Sunday, October 14, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 10 - part 5

3 comments
Network : Channel 3



Saat telah tersadar, Khae langsung segera ingin melepaskan selang infus ditangannya dan pergi menemui Wat. Namun Nai yang berada disana, dia menahan Khae agar tidak berdiri dulu. Nai memberitahu pada Khae bahwa Wat selamat dan sudah dipindahkan keruangannya. Tapi Khae tidak percaya dan tetap ingin pergi untuk melihatnya sendiri.

“Tolong jangan sekarang. Barusan kamu terkena kecelakaan. Dokter takut bayi nya akan terkena dampak. Kamu tahu kan, kamu hamil?” jelas Nai. Dan Khae pun menganggukan kepalanya.

“Dan apa Paman Wat tahu?” tanya Nai. Dan Khae pun menggelengkan kepala nya, lalu dia menanyakan apa Wat benar- benar selamat dan apa Nai tidak berbohong padanya.



“Aku tidak berbohong padamu. Bersabarlah sedikit, Khae. Tunggu untuk memastikan bahwa bayi nya selamat, kemudian aku akan membawa mu untuk menemui Paman Wat. Dan memberitahukan pada dia sebuah kabar baik,” jelas Nai.

“Berjanji lah Nai. Kamu akan membawaku menemuinya. Berjanjilah ya?” tanya Khae dengan pandangan penuh harap. Dan saat Nai menganggukan kepalanya, barulah Khae merasa sedikit lega.



Didalam kamar rawat Wat. Disana Nok duduk disofa dan menemanin Wat yang masih belum bangun. Lalu Vi datang menghampiri Nak dan memegang tangan Nok untuk menenangkannya. Vi menyarankan Nok untuk menghubungin Nai dan minta pada Nai untuk membawakan pakaian ganti serta meminta Nai untuk tinggal bersama disini dalam menjaga Wat.

“Menjaga Ayah denganku? Atau memperhatikan mantan pacarnya?” balas Nok dengan sinis.

“Itu tidak nyambung, Nok,” balas Vi.

“Dia suamiku. Dan pada waktu seperti ini, dia harusnya bersama denganku. Bukannya menjaga orang lain, orang yang membuat Ayah seperti ini,” balas Nok dengan kesal.



Tepat disaat Nok dan Vi masih mengobrol, Wat membuka matanya. Namun Nok serta Vi sama sekali tidak sadar. Dan lalu saat Nok membahas tentang Wat yang takutnya tidak akan bisa berjalan lagi. Wat mendengar hal itu, perlahan dia mengangkat tangannya dan menyentuh kakinya sendiri dengan pandangan syok.



Dirumah. Vi menceritakan segalanya kepada Nenek. Ternyata tulang punggung Wat ada yang patah, sehingga belum pasti apa Wat bisa berjalan lagi karena itu. Dan mengetahui hal itu, Nenek sangat bersyukur sekali karena Vi dan Wat telah bercerai. Atau jika tidak, maka Vi harus membersihkan urine (kotoran) Wat setiap harinya.

“Oh. Mengapa kamu bicara seperti itu? Orang yang kamu bicarakan itu adalah Ayah dari cucu mu,” kata Vi, mengingatkan Nenek.

“Pengkhianat seperti itu tidak ku akui sebagai keluarga,” balas Nenek.



Kemudian Nenek membahas tentang Nok yang tidak ada datang menemuinya. Dan Vi menjelaskan bahwa sebenarnya Nok mau datang, cuma sedang ada masalah, tapi Nok mengatakan bahwa dia akan datang dan membawa Nenek ke vihara bersama serta Nok sangat merindukan Nenek.

“Aku harap begitu. Karena beberapa hari ini, kelihatannya segalanya lebih penting daripada aku. Ibu mertua nya. Suaminya,” kata Nenek dengan sinis.

“Mom. Aku harus memberitahu kan padamu. P’Nim melarikan diri,” jelas Vi.

“Huh… dia pergi dengan kemauannya sendiri. Dia buruk. Dia tidak bisa tinggal ditempat yang bagus terlalu lama,” balas Nenek.

“Tidak sepert itu. P’Nim sakit. Dan menderita kanker paru- paru,” kata Vi. Dan mendengar itu, Nenek tampak sangat terkejut sekali, dia meminta Vi mengulangin perkataannya. Lalu Vi pun mengulangin nya dan menjelaskan segalanya.




Lalu karena saking terkejutnya, tanpa sadar, Nenek melukai jari tangannya sendiri hingga berdarah. Kemudian saat Vi ingin mengobatinya, Nenek menolak dan pergi ke kamar mandi.



Didalam kamar mandi, Nenek menangis. “Sudah 20 tahun kamu melarikan diri dariku. Mengapa kamu tidak tinggal saja, Nang Nim? Mengapa kamu berkeliaran untuk agar aku tahu bahwa kamu menderita? Kamu dalam kesulitan. Kamu sakit. Mengapa? Kamu tidak kasihan padaku sama sekali? Kamu tidak mempertimbangkan bagaimana perasaanku. Aku membesarkanmu seperti Anak ku,” gumam Nenek sambil menangis penuh penyesalan.



Dengan perhatian, Nok memberikan minum kepada Wat yang telah sadar. Lalu setelah itu, dia menanyakan apa ada yang Wat inginkan. Dan Wat membalas tidak, lalu dia menyarankan agar Nok tidak perlu menenamninya disini, lebih baik Nok pulang dan tidur saja.

“Tidak. Aku ingin tinggal denganmu,” kata Nok sambil memegang tangan Wat. Dan Wat pun berterima kasih.



Pas disaat itu, Nai datang sambil membawakan baju ganti untuk Nok. Dan Wat pun menyarankan agar  Nok mandi serta berganti pakaian dulu. Jadi Nok pun melakukannya, dengan sinis dia mengambil tas yang Nai pegang dan berjalan menuju kamar mandi.

“Nok marah, karena kamu pergi menjaga Khae,” kata Wat memberitahu.

“Tidak sulit untuk di tebak,” balas Nai yang ternyata sudah tahu.



Wat lalu menanyakan bagaimana keadaan Khae. Dan Nai memberitahu bahwa Khae selamat, cuma tadi Khae sempat pingsan karena syok. Lalu Thorsaeng membawa Khae untuk melakukan check up.

“Bisakah kamu melakukan sesuatu untukku? Jika Khae berpikiran untuk mengunjungin ku. Bisakah kamu berbohong untukku dan bilang bahwa dokter melarang untuk berkunjung,” pinta Wat.

“Mengapa?”

“Aku belum siap untuk melihatnya. Bisakah kamu melakukan apa yang  ku pinta? Kamu harusnya mengerti perasaanku,” jelas Wat.


Dirumah. Pat sedang bertelponan dengan Vi, mereka membicarakan tentang kondisi Wat. Dan disaat itu, suami Pat pulang, jadi melihatnya, maka Pat pun meminta Vi menunggu sebentar, lalu dia berdiri dan menghampiri suaminya.



Namun dengan kasar, si Suami mencengkram kedua lengan Pat dengan kuat, hingga membuat Pat merasa kesakitan. Dan Pat pun menjadi bingung, kenapa si Suami melakukan itu. Lalu si Suami pun mengeluarkan foto- foto dari sakunya.

“Gambar ini tersebar dimana pun. Dan mereka menggosipi itu, seorang jenderal yang tidak berguna telah mengizinkan istrinya untuk memiliki hubungan dengan seorang pria muda,” kata si Suami dengan marah.

“Tidak! Ini bukan aku! Aku tidak melakukan apapun seperti ini,” kata Pat dengan nada yang sangat terkejut, karena dia memang tidak pernah melakukan itu. Tapi si Suami tidak percaya.



Kemudian karena mendengar keributan itu, maka Wes pun turun. Lalu si Suami memberitahukan apa yang terjadi kepada Wes. Dan karena saking syok  nya, Pat pun menjadi sesak nafas dan kemudian dia pingsan.



Ditempat lain. Pen tersenyum melihat semua foto editannya. Foto tersebut adalah foto Pat yang sedang berpelukan dengan mesra bersama seorang Pria Muda.

“Sekarang kita akan tahu, hidup siapa yang akan hancur,” gumam Pen sambil tersenyum jahat.


Dirumah sakit. Nai tidur di dekat sofa. Sementara Nok tidur disamping tempat tidur Ayahnya. Dan ketika tanpa sengaja dia terbangun, dia menyelimuti Wat dan kemudian dia berjalan ke samping Nai untuk mengambil bantal serta selimutnya.


Namun tanpa sengaja, disaat itu, Nok tersandung oleh kaki Nai yang terulur panjang. Sehingga Nok pun terjatuh di dalam pelukan Nai. Dan hal itu pun membuat Nai terbangun. Lalu dengan erat, Nai memeluk dan menahan Nok.

“Sshh… tenang. Atau Ayahmu akan terbangun dan melihatnya,” kata Nai, saat Nok memberontak dengan kesal dari pelukannya.

“Lepaskan aku sekarang,” balas Nok.

“Tidak akan. Jika kamu tidak bersikap baik padaku, aku tidak akan melepasnya,” balas Nai.

“Aku tidak akan bicara,” balas Nok, lalu ingin berdiri. Tapi Nai menahannya.



“Jika kamu tidak akan bicara, kemudian kamu bisa tidur sebagai bantal ku sepanjang malam ini,” kata Nai sambil memeluk Nok semakin erat.

“Tidak.”

“Akankah kamu bicara baik- baik padaku sekarang?”

“Katakan apapun yang kamu mau katakan.”



Nai membicarakan tentang masalah dia menenamin Khae. Dia menemanin Khae hanya sampai Khae sadar. Dan setelah itu dia pergi untuk menempelkan poster pencarian Ibunya. Karena dia masih memiliki misi untuk menemukan Ibunya, tapi dia tidak mau Nok terganggu, jadi dia tidak memberitahu pada Nok tadi.

“Aku minta maaf untuk mengecewakanmu,” kata Nai.

“Siapa yang kecewa? Aku tidak merasakan apapun,” balas Nok.

“Okay. Aku akan percaya,” balas Nai, mengalah.



Kemudian Nai memegang dagu Nok dan memandangin wajah Nok, karena sepanjang siang ini, Nok terus menyembunyikan wajah dari nya. Sehingga sekarang dia ingin melihat wajah Nok. Lalu dengan lembut, Nai mengelus wajah Nok.

“Lepaskan aku sekarang sebelum Ayah bangun dan melihat,” kata Nok, karena merasa sedikit canggung. Dan Nai pun melepaskan Nok.



Lalu sambil tidur, Nai mengambil tangan Nok dan memegangnya. Dan Nok pun membiarkan itu, sambil tersenyum dia tersenyum memandangin wajah Nai yang tertidur, kemudian dia sendiri pun tertidur.



Vi menenangkan Pat yang terus menangis, padahal telah terbukti kalau semua foto tersebut adalah editan. Dan dengan kesal, Pat menjelaskan bahwa itu adalah karena Suaminya sama sekali tidak percaya padanya. Lalu Wes pun memandangin Ayahnya yang hanya bisa tertunduk diam, karena merasa bersalah telah salah menuduh.

“Aku tidak mengerti. Aku tidak melakukan apapun kepada siapapun. Mengapa mereka melakukan ini padaku?” tanya Pat dengan kesal.

“Orang-orang gila itu. Lebih kamu bersedih, lebih mereka merasa puas. Kita tidak harus memperhatikannya. Kamu adalah Patchara. Aku tahu kamu bisa melakukan itu,” kata Vi menyemangati Pat.



Dilantai bawah. Wes menawarkan diri untuk mengantar Vi keluar. Dan kemudian mereka pun membahas tentang masalah foto tersebut. Wes yakin bahwa Pen lah yang telah melakukan itu, jika bukan, maka siapa lagi.

Lalu Vi pun setuju. Namun dia masih curiga dengan satu hal, yaitu dia yakin bahwa yang menyebarkan video mesum Pen, bukanlah Pat pastinya. Dan dia pun bertanya- tanya siapa yang melakukan itu.



Ditempat lain. Tana berbicara dengan Wutta ditelpon. Dia terdengar sangat puas, karena dapat membunuh dua burung dengan satu peluru. Dengan melakukan itu, mereka dapat bersantai dan membiarkan yang lainnya saling bertarung satu sama lain.

“Ini sangat memuaskan,” kata Tana sambil tersenyum licik.

Sepertinya Tana lah yang telah menyebarkan video mesum Pen. Sehingga Pen salah paham dan balas menfitnah Pat yang di sangkanya telah melakukan itu.

Nart yang berdiri di dekat pintu, dibelakang Tana. Dia mendengar semua pembicaraan tersebut.



Nai berbohong kepada Khae, seperti apa yang Wat minta padanya. Dan karena tidak bisa mengunjungin Wat, maka Khae pun menjadi sangat kecewa, karena ada sesuatu yang harus diberitahukan pada Wat.

Lalu Nai membalas bahwa dia tidak akan menginkari janjinya pada Khae, segera setelah dokter setuju dan memperbolehkan kunjungan, maka dia akan membawa Khae langsung untuk menemui Wat.



Didalam kamar rawat. Wat meremas kakinya. Dan lalu disaat itu, Nok datang sambil membawakan makanan untuk nya. Namun karena tidak berselera, maka Wat pun beralasan bahwa dia kesulitan untuk makan sambil berbaring seperti ini, jadi dia menyaran kan agar Nok saja yang memakan makanan itu.

Dan mendengar itu, Nok pun tampak sedih, tapi dia diam.



Diluar ruangan. Nok membicarakan hal itu kepada Phai. Dan Phai pun menyarankan agar Nok memberikan waktu kepada Wat dan tetaplah kuat, sehingga Wat yang melihatnya pun bisa menjadi kuat juga.

Disaat itu, Thorsaeng yang kebetulan sedang melewati lorong rumah sakit dan melihat itu, dia pun menjadi heran. Karena Nok serta Phai bisa keluar masuk dengan bebas ke dalam ruangan Wat. Padahal menurut penjelasan Nai, dokter melarang orang untuk mengunjungin Wat.



Seorang suster masuk kedalam ruangan Wat dan menyuruh Nok untuk keluar, karena dia akan mengurus Wat. Dan Nok menolak, karena dia ingin membantu juga. Tapi Wat menyuruh agar Nok menunggu diluar saja.

“Aku butuh mempekerjakan seorang suster khusus selama masa penyembuhan ku bagaimanapun. Dan hal lainnya, aku tidak ingin melihat kamu melakukan itu. Kamu mengerti, kan?” jelas Wat.

Dan karena itu, maka Nok pun keluar dari dalam kamar.



Saat melihat Thorsaeng dan Khae yang datang untuk berkunjung, Nok pun langsung bertanya kenapa mereka kesini dengan nada kesal. Dan Thorsaeng membalas bahwa dia datang untuk mengujungin menantunya. Lalu Thorsaeng menuduh Nok yang telah membuat kebohongan tentang tidak ada orang yang diizinkan untuk berkunjung.

Mendengar itu, Khae langsung menenangkan Thorsaeng dan meminta agar memberikan waktu untuknya berbicara dengan Nok. Sehingga karena itu, maka Thorsaeng pun diam.



“Khun Nok. Tolong izinkan aku menemui Khun Wat. Aku mohon,” pinta Khae.

“Kamu membuat Ayahku seperti ini. Kamu masih berani menunjukan wajahmu?” balas Nok dengan emosi.

“Aku minta maaf. Aku…”

“Betapa baiknya Ayahku terhadapmu? Dan betapa banyak dia berada disisimu? Tapi lihat apa yang kamu lakukan untuk membalasnya. Itu tidak berbeda dari menjadi mati. Didalam hidupnya ini, dia tidak mungkin pernah berjalan lagi,” jelas Nok.

Khae terkejut dan sedih mendengar hal itu. Namun walau mengetahui hal itu, Khae tetap ingin menemui Wat. Dia berlutut dihadapan Nok dan memohon.



“Khun Nok. Aku mohon padamu. Kamu bisa mengutuk atau menghinaku, apapun yang kamu inginkan. Aku akan membiarkannya. Tapi aku mohon padamu, tolong izinkan aku melihat Khun Wat hanya sekali saja. Mungkin apa yang ku beritahu padanya, mungkin akan memberi dia dorongan,” pinta Khae.

“Kamu yang membuat Ayahku kehilangan dorongan. Aku berharap kamu tahu itu!” balas Nok dengan nada yang masih sangat marah.


“Tolong, Khun Nok. Tolong,” pinta Khae sambil menangis.

3 comments:

  1. Di episode ini akhirnya keliahatan nok yang cemburu 😊 trima kasih ya udah di percepat kelanjutannya

    ReplyDelete
  2. Sis ima kenapa eps awal game saeneha dikunci en jg sinopsis pariwarada.tlg undang saya tuk bisa membuka sinopsisnya.sy sngat suka 2 serial ini.please

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak, di sini tidak ada author yang bernama Ima. Dan kami tidak ada menulis sinopsis Pariwarada. Sepertinya yang mbak maksud adalah blog lain. Semua sinopsis / artikel di blog ini terbuka untuk umum dan dapat di baca oleh siapapun, tanpa perlu undangan.

      Sinopsis awal game sanaeha juga dapat di baca dan di akses secara bebas. Silahkan buka link ini : https://k-adramanov.blogspot.com/search/label/Game%20Sanaeha?&max-results=7

      Berisi sinopsis game sanaeha dari episode awal hingga sekarang. Terimakasih.

      Delete