Sunday, October 14, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 11 - part 1

20 comments

Network : Channel 3



Khae menangis dan berlutut dengan wajah yang menunduk dalam- dalam ke bawah kaki Nok. Dia memohon agar Nok mengizinkannya untuk menemui Wat. Dan disaat suster yang merawat Wat keluar dari dalam ruangan, Thorsaeng langsung menarik Khae untuk berdiri dan membawanya masuk ke dalam kamar Wat.



Nok berusaha untuk menghentikan mereka, tapi Thorsaeng menarik Nok dan menyuruh Khae untuk segera masuk ke dalam. Lalu dengan segera Khae pun masuk, namun sebelum dia sempat membuka tirai di kamar Wat. Tiba- tiba terdengar suara Wat yang menyuruhnya untuk keluar.

“Khun Wat. Ini Khae. Aku punya kabar baik untuk diberitahukan padamu, aku …” kata Khae dengan bersemangat.

“Aku tidak mau dengar kabar baik atau buruk, jika itu berasal darimu,” balas Wat dengan tegas. Dan mendengar itu, Khae menjadi heran serta tidak percaya.

“Khun Wat. Mengapa? Kemarin kamu mau menemuiku,” balas Khae.



“Ya. Kemarin aku ingin menemui mu. Tapi sekarang tidak! Sejak kamu sendiri yang mengatakan padaku bahwa kamu hanya mencintai uangku. Jadi aku akan memberi kan padamu sebanyak yang kamu inginkan. Tapi setelah itu, kamu harus keluar dari hidupku mulai dari hari ini,” balas Wat.

Dan mendengar itu, Khae tampak sangat sedih sekali.


Lalu dengan sikap yang sangat tidak sopan, Nok mengatakan dengan keras apa Khae mendengar itu, Ayahnya telah mengusir Khae dan apa Khae masih tidak malu tetap berada disini.

“Jangan khawatir. Kamu akan membayar Putriku dan Aku untuk kepuasan mu!” kata Thorsaeng dengan emosi kepada Nok. Lalu kepada Khae, dia mengatakan,”Itu sangat bagus, Khae. Jadi kamu tidak perlu menjaga suami cacat sampai kamu mati,” kata Thorsaeng.



Kemudian Thorsaeng menarik Thorsaeng untuk pergi. Namun dengan sedih, Khae tidak mau. Tapi Thorsaeng menarik paksa tangan Khae. Di dalam sana, Wat tampak sangat sedih dan syok sekali mendengar perkataan itu. Dan melihat hal itu, dari balik tirai Nok berdiri diam.



Nai serta Vi yang datang untuk berkunjung, mereka berpapasan dengan Thorsaeng dan Khae yang baru keluar dari dalam ruangan. Dan lalu Thorsaeng pun memarahi Nai serta Vi, kemudian dia menarik Khae untuk segera berjalan pergi. Lalu mendengar itu, Nai serta Vi pun menjadi sangat heran.



Saat masuk ke dalam ruangan Wat. Nai langsung menanyakan apa yang terjadi pada Khae. Dan Nok pun menjelaskan semuanya. Namun setelah Nok selesai menjelaskan semuanya, Nai tampak tidak percaya bahwa Wat mengusir Khae.

“Mengapa? Kamu pikir, itu aku? Aku ingin melakukannya, tapi aku tidak perlu. Karena Ayah telah mengatakannya sendiri. Tanya dia jika kamu tidak percaya padaku,” kata Nok dengan kesal, karena Nai tidak mempercayainya.

“Bisakah aku bicara padamu?” pinta Nai.




Diluar ruangan. Nai menjelaskan bahwa bukan dia tidak mempercayai Nok, tapi apa Nok benar- benar percaya kalau Wat memang bermaksud berbicara seperti itu. Dan Nok membalas bahwa dia mempercayai semua yang Wat katakan, apapun itu.

Kemudian Nai meminta Nok untuk memikirkannya secara baik- baik, apa Wat benar- benar bermaksud untuk mengusir Khae. Karena Nok telah bersama dengan Wat setiap harinya, jadi pastinya Nok tahu.

“Aku melihat segala sesuatu nya normal,” kata Nok, lalu dia berjalan pergi. Dan melihat itu, Nai pun tidak bisa berbuat apapun lagi.



Didalam kamar. Vi mengupaskan buah untuk Wat. Sambil mengomentari sikap Wat. Vi tidak percaya bahwa Wat benar- benar melepaskan Khae untuk pergi, hanya karena Khae mengatakan bahwa dia mencintai uang dibanding Wat. Dan Vi menjelaskan bahwa Khae mengatakan hal itu, pasti karena Khae sedang ngambek saja. Lalu Vi menyuruh Wat untuk mengekspresikan segala yang Wat inginkan, sebelum Nok kembali.


“Aku khawatir dimasa depan, Khae harus merawat ku yang jauh lebih senior darinya. Tapi aku tidak pernah mengira bahwa hari ini datang dengan cepat,” kata Wat.

“Kamu hanya perlu untuk memulihkan kesehatan selama beberapa bulan hingga kamu akan bisa berjalan lagi. Dia bisa menunggu. Percaya aku,” balas Vi.

“Dan bagaimana jika waktu berlalu dan aku masih tidak bisa berjalan. Dia tidak seharusnya menangggung ini selama hidupnya,” balas Wat.

Dengan tegas Vi menjelaskan bahwa sebenarnya  bukan tubuh Wat yang sudah tua, tapi pikiran Wat. Karena Wat selalu berpikir berlebihan, memikirkan seperti ini, memikirkan seperti itu. Lalu Vi mejelaskan bahwa jika nantinya Wat memang tidak bisa berjalan lagi, maka disaat itu barulah Wat melepaskan Khae. Dan itu belum terlambat.

Kemudian Vi memberikan buah yang sudah dikupasnya. Dia menaruh itu langsung ke dalam mulut Wat. Namun Wat menolak untuk makan.


“Jangan bertindak seperti kamu tidak mau. Aku tahu mengapa kamu tidak mau makan. Itu karena kamu takut, kamu akan buang air besar. Dan itu memalukan pada suster. Tebakanku tidak pernah salah tentangmu. Kamu bahkan tidak tahu berapa bulan kamu perlu tinggal disini, jadi itu tidak mungkin untukmu untuk tidak memakan apapun. Bertindaklah biasa saja. Jangan mempersulit seperti ini,” jelas Vi.

Dan dengan perlahan, Wat pun memakan buah yang tadi Vi berikan kepadanya. Lalu melihat itu, Vi tersenyum dan fokus mengupaskan buah untuk Wat.

“Orang bilang kamu mengenalku dengan baik. Sekarang aku percaya,” kata Wat.

“Karena itulah, maka nya kita tidak bisa tetap menjadi pasangan,” balas Vi. Lalu dia memberikan buah yang lain kepada Wat. Dan Wat pun langsung memakannya.



Sebelum masuk  ke dalam kamar Wat. Nok diam dan merenungkan perkataan Nai padanya barusan serta pandangan sedih Ayahnya saat Khae pergi. Dan tepat disaat itu, Vi membuka pintu kamar. Dia memberitahu bahwa dia mau pergi untuk membeli makanan untuk Wat.

“Pertamanya, dia menolak ini atau itu. Tapi setelah bisa, dia tidak menahan dirinya lagi,” kata Vi menjelaskan dengan cepat.



Disaat itu, Wat memanggil nama Vi, karena dia mencoba untuk minum, tapi tanpa sengaja minumannya malah tumpah. Jadi melihat itu, Vi pun mengomel dan menanyakan kenapa Wat tidak memberitahu nya jika mau minum. Lalu Vi pun membantu Wat untuk membersihkan tumpahan yang jatuh di badan Wat.

“Aku tidak mau menganggu mu,” kata Wat.

“Ini lebih seperti menganggu,” balas Vi.

Dan melihat kedekatan antara kedua orang tua nya, Nok pun tersenyum sangat senang. Lalu dia mengambil dompetnya dan menawarkan diri untuk pergi membeli makanan. Sementara Vi lanjut membersihkan tumpahan yang jatuh dibadan Wat.



Nok menelpon Nenek dan menceritakan segala kejadian baik yang terjadi antara kedua orang tuannya. Namun Nenek merespon dengan dingin. Dan Nok pun berusaha membujuk Nenek agar berhenti mengambek padanya.

“Masalah orang tuamu, bagaimanapun aku ada disisimu. Tapi untuk anak pengemis tersebut, tidak. Aku harap kamu tidak mulai menyukai dia,” jelas Nenek.

“Kamu tahu bahwa aku menikahi dia agar masalah berakhir, itu saja,” balas Nok.



“Dan jika berakhir, akankah kamu menceraikan dia?” tanya Nenek. Dan Nok terdiam, karena sulit untuk menjawab. “Aku tahu sejak malam pernikahan, aku tidak bisa memerintah kamu lagi. Pikirkan lah tentang itu. Suatu hari jika orang tua mu kembali bersama, semua nya, status dan posisi perusahaan, itu akan menjadi milik mu sendiri. Dan ketika itu terjadi, apa gunanya Luckanai? Huh? Jangan menciptakan beban,” jelas Nenek.

“Beban? Apa maksudmu?” tanya Nok tidak mengerti.

“Semacam ikatan yang mengikat kedua orang tua mu. Sehingga mereka tidak bisa berpisah, karena mereka memiliki tanggung jawab bersama. Aku harap kamu cukup pintar untuk tidak menciptakan ikatan yang menjebak dirimu sendiri,” jawab Nenek.

Dan Nok pun terdiam memikirkan itu. Mungkin ikatan yang dimaksud adalah anak.



Nai menemui Khae dan menanyakan apa Khae tidak mau memberitahu Wat. Dan Khae membalas bahwa apa itu ada gunanya, karena sebagai Ibu dari anaknya, dia telah diusir. Lalu Nai menjelaskan bahwa Wat bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab.

“Tap apa yang aku inginkan dari dia bukanlah tanggung jawab,” jelas Khae.

“Paman Wat sangat mencintaimu. Dan dia bilang begitu, karena dia bingung. Pikirkan lah dari menjadi pengasuh dan menjadi dasar, Wat berubah menjadi seseorang yang butuh dirawat. Itu tidak mudah untuk diterima. Beri dia waktu,” balas Nai.




Khae membalas bahwa dia mengerti dan telah memberi cukup waktu. Pernikahan dimulai dari cinta, tapi tinggal bersama, itu bergantung pada kepercayaan. Dan Wat tidak mempercayainya, maka dari itu lah Wat bisa mengusirnya.

Lalu Nai menjelaskan bahwa setidaknya Wat harus mengetahui tentang bayi yang Khae kandung. Namun Khae menolak, dia merobek amplop yang berisikan hasil laporan hamilnya sambil meneteskan air mata. Kemudian setelah itu, Khae menangis dalam diam. Dan melihat itu, Nai pun  hanya diam, tanpa bisa melakukan apapun.



Dikantor. Jomyuth menjelaskan masalah pekerjaan kepada Nai, tapi Nai tidak mendengarkan sama sekali, karena dia sedang tidak fokus. Lalu saat Jomyuth menyadarkannya, Nai pamit pulang dan ingin membawa dokumen yang ada untuk dibawa pulang. Dan Jomyuth mengerti.



Lalu tiba- tiba saja disaat itu, Nok menelpon ke hape Jomyuth. Dan Jomyuth pun mengangkatnya. Lalu Nai diam dan mendengarkan. Nok menanyakan kepadae Jomyuth tentang pengacara yang mengurusi perceraian antara Wat dan Vi, serta Nok meminta kontak si Pengacara. Dan Jomyuth memberitahu Nok.

“Aku minta maaf. Siapa yang mau bercerai ya? Jangan bilang itu…” kata Jomyuth dengan ragu sambil memandang Nai.

“Bisakah aku bicara pada Istriku?” kata Nai, meminta telpon Jomyuth.

“Khun Nok, Khun… tapi… baiklah. Yeah. Ya. Selamat tinggal,” kata Jomyuth kepada Nok sambil memandang kearah Nai. Setelah itu Jomyuth mematikan sambungan telponnya.



Dengan gugup, Jomyuth menjelaskan bahwa Nok mematikan telponnya. “Dia bilang untuk memberitahumu jangan tidur di rumah sakit. Ranjangnya penuh. Khun Vi tidur disana,” jelas Jomnyuth. Dan Nai hanya diam.

“Jangan bilang aku ikut campur… mm… aku pikir sejak orang saling mencintai… kesempatan untuk putus itu mudah. Tapi jika kita saling bertatapan satu sama lain, kemudian berpapasan… tidak akan segera datang… maka kita perlu bertatapan satu sama lain dan bicara,” jelas Jomyuth dengan gugup. Kemudian dia pamit dan pergi.

“Bicaralah baik- baik,” kata Jomyuth sekali lagi, sebelum keluar dari ruangan.


Dirumah sakit. Nok memegang hape nya dan menghitung mundur dari tiga. Tapi sama sekali tidak ada, telpon masuk. Kemudian dengan kesal, Nok pun bergumam. “Aku sudah memberimu kesempatan.”




Keesokan harinya. Saat pagi hari. Wat akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Lalu sesampainya dirumah, saat Nok akan turun dari dalam mobil ambulans, Nai datang dan mengulurkan tangannya untuk Nok. Tapi Nok turun begitu saja, kemudian Nok berjalan untuk masuk ke dalam rumah.

“Khun Nok,” panggil Nai. Dan dengan berat, Nok menghelas nafas.

“Kita tidak ada makan bersama beberapa hari sekarang. Jadi bisakah kamu menunggu dan menemuiku hari ini?” tanya Nai. Dan Nok mengiyakan, lalu dia masuk kedalam rumah sambil tersenyum. Begitu juga dengan Nai, dia tersenyum.



Disalon. Pat menunjukan berita tentang Pen yang kehilangan peran di dalam salah satu lakorn. Dan membaca itu, Vi mengomentari bahwa apa yang kita lakukan, itulah yang kita dapat. Kemudian tepat disaat itu, Wes datang, sehingga Pat buru- buru menyimpan hape nya dan pamit ke kamar mandi.



Lalu Wes pun menunggu dan duduk disamping Vi yang sedang dirawat rambutnya. Dia menanyakan kepada Vi, apa Ibunya baik- baik saja barusan. Dan Vi mengiyakan.

Setelah itu Wes menanyakan tentang Wat yang kabarnya sudah boleh pulang. Dan saat Vi mengiyakan, Wes mengatakan bahwa dia ingin pergi untuk mengunjungin Wat. Lalu Vi pun setuju.

“Jika kamu pergi kesana, kemudian hubungin aku ya,” kata Wes.

“Mengapa aku?” tanya Vi dengan heran.


“Jika aku pergi sendirian. Aku takut Khun Wat dan Khun Luckanai tidak akan suka itu. Aku punya kasus lama, jika kamu belum lupa,” jelas Wes. Kemudian dia mengulurkan jari kelikingnya.

“Ini…” kata Vi dengan heran.

“Janji. Jika kamu pergi, kemudian hubungin aku,” jelas Wes. Lalu dia mengalungkan jari keliking nya dengan jari keliking Vi. “Janji ya sekarang.”


“Okay,” balas Vi. Lalu dengan sikap malu- malu, Vi menjelaskan kepada petugas salon yang mengurus rambutnya. “Ini anak teman ku.”

20 comments:

  1. Trims min buat 2 part ny
    Ditunggu kelanjutannya ya

    ReplyDelete
  2. Seru seru seru makasih ya udah d percepat sinopsisnya ditunggu selanjutnya πŸ‘Œ

    ReplyDelete
  3. Lanjut lagi min makin seru gak sabar nunggu kelanjutan x. ... 😊😊😊😊

    ReplyDelete
  4. Thank ditunggu kelanjutannya ya min 😊😊😊

    ReplyDelete
  5. Ditunggu kelanjutannya min😊😊😊

    ReplyDelete
  6. Ditunggu kelanjutannya,tidak sabar min

    ReplyDelete
  7. Makasi udah update kak : )
    Seru sinopsis nya

    ReplyDelete
  8. Ditunggu kelanjutannya, semangaaaat Kak^^

    ReplyDelete
  9. Kak, bikin sinopsis drama/film lain yang pemerannya ada Natapohn Tameeruks yaaa:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iy bnr yg u blng smoga kk yg bwt sinopsis mau nulis drama natapohn yg rising sun season 1,,,, bgs bngt drama ny lwn mainny mario maurer

      Delete
    2. Lom sorn ruk,nueng dao fah diew, nakee juga kak.. rameeee tuh

      Delete
  10. Ayo dong min lanjutkan...jngan lama² ya, klo ga sibuk bisa ga klo setiap hari itu bkin sinopsis 1part gt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf kak, nggak bisa. Karena sekarang penulis sinopsis game sanaeha sedang sangat sibuk urusan kantor. Dan sinopsis hanya bisa di tulis di malam hari dengan menyempatkan waktu. Kalau satu hari, buat 1 part, kasihan penulisnya nggak istirahat.

      Thanks udah mau datang mampir dan baca.

      Delete
  11. kak updatenya tiap hari apa ?
    penasaran sm kelanjutanya ,seru bngt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Update nya nggak tentu mbak. Tergantung ketersediaan waktu penulis-nya.Sepertinya sinopsis selanjutnya di posting minggu atau senin kak.

      Delete
  12. Ditunggu yaaa kak kelanjutannyaa

    ReplyDelete