Saturday, February 8, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 12 - part 3

0 comments



Network : tvN Netflix
“Se Ri, seharusnya kamu memberitahuku saat mengalami hal semacam itu,” kata Se Jun sok perhatian.
“Aku ikut prihatin,” tambah Hye Ji.
Se Ri tidak mengerti maksud pembicaraan mereka berdua. Dan Se Jun pun menjelaskan bahwa dia sudah tahu tentang Se Hyung yang mencoba untuk mencegah Se Ri kembali ke Korea Selatan.


“Kalian tahu dari mana?” tanya Se Ri, terkejut.
“Itu tidak penting,” balas Se Jun.
“Yang terpenting kita harus bersatu. Kita hancurkan keluarganya bersama,” jelas Hye Ji. Dan Se Jun mengangguk kan kepalanya.
Ibu telah memutuskan untuk mendukung Se Jun. Karena itulah sekarang Se Jun merasa sangat percaya diri dan dia ingin Se Ri memihak mereka berdua juga. Serta dia ingin Se Ri untuk jangan memblokir nomornya lagi.

“Begitu? Lantas kenapa Ibu dan Kakak tidak bersatu mengusir Se Hyung, dan mendukungku?” tanya Se Ri dengan serius. “Aku harus ambil alih perusahaan.”
Se Jun tidak terima dan menolak. Dengan serius, Se Ri bertanya lagi, darimana Se Jun serta Hye Ji tahu mengenai Se Hyung. Dan mereka berdua memberitahu tentang Manajer Oh yang pernah menjadi bawahan Seung Jung. Mereka berdua tahu dari Manajer Oh, tapi ada sesuatu yang mencurigakan tentang Manajer Oh, yaitu Manajer Oh ada membeli apatermen 50 pyeong di Gangnam tanpa pinjaman, dan mereka menduga kalau Manajer Oh pasti mendapatkan uang dari Se Hyung.

“Cari tahu siapa dan alasannya, lalu beri tahu aku,” perintah Se Ri.
“Aku?” tanya Se Jun terkejut. Dan Se Ri mengiyakan, lalu dia pamit dan pergi.
“Beraninya dia menyuruhku,” keluh Se Jun.
“Tapi, dia memintamu memberitahunya setelah semuanya jelas,” kata Hye Ji. “Berarti dia tidak akan memblokirmu lagi. Dia setuju untuk memihak kita. Bagus. Kamu berhasil,” pujinya. Dan Se Jun merasa sangat senang.

Se Ri mendapatkan telpon dari Jung Hyuk. “Apa?” tanyanya terkejut.

Se Ri menjemput Jung Hyuk dan timnya yang berada ditaman. “Tidak mungkin. Ada apa ini? Bagaimana mungkin? Kalian tidak seharusnya kemari,” kata Se Ri dengan perasaan bahagia serta cemas. Dia memeluk mereka semua.



Awalnya melihat itu, Jung Hyuk tersenyum. Tapi kemudian dia merasa cemburu, dan memisahkan mereka semua dari Se Ri serta memegang tangan Se Ri. Dia lalu memperkenalkan Se Ri dengan Man Bok.

Se Ri membawa mereka semua ke rumah nya. Saat Se Ri membuka pintu hanya dengan menggunakan sidik jari, mereka berlima merasa sangat kagum.
“Jangan tertipu oleh kemewahannya,” kata Sersan Pyo, mengingatkan semuanya.

Saat masuk ke dalam rumah, Man Bok segera mencari penyadap di perabotan rumah Se Ri. Dan mengetahui itu, Se Ri tertawa dan menjelaskan bahwa ini adalah rumahnya, jadi tidak akan ada penyadap sama sekali. Tapi Sersan Pyo sama sekali tidak percaya, sebab menurutnya tidak mungkin bagi Se Ri untuk tinggal di rumah sebesar ini sendirian.


“Ada lima kamar, kugunakan semua. Kamar tidur, ruang kerja, sisanya ruang olahraga, kamar tamu, dan kamar kosong. Puas?” jelas Se Ri, bertanya.
“Kamu cukup lihai. Ini pujian,” balas Sersan Pyo dengan sikap jaim.


Ju Meok terpesona dengan air panas di rumah se Ri, karena mereka bisa mendapatkan air panas setiap saat. Sementara Eun Dong terpesona dengan lampu di rumah Se Ri, karena mereka bisa memakai listrik yang tiada batas. Dan Letnan Park kagum dengan lantai rumah Se Ri, karena lantainya terasa hangat walau tidak ada perapian.


Nam Sik memasakkan makanan untuk Young Ae yang terbaring lemas tanpa semangat di tempat tidur. “Ibu,” panggilnya sebelum mulai makan. “Kita akan meninggalkan desa ini?” tanyanya.
“Jangan bilang begitu. Kita belum tahu apa yang akan terjadi kepada ayahmu,” balas Young Ae.
“Lalu kenapa melarangku bermain dengan teman-temanku?” tanya Nam Sik, penasaran. Dan Young Ae sama sekali tidak bisa menjawab, dia menutup mulutnnya untuk menahan rasa sedih. Lalu tiba- tiba terdengar bunyi ketukan, dan Young Ae merasa cemas.


Young Ae keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata yang datang adalah Myeong Sun. Dia datang untuk mengantarkan kentang. Selanjutnya yang datang adalah Ok Geum. Dia juga datang secara diam- diam ke rumah Young Ae untuk mengantarkan roti.
“Kalian sungguh tebal muka. Kalian bisa dihukum karena kemari. Segera pergi!” kata Young Ae dengan cemas. Dia membuka pintu dan mengusir mereka berdua. Tepat disaat itu, Wol Suk datang dengan gerobak berisikan kayu.


“Kamu keluar tepat waktu. Kurasa kamu butuh kayu lagi, jadi, kubawakan untukmu. Jika mau tetap sehat, kamarmu harus…” kata Wol Suk dengan perhatian. Lalu dia merasa terkejut, saat melihat Myeong Sun dan Ok Geum keluar dari rumah Young Ae.
Kemudian para Ibu- Ibu lain juga datang untuk mengantarkan makanan.

Young Ae menangis. “Berbahaya jika kalian di sini! Pergilah jika tidak mau dihukum!” katanya dengan cemas. Lalu dia jatuh ke tanah dan menangis.
Melihat itu, mereka semua langsung mendekati nya dan menghiburnya. “Jangan menangis. Jangan menangis, Young Ae. Jangan menangis.”


Sersan Pyo memakan daging panggang Se Ri dengan lahap. Dia beralasan bahwa dia memakan ini demi balas dendam karena Se Ri telah menghabiskan stok Jung Hyuk. Dan dengan malas, Se Ri mengiyakan.
“Kenapa kamu tidak makan?” tanya Letnan Park, memperhatikan Jung Hyuk yang hanya sibuk memangangang daging tanpa memakannya.


“Makanlah. Pasti sangat sulit jauh-jauh kemari. Memikirkannya saja membuatku sedih,” jelas Jung Hyuk sambil menumpukkan banyak daging diatas nasi Se Ri.

“Aku ingin terus terang saja. Kamilah yang menderita, kenapa dia dapat daging paling banyak,” keluh Sersan Pyo, memperhatikan Jung Hyuk yang tampak pilih kasih. Dan Se Ri tertawa.
“Kalian bisa ambil daging sendiri. Dia berhak berikan kepada siapa pun,” kata Se Ri, membela Jung Hyuk. Dan Ju Meok menyebut Jung Hyuk sebagai ‘pria dambaan’.

“Jika dipikirkan, menyeberangi perbatasan hanya demi seorang wanita memang perbuatan gila yang pantas dicatat sejarah,” komentar Sersan Pyo. Dan semunya tertawa.
“Bukan begitu. Bukankah sudah kujelaskan apa yang terjadi?” balas Jung Hyuk, menyangkal.

“Dia benar. Jika begitu, Kapten Ri tak tertandingi. Kapten yang terbaik,” puji Eun Dong sambil mengancung kan jempol. Dan sebelum Jung Hyuk bisa bicara, Se Ri menyuapi daging untuk nya. Dan semuanya tertawa melihat itu. Kecuali Man Bok.

Saat keluar dari kamar, Se Ri tidak sengaja mendengar pembicaraan Man Bok dengan Jung Hyuk. Dan dia pun menguping secara diam- diam.

“Ayahmu menyuruh kami membawamu pulang secepat mungkin. Kita harus pulang begitu Pesta Olahraga Militer Dunia berakhir,” kata Man Bok, memberitahu. “Ayahmu sudah memastikan kita akan pulang dengan selamat.
“Kau tidak dengar perkataanku tadi? Cheol Gang bisa menculik Se Ri dan membawanya ke Utara. Dia akan menyerang ayahku dan aku,” jelas Jung Hyuk dengan cemas.


Man Bok mengerti kecemasan Jung Hyuk, tapi mereka tidak bisa menangkap Cheol Gang, karena mereka tidak mengetahui dimana keberadaan Cheol Gang dan mereka akan kehabisan waktu. Lagipula dia yakin kalau Se Ri pasti akan baik- baik saja, karena Se Ri memiliki status sosial yang tinggi dan banyak yang mendukung Se Ri. Mendengar itu, Jung Hyuk merasa bingung.
Se Ri merasa sedih. Secara diam- diam, dia kembali ke dalam kamarnya.

Pimpinan Yoon dan Yoon Hee makan berdua. Dengan kesal, Pimpinan Yoon mengeluh kan anak- anak mereka yang tidak pernah makan bersama mereka, kecuali saat mereka membahas uang. Yoon Hee mengingatkan kalau ini adalah ulang tahun Se Ri.
“Sejak kapan kamu peduli?” tanya Pimpinan Yoon.

“Kamu pasti sudah tahu. Se Ri terjebak di Korea Utara,” kata Yoon Hee dengan serius. Dan Pimpinan Yoon langsung mendelik marah, dia seperti mengingatkan Yoon Hee untuk jangan berbicara sembarangan, karena akan berbahaya jika ada yang mendengar.
Yoon Hee menjelaskan bahwa pada hari itu Pimpinan Yoon pasti tidak keluar negri untuk urusan bisnis, melainkan Pimpinan Yoon mengurus masalah tentang Se Ri.

Tebakan Yoon Hee benar. Pimpinan Yoon mengisi dokumen- dokumen untuk mengurus masalah Se Ri.

“Kamu dengar dari mana?” tanya Pimpinan Yoon.
“Kenapa tidak cerita padaku? Menurutmu, aku akan memanfaatkan itu untuk menjerumuskannya?” tanya Yoon Hee, dan Pimpinan Yoon tidak menyangkalnya. “Kamu juga pasti tahu bahwa Se Hyung tahu Se Ri ada di sana dan menyuruh orang untuk mencegahnya kembali?” tanyanya dengan perasaan terluka.

Chang Sik dan Su Chan memperdengarkan suara Se Ri kepada Pimpinan Yoon. Mereka menjelaskan semuanya sambil memandang ke arah Se Hyung.
“Banyak yang mengaku melihatnya. Mereka mengaku punya rekaman video dan suaranya. Saat aku mengunjungi mereka, ternyata semuanya palsu, termasuk ini. Ini penipuan,” kata Se Hyung, beralasan.
“Bukan, pak,” jawab Chang Sik dan Su Chan secara bersamaan.

“Kolega terdekat Se Ri memberi salinan suaranya, dan pria ini, yang mengurus asuransinya, memalsukan bukti demi dirinya,” jelas Se Hyung. Dan Su Chan ingin menjelaskan, tapi Se Hyung langsung berteriak memanggil ayahnya. “Ayah! Apakah Ayah akan percaya orang-orang asing ini, atau aku, putra Ayah?” tanyanya.
“Kamu serius? Benarkah Se Hyung berusaha mencegah nya kembali?!” tanya Pimpinan Yoon, terkejut. Mungkin awalnya dia mempercayai Se Hyung, jadi dia tidak menyangka kalau Se Hyung menipunya.

Se Ri akan berangkat bekerja. Dan melihat itu, Jung Hyuk memanggilnya. Se Ri menjawab kalau dia mau berangkat bekerja untuk rapat, dan dia mau Jung Hyuk tetap dirumah saja untuk menemani kelima anggota tim Jung Hyuk hari ini.
“Aku mau bilang…” kata Jung Hyuk.
“Satu lagi,” kata Se Ri, seperti takut mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan. “Bagaimana lukamu?” tanyanya.

“Sudah baik-baik saja. Bukan luka serius,” jawab Jung Hyuk.
“Begitu. Syukurlah. Kamu memegang janjimu. Kamu tetap di sini sampai lukamu pulih. Kamu tidak pergi. Mulai sekarang, walau kamu tiba-tiba hilang, aku tidak akan terkejut. Aku tidak akan merasa terluka. Aku tidak akan menantikanmu. Jadi, jangan khawatir. Sampai nanti,” kata Se Ri dengan sedih. Tapi dia berusaha untuk bersikap tegar. Lalu dia pun pergi.

Saat keluar dari dalam rumah. Se Ri hampir mau menangis.
Jung Hyuk juga sama seperti Se Ri. Dia hampir mau menangis.

Se Ri sama sekali tidak bisa fokus saat rapat. Dia melihat hp nya seperti menunggu sesuatu.
Jung Hyuk dan kelima anggota nya keluar dari dalam rumah Se Ri. Sebelum pergi darisana, Jung Hyuk memandang sekali lagi ke dalam rumah Se Ri. Lalu dia menutup pintu dan pergi.
Se Ri ingin segera pulang. Tapi tiba- tiba Ibu datang ke tempatnya. “Ada apa? Aku harus pergi sekarang,” kata Se Ri secara to the point.
“Kamu bertemu Se Jun, kan? Pasti kamu sudah dengar. Soal perbuatan Se Hyung,” jelas Ibu. Dan Se Ri mengingat perkataan Se Jun yang meminta dukungannya. “Ibu tidak akan membiarkan ini. Jadi…”

“Demi aku?” sela Se Ri dengan sinis. “Atau demi anak tertua Ibu, Se Jun?”
“Se Ri…”
“Ibu harus yakin. Karena Ibu mulai terdengar seperti ibu kandungku sendiri,” sela Se Ri.
“Kamu tidak akan memercayai perkataan ibu,” kata Ibu dengan serius dan tulus. “Tapi, tidak seperti itu…”
“Ibu benar. Aku tidak percaya. Ibu tidak pernah kembali.”

Flash back. Di pantai.
Yoon Hee melepaskan tangan Se Ri yang menmegang tangannya.” Bisakah menunggu di sini selagi ibu membeli minuman hangat?” tanyanya.
“Baiklah,” jawab Se Ri.


Yoon Hee kemudian berjalan pergi. Tapi sebelum dia berjalan terlalu jauh, Se Ri memanggilnya. “Ibu,” panggil nya. Dia melambaikan tangannya. Dan melihat itu, Yoon Hee mengabaikannya dan terus berjalan pergi darisana.


Se Ri menunggu Yoon Hee sampai langit mulai gelap. Dia merasa ngantuk, tapi dia menahan rasa kantuk nya karena takut Ibu akan datang saat dia tidur. Dia lalu mulai menghitung dari angkat 1, berharap Ibu akan segera kembali saat hitungannya mencapai angka 100.
“Sembilan puluh sembilan …” kata Se Ri menghitung. Lalu dia diam dan mulai menghitung kembali dari angka 1. Dia sengaja tidak mau menyebutkan angka 100.

“Sejak hari itu, ada laut malam yang dingin di hatiku. Dan matahari tidak pernah terbit di laut itu.”
Pagi hari. Se Ri di temukan oleh orang lewat.
Flash back end

“Tidak peduli harus kuhitung berapa kali, matahari tidak pernah terbit. Ibu juga tidak pernah kembali. Sejak saat itu, satu pemikiran membekas di pikiranku. ‘Kenapa aku dilahirkan, dan mengubah hidup ibuku menjadi neraka di dunia? Pasti akan lebih baik jika aku tak terlahir. Maafkan aku karena aku bernapas.’,” jelas Se Ri.
Mendengar itu, Ibu merasa sedih dan bersalah kepada Se Ri. “Baik. Kamu tidak perlu percaya semua perkataan ibu.”

“Jangan mengunjungiku lagi di hari ulang tahunku. Itu yang terburuk,” balas Se Ri dengan ketus. Lalu dia pergi. Dan dengan sedih, Ibu berusaha untuk menahan air matanya.


Manajer Oh membawa Cheol Gang menemui Se Hyung dan Sang Ah. Dia menjelaskan tentang kepetingan serupa yang mereka bertiga miliki, tapi tidak sama. Se Hyung dan Sang Ah ingin Se Ri menghilang. Sedangkan Cheol Gang ingin membawa Se Ri kembali ke Utara. Dan Manajer Oh yang menghubungkan mereka semua.
“Kamu ingin Se Ri ikut denganmu? Apa maksudnya? Kamu ingin membawanya kembali ke Utara?” tanya Se Hyung.
“Kenapa kamu mau tahu? Bukankah kamu senang dia menghilang?” balas Cheol Gang.
“Kenapa sikapnya begitu? Tentu aku harus tahu. Akankah dia baik-baik saja di sana?” balas Se Hyung dengan kesal.

“Aku harus membawanya ke sana untuk memastikan sesuatu. Dia membuatku kehilangan banyak hal. Aku harus merebutnya kembali. Tapi, aku tidak bisa menjamin keselamatannya. Bukankah itu yang kamu mau? Aku menyingkirkan masalah mendatangmu,” jelas Cheol Gang.
Se Hyung merasa ngeri. Dia tidak berniat untuk sampai menyingkirkan Se Ri, menurutnya itu berlebihan dan bisa menghancurkan hidupnya. Dengan kesal, dia memarahi Manajer Oh karena memperkenalkan Cheol Gang kepadanya. Jadi dia menganggap kalau pertemuan ini tidak ada dan mereka tidak pernah bertemu. Setelah mengatakan itu, Se Hyung pun pergi. Dan Manajer Oh segera mengikutinya.

“Bicara soal itu, kamu akan butuh uang untuk menjalankan rencanamu. Kamu juga akan butuh informasi,” kata Sang Ah, berbicara kepada Cheol Gang. Dan Cheol Gang tersenyum mendengar itu.

Sang Ah memberitahukan tempat tinggal Se Ri. Dan Cheol Gang pergi ke sana.

Se Ri merasa ragu untuk membuka pintu rumahnya, karena dia takut kalau Jung Hyuk dan yang lainnya sudah pergi. Dan saat dia masuk ke dalam rumah yang gelap serta sepi, dia merasa takut. “Jung Hyuk-ssi,” panggilnya.

Se Ri mencari Jung Hyuk di dalam rumah. “Jung Hyuk-ssi,” panggilnya lagi. “Kamu sudah pergi?” tanyanya, tapi tidak ada jawaban. “Sungguh pergi?” tanyanya lagi. Dan tetap tidak ada jawaban.

Dengan sedih, Se Ri duduk di lantai dan menangis tersedu- sedu.

Tiba- tiba semua lampu menyala. Jung Hyuk dan kelima anggota nya keluar dari persembunyian dengan membawakan sebuket bunga, boneka, kue, dan hadiah untuk Se Ri. Mereka ingin merayakan ulang tahun Se Ri. Dan mereka kaget saat melihat Se Ri duduk di lantai sambil menangis.
“Bukankah kamu bilang perayaan mereka seperti ini?” keluh Sersan Pyo sambil memukul Ju Meok.
“Mereka tampak menyukainya,” kata Ju Meok, merasa bingung juga.

“Se Ri, hari ini ulang tahunmu. Selamat ulang tahun,” kata Eun Dong. Dan semuanya juga ikut mengucapkan selamat ulang tahun.
Mendengar itu, Se Ri semakin menangis tersedu- sedu. Lalu dia pergi. Dan semuanya merasa bingung. Mereka lalu memandang Jung Hyuk dan memberikan kode supaya Jung Hyuk mengikuti Se Ri. Dan Jung Hyuk pun melakukannya.
Dengan kesal, Sersan Pyo memukuli Ju Meok. Dan mendesis padanya.

Jung Hyuk mengejar Se Ri dan memanggilnya. Dengan malu, Se Ri memintanya untuk jangan mendekat, sebab dia tampak sangat berantakan sekarang.
“Maafkan aku. Kami mengejutkanmu hari ini,” kata Jung Hyuk.
“Bukan begitu. Aku bukan terkejut. Aku ketakutan. Mulai sekarang, aku akan mengingat hari ini saat ulang tahunku. Aku akan ingat hari bahagia ini,” jelas Se Ri sambil menangis kembali.

Jung Hyuk melangkah. Dia ingin mendekati Se Ri. Namun Se Ri tetap memintanya untuk jangan mendekat. Tapi Jung Hyuk mengabaikan itu dan terus berjalan mendekati Se Ri. Dia kemudian memeluk Se Ri dengan erat dari belakang.
“Tahun depan, dan tahun setelahnya, dan bahkan setelah itu, semuanya akan bahagia. Karena aku akan memikirkanmu. Aku akan bersyukur sudah terlahir ke dunia ini. Aku akan bersyukur orang yang kucintai masih bernapas. Karena itulah hari ulang tahunmu akan selalu jadi hari bahagia,” kata Jung Hyuk dengan lembut untuk menghibur Se Ri.
 Se Ri semakin menangis. Dia memegang tangan Jung Hyuk yang memeluknya. Lalu dia berbalik dan menangis di dalam pelukan Jung Hyuk.

Rekaman bunuh diri Se Ri saat berada di jembatan Swiss :
Saat bermain game. Jung Hyuk tidak sengaja menemukan rekaman bunuh diri Se Ri saat berada di jembatan Swiss.
“Hari ini, tanggal 2 Februari. Ini hari ulang tahunku,” kata Se Ri di dalam rekaman. Dan Jung Hyuk melihat ke arah kalender di meja. “Aku berada di atas jembatan di Sigriswil. Aku tidak punya penyesalan. Ayah, Kak Se Jun, Kak Se Hyung, dan Ibu. Aku akan pergi jauh. Jangan hidup terlalu bahagia. Sesekali cobalah untuk memikirkanku.”

Jung Hyuk merasa kaget mendengar rekaman itu. Tapi dia tambah kaget lagi, saat dia mendengarkan suaranya didalam rekaman itu.
Jung Hyuk mengingat tentang saat dia meminta tolong supaya Se Ri menfotokan dirinya dengan Seo Dan. Mengingat itu, Jung Hyuk tersenyum.
“Lihat? Itu bukan kebetulan. Tapi takdir,” gumam Jung Hyuk dengan senang.

Jung Hyuk bersiap untuk pergi keluar. Dia ingin membelikan kado ulang tahun untuk Se Ri besok. Tapi tepat disaat itu, Se Ri malah pulang.

No comments:

Post a Comment