Wednesday, October 2, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 37

5 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 37
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Para team SOLO kembali ke gedung arena untuk acara pertandingan mereka. Tidak di sangka, sudah ada banyak fans yang berkumpul untuk melihat mereka bertanding lagi. Mereka langsung datang saat mendengar kabar mengenai pertandingan mereka.
Mereka tentu merasa terharu. Para fans itu tetap ada dan setia para mereka. Bagi Shangyan, para fans itu adalah penyemangat terbesar mereka dulu dan sekarang.
Pertandingan di mulai. Solo, Ai Qing, Xiaomi memakai seragam SP. Shangyan dan Xiaomi memakai seragam K&K. Mereka melawan Wu Bai, 97, Grunt, Inin dan Buff. Hal ini membuat team SOLO teringat masa-masa dulu mereka dari saat mereka masih bukanlah apa-apa dan menjadi juara nasional.
Solo memberikan pidato-nya, berterimakasih pada dukungan mereka dulu sampai sekarang. Shangyan juga memberikan pidato-nya. Dia mengakui kalau dia menyesal dulu. Akan tetapi, mereka team SOLO tetap ada di dunia CTF. Ada di team SP dan di team K&K, hanya bertukar nama saja. Mereka akan menolong semua untuk sukses dan menjadi juara dunia. China! Menjadi juara!
(tidak ada di kasih lihat pertandingannya. Dan tidak tahu siapa yang menang).
--

Selesai acara, Tong Nian langsung berlari dan melompat memeluk Shangyan. Tentu saja, semua yang ada di sana (tidak ada fans, yang ada anggota K&K, SP, team SOLO dan Buff) langsung heboh. Tong Nian memuji Shangyan yang sangat hebat tadi hingga membuatnya merasa sangat terharu.

Pokoknya, mereka tampak mesra hingga yang lain semakin menggoda.

Solo mengundang mereka semua malam ini untuk ke tempatnya karena dia akan mengadakan pesta besar. Shangyan menyuruh mereka pergi duluan karena dia akan ke suatu tempat dulu bersama Tong Nian.
--

Shangyan membawa Tong Nian ke staisun kereta Beijing. Itu adalah tempat dimana dia pertama kali datang ke Beijing dan bergabung dengan team SOLO. Shangyan menceritakan masa lalunya pada Tong Nian.
Dulu, dia harus duduk di dalam kereta selama lebih dari 10 jam untuk sampai ke Beijing. Saat akhirnya tiba di Beijing, dia merasa hampir mati kelelahan dan sangat mengantuk. Tapi, ketika dia melihat Solo dan yang lainnya, dia menjadi sangat sadar. Saat itu, mereka berlima hanyalah berpikiran sederhana. Yaitu: Membentuk klub, bertanding dan memenangkan juara. Orang-orang untuk bertanding ada tapi uang yang tidak ada. Jadi, dia kembali ke rumah dan mengambil uang yang mendiang ayahnya tinggalkan untuk keperluan sekolahnya dan membuat itu untuk dana team SOLO. Hari itu, ketika team di bubarkan, Solo ingin memberikan posisi kapten team padanya, tapi dia menolaknya. Itu karena ketika kapten team di ganti, rasanya team sudah tidak sama lagi seperti sebelumnya. Saat itu, dia sangat marah dan sangat terluka. Dia meninggalkan segalanya pada Solo dan kembali ke Norway. Dan kemudian, dia membentuk K&K. Niat awalnya saat itu sangatlah sederhana, dia hanya ingin memperbaiki segala keputusannya dahulu. Dia ingin membentuk klub yang stabil dan merekrut kembali semua anggota team lama. Mereka dapat memulai semuanya dari awal. 3 tahun yang lalu, ketika pusat mulai beraksi, dia sangat tidak sabar ingin membentuk team di China, kenapa?
“Karena kau khawatir mereka tidak bisa menunggu terlalu lama. Kau takut kalau mereka sudah pensiun,” jawab Tong Nian.
“Itu benar. Aku tidak bisa menunggu. Aku takut mereka tidak bisa menungguku. Tapi, tidak ada yang menyangka kalau 4 dari mereka pergi ke SP.”
“Jadi, kau yang tertinggal sendirian dan menjadi boss dari KK.”
“Apa kau bosan mendengar ceritaku?” tanya Shangyan.
“Tidak. Aku suka mendengar ceritamu.”
“Ketika kami berlima memenangkan kejuaraan, aku merasa langit adalah milik kami. Dunia adalah milik kami. Selama kami berlima bekerja sama, tidak ada yang tidak bisa kami lakukan,” ujar Shangyan dengan sedih.
Tong Nian tahu kesedihannya. Jadi, dia bertanya, apakah Shangyan tahu kenapa Bumi ini berputar? Shangyan menjawab kalau itu karena matahari. Tong Nian berkata kalau jawaban Shangyan salah. Bumi berputar karena bumi tidak ingin setiap orang tetap berada di titik yang sama. Entah bahagia atau sedih, dia berharap setiap orang tetap dapat melihat ke depan. Setelah sekian tahun, bukankah mimpi Shangyan akhirnya menjadi nyata? Semua yang Shangyan lalui, membuat Shangyan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Tapi, aku masih memiliki satu mimpi yang belum tercapai.”
“Mimpi apa itu?”

Shangyan menatap Tong Nian penuh cinta. Dia mengeluarkan cincin dari saku celanan-nya, “Ini adalah cincin juara yang ku dapatkan ketika aku menenangkan kejuaraan pertamaku. Ini sedikit lebih besar. Kau mungkin tidak bisa mengenakannya.”
Tong Nian langsung menjawab kalau dia bisa memakainya.
“Tong Nian. Mari kita menikah,” lamar Shangyan. “Menikah,” tegasnya lagi. “Bagaimana?”
Tong Nian terkejut. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Shangyan benar-benar tulus. Dia khawatir, kalau mereka menikah sekarang, orang tuanya akan semakin membenci Shangyan. Shangyan langsung memberitahu kalau dia sudah pernah membicarakan hal ini pada orang tua Tong Nian. Dia tidak berbohong. Dia membicarakannya saat orang tua Tong Nian bertemu dengan ibu tirinya. Dan dia juga sudah berjanji kalau dia pasti bisa menjaga Tong Nian dengan baik.
Tong Nian menangis.
“Apa… apa kau… masih belum siap?” tanya Shangyan.
Tong Nian bingung harus menjawab bagaimana. Dia tidak bisa berhenti menangis. Dia menjelaska kalau ini adalah pertama kalinya dia di lamar dan dia tidak tahu harus bagaimana. Dia merasa sangat gugup. Segala yang di lihatnya tampak berbayang. Dia tidak menyangka akan hal ini.
Shangyan memeluknya. Dia menenangkany Tong Nian untuk tidak khawatir. Tidak perlu merasa cemas. Shangyan menyimpan cincin-nya dan tahu kalau dirinya terlalu impulsif. Dia akan melamar Tong Nian lain kali lagi.
“Lain kali kapan? Bukankah kau melamarku hari ini?” bingung Tong Nian.
“Kita bisa membicarakannya nanti. Mari kita makan saja sekarang.”
“Lalu, kapan kau akan melamarku lagi?”
“Saat kau tidak lagi memiliki keraguan padaku dan kau dengan tulus akan berkata Ya.”
--
Mereka dalam perjalanan kembali ke hotel. Tong Nian merasa cemas, takut kalau Shangyan akan marah karena dia menolak lamarannya tadi. Shangyan sebenarnya juga sedang bingung, memikirkan alasan Tong Nian menolaknya. Selama ini, di antara mereka berdua, tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan.
Tong Nian juga bertanya pada dirinya sendiri, kenapa dia menolak lamaran Shangyan? Dia tidak tahu alasannya. Apakah karena tadi terlalu tiba-tiba? Atau karna di dalam hatinya, dia takut akan sesuatu?
--

Shangyan mengantarkan Tong Nian ke kamarnya. Dia tidak bisa menemani Tong Nian malam ini karena harus pesta di ruangan Solo. Tong Nian masih khawatir dan bertanya perasaan Shangyan. Shangyan menjawab baik-baik saja. Dan Tong Nian sedikit lega mendengarnya.
Setelah Shangyan pergi, Tong Nian yang lagi galau memutuskan untuk menelpon Yaya dan curhat. Yaya kaget karna Shangyan melamar Tong Nian dan Tong Nian menolaknya. Tong Nian langsung meluruskan kalau dia tidak menolak Shangyan, akan tetapi kepala-nya untuk sesaat kosong dan dia merasa bimbang. Dia meminta Yaya untuk memberikan saran padanya.
“Nian Nian, malam ini, pacarmu baru saja kembali pertanding. Dan dengan hebatnya memenangkan pertandingan dan bahkan mengalahkan top 5 pemain saat ini. Semua fans menangis terharu atas peristiwa itu. Dan Shangyan melamarmu malam ini juga. Dia membawa cincin juaranya untuk melamarmu. Kau tahu betapa berhaganya itu? Cincin juara dari kemenangan pertama Gun God. Hanya ada satu di dunia. Dan di cincin itu terukir G-U-N. Kau tahu apa artinya itu?”
“Saat itu, kepalaku terasa kosong. Aku terus merasa ada sesuatu yang hilang di tengah. Atau… bagaimana jika agar dia tidak sedih, aku akan menemuinya dan bilang kalau aku menginginkan cincinya?”
“Kau… bodoh ya? Tidak ada satupun orang yang minta cincin lamaran duluan.”
“Jadi aku harus gimana? Bisakah kau tidak memarahiku lagi, aku sudah merasa sangat burul. Aku tidak tahu harus gimana lagi. Bye bye.”
--
Shangyan tiba di kamar hotel Solo. Dia tampak galau dan memberitahu yang lain kalau dia tadi melamar Tong Nian. Melihat wajah muram Shangyan, mereka bisa menebak kalau Shangyan pasti di tolak. Dan hal itu membuat semua jadi penasaran dan ingin tahu cerita lengkapnya.
Shangyan memberitahu kalau saat dia melamar Tong Nian tadi, Tong Nian berkeringat dan wajahnya pucat. Karena itu dia menghentikan lamarannya. Semua tersenyum mendengar cerita Shangyan. Solo langsung berkata kalau keringat itu adalah keringan kebahagiaan. Dan semua membenarkan.
“Kalian tidak mengerti. Aku hanya takut dia tidak memikirkannya matang-matang dan secara impulsif menerima lamaraku. Dan nantinya, dia akan menyesal. Jalan yang kami lalui bukanlah jalan yang mudah,” cerita Shangyan. “Saat melihatnya sangat gugup, aku jadi berpikir, apakah aku terlalu impulsif?”
Dan karena melihat kegalauan Shangyan, mereka berusaha menghibur Shangyan. Di sana ada Ai Qing, Xiaomi, Ou Qiang, Xiao You dan Yi Qian. Mereka bahkan memutuskan untuk pergi bermain game sepanjang malam.
--
Tong Nian yang stress malah menggila di kamarnya. Nyanyi sendiri, teriak sendiri, menangis sendiri. Pokoknya, sudah benar-benar seperti orang stress saja.
Dan karena tidak tahu lagi harus gimana, jadi dia memutuskan untuk pergi ke kamar Wu Bai. Dia meminta waktu Wu Bai untuk berbincang karena dia ingin menanyakan beberapa hal mengenai Shangyan. Wu Bai setuju.
Mereka bicara di lobby. Tong Nian dengan ragu bertanya, apakah Shangyan sebelumnya sudah pernah di tolak sebelumnya dalam hal cinta? Wu Bai menjawab tidak. Tong Nian adalah pacar pertama Shangyan dan Shangyan belum pernah menyukai siapapun sebelumnya.
Tong Nian jadi penasaran, kalau Shangyan selama ini tidak pernah menyukai siapapun, kenapa bisa menyukainya?
“Mungkin… karena kau yang orang pertama yang menyukainya bukan karena pencapaiannya di CTF. Orang pada umumnya, ketika melihat wajah galak atau temperamen-nya yang buruk, pasti langsung kabur. Kenapa kau bisa suka padanya?”
“Aku? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika kau mendengar ini, kau mungkin akan sedikit sulit memahaminya. Tapi, ketika pertama kali aku melihatnya, aku merasa dia adalah orang yang sangat spesial di planet ini. Aku bukannya tertarik pada ketampanan wajahnya. Aku benar-benar merasa kalau dia berkarisma, berbeda dari yang lainnya. Di samping itu, aku sangat mengidolakannya. Terlebih lagi setelah aku mengenalnya, aku menyadari kalau dia menjadi semakin kikuk dan tidak tahu bagaimana caranya mencintai karena dia kekurangan banyak cinta ketika muda. Memikirkan itu, dia sangat kasihan,” jawab Tong Nian.
Wu Bai berkata kalau Shangyan beruntung bertemu dengan Tong Nian. Shangyan sekarang menjadi jauh lebih lembut, dan dia menyukai Shangyan yang seperti ini. Tong Nian kembali ke topik utama. Dia bertanya apakah Shangyan akan mendendam setelah di tolak seseorang?
Wu Bai mengingatkan kalau saat team SOLO di bubarkan, Shangyan masih terus mengingatnya sampai sekarang. Tong Nian baru teringat hal itu dan jadi sedih, takut Shangyan akan terus mengingat penolakannya. Wu Bai menyuruh Tong Nian untuk langsung bertanya saja intinya, jangan berputar-putar bertanya seperti ini karena hanya menghabiskan banyak waktu.
“Dia melamarku untuk menikah dengannya, tapi aku menolaknya. Saat itu, dia melamarku secara tiba-tiba, dan di moment itu aku terkejut dan tidak bisa berpikir sama sekali. Apa dia akan marah padaku?” tanya Tong Nian.
“Baguslah kalau begitu. Biarkan dia merasakan krisis akan kehilanganmu. Sepertinya, itu bukanlah hal yang buruk. Aku tebak kalau dia masih belum benar-benar mengerti bagaiaman caranya mencintai,” jawab Wu Bai.
Tong Nian memikirkan jawaban Wu Bai tersebut.
--

Shangyan dkk bermain-main hingga subuh. Mereka tampak bersenang-senang setelah sekian lama tidak berkumpul bersama. Mereka kemudian berbincang mengenai kehidupan Yi Qian dan Xiao You. Yi Qian sekarang bekerja menjual peralatan medis. Xiao You juga bekerja menjual mesin. Xiao You memuji Solo dkk yang walaupun sudah berusia 30 tahunan tapi masih juga memiliki semangat di usia 20 tahunan untuk mengejar mimpi mereka dan tidak menyerah.
--
Esok hari,
Ai Qing, Solo dan Ou Qiang mengantarkan Yi Qian dan Xiao You ke bandara. Mereka saling mengucapkan salam perpisahan. Solo memberitahu kalau tempat team SP adalah tempat untuk team SOLO juga, jadi mereka bisa bebas datang kapanpun.
--

Shangyan baru kembali ke kamar hotel dan mendapati Tong Nian yang tertidur di sofa. Dia diam dan tidak membangunkan Tong Nian. Tapi Tong Nian bisa merasakan kehadirannya dan terbangun. Mereka tampak canggung dan berusaha seolah tidak ada apapun yang terjadi.
--

Tong Nian dan Shangyan pergi ke resto untuk sarapan bersama. Di sana sudah ada anggota K&K dan juga Xiaomi. Shangyan hendak mengambilkan makanan untuk Tong Nian, tapi Tong Nian melarang dan menyuruh Shangyan duduk saja dan dia yang akan mengambilkan makanan untuk Shangyan. Karena hal tersebut, mereka jadi berdebat.      
Tong Nian beralasan kalau dia takut Shangyan merasa lelah tapi memaksakan diri kemari untuk menemani-nya sarapan. Shangyan menegaskan kalau dia merasa lelah, maka dia tidak akan ke resto untuk sarapan. Dan juga, dia berniat untuk membuat Tong Nian merasa tenang dengan turun menemani Tong Nian makan sarapan.
“Aku harap kau punya pemikiranmu sendiri dan membuat keputusanmu sendiri,” ujar Shangyan.
“Aku bisa makan apapun. Kau mau minum kopi? Susu atau?”
“Aku punya tangan dan kaki, jadi kenapa kau harus membantuku?” tanya Shangyan ketus, dan tentu terdengar oleh anggota K&K.
97, Demo, Grunt, One, Demo langsung bergosip memberitahu Xiaomi kalau dia dengar tadi malam Shangyan melamar Tong Nian dan di tolak. Mereka jadi merasa kasihan padanya. Tapi, yakin juga sih kalau Shangyan pasti akan menikah dengan Tong Nian.
--
Di pesawat,
Tong Nian duduk di sebelah Shangyan yang sudah tertidur. Tapi, dia malah sibuk sendiri memeriksa suhu udara dan memberi tanda diam pada pramugari yang menawarkan makanan karena takut membangunkan Shangyan. Tidak hanya itu, dia memakaikan Shangyan selimut miliknya dan yang membuat Shangyan jadi terbangun.
Tong Nian tampaknya masih memikirkan lamaran Shangyan kemarin malam dan masih tetap khawatir kalau Shangyan merasa marah atas penolakannya. Dia akhirnya bertanya, apakah di mata Shangyan, dia tidak berguna? Tidak punya kepribadian dan banyak kekurangan? Dan juga apakah karena dia tidak menerima lamaran Shangyan, maka Shangyan masih marah hingga sekarang?
“Aku tidak marah. Aku hanya… sedikit kecewa? Dan aku sama sekali tidak merasa kau penuh kekurangan. Yang penuh kekurangan adalah aku. Di saat kita bersama, kau selalu ada menemaniku saat aku merasa bahagia atau marah, sedih atau bersukan cinta. Tapi hal itu, membuatmu kehilangan kepribadianmu sendiri, kan?”
“Karena… karena aku merasa kau sangat bagus. Aku takut, aku tidak layak untukmu. Jadi, aku ingin… ingin mendukungmu diam-diam. Aku tidak mau menjadi orang yang tidak berguna.”
“Bagaimana bisa kau tidak berguna? Kau banyak membantuku. Kau mengajariku bagaimana caranya mencintai seseorang, apa kau tidak sadar hal itu? Aku sedang mencoba sangat keras, mencoba keras menjadi lebih baik lagi. Jadi, aku ingin berterimakasih padamu. Dan aku juga berharap kau bisa menungguku, okay?”
Tong Nian mengangguk. Hatinya menjadi sedikit lebih tenang. Dia tidak lagi merasa khawatir. Mereka berdua bisa kembali tersenyum. Shangyan melanjutkan tidurnya.
Dan Tong Nian, dia malah berusaha diam-diam mencium Shangyan. Shangyan sadar akan hal itu dan menggoda Tong Nian dengan menjauhkan kepalanya. Tong Nian tidak menyerah dan melepaskan sabuk pengaman dan mencium pipi Shangyan. Shangyan tersenyum manis padanya.
--

Shangyan mengantarkan Tong Nian pulang ke rumah. Orang tua Tong Nian tidak ada di rumah karna belum jam pulang kerja. Shangyan pamit untuk pulang, tapi Ton Nian malah menawarkan Shangyan masuk ke dalam rumahnya. Dia mengajak Shangyan untuk makan malam dulu baru pulang.
“Setelah Asian Championship, aku akan menghabiskan lebih banyak waktu denganmu,” ujar Shangyan.
Tong Nian mengerti dan tidak memaksa lagi. Shangyan sudah mau masuk ke dalam mobilnya, tapi dia melihat wajah Tong Nian yang sedih, jadi dia berbalik. Dia menerima ajakan Tong Nian untuk makan malam dulu sebelum pulang.


5 comments: