Thursday, October 3, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 3 - part 1

0 comments





Ketiga wanita besar beserta dengan Dong Ju berteriak seperti takut. Dan melihat tatapan mereka semua kepadanya, Nok Du pun segera menutup tubuhnya. Lalu saat Sun Nyeo mengambil batu dari dasar sungai, Nok Du pun langsung berlindung.

Tapi ternyata orang yang Sun Nyeon lemparin batu adalah Yeon Geun, yang sedang bersembunyi di balik batu dan mengintip mereka.
Menyadari hal tersebut, Nok Du pun merasa sangat lega. Dan dia segera berpura- pura seperti takut diintipin.


Ketiga wanita besar mendekati Yeon Geun dan menghajar nya dengan kasar. Dan Yeon Geun memohon ampun pada mereka agar berhenti, karena bagaimanapun dia jugalah manusia. Dia mengatakan itu sambil menutup wajahnya.
 Namun mereka bertiga tidak peduli, karena  menurut mereka Yeon Geun tidak lebih baik daripada binatang, bahkan walaupun Yeon Geun memakai jubah.

Lalu mereka bertiga pun menarik tangan Yeon Geun untuk melihat wajahnya. Dan ketika mengetahui kalau itu adalah Wakil Kurator mereka. Semuanya merasa terkejut, dan Sun Nyeon pun langsung menarik nya untuk berdiri.

“Kamu minum- minum?” tanya Sun Nyeon dengan lebih ramah.
“Lihatlah bahumu yang lebar itu,” balas Yeon Geun dengan kesal. “Ya. Aku bertemu wanita impianku. Bagaimana bisa aku tidak minum?” jelasnya.

Mendengar itu, Nok Du merasa sangat lelah, dan ingin memukul Yeon Geun. Tapi sebelum dia melakukan itu, Sun Nyeon sudah memukul Yeon Geun duluan, sehingga Yeon Geun pun langsung pingsan di tempat. Melihat itu, dengan cemas Dong Ju serta dua wanita besar menatap kepada Sun Nyeon.

“Wakil Kurator sering lupa saat dia mabuk,” jelas Sun Nyeon pada semuanya. Dan tepat disaat itu, tangan Yeon Geun terkapar lemah.
“Aku yakin nyawa nya mungkin telah hilang,” komentar Nok Du, merinding.

“Dia mabuk dan terjatuh di gunung. Kebetulan kita menemukannya disini. Benarkan?” tanya Dong Ju, membuat semacam alasan yang masuk akal. Dan semuanya langsung mengiyakan, kecuali Nok Du.
Dan karena Nok Du hanya diam saja, maka mereka berempat pun langsung memandanginnya dengan tajam. Mengerti akan hal itu, Nok Du pun langsung mengiyakan dengan cepat dan berjanji akan mengatakan itu juga nantinya.
Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 3 – part 1
Network : KBS2

Dalam perjalanan kembali. Wanita no. 2 terus melirik ke arah Nok Du, dan menyadari itu, Nok Du pun bertanya ada apa. Dan si Wanita no. 2 menjawab bahwa dia tahu semuanya, alasan kenapa Nok Du tidak mau mandi bersama. Mendengar itu, Nok Du langsung menutupi tubuhnya dan berusaha untuk menjadi alasan.
“Sejujurnya, kamu dan aku sama saja,” kata wanita no. 2, dan Nok Du pun merasa bingung apa maksudnya. “Meskipun kecil, tidak apa- apa,” jelas wanita no. 2 sambil memandangin dada rata Nok Du. Tapi Nok Du tidak mengerti.



Wanita no. 2 menjelaskan bahwa yang paling penting adalah hati, jadi Nok Du tidak boleh berkecil hati karena ukuran kecil. Mendengar itu, Nok Du pun akhirnya mengerti, apa maksud wanita no. 2 padanya. Dan dia pun merasa sangat lega.
“Baik. Hatiku penting,” kata Nok Du, mengiyakan. Dan Dong Ju menepuk bahunya untuk menghibur nya. Dengan capek, Nok Du pun menghela nafas berat.

Seorang pria berpakaian hitam melaporkan kepada Heo Yoon bahwa orang itu telah mati diracunin, tapi saat mereka kembali ke lokasi, sajad orang itu sudah menghilang. Dan Heo Yoon merasa heran, sebab dia diberitahu kalau orang itu sudah mati. Heo Yoon lalu menebak bahwa orang itu pasti menyamarkan kematiannya dan mengikuti pasukan Muweol.
(Aku rasa orang yang sedang di bicarakan adalah Nok Du. Mereka membicarakan kalau seharusnya Nok Du sudah mati di racunin, tapi sajad nya tidak di temukan. Dan mereka yakin kalau Nok Du pasti mengikuti si wanita prajurit (Pasukan Muweol).
“Tapi pria tidak boleh masuk ke desa,” jelas si Pria hitam.
“Dia bisa bersembunyi dirumah Gisaeng atau di dekat desa. Suruh mereka menggeledah seluruh tempat itu,” balas Heo Yoon, tegas. “Bagaimana dengan orang- orang Yang Mulia yang pergi ke pulau itu?” tanyanya, kemudian.
“Semuanya ku kirim ke tempat lain. Hanya pasukan Muweol yang tersisa. Jadi, dia tidak akan bisa menemukan apapun.”
Heo Yoon lalu menanyakan tentang yang lainnya, yang juga kabur dari pulau itu. Dan Si Pria hitam menjawab kalau para janda dari seluruh kerajaan akan mencari mereka. Jadi tidak lama lagi pasti semuanya akan ketemu.
“Jangan melewatkan siapapun. Cari semua orang. Paham?” tegas Heo Yoon.
“Ya,” jawab si Pria hitam. Lalu dia pun pamit dan pergi.
(Sepertinya, orang- orang lainnya yang berhasil kabur, itu adalah keluarga Nok Du).
“Dia pasti di takdirkan berumur panjang. Kenapa dia muncul lagi? Kenapa harus sekarang?” gumam Heo Yoon, berpikir.

Flash back
Seorang rekan penjabat Heo Yoon di Istana, yaitu Lim Yoo. Dia memberitahukan bahwa dia ada melihat Jung Yun Jeo (Ayah Nok Du). Dia melihatnya ketika sedang berpergian ke Pelabuhan Gangryeong untuk suatu urusan, dan dia yakin itu Yun Jeo. Tapi mendengar itu, Heo Yoon tidak mau percaya, sebab Yun Jeo telah tewas saat perang.

Namun Lim Yoo merasa sangat yakin kalau itu adalah Yun Jeo. Dan dengan cemas, Heo Yoon meminta Lim Yoo untuk tidak memberitahu kepada siapapun mengenai hal ini, karena takutnya orang akan mengkritik Lim Yoo karena berbohong. Tapi ternyata Lim Yoo telah ada memberitahu Yang Mulia. Dan mengetahui itu, Heo Yoon merasa terkejut.

“Kamu sudah memberitahu Yang Mulia?” tanya Heo Yoon, terkejut.
“Ya. Sama seperti kamu yang menjadi teman baik, Yang Mulia juga teman dekat,” jawab Lim Yoo. Lalu dia pun pamit dan pergi.
Mengetahui itu, Heo Yoon mengepalkan tangan nya dengan erat. Dia tampak sangat kesal.
Flash back end


Diatas kapal. Dengan perhatian, Yun Jeon mengecek luka di perut Hwang Tae, dan menanyakan keadaannya. Dan dengan lemah, Hwang Tae menganggukan kepala. Lalu Yun Jeon pun memberitahu bahwa setibanya mereka di pantai nantinya, dia akan pergi ke Hanyang. Tapi Hwang Tae langsung memintanya agar jangan pergi.
“Para pembunuh itu datang setelah Ayah pergi ke daratan. Jika Ayah ke Hanyang, aku yakin mereka akan mengejar Ayah lagi,” jelas Hwang Tae, cemas.

Flash back
Saat sampai di daratan, Yun Jeon mencari- cari dimana toko obat. Dia bertanya- tanya kepada orang- orang yang di temuinya. Dan disaat itu, dia bertemu dengan Lim Yoo.
“Ini aku Lim Yoo. Selama perang, kamu dan aku. Kudengar kamu tewas dalam perang. Bagaimana kamu bisa ..”
“Aku bilang, kamu keliru,” balas Yun Jeon, lalu dia langsung berlari pergi.
Flash back end

Yun Jeon menyesali tindakannya hari itu, karena seharusnya dia lebih berhati- hati. Dan dia menjelaskan bahwa Hwang Tae tidak perlu khawatir. Namun Hwang Tae langsung menyela, dan mengatakan apakah Yun Jeon berpikir bisa mengubur rahasia itu, jika Yun Jeon membawa Nok Du kembali.
“Tidurlah,” kata Yun Jeon, tidak mau menjawab. lalu dia pun bergantian dengan Jang Koon untuk mengayuh perahu.


“Aku bisa mencium bau tanah dari kampung halaman ku,” kata Jang Koon dengan senang. “Biar kuberitahu. Tempat ini sangat terpencil, jadi, jika kamu pandai bersembunyi, akan sulit bagi mereka untuk menemukanmu,” jelasnya pada Yun Jeon.
“Terima kasih, dan maafkan aku. Aku membuatmu melalui banyak kesulitan,” balas Yun Jeon, merasa tidak enak.


Dengan ramah, Jang Koon menyuruh Yun Jeon untuk jangan merasa sungkan, karena kelak mereka akan menjadi besan, jelasnya sambil tertawa. Dan mendengar itu, Yun Jeon hanya tersenyum dan diam saja.
Yun Jeon kemudian mulai batuk- batuk pelan. Dan melihat itu, Hwang Tae merasa cemas kepada Ayah nya itu.

Diistana. Yang Mulia merasa kecewa, saat dia mendapatkan kabar kalau Yun Jeo tidak ada ditemukan di Kepulauan Gangryeong dan sekitarnya. Dan dia pun berpikir bahwa pasti Lim Yoo keliru, padahal dia telah mengharapkan kabar baik saat mendengar teman baiknya yang tewas saat perang masih hidup.


Didalam kamar. Dong Ju menanyakan, apakah Nok Du tidak akan berganti pakaian, kepadahal pakaian Nok Du basah semuanya. Dan Nok Du meminta Dong Ju untuk meminjamkan nya handuk serta celana juga. Dengan berbaik hati, Dong Ju pun mengambilkan dan memberikan apa yang Nok Du minta.

“Bisakah kamu tetap di beranda selagi aku berganti pakaian?” pinta Nok Du, lagi.
Mendengar itu, dengan kasar Dong Ju langsung membanting pintu lemarinya. “Kamu jelas membutuhkan banyak bantuan dariku. Aku benci hal semacam ini. Kamu harus menjaga dirimu,” keluhnya, lalu dia pun berniat untuk pergi keluar.

“Bisakah aku.. “ panggil Nok Du dengan pelan. “meminta semangkuk air ..” pintanya. Tapi sebelum dia sempat menyelesaikan kata- katanya, Dong Ju langsung menutup pintu kamar dengan keras.
Dengan kesal, Nok Du pun langsung membuka pakaian nya dan mengeluh. “Dia tidak tahu aku menyelamatkannya,” keluhnya.
Nok Du meminum semangkuk air hangat yang diberikan padanya sambil memeluk selimut yang membungkus dirinya. Dan dengan sedikit ketus, Dong Ju memberitahu kalau itu adalah selimutnya, dan yang dibawanya sekarang adalah milik Nok Du. Mengetahui itu, Nok Du pun mengajaknya untuk bertukar selimut. Tapi Dong Ju tidak mau.
“Kalau begitu, tetap di luar,” kata Nok Du kesal, tapi dia berusaha untuk tetap sopan.
“Lupakan saja. Kita tidur saja,” balas Dong Ju, malas.

Dong Ju kemudian mulai melepaskan baju nya, dan melihat itu, Nok Du merasa sangat kaget dan langsung menyemburkan air di mulut nya. Lalu dia menutup wajah nya.
“Ada apa? Apa lagi yang ku lakukan?” tanya Dong Ju, kesal.
“Tolong jangan lepaskan bajumu tanpa memberitahuku dulu. Beri aku waktu agar bisa mempersiapkan diri,” balas Nok Du.

“Haruskah aku memasang pesan di jalanan dahulu?”
“Aku yakin berganti pakaian diluar adalah tindakan yang sopan.”

Dengan perasaan sangat kesal, Dong Ju pun mencengkram selimut Nok Du, dan menekan kan bahwa ini adalah kamar nya. Saat Nok Du berganti pakaian, dengan sabar dia telah menunggu diluar, tapi masa dia harus keluar saat ganti baju juga.
“Tolong jangan sentuh aku,” balas Nok Du sambil menunjukan kunci dari Nyonya Chun. “Ini semua kamar Nyonya Chun. Ini bukan kamar mu,” jelasnya dengan pelan.


Mendengar itu, Dong Ju merasa semakin kesal, tapi dia menahan nya dan tidur sambil merentangkan tangannya. Dan merasakan itu, Nok Du pun menjauh sedikit.
“Jika kamu begitu membenciku, kamu bisa tidur diluar.”
“Jika aku tidur di luar, mulutku akan lumpuh.”
Flash back
Hwang Tae membangunkan Nok Du yang sedang tiduran di tepi pantai. Dia memberitahu kan bahwa jika Nok Du tiduran disini, maka mulut Nok Du akan lumpuh. Tapi Nok Du tidak peduli, dan tetap mau disini. Mendengar itu, Hwang Tae pun berbaring di sebelahnya.
“Pulau ini memang kecil. Kamu tidak bosan dan lelah meninggalkan rumah?” tanya Hwang Tae.
“Masuklah. Ibu akan mencemaskan kakak,” balas Nok Du, kesal.
“Dia juga mencemaskanmu. Kita masuk saja.”

Nok Du bangkit dan duduk menatap lautan. Dia menjelaskan bahwa dia tidak kabur kedaratan, dia menaiki kapal itu hanya untuk menggantikan Hwang Tae yang sakit. Tapi dia malah dimarahin.
“Nok Du. Kakak yakin Ayah punya alasan. Kamu tahu itu, bukan?”
“Harusnya dia memberitahuku. Jika begitu, aku bisa menyerah atau mengatasinya.”

Hwang Tae memukul pelan kepala Nok Du, dan menasehatinya. Dia menanyakan, apakah Nok Du akan menyerah untuk menjadi jendral di daratan. Dan Nok Du menjawab tidak. Mendengar itu, Hwang Tae pun tertawa, dan Nok Du lalu ikut tertawa juga.
Kemudian tiba- tiba saja, Hwang Tae menutup mulut. Dan Nok Du pun merasa cemas kepadanya. Tapi ternyata Hwang Tae hanya berpura- pura saja, dia berbohong kalau mulutnya lumpuh. Menyadari itu, Nok Du pun mendorong Hwang Tae.


“Mulutmu akan lumpuh, jika kamu tetap disini. Ayo kita pergi,” ajak Hwang Tae menarik tangan Nok Du. Tapi Nok Du tidak mau, lalu dia pun menjerit kesakitan sambil memegang mulut nya. Dengan khawatir, Hwang Tae pun bertanya ada apa.
“Mulutku juga lumpuh,” jawab Nok Du sambil tertawa.
Flash back end
Nok Du merindukan kakak nya, Hwang Tae.

No comments:

Post a Comment