Wednesday, October 2, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 2 - part 1

0 comments

Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 2 – part 1
Network : KBS2

Si wanita prajurit berjalan ke sebuah tebing yang sunyi. Dan Nok Du mengikutinya, tapi ketika melihat si wanita prajurit sedang berganti pakaian, maka dia pun langsung bersembunyi dan mengalihkan pandangannya dengan gugup.
Kemudian saat akhirnya, si wanita prajurit telah selesai berganti pakaian, maka Nok Du pun langsung mengikutinya lagi.

Si wanita prajurit masuk ke dalam sebuah gua kecil. Dan melihat itu, Nok Du pun bersiap-siap. “Kalian semua akan mati,” gumamnya dengan penuh tekad. Lalu dia pun masuk ke dalam gua tersebut.

Gua tersebut tembus ke sebuah desa kecil yang penuh dengan para wanita disana. Dan ketika Nok Du datang, mereka semua berbisik- bisik dengan heran kenapa bisa Nok Du sampai ke desa mereka.
“Kenapa aku hanya melihat wanita?” gumam Nok Du, merasa kebingungan juga.

Seorang wanita besar kemudian datang menghampiri Nok Du, dan Nok Du tersenyum dengan sopan kepada si wanita besar itu. Tapi tiba- tiba saja wanita besar itu malah mau menyerangnya. Untungnya, Nok Du berhasil menghindar tepat waktu. Lalu dia pun berusaha menenangkan si wanita besar untuk berbicara baik- baik. Tapi si wanita besar itu tidak mau, dan menendang Nok Du hingga terjatuh.

Si wanita besar tersebut bersama dua temannya yang juga berbadan besar berdiri menakuti Nok Du. “Kamu pasti ingin mati,” katanya.
“Tidak, kamu pasti salah paham,” jelas Nok Du, ketakutan.
“Kamu pasti datang untuk tujuan licik, karena hanya janda yang tinggal di desa ini,” balas si wanita besar no. 2 dengan suara keras. Lalu dia bersama kedua temannya pun langsung maju untuk menghajar Nok Du.

Nok Du di hajar habis- habisan oleh ketiga wanita tersebut. Dia di lempar, di banting, di jepit, dan di gigit. Namun sialnya, dia tidak bisa melepaskan diri ataupun melawan.

Nok Du keluar dari gua tersebut dalam kondisi menyedihkan, hidungnya berdarah dan wajahnya tampak sangat kesakitan. Lalu didepan pintu gua, barulah dia membaca tanda yang tertulis disana. Khusus wanita, Desa untuk Janda.
Nok Du berusaha memperbaiki topinya yang rusak. Serta dia membersihkan darah dihidungnya, serta debu di tubuhnya. “Mereka melarang pria memasuki tempat itu, tapi ada pembunuh bayaran di dalamnya? Aku harus menghancurkan ..” keluh Nok Du dengan kesal. Tapi kemudian dia mengurunkan niatnya tersebut, karena dia akan mati duluan sebelum berhasil menemukan pemimpin si wanita prajurit.


Kemudian tepat disaat itu, Nok Du melihat gerombolan pria yang melalui jalan tebing tersebut. Dan dia mendengar pembicaraan mereka, tentang wanita bernama Sung yang melarikan diri, kepadahal sebentar lagi akan diadakan upacara.
“Kemungkinan besar kita akan menangkapnya disana. Sekalipun kita melewatkannya, dia akan datang ke sini, jadi jangan khawatir,” kata orang tersebut kepada ketua. Dan mendengar itu, Nok Du pun tampak terpikirkan sebuah ide bagus.


Malam hari. Didalam hutan. Sung berlari sekencang mungkin dari kejaran para pengawal yang mengejar nya di belakang. Tapi sialnya, dia kemudian malah tanpa sengaja terjatuh. Dan disaat itu Nok Du pun mendekatinya serta mengulurkan tangan padanya.
“Izinkan aku membantumu. Tolong maafkan aku,” kata Nok Du dengan cepat. Lalu dia langsung mengendong Sung dan membawanya bersembunyi.
Dengan perhatian, Nok Du menanyakan, apakah Sung baik- baik saja. Lalu tiba- tiba saja dari belakangnya, seorang pria datang dan menyerang nya dari belakang. Untung saja, Nok Du berhasil menghindar. Tapi kemudian, pria tersebut malah mengambil batu dan menyerangnya lagi.
“Tidak!” teriak Sung dengan keras. Tapi pria tersebut tetap tidak mau berhenti mencoba untuk menyerang Nok Du.


Lalu, karena tidak tahan lagi, maka Nok Du pun menendang dan menjatuhkan pria tersebut. Kemudian dia menanyakan, siapa pria tersebut. Tapi Sung malah mendorongnya, dan memeluk pria tersebut. Dengan heran, Nok Du pun memperhatikan mereka berdua.
“Nyonya baik- baik saja?” tanya pria tersebut (Dol Bok). Dan Sung pun mengiyakan dengan perasaan lega. Melihat adegan mesra itu, Nok Du mendengus kesal.

Sung meminta maaf kepada Nok Du, sebab Nok Du telah menyelamatkannya, tapi dia malah perbuat salah. Dol Bok pun juga ikut meminta maaf, dia berlutut didekat Nok Du dan menjelaskan bahwa tadi dia sempat salah paham, karena mengira Nok Du berusaha melukai Sung nya.
“Lupakan saja. Jangan pergi ke desa untuk janda. Ayah mertua mu menunggu disana,” kata Nok Du, berbaik hati memperingatkan mereka berdua.

Mendengar itu, Dol Bok menanyakan, apakah itu benar kepada Sung. Dan Sung tidak bisa menjawab. Dol Bok lalu menangis, sebab kalau Sung pergi ke desa tersebut, maka mereka tidak akan bisa bertemu lagi. Dan Sung menjelaskan kalau lebih baik dia tidak bertemu dengan Dol Bok selamanya, daripada melihat Dol Bok terluka.
“Kenapa kamu tidak memahamiku? Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi,” kata Dol Bok sambil memeluk Sung dengan erat.

Melihat adegan sedih itu, Nok Du pun merasa bersimpati kepada mereka berdua. Jadi dia pun menawarkan sebuah jalan keluar kepada mereka berdua.

Gerombolan pria, yang merupakan Ayah mertua Sung dan anak buahnya, mereka sudah menanti seharian didepan pintu gua. Dan mereka merasa heran, kenapa Sung serta Dol Bok belum juga datang ke sana. Tapi kemudian mereka melihat seorang wanita datang, dan dengan buru- buru mereka pun mendekati wanita tersebut, karena mengira wanita tersebut adalah Sung.

“Hei, brengsek! Kamu harus merasa terhormat mengorbankan nyawamu untuk keluargamu. Beraninya kamu kabur? Kamu bahkan tidak akan mati dengan damai lagi,” kata si Ayah mertua. Lalu dia berniat untuk menarik mantel yang dipakai wanita tersebut, tapi wanita tersebut langsung menepis tangannya dan menampar wajahnya. Sehingga hidung nya pun berdarah.
Dengan kesal, si Ayah berdua menarik paksa mantel yang menutupi wanita tersebut.


Ternyata, wanita yang berada di balik mantel tersebut adalah Nok Du. Dan dia sangat, sangat cantik. Melihat kecantikannya yang begitu memesona, Ayah mertua pun langsung meminta maaf dengan sopan. Tapi Nok Du mengabaikan mereka semua, dan langsung berjalan pergi.

“Ah, dia manis,” puji si anak buah, terpesona pada Nok Du.
“Dia memang manis. Terutama dari belakang,” tambah Ayah mertua, setuju.

Flash back
Sung serta Dol Bok tertawa dan memuji kecantikan Nok Du, ketika Nok Du telah berganti pakaian mengenakan baju wanita. Dan Nok Du pun langsung merasa menyesal dengan idenya, dia merasa seperti mereka telah membuat kesalahan, dan dia berniat untuk mencari cara lain. Tapi Sung langsung menghentikannya.
“Kamu tampak sangat cantik,” puji Sung. “Kamu hanya perlu memperbaiki gaya berjalan dan suara mu,” jelasnya.
“Benar, gaya berjalanmu agak ..” tambah Dol Bok.

Sung kemudian memberikan sedikit harta miliknya kepada Nok Du sebagai ungkapan terima kasih nya. Dan Nok Du menjawab tidak perlu, tapi dia tetap mengambil hadiah tersebut dan melihat isinya.
“Tunggu, aku tidak mengharapkan balasan karena membantumu,” kata Nok Du, merasa tidak enak, karena menerima sebuah kodok emas.

“Apa aku membuatmu merasa tidak nyaman lagi? Kalau begitu..” kata Sung, ingin mengambil kembali hadiah nya tersebut. Tapi Nok Du langsung menyimpannya.
“Namun, aku diajarkan bahwa menolak keramahan seorang wanita bukanlah sesuatu yang harus di lakukan pria,” kata Nok Du. Dan mendengar itu, Dol Bok tertawa.

Nok Du kemudian memakai mantel nya, dan pamit kepada mereka berdua
Flash back end

Nok Du dengan gugup masuk ke dalam kampung Janda. Dan disana, si wanita besar no. 3 tiba- tiba datang dan mengkagetkannya dari belakang.
“Aku anggota keluarga Kim dari Hanyang. Kudengar kamu membantu janda yang melarikan diri,” kata Nok Du dengan suara pelan seperti wanita.
“Begitukah? Masuklah,” ajak si wanita besar no. 3 dengan ramah. Dan Nok Du pun mengikutinya.

Si no. 3 menjelaskan kepada Nok Du, asal mula desa mereka. Desa janda terbentuk selama invasi Jepang. Para janda yang kehilangan suami mereka dalam perang datang berkelompok dan mulai tinggal di desa tersebut. Sebenarnya itu karena, keluarga mertua mereka meminta mereka untuk bunuh diri demi menjaga kehormatan keluarga. Namun tentu saja mereka tidak mau. Jadi mereka pun tinggal di desa ini. Dan lama- lama desa tersebut pun berubah menjadi desa yang bagus, yang bahkan disetujui oleh Yang Mulia.
Mendengar itu, Nok Du pun mengiyakan saja. Dia sibuk memperhatikan ke sekelilingnya dengan seksama.

Si No. 3 salah paham, dia mengira Nok Du sedang khawatir. Jadi dia pun memberitahu pada Nok Du supaya jangan khawatir, selain dari jalan yang Nok Du lalui untuk masuk. Hanya ada satu jalan keluar lain, dan jalan itu menuju ke rumah Gisaeng.
“Apa semua wanita berpenampilan biasa ini merupakan satu kelompok?” pikir Nok Du, penasaran.
Si No. 3 memperhatikan penampilan Nok Du dari atas ke bawah, dan lalu dia mengangkat jempolnya. “Kamu calon istri terbaik, “ pujinya.
“Ah, pihak keluarga Ibuku di kenal dengan tinggi mereka. Aku mewarisinya dari Ibuku,” balas Nok Du dengan gugup dan cepat.

Lalu disaat itu, si wanita besar no. 1 dan no. 2 datang mendekati mereka berdua. Melihat mereka, Nok Du pun langsung memalingkan wajahnya dengan perasaan takut. Tapi kemudian dengan terpaksa, dia pun tersenyum sopan kepada mereka.

Si wanita no. 1 dan no. 2 salah paham, mereka mengira Nok Du takut, sebab mereka sedang membawa seorang pria yang terluka. “Jangan terkejut. Terkadang, ada beberapa pria kurang ajar yang mencoba menyelinap masuk,” jelas si no. 1.
“Tapi, kami Pasukan wanita berbudi akan menangkap mereka semua, dan mengirim mereka ke akhirat,” tambah si no. 2. Lalu mereka bertiga pun tertawa.
Dengan takut, Nok Du pun tertawa dengan hambar.

Mereka bertiga kemudian memperkenalkan Nok Du sebagai janda baru kepada Nyonya Chun, kepala rumah Gisaeng. Mengetahui itu, dengan heran, Nok Du menanyakan kenapa ada rumah Gisaeng di samping desa untuk Janda.
“Energi wanitanya kuat disini, jadi, kami pikir itu tempat ideal untuk rumah Gisaeng,” jelas si no. 1
“Dan sekarang, para janda membuat alkohol, serta menjahit pakaian untuk rumah Gisaeng. Serta Nyonya Chun mengurus desa kita dengan baik. Kita saling membantu,” tambah si no.3. Dan Nok Du pun mengerti.

Nyonya Chun dengan ramah menyambut kedatangan Nok Du. Dia menyuruh ketiga wanita tersebut untuk melaporkan tentang Nok Du ke wakil Kurator, dan membiarkan Nok Du untuk beristirahat.
Namun si no. 2 menjawab bahwa saat ini mereka tidak memiliki tempat kosong untuk Nok Du. Dan dia memerlukan waktu untuk membangun tempat bagi Nok Du.
“Bagaimana jika membiarkannya tinggal di tempatmu untuk sementara?” tanya Nyonya Chun. “Sun Nyeo, karena kamu tidur sendiri, bagaimana kalau kamu bawa dia?”
“Tentu, kedengarannya bagus,” jawab si no. 1 (Sun Nyeo) dengan bersemangat.

Mendengar itu, Nok Du merasa terkejut dan langsung menolak. Namun saat dia menyadari situasinya, dia pun langsung berusaha untuk menjelaskan dengan gugup. “Itu… aku menolak karena. Aku merasa sangat bersalah membuatmu tidak nyaman,” jelasnya, beralasan.
“Ayolah. Itu tidak penting. Kita berdua wanita,” balas Sun Nyeon sambil tertawa ramah.
“Tidak! Aku tidak bisa menanggung beban seperti itu. Bukankah Anda bilang ada rumah Gisaeng di sebelah desa. Boleh aku tidur disana?” pinta Nok Du, memohon.
Mendengar itu, Nyonya Chun merasa heran.

Nyonya Chun dengan perhatian bertanya, apakah Nok Du tidak akan apa- apa, karena banyak pria di tempat mereka. Dan Nok Du dengan cepat menjawab bahwa dia tidak apa-apa, sebab dia hanya akan tinggal untuk beberapa hari saja.
“Baiklah,” kata Nyonya Chun, setuju. “Bagaimana kalau kamu berbagi kamar dengan Dong Ju? Dia punya kebiasaan tidur yang buruk, tapi cukup baik..” jelasnya. Dan pembicaraan mereka pun harus terhenti, sebab terdengar suara tangisan.

Dong Ju menghentikan seorang pria yang menarik tangan seorang gadis kecil. Melihat situasi tersebut, Nyonya Chun dengan buru- buru langsung mendekati pria itu, dan dengan ramah dia menanyakan, kenapa pria itu datang kemari.

“Aku menawarkan memberi gadis itu kesempatan menjadi gisaeng sejati. Tapi wanita rendahan itu berani menolak,” jawab si pria, dengan nada merendahkan. Dan Dong Ju merasa kesal mendengar itu.
Dong Ju dengan berani membalas perkataan pria itu. “Dia bukan Gisaeng resmi, dan usianya baru 12 tahun.”
Nyonya Chun menyuruh seorang Gisaeng untuk membawa Cho Sun (Si gadis kecil) ke gedung utama. Dan lalu dia berusaha menenangkan pria, yang merupakan pelanggan di tempat mereka. Tapi si pria tidak terima dan marah.

“Tuan. Anda tidak tahu ini menentang adat istiadat?” tanya Nyonya Chun, tegas.
“Adat istiadat?” tanya pria itu sambil tertawa. “Sulit ku percaya para wanita rendahan membicarakan adat istiadat.”

“Anda benar. Apa gunanya bagi wanita rendahan seperti kami membahas adat istiadat? Namun, keadaannya berbeda untuk Anda. Aku hanya mengatakannya, karena aku khawatir, seeseorang yang sangat tinggi dan penting sepertimu bisa kehilangan harga dirimu karena emosi sesaat,” tegas Nyonya Chun.


Si Pria itu pun menanyakan, berapa lama dia harus menunggu. Dan Nyonya Chun menjawab sekitar 3 atau 4 tahun lagi. Mengetahui itu, Si Pria itu pun setuju untuk menunggu. Dengan penuh rasa syukur, Nyonya Chun memberikan hormat padanya. Tapi kemudian, Pria itu malah mengeluarkan pisau dan mengarah kan itu padanya. Melihat itu, Nyonya Chun merasa terkejut, begitu pun dengan setiap orang disana.

Si Pria dengan paksa menarik Cho Sun, dan menjadikannya sebagai sandera. Dia mengancam akan memotong rambut Cho Sun menggunakan pisaunya. Dan dengan marah, Nyonya Chun bertanya, apa yang sedang si Pria lakukan sekarang.
“Akan butuh sekitar 3 atau 4 tahun agar rambutnya bisa tumbuh kembali,” jelas si Pria dengan sikap menjengkel kan. “Aku tidak mau dia untuk di rebut oleh pria lain, sementara aku menunggunya,” jelasnya. Lalu dia mengarahkan pisau nya kepada Nyonya Chun. “Atau kamu akan mengorbankan rambutmu?” tanyanya.

Mendengar itu, Nyonya Chun merasa marah, tapi dia tidak  bisa menjawab.
Tapi dengan berani, Dong Jun merebut pisau Pria tersebut. Dan lalu temannya menarik Cho Sun untuk kembali kepada mereka.
“Jika rambut yang kamu inginkan, akan kuberikan kepadamu. Rambut selalu tumbuh kembali.  Tidak mungkin lebih penting daripada gadis kecil itu,” jelas Dong Jun dengan berani. Dan mendengar itu, si Pria merasa kesal.

Nok Du, Nyonya Chun, serta semua nya terkejut ketika Dong Ju mengarahkan pisau tersebut ke rambutnya sendiri. Tapi Dong Ju mengabaikan mereka semua, dan dengan berani dia memotong rambut panjangnya menjadi pendek menggunakan pisau tersebut.

Lalu kemudian disaat itu, angin berhembus lembut, dan rambut kepang Dong Ju yang telah terpotong berhembus dan menjadi tergerai. Melihat itu, Nok Du memandang nya dengan pandangan terpesona.

Hiasan di rambut Dong Ju pun juga ikut terlepas, karena angin. Dan disaat itu, mata Dong Ju serta mata  Nok Du pun bertatapan.

No comments:

Post a Comment