Sunday, November 18, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 14 - part 4

16 comments


Network : Channel 3

Sesampainya dirumah dan memberitahukan kepada semua keluarga. Maka Nenek, Vi, dan Wat, mereka semua langsung memberikan nasihat kepada Nok. Mereka menyarankan agar Nok mengatakan saja secara langsung kepada Nai bahwa Nok mencintainya. Karena terkadang tindakan memang lebih baik, tapi kadang kata- kata harus diucapkan untuk memperjelasnya.



Lalu dengan kebingungan, Nok pun menanyakan apa yang harus diperbuatnya. Karena jika dia berbicara baik- baik, tapi Nai masih marah padanya, maka itu akan percuma. Dan seperti mendapatkan ide, Nenek menjelaskan bahwa masalah ini sangat mudah sekali.



Keesokan harinya. Nai datang kerumah Wat, karena dia di undang kesana, dengan alasan bahwa Nenek dan yang lainnya ingin melihat Non. Serta Nenek beralasan bahwa jika mereka semua harus datang ke rumah Nai, takutnya nanti bakal ribut.

“Tidak apa. ini bukan masalah sama sekali. lagian Non juga tidak kesulitan, karena tampak nya dia ingin bertemu dengan nenek terbaik nya, nenek dan kakek nya,” jelas Nai.



“Kemudian aku juga seorang Nenek?” tanya Khae.

“Oi! Mengapa kamu bertingkah tua? Tidak! Jadi tante nya sudah cukup,” balas Vi. Dan semua orang tersenyum mendengar itu.


Kemudian dengan sengaja, Phai memuji Non yang terlihat mirip seperti Nai dan Nok. Dan setiap orang tersenyum sambil memandang Nai, termaksud Nok. Namun Nai membalas bahwa Nok lebih mirip dengan kakek nya. Dan senyum Nok pun menghilang.

“Begitukah? Tapi jika dia terlihat seperti ku, kemudian dia terlihat seperti Nok juga. Karena Nok mirip dengan ku,” kata Wat dengan sengaja. Lalu suasana pun menjadi sangat canggung, karena Nai hanya diam saja.


Lalu untuk mencairkan suasana, Vi pun bermain- main dengan Non yang berada digendongan Nenek. Dan setelah itu, Vi menjelaskan pada Nai bahwa mereka yang akan menjaga Non, jadi Nai tidak perlu khawatir. Kemudian Vi menyuruh Nok untuk menemanin Nai mengobrol. Dan Nok pun langsung mengiyakan.



“Bisakah aku meminta waktumu?” tanya Nok kepada Nai. Dan dengan gugup, setiap orang diam menantikan jawaban  dari Nai. Namun Nai tidak menjawab, melainkan dia hanya menganggukan kepalanya saja, tanda ‘iya’.


Disamping kolam berenang. Nok dan Nai duduk bersama. Disana dengan sikap sedikit gugup, Nok mau membahas tentang pembicaraan mereka yang terakhir kali. Namun seperti berpura- pura bodoh, Nai mengatakan bahwa mengenai pembagian hak asuh, Nok tidak perlu khawatir. Kemudian Nai berdiri dan akan pergi.


Dengan segera Nok langsung berdiri dan memanggil Nai. “Aku tahu bahwa dia masa lalu, aku melukaimu dengan banyak hal. Aku juga terluka. Akankah kamu memberiku kesempatan?” tanya Nok langsung.

“Mengapa kamu merepotkan dirimu sendiri? Kamu tidak akan kehilangan bayi nya lagi,” balas Nai.


“Aku tidak ingin kehilangan Ayah bayi nya juga! Aku tahu, kamu masih marah, tapi kamu tidak membenciku. Tidak peduli betapa dingin nya kamu padaku. Aku tidak akan menyerah dengan mudah. Kamu mengenal ku dengan baik. Seorang Muenchanok. Tolong jangan tolak aku ya,” jelas Nok dengan cepat, dia meminta agar Nai mau kembali bersamanya.

“Aku tidak pernah berpikir kamu akan mengatakan ini. Tapi kamu benar. Aku tidak membencimu,” balas Nai. Dan Nok pun tersenyum penuh harapan. “Tapi itu bukan berarti, aku tidak belajar dari terluka,” lanjut Nai.

“Nai. Kamu tidak melihat itu kan. Aku bukan Muenchanok yang sama lagi. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan itu. Tolong ya,” pinta Nok.

Namun dengan sikap dingin dan cuek, Nai membalas bahwa itu bukanlah hal yang mudah. Setelah itu Nai pamit dan pergi meninggalkan Nok yang tampak sangat frustasi.


Didekat air mancur. Nai berdiri dan mengingat semua perkataan Nok tadi yang meminta agar dia mau memberikan kesempatan lagi. Dan Nai tersenyum kecil.

Diruang keluarga. Nok menceritakan segalanya dengan kesal kepada setiap orang. Dia merasa seperti ingin menyerah saja, karena dia telah berusaha dan memohon, tapi Nai tidak lagi melembut juga. Dan Nok merasa tidak tahan lagi dengan Nai yang bermain sulit.

Namun Vi langsung menjelaskan agar Nok jangan begitu, karena kini mereka telah sampai setengah jalan. Jadi tidak mungkin mereka bisa mengulang dari awal lagi. Namun dengan kesal dan keras kepala, Nok tidak mau lagi.


“Sebelumnya tidak peduli betapa buruknya aku, dia masih mencintai ku,” kata Nok sambil cemberut. Dan tiba- tiab saja, Nenek pun memukul meja, karena dia mendapatkan sebuah ide.

“Kemudian bagaimana bila begini, jika kamu mencintai kejahatanmu, maka jadi lah sejahat mungkin. Percayai aku,” kata Nenek. Dan seperti mengerti, Nok tersenyum.


Malam hari. Saat akan menyalakan mobilnya, Nai merasa heran karena mobilnya sama sekali tidak bisa hidup. Dan seperti berpura- pura tidak tahu, Wat bertanya apa mobil Nai tidak bisa hidup. Lalu Nai pun mengiyakan.


“Kelihatannya seekor tikus memotong kabelnya lagi,” kata Nok.

“Bagaimana kamu tahu itu tikus?” balas Nai.

“Ow. Dari dalam rekamanmu,” balas Nok dengan santainya. Lalu dia berbicara kepada Non yang berada di dalam gendongannya, “Non. Tikus dirumah ku sangat ganas. Mereka pernah merusak mobil Ayah ku sebelumnya,” kata Nok. Dan setiap orang tersenyum penuh arti.


Lalu seperti mengerti dengan senyum penuh arti mereka semua, maka Nai pun mengeluarkan hape nya untuk menghubungin bengkel. Namun Nenek langsung mengatakan bahwa ini sudah larut malam sekali, jadi mana ada bengkel yang masih buka. Kemudian Nenek menyarankan agar Nai menginap saja dulu disini.

“Aku tidak bisa. Aku tidak mempersiapkan cukup susu untuk Non,” kata Nai, menolak.

“Apa yang kamu takutkan? Banyak persediaan susu disini,” balas Nok. Dan setiap orang tersenyum setuju dengan Nok.


“Oh. Bibi Vi, kamu harus mengantarkan Khun Yai, kan? Bisakah kamu menumpang…”

“Tidak,” balas Nenek dan Vi secara bersamaan, sebelum Nai selesai berbicara.

“Mm… cara menyetir Vi sangat buruk. Aku tidak ingin kamu membahayakan cucu ku,” kata Nenek beralasan, saat melihat pandangan curiga dari Nai.

“Ya. Selalu banting ke kanan dan ke kiri. Jadi biarkan lah Non tinggal disini. Lagian disini banyak kamar,” tambah Vi.

“Iya, itu benar. Tinggallah disini malam ini. Aku tidak merasa enak, jika kamu menaiki taksi. Pertimbangkanlah kebahagian semua orang dewasa ini,” kata Wat, menambahkan juga.





“Beritahu Ayah mu, kamu akan tidur dengan Ibumu malam ini. Ya?” tanya Nok kepada Non. Dan mereka semua mengangguk. Lalu karena itu, maka Nai pun setuju untuk menginap malam ini saja. Dan mereka semua tampak sangat senang.


“Tapi …” kata Nai. Dan dengan gugup, Nok menantikan apa yang ingin Nai katakan.

16 comments:

  1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ trik lama dimainkan kembali oleh Munchenok untuk mendapatkan nai kembali πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
    Baper bgt sama permainan cintanya nai & nok 😍😍😍

    ReplyDelete
  2. Nai yg jual mahal banget ni skrg... Bikin baper ni ....

    ReplyDelete
  3. Baperr parahh..😘😘😘

    ReplyDelete
  4. Semangattt kak 1 part lgi, selesai lakorn ini lanjut lakorn padiwaradda ya kak.

    ReplyDelete
  5. Ohh .... aku baru tau drama ini dan langsung penasaran pada akhirnya aku menyukai alur ceritanya ... trima kasih kaka udh bikin sinopsisnya .. semangat y kak ditunggu part selanjut nya πŸ˜€πŸ˜€

    ReplyDelete
  6. Aduh kurang dikit lagi cepat tak tunggu kelanjutannya,semangat

    ReplyDelete
  7. Gk sbar nunggu akhir critanya,baper bgt

    ReplyDelete
  8. Sukaaaaaa bnget semngaat satu episode lagi happy ending

    ReplyDelete
  9. Makasih kak.. . ditunggu 1 part lagi kak,jangan kelamaan ya

    ReplyDelete
  10. Thx......
    Kak lanjutin yh.please😘

    ReplyDelete
  11. neung daofah deaw dong..kolosalnya nok naiii nihhh..romntiiiiissssssss

    ReplyDelete
  12. Habis ini tolong upload yg PADIWARADDA ya miiiiin.... Please

    ReplyDelete