk merayakan kepulanganmu. Jadi, tolong jangan terlambat,” kata Yeon Geun, perhatian.
“Tidak, jangan mengadakan pesta,” balas Nok Du. Lalu dia pun pergi.
“Aku akan menunggumu!” teriak Yeon Geun.

No comments:

Post a Comment