Sunday, February 9, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 04-1

3 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 04-1
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI


“Waktu kasus kadarluwasa,” ujar Sae Ro Yi sembari mencengkeram pergelangan tangan Geun Won dengan keras. Membuat Geun Won ketakutan. “Keras kepala. Kenekatan. Aku tunjukkan semua nanti. Karena itu kau… tunggu saja,” peringati Sae Ro Yi.
Geun Won meringis kesakitan karena pergelangannya di cengkeram begitu kuat. Dan setelah Sae Ro Yi melepaskannya dan pergi, Geun Won baru menggerutu kesal dengan ucapan Sae Ro Yi. Dia bahkan meludah.
Saat itu, Geun Won baru sadar ada Yi Seo di sana. Dia tidak mempedulikannya dan beranjak pergi sambil bergumam merasa di permalukan karena tadi sempat ketakutan.
Yi Seo diam. Matanya berkaca-kaca. Dia baru tahu apa yang di alami Sae Ro Yi hingga begitu kuat menolak bantuan dari Geun Won. Dan itu membuatnya semakin tertarik pada Sae Ro Yi.
--

Sae Ro Yi berdiri di tengah jembatan penyemberangan. Banyak hal yang di pikirkannya, termasuk tekadnya untuk membalas dendam.
--
SMA Yonggak,
Yi Seo dan Geun Soo di hukum berlari keliling lapangan sekolah oleh pihak sekolah karena sudah mendapatkan laporan polisi kalau mereka pergi ke kedai minum padahal masih di bawah umur. Geun Soo masih merasa bersalah karena Sae Ro Yi terpaksa harus menutup kedai selama 2 bulan karena mereka. Dan hukuman yang mereka terima hanyalah menulis permintaan maaf dan lari berkeliling. Ini sama seperti yang Sae Ro Yi katakan kalau mereka anak kecil tidak bisa bertanggung jawab. Sae Ro Yi bahkan tidak marah sama sekali ketika tahu hukuman yang harus di terimanya.

Yi Seo hanya berkomentar kalau Sae Ro Yi pamer dan sok dewasa. Dia terus berlari dengan kencang. Geun Soo bingung melihatnya, mengira Yi Seo tidak mempunyai rasa bersalah.
--

Yi Seo dan Geun Soo melanjutkan hukuman dengan menulis surat permintaan maaf. Geun Soo melakukannya dengan sangat serius. Tapi, Yi Seo tidak menulis sama sekali. Dia memikirkan perkataan Geun Soo mengenai Sae Ro Yi yang tidak marah sama sekali pada mereka. Dan di surat permintaan maaf itu, Yi Seo melukis wajah Park Sae Ro Yi.
--


di DanBam,
Seung Kwon terus menerus mengantuk-antukan dahinya ke meja. Dia merasa sangat bersalah pada Sae Ro Yi. Karena perbuatannya yang berpura-pura tidak tahu kalau Yi Seo anak di bawah umur, kedai mereka jadi harus di tutup selama 2 bulan.

Flashback
8 tahun yang lalu,
Choi Seung Kwon masuk penjara dan satu sel bersama dengan Park Sae Ro Yi serta napi lainnya. Berbeda dengan Sae Ro Yi, begitu masuk, Seung Kwon langsung berlutut dan memberi hormat sembari memperkenalkan dirinya. Ketua sel, Hee Hoon (yang tampak tertarik pada Sae Ro Yi), menyambut dengan ramah dan juga memberitahu kalau Sae Ro Yi kalau Seung Kwon lebih muda 1 tahun dari Sae Ro Yi, jadi jaga dia.


Sae Ro Yi duduk di sudut ruangan dan membaca buku biografi Presdir Jang dengan sangat serius. Dia membalas kalau tidak ada yang bisa di lakukannya untuk Seung Kwon. Hee Hoon sampai bergumam kalau Sae Ro Yi benar-benar tidak sopan.
Hari itu kali pertama aku bertemu dengannya.
Seung Kwon menjadi pengikut Hee Hoon dan berlaku dengan sangat sopan padanya. Saat mereka berada di lapangan, Seung Kwon semakin penasaran dengan Sae Ro Yi yang masih tetap asyik membaca buku. Dia ingin tahu siapa Park Sae Ro Yi.

Hee Hoon memberitahu kalau Sae Ro Yi setahun lebih tua dari Seung Kwon. Jadi, dia harap mereka berdua bisa akur seperti saudara. Seung Kwon berujar kalau Sae Ro Yi tampak tidak sopan pada Hee Hoon. Hee Hoon tertawa dan berujar, walaupun Sae Ro Yi tidak sopan, Sae Ro Yi bukan dari sini. Jangan coba mengganggunya. Sae Ro Yi benar-benar gila.
Seung Kwon semakin penasaran. Dia mendekati Sae Ro Yi dan menanyakan apa yang Sae Ro Yi sedang baca. Sae Ro Yi tahu Seung Kwon basa-basi dan bertanya apa yang ingin Seung Kwon katakan? Seung Kwon menjadi tidak ada, dia hanya mau tahu itu buku apa karena Sae Ro Yi selalu membacanya.
“Ini karena aku ingin belajar banyak,” jawab Sae Ro Yi, masih terus membaca.
“Untuk apa? Bagi kita yang terlahir tak punya apa-apa, tak ada gunanya belajar keras,” ujar Seung Kwon.
“Walau terlahir tak punya apa-apa, aku ingin banyak hal.”
“Seorang mantan narapidana tak akan dipekerjakan di mana pun.”
“Menurutmu kau tak punya kesempatan karena mantan narapidana miskin dan bodoh? Kenapa kita menyerah sebelum mencobanya sendiri? Tentu harus dicoba dahulu,” balas Sae Ro Yi.
Seung Kwon sedikit tersinggung mendengarnya, hingga berdiri dan menatap Sae Ro Yi dengan sengit. “Perkataanmu menusuk. Apa perkataan itu untukku? Apa kau sedang menceramahiku?”
“Tentu tidak. Hanya saja jangan paksa aku memahami pendapatmu.”
Emosi Seung Kwon terpancing. Dia menarik kerah baju Sae Ro Yi dan menegaskan kalau hidup Sae Ro Yi sudah hancur sebagai mantan napi!
“Lalu? Kau juga hancur? Hanya bisa menilai diri sendiri rendah. Dasar pecundang!” balas Sae Ro Yi.

Seung Kwon marah mendengarnya dan meninju wajah Sae Ro Yi. Sae Ro Yi terjatuh ke tanah. Seung Kwon masih belum puas dan menendang tubuh Sae Ro Yi berulang kali. Dia mengejek kalau setelah keluar, Sae Ro Yi hanya akan menjadi kuli bangunan atau nelayan!
Petugas polisi yang berjaga, segera meniup peluit dan menghentikan perkelahian! Mereka menahan Seung Kwon. Sae Ro Yi kembali bangkit berdiri. Menyeka darah di sudut bibirnya.
“Belajar? Kuli bangunan? Nelayan? Aku bisa mulai dari itu. Aku akan lakukan yang kubisa. Kau tak berhak menentukan nilai hidupku. Hidupku baru mulai! Dan aku akan mewujudkan yang kumau!” teriak Sae Ro Yi, marah.
--
Musim dingin,
Seung Kwon akhirnya bebas dari penjara.
Waktu berlalu.

Seung Kwon mulai bekerja sebagai kuli bangunan di siang hari dan di malam hari bermain di warnet.
Rutinitas yang berulang.
Dia bergabung menjadi preman dan bekerja memukuli orang, tawuran.
Hari-hari yang membosankan.
Di saat dia melakukan semua itu, Sae Ro Yi sibuk dengan kegiatannya.
Seperti itulah… tujuh tahun berlalu.
Sae Ro Yi akhirnya berhasil membuka toko di Itaewon.

Seung Kwon telah menjadi anak buah Hee Hoon. Dia heran karena tiba-tiba Hee Hoon mengajak semua anak buahnya pergi ke Itaewon. Hee Hoon memberitahu kalau pria yang di kenalnya, membuka kedai di sini, jadi mereka harus berpesta di tempatnya. Ah, Seung Kwon juga mengenalnya, kok!
Seung Kwon sedikit kaget. Tidak tahu siapa orang yang Hee Hoon maksudkan.
Dan terdengar suara Sae Ro Yi yang memanggil Hee Hoon. Hee Hoon benar-benar kagum karna Sae Ro Yi berhasil membuka kedai. Entah berapa banyak uang yang Sae Ro Yi habiskan untuk membuka toko di sini.
Seung Kwon tampak sangat terkejut. Sae Ro Yi benar-benar berbeda darinya.
Semua… mendapat waktu yang sama.

Sae Ro Yi melihat Seung Kwon dan menyapanya dengan ramah.
Namun, waktuku dan dirinya... Keduanya… sangatlah berbeda.

Sejak hari itu, Seung Kwon selalu datang ke kedai DanBam. Sae Ro Yi sampai heran, namun, dia tidak masalah dengan hal itu karena dia bisa menjual lebih banyak soju. Seung Kwon berujar Sae Ro Yi begitu sibuk padahal tidak ada tamu, jadi mari minum bersamanya saja.
Sae Ro Yi mau minum dengan Seung Kwon. Dia juga menanyakan apakah Seung Kwon mempunyai masalah?
“Tidak juga. Aku hanya senang melihat hyung bekerja di sini. Aku penggemarmu.”
“Bicara apa kau?”
Hyung itu keren, bisa hidup melakukan yang kau mau. Aku ingin hidup benar sepertimu.”
“Apa itu hidup benar?” tanya Sae Ro Yi, balik.
“Tidak melakukan hal jahat. Bekerja dengan benar.”
“Aku ingat kali pertama kita bertemu,” bahas Sae Ro Yi. Dulu, dia menyebut Seung Kwon sebagai pencundang. “Apa kau masih pecundang?” tanya Sae Ro Yi.
Seung Kwon diam.
End
Seung Kwon masih terus mengantukan dahinya ke meja, menampar wajahnya dan memaki diri sendiri sebagai orang bodoh. Dia benar-benar merasa bersalah.
Sae Ro Yi dan Hyun Yi memperhatikannya. Hyun Yi sampai heran melihat kelakuan Seung Kwon.
--


di Rumah,
Yi Seo menyalakan komputer dan masuk ke dalam akun SNS-nya. Dia mencari nama Park-Sae-Ro-Yi tapi tidak ada hasil. Dia mengetikan nama Dan-Bam tapi juga tidak ada hasil di internet. Yi Seo teringat ucapan Geun Won di rumah sakit kalau Sae Ro Yi satu sekolah dengannya dan di keluarkan sebelum lulus. Itu artinya, Sae Ro Yi sudah lulus SMA sekitar 10 tahun.


Yi Seo mulai mencari berita-berita terkait Jang Geun Won. Dia berhasil menemukan berita dari 9 tahun yang lalu, dengan judul : “Putra Sulung Jangga di serang. Polisi menahan murid SMA atas percobaan pembunuhan.”
Yi Seo mulai mengumpulkan kepingan-kepingan informasi yang di punyainya.
--
Geun Won berada di ruang kerja ayahnya dan mereka bermain catur bersama. Geun Won membertahu ayahnya kalau dir. Kang sering menemui pemegang saham. Presdir Jang tidak merasa khawatir karena dia dan mendiang ayah dir. Kang sudah mengenal lebih dari 40 tahun dan menurutnya Dir. Kang sama seperti ayahnya.

Geun Won tetap khawatir. Dia memanas-manasi agar ayah-nya tetap waspada terhadap dir. Kang. Bagaimanapun, Jangga terbangun karena Presdir Jang dan mendiang ayah dir. Kang. Jadi, mustahil dir. Kang tidak tergoda memiliki Jangga mengingat perusahaan ini bisa saja menjadi miliknya. Presdir Jang dengan tegas berkata tidak mau membicarakan masalah ini. Dia sudah memikirkan hal itu.
Geun Won akhirnya mengalihkan topik. Dia membahas mengenai Geun Soo yang tempo hari tertangkap pergi ke kedai minum, dan kedai itu adalah milik Park Sae Ro Yi. Presdir Jang tampak cukup terkejut. Geun Won lanjut memberitahu kalau Park Sae Ro Yi mendapat hukuman untuk menutup toko selama 2 bulan.
“Dia ingin membuat sebuah kedai kecil. Dan kedai itu hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun. Dia takkan punya uang untuk bertahan. Dia pasti gagal, 'kan?” ujar Geun Won.


Sambil bicara, Geun Won juga fokus bermain catur baduk. Dan dia mengeluarkan langkah terakhir yang membuat ayahnya skakmat. Presdir Jang memuji Geun Won yang akhirnya tahu cara melangkah. Geun Won senang mendengarnya dan merendah kalau dia masih harus belajar lagi.
Presdir Jang jujur memberitahu Geun Won kalau perasaan-nya tidak enak. Sae Ro Yi lagi-lagi menderita karena keluarga mereka.
Geun Won tertawa dan berkata kalau tidak semua orang bisa berbisnis. Dia kemudian pamit pada ayahnya.
Setelah Geun Won keluar, Sekretaris Kim masuk. Presdir Jang masih melihat permainan baduk dimana Geun Won mengalahkannya. Presdir Jang bergumam kalau dia tidak melihat keseluruhannya. Kita tak bertahan dengan baik untuk melindungi pusat pion-nya. Apa ini bisa di sebut permainan yang baik?
“Sekr. Kim, bagaimana kabar Geun Soo?”
--
Geun Soo bekerja di sebuah restoran BBQ sebagai pelayan. Di saat dia sibuk melayani pelanggan, tidak sengaja dia mendengar obrolan bos-nya dengan juru masak. Bos merasa berat karena upah pekerja sambilan akan naik tahun depan. Juru masak merasa keberatan karena menurutnya Geun Soo bekerja dengan baik. Jika Geun Soo di pecat, mereka juga harus membayar pesangon-nya.

Bos malah berkata tidak ada pesangon. Lagipula, siapa yang mau memperkerjakan murid SMA? Geun Soo malah harusnya berterimakasih karena mereka sudah memberi kesempatan untuknya bekerja. Dan karena itu, bos menyuruh juru masak untuk memarahi Geun Soo terus agar Geun Soo mau berhenti sendiri.
Geun Soo mendengar semua obrolan itu dengan sangat jelas.
--
Geun Won sedang sangat menggebu-gebu. Dia tidak tahan ingin melihat wajah masam Park Sae Ro Yi saat kedainya itu tutup.
--
Berbeda dengan bayangan Geun Won, Park Sae Ro Yi tampak baik-baik saja. Dia bahkan membawa Hyun Yi dan Seung Kwon ke karaoke untuk menghibur mereka berdua. Dia sibuk menyanyi, tidak menyadari kalau Hyun Yi dan Seung Kwon terganggu dengan nyanyian-nya.

Hyun Yi tahu kalau Seung Kwon masih merasa bersalah. Dia tidak marah, sebaliknya memberikan obat salep untuk Seung Kwon sembari menasehati untuk tidak begitu lagi lain kali. Seung Kwon mengiyakan.
--
Selesai karaoke, Sae Ro Yi membawa kedua anak buahnya ke café. Seung Kwon terus saja mengucapkan ‘maaf.’ Sae Ro Yi dan Hyun Yi sampai bosan. Sae Ro Yi bilang kalau mereka tidak bisa murung terus karena nasi sudah menjadi bubur. Dan jika Seung Kwon bilang ‘maaf’ lagi, dia akan memecatnya.

Seung Kwon langsung diam. Hyun Yi yang jadi bersemangat dan menyuruh Seung Kwon untuk meminta maaf sekali lagi. Seung Kwon mana mau, karna takut di pecat.
Sae Ro Yi menyemangati semuanya dengan berkata untuk memanfaatkan waktu 2 bulan ini sebagai kesempatan utnuk memperbaiki hal yang buruk. Semua mengiyakan.
--
Perusahaan Jangga,
Dua orang pemegang saham menemui Dir. Kang, di ruangannya. Mereka membahas mengenai Presdir Jang yang menampar Geun Won saat rapat. Mereka terkejut karena seburuk apapun Geun Won, Presdir Jang tidak pernah sampai menamparnya seperti itu. Dir. Kang merasa kalau itu mungkin karena ulah Geun Won belum lama ini dan membuat saham perusahaan sempat turun. Presdir Jang sudah mencoba bersabar, tapi Geun Won terus menyebut dirinya sebagai penerus Jangga ke semua orang, jadi Presdir hanya mencoba menbuatnya sadar.

Setelah berbasa basi, kedua orang itu mulai membahas maksud mereka sebenarnya. Mengenai siapa penerus Presdir Jang selanjutnya, mengingat Presdir Jang sudah berumur. Dan mereka hendak mendukung dir. Kang. Mereka tidak bisa membiarkan Jangga jatuh ke tangan Geun Won yang bermasalah karna itu akan membuat Jangga hancur.
Berbeda dengan kebalikan ekpetasi mereka, Dir. Kang tidak menyukai rencana itu.
“Selain keberanian kalian. "Tidak seperti dahulu lagi." Tanpa dia, maksudku Presdir Jang. Apa Jangga dapat berjalan baik tanpanya?”
“Direktur Kang, mohon jangan salah sangka.”
“Aku abaikan pembicaraan tadi. Aku juga tidak menyukai Jang Geun-won. Tapi aku terlalu muda untuk dijadikan tameng bagi para direksi.”
“Apa maksudmu?” tanya mereka, berpura-pura bodoh. “Kenapa kau bicara begitu?”
--

Yi Seo datang ke Itaewon. Dia lewat di depan kedai DanBam yang tutup dan tertempel pengumuman di pintu : Kedai ini tutup dua bulan.
Di depan kedai, ada seekor anak kucing liar. Yi Seo mencoba tidak peduli.
Tapi…
Dia malah jadi sering datang ke Itaewon.
Selamat tahun baru,
Itaewon menjadi sangat ramai untuk menyambut tahun baru. Yi Seo juga termasuk di dalamnya.
Yi Seo bahkan pergi ke café dengan langkah percaya diri bersama dua orang temannya sambil menunjukkan KTP-nya. Kali ini, itu adalah KTP asli, bukan palsu lagi.
Dua puluh tahun. Aku diterima di semua universitas yang kulamar. Aku yang menjadi 20 tahun di 1 Januari ini merasa bosan. Alasanku bergaul dengan orang-orang bodoh ini? Anak Kepala Jaksa. Anak pemilik perusahaan tekstil. Aku berhubungan dengan orang saat mereka memiliki yang kumau.

Yi Seo menghabiskan waktu bersama kedua temannya itu tapi tampak jelas dia merasa bosan. Saat itu, seorang pria datang ke meja mereka dan mengajak Yi Seo dkk bergabung ke meja dia dan teman-temannya. Teman Yi Seo menyukai ajakan itu dan Yi Seo juga setuju saja untuk bergabung meja.
--

Bogwang Gosiwon
Geun Soo kembali ke gosiwon dengan menghela nafas berat. Dia memeriksa ponselnya. Dia tadi ada mengirim pesan pada Yi Seo, mengucapkan selamat karena Yi Seo akhirnya genap 20 tahun. Apa ada masalah? Tapi, pesannya itu belum juga di baca Yi Seo.
Geun Soo tidak sadar kalau Presdir Jang dan sek. Kim ada di sana memperhatikan-nya. Sek. Kim memberitahu kalau Geun Soo tinggal di Gosiwon itu dengan sewa 300.000 won dan tempat-nya sempit. Apa Presdir Jang ingin bertemu? Presdir Jang menyuruh Sek. Kim untuk jalan pergi saja.
--

Yi Seo sangat bosan berada di tengah-tengah teman dan pria-pria itu. Bukan hanya bosan, tapi juga kesal. Dia menilai 3 pria yang ada di hadapannya : Pecundang yang haus cinta, si brengsek tanpa otak dan orang yang tidak punya pikiran.
Aku tak berpikir kencan buta itu jelek. Entah karena kesepian, hasrat seksual, ataupun rasa bosan. Pria, wanita, dan insting. Ini hanya untuk memuaskan hasrat yang ada. Bila kita memuaskan hasrat masing-masing, ini akan jadi pertemuan yang baik. Namun, aku tak ingin apa pun dari orang-orang ini. Aku bosan. Kenapa?
Yi Seo teringat mengenai Sae Ro Yi.
Sejak aku bertemu dengannya, aku tak tertarik dengan apa pun.
Yi Seo hanya terus meminum bir-nya.
--
Sae Ro Yi pergi menemui Soo A di café Seuk Cheon. Seuk Cheon menyambut-nya dengan ramah. Dia juga membahas mengenai kedai Sae Ro Yi yang harus tutup 2 bulan karena menjual alkohol ke anak di bawah umur. Dia merasa ikut sedih karena hal itu terjadi saat akhir tahun dan awal tahun dimana itu adalah saat-saat yang penting (pengunjung paling ramai). Dia jadi kesal memikirkan ada orang yang melaporkan hal itu. Dan untuk menghibur, dia akan memberikan minuman gratis pada Sae Ro Yi.
Sae Ro Yi tersenyum senang.
--

Teman-teman Yi Seo mulai mabuk dan tidak fokus, hanya Yi Seo yang masih tetap sadar. Pria 1 (yang mengundang mereka) mulai mencoba merayu Yi Seo dengan menawarkan membelikan es krim untuk menghilangkan mabuk. Pria 2 dan 3 setuju dan menyuruh mereka pergi, biar mereka yang menjaga kedua teman Yi Seo lainnya.

Yi Seo mencoba tetap sopan. Dia menolak dan beranjak pulang duluan. Pria 1 tidak menyerah dan tetap mengikutinya. Yi Seo sampai harus memperingati mereka kalau salah satu temannya adalah anak dari Kepala Jaksa Seoul, jadi jangan berbuat macam-macam.
Pria 1 semakin tertarik pada Yi Seo.
--

Sae Ro Yi dan Soo A minum bersama. Soo A merasa senang dan berujar kalau hal ini mengingatkannya pada masa lalu. Dia mengingatkan kalau Sae Ro Yi selalu mencoba mendekatinya saat mereka sekolah dulu. Sae Ro Yi langsung meralat kalau sekarang pun masih begitu.
Soo A tertawa dan menyebut Sae Ro Yi yang sudah mabuk. Sae Ro Yi mengatakan tidak dan hanya berkata dia asal bicara. Soo A membahas kalau Soo A selalu saja bilang tidak-tidak. Dan kalau di lihat-lihat, Sae Ro Yi lucu juga karena tidak pernah mengajaknya berpacaran. Apa Sae Ro Yi hanya bermain-main?
“Tak mungkin aku main-main. Kita berdua adalah orang yang mementingkan pekerjaan. Dan bila bisnisku berjalan lancar, kau akan jadi pengangguran. Pasti seru jika aku mengajakmu berpacaran…,” ujar Sae Ro Yi.
Senyum yang ada di wajah Soo A menghilang. Sae Ro Yi jadi meralat kalau yang di katakan-nya hanyalah omong kosong, jadi jangan terlalu serius.
“Aku tak pernah lihat kau omong kosong,” balas Soo A. “Tak apa. Walau jadi pengangguran dan tak bisa berbuat apa-apa, aku tetap mendukungmu.”
Sae Ro Yi tersenyum mendengarnya. Entah apa yang di pikirkannya.
--
Pria 1 terus mengejar Yi Seo. Dia menawarkan untuk mengantar Yi Seo pulang. Yi Seo dengan tenang berkata kalau dia akan pulang dengan taksi. Pria 1 memberitahu kalau tidak ada taksi di Itaewon, jadi dia akan menemani Yi Seo sampai bus pertama. Ayo mian lagi.
Yi Seo tetap tenang menolak. Dia akan pulang lewat jalan besar dan bisa dapat taksi. Pria 1 jadi kesal dengan penolakan Yi Seo dan bertanya alasan Yi Seo tiba-tiba pulang. Apa karena tidak suka padanya?
“Ya,” benarkan Yi Seo.
“Kenapa? Kenapa kau tak suka padaku?”
“Wajah, cara bicara dan suaramu. Bola mata, gigimu, bulu matamu. Aku tak suka semuanya darimu.”
Pria 1 tidak terima. Dia marah dan menyebut Yi Seo yang sudah gila. Kalau Yi Seo tidak menyukainya, kenapa ikut minum tadi? Apa Yi Seo tahu berapa alkohol yang di minumnya tadi? Yi Seo tertawa dan mengeluarkan uangnya, melemparnya pada pria itu.
Pria itu tidak terima. Dia mengejar Yi Seo dan saat Yi Seo berbalik, dia menampar-nya dengan keras (gila! Pria tak guna!!!). Yi Seo sampai terkejut. Pria itu tidak merasa bersalah malah berkata kalau orang tidak sopan tentu harus di pukul. Dan juga, tidak akan ada yang menolong.
“Diriku sendiri,” jawab Yi Seo.
Pria itu malah semakin kurang ajar. Dia mencengkeram baju Yi Seo dengan kasar dan hendak memukulinya lagi. Yi Seo tidak diam saja dan melakukan bantingan punggung. Kemudian menendangnya dan menyebutnya pencundang.
Pria itu masih saja berlaku gila. Dia lari mengejar Yi Seo. Jelas, Yi Seo langsung lari. Dia mencoba menyelamatkan diri dengan lari ke toilet, tapi malah salah masuk ke toilet pria.



Takdir! Di dalam toilet itu, lagi ada Park Sae Ro Yi yang sedang pipis. Wkwkwkw. Park Sae Ro Yi tentu terkejut karena ada cewek masuk ke toilet pria, dan orang itu adalah Yi Seo. Yi Seo malah menatapnya dengan mata berbinar senang karena berhasil menemukannya.
Pria 1 ikut masuk. Dia menarik tangan Yi Seo, dan Yi Seo mengibaskannya dengan kasar. Dia tidak berani macam-macam karena ada pria di kamar mandi itu. Pria itu berusaha menarik Yi Seo dengannya. Park Sae Ro Yi juga sudah selesai, mencuci tangan dan hendak keluar.
“Tunggu,” panggil Yi Seo.
Tapi, dia tidak berani mengatakan apapun karena masih merasa canggung (bersalah) pada Park Sae Ro Yi. Pria 1 langsung mengatakan pada Park Sae Ro Yi, tidak ada apa-apa dan dia hanya ingin bicara dengan pacarnya. Yi Seo langsung merespon, sejak kapan dia mencari pacarnya? Pria itu malah berakting seolah Yi Seo mabuk dan bicara ngawur.
Park Sae Ro Yi masih belum pergi dan terus menatapnya.
“Pipimu bengkak,” ujarnya pada Yi Seo.
Pria itu langsung berkata kalau ada sedikit masalah. Dan jika Park Sae Ro Yi tidak ada urusan lagi, silahkan pergi.
“Aku maunya juga begitu, tapi ini tak bisa kutinggalkan. Pipinya bengkak, dan dia melihatku seperti itu. Aku kenal dengan dia,” ujar Sae Ro Yi.
“Kenapa kau bicara panjang lebar? Pergi saja baik-baik dan tak usah ikut campur.”
“Katakan padaku. Apa ini sok ikut campur bila aku terlibat sekarang?” tanya Sae Ro Yi pada Yi Seo, karena Yi Seo dulu pernah bilang kalau dia tukang ikut campur. “Aku tak bisa lakukan apa pun, bila kau tak bilang apa-apa.”
“Ya. Tolong aku,” jawab Yi Seo.
Park Sae Ro Yi akhirnya mendekat dan mengandeng tangan Yi Seo, mengajaknya pergi bersamanya. Pria itu langsung berusaha menghentikan. Park Sae Ro Yi langsung membantingnya. Dan jelas, pria itu bukan tandingan Park Sae Ro Yi karena dia terkena pukulan-nya.
Karena pria itu tampak tidak mau menyerah, Park Sae Ro Yi akhirnya lari bersama Yi Seo. Soo A ada di depan pintu toilet, dan Park Sae Ro Yi mengajaknya untuk lari bersama. Soo A sampai bingung ada apa, tapi Sae Ro Yi menyuruhnya untuk lari saja.


Mereka bertiga lari bersama. Dengan senyum. Dan ost yang sangat easy listening (I really like this scene. Don’t know why).


3 comments: