Thursday, December 5, 2019

Sinopsis Chinese Drama : All I Want For Love is You Episode 02

1 comments

Sinopsis Chinese Drama : All I Want For Love is You  Episode 02
Je T’aime Bien Aussi
Images by : QQLive
Xiaoman menulis di diary-nya mengenai hari yang di laluinya hari ini. Dan tentu saja, yang di bahasnya adalah mengenai dirinya yang merobek celana Zuo An, tapi Zuo An tetap baik dan membantunya.
Usai menulis diary-nya, Xiaoman mulai galau memikirkan dimana dia akan menyimpan buku itu agar tidak di temukan oleh ayahnya. Dia memilih menyimpan di dalam laci lemari barang-barangnya.

Usai menyelamatkan Zuo An dari para bandit, Xiaoman membawanya ke kediaman-nya untuk bersembunyi. Zuo An berterimakasih atas pertolongan Xiaoman hingga tidak tahu harus bagaimana membalas-nya. Tanpa malu, Xiaoman malah menyuruh Zuo An berterimakasih dengan menikahinya. Zuo An jelas shock.

Xiaoman merasa malu. Dia mengira kalau Zuo An mengiranya sebagai orang yang sangat kasar, tidak lembut, tidak pintar dan sangat bodoh karena dia tadi berkelahi dengan para pencuri dan bahkan merobek celana Zuo An. 
Zuo An tersenyum dan berujar bahwa dia tahu kalau Xiaoman adalah orang yang baik hati. Xiaoman sangat senang mendengarnya dan berkata akan membantu menyembuhkan luka Zuo An. Dia menarik Zuo An untuk duduk dan mulai membuka baju Zuo An.
Khayalan Xiaoman buyar karena dia tiba-tiba merasa sakit pada perutnya. Dia memeriksa persediaan pembalut-nya dan ternyata sudah habis. Dia segera mengenakan jaket-nya dan pergi ke kedai yang ada di dekat rumahnya untuk membeli pembalut.


Sayangnya, di kedai itu ada Zuo An yang sedang berbelanja pena. Xiaoman langsung malu dan hendak diam-diam membeli pembalut dan langsung pergi. Tapi, saat hendak membayar pembalutnya, Xiaoman baru sadar kalau dia tidak membawa uang.


Zuo An tahu hal itu dan membayarkan pembalut Xiaoman sekaligus dengan pena-nya. Xiaoman jelas merasa tengsin dan langsung pergi begitu saja.
--
Di rumah, Xiaoman mencuci celana-nya sambil bersedih. Kenapa hari ini dia sangat memalukan di depan Zuo An? Tadi pagi di sekolah, dia merobek celana Zuo An dan sekarang malah bertemu di kedai saat dia hendak membeli pembalut dan sialnya, dia malah lupa membawa uang.
--

Zuo An juga sudah tiba di depan rumahnya. Dia tersenyum memandang pena yang baru di belinya. Dan terlihat bahwa di dalam laci meja belajar Zuo An ada banyak sekali berjejer pena dengan bentuk yang serupa.

Ayahnya pulang dan langsung memanggil Zuo An. Ada yang hendak di bicarakannya. Dia sudah mendengar kabar bahwa Zuo An di rekomendasikan oleh sekolah ke Universitas Kedokteran Nandu yang merupakan kampus jurusan kedokteran terbaik di negara ini. Tidak hanya berita itu saja sih yang dir. Zuo bahas, dia juga sudah mendengar mengenai kejadian Xiaoman dan Zuo An. Dir. Zuo berkata bahwa Lao Gu (ayah Xiaoman) adalah orang yang keras kepala, jadi putrinya (Xiaoman) pasti sama sepertinya, bermasalah.
“Gu Xiaoman tidak ada masalah, dia sangat baik,” protes Zuo An.
Sayang-nya, dir. Zuo tidak begitu mendengarkannya. Dia lebih berfokus membahas kuliah Zuo An, tanpa bertanya, Zuo An hendak kuliah apa dan dimana. Zuo An juga tampaknya tidak berani mengemukakan keinginannya. Dia hanya bisa pamit kembali ke dalam kamarnya untuk menghindari pembicaraan.

Di dalam kamarnya, Zuo An membuka dompet-nya dan terlihat ada foto seorang anak perempuan. Melihat foto itu, Zuo An menyakinkan diirnya sendiri kalau dia harus menjadi dokter yang baik. Ini adalah nasib-nya.
--


Esok hari,
Di dalam kelas, Xiaoman bermimpi bahwa Zuo An meninggalkannya karena kejadian memalukan kemarin. Dia terjaga dari tidurnya. Dia sepertinya hendak mengembalikan uang Zuo An karena membelikannya pembalut kemarin malam, tapi dia tidak berani dan malah kabur keluar kelas.


Zhan Yue yang melihatnya, langsung menghampiri-nya. Zhan Yue masih saja penasaran, apa kelebihan Zuo An selain belajar hingga Xiaoman menyukainya? Xiaoman dengan mata berbinar, menjawab kalau Zuo An itu berprestasi, baik, tampan. Meskipun Zuo An tidak suka tersenyum, tapi sekalinya tersenyum… wahhhh. Dan masih ada banyak lagi kelebihan yang Zuo An miliki.
Zhan Yue cemburu mendengarnya. Dia memarahi Xiaoman yang sudah di butakan oleh cinta hingga asal ngomeng seperti itu. Menurutnya, dia yang terbaik, lebih daripada Zuo An.
Xiaoman tidak peduli dengan Zhan Yue. Baginya, Zuo An adalah yang terbaik. Zhan Yue masih tidak terima. Dia kan sudah berteman dengan Xiaoman sejak kecil, jadi Xiaoman pasti tahu banyak kelebihannya.
“Kamu sungguh…. Sungguh gila!” maki Xiaoman dan langsung pergi.
Zhan Yue jelas tidak terima di sebut gila.
--

Jam olahraga bebas,
Xiaoman tampak tidak terlalu sehat karena dia terus memegangi perutnya yang sakit karena datang bulan.
Sementara Zuo An, dia sibuk belajar di pinggir lapangan dan tidak ikut bermain.

Xiaoman melihatnya dan langsung menghampirinya. Zhan Yue yang melihat Xiaoman menghampiri Zuo An, langsung ikut menghampiri. Tujuan Xiaoman menghampiri Zuo An adalah untuk mengganti uang Zuo An kemarin malam. Tapi, belum sempat dia mengeluarkan uangnya, Zhan Yue malah sudah datang.
Zhan Yue menantang Zuo An untuk bertanding basket dengannya. Melihat kelakuan Zhan Yue, Xiaoman langsung memarahinya. Zhan Yue malah mengingatkan kalau sebelumnya Xiaoman bilang kalau Zuo An hebat, tapi dia akan membuat Xiaoman sadar hari ini bahwa Zuo An tidaklah sehebat itu.

Zuo An memilih pergi dan mengabaikan Zhan Yue. Tapi, Zhan Yue malah berteriak bahwa itu artinya Zuo An mengaku kalah. Dia bahkan berteriak mengumumkan bahwa dia menantang Zuo An bermain basket, tapi Zuo An tidak berani menerima tantangannya. Xiaoman berteriak berusaha menghentikan ocehan Zhan Yue, tapi Zhan Yue malah bereriak kalau Xiaoman adalah saksi-nya.

Teriakan Zhan Yue menarik perhatian Yaola dkk. Yaola menghampirinya sambil menyebutnya gila. Mereka semua kan tahu kalau Zhan Yue hebat dalam bermain basket, dan Zuo An tidak hebat di bidang olahraga. Kalau Zuo An bertanding melawan Zhan Yue, itu sama saja dengan telur melawan batu. Zhan Yue pasti sengaja ingin mempermalukan Zuo An di depan umum kan?
“Iya betul,” akui Zhan Yue.
Zuo An yang masih ada di sana, tentu mendengar semua ucapan mereka. Yaola menghampirinya dan meminta Zuo An untuk tidak salah paham. Dia bukannya hendak mengatakan Zuo An adalah telur. Maksudnya, Zhan Yue berbeda dengan Zuo An. Zhan Yue hanya hebat dalam otot, tidak dalam otak.
“Kalau begitu, Zuo An hebat dalam otak, sedangkan tidak dalam otot?” balas Zhan Yue. “Bagi manusia, pasti ada kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah belajar. Kalian tidak bisa di bandingkan. Pada akhirnya juga pasti ada ujian kan. Berdasarkan apa, ketika membahas kelebihanku, lalu dia tidak berani bertanding? Apakah itu adil? Ini tidak adil kan?” oceh Zhan Yue.
Telinga Zuo An panas juga mendengar ocehan Zhan Yue. Di tambah lagi, Zhan Yue menyebutnya pengecut karena tidak berani bertanding dengannya. Yaolah langsung memarahi Zhan Yue juga, yang dia rasa sudah salah minum obat hingga bicara ngawur. Zhan Yue tidak terima dan mengejek nama Yaola yang di plesetkan artinya menjadi = ‘minum obat’.
(Ci Yaola = kalau di ucapkan terpisah cik = makan, yao = obat ; cik yao la = sudah minum obat)
Yaola jelas marah. Dia tersinggung karena namanya di ejek seperti itu. Dari masih kecil, dia paling benci jika namanya di ejek seperti itu. Dan karena itu, dia akan melapor pada guru Zhao sekarang juga kalau Zhan Yue sudah mengejek namanya dan bahkan mencari masalah dengan Zuo An.
Zhan Yue masih terus mengoceh menyebut Zuo An pengecut. Yaola dan Xiaoman terus memarahinya, tapi Zhan Yue semakin mengejek. Zuo An akhirnya membalas ucapan Zhan Yue, bahwa dia hanya merasa tidak ada untungnya melayani Zhan Yue.
Zhan Yue semakin panas dan terus menantang Zuo An agar bertanding basket dengannya. Dan karena Zuo An tidak mau, dia hendak membuat pengumuman kalau Zuo An takut melawannya dalam pertandingan basket. Zuo An akhirnya terpancing dan mau menerima tantangan Zhan Yue untuk bertanding basket.
Xiaoman jelas khawatir.

Sebelum bertanding, Zuo An pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia tampak marah atas semua ucapan Zhan Yue daritadi. Saat dia keluar dari kamar mandi, sudah ada Xiaoman yang menunggu-nya. DIa berusaha membujuk Zuo An untuk tidak mempedulikan Zhan Yue. Zhan Yue hanya sengaja memancing amarah Zuo An demi kepuasan-nya sendiri. Zhan Yue tidak ada niat buruk hanya ingin bercanda saja.
“Apakah kau mengira aku akan kalah dari Zhan Yue?” tanya Zuo An.
“Bukan begitu.”
“Kamu menungguku di sini, hanya ingin menyuruhku menjadi pengecut?”
“Bukan itu maksudku.”

Zuo An tidak mau mendengarkan dan hendak pergi. Xiaoman langsung memberitahu kalau dia datang untuk mengembalikan uang Zuo An kemarin malam. Terimakasih karena sudah membantunya kemarin malam. Zuo An jadi merasa bersalah dan meminta maaf karena sudah sempat salah paham. Dia menerima uang Xiaoman.
Xiaoman lagi-lagi membujuk Zuo An untuk tidak bertanding melawan Zhan Yue. Zuo An jadi kembali kesal, apakah menurut Xiaoman dia akan kalah? Xiaoman dengan cepat menjelaskan bahwa dia hanya merasa pertandingan ini tidak berguna untuk Zuo An. Menang atau kalah bukanlah perkara. Contohnya saja dia, dia dari kecil sudah mengikuti kejuaraan Sanda, dan itu karena dia memang menyukainya.
“Bagaimana jika pertandingan ini berarti bagiku?” tanya Zuo An, tajam. “Ku tanya padamu, kamu berharap siapa yang menang dalam pertandingan ini? Aku atau Zhan Yue?”
Xiaoman kesulitan menjawabnya. Itu karena dari kecil, Zhan Yue sudah pandai berolahraga, sementara Zuo An setaunya bisa berenang.
“Aku membicarakan yang kau harapkan.”
“Aku berharap… aku berharap kalian tidak bertanding.”
“Aku mengerti,” ujar Zuo An tampak marah dan langsung pergi.
Xiaoman bingung, apa yang Zuo An mengerti? Dia tidak mengerti apapun.
--

Pertandingan antara Zuo An dan Zhan Yue sudah hendak di mulai. Teman Zhan Yue segera menyuruh semua untuk berbaris menjadi 2 kubu : memilih Zhan Yue atau memilih Zuo An. Xiaoman segera memarahi mereka berdua untuk tidak memperkeruh suasana dan biarkan saja Zuo An serta Zhan Yue bertanding secara adil.

Pertandingan di mulai. Awalnya, Zuo An yang mencetak angka. Tapi, kemudian, Zhan Yue tidak memberikannya kesempatan sama sekali untuk mencetak angka lagi. Pemenangnya bisa di tebak dengan mudah : Zhan Yue.

Walau begitu, Zuo An tidak mau menyerah dan terus meminta bertanding.


Hingga akhirnya, Zuo An kehabisan tenaga. Bahkan hanya dengan sedikit senggolan dengan Zhan Yue, Zuo An langsung terjatuh ke lantai. Xiaoman khawatir, tapi Zuo An segera berteriak agar tidak ada yang mendekat. Yaola langsung marah-marah pada Zhan Yue yang menurutnya memukul Zuo An.
Zhan Yue dengan baik, mengulurkan tangan untuk membantu Zuo An berdiri sambil bertanya, apakah Zuo An masih ingin bertanding? Zuo An menepis tangan Zhan Yue dengan marah dan berdiri sendiri. Zhan Yue bicara mengintimidasi Zuo An bahwa dia kan sudah bilang hari ini akan mengalahkan Zuo An dan membuat Xiaoman sadar bahwa Zuo An hanya pandai belajar, tidak dalam hal lain. Pertandingan basket sederhana seperti ini, sudah bisa membuat Zuo An terluka hingga menangis.
Emosi Zuo An tersulut. Zhan Yue terus memancing amarah Zuo An dengan menyebut kutu buku seperti Zuo An tidak akan tahu bagaimana caranya berkelahi. Dan juga, dia memperingati Zuo An untuk tidak usah membual lagi di hadapan semua orang sebagai orang terpelajar. Dan jaga jarak dari Xioman!!
Bruk!! Perkelahian tidak terelakkan! Mereka berdua saling memukul.
Seorang siswi segera pergi ke kantor guru dan melapor pada guru Zhao kalau terjadi perkelahian di lapangan.



Xiaoman ada di sana dan berusaha melerai mereka berdua dengan memegang kerah baju mereka. Guru Zhao tiba saat itu dan tampaknya salah paham pada Xiaoman yang memegang kerah baju ZUo An.
--

Semua siswa di kumpulkan di ruang kepala sekolah karena sudah berkelahi. Kepala Sekolah benar-benar marah karena mengira mereka tawuran. Xiaoman menjelaskan bahwa mereka semua bukannya tawuran, mereka hanya menengahi pertengkaran. Guru Zhao malah menuduh Xiaoman yang berbohong. Zhan Yue langsung membela bahwa perkelahian hari ini tidak ada hubungannya dengan Xiaoman. Xiaoman tidak berkelahi sama sekali. Guru Zhao tidak percaya, karena mengingat reputasi Xiaoman sebagai raja kelahi.
Zuo An langung berkata kalau Xiaoman hanya melerai perkelahian tadi. Murid lain juga begitu. Guru Zhao tampaknya tahu apa yang hendak Zuo An katakan, karena dia langsung melarang Zuo An untuk bicara lebih lanjut. Zhan Yue tidak terima dan menyuruh Zuo An untuk bicara terus terang.
Kepala Sekolah adalah orang yang adil. Dia memerintahkan Zuo An untuk memberitahu siapa yang memulai perkelahian ini. Semua diam saja, tidak ada yang berani menjawab. Kepala Sekolah tambah marah dan mengira kalau Zhan Yue yang memulai perkelahian, jadi dia akan masuk daftar merah. Zhan Yue protes. Bukan dia yang memulai tapi Zuo An. Dan kenapa hanya dia yang di hukum? Dia tidak bisa menerima hukuman ini.
Guru Zhao malah memarahi Zhan Yue dan mengancam akan melapor pada ayah Zhan Yue mengenai kelakukannya hari ini. Zhan Yue dengan tegas berkata bahwa walaupun yang datang adalah polisi, dia tidak akan takut sama sekali.
“Sayalah yang memulai perkelahian,” akui Zuo An.
Guru Zhao langsung menegur Zuo An. Zuo An mengulangi pengakuannya lagi dan meminta maaf. Teman Zhan Yue langsung bersaksi bahwa Zuo An yang memulai perkelahian dan mereka hanya menjadi penengah dan tidak bersalah sama sekali.
Dan karena Zuo An sudah mengaku, Kepala Sekolah akan memasukkan nama Zuo An ke dalam daftar merah. Dan dia memerintahkan Zhan Yu untuk membuat pengumuman-nya. Guru Zhao tambah panik dan meminta pada Kepala Sekolah agar Zuo An tidak masuk ke dalam daftar merah. Zuo An sudah di rekomendasikan ke universitas, dan jika Zuo An masuk daftar merah…
Kepala Sekolah tidak mau mendengarkan Guru Zhao. Keputusannya sudah bulat. Dia melakukan ini agar semuanya paham, tidak peduli seberapa hebat-nya mereka, jika berbuat salah, semuanya harus di hukum. Bagaimanapun tahun depan mereka sudah akan berusia 18 tahun. Mereka sudah harus bertanggung jawab atas apapun yang mereka lakukan.
Dan karena itu, dia juga menghukum semuanya untuk berlari sekarang juga di lapangan. Entah mereka yang berkelahi atau menjadi penengah, tetap harus berlari. Xiaoman langsung cemas dan memegangi perutnya yang terasa sakit. Zuo An melihat itu dan hendak meminta pada Kepala Sekolah agar Xiaoman di kecualikan dari hukuman lari. Tapi, belum sempat dia berkata apapun, guru Zhao langsung memarahi Zuo An untuk tidak lagi membela Xiaoman.
--
Hukuman di lakukan, semua siswa/I berlari mengelilingi lapangan. Sepanjang lari, Xiaoman terus saja memegangi perut-nya dan tampak kesakitan. Zhan Yue yang melihat itu, merasa khawatir dan menanyakan keadaannya. Tapi, Xiaoman sedang jengkel padanya dan mendorongnya agar menjauh dan berlari saja, tidak usah mempedulikannya.

Dan benar saja, di tengah lari-nya, Xiaoman jatuh pingsan. Xiao Yue yang pertama menyadari itu, segera berteriak memberitahu yang lain. Zuo An dan Zhan Yue langsung berlari kembali untuk menolong Xiaoman. Dan larinya, Zuo An lebih kencang dari Zhan Yue.

Zuo An segera menggendong Xiaoman yang pingsan dan membawanya ke UKS. Zhan Yue hanya bisa berdiri diam melihat semua itu.
--
Xiaoman sudah di bawa ke UKS. Dan saat sadar, dia sangat terkejut karena Zuo An ada di hadapannya. Dia tampak tidak percaya. Zuo An sampai menjelaskan bahwa tadi Xiaoman pingsan dan dia yang menggendong hingga ke UKS. Dokter bilang kalau Xiaoman harus beristirahat. Dan juga, Xiaoman di suruh meminum semangkuk air gula merah. Dan karena Xiaoman sudah sadar, dia akan pergi sekarang.
Sebelum Zuo An pergi, Xiaoman mengucapkan terimakasih padanya. Zuo An menyuruh Xiaoman untuk tidak berterimakasih karena semua terjadi karena salahnya. Xiaoman langsung bilang bahwa Zuo An tidak salah. Semua salahnya Zhan Yue yang sudah memaksa bertanding dan bahkan berkelahi dengan Zuo An. Dia melihat dengan jelas tadi, Zuo An tidak memukul Zhan Yue, malah Zhan Yue yang memukul duluan. Zuo An jadi di hukum karna membela Zhan Yue dan bahkan yang lain jadi salah paham pada Zuo An.
“Gu Xiaoman. Ku beritahu. Aku tidak pernah berpikir untuk membantu Zhan Yue. Aku kecewa pada diri sendiri. Kalah main basket, lalu ingin memukul orang. Itu salahku.”
 “kau jangan berpikir begitu. Zhan Yue jelas-jelas sedang meledek kau. Semuanya memiliki harga diri. Lagipula, pada akhirnya kau juga menyerah. Di dalam dunia seni bela diri kita, hanya pahlawan yang akan dikagumi orang-orang, yang bisa mengontrol sikap diri sendiri di dalam kemarahan. Jadi hanya berdasarkan ini, kau telah melampaui kami semua,” puji Xiaoman.
“Jadi aku adalah master bela diri?”
“Itu, jika kau bersedia. Betul! Sebenarnya kalah menang tidak penting.”
“Kau istirahat baik-baiklah. Jangan pikir macam-macam,” ujar Zuo An. “Dan juga, kau tidak mengerti aku. Jangan membantuku di hadapan teman. Aku tidak butuh,” lanjut Zuo An dan kemudian keluar dari UKS.
--
Ayah Gu menjemput Xiaoman dari sekolah. Guru Zhao meminta maaf karena dia tidak tahu kalau Xiaoman tidak begitu sehat. Jika tahu, dia tidak akan membiarkan Xiaoman ikutan berlari bersama yang lainnya.
Ayah Gu protes pada guru Zhao. Dia tahu kalau Xiaoman selalu membuat masalah, tapi kali ini, semua bilang kalau Xiaoman hanyalah penengah. Tapi kenapa guru Zhao…
Belum selesai ayah Gu bicara, Guru Zhao kembali meminta maaf. Dia bisa menebak kalau ayah Gu pasti marah karena sikapnya yang bias terhadap Xiaoman. Xiaoman juga bilang pada ayahnya kalau dia baik-baik saja.

Dir. Zuo juga datang untuk menjemput Zuo An. Dia memarahi Zuo An karena ini pertama kalinya dia di telepon ke sekolah karena Zuo An berkelahi. Xiaoman yang melihat Zuo An di marahin, langsung menghampiri dir. Zuo dan memberitahu kalau Zuo An tidak bersalah. Semua adalah salahnya. Mendengar ucapan Xiaoman, Zuo An langsung memarahinya.

Guru Zhao jadi penasaran, dan bertanya maksud perkataan Xiaoman. Xiaoman menjelaskan bahwa hari ini Zhan Yue mengajak Zuo An bertanding basket karena dirinya. Dia sepertinya terpancing. Guru Zhao semakin bingung dan meminta Xiaoman bicara lebih jelas lagi, terpancing apaan?
Zuo An langsung memarahi Xiaoman untuk tidak bicara lagi. Ini semua tidak ada hubungannya dengan Xiaoman. Jadi, jangan memperburuk masalah.
“Zuo An, aku sedang membantumu.”
“Aku tidak perlu. Kita juga tidak akrab,” ujar Zuo An dengan dingin.
Dir. Zuo langsung memarahi Zuo An karena bicara begitu pada Xiaoman. Di tambah lagi, masih ada ayah Gu di sana. Dia memerintahkan Zuo An untuk meminta maaf pada Xiaoman. Tapi, Zuo An tidak mau sama sekali. Dir. Zuo lah yang akhirnya meminta pada ayah Gu atas sikap dan ucapan Zuo An pada Xiaoman.
--

 Di rumah, dir. Zuo menyuruh Zuo An memberitahu alasannya berkelahi hari ini. Zuo An menjawab kalau dia kalah dalam pertandingan basket dan tidak bisa mengontrol emosinya. Dir. Zuo lanjut bertanya, sejak kapan Zuo An mulai tertarik pada basket?
“Aku tidak suka bermain basket. Tapi, apa yang benar-benar ku sukai, kau pun tidak tahu,” jawab Zuo An.
And… sayangnya, semua hanya angan-angan Zuo An. Pada akhirnya, dia hanya memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya.
Dir. Zuo tidak mau memaksa lagi. Dia juga tidak masalah jika Zuo An tidak mendapatkan surat rekomendasi dari sekolah lagi. Sekarang, Zuo An hanya perlu mempersiapkan diri untuk kuliah di Amerika.
--
Xiaoman merenung di taman rumahnya. Dia memarahi dirinya sendiri karena tadi udah sok akrab dan membela Zuo An, padahal dia saja tidak akrab dengan Zuo An. Dia hanya membuat masalah saja untuk Zuo An.
Untuk melampiaskan stress-nya, Xiaoman memukul samsak yang ada di taman rumahnya.

Dari balkon kamar Zuo An, Zuo An bisa melihat Xiaoman yang sedang memukuli samsak. Dia tersenyum melihat itu.



1 comment: