Saturday, November 17, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 14 - part 3

8 comments


Network : Channel 3


Hari selanjutnya. Pada pagi hari. Nok datang berkunjung ke rumah Nai sambil membawakan banyak barang belanjaan. Namun ketika dia memencet pintu rumah, ternyata yang keluar bukan lah Nai, melainkan seorang Wanita pembersih rumah.





Ketika Nai pulang kerumah bersama dengan Non. Dan melihat kesekeliling rumah, dia menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dan melihat itu, Nai tersenyum. Didinding kamar Non, terdapat tempelan tulisan N O N, juga beberapa mainan bayi yang diletakan dilantai dan disusun rapi. Lalu saat melihat keruang makan, Nai melihat banyak sekali makanan yang berada diatas meja makan.




Kemudian saat melihat semua makanan itu, Nai pun teringat akan makanan yang dimakannya bersama dengan Nok dulu, saat mereka berbulan madu. Dan melihat itu, senyum Nai menghilang.


Lalu tepat disaat itu, tiba- tiba terdengar suara ribut dibelakang lemari dapur. Dan dengan perlahan Nai pun berjalan mendekat ke sana. Namun ternyata orang yang berada dibelakang sana adalah Wanita pembersih rumah nya. Dan melihat itu, Nai tampak sedikit kecewa.


Nok menelpon Wanita pembersih dirumah Nai. Dia berterima kasih karena si Wanita telah membantunya, sehingga Nai tidak mengetahui bahwa dialah yang telah mendekor serta menyiapkan semua makanan tersebut.

Dan si Wanita menjelaskan bahwa ketika Nai bertanya padanya, dia menjawab bahwa itu semua dilakukan oleh kakek- nenek Non, sehingga Nai tidak curiga. Lalu dengan heran, dia menanyai kenapa Nok tidak mau Nai tahu, padahal apa yang dilakukan Nok itu adalah hal yang baik.

“Jika dia tidak mau menerima nya, maka itu akan menjadi buruk. Tolong ya, bi?” pinta Nok. Dan kemudian Nok bertanya apa si Wanita bisa membantu nya lagi untuk melakukan sesuatu.


Direstoran. Wes mengomentari Pat yang terlalu banyak memesan. Dan Pat membalas bahwa dia tidak mengetahui makanan kesukaan wanita pilihan Wes, jadi dia pun memesan banyak. Lalu Wes menjawab kalau wanita yang akan dikenalkannya memiliki selera makan yang sama seperti Pat, tapi yang tidak dia tahu adalah apa Pat akan menyukai nya.

“Aku suka semuanya. Anak ku begitu pemilih. Setiap orang yang kupilihkan untuk mu, kamu tidak suka,” kata Pat. Dan dengan sikap sedikit gugup, Wes tersenyum kecil.


Tepat disaat itu, Vi dan Wat datang ke restoran yang sama. Lalu melihat itu, maka Pat pun bertanya apa Vi dan Wat akan makan disini juga. Namun sebelum Vi sempat berbicara, Wes berdiri dan mendekati mereka, sehingga Vi pun menjadi bingung.

“Khun Wat. Apa kita disini untuk makan dengan mereka?” tanya Vi dengan suara kecil.

“Bukan. Aku hanya mengantarkan mu saja,” jawab Wat dengan santainya.


Kemudian Wat menarik Vi ke samping Wes. Lalu Wat meminta agar Wes menjaga Vi, karena Vi adalah wanita yang paling mengerti dirinya dan juga teman baiknya. Dan Wes berjanji dengan tegas. Lalu Wat pun mengambil tangan Wes serta Vi, dia membuat mereka berdua berpegangan tangan.

Melihat hal itu, Pat pun menjadi keheranan. Sementara Vi menjadi sangat canggung, apalagi ketika Wat pergi meninggalkan mereka dan Pat menatap kearah mereka.


Menyadari maksud dari semua itu, Pat pun bangkit berdiri. “Ini wanita yang akan kamu perkenal kan kepada ku?” tanya Pat.

“Ya,” jawab Wes dengan tegas.

“Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?! Ini satu- satunya anak ku!” kata Pat memarahi Vi. Dan dengan segera, Vi pun melepaskan tangannya yang dipegang oleh Wes, lalu ingin menjelaskan, tapi Wes langsung memotong nya.


“Ini bukan salah tante Vi. Karena dia tidak ada melakukan apapun sama sekali. Aku lah orang yang mencintai dia,” kata Wes dengan serius.

“Khun Wes! Tapi ini adalah teman baik ku!” kata Pat, marah.

“Aku tahu. Dia adalah teman baikmu, mom. Dan aku mencintai dia dengan alasan yang sama kamu menyukai dia,” balas Wes.

“Mengapa aku terus dilukai dengan semua cinta mu selama ini?” tanya Pat dengan pandangan kecewa, lalu dia mengambil tas nya dan pergi.


Vi ingin segera pergi menyusul Pat, tapi Wes menahan tangan Vi. Dan Vi pun memarahi Wes, kenapa Wes bisa berbicara seperti itu kepada Pat. Lalu Wes membalas bahwa jika dia tidak mengatakan itu, maka hubungan antara mereka, tidak akan menjadi nyata.

“Bagaimana pun, itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Apa kamu lupa bahwa kamu adalah anak Pat? Dan Pat adalah teman baikku,” kata Vi sambil melepaskan tangan Wes.


“Aku tidak lupa. Tapi mengapa kita tidak bisa bersama?” balas Wes. Dan Vi diam tidak menjawab. Lalu Wes pun melanjutkan,” Kita bisa,” kata Wes sambil memegang tangan Vi dengan kedua tangannya.


“Agar Ibuku bisa mengerti, aku yang akan mengurusnya. Tapi sebelum aku mengikuti Ibuku, aku mau izin mu. Aku tahu ini sulit untukmu mengenai kita. Tapi aku tidak terburu- buru untuk jawabannya sekarang. Aku hanya ingin bertanya, maukah kamu memberiku sebuah kesempatan?” tanya Wes dengan serius. Dan bingung harus menjawab apa, maka Vi pun hanya diam saja.


“Jika kamu tidak menjawab. Maka aku akan menganggap itu ‘iya’,” kata Wes setelah Vi terdiam agak lama. Kemudian Wes menciumin tangan Vi, lalu berlari pergi untuk mengejar Ibunya. Dan dengan sikap malu- malu, Vi tersenyum dan bersikap sangat senang.


Pagi hari. Nai memberitahu si Wanita pembersih dirumahnya. Nai mengatakan bahwa dia memiliki beberapa urusan yang harus di urus sekitar 2-3 jam, jadi dia mempercayakan Non untuk dijaga oleh si Wanita pembersih dirumahnya. Dan ketika si Wanita mengiyakan, Nai pun pergi.

Lalu saat Nai telah benar- benar pergi, terdengar suara bel rumah berbunyi. Dan seperti sudah tahu siapa itu, si Wanita tersenyum.

Si Wanita mempersilahkan Nok untuk masuk ke dalam rumah. Dan Nok menjelaskan bahwa ketika si Wanita memberitahunya, dengan segera dia langsung ke sini. Lalu Nok pun mengucapkan terima kasih kepada si Wanita.


Nok masuk ke dalam kamar Non. Dan saat melihat Non yang sedang tertidur nyenyak, dengan lembut dan penuh kasih sayang, Nok tersenyum sambil menyentuh Non. Lalu ketika Non telah terbangun, maka Nok mengendong Non dan menimangnnya.

“Apa aku melakukan nya dengan benar? Hah, sayang?” gumam Nok kepada bayinya.


Tepat dibelakang Nok. Yaitu dihalaman yang hanya dibatasi oleh jendela kaca besar. Nai berdiri disana dan memperhatikan semua yang Nok lakukan kepada Non. Dan melihat betapa tulusnya Nok menyanyangin Non serta merawat Non, maka Nai pun tersenyum.

Karena sudah hampir waktunya Nai akan pulang, maka Nok pun pamit pulang kepada si Wanita. Namun tepat disaat itu, Nai pulang.


“Kamu pikir pemilik rumah tidak tahu kamu menyelinap?” tanya Nai. Dan tanpa bisa menjawab, Nok memandang ke arah si Wanita. “Aku tahu sejak hari lalu, ketika kamu mendekor rumah dan lainnya. Aku bertanya kepada bibi dan dia mengakui bahwa dia merasa bersimpati padamu, jadi dia membantu mu untuk berbohong,” jelas Nai.

“Lucky. Aku…. Aku minta maaf. Tolong jangan marah ya. Aku tidak berpikiran untuk melakukan apapun yang buruk,” balas Nok dengan gugup.

“Tapi apa yang kamu lakukan tidak benar,” balas Nai.


“Tapi jika aku tidak melakukan ini. Akan kah aku bisa menggendong dan menjadi dekat kepada bayi ku? Karena kamu selalu menjaga bayi nya sendirian. Aku rindu setengah mati padanya. Kamu juga mencintai dia, jadi kamu harusnya mengerti,” jelas Nok dengan cepat.

Saat Nai hanya diam saja, Nok pun mengakui bahwa dia bersalah. Dan si Wanita meminta maaf kepada Nok, lalu Nok membalas bahwa itu bukan kesalahan si Wanita, melainkan itu adalah salahnya sendiri. Kemudian Nok pun berjalan pergi melewati Nai.


“Selanjutnya jangan melakukan ini lagi,” kata Nai. Dan Nok pun berhenti berjalan. “Jika kamu mau datang, maka datang dengan biasa saja. Jangan menyelinap seperti ini,” lanjut Nai.

Dan tentu saja hal itu membuat Nok menjadi langsung senang sekali. Lalu Nai menjelaskan bahwa Nok boleh melakukan itu, asalkan Nok tidak melupakan kewajiban sebagai seorang Ibu lagi dan tidak mengatakan bahwa tidak menginginkan bayi itu lagi. Dan Nok pun mengiyakan.

Karena saking senangnya, dengan izin yang Nai berikan kepadanya. Maka Nok pun langsung menarik tangan Nai dan mengenggamnya dengan erat. “Terima kasih, Lucky. Terima kasih ya,” kata Nok sambil tersenyum lebar.



Dan melihat senyum lebar Nok, maka Nai pun tersenyum kecil. Lalu ntah karena apa, Nai menarik tangan nya dari genggaman Nok. “Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku. Bahkan jika kita bukan suami dan istri, tapi kamu masih Ibu Non,” kata Nai.


Lalu mendengar perkataan Nai yang terkesan dingin, Nok tampak kecewa sekali. Sehingga ketika akan pulang, Nok sampai salah mengambil sepatu milik Nai. Dan ketika Nai memanggilnya untuk mengingatkan tentang sepatu itu, Nok langsung berbalik dan tersenyum. Tapi dia langsung menjadi kecewa kembali, ketika mengetahui bahwa maksud Nai adalah tentang sepatu yang salah diambilnya.


Lalu sebelum akan pergi, Nok berhenti berjalan. Dan dengan kesal, dia menjatuhkan sepatunya sendiri, lalu dia berjalan dengan cepat mendekati Nai. “Mengapa? Kamu tahu bahwa aku bukan hanya menginginkan bayi itu. Sejak kapan kamu menjadi tidak pintar? Berapa lama aku perlu memohon padamy?” tanya Nok dengan cepat.


“Ini cara kamu memohon? Aku kira kamu mencari masalah dengan ku. Apa yang ingin kamu aku tahu atau jadi pintar tentang apa? Selama yang bisa ku ingat, kamu ingin aku keluar dari hidupmu. Dan kamu tidak pernah menarik kembali perkataan mu. Bayi ini adalah darah daging mu, kamu mungkin tidak bisa memutuskannya. Tapi kamu dan aku, kita bukan apa- apa, jika kita tidak saling mencintai,” jelas Nai. Kemudian dia masuk ke dalam rumah.



Dan dengan frustasi, Nok mengetakan kakinya pelan. “Aku mencintai mu!” gumam Nok dengan pelan.

8 comments: