Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sinopsis K- Drama : Law School Episode 2/2

 

Original Network : jTBC Netfix

Dikantin. Para murid merasa agak stress, karena ternyata bukan Jong Hoon yang menyusun soal ujian mereka, melainkan Prof. Jung. Lalu Joon Hwi menghampiri mereka dan memberikan setumpuk soal ujian lama milik Prof. Jung Dae Hyeon. Dan dia mengajak mereka untuk belajar bersama.


“Hei, ayo,” kata Ye Seul sambil menarik Kang Sol A yang baru datang ke kantin.

“Apa? Apa ini?” tanya Kang Sol A, bingung. “Seung-jae, kau ikut?” tanyanya, berteriak, ketika dia melihat Seung Jae masih duduk ditempat nya.

“Oh,” balas Seung Jae, mengikuti mereka.

Eun Suk tidak mengerti, kenapa Jong Hoon menolak penyelidikan dan malah memakai pembela umum. Jadi dia datang ke penjara dan menasehati Jong Hoon untuk berhenti seperti ini. Tapi Jong Hoon tidak terlalu peduli dengan nasibnya sekarang, malahan dia lebih memperdulikan ujian untuk murid- muridnya. Dan Eun Suk pun menjadi emosi.


“Siapa yang peduli soal itu? Kau ditahan!” teriak Eun Suk. Dan dengan malas, Jong Hoon berniat untuk pergi saja. “Soal yang kau tulis… “ kata Eun Suk, menghentikan Jong Hoon. “Semua menjadi sia-sia,” katanya, pelan. “Profesor Jung akan menulis soalnya untuk menggantikanmu.”


“Itu tak bisa,” kata Jong Hoon.

“Apa kau paham situasinya? Jika kau didakwa, kau akan kehilangan pekerjaan,” komentar Eun Suk, agak capek.

“Beri tahu wakil dekan, aku harus bicara dengannya,” balas Jong Hoon. Lalu dia pergi.

UJIAN TENGAH SEMESTER HUKUM PIDANA PROFESOR YANG JONG-HOON. Melihat itu, para murid merasa tidak menyangka. Lalu setelah membaca soalnya, mereka semua menatap ke arah Joon Hwi.


Soal : Siswa A, yang menentang penunjukan Pengacara B, seorang mantan kepala jaksa, memasang pemberitahuan di papan buletin kampus. Petisi berikut dapat diakses melalui kode QR yang tertera.


MARET 2020

Sebuah kertas pemberitahuan dengan kode QR ditempel dimading kampus. Melihat itu, banyak orang menscan kode QR tersebut untuk mencari tahu apa itu. Dan ternyata itu adalah sebuah petisi. Didalam petisi tersebut dijelaskan bahwa jika mereka mau bergabung belajar bersama penakluk tahap dua, maka mereka harus menandatangani petisi ini.

“Haruskah aku mendaftar? Untuk membuat kesal kampus?” tanya Jo Ye Beom, merasa tertarik.

Tepat disaat itu, Wakil Dekan Ju kebetulan lewat. “Mendaftar apa?” tanyanya.


Ketika Eun Suk sedang mengajar, Dean Oh serta Wakil Dean Ju datang ke kelas dan meminta waktunya sedikit.

“Siapa yang sudah lihat petisi ini di papan buletin?” tanya Dean Oh. Dan hampir semua murid mengangkat tangannya. “Baik. Kudengar mahasiswa yang memasangnya juga ada di sini,” katanya. Dan Joon Hwi berdiri.


“Copot sekarang juga,” perintah Wakil Dean Ju.

“Kalau begitu, sia-sia saja aku memasangnya,” tolak Joon Hwi. Dan mendengar itu, Wakil Dean Ju marah. Lalu Dean Oh menghentikannya.


“Siapa namamu?” tanya Dean Oh.

“Aku Han Joon-hwi.”

“Universitas ini akan menindak aksimu melalui jalur hukum. Pasal 307 Hukum Pidana dan Pasal 750 Hukum Perdata. Kau akan menanggung segala kerugian akibat pernyataanmu. Sewalah pengacara,” jelas Dean Oh dengan tegas. Lalu dia pergi dari kelas.

Flash back end


Soal : “Universitas memperingatkan A bahwa mereka akan ambil jalur hukum jika dia tidak menarik dan menghentikan petisi tersebut secepatnya, tapi A menolak. Bisakah A ditindak secara hukum atas aksinya? Apa syarat yang diperlukan agar dia dapat ditindak?”

Flash back. Dalam kelompok belajar.

“Ini pernyataan penistaan palsu,” komentar Ji Ho.

“Menurut opiniku. Belajar hukum dengan uang donasi sumber skandal suap… Memalukan. Penistaan adalah fakta palsu, bukan opini,” balas Joon Hwi, membela diri.

“Tapi kau menulis bahwa kampus merekrut Seo sebagai dosen karena donasinya, seolah itu adalah fakta dan meragukan "motif asli" mereka. Kau menulis ini tanpa memeriksa faktanya. Kau sebarkan informasi palsu,” balas Ji Ho.

“Aku hanya ingin mereka memperjelas kecurigaan,” balas Joon Hwi, masih membela dirinya.

Flash back end


Setiap orang menulis jawaban mereka dengan serius.

Flash back. Di asrama.

Kang Sol B berpendapat sama seperti Ji Ho. Sedangkan Kang Sol A merasa kalau tindakan Joon Hwi tidaklah salah. Karena Joon Hwi melakukan tindakan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, dan sebagai mahasiswa hukum Hankuk, mereka berhak tahu kebenarannya. Karena memang benar Byung Ju dilantik tepat setelah Byung Ju berdonasi, dan itu adalah fakta. Serta itu mencurigakan menurutnya.

“Hanya karena mencurigakan, bukan berarti itu fakta,” jelas Kang Sol B.

Flash back end


Kang Sol A memeriksa waktu ujian. Lalu dia mencoret jawaban ujiannya. Dari ‘Informasi Palsu’ menjadi ‘Fakta’.

Joon Hwi menangis sambil menulis jawaban ujiannya.


Man Ho diundang ke ruangan introgasi untuk berbicara dengan Jong Hoon.

Pengacara Park masuk ke dalam ruang pengawas. “Astaga, aku pengacaranya. Kenapa aku harus menunggu di luar?” keluh nya. Mendengar itu, Det. Dong Su dan Det. Oh mengabaikannya. Tapi Pengacara Park tidak masalah. “Kalian punya oven microwave?” tanyanya dengan sikap santai.

“Hei, yang serius,” bentak Det. Dong Su.



Man Ho menceritakan betapa senangnya dia. Pertama kali ketika dia dipakaikan alat pengintai, dia merasa terganggu, tapi siapa sangka kalau alat pengintai itu yang menjadi bukti alibinya.

“Sekarang kau ingat?” tanya Jong Hoon sambil tersenyum.


Flash back

Seseorang mengintip, ketika Man Ho sedang memperkosa gadis muda. Dan saat Man Ho menyadari itu, dia langsung mengejar orang tersebut.



Dengan panik, orang tersebut berlari dengan kencang. Lalu tiba- tiba sebuah mobil lewat dan menabraknya. Kemudian mobil tersebut langsung kabur begitu saja. Dan Man Ho menyaksikan semua kejadian itu.

Flash back end


“Jaksa Seo menyuruhku untuk membawanya mati, jadi, aku tak punya pilihan,” jelas Man Ho, tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Itukah sebabnya kau menjadi sopir pribadi Seo Byung-ju?” tanya Jong Hoon.


“Aku tak punya pilihan lain, jadi, aku minta bantuannya. Aku dipekerjakan,” jawab Man Ho dengan bangga. “Ya ampun. Untuk tutupi kasus tabrak larinya, dia terima argumenku soal lemah pikiran dan membebaskanku. Kurasa dia ingin aku berada di dekatnya agar dia bisa tenang,” jelas nya sambil tertawa.

Mendengar hal tersebut, Det. Oh merasa emosi dan ingin masuk ke ruangan intoragsi serta menghajar Man Ho. Tapi Det. Dong Su langsung menghentikannya agar tenang.


Profesor yang mengawasi ujian mengumumkan bahwa waktu ujian sudah habis, jadi semua diharuskan meletakkan pena. Tapi Kang Sol A masih belum selesai menulis jawabannya, jadi diapun tidak meletakkan penanya dan terus menulis.

“Letakkan penamu,” perintah Pengawas. “Akan kulaporkan pada profesormu,” ancamnya. Tapi Kang Sol A tetap terus menulis. Jadi dengan paksa, Pengawas pun menarik paksa lembar jawaban Kang Sol A, sampai lembar jawaban itu menjadi robek dua.


Man Ho mengomentari kalau Jong Hoon pasti terkejut, saat mengetahui kenyataan yang ada. Juga Jong Hoon pasti merasa terkhianati. Karena itulah Jong Hoon membunuh Byung Ju.


“Baik, kita punya motif,” kata Det. Dong Su, senang.

“Benar,” kata Pengacara Park, setuju. Saat tersadar, dia langsung terdiam. Karena dia adalah pengacara Jong Hoon, jadi seharusnya dia membela Jong Hoon.


Bok Gi merasa tidak menyangka kalau Jong Hoon akan membuat soal tentang Joon Hwi dan Byung Ju dalam kondisi seperti ini, dan dia merasa kasihan kepada Joon Hwi. Sedangkan Ye Seul, dia mengkhawatirkan Kang Sol A.

“Dia harusnya dapat nol,” kata Ji Ho dengan yakin.

“Dia hanya telat 30 detik,” komentar Bok Gi, membela Kang Sol A.


“Bukankah kau yang paling diuntungkan jika nilainya nol? Kalian peringkat terakhir,” balas Ji Ho, mengingatkan.

“Hei, jaga ucapanmu! Aku bisa mengerjakannya,” balas Bok Gi, tidak terima. “Bukankah jawabannya, "informasi palsu, penistaan"?”

“Ya, jelas sekali. Nn. Oh membuktikannya,” kata Ji Ho, membenarkan. Dan Seung Jae mengganguk kan kepalanya.


Flash back

Dean Oh membuktikan bahwa tuduhan Joon Hwi kepada Byung Ju adalah penistaan atau tidak benar. Karena tidak ada pelanggaran hukum terkait pelantikan Byung Ju.

“Jangan harapkan kelonggaran. Kami akan adakan sidang disipliner dan putuskan apakah kalian akan dikeluarkan atau penerimaan kalian dibatalkan,” kata Dean Oh dengan serius kepada Joon Hwi.


“Aku tak tahu itu adalah tuduhan palsu,” balas Joon Hwi, membela dirinya. “Pasal 307-2 Hukum Pidana menyatakan fakta yang dituduhkan haruslah palsu dan penuduh harus menyadarinya, sehingga tindakan tersebut dapat dianggap sebagai penistaan. Jika penuduh memercayainya sebagai kebenaran, itu tak dapat dianggap pelanggaran hukum,” jelasnya.

Mendengar itu, Dean Oh mendengus. Karena ini tandanya Joon Hwi tidak mempercayai universitas. Dan Byung Ju setuju dengan Dean Oh.

“Aku selalu berkata, segala bentuk pemberian dianggap suap, tapi aku menerima lahan gratis sebagai hadiah. Aku paham kenapa dia tak memercayaiku,” kata Byung Ju dengan sikap seolah- olah dia adalah orang baik.


Didalam mobil. Byung Ju menanyai, apa yang Joon Hwi lakukan. Dan Joon Hwi balas bertanya, karena siapa dia menyerah. Dia tidak ingin menjadi seperti Byung Ju, jadi dia menolak belajar dari Byung Ju, karena menurutnya Byung Ju tidak pantas untuk mengajarkan hukum.


“Soal suap itu, aku tak bersalah…” kata Byung Ju, membela diri.

“Kau bebas karena mereka tak bisa membuktikannya,” teriak Joon Hwi, kecewa. “Berhenti mempermainkan hukum dan menipu orang,” pintanya.

“Joon-hwi,” panggil Byung Ju, lembut.

“Terserah kau mau apa, Paman. Menjauhlah dariku,” balas Joon Hwi.



Ketika Joon Hwi keluar dari mobil, Man Ho yang sedang berjongkok langsung berdiri. “Pikirkan berapa banyak uang yang dia sumbangkan. Apa salahnya jika dia menjadi profesor?” komentar nya.

Mendengar itu, Joon Hwi memukul mobil untuk melampiaskan rasa kesalnya. Dan Man Ho sama sekali tidak takut, malahan dia tertawa.


Ketika Joon Hwi kembali ke kampus, Kang Sol A langsung mendekatinya. Dia ingin tahu ada hubungan apa antara Joon Hwi dan Byung Ju. Dan Joon Hwi mengabaikannya, karena tidak mau menjawab. Tapi Kang Sol A tidak membiarkannya pergi. Dia menarik tangan Joon Hwi, lalu dia menyadari kalau tangan Joon Hwi ada terluka.


“Katakan, atau akan kuseret kau,” kata Kang Sol A, semakin ingin tahu.

“Dia pamanku,” jawab Joon Hwi.

Tepat disaat itu, Ji Ho kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan tersebut. Menyadari itu, Joon Hwi pun langsung berjalan pergi dan Kang Sol A mengikutinya.




“Cukup,” balas Joon Hwi, ketika dia melihat kedatangan Dean Oh.

“Ya, cukup. Nn. Oh adalah hakim agung,” kata Kang Sol A dengan bersemangat.

“Jangan menyesal,” kata Joon Hwi, memastikan.

“Itu intinya. Jangan sampai menyesal turunkan petisinya. Nn. Oh jelas berusaha menjeratmu,” kata Kang Sol A, semakin bersemangat.


Dengan ramah, Dean Oh menyapa Kang Sol A. Dan dengan terkejut, Kang Sol A langsung mengubah perkataan dan sikapnya. “Nn. Oh, beri aku kesempatan. Aku berjanji akan membujuknya…” katanya dengan memelas.

“Tidak,” sela Joon Hwi dengan tegas dan serius. “Aku tak akan mencabutnya.”

“Kalau begitu, aku saja,” kata Kang Sol A sambil mencubit Joon Hwi.

Joon Hwi menepis tangan Kang Sol A. “Jika kau memberiku kesempatan, akan kutunjukkan bahwa kau memang ingin menjeratku,” jelas nya.


Joon Hwi mengambil buku kumpulan kasus penistaan dari Penjaga Dong dan menunjukkan nya kepada Kang Sol A sebagai acuan, saat Kang Sol A ingin menulis argumen pembelaan untuknya. Dan Kang Sol A menolak sambil mengeluh tidak bisa. Dan Penjaga Dong setuju, karena Kang Sol A buta hukum. Mendengar itu, Kang Sol A sama sekali tidak merasa senang dibela, melainkan dia merasa kesal.

“Ini semua baru. Teliti lagi,” jelas Joon Hwi.

“Aku tak bisa. Tidak bisa. Ini masa depanmu,” tolak Kang Sol A. “Kenapa aku? Ada banyak orang pintar di sini. Hei, ada banyak orang yang mau membelamu.”

“Menurutmu begitu? Siapa yang akan memihakku jika mereka tahu aku melawan kampus?” balas Joon Hwi, bertanya dengan serius. Dan Kang Sol A terdiam.



Penjaga Dong berpura- pura membela Kang Sol A, kepadahal sebenarnya dia membantu Joon Hwi. Dia membela Kang Sol A dengan sedikit mengejek- ejeknya, sehingga Kang Sol A pun merasa emosi, dan akhirnya setuju untuk membantu Joon Hwi.

“Pekerjakan aku jika aku berhasil,” kata Kang Sol A, terpancing.

Flash back end



Ditempat fotocopy. Kang Sol A curhat tentang rasa stressnya kepada Penjaga Dong. “Aduh, kenapa aku ganti jawabanku? Aku tak akan dapat nol, 'kan?”

Mendengar itu, Penjaga Dong menempelkan huruf F ke dahi Kang Sol A. “Memohonlah padanya jika kau khawatir,” saran nya. “Kunjungi dia.”

“Itu… Itu karena aku mencemaskan Profesor Yang,” gumam Kang Sol A.

“Kau kurang berambisi. Cemaskan dirimu sendiri,” kata Penjaga Dong, menasehati. Lalu dia teringat sesuatu, “Bagaimana ujiannya akan dinilai?” gumamnya, berpikir.


Pengacara Park mengantarkan semua lembar jawaban para murid kepada Jong Hoon untuk dinilai. Lalu setelah itu, dia membujuk Jong Hoon untuk mengaku bersalah dan minta keringanan, karena semua bukti mengarah kepada Jong Hoon. Tapi Jong Hoon diam, mengabaikannya.


Penjaga Dong menelpon Pengacara Park. Dia ingin tahu, apakah Pengacara Park yang mengambil lembar jawaban para murid. Dan Pengacara Park mengiyakan, lalu dia teringat perkataan Pengawas dan memberitahu Jong Hoon mengenai lembar jawaban robek yang sudah diselotip, dia ingin menjelaskan kepada Jong Hoon bahwa lembar jawaban tersebut telat dikumpulkan, tapi sebelum dia sempat menjelaskan, Penjaga Dong langsung meneriakinya dengan keras.

“Akan kulaporkan pada istrimu bahwa kau hanya ambil kasus kotor yang mahal bayarannya!” ancam Penjaga Dong. Dan Pengacara Park tertawa dengan gugup. “Bisa kami bicara?” tanya Penjaga Dong.

“Kau tak boleh bicara dengan tersangka,” tolak Pengacara Park.

“Kau selundupkan ponselmu agar mendapat uang dari pekerjaan semacam ini!” bentak Penjaga Dong. Tapi Pengacara Park tetap tidak mau. “Akan kututup aksesmu,” ancamnya.


Pengacara Park langsung memberikan ponselnya kepada Jong Hoon. Tapi Jong Hoon tidak mau menerimanya. Jadi Pengacara Park pun mendekat kan ponselnya di telinga Jong Hoon.

Jong Hoon memeriksa lembar jawaban Joon Hwi.


Penjaga Dong banyak berbicara. Tapi Jong Hoon sama sekali tidak menanggapi. Lalu kemudian, pengawas penjara lewat. Dengan ngeri, Pengacara Park langsung menggunakan tubuhnya untuk menutupi ponsel nya.

“Halo?” panggil Penjaga Dong, heran.


Flash back. Wawancara penerimaan murid baru.

“Kau ingin menjadi jaksa?” tanya Joon Hwi.

“Ya, pak. Seorang jaksa yang hidup di bawah aturan,” jawab Joon Hwi. “Aku ingin tunjukkan seperti apa jaksa sejati pada mereka yang menyalahgunakan hukum untuk kepentingan pribadi,” jelas nya.


“Jaksa yang menyalahgunakan hukum?” tanya Joon Hwi.

“Mereka yang memahami hukum lebih berbahaya daripada yang buta hukum.”

“Aturan apa yang ingin kau tegakkan?” tanya Joon Hwi.

“Prinsip-prinsip legalitas dan asas praduga tak bersalah.”

Flash back end



Jawaban Joon Hwi : PEMBENARAN YANG DIPERHITUNGKAN.


Joon Hwi berlari mengelilingi lapangan sampai dia merasa capek.


Didalam kamar. Ji Ho membaca informasi dan melihat foto- foto mengenai hubungan antara Joon Hwi dan Byung Ju.

Post a Comment for "Sinopsis K- Drama : Law School Episode 2/2"