Tuesday, November 12, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 6 - part 2/5

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 6 – part 2
Network : Channel 3

Urawee masuk ke dalam restoran, dan menemui Unthiga yang sedang menikmati dessert dengan santai. Dan melihat kedatangan nya, raut wajah Unthiga langsung mengeras, karena tidak suka melihat nya.

Ampu pamit kepada temannya untuk kembali ke dalam restoran. Karena dia lapar dan ingin lanjut makan. Dan Tanong serta Ploy pun mengikuti nya. Namun sebelum dia masuk ke dalam restoran, dia terkejut karena melihat Urawee ada disana. Begitu juga dengan Tanong dan Ploy, sebab mereka takut akan terjadi masalah.

Urawee tersenyum kepada Unthiga, dan lalu dia melemparkan banyak kondom kepada Unthiga. “Gunakan itu! Jadi wanita pelacur sepertimu tidak akan menyebarkan penyakit kepada  yang lain. Dan satu hal lagi, biar kamu tidak hamil tanpa tahu siapa Ayah bayi nya!” teriak Urawee.
“Urawee!” bentak Unthiga, kesal. Tapi dia tidak berani melakukan apapun, karena ada banyak orang yang memperhatikan mereka.

Urawee dengan kesal melemparkan semua kondom yang masih di pegang nya kepada Unthiga, dan berteriak memarahi nya. Dan Unthiga berpura- pura lemah serta polos, dia mengatakan bahwa dia telah menahan diri, tapi sekarang, dia akan melapor kan Urawee ke polisi karena telah menfitnah nya. Dengan semangat, Urawee bertepuk tangan.
“Bagus! Kamu pantas mendapatkan penghargaan artis terbaik! Berhenti berpura- pura. Aku akan merobek topeng mu!” teriak Urawee sambil ingin memukul Unthiga. Tapi Ampu langsung menarik nya dan menghentikan nya.

Unthiga memisahkan Ampu untuk jangan memegang Urawee. Dan dia merengek sambil memeluk Ampu. Karena salah paham, maka Ampu pun berdiri di pihak Unthiga dan mengomentari kalau Urawee sudah kelewatan.
“Wee, menjadi gila. Tolong aku. Aku ingin pulang. Tolong antarkan aku,” kata Unthiga, merengek kepada Ampu. Dan Ampu pun mengiyakan.
Dengan puas, Unthiga menatap ke arah Urawee. Lalu mengikuti Ampu keluar. Dan dengan kesal, Urawee pun langsung menyusul nya keluar. Dia memperingatkan Ampu untuk berhati- hati kepada Unthiga. Mendengar itu, Unthiga langsung maju dan menampar Urawee. Dan Urawee balas menampar nya . Lalu mereka berdua pun saling menjambak rambut masing- masing.

Dengan kesusahan, Ampu berusaha untuk menghentikan mereka berdua. Urawee mengeluh kalau Unthiga lah yang telah menamparnya duluan. Dan Ampu berteriak mengingatkan kalau Urawee lah yang telah menampar Unthiga duluan.
“Tapi dia yang menyakiti ku duluan! Apa kamu ingin tahu BH siapa di foto itu?” tanya Urawee, kesal.
“Wee! Jika kamu tidak  berhenti menfitnah ku. Aku akan benar- benar menuntut mu!” teriak Unthiga, menghentikan Urawee.
“Bagus! Aku bersedia pergi ke pengadilan supaya dunia tahu hal buruk apa yang kamu lakukan!” balas Urawee, tidak takut.

Ampu lebih mempercayai Unthiga, sehingga dia pun membela Unthiga dan menyuruh Urawee untuk berhenti  menfitnah Unthiga hanya karena Urawee cemburu tentang Anik. Dan Urawee menjawab bahwa dia tidak salah.
Kemudian setelah mengatakan itu, Urawee pun pergi darisana. Lalu Ampu menenangkan Unthiga yang tampak kesal supaya tenang. Dan Unthiga langsung berpura- pura kepala nya sakit, dan bersandar di tubuh Ampu. Dan Ampu pun membiarkan nya.
Sesampai nya Arm dirumah, Nopamat langsung menyambut nya dengan sinis. Dan Arm menjelaskan bahwa dia pulang untuk mengambil kembali barang nya. Lalu dia menyuruh Sunisa untuk bersama dengan Ting membereskan barang nya.
“Aku akan melakukannya,” kata Nopamat, menghentikan Ting serta Sunisa. Lalu dia berjalan melewati Arm dan naik ke atas.

Nopamat melemparkan semua barang Arm keluar. “Keluar! Keluar! Ambil semua ini!” teriak nya. Dan Ting berusaha untuk menghentikannya. Tapi dia tidak peduli.
“Bawa barang ku dan letak kan di dalam mobil, lalu kamu bisa pergi,” kata Arm, menyuruh Sunisa. Dan Sunisa dengan patuh, mengiyakan.

Setelah semua nya pergi, dan hanya tersisa mereka berdua disana. Arm mengajak Nopamat untuk berbicara berdua. Dan Nopamat meneteskan air mata, ketika menatap mata dingin Arm kepada nya. Namun dia berusaha untuk bersikap tegar dan baik- baik saja.
“Aku ingin bercerai,” kata Arm, langsung to the point. “Kita berdua tahu, kalau tidak ada cinta diantara kita, dan tidak pernah ada.”
“Itu kamu. Tapi bukan aku. Aku tidak akan bercerai,” balas Nopamat, menangis.
“Apa kamu yakin, kamu mencintai ku? Dan bukan karena kamu ingin menang melawan Maleewan? Jawab pada dirimu sendiri.”
“Kamu yang harus nya menjawab pada dirimu sendiri. kamu meminta cerai pada ku, karena kamu tidak mencintai ku lagi atau ada alasan lain?” balas Nopamat. Dan Arm diam.

Ting menyela mereka berdua, dan memberitahu bahwa Anik datang untuk bertemu. Mendengar itu, Nopamat langsung menghapus air mata nya. Dan melihat itu, Anik merasa bingung, tapi dia tetap memberikan salam dengan sopan padanya.

Yai dengan perhatian, bertanya, apakah Urawee baik- baik saja. Dan Urawee mengiyakan. Lalu Yai bertanya, apakah Urawee telah bertemu dengan Anik dan berbicara dengannya, jika sudah apa keputusan mereka berdua. Dan Urawee menjawab bahwa dia telah berbicara kepada Anik.

Nopamat menanyakan, kenapa Anik datang mencari Unthiga, apakah ada hal penting, jika iya, maka katakan saja. Dan dengan gugup, Anik diam menatap Nopamat.

“Aku dan Nik tidak bisa kembali bersama seperti dulu lagi,” kata Urawee, bercerita. “Ini keputusan ku. Aku akan melangkah maju. Dan tidak akan melihat ke belakang lagi.”
“Kamu begitu kuat,” puji Fae. “Jika itu aku, mungkin aku sudah …”
“Itu karena kamu lemah,” sela Duang. Lalu dengan perhatian, dia bertanya, apakah Urawee yakin. Dan Urawee menjawab iya, jadi mereka tidak perlu mengkhawatirkan nya.

Nopamat bertanya lagi, kali ini dengan suara lebih keras, sehingga membuat Anik semakin takut untuk berbicara. Dan Arm pun mengingatkan Nopamat, tapi Nopamat tidak peduli, dan terus menuntut jawaban dari Anik.
“Khun Oun dan aku …” kata Anik, ragu. Dan semua orang menantikan jawaban nya dengan gugup.

Urawee membagikan oleh- oleh untuk Pua dan Fae. Dengan senang, Fae menerima hadiah itu dan berterima kasih, lalu dia langsung membuka nya. Dan hadiah yang diberikan oleh Urawee adalah sebuah selendang hitam putih yang sangat lembut. Menerima itu, Fae sangat senang, karena itu sangat cantik dan dia berterima kasih lagi.

“Mm… P’Wee, apa kamu memang sudah merasa lebih kuat sekarang?” tanya Fae, ingin tahu. Dan Urawee diam sangat lama dengan raut wajah suram. “Jadi itu berarti belum?” tebak Fae. Dan Urawee tetap diam. “P’Wee, kamu harus bertahan. Waktu akan membantu menyembuhkan segalanya. Contoh nya aku,” jelas Fae, menyemangati Urawee.
“Fae, Nik bukanlah pria yang buruk sebenarnya. Aku tidak menyesal kehilangan dia, tapi aku kasihan pada nya. Karena Unthiga menggunakan nya sebagai alat,” balas Urawee.

Fae banyak ingin tahu, jadi dia terus bertanya. Tapi Urawee memintanya untuk tidak banyak bertanya lagi, karena dia tidak ingin membiarkan Bibi Duang serta Nenek Yai tahu, sebab mereka sudah terlalu tua sekarang untuk dibebanin masalah seperti ini.
Dan Fae mengerti, tapi dia bertanya sekali lagi, apa yang akan Urawee lakukan selanjutnya. Jika itu dia, maka dia tidak akan membiarkan orang yang di kenal nya disakiti lebih lagi.
“Apa kamu pikir, aku tidak akan melakukan apa- apa?” kata Urawee, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Sesampainya dirumah. Unthiga berterima kasih kepada Ampu, karena Ampu telah peduli dan mengantarkan nya ke rumah. Lalu dia mengajak Ampu untuk masuk dulu ke dalam rumahnya. Namun Ampu menolak, karena dia mau langsung pulang.
Dengan mesra, Unthiga pun memegang tangan Ampu. “Terima kasih sudah melindungiku,” katanya. Dan Ampu mengiyakan sambil menarik tangan nya menjauh, karena sedikit risih.
Menyadari itu, Unthiga pun mulai berbicara dengan sedih untuk membuat Ampu memperhatikan nya. “Kamu tahu, sejak aku lahir, aku tidak pernah merasakan aku berharga untuk siapapun. Tidak seroang pun pernah tulus kepada ku. Setiap orang datang ke dalam hidup ku untuk keuntungan dan penampilan ku, atau uang ku. Sampai aku bertemu kamu. Kamu tidak sama seperti mereka semua,” kata Unthiga.
“Itu tidak benar,” balas Ampu, singkat.

Unthiga meminta Ampu untuk menatap mata nya, jadi Ampu akan tahu kalau itu benar. Dan Ampu pun menatap mata Unthiga, lalu dia membenarkan. Dan Unthiga berterima kasih lagi padanya.
Setelah itu, Unthiga keluar dari mobil. Tapi dengan sengaja, dia berpura- pura seperti kepala nya sangat sakit, dan hampir akan terjatuh. Sehingga dengan cemas, Ampu pun ikut turun dari mobil untuk membantunya.
“Tiba- tiba kepalaku sangat sakit. Bisakah kamu membawa ku ke dalam?” pinta Unthiga.
“Baiklah,” jawab Ampu, dan dia membantu Unthiga.

Ketika Unthiga dan Ampu masuk ke dalam rumah, semua orang diruang tamu langsung berdiri dan menatap nya. Melihat itu, Unthiga merasa terkejut. Sementara Ampu, dia langsung memberikan hormat kepada mereka semua dan menjelaskan bahwa dia membantu Unthiga, karena Unthiga merasa sakit kepala. Mendengar itu, Unthiga menatap Ampu dengan mata melebar, seperti tidak menyangka kenapa Ampu berbicara seperti itu, seolah mereka tidak ada hubungan.
Anik dengan cepat berjalan ke arah mereka, dan menarik Unthiga ke arah nya. “Aku akan mengurus Khun Oun dari sini,” katanya. Dan Ampu pun pamit kepada mereka semua.
Dengan kesal, Unthiga melepaskan diri dari Anik, dan menanyakan kenapa Anik datang ke sini, kepadahal dia sudah bilang kalau tidak ingin terlibat dengan Anik lagi. Dan Anik menjawab bahwa dia tidak bisa melakukan itu, karena Unthiga adalah istrinya.

Dengan terkejut, Unthiga menatap kedua orang tua nya. Lalu dia menatap Anik balik dan menjawab itu tidak benar. Namun dengan tegas, Anik mengatakan kalau dia punya bukti. Bukti yang Unthiga kirimkan kepada Urawee malam itu.
“Apa kamu kehilangan pikiran mu?” keluh Unthiga, menyangkal.
“Aku punya bukti,” tegas Anik. Dan Unthiga mengusir nya untuk pergi.
Unthiga kemudian berpura- pura kepala nya sakit lagi, dan permisi kepada kedua orang tua nya untuk masuk ke dalam kamar. Namun Nomapat memanggil nya, dan mengikuti nya.
“Apa ini yang kamu maksud, ketika kamu mengatakan kamu akan melakukan segala nya untuk menginjak Wee? Kamu bahkan tidur dengan pria nya?” tanya Nopamat, kecewa.
“Ya,” jawab Unthiga, jujur dan berani.

Mendengar itu, Nopamat menangis dan menampar Unthiga. Dia bertanya, siapa yang telah mengajari Unthiga melakukan hal buruk seperti ini. Lalu dia mengangkat tangannya untuk menampar Unthiga lagi. Tapi kali ini Unthiga langsung menahan tangannya, dan menghentikannya.
“Siapa yang mengajari ku? Aku melakukan segala yang kamu lakukan,” keluh Unthiga, menangis.

“Lepaskan tanganku sekarang,” tegas Nopamat. Dan Ting meminta Unthiga untuk menghentikan ini. Jadi akhirnya, Unthiga pun melepaskan tangan Nopamat.
Dengan sedih, Nopamat semakin menangis. Dan Unthiga bertanya, kenapa Nopamat menangis, seharus nya Nopamat senang, karena Urawee telah di lukai oleh pengkhianatan Anik, yang telah berganti hati dan jatuh cinta kepadanya. Jadi seharusnya Nopamat senang dan tersenyum.

“Kamu ingin aku melihat kamu menikah dengan pria murahan itu?” tanya Nopamat.
“Jika tidur dengan pria, berarti aku harus menikah setiap mereka. Maka Ibu pasti sudah banyak memiliki menantu,” jawab Unthiga. “Ini masih kurang. Aku akan mencuri segala nya dari Urawee. Aku akan mengambil segalanya dari dia. Hingga hidupnya hancur!!” jelas Unthiga dengan penuh dendam dan tekad.
Didalam kamar.
“Ini belum berakhir. Ini baru awal,” gumam Urawee. Lalu dia memandangin lagi semua foto Anik bersama dengan Unthiga. “Kamu suka makan secara rahasia, kan? Jadi, aku akan meletakkannya ditempat yang terbuka untuk mu,” gumamnya, penuh tekad.
Arm menyarankan Anik supaya pulang dulu. Dan dengan perasaan bersalah, Anik berlutut di depan Arm dan meminta maaf. Tapi Arm langsung meminta Anik untuk berdiri.
“Aku benar- benar berniat untuk bertanggung jawab atas tindakan ku,” jelas Anik.
“Terima kasih sudah mau bertindak seperti pria sejati. Tapi …”
“Khun Oun dan aku saling mencintai. Jadi kami melakukan kesalahan itu,” sela Anik, tegas.

“Apa kamu yakin bahwa Oun mencintai mu? Karena aku sangat mengenal baik putriku. Kamu tidak perlu melakukan sebanyak ini,” balas Arm.
Anik mengingat perkataan Urawee yang menyuruhnya untuk bertindak seperti pria sejati. Dan karena perkataan itulah, maka nya dia melakukan ini sekarang. Yaitu menjadi pria sejati.

Unthiga menangis sambil menatap dirinya sendiri di cermin. Dia mengingat tentang bertengkaran nya dengan Urawee di café hari ini. Serta Anik yang datang ke rumah nya. Kemudian dengan kesal, dia meremas sprei tempat tidur nya dengan erat.

No comments:

Post a Comment