Wednesday, October 2, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 2 - part 2

0 comments

Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 2 – part 2
Network : KBS2

“Dasar bocah sombong. Kamu sungguh ingin mati?” geram si Pria itu. Lalu dia menyuruh anak buahnya untuk memberikan pelaran pada Dong Ju. Dan Dong Ju pun menutup matanya, bersiap untuk menerima pukulan yang di arahkan padanya.

Tapi tepat disaat itu, sebelum tinju si anak buah mengenai wajah Dong Ju. Seorang Tuan besar datang ke tempat mereka.
Si Tuan besar melemparkan Ayam yang dibawa nya kepada pria tersebut. Lalu dia memegang tangan Dong Ju dan berdiri di depannya untuk melindungin nya.

“Siapa kamu? Apa kamu penyedia makanan?” tanya si Pria, heran.
“Anggap saja itu memang benar. Kamu pasti sangat kesal karena kejadian ini,” balas si Tuan besar dengan menunjukan sikap peduli pada Pria itu.
“Aku senang kamu mengerti. Lihatlah perbuatan para wanita brengsek ini kepadaku. Para wanita brengsek ini berani melawan bangsawan!” adu si Pria dengan kesal.
Namun sebelum si Pria itu selesai berbicara. Si Tuan besar langsung memasukan sesuatu yang pahit ke dalam mulutnya, dan memaksanya untuk menelannya. Dengan alasan, apapun yang terasa pahit baik untuk kesehatan.

“Air! Dimana airnya?!” teriak si Pria merasa kepahitan sekali. Dan si Tuan besar pun memberikan air padanya.
Tapi setelah si Pria itu meminum nya, dia langsung menyemburkannya. Melihat itu, semua orang tertawa. Dan si Tuan besar dengan tenang mengambil kembali botolnya. “Astaga. Kukira ini air. Tapi ini cuka. Ini buruk. Jika kamu makan cuka dengan apa yang baru saja kuberikan padamu. Itu akan menjadi racun,” katanya sambil tersenyum ramah.

Mendengar itu, dengan panik si Anak buah pun langsung mengendong si Pria yang merupakan Tuan nya itu untuk pergi. Dan melihat itu, semuanya tertawa.

“Apa itu benar- benar menjadi racun?” tanya seorang Gisaeng, penasaran.
“Aku tidak tahu. Aku belum pernah mencobanya,” jawab si Tuan besar sambil tertawa.

Nyonya Chun menghampiri Nok Du dan bersikap ramah kepadanya, dia memberitahu dimana kamar Nok Du. Dan Nok Du langsung menyela, dia mengatakan bahwa dia bisa menemukannya sendiri. Mendengar itu, Nyonya Chun tersenyum.

Nyonya Chun kemudian memanggil Dong Ju untuk ikut ke dalam bersamanya. Dan Dong Ju pun mengikuti nya dengan nurut.

“Dia tampak sangat familiar. Ntah dimana aku melihatnya,” pikir Nok Du, memperhatikan Dong Ju dengan tatapan penasaran.
Seorang pria yang berdiri di belakang Nok Du. Dia merasa terpesona melihat kecantikan Nok Du. Tapi tanpa menyadari hal itu, Nok Du mengabaikannya dan berjalan pergi begitu saja darisana.

Nok Du duduk beristirahat di dalam kamar sambil memikirkan langkah selanjutnya yang harus di lakukannya. Namun saat dia tanpa sengaja melihat pantulan diri nya sendiri di cermin, dia merasa stress serta frustasi. Tapi kemudian secara kebetulan dia melihat tas milik Dong Ju yang tersembunyi di bawah lemari.

“Kenapa kamu melakukan sesuatu seperti itu?” tanya Nyonya Chun.
“Hyang Mae baru berusia 13 tahun saat dia membawanya. Tapi dia kembali dalam keadaan mati dan itu baru terjadi sebulan lalu,” jawab Dong Ju. “Bagaimana bisa aku membiarkan nya melakukan itu lagi?” keluhnya.
Nyonya Chun marah, sebab Dong Ju memotong rambut sendiri menjadi pendek, kepadahal Dong Ju adalah seorang Gisaeng. Dan Dong Ju menjawab bahwa dia tidak bisa membiarkan Nyonya Chun yang memotong rambut, lagian dia juga bahkan belum menjadi Gisaeng resmi, jadi dia tidak apa- apa melakukan itu.

“Kamu bangga masih menjadi siswa latihan? Lihatlah dirimu,” kata Nyonya Chun dengan perhatian dan ramah.
“Dia membuatku sangat marah. Kenapa dia memperlakukan kita seperti itu? Dia pikir siapa dirinya? Si brengsek jelek itu,” keluh Dong Ju, kesal.
Mendengar itu, Nyonya Chun merasa sangat lelah. Dan dia pun memberikan tanda agar Dong Ju keluar. Dan dengan santai, Dong Ju pun berdiri.

“Kudengar kamu baru saja keluar. Kamu pergi kemana?” tanya Nyonya Chun, saat tiba-tiba teringat akan itu. “Jangan terlibat masalah. Mengerti?” katanya, memperingatkan.
Dan dengan gugup, Dong Ju mengiyakan. “Baiklah.”


Setelah keluar dari ruangan Nyonya Chun, Dong Ju bertemu dengan si Tuan besar yang telah menunggu di depan pintu. Dan tanpa berbasa- basi, Dong Ju menanyakan, kenapa si Tuan besar melakukan itu.
“Aku sangat marah. Si Brengsek jelek itu menyebabkan keributan di rumah Gisaeng. Aku sangat mengagumin tempat ini,” kata si Tuan besar, menjawab.
“Jangan terlibat lagi,” balas Dong Ju, memperingatkan.

Si Tuan besar memberikan surat wasiat yang Dong Ju tinggalkan. Dan Dong Ju pun langsung mengambilnya. Si Tuan besar menanyakan, apa yang Dong Ju lakukan dengan menghilang begitu saja saat itu. Dan Dong Ju menyuruhnya agar jangan ikut campur dengan urusannya, jika tidak maka dia akan beneran pergi dari rumah Gisaeng.
“Baiklah. Aku akan berhenti. Kamu punya cara menutup mulutku,” kata si Tuan besar, memilih untuk mengalah.
“Kalau begitu, sampai jumpa,” balas Dong Ju.


Saat Dong Ju masuk ke dalam kamar, dan melihat Nok Du yang sedang membongkar tasnya. Dia pun langsung mendorong Nok Du dengan kesal, dan merebut kembali barangnya yang Nok Du pegang dengan cara kasar.
Dengan kaget, Nok Du pun terdiam dan memandanginnya.
“Maafkan aku. Kenapa kamu menggeledah barang- barang ku?” kata Dong Ju, merasa tidak enak setelah tersadar bahwa dia telah terlalu kasar.
“Kamu ..” balas Nok Du, kesal. “Kamu yang memegang bajuku,” katanya dengan sikap berusaha ramah.
“Kamu menyentuh barangku tanpa izin. Kamu lihat isinya?” balas Dong Ju.
“Tidak.”


Dong Ju kemudian menanyakan, kenapa Nok Du bisa berada di dalam kamarnya. Dan Nok Du langsung menjawab bahwa Nyonya Chun telah mengizinkannya untuk tinggal disini. Mengetahui itu, Dong Ju pun langsung mengeluh betapa bencinya dia berbagi kamar dengan seseorang.
“Apa dia pikir aku bahagia karena harus berbagi kamar dengannya?” gumam Nok Du, mengeluh pelan.
Dong Ju mengizinkan Nok Du untuk boleh tinggal di dalam kamarnya, karena memang hanya dia yang tidur sendirian. Tapi dia memperingatkan Nok Du untuk  jangan menyentuh barang- barangnya. Dan dengan kesal, Nok Du pun mengambil mantelnya dan pergi keluar dari dalam kamar.
Dengan buru- buru, Dong Ju pun langsung memeriksa isi tasnya. Dan dia merasa lega, ketika ternyata barang nya masih lengkap.
Nok Du berjalan duluan. Dan Dong Ju berjalan di belakangnya. Menyadari itu, Nok Du tersenyum kecil.

Flash back
Ketika Nok Du melihat isi tas Dong Ju, dia menemukan pakaian pria berwarna ungu muda. Dan dia pun teringat pada orang yang di temuinya di penjara.
Flash back end

“Kurasa kamu juga orang yang tidak biasa,” gumam Nok Du, merasa senang dengan penemuannya. Dan dia memandangin Dong Ju yang berjalan di belakangnya.
“Aku tidak mengikutimu,” kata Dong Ju, ketus.
Tepat disaat itu, Dong Ju serta Nok Du melihat seorang pria aneh sedang membaca puisi didekat taman bunga. Dan Dong Ju pun menanyakan, apa yang si Pria aneh sedang lakukan disana. Dengan sikap sok puitis, si Pria aneh pun mendekati mereka sambil membacakan puisinya.

 Mendengar itu, Dong Ju salah paham, dia mengira kalau si Pria aneh itu sedang mencoba untuk merayunya. Sementara Nok Du diam sambil berusaha untuk menahan tawa.
“Anda menggodaku karena rambutku tampak berbeda sekarang?” tanya Dong Ju dengan sikap percaya diri. Dan si Pria aneh itu berlutut di depan mereka sambil menyodorkan bunga ditangan nya.


Namun ternyata, bunga tersebut diberikan kepada Nok Du. Melihat itu, Nok Du sendiri bahkan merasa sangat kaget dan tidak menyangka.
“Aku tahu pada pandangan pertama bahwa kamu adalah wanita yang selama ini ku cari,” kata si Pria aneh kepada Nok Du.
Mendengar itu, Nok Du pun merasa sangat kebingungan. “Apa? Aku? Bagaimana dengannya?” tanya nya dengan gelagapan sambil memandang ke arah Dong Ju.
Dan dengan kesal, Dong Ju pun mendengus dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Si Pria aneh memperkenalkan dirinya dengan bangga kepada Nok Du. Posisinya berada dikelas sembilan. Dan dia bertugas sebagai Wakil Kurator yang mengawas, namanya Yeon Geun. Dan dengan sinis, Nok Du mengomentari kalau itu adalah posisi yang tidak berguna, lalu dia berniat untuk pergi.
“Tunggu. Aku akan menyentuh tangan mu sekarang. Aku tidak bisa masuk, tapi aku bertanggung jawab atas semua yang terjadi di desa. Tolong beritahu aku kapanpun ..” jelas Yeon Geun sambil menyentuh tangan Nok Du untuk memberikan bunganya.
“Aku tidak mau ini,” balas Nok Du langsung. Lalu dia pun berniat untuk pergi, tapi tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.

Nok Du berterima kasih banyak kepada Yeon Geun, karena telah memberikan map desa Janda kepadanya. Dan dengan senang, Yeon Geun membalas bahwa dia ingin menjadi teman baik Nok Du, lalu dia pun menyodorkan bunganya lagi.
Dengan takut, Nok Du pun langsung kabur darinya. Tapi Yeon Geun salah paham, dan mengira Nok Du kabur karena merasa malu.

Nok Du berjalan di desa Janda sambil memperhatikan map tersebut. Kemudian tanpa sengaja, dia menemukan target nya, yaitu si wanita prajurit. Karena cara jalan si wanita prajurit pincang. Tapi dia tidak langsung mengambil tindakan, karena teringat kepada perkataan gurunya untuk menyelidiki siapa pemimpin si wanita prajurit.
“Aku menemukannya,” guman Nok Du.

Tepat disaat itu, Sun Nyeon muncul disamping nya. Beserta dengan no. 2 dan no. 3. Dengan takut, Nok Du pun langsung mundur. Dan mereka bertiga memojokkannya.
“Kami mencarimu kemana- mana agar kita bisa berbicara jujur,” kata Sun Nyeon.
“Aku tidak banyak bicara. Aku ingin menolak,” balas Nok Du, takut.
Tapi mereka bertiga, tidak mau membiarkannya untuk pergi begitu saja. Dan mereka mengajaknya untuk ikut bersama mereka. Yaitu untuk mandi. Mendengar itu, Nok Du merasa sangat gugup dan menolak dengan alasan dia pemalu.
Namun mereka bertiga malah tertawa, dan langsung mengedong nya.

Di tengah jalan. Mereka bertemu dengan Dong Ju. Dan Nok Du pun langsung meminta pertolongan Dong Ju. Tapi ternyata Dong Ju malah ingin mandi juga. Mendengar itu, Nok Du merasa lemas karena tidak bisa menghindari situasi itu lagi.
“Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini! Tidak! Aku tidak bisa! Tolong turunkan aku!” teriak Nok Du dengan panik. Tapi mereka semua malah tertawa.

Sesampainya di sungai. Nok Du berdoa. Lalu dia berniat untuk pergi, tapi dia tidak bisa dan harus menutup matanya, karena mereka semua membuka baju dan mengelilinginnya.

“Kurasa lebih baik aku melewatkan ini. Begini.. sebenarnya, aku punya penyakit kulit,” jelas Nok Du dengan gugup, beralasan. Tapi mereka malah menjawab kalau air di sungai ini adalah obat yang terbaik.

“Aku pernah tenggelam saat kecil. Aku punya kenangan buruk tentang air,” kata Nok Du berusaha membuat alasan baru. Tapi mereka malah berusaha untuk melepaskan pakaiannya.

Dengan malu, Nok Du menutup kembali tubuhnya. Dan melihat itu, Dong Ju mendekatinya. “Astaga, kamu terlalu pemalu. Kita semua wanita disini,” katanya sambil berjalan mendekati Nok Du.
Dan Nok Du pun berjalan mundur. “Tidak. Tidak. Aku tidak bisa,” jawab nya dengan gugup. Lalu tanpa sengaja dia tersandung dan terjatuh ke dalam air.

Melihat itu, semua orang merasa kaget. Tapi lalu mereka tertawa dengan keras. Kemudian tiba- tiba saja mereka semua terdiam, dan memperhatikan tubuh Nok Du.
Menyadari hal itu, Nok Du pun langsung menutupi tubuh nya kembali. Dan bersiap untuk menerima lemparan batu yang di arahkan padanya.

No comments:

Post a Comment