Thursday, October 3, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 3 - part 2

0 comments

Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 3 – part 2
Network : KBS2

Pasukan Muweol berkumpul di dalam rumah. Mereka membicarakan tentang Nok Du. Si wanita prajurit, Deul Le, dia yakin kalau Nok Du telah meninggal, karena dia telah melihatnya dengan kedua matanya sendiri.

Tapi ketiga rekannya, menanyakan jika itu benar, kenapa jasad Nok Du bisa tiba- tiba menghilang. Lalu mereka teringat pada hari kepulangan Deul Le, hari itu ada seorang pria yang memasuki desa mereka juga, tapi telah di usir.
Mendengar itu, Deul Le pun berniat untuk langsung pergi menyelidiki. Tapi seorang rekannya menahannya. “Ini bukan masalah yang bisa kamu hadapi sendirian lagi. Kita semua harus menanganinya. Kita harus mengikuti perintah,” jelas rekan no. 1 dengan tegas.

Tengah malam. Saat Dong Ju telah tertidur, Nok Du pun langsung bersiap- siap memakai pakaiannya dan berniat pergi. Tapi tangan Dong Ju tiba- tiba saja memegang pergelangan kakinya, dan mengejutkannya.
“Kamu harus meminta maaf,” gumam Dong Ju, bermimpi. Menyadari itu, dengan kesal, Nok Du pun langsung menyingkirkan tangan Dong Ju.
Nok Du pergi ke desa Para Janda, dan masuk ke dalam salah satu kamar disana. Dia mencari-cari dan menemukan sebuah seragam berwarna merah.

Semua pasukan Muweol yang berpakaian seragam merah berkumpul di dalam hutan. Mereka membahas tentang salah satu misi mereka yang gagal.
“Kenapa kita di perintahkan untuk menghabisi orang yang bukan pejabat kotor atau bangsawan?”
“Benar. Tidak biasanya kita melakukan hal seperti itu.”
“Siapa yang memberikan perintah itu?”
Itu semua pertanyaan mereka. Dan si Rekan No. 1 menjawab kalau hanya bos yang mengetahui semuanya.
Nok Du mendengarkan semua pembicaraan mereka. Dan memperhatikan mereka dari balik pepohonan. “Haya bos yang tahu? Siapa pemimpin ini?” pikir Nok Du, bingung.

Rekan No. 1 dan No. 2 memberitahukan kepada semuanya, kalau mereka harus berpatroli ke sekeliling desa, rumah gisaeng, dan semua rute. Sebab ada seekor anjing yang lepas dan mengikuti Deul Le ke desa mereka. Dan mereka menebak kalau sepertinya, anjing itu akan mencoba menyelinap masuk ke desa pada malam hari.
Namun mereka menolak, sebab sudah ada Pasukan Wanita Berbudi yang menjaga desa. Dan Deul Le menjelaskan bahwa Pasukan Wanita Berbudi bukanlah petarung terlatih, jadi mereka harus membantu mereka.



Rekan no. 3 kemudian menyebarkan gambar wajah Pria yang telah di gambarkan oleh Deul Le. Melihat itu, Nok Du pun merasa panik dan langsung menutupi wajahnya dengan kain hitam.

Rekan no. 1 berterima kasih kepada semuanya, lalu dia pamit pergi, karena dia harus menemui bos. Dan melihat itu, Nok Du pun langsung mengikutinya secara diam- diam. Namun Rekan no. 1 hampir saja menemukan nya, tapi untungnya dia tidak ketahuan.
Jadi secara diam- diam Nok Du pun terus mengikuti kemana Rekan no. 1 pergi. Tapi kemudian tiba- tiba saja Rekan no. 1 mengarahkan pedang kepadanya, dan ingin membuka masker yang di gunakannya. Namun dengan cepat, Nok Du segera menghindari nya dan kabur darisana.

“Lewat sini!” teriak Rekan no. 1. Dan semua pasukan yang mendengar itu pun langsung membantu mengejar Nok Du.

Karena tidak mungkin untuk kabur, maka Nok Du pun melawan Rekan no. 1. Tapi sialnya, Rekan no. 1 berhasil tanpa sengaja membuka kain penutup wajah yang di gunakannya. Dengan segera, Nok Du pun menggunakan tangannya untuk menutupi wajah nya sendiri. 

Lalu dengan cekatan, Nok Du berhasil melawan Rekan no. 1 menggunakan satu tangan saja. Dia membuat pedang Rekan no. 1 tertusuk di batang pohon. Kemudian ketika Rekan no. 1 berusaha untuk menarik pedang itu, dia pun langsung kabur darisana.
Rekan no. 1 pun merasa kebingungan, karena kehilangan jejak Nok Du.

Dong Ju terbangun sesaat, tapi kemudian dia tertidur lagi.

Nok Du sudah berganti pakaian menggunakan baju wanita. Dan dia berjalan kembali pulang ke tempatnya. Tapi tiba- tiba saja, Deul Le dan Rekan no. 2 menghampiri nya dari belakang. Membuatnya merasa terkejut.
“Kamu dari mana? Ini sudah larut malam,” tanya Rekan no. 2 dengan pandangan curiga.
“Itu terlalu berisik, jadi, aku terbangun dan memutuskan untuk berjalan- jalan,” jawab Nok Du dengan gugup. “Begini, Gisaeng yang tidur sekamar denganku punya kebiasaan tidur yang buruk,” jelasnya.

Mendengar itu, Deul Le dan Rekan no. 2 tertawa. Mereka tahu kalau Dong Ju memang bersikap buruk ketika tidur. Bahkan mereka dengar, kalau kebiasaan minum Dong Ju jauh lebih buruk lagi. Mengetahuti itu, Nok Du langsung bergumam bahwa dia merasa tidak akan pernah minum bersama Dong Ju.

Nok Du kemudian berbasa- basi menanyakan, apa yang mereka berdua sedang lakukan dengan berpakaian rapi. Dan mereka berdua dengan gugup beralasan bahwa mereka baru pulang bekerja untuk mendapatkan sedikit uang.

Nok Du pun lalu pamit kepada mereka berdua. “Aku seharusnya melihat wajah bos itu,” keluhnya pelan dengan rasa kesal.
Dengan curiga, Deul Le memperhatikannya. Tapi karena Rekan no. 2 memanggilnya, maka dia pun mengikuti nya pergi.
Seorang pria pendekar masuk ke dalam kuda menaiki kuda.
Para Gisaeng menceritakan kepada Tuan besar, kalau  mereka ada mendengar seorang pria menyelinap masuk ke dalam desa. Dan para janda ingin menangkap pria tersebut bagaimanapun caranya.
“Sudah seharusnya. Siapapun pemuda itu, dia pasti orang jahat,” komentar Tuan besar, mendengar gosip itu.

Pria pendekar datang menghampiri Tuan besar dan memberikannya sebuah paket hitam. Dan Tuan besar pun membuka paket tersebut, yang isinya adalah es balok besar. Melihat itu, para Gisaeng merasa terpesona.
Tuan besar kemudian memberikan tanda kepada Pria pendekar itu. Dan pria pendekar pun mengeluarkan pedang nya. Lalu dengan segera, semua Gisaeng pun berdiri menjauh.

“Nona Hwa Su, siapa dia?” tanya Nok Du, penasaran.
“Ini pasti kali pertamamu melihatnya. Di Joseon dia orang paling ..”
“Ahli pedang?” tebak Nok Du.

Pria pendekat membelah es balok menjadi dua menggunakan pedangnya.

“Lemah pendiran. Pendiriannya paling lemah di Joseon. Dia teman Tuan Yul Mu (Tuan Besar), dan dia sangat setia. Aku belum pernah melihat orang lemah sepertinya,” jelas Hwa Su sambil tersenyum memandangin Pria pendekar.
Mendengar penjelasan itu, Nok Du memandang ngeri pada Pria pendekar yang bisa membelah balok es dengan mudah.
“Kukira dia datang untuk menyampaikan perintah Yang Mulai. Cih, konyol sekali,” gumam Nok Du dengan kesal. Dan dia pun pergi darisana.

Yul Mu menserut es menjadi halus. Lalu setelah itu, dia menaruh bermacam- macam manisan ke atas nya. Dan tepat disaat itu, Dong Ju keluar dari dalam kamar. Dan dia pun langsung menghampiri Dong Ju sambil membawa kan es tersebut.


Melihat itu, para Gisaeng merasa iri kepada Dong Ju. Tapi Dong Ju malah tidak peduli sama sekali pada perhatian Yul Mu padanya.

“Ini manis dan dingin. Cobalah sebelum mulai meleleh,” kata Yul Mu sambil tersenyum manis. Dia mengambil sesuap dan mengulurkan nya pada Dong Ju. Tapi Dong Ju tampak enggan untuk memakan itu.

Lalu pas disaat itu, Nok Du datang dan berdiri di samping nya sambil membuka mulut lebar- lebar. Dan Dong Ju pun langsung mengarahkan tangan Yul Mu ke mulut Nok Du. Lalu setelah itu, dia pun langsung berlari kabur darisana.


Flash back
Yul Mu muda berlari ke arah rumah Gisaeng. Dia memanjat tembok, dan memperhatikan dengan pandangan terpesona kepada Dong Ju yang sedang bekerja sambil memakan es-es kecil di depan halaman.
Flash back end

“Setidaknya dia harus makan sesuap,” gumam Yul Mu sambil tersenyum, ketika mengingat itu. Tapi kenangannya langsung buyar, saat mendengar suara makan Nok Du yang sangat lahap. Dan apa yang paling mengejutkan adalah saat dia berbalik, dan melihat Nok Du sedang menjilat- jilati piring.
“Benar- benar manis dan dingin,” kata Nok Du dengan sopan. Dan dia mengembalikan pring kecil itu kepada Yul Mu tanpa rasa segan.
Dong Ju berjalan masuk ke dalam hutan. Dan sampai di tempat bersembunyiannya. Disana dia mengambil tas nya dan mengeluh. “Astaga, andai berandal itu tidak menyenggol ku,” keluh Dong Ju, kesal.

Lalu Dong Ju memperhatikan semua gambar rencana nya. “Kurasa satu- satunya cara untuk membunuh nya adalah memasuki istana,” gumamnya.

“Jika ingin menangkap harimau, aku harus masuk ke sarangnya,” gumam Nok Du penuh dengan tekad. Lalu dia pun masuk ke dalam ruangan kain. Tempat dimana para wanita memproses kain- kain indah.
Tapi sebelum dia sempat mendekati, beberapa anggota pasukan Muweol yang sedang bekerja, dia langsung merasa takut sendiri dan terdiam.

Seorang wanita bercerita bahwa dia barusan pergi ke rumah Gisaeng untuk memberikan anggur pada mereka, tapi tiba- tiba seorang pria memegang tangannya, dan mengatakan kalau dia mirip dengan Hwa Su, si Gisaeng cantik yang membuat kepala semua pria berbalik.
Mendengar itu, Rekan no. 1 langsung mengingat kembali wajah Hwa Su, dan membanding kan nya. Dan menurutnya mereka berdua sangat jauh berbeda, tapi dia tidak berani membuat si wanita itu kecewa.

“Kamu harus menerima kecantikanmu yang menakjubkan,” puji Rekan no. 1.
“Apa yang terjadi? Ini gila. Apa kalian semua buta?” tanya Rekan no. 2, terkejut. Dan mereka memberikan tanda agar dia diam.

Melihat Nok Du sedang berada di dalam ruangan kain, Dong Ju pun berhenti dan memperhatikan nya dari luar.
Nok Du salah paham, dia mengira si wanita benci di sebut mirip dengan Hwa Su. Jadi dia pun mendekati si wanita dan berbicara dengan jujur. Menurutnya, hidung Hwa Su tajam dan mancung, serta alisnya berbentuk seperti bulan sabit. Tapi si wanita, hidungnya pesek dan lebar, serta alisnya terlihat seperti ulat. Mendengar itu, Rekan no. 2 menganggukan kepala, tanda setuju dengan Nok Du. Sementara yang lain, terdiam.

“Kamu sama sekali tidak mirip Nyonya Hwa Su,” kata Nok Du, jujur. “Selain itu, kulit Nyonya Hwa Su sangat putih. Tapi kulitmu agak kuning dan membuatmu tampak maskulin,” jelas Nok Du, tanpa maksud untuk mengejek.
Tapi mendengar itu, si wanita tidak terima dan langsung berteriak marah kepada Nok Du. Dan dia pun mengatai Nok Du seperti musang yang basah kuyup dalam air.

Mendengar itu, Dong Ju tertawa dengan keras. “Musang!” katanya, geli.
Nok Du tidak terima di katain seperti itu. Dan dengan marah, si wanita tersebut langsung menjambak rambut Nok Du, sebab Nok Du duluan yang telah menghina nya.
“Dasar brengsek!” umpat si wanita.

Melihat itu, Dong Ju berusaha menghentikan si wanita. Tapi dia malah di dorong, dan tanpa sengaja tangannya terkena tutup panci yang sedang panas. Dengan kesakitan dan panik, Dong Ju pun menjerit dan pergi dari sana.
“Astaga, tanganku!” jeritnya, kesakitan.

Suasana  menjadi sangat kacau. Semua orang berusaha menghentikan si wanita. Dan ketika akhirnya si wanita berhasil di pisahkan dari Nok Du. Disaat itu, Nok Du tanpa sengaja terdorong dan pantatnya mengenai tutup panci yang panas.
“Astaga bokongku!” teriak Nok Du, kesakitan.

Suara petir membangunkan Yun Jeo. Dia keluar dari dalam kamar dan duduk memandangin hujan di luar.
“Ini seperti hari Yun Jeo meninggal,” kata Heo Yoon sambil memandangin hujan.


Flash back
Heo Yoon mengarahkan pedang nya pada Yun Jeon yang sedang di dalam kondisi berdiri ditepi tebing sambil mengendong seorang anak bayi. Dan sebelum dia membunuh Yun Jeon menggunakan pedang nya, tangisan bayi didalam pelukan Yun Jeon menghentikannya.

“Pergi. Aku akan melaporkan bahwa kamu mengubur bayi mati itu, dan aku menikammu, lalu kamu jatuh ke sungai. Jadi, hiduplah seakan- akan kamu tidak ada. Hiduplah seakan-akan kamu sudah mati,” jelas Heo Yoon. Lalu dia pun pergi.
Flash back end

Yun Jeon

Heo Yoon
Yang Mulia, Gwanghae
Yang Mulia keluar dari dalam kamarnya, dan memberi perintah kepada bawahannya. “Aku harus menemui Yun.”

No comments:

Post a Comment