Wednesday, October 9, 2019

Sinopsis K- Drama : The Tale Of Nokdu Episode 5 - part 2

0 comments

Sinopsis The Tale Of Nokdu Episode 5 – part 2
Network : KBS2

Dong Ju memotong rambut nya sendiri untuk merapikan nya. dan melihat itu, Nok Du menawarkan diri untuk membantu nya.

Tapi tanpa mengatakan satu katapun, Dong Ju hanya menunjukan gunting yang di pegang nya. Mengerti akan hal itu, Nok Du pun langsung terdiam dan mundur.
Nok Du mengeluh. Dia menanyakan, apakah Dong Ju bisa pergi sendiri saja, karena dia masih harus melakukan sesuatu. Tapi Dong Ju langsung memukul nya sekali dan menyuruhnya untuk berhenti berbicara omong kosong.
“Aku tahu kamu sangat ingin aku tetap di sisimu, tapi ..”

Dong Ju langsung mengangkat tangan nya untuk memukul Nok Du lagi. Sehingga Nok Du pun langsung terdiam dan mengelak darinya. “Jangan bicara seperti itu,” kata Dong Ju, memperingatkan.
“Bisakah kamu memercayaiku sekali ini saja?” pinta Nok Du. Dan Dong Ju langsung mengarahkan gunting yang di bawa nya ke leher Nok Du.  Dengan ketakutan, Nok Du langsung mengajak Dong Ju untuk kembali berjalan.

Dong Ju berlatih menari bersama anak- anak yang lain nya. Tapi selama latihan, Dong Ju sama sekali tidak mampu menari dengan benar. Dia sering menjatuhkan kipas yang dipegang nya.
Dan melihat itu, Nok Du pun tertawa dengan keras. Tapi kemudian, dia langsung menutup mulut nya, karena Dong Ju menatap tajam padanya.

Ny. Chun memperhatikan latihan mereka semua. Lalu dia memanggil Dong Ju, dan menyuruh semuanya untuk berhenti.
“Coba lagi. Rentangkan tanganmu seperti ini. Rentangkan,” ajar Ny. Chun kepada Dong Ju langsung. Dan melihat itu, Nok Du pun segera menyelinap pergi darisana.


Nok Du terkejut saat melihat para Gisaeng sedang melihat gambar Pria yang dibagikan kepada mereka. Karena itu adalah gambarnya sendiri. Serta mendengar kan pembicaran Para Gisaeng yang merasa Pria di dalam gambar tersebut tidak asing, itu membuat Nok Du merasa panik.
Dan Nok Du pun berpikir. Lalu seperti mendapatkan sebuah ide, dia memperhatikan pergelangan tangan nya.
Rekan no. 1 memberikan arahan kepada Rekan no. 2, no. 3,  dan Deul Le. Kemana mereka harus pergi untuk mulai mencari Pria yang kabur dari mereka semalam. Tapi sebelum mereka bergerak untuk mulai mencari, tiba- tiba mereka mendengar pembicaraan para janda yang lewat di dekat mereka.

Para janda mengatakan dengan keras bahwa Pria yang kabur semalam telah di tangkap ditempat Gisaeng. Jadi mereka semua bergegas untuk ke sana dan melihat.

Nok Du memperlihatkan tangan nya yang terluka, dan dengan sikap berpura- pura ketakutan, dia menolak untuk menceritakan kejadian yang di alaminya kepada semua wanita yang merasa penasaran dan berkumpul menggelilinginnya.

“Apa dia mencoba menyakitimu?” tanya Rekan no. 1. Dan Nok Du menggelengkan kepala nya, kemudian dia pun mulai bercerita.
“Kejadian nya beberapa saat lalu. Aku pergi ke bukit untuk berjalan- jalan. Dan Pria itu tiba-tiba mendekati ku, jadi, akhir nya ..”
Cerita Bohongan Versi Nok Du.
Ketika Nok Du sedang berjalan- jalan. Seorang pria menghampirinya, dan menyerang nya. Namun Nok Du berhasil membanting dan menjatuhkan nya ke tanah.


Semua wanita terkejut, saat mendengar Nok Du melakukan lemparan bahu pada seorang pria. Dan Nok Du menjelaskan bahwa di saat itulah pria tersebut mengeluarkan pisau nya dan mengarahkan kepadanya.

Lanjutan Cerita Bohongan Versi Nok Du.
Pria tersebut mengeluarkan pisau dan mengarah kan nya kepada Nok Du. Tapi untungnya, Nok Du berhasil menghindar dan memukuli wajah pria tersebut sekali. Namun kemudian, sayangnya, tangan nya tidak sengaja terkena pisau dan terluka.

Walaupun tangan nya terluka, Nok Du berhasil menahan tangan pria tersebut. Dan tanpa sengaja dia melukai wajah pria tersebut dengan pisau nya. Lalu dia pun segera kabur darisana.


Semua wanita terkejut mendengar itu. Dan Nok Du mengatakan bahwa dia merasa malu sebenarnya, tapi dia merasa harus memberitahu mereka, supaya mereka semua bisa menangkap pria tersebut. Lalu dia memberitahu bahwa Pria tersebut kabur ke desa tetangga. Dan Deul Le pun menunjuk kan gambar Pria tersebut.
“Ya, Dia orang nya. dia memakai jubah biru tua dan topi,” jawab Nok Du dengan gugup. Kemudian dia merasa sedikit kesal dan juga bertambah gugup saat Dua wanita besar mengatai nya bedebah.

“Tapi dia jauh lebih tampan daripada sketsa ini,” kata Nok Du, memuji dirinya sendiri. Mendengar itu, Dua wanita besar yang paling di takuti nya malah memaling kan muka dan tampak menyeramkan. Sehingga Nok Du pun langsung menundukan kepalanya dan terdiam untuk sesaat.
“Atau mungkin tidak,” kata Nok Du dengan suara pelan, menyesuaikan diri dengan kondisi di sekitar  nya. Lalu kemudian dia meminta kuas dan batang tinta kepada mereka.
Dong Ju merasa kesal, karena Nok Du berani kabur darinya. Tapi kemudian rasa kesal nya hilang, karena Hwa Su datang menghampirinya dan memberikan sisir kepadanya.

“Kamu jarang memakai riasan. Kenapa kamu mengumpulkan sisir langka dan kosmetik? Kamu bahkan tidak punya uang untuk itu,” tanya Hwa Su.
“Urus urusan mu sendiri,” balas Dong Ju. Lalu dia menanyakan, apa benar sisir itu langka. Dan Hwa Su mengiyakan. Mendengar itu, Dong Ju tersenyum senang.

Nok Du menambahkan garis hitam tipis di gambar. Dia menjelaskan kepada semuanya bahwa wajah pria tersebut tampak sangat unik, karena luka itu. Jadi dia yakin mereka semua bisa menemukan pria tersebut dengan mudah dimanapun pria tersebut berada.

“Terima kasih. Ini akan sangat membantu, ” kata Sun Nyeon, memercayai perkataan Nok Du. Tapi Deul Le tampak ragu.

Sun Nyeon kemudian mengajak kedua teman besar nya untuk mengunjungin desa tetangga, dan memeriksa. Mendengar itu, Pasukan Muweol, yaitu Rekan no. 2 dan no. 3, mereka pun ingin bergabung dengan nya.
“Ini berbahaya. Tetaplah disini,” kata Wanita besar no. 2.
“Ya. Percayalah pada kami,” tambah Wanita besar no. 3.


Sun Nyeon kemudian mendekati Nok Du dan memegang lengan nya dengan kuat. “Aku benar tentang mu. Begitu aku kembali, mari kita bahas masa depanmu disini,” katanya.
Dengan kebingungan, Nok Du pun bertanya, “Masa depanku? Kenapa?”
“Bergabunglah dengan Pasukan Wanita Berbudi, dan melindungi desa bersama kami,” jelas Sun Nyeon dengan  bersemangat. Dan sebelum Nok Du sempat menolak, dia langsung memeluk  Nok Du dengan erat, lalu pergi darisana.

Para wanita bertepuk tangan, mengantarkan ke pergiaan Pasukan Wanita Berbudi. Dan dengan keren, Sun Nyeon mengangkat tangannya.
“Aku tidak perlu melakukan itu,” teriak Nok Du. Tapi Sun Nyeon sudah tidak mendengar nya lagi, begitu juga dengan kedua Wanita besar lainnya.
Rekan no. 2 tertawa dan menanyakan, bagaimana bisa Nok Du melawan seorang Pria, kepadahal Nok Du hanyalah seorang wanita. Dan Nok Du menjawab bahwa ada banyak jenderal dalam keluarga Ibunya, jadi, dahulu dia suka bermain dengan pedang kayu bersama saudaranya dan orang tuannya biasa memarahi nya. Namun dia tidak bisa menjahit sama sekali.
Mendengar itu, Rekan no. 3 menatap Nok Du seperti merasa kagum kepadanya.
“Omong- omong, apa kalian hendak pergi?” tanya Nok Du.
“Kami ingin menangkap bedebah itu.. ” jelas Rekan no. 2. Tapi Rekan no.1 langsung memotong perkataan nya.
“Kami dalam perjalanan untuk mengumpulkan kayu bakar. Kamu harus menemui tabib dahulu,” jelas Rekan no. 1. Dan Nok Du beralasan bahwa dia baik- baik saja, serta dia pandai dalam menggunakan kapak, jadi dia akan membantu mereka. Lalu dia langsung menarik Rekan no. 3 bersamanya.
Mendengar itu, Rekan no. 2 mempertanyakan, apakah mereka benar akan mengumpulkan kayu bakar. Dan Rekan no. 1 mengiyakan, sebab mereka tidak bisa pergi ke desa tetangga secara berkelompok seperti ini, dan mereka membutuhkan kayu bakar.
Deul Le pun kemudian menawarkan dirinya untuk pergi ke sana, dan Rekan no. 1 mengizinkannya, tapi dia mengingatkan Deul Le untuk berhati- hati, sebab hari masih siang, jadi banyak orang akan melihat. Dan Deul Le mengiyakan, lalu dia pergi.
Sementara Rekan no. 2, dia merengek kepada Rekan no. 1 agar membiarkan nya untuk melewatkan pekerjaan ini hari ini saja, karena tugas nya masih banyak. Tapi Rekan no. 1 memeluk bahu nya dan mengajak nya untuk berjalan.
“Aku sangat lelah sekarang,” rengek Rekan no. 2.

Di tempat rahasia. Dong Ju menyimpan barang berharga nya dan kemudian mulai merakit busur panah nya.

Kemudian setelah itu, Dong Ju pergi ke hutan, dan belajar memanah. Lalu ketika selesai berlatih, dia menghela nafas. “Aku tidak akan pernah punya kesempatan seperti itu lagi. Apa ada hal lain selain ini?” gumamnya.

Nok Du menebang pohon besar dengan lumayan mudah, karena dia kuat. Kemudian setelah itu, dia mengatakan kepada mereka bertiga bahwa ada sebuah pohon yang tampak kokoh disana, jadi dia akan kesana dan menebang pohon itu. Dan mereka pun mengiyakan.

Nok Du berpura- pura pergi jauh, tapi sebenarnya dia bersembunyi dibelakang pepohonan yang rindang. Dan menguping pembicaraan mereka bertiga.
Rekan no. 2 ingin merekrut Nok Du menjadi anggota mereka, karena mereka sedang membutuhkan banyak orang. Tapi Rekan no. 1 dan no. 3 kurang setuju, sebab kuat bukanlah satu- satunya faktor mereka dalam merekrut anggota.
“Fokuslah saja pada rencana besok. Datang ke tempat pembuatan bir pukul 15:00,” jelas Rekan no. 1 dengan tegas. Dan mereka berdua mengiyakan.
Nok Du berjalan ke dalam hutan sambiil masih membawa kapak nya. “Kalian merencana kan sesuatu untuk besok malam? Aku harus bergabung dengan mereka,” gumam nya. Kemudian dia mengayung kan kapak nya untuk menebang sebuah pohon kecil.



Tapi karena sakit kuat nya Nok Du mengayungkan kapak, tanpa sengaja baju belakang Nok Du pun menjadi robek. Menyadari hal tersebut, Nok Du pun menjadi panik. Dia ingin melihat seberapa besar robekannya, tapi tidak bisa. Kemudian tanpa sengaja, dia menginjak rok nya sendiri, dan membuat nya terlepas. Sehingga tubuhnya yang berotot pun terlihat sangat jelas. Dengan panik, Nok Du pun segera berlari pergi untuk bersembunyi.

Setelah selesai memotong dan mengumpulkan kayu- kayu yang mereka butuhkan, Rekan no. 1 pun mengatakan bahwa dia akan pergi untuk menjemput Nok Du. Dan kedua rekannya mengiyakan.
Dong Ju keluar dari tempat rahasia nya.
Nok Du berlari tidak tentu arah untuk bersembunyi. Tapi tanpa sengaja, dia malah terjatuh lagi. Dengan panik dia pun mencoba untuk menutup dirinya sendiri. Lalu dia tambah semakin panik saat mendengar Rekan no. 1 memanggil namanya.

Dong Ju terkejut melihat Nok Du, dan dia pun langsung menutup matanya.
Nok Du juga terkejut saat melihat Dong Ju. Tapi setelah sadar kalau itu adalah Dong Ju, maka dia pun langsung berlari menghampiri Dong Ju dan memohon bantuannya.
“Astaga, kamu tidak boleh lebih memalukan daripada ini,” kata Dong Ju, ketus.
“Aku tidak sengaja. Aku menebang pohon ..” jelas Nok Du. Kemudian dia menarik lengan baju Dong Ju, dan meminta Dong Ju melepaskan baju itu untuk nya.
Dengan kesal, Dong Ju pun langsung memukuli Nok Du. Dan dengan sikap menyedihkan, Nok Du menjelaskan bahwa ini hanyalah salah paham, lalu dia memohon supaya Dong Ju mau membantu nya.
“Hei, bukan begitu caramu meminta bantuan seseorang. Panggil aku ‘Ny. Dong’. Silahkan,” jelas Dong Ju sambil tersenyum senang.

Dan dengan patuh, Nok Du langsung berlutut di depan Dong Ju sambil merapatkan kedua tangan nya untuk memohon. “Ny. Dong. Kumohon,” pintanya. Dan Dong Ju tertawa pelan, karena merasa senang serta puas.

Suara Rekan no. 1 terdengar semakin dekat. Dan dengan segera, Dong Ju pun menyuruh Nok Du untuk bersembunyi. Tapi disaat itu, mereka malah melihat Rekan no. 1 sudah sangat mendekat ke arah mereka.
“Lewat sini. Pergilah kesana. Cepat,” perintah Dong Ju.
Melihat itu, Rekan no. 1 pun mengejar mereka berdua. Sambil terus memanggil- manggil nama Nok Du. “Ny. Kim,” panggilnya.

Dong Ju memegang tangan Nok Du dan membawa nya untuk berlari bersama. Tapi tanpa sengaja, karena terlalu cepat berlari, Dong Ju serta Nok Du pun jatuh ke dalam sungai.
Dan didalam sungai, Dong Ju langsung melepaskan tangan Nok Du yang di pegang nya. Lalu dengan susah payah, Nok Du pun naik ke atas permukaan.

Dengan heran, Rekan no. 2 serta no. 3 yang sudah selesai dengan pekerjaan mereka datang mendekat. Rekan no. 2 menanyakan, apa yang sedang Dong Ju lakukan disana. Dan Dong Ju menjawab bahwa dia datang untuk berlatih menari, tapi hari ini sangat panas, sehingga dia meyakinkan Nok Du untuk mandi bersama dengannya. Dengan bersemangat, Nok Du pun tersenyum dan menganggukan kepala nya.

“Kalian berdua mandi bersama?” tanya Rekan no. 3.
“Ya. Kami saling menggosok punggung beberapa kali,” jawab Dong Ju, dengan sikap menyakin kan. “Dia pandai menggosok. Rasanya menyenangkan.”
“Benar. Dia memang kuat,” puji Rekan no. 2.

Dong Ju kemudian dengan santai mengajak mereka bertiga untuk ikut bergabung bersama. Mendengar itu, Nok Du merasa panik, tapi dia berusaha untuk tidak menampakan nya, dan bertanya, apakah mereka bertiga mau ikut bergabung.

“Tidak. Kami harus kembali ke tempat pembuatan bir. Santai saja,” kata Rekan no. 1, menolak. Kemudian mereka bertiga pun pergi.
“Baiklah. Sampai jumpa,” balas Dong Ju sambil tersenyum ramah. Kemudian dia memandang kesal kepada Nok Du yang berada di sebelah nya.
Nok Du dengan perhatian memberikan mantel nya kepada Dong Ju. Tapi Dong Ju menolak, dan menyuruh Nok Du untuk menutupi tubuh sendiri, karena dia tidak ingin melihat nya. Dan Nok Du pun memakai nya, lalu dia duduk di sebelah Dong Ju.

“Jadi, kamu kemari untuk berlatih menari?” tanya Nok Du.
“Huh? Ya. Untuk apa lagi memang nya?” balas Dong Ju, gugup.
Nok Du mengomentari kalau Dong Ju memang harus banyak berlatih, sangat banyak. Mendengar itu, dengan kesal, Dong Ju mendesis dan melemparkan kipas nya.
“Apa ini sesulit itu?” tanya Nok Du sambil memainkan kipas tersebut.
“Yah, terlihat mudah saat kamu melihat nya, bukan? Kamu harus mencobanya. Setelah itu, kamu akan tahu itu sulit,” balas Dong Ju, ketus.


Nok Du kemudian dengan percaya diri berdiri dan bersiap untuk menari. Dan Dong Ju tertawa, dia mengatakan bahwa jika Nok Du bisa menarikan satu gerakan saja, maka dia akan menjadi putri Nok Du.
Mendengar itu, Nok Du memberikan tanda agar Dong Ju memegang kata- kata itu. Lalu Nok Du pun mulai menari. tariannya benar dan sangat indah. Sehingga Dong Ju pun terpaku menatap nya.

“Hei, putriku,” panggil Nok Du dengan bangga. Dan Dong Ju merasa tidak percaya, dia yakin kalau Nok Du pasti ada belajar menari. “Tidak. Aku melihatmu berlatih tadi,” jelas Nok Du.
“Kamu bisa menari seperti itu setelah melihat nya sekali saja?”

“Ya. Semua orang juga pasti  bisa, bukan?”
Mengetahui itu, Dong Ju bergumam pelan, dia sudah tidak menyukai Nok Du sebenarnya. Tapi sekarang dia merasa membenci Nok Du.

Nok Du dengan perhatian menawarkan diri untuk mengajarkan Dong Ju. Tapi Dong Ju menolak, dan menyuruh agar Nok Du tidak menipunya.
“Berdirilah,” ajak Nok Du. Dan Dong Ju pun mengikuti nya.


Nok Du dengan perlahan mengajarkan cara menari yang benar kepada Dong Ju. Dia memeluk Dong Ju dari belakang, dan menggerakan tangan Dong Ju. Dan dengan sedikit tidak fokus, Dong Ju tampak seperti salah tingkah.
“Gunakan nafas mu. Lihat,” ajar Nok Du secara perlahan- lahan. “Tarik nafas. Lalu berputarlah ke kirimu,” ajarnya. Dan Dong Ju pun melakukannya.


Namun saat berputar, Dong Ju hampir tidak sengaja terjatuh. Tapi untung nya, Nok Du berhasil menangkap nya. Dan selama sesaat mereka berdua pun saling terdiam sambil menatap satu sama lain.

No comments:

Post a Comment