Friday, October 4, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 4 - part 1

0 comments

Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 4 – part 1
Network : KBS2
Nok Du membantu memperbankan tangan Dong Ju yang terluka sambil mengomel- ngomel. Dia merasa kejadian barusan sangat tidak masuk akal, kepadahal dia membantu wanita tersebut, karena dia merasa khawatir. Dan Dong Ju bertanya- tanya, apakah itu memang membantu wanita tersebut.

“Dia bilang tidak suka karena dia mirip Gisaeng itu. Jadi, kubilang dia tidak mirip Gisaeng itu. Aku berkata jujur,” keluh Nok Du.
“Bu, kamu tidak punya teman, bukan?” tanya Dong Ju. “Aku yakin kamu hanya punya asisten, karena kamu berasal dari keluarga bangsawan,” jelasnya. “Haruskah kuberi tahu apa yang harus kamu lakukan dalam situasi seperti itu?” tawar nya.

Dan mendengar tawaran itu, Nok Du tersenyum dan langsung mengiyakan. Tapi sebelum membantu Nok Du, Dong Ju menginginkan sebuah balasan.


Sebagai balasan, Nok Du harus menyuapi makanan kepada Dong Ju, sebab kedua tangan Dong Ju sedang terluka. Dan saat Nok Du menyuapinya sekali, maka Dong Ju pun akan memberikan satu solusi kepadanya.
“Dengarkan. ‘Astaga, benarkah? Tidak mungkin’,” jelas Dong Ju, tapi Nok Du sama sekali tidak bisa mengerti. “Jangan logis soal itu. ‘Astaga. Sungguh? Kamu mirip dengannya. Astaga.’ Kamu hanya perlu mengatakan kalimat ini pada saat yang tepat,” jelas Dong Ju dengan lebih rinci. Lalu dia pun meminta di suapkan lagi.

Dengan heran, Nok Du pun menjawab bahwa dia sama sekali tidak mengerti. Lalu dia pun menyuapi makanan untuk Dong Ju sekali lagi. Dan Dong Ju pun menjelaskan lagi.
“Kamu tahu, memalukan jika membahas beberapa hal sendiri dan kamu ingin orang lain menyinggung nya untuk mu. Kamu tahu maksudku? Kamu hanya perlu berpura- pura,” jelas Dong Ju. Tapi Nok Du masih tidak mengerti juga. Mengerti akan hal itu, Dong Ju pun mempertanyakan, apakah Nok Du benar- benar wanita, jika iya kenapa Nok Du masih belum bisa mengerti hal seperti itu.

Mendengar itu, Nok Du langsung membawa meja yang berisikan makanan dan berniat untuk keluar. Dan Dong Ju pun mengeluh, sebab dia belum selesai makan. Lalu dia juga meminta bantuan Nok Du untuk melepaskan baju nya.

“Astaga, ada beberapa tempat kamu tidak boleh melepas pakaianmu,” keluh Nok Du. Dan Dong Ju merasa heran, ada apa memang nya dengan tempat ini. “Kamu harus ganti pakaian sendiri setelah melepas perbanmu. Aku tidak bisa membantu mu dengan itu,” jelas Nok Du. Dan Dong Ju pun merasa bingung.
Menyadari hal itu, Nok Du pun mengambilkan tempat tidur, dan langsung membaringkan Dong Ju disana. Lalu dia pun berniat pergi keluar. Tapi Dong Ju malah memanggilnya. Dan dengan kesal, dia pun berteriak ada apa.

“Aku tidak bisa tidur tanpa bantal,” kata Dong Ju dengan sikap manis. Dan dengan kesal, Nok Du pun mengambilkan bantal serta selimut, lalu melemparkan padanya.
“Bukankah kamu bersikap terlalu kejam? Aku butuh bantuanmu,” keluh Dong Ju.


“Kamu jelas membutuhkan banyak bantuan dariku. Aku benci hal semacam ini. Kamu harus menjaga dirimu,” balas Nok Du, mengulang perkataan Dong Ju kemarin padanya.
“Baiklah. Ini saja. Aku tidak akan meminta bantuanmu lagi,” balas Dong Ju, kesal. Dan Nok Du pun mengabaikan nya, dan pergi keluar dari kamar.
Nok Du merasa tidak akan bisa berteman dengan Dong Ju, malah dia merasa akan lebih mudah menjadi musuh dengan Dong Ju. Lalu dia mulai berlatih mengulangin perkataan Dong Ju barusan. “Astaga, benarkah? Tidak mungkin,” katanya dengan suara girly. Kemudian dia merasa geli sendiri pada dirinya, dan mengeluh kesakitan pada pantat nya yang terluka barusan.

Saat masuk kembali ke dalam kamar, Nok Du merasa terkejut, ketika melihat Dong Ju sedang menggaruk- garuk punggung dengan menggosokan punggung nya ke lemari. Dan Dong Ju menjelaskan bahwa dia merasa gatal, karena tidak bisa mengganti pakaiannya, jadi karena itulah dia seperti itu.


Mendengar itu, dengan perhatian, Nok Du menariknya untuk duduk. Lalu dia membantu menggarukan punggung Dong Ju. Dan dengan pelan Dong Ju menyuruhnya untuk menggaruk sedikit ke samping dan ke bawah. Tapi Nok Du tidak bisa mendengar dengan jelas, dan dia pun meminta Dong Ju untuk berbicara lebih keras.
“Astaga. Geser ke kanan lagi. Garuk lebih keras,” kata Dong Ju dengan lebih keras. Dan Nok Du pun melakukan nya. “Ya, itu dia. Itu tempat nya. Ke kanan sedikit lagi. Sedikit lagi. Turun sedikit. Sedikit saja,” jelasnya dengan perasaan enak.


Nok Du dengan patuh mendengarkan Dong Ju. Dan dengan puas, Dong Ju mengatakan bahwa itu tempat yang benar, lalu dia meminta untuk turun ke bawah sedikit lagi. Namun tempat tersebut mengarah ke arah pinggang. Dan Nok Du tiba- tiba merasa malu serta salah tingkah.

Nok Du berhenti menggarukan tubuh Dong Ju, dan tidur. Dengan heran, Dong Ju pun mengeluh, kenapa Nok Du berhenti di tengah jalan. Tapi Nok Du diam saja sambil memegang dada nya yang terasa seperti berdetak cepat.
Tengah malam. Dong Ju terbangun, sebab tangan nya yang terluka tidak sengaja membentur lantai dengan keras. Sehingga dia pun merasa kesakitan dan jadi terbangun. Lalu dia mengambil obat yang berada di sebelahnya untuk dipakai. Dan pas disaat itu, dia melihat pantat Nok Du yang terbakar juga, dan dia merasa kasihan padanya, karena itu pasti sakit. Jadi dia pun memanggil Nok Du, tapi Nok Du tidak bangun.
“Benar. Dia pasti juga lelah,” gumam Dong Ju. Lalu dia pun berniat berbaik hati membantu Nok Du memakai kan obat di pantatnya.
Dengan perlahan, Dong Ju membuka sehelai demi sehelai kain pakaian yang di pakai oleh Nok Du. Lalu ketika sampai di kain terakhir, tepat disaat itu, Nok Du terbangun. Dan dengan kaget, Nok Du langsung mendorong Dong Ju untuk menjauh.

“Astaga! Ini tindakan yang tidak bisa di maafkan! Beraninya kamu melakukan sesuatu yang hanya di lakukan penjahat? Kamu tidak takut menghadapi dewa?!” teriak Nok Du, merasa seperti Dong Ju ingin melecehkan nya.
“Aku hanya berusaha .. kamu juga terbakar. Jadi, ingin kuoleskan herbal. Kupikir bokong mu juga pasti sakit,” jelas Dong Ju.

Mendengar itu, Nok Du merasa tidak percaya. Dia mempertanyakan, bagaimana bisa seorang wanita melakukan itu kepada wanita lain nya. Dan dengan heran, Dong Ju tertawa, sebab dia hanya berniat baik saja barusan.
Dikediaman Heo Yoon. Yang Mulia datang berkunjung untuk bermain catur bersama. Dan setelah cukup lama, Heo Yoon mempertanyakan, apakah Yang Mulia tidak akan pulang ke Istana, sebab ini sudah larut malam. Tapi Yang Mulia masih belum mau pulang, dengan alasan malam masih panjang.
“Anda masih punya masalah tidur, Yang Mulia?”
“Ya. Jadi, aku minta setidak nya kamu tidak mengusirku.”
“Bagaimana mungkin. Tolong jangan katakan itu,” jawab Heo Yoon sambil menyusun kembali bidak catur nya.

Yang Mulia kemudian mulia menyinggung tentang Yun Jeo. Dia membicarakan kalau Yun Jeon sangat mahir memainkan catur ini. Mendengar itu, Heo Yoon terdiam. Dan Yang Mulia memperhatikan reaksinya.
“Hari ketika Yun Jeo meninggal, kamu bilang Yun Jeo meninggal setelah mengubur bayi itu, bukan?” tanya Yang Mulia, serius.
“Ya. Sudah pasti, Yang Mulia.”

“Dan kamu membunuh Yun Jeo, bukan?” tanya Yang Mulia, lagi.
“Ya. Yang Mulia” jawab Heo Yoon dengan tegas.
Mendengar jawaban tegas itu, Yang Mulia pun merasa percaya kepada Heo Yoon, dan berpikir kalau Heo Yoon pasti tidak akan pernah menipunya. Lalu dia menyarankan agar mereka jeda bermain sebentar dulu, sebelum melanjutkannya, karena dia lelah.

Yang Mulia tidur. Dan melihat itu, Heo Yoon pun berniat untuk mencekiknya. Tapi dia tidak jadi, karena bayangan hitam dari orang Yang Mulia terus berjalan- jalan di depan pintu seperti sedang berjaga disana.

Heo Yoon pun kemudian menarikan selimut, dan menyelimuti Yang Mulia. Sesudah itu, dia pergi keluar dari dalam kamar. Dan Yang Mulia membuka matanya.
“Sekeras apapun aku memikirkannya, kurasa penjabat setempat mengatakan yang sebenar nya. selidiki keberadaan Jung Yun Jeo sedikit lagi,” kata Yang Mulia, memberikan perintah kepada anak buahnya.
“Baik, Yang Mulia,” jawab si anak buah.
Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan kediaman Heo Yoon.
Nok Du terus mengulang- ngulang perkataan yang Dong Ju ajarkan padanya. Dan disaat Deul Le melewati nya, dia pun langsung terdiam. Kemudian saat Deul Le memberikan salam padanya, dan dia pun membalas salam Deul Le dengan pelan, lalu dia cepat- cepat pergi darisana.

Dengan heran, Deul Le memperhatikan Nok Du. Lalu dia membuka kertas gambar nya, dan dia membandingkan wajah Nok Du dengan wajah pria yang di ingatnya.
Deul Le kemudian berjalan mengikuti Nok Du. Menyadari hal itu, Nok Du pun merasa takut dan berjalan semakin cepat. Tapi Deul Le malah memanggilnya, sehingga dia pun terpaksa berhenti berjalan.
Namun untung nya, tepat disaat itu, Yeon Geun datang menghampirinya. Yeon Geun datang, karena dia mendengar Nok Du terkena luka bakar, jadi dia mau memberikan salep yang di beli nya. Dan dengan pelan, Nok Du hanya mengiyakan saja.
Deul Le dengan seksama terus memperhatikan Nok Du. Menyadari kalau Deul Le masih memperhatikannya, Nok Du pun langsung memegang tangan Yeon Geun.
“Terima kasih,” kata Nok Du sambil memegang tangan Yeon Geun menggunakan kedua tangannya. Dan tentu saja, Yeon Geun merasa sangat bahagia.

Melihat itu, kecurigaan Deul Le pada Nok Du pun menghilang, dan dia pergi dari sana. Menyadari itu, Nok Du pun langsung melepaskan tangan Yeon Geun.
Dengan riang, Yeon Geun mencium tangannya yang barusan di pegang oleh Nok Du. Dan tentu saja, Nok Du merasa tidak nyaman dengan itu.
“Kenapa kamu harus menyukai ku?” keluh Nok Du, bertanya.
“Dimana luka bakarmu? Biar kuoleskan salep itu untuk mu,” balas Yeon Geun, tidak mendengar pertanyaan itu.

Nok Du dengan berani menunjukan pantat nya. Dan melihat itu, hidung Yeon Geun langsung mengeluarkan darah. Melihat itu, Nok Du mengomentari betapa kotornya pikiran Yeon Geun. Lalu dia pun mengambil salep di tangan Yeon Geun, dan pergi darisana.

“Tidak, Nyonya. Aku tidak berpikiran kotor,” kata Yeon Geun, berusaha untuk menjelaskan. “Lukaku belum sembuh!” katanya, beralasan. Tapi Nok Du sudah terlalu jauh untuk bisa mendengar itu. Dan Yeon Geun pun memeluk tangan nya.

Nok Du mengikuti Deul Le dan memperhatikannya dari jauh. “Lebih baik menjauh dari hadapan nya,” gumamnya, berpikir.

Kemudian tepat disaat itu, Nok Du melihat Dong Ju lewat dengan membawa satu keranjang yang berisikan banyak pakaian kotor. Dan melihat itu, dia mendengus tidak percaya.

Ditepi sungai. Dong Ju menatap kedua tangan nya, dan berpikir. Lalu dia pun melepaskan salah satu perban di tangannya, dan bersiap untuk menyuci. Tapi sebelum dia melakuan itu, Nok Du datang menarik nya ke belakang dan merebut pakaian kotor miliknya.

“Ini aku,” kata Nok Du. “Bagaimana kamu akan mencuci pakaianmu dengan tangan itu?” tanyanya sambil memukul – mukul pakaian kotor Dong Ju.
“Ayolah, tanganku hampir sembuh. Biarkan aku melakukannya,” balas Dong Ju.
“Jika tidak berhati- hati, kamu hanya akan memperburuk lukanya!” balas Nok Du dengan sikap perhatian. Dan Dong Ju pun membiarkannya.


Lalu saat melihat Nok Du yang harus berjongkok, Dong Ju pun dengan perhatian memberikan pakaian nya yang tebal untuk di duduki oleh Nok Du. Tapi Nok Du malah salah paham dan mengomel padanya.
“Sudah kubilang, menjauhlah dari bokongku! Sudah kubilang aku baik- baik saja!”
“Astaga, duduklah disini. Jika tidak berhati- hati, kamu hanya akan memperburuk lukanya,” balas Dong Ju, mengulang perkataan Nok Du barusan. Dan Nok Du pun mendudukinya.


Dong Ju kemudian mulai mengomentari betapa bagusnya Nok Du mencuci pakaian, kepadahal Nok Du berasal dari keluarga bangsawan. Mendengar itu, raut wajah Nok Du tampak agak suram. Nok Du memberitahu bahwa ini kali pertama dan terakhirnya dia akan membantu Dong Ju.
Mendengar itu, Dong Ju tertawa, karena dia sudah menebak kalau Nok Du pasti akan mengatakan itu. Tapi dia yakin bahwa Nok Du pasti akan membantu nya lagi lain kali.
“Jangan konyol. Jika luka bakarmu memburuk, itu hanya akan membuatku pusing. Ini kulakukan dengan enggan,” jelas Nok Du. Dan Dong Ju tersenyum mendengar itu.
Setelah selesai mencuci pakaian. Nok Du memakai kan salep dari Yeon Geun di tangan Dong Ju. Dan dengan heran, Dong Ju menanyakan, kapan Nok Du pergi mengunjungin seorang tabib. Dan Nok Du menjawab, kalau dia hanya menemukan salep itu saja.

Dong Ju kemudian menceritakan bahwa ini tidak terlalu buruk, memiliki seseorang yang peduli padanya, itu membuatnya bernostalgia tentang masa lalu. Dan Nok Du membalas bahwa Dong Ju tidak akan pernah bisa menemukan seseorang yang mengurus Dong Ju sebaik ini. Serta dia merasa sudah hampir seperti Ibu Dong Ju. Mendengar itu, Dong Ju tersenyum dan membenarkan.
“Tampaknya, Ibumu orang yang sangat baik.”
“Ya, benar. Sangat baik,” jawab Dong Ju.

Nok Du memberitahu kalau dia merasa iri, karena Dong Ju memiliki banyak kenangan indah dengan Ibu. Tapi Dong Ju tidak merasa demikian, baginya menyakitkan karena memiliki banyak kenangan indah dengan Ibu, karena kenangan itu terus muncul. Lalu dia menanyakan, bagaimana dengan Ibu Nok Du.

“Ibuku?” gumam Nok Du dengan pandangan suram.

Flash back
Nok Du merawat Ibunya yang sedang sakit. Dia memberitahukan pada Ibunya bahwa Ayah akan segera datang membawa obat. Jadi dia ingin Ibu untuk bertahan.
“Putraku,” panggil Ibu dengan pandangan kosong.
“Ya, Ibu. Aku disini,” jawab Nok Du dengan sedih.
“Maaf kamu harus hidup seperti ini. Kamu putra yang sangat berharga, tapi Ibu membuatmu seperti ini. Ibu benar- benar minta maaf. Dengarkan Ibu baik- baik, namamu bukan Hwang Tae, kamu adalah Jung Yi .. “ jelas Ibu dengan kesulitan. Tapi dia tidak sempat untuk menyelesaikan perkataannya, karena dia mulai merasa kesakitan seperti akan meninggal.

Dengan panik, Nok Du pun langsung memanggil kakak nya untuk datang. Namun tiba- tiba saja Ibu mencengkram tangan nya dengan kuat dan memandanginnya dengan mata melotot. “Semua ini salah mu. Jika bukan karena mu, putraku akan, keluarga ku akan …” kata Ibu dengan nafas berat. Lalu dia pun meninggal.
Mendengar itu, Nok Du merasa syok serta kebingungan. Dan dengan sedih, dia berteriak memanggil Ibunya.
Flash back end

“Dia Ibu yang baik. Dia menyedihkan, dan aku kasihan kepadanya,” jelas Nok Du dengan pelan. Menyadari itu, Dong Ju pun langsung mengalihkan pembicaraan.
Dong Ju dengan berbaik hati menawarkan diri untuk mengoleskan salep ke pantat Nok Du. Tapi Nok Du dengan cepat langsung berdiri menjauhi nya.


“Tunggu,” pinta Dong Ju sambil memegang baju Nok Du supaya tidak pergi. “Aku boleh memperlakukan mu seperti seorang kakak?” tanyanya sambil tersenyum berharap.
Dan melihat senyum itu, Nok Du merasa terpesona. Jadi untuk sesaat dia pun terdiam.

“Tentu, jika kamu tidak keberatan,” kata Dong Ju, karena Nok Du hanya diam saja. Tapi Nok Du tetap tidak menjawab nya, sehingga dia pun mulai merasa tidak enak. “Ada apa? Kamu tidak mau?” tanyanya, pelan.
“Tidak,” jawab Nok Du, tanpa berpikir. Lalu saat dia tersadar dia pun langsung menjawab dengan benar. “Karena aku tidak lebih tua darimu.”


“Begini. Aku lahir di Tahun Kambing. Apa kamu lebih muda dariku?” tanya Dong Ju, heran.
“Kukira dia menghafal teks Konfusianisme di Tahun Ular,” gumam Nok Du, mengingat perkatan Dong Ju padanya saat di penjara. Lalu dia pun langsung mengambil mantel nya, dan pamit pergi dengan alasan sibuk.
Dengan heran, Dong Ju pun mengomentari dengan sinis betapa lucunya Nok Du yang beralasan sibuk.

“Apa aku sudah gila? Ada apa denganku? Entah apa dia melihatku tersipu. Memang nya kenapa jika dia melihat ku? Kenapa dia ingin memperlakukan ku seperti seorang kakak?” gumam Nok Du, bertanya- tanya dengan kebingungan kepada dirinya sendiri.
Lalu tiba- tiba saja, semua orang disekitar nya tampak sangat sibuk dan berlarian masuk kedalam rumah serta bersembunyi.

Dengan heran, Nok Du pun menghampiri Wanita besar no. 2 untuk bertanya. Tapi Wanita besar no. 2 malah langsung menariknya untuk bersembunyi dengan wajah ketakutan serta panik. Bahkan dia juga tidak diizinkan untuk bersuara. Dengan penasaran, Nok Du pun mengintip untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tiga orang wanita, satu berpakaian warna merah, sambil berjalan dia terus membunyikan lonceng yang di pegang nya. Dan dua wanita lagi, mereka memakai  pakaian pink dengan cadar yang menutupi wajah mereka, dan mereka berjalan mengikuti wanita merah dari belakang.

“Cenayang disana berdoa kepada langit untuk menghibur semua janda yang harus menghadapi kematian yang tidak adil. Hal buruk bisa terjadi jika kamu berkeliaran seperti ini,” jelas Wanita besar no. 2. “Jiwa yang memikul kebencian mendalam berkeliaran diseluruh desa. Jadi, kita harus menutup pintu kita, dan mematikan semua lampu,” jelasnya dengan cepat.
“Apa?”
“Kamu harus mengikutiku ke rumahku. Beberapa janda yang mengabaikan peringatan, akhirnya menghilang,” jelas Wanita besar no. 2 sambil memperhatikan situasi. Tapi ketika dia berbalik ke arah Nok Du lagi. Disaat itu, Nok Du telah menghilang. Melihat itu, si Wanita besar no. 2 pun merasa bingung.

No comments:

Post a Comment