Sunday, February 9, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 04-2

3 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 04-2
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI

Soo A, Sae Ro Yi dan Yi Seo akhirnya berhenti berlari di taman. Soo A masih menanyakan alasan mereka lari. Sae Ro Yi malah tanya pada Yi Seo. Yi Seo menjawab kalau Sae Ro Yi menyelamatkannya dari pria aneh tadi.
Soo A baru melihat wajah Yi Seo dan jadi kesal. Dia ingat siapa Yi Seo, anak di bawah umur yang di laporkannya karena minum di kedai Sae Ro Yi (dan Soo A berpura-pura tidak tahu).
“Aku tahu kau mudah dipengaruhi, tapi apa kau berkeliaran untuk menyelamatkannya?” tanya Soo A, terdengar jengkel.
Sae Ro Yi heran mendengar cara Soo A dan intonasinya dalam bertanya. Apa Soo A mengenal Yi Seo? Soo A kaget mendengar pertanyaan itu dan membantah dengan gugup kalau dia tidak kenal. Dia beralasan hanya merasa frustasi melihat Sae Ro Yi yang selalu memikirkan orang lain. Dia mengajak Sae Ro Yi untuk pergi saja.
Sae Ro Yi sebelum pergi, menanyakan Yi Seo dulu. Apa mereka harus ke kantor polisi untuk melapor? Apa dia terluka?

Yi Seo menolak untuk melapor ke polisi. Dan dia merasa sakit di pipinya karena di tampar dengan keras tadi. Sae Ro Yi hanya menyuruhnya unutk ke rumah sakit dan hati-hati saat pulang. Yi Seo berterimakasih.
Eh, Yi Seo tidak bisa menyerah. Dia membuat alasan ingin balas budi sekarang dan mengajak untuk minum kopi bersama. Dia benci punya hutang. Sae Ro Yi menolak dengan sopan dan berkata tidak apa-apa. Soo A juga ikutan sok menolak dan menyuruh Yi Seo untuk tidak membuat Sae Ro Yi merasa tidak nyaman.
“Tempo hari kau tertarik untuk mempromosikan kedaimu. Aku ingin memberi sedikit tips. Itu area keahlianku,” tawari Yi Seo, masih tidak menyerah.
Dan benar saja, Sae Ro Yi langsung tertarik.
--
Mereka akhirnya pergi bertiga ke café. Tampak jelas dari wajah Soo A kalau dia tidak menyukai Yi Seo. Sae Ro Yi tidak sadar dan hanya ingin tahu mengenai tips dari Soo A dan apa Soo A tertarik dalam periklanan? Yi Seo memberitahu kalau dia menghasilkan uang dengan melakukan promosi melalu SNS dan blog. Yi Seo tiba-tiba juga membalik pertanyaan dengan menanyakan hubungan Sae Ro Yi dan Soo A.
“Kami berteman,” jawab Soo A cepat. “Tapi… Sae Ro Yi menyukaiku,” tambahnya. “Sudah sekitar sepuluh tahun?”
Sae Ro Yi biasa saja. Dia dengan santai pamit ke kasir untuk mengambi kopi pesanan mereka. Tinggallah Soo A dan Yi Seo berdua.
Soo A mulai membahas Yi Seo yang ternyata selebgram. Dia mulai membahas kalau Yi Seo terlihat tidak asing dengannya dan baru ingat kalau Yi Seo pernah ada di daftar model pomosi media sosial Jangga. Yi Seo tertawa dan bertanya balik, kenapa dia tidak di rekrut?
Eh, Soo A malah membalikan topik dengan bertanya alasan Yi Seo mendekati pria seperti Park Sae Ro Yi? Apa mungkin… Yi Seo menyukai Park Sae Ro Yi?
“Menyukainya? Aku memang mendekatinya. Tapi aku tak tahu apa aku suka padanya. Aku tertarik dengannya,” jawab Yi Seo.
“Sae-ro-yi memang menarik. Namun, dia tak bisa dihadapi oleh anak sepertimu.”
“Anak sepertiku? Apa maksudmu?”
“Begini… Orang yang berpikir semua berpusat kepadanya. Tak ingin tahu dunia luar,” jawab Soo A, sinis.
“Kau sepertinya sudah bisa tebak karakterku dari media sosialku. Tak bisa kuhadapi? Apa maksudmu tentang mantan narapidana kasus percobaan pembunuhan?” tanya Yi Seo balik.
Soo A cukup terkejut karena Yi Seo tahu hal itu. “Kau mendekati dia walau tahu itu?”
“Itu membuatku lebih tertarik,” jawab Yi Seo blak-blakan.
Soo A tertawa dan menyebut anak muda tidak tahu malu seperti Yi Seo sama sekali tidak imut. Dia mulai mengingatkan kalau Sae Ro Yi tidak bisa berjualan karena Yi Seo, tapi Yi Seo malah tampak tidak merasa bersalah sama sekali. Yi Seo mulai menggabungkan ucapan aneh Soo A seolah mengenalnya tadi (saat di taman) dan ucapannya sekarang. Ah, dia sadar.
Dia bertanya bagaimana Soo A bisa tahu hal itu? Soo A masih berbohong kalau Sae Ro Yi bercerita padanya. Dia tahu kalau Yi Seo ketahuan minum di sana dan karena itu Sae Ro Yi di hukum tidak bisa berjualan selama 2 bulan. Sae Ro Yi masih harus tetap bayar uang sewa meski kedainya tutup dua bulan. Apa Yi Seo tahu kerugiannya?
“Tunggu dulu. Dia dilarang berjualan karena aku. Bagaimana kau tahu itu? Dari tadi sudah terasa aneh. Dia tak pernah bicarakan ini denganmu, 'kan? Kenapa kau pikir dia dilarang berjualan karena aku? Apa… Apa mungkin... kau yang lapor polisi?” tanya Yi Seo, langsung dan antusias menunggu jawaban.
Muka Soo A memucat, terdiam. Yi Seo langsung menyuruh Soo A untuk menjawab dan mengelak. Tidak mungkin seorang teman melakukan hal seperti itu! Dia dengar kerugian yang di alami benar-benar hebat bila dilarang berjualan. Woww! Ternyata benar! Yi Seo tertawa ngakak, tidak menyangka tebakannya benar. Tapi… kenapa? Kenapa Soo A mengkhianati Sae Ro Yi? Apa karena kedai Sae Ro Yi di seberang kedai Soo A (Jangga)?

“Karena itu kau mengkhianati teman yang menyukaimu sepuluh tahun lebih? Astaga. Kau sangat hebat. Orang macam apa kau ini? Kau ingin membuat batasan di sekitarnya. Kau tak rela orang lain memilikinya.”
“Pada akhirnya, kau tak punya peluang sama sekali,” tegas Soo A.
“Kenapa?”
“Sae-ro-yi seperti itu. Dia tak berubah.”
“Walau begitu, bila dia tahu perbuatanmu, bukankah dia akan sedikit berubah? Tak usah khawatir. Seperti yang kukatakan, aku hanya sedikit tertarik dengannya.”
Pas saat itu, Sae Ro Yi kembali dengan minuman. Dia bisa merasakan suasana terasa tidak enak dan bertanya, apakah mereka berdua bertengkar? Yi Seo menjawab mereka tidak bertengkar. Dan memuji Soo A yang sangat hebat hingga dia tidak bisa melawannya. Soo A tahu jelas itu sindiran untuknya.
“Sae Ro Yi. Orang yang melaporkan kedaimu ke polisi tempo hari. Itu aku,” akui Soo A. “Kau masih suka denganku walau begini?” tanyanya tanpa malu. Membuat Sae Ro Yi dan Yi Seo terkejut.
“Masih. Kau pasti punya alasan tersendiri,” jawab Sae Ro Yi jujur. “Aku tak akan tahu bila kau tak beri tahu aku. Aku hanya… akan merasa sedikit sedih.”
Soo A gantian terdiam mendengar jawaban itu. Dia tidak tahu harus bagaimana dan memilih untuk pergi dulu.
Setelah Soo A pergi, Sae Ro Yi mengajak Yi Seo untuk pulang juga. Yi Seo tidak mau dan mengingatkan kalau dia kan sudah bilang ingin mempromosikan kedai Sae Ro Yi. Dan karena hari ini dia juga sudah cukup umur, jadi, ini saat yang tepat untuk minum bersama. Bagaimana?
--

Soo A berjalan pulang sendiri ke rumahnya. Dia mengingat masa lalu, saat Sae Ro Yi menggendongnya pulang (episode 02) dan bilang kalau dia merasa sangat bersyukur karena Soo A selalu bilang mengharapkan kebahagiaan-nya. Kalimat itu menguatkannya.
Dan sekarang, Sae Ro Yi masih begitu. Kaki Soo A terasa lemas.
“Menyebalkan,” ujarnya.
--

Yi Seo dan Sae Ro Yi pindah ke café lain yang menyediakan alkohol. Sae Ro Yi menyarankan Yi Seo untuk pulang dan beristirahat setelah mengalami kejadian tadi, tapi Yi Seo berkata tidak apa-apa. Yi Seo kemudian bertanya, apakah Sae Ro Yi tidak marah? Teman yang di sukai selama 10 tahun berkhianat.
“Hal itu tak bisa disebut pengkhianatan. Walau dia tak beri tahu aku, kurasa aku tahu ada masalah apa. Itu karena dia bekerja keras dalam pekerjaan dan juga hidupnya.”
“Kau seperti Gandhi,” sinis Yi Seo.
"Karena aku suka denganmu lebih dari sepuluh tahun, kau juga harus menyukaiku." Ini bukan soal bisnis. Memberi dan menerima tak berlaku untuk perasaan.”
Yi Seo sampai menggelengkan kepala dan tidak ingin membahas hal itu lagi. Dia tidak mau dengar.
--
Seung Kwon ada di kedai dan sedang olahraga angkat barbel. Hyun Yi yang melihat kelakuannya sampai heran. Seung Kwon santai saja dan bertanya kenapa Hyun Yi datang? Hyun Yi menjawab kalau dia harus membereskan bahan-bahan saat ada waktu.
“Sedang apa kau?” tanya Hyun Yi balik.
“Aku bosan saat bersih-bersih.”
Eh, Seung Kwon terpikirkan hal lain. Mumpung Hyun Yi ada di sini, dia mengajaknya untuk pergi sauna bersama. Dia yang akan bayar, jadi Hyun Yi tolong gosok punggungnya. Dia juga akan gosok balik (wkwkwk. Seung Kwon benar-benar mengira Hyun Yi adalah pria). Hyun Yi jelas marah dan menolak pergi.

Seung Kwon masih belum sadar juga. Dia malah mengira alasan Hyun Yi menolak karena Hyun Yi tidak percaya diri. Dia sok menyemangati ‘ukuran’ bukan segalanya. Hyun Yi kesal dan meleparkan kain kotor ke wajah Seung Kwon dan langsung pergi.
--
Yi Seo mulai bertanya, bagaimana cara Sae Ro Yi bisa membuka kedai? Sae Ro Yi menjawab kalau dia hanya bekerja keras dan mengumpulkan uang.
“Tapi kau tak pernah kerja di sebuah kedai?” tebak Yi Seo.
“Bagaimana kau tahu itu?”
“Kedaimu memberi kesan itu. Banyak masalah lain yang harus diselesaikan daripada promosi.”
“Masalah apa?”
“Semuanya. Kau tak punya dasarnya.”
“Coba jelaskan lebih detail,” pinta Sae Ro Yi.
“Kau hanya membuat semuanya sampai sekarang dengan semangat. Interior terlihat berantakan. Staf juga tampak tak berpengalaman. Kedai yang tak ada dasar dan ciri khas. Apa menurutmu akan berhasil?”
”Bagaimana kau tahu itu? Kau bilang kau baru 20 tahun.”
“Aku menghasilkan uang dari promosi di media sosial dan blog. Makan dan pergi ke restoran bagus terhitung sebagai konten menarik. Bila aku membandingkan semua tempat, akan terlihat kesamaan mereka,” jelas Yi Seo.
Sae Ro Yi kagum dan memuji Yi Seo yang hebat. Dia sampai membelai kepala Yi Seo, membuat Yi Seo terperangah. Yi Seo melihat gelas Sae Ro Yi yang sudah kosong. Dan Sae Ro Yi menjawab kalau dia harus berhenti minum karena sudah mabuk. Dia kemudian, melihat gelas Yi Seo yang kosong dan berujar kalau Yi Seo sepertinya kuat minum alkohol. Yi Seo membenarkan karena rasa alkohol-nya terlihat manis.
“Berarti hari ini sangat berkesan untukmu,” ujar Sae Ro Yi (sepertinya ucapan ayahnya dulu. Kalau terasa manis, artinya hari ini terasa berkesan).
“Nama kedaimu juga bermasalah,” beritahu Yi Seo, mengalihkan topik lagi.
“DanBam? Kenapa?”
“Itu terdengar kampungan. Itu tak cocok dengan Itaewon. Kenapa kau beri nama DanBam?”
“Hidupku dapat dikatakan pahit. Hidupku sangat pahit. Aku tak bisa tidur nyenyak malam hari. Karena aku rindu, kesepian, dan juga penuh amarah. Karena itu aku bisa bekerja seperti ini. Tidak ada alasan lain. Hanya saja… aku ingin malam yang pahit itu dan hidupku bisa sedikit lebih manis,” cerita Sae Ro Yi.
Dan Yi Seo mendengarkan dengan seksama.
Lagi. Aku kembali merasa aneh.
Yi Seo merasa mengantuk dan merasa sudah terlalu mabuk hingga bicara omong kosong. Dia beranjak tapi malah jatuh pingsan di lantai.
Saat ini aku sama sekali tidak mabuk. Pria berambut kastanye ini pingsan karena mabuk. Dia terlihat tampan. Aku dalam masalah. Malam pria yang kesepian ini. Aku harap bisa lebih sedikit manis. Aku ingin membuat hidup pria ini menjadi lebih manis. Perasaanku ini adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan manusia. Dan aku tak bisa menahan dorongan ini. Aku menyukainya.

Yi Seo memandang wajah Park Sae Ro Yi yang pingsan dengan lekat. Dia bahkan meletakkan kepala Sae Ro Yi di pangkuannya. Dia menyukai Park Sae Ro Yi. Dan… dia mencium bibirnya. Sae Ro Yi tidak tahu apapun karna sedang dalam keadaan pingsan.
--
Park Sae Ro Yi bangun dan kaget karena ada di rumah sakit. Tapi, sepertinya dia tahu kalau Yi Seo menciumnya dan mengira kalau itu adalah mimpi. Dia sampai memarahi dirinya sendiri karna sudah mimpi yang berbahaya.
--

di Rumah,
Yi Seo berbincang dengan ibunya. Ibu sampai menegur Yi Seo yang terlalu banyak minum kemarin malam. Yi Seo protes kalau umur 20 tahun adalah hal yang menyenangkan. Dia tidak bisa bertemu pria baik karena belajar terus.
“Apa kau punya pacar?” tanya Ibu, serius. “Jangan berpacaran. Orang yang kau pacari di umurmu sekarang tak ada gunanya.”
“Aku selalu penasaran. Kenapa Ibu menikah dengan Ayah?”
“Karena ibu mencintainya. Itulah kenyataannya. Setidaknya saat itu.”
“Kenapa Ibu bercerai?”
“Perasaan setiap orang sangatlah menipu. Ia dapat berubah seiring dengan perubahan situasi. Ibu melahirkanmu, menjadi gendut, dan keriput ibu mulai muncul.”
“Jadi, ini semua karena aku? Begitu?”
“Ibu ingin menjadi wanita yang selalu dicintai alih-alih menjadi ibu seorang anak. Jadi, ibu bercerai. Semudah itu.”
“Ibu berarti menyesal bertemu dengan Ayah.”
“Tidak juga. Berpacaran dua tahun, menikah tujuh tahun. Itu memang singkat, kurang dari sepuluh tahun. Tapi ibu dan Ayah saling mencintai. Itu menyempurnakan masa muda ibu. Bila tidak ada itu, hidup ibu sebagai wanita tak ada apa-apanya.”
“Jika aku menyukai orang yang biasa saja, dan aku…”
“Jangan begitu,” peringati Ibu. “Jangan merusak hidupmu hanya karena cinta. Kau terlalu hebat. Anakku yang baik. Kau tak akan buat ibu sedih, 'kan?”
“Ibu benar-benar egois,” ujar Yi Seo, kesal.
Ibu malah tersenyum mendengarnya.
--
Yi Seo pergi ke Jembatan Jamsu. Dia merenung di sana.
Hidup itu adalah pilihan yang berulang. Kau harus membawa nilai diri yang tepat untuk mendapat sebuah hasil. Itu yang mereka sebut pilihan tepat atau jawaban yang benar. Dua puluh tahun. Umur ambigu untuk berbicara nilai hidup.

Yi Seo mengeluarkan sebuah koin. Dia mulai membuat taruhan dengan dirinya sendiri berdasarkan koin itu. Jika yang keluar adalah bagian kepala (gambar), dia akan melakukan apa yang ibunya mau. Dan jik ayang keluar bagian belakang (angka), maka ibunya akan menangis. Dan Yi Seo melempar koin itu.
Sayangnya, dia gagal menangkap koin tersebut, dan koin itu jatuh ke dalam sungai.
Apa koin itu akan tunjukkan bagian depan atau bagian belakangnya? Saat kulempar koin ini, sisi mana yang kuharapkan muncul? Kuputuskan sisi belakang yang muncul.
Yi Seo berjalan pergi dari jembatan setelah memutukan bagian apa dari koin yang di inginkannya. Dengan kereta bawah tanah, Yi Seo pergi ke Itaewon.

Langkah jalannya mencepat dan akhirnya dia berlari. Dengan wajah tersenyum. Bahagia.
Yi Seo pergi ke depan kedai DanBam. Nafasnya terengah-engah. Dari dalam kedai, Park Sae Ro Yi berjalan keluar. Dia kaget melihat Yi Seo.
Aku langsung sadar saat melihatnya.
“Kau kembali dengan selamat kemarin?” tanya Park Sae Ro Yi.
Ini bahkan tak perlu kupikirkan lagi.
“Ya.”
“Kenapa kau ke sini?”
Yi Seo berjalan mendekat pada Park Sae Ro Yi, matanya hanya fokus pada Park Sae Ro Yi.
“Aku ingin bersamamu.”
“Apa? Apa kau bilang?” kaget Park Sae Ro Yi.
Seperti kata Ibu, aku terlalu hebat. Cinta, kesuksesan. Aku bisa dapatkan itu semua.
“Maksudku…,” ujar Yi Seo.
Sedihlah sebentar, Ibu.
“Aku ingin bekerja di sini. Aku akan wujudkan mimpimu, Bos.”
Dia takkan menjadi seseorang yang biasa. Akan kubuat dia menjadi pria yang hebat. Pasti kulakukan.
--==--==--==--==--==
Hellloo… ada yang menarik. Di versi webtoon, adegan saat Yi Seo melempar koin dan koin terjatuh ke air, webtoonist ada menggambarkan bagian mana yang sebenarnya di tunjukkan oleh koin tersebut. Yaitu, bagian kepala (gambar)! Namun, webtoonist membuat Yi Seo mengambil keputusannya sendiri, dengan menganggap bagian yang di tunjukkan oleh koin adalah ekor (angka).



3 comments:

  1. Sehat terus ya thor. Semangat. Seneng baca sinopsis disini

    ReplyDelete
  2. Semangat menulis y thor... sinopsis lanjutnya ditunggu

    ReplyDelete