Tuesday, January 2, 2018

Sinopsis K-Movie : The Mimic part 3 end

0 comments



 Distributor: Next Entertainment World

Saat sedang mencari anak itu, Hee Yeon dikagetkan oleh tangan si wanita dengan tongkat yang menyentuhnya tiba - tiba dari belakang.

“Namanya adalah Jangsanbeom (Harimau Gunung Jang). Di daerah sekitar sini, itu adalah roh jahat yang merupakan legenda rakyat. Roh jahat yang dapat meniru suara manusia dan memikat hati manusia. Di daerah ini, Mudang (sejenis penyihir), yang melayani jangsanbeom ini boleh dibilang cukup banyak. Dan mudang itu, setelah pindah ke sini, juga mulai mengabdi pada jangsanbeom,” jelas si wanita dengan tongkat sambil memperlihatkan gambar seekor harimau.


Dalam ceritanya, tampak seorang laki-laki yang sedang berdiri dipintu gua.

“Dulunya dia adalah mudang yang tidak begitu memiliki kemampuan. Semenjak mulai mengabdi pada jangsanbeom mendadak kekuatannya berubah menjadi luar biasa. Sepertinya ia menjadi yang terpilih.”

Dalam ceritanya, seorang perempuan sedang memanen sayur, tapi ketika itu ia mendengar suara binatang yang berasa dari sebuah gubuk kayu kecil. Jadi perempuan itu pergi kesana dan mengintip, tapi betapa kagetnya ia, saat ia melihat seekor anjing yang dibunuh dan seorang laki-laki yang bersuara seperti anjing. Sehingga perempuan itu pun berteriak dan kabur,”Dong Wook Abeoji! Dong Wook Abeoji!”

Lalu laki-laki itu (mudang) mulai menirukan suara perempuan tadi. Ia memandang dirinya sendiri pada cermin,”Dong Wook Abeoji! Dong Wook Abeoji! Dong Wook Abeoji ? Dong Wook Abeoji! Dong Wook Abeoji!” katanya.

Dibelakang mudang tersebut, anak itu memperhatikan dia dari balik tembok.


“Mudang itu memiliki seorang anak perempuan. Kemampuannya tidak kalah hebatnya. Dibawah siksaan Ayahnya yang sungguh kejam, anak itu terus menanti kepulangan Ibunya yang telah pergi melarikan diri,” lanjut si wanita dengan tongkat.

“Pasti sangat merindukan eomma,’kan? Katanya eomma akan segera pulang. Sekarang, eomma seumur hidup akan berada di sisimu. Eomma.. eomma..” kata anak itu sendirian didalam rumah dan diluarnya Mudang (Ayahnya) itu memperhatikan dia.


Tali yang ditempeli kertas jimat, dipasang disekeliling hutan. Lalu seorang pria memaikan gendang dan mudang tersebut menari. Disana seekor binatang yang telah mati diletakan sebagai pengorbanan atau persembahan. Dan dibalik tembok, anak itu memperhatikan semua itu.

“Jangsanbeom secara perlahan-lahan menelan jiwa si mudang. Tapi ia masih belum juga puas. Ia menginginkan jiwa yang lebih murni dan lebih kuat.”


Saat Mudang (Ayahnya) menyadari keberadaannya. Anak itu segera masuk kedalam rumah, tapi Mudang tersebut masuk dan menangkap dia. Walaupun anak itu menjerit dan menangis, si mudang tetap tidak peduli, malahan dengan kejam ia memasukan anak itu kedalam kendi berukuran sedang, lalu menutupnya.
Setelah itu mudang tersebut kembali menari-nari melakukan ritual. Sedangkan anak itu menangis dari dalam kendi tersebut sambil terus memanggil Ibunya. Tapi si mudang tampak makin menggila, ia mengambil darah binatang persembahannya, lalu melumurkan nya dibadannya sendiri. Dan musik gendang pun berhenti.




“Dan mereka pun menghilang begitu saja. Di perkirakan sudah menjadi abdi dari jangsanbeom. Semenjak hari itu, orang – orang mulai menghilang satu persatu. Sepertinya orang – orang itu digunakan sebagai persembahan kurban. Karakter yang lebih kuat adalah anak perempuan itu. Setelah anak perempuan kecil itu membuka jalan, mudang tersebut akan segera menjelma. Jika bertemu dengan gadis kecil itu, tidak lama setelah itu, akan mulai melihat mudang tersebut.”


Hee Yeon tampak tidak mempercayai perkataan si wanita dengan tongkat dan menyangkal bahwa anak itu sikapnya baik – baik saja kepada mereka, tapi si wanita dengan tongkat itu segera memegang tangannya dan meminta Hee Yeon untuk jangan percaya padanya sama sekali, karena tanpa pandang bulu, entah itu perasaan bersalah, amarah, ataupun rindu, begitu kelemahan itu muncul, ia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk, lalu ia bertanya bagaimana dengan Hee Yeon.

“Seiring dengan melemahnya emosi jiwa, penglihatan akan menjadi semakin buram,” jelas si wanita dengan tongkat, karena tampaknya Hee Yeon masih tidak mengerti.


Hee Yeon segera memegang wajahnya, lalu wanita itu memberikan sebuah benda bulat untuk digantungkan dirumah, sehingga untuk waktu yang singkat itu akan memblok mereka untuk bisa masuk. Mendengar itu Hee Yeon tampak ketakutan dan tiba-tiba lonceng dirumah wanita itu berbunyi, jadi ia segera menyuruh Hee Yeon untuk pergi.

Dengan buru-buru Hee Yeon segera pergi dari rumah wanita itu.


Dikamar. Saat sedang tidur, Joon Hee mendengar namanya dipanggil, jadi ia bangun dan keluar sambil mengeluh,”Eomma? Eomma mataku terasa aneh sekali.”

“Joon Hee-ah, cepat ke mari! Kita harus segera pergi. Sini ke tempat Eomma, cepat ke mari,” panggil suara itu dari balik pintu.

Jadi Joon Hee dengan agak ragu awalnya berjalan perlahan menuju pintu, tapi pada saat itu ia melihat sesuatu terjatuh. Dan suara Hee Yeon yang menyuruhnya untuk menunggu sebentar, karena ada sedikit bahaya. Tapi Joon Hee tetap mendekat dan ia kaget ketika melihat sesuatu yang aneh, jadi ia berlari keluar dari rumah.


Suara itu pun mengejarnya dan terus memanggil namanya. Lalu Joon Hee pun bersembunyi didalam kandang anjing di gudang. Dan ketika itu anak itu masuk, lalu mengajaknya untuk pergi, tapi Joon Hee dengan ketakutan mulai menangis dan menolak ajakan anak itu.

Anak itu mendekat perlahan padanya sambil mengacukan pecahan kaca ditangannya,”Joon Hee, kemarilah. Tidak apa-apa Joon Hee. Aku bisa kau percaya. Ayo, tataplah mataku. Jangan takut. Joon Hee, percayalah padaku. Ayo! Hmm?” kata anak itu, lalu mengulurkan tangannya.

Tepat pada saat itu, Joon Hee mendengar suara Ibunya yang berteriak memanggil dia.

Didalam rumah, Hee Yeon mencari Joon Hee yang menghilang, lalu saat ia masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat sebuah bekas jejak tangan seorang anak kecil di cermin. Hal itu membuat Hee Yeon semakin panik mencari anaknya.


Saat Hee Yeon membuka pintu lemari, ia melihat anak itu sedang bersama dengan Joon Hee. Lalu Joon Hee berkata,”Eomma, Joon Hee telah menyelamatkanku.”


“Orang-orang yang  menghilang itu, tidak ada cara untuk menyelamatkan mereka?” tanya Hee Yeon sebelum nya pada si wanita dengan tongkat.

“Gua adalah teritori jangsanbeom. Yang tahu jalan ke sana hanyalah gadis cilik tersebut.”

Hee Yeon menanyakan kepada anak itu tentang siapa nama aslinya, tapi kali ini ia ingin anak itu menjawab dengan jujur. Lalu saat anak itu tetap diam, ia memegang tangan anak itu dan menanyakan keberadaan nenek serta suaminya, serta Hee Yeon meminta anak itu untuk mengantarkannya.

Tapi anak itu melepaskan tangan Hee Yeon, lalu menatap Hee Yeon dan bertanya,”Kamu pasti akan melindungiku, ‘kan? Kau pasti akan berada di sisiku, ‘kan?”

Hee Yeon mengangguk, lalu ia memeluk anak itu dan membelainya. Setelah itu Hee Yeon segera bersiap-siap, ia menutup semua cermin, jendela serta pintu dan memasang benda yang diberikan oleh wanita dengan tongkat kepadanya dipintu kamar anaknya.


Lalu ia memberitahu anaknya,"Dongeng apa yang paling digemari oleh Joon Hee?”

“Haenim Dalnim (Matahari dan Bulan),” balas Joon Hee.

“Iya ya? Haenim Dalnim. Kalau begitu, mulai sekarang Joon Hee akan berubah menjadi Haenim Dalnim. Untuk bisa memangsa Joon Hee, harimaunya akan berpura-pura menjadi eomma dari luar pintu. Di saat itu apa yang diperbuat Haenim?”

“Meminta harimaunya untuk mengulurkan tangannya.”

“Betul. Kalau begitu Joon Hee saat mendengar suara Eomma akan langsung percaya atau tidak percaya?”
“Tidak percaya.”

“Tidak. Tidak boleh percaya siapapun. Mengerti? Jika malam ini telah berlalu dan eomma belum juga kembali segera hubungin Ajeossi polisi,” kata Hee Yeon sambil memberikan sebuah kartu nama, Detektif Kim Jin Yong.


Setelah itu Hee Yeon pergi bersama anak itu, mereka berjalan masuk kedalam hutan dan lalu kedalam gua tersebut. Lalu di dalam anak itu memberitahu Hee Yeon untuk jangan mengeluarkan suara apapun, tidak peduli suara apa pun yang terdengar, jangan sekali-kali dijawab. Anak itu memegang tangan nya dengan erat, jadi Hee Yeon balas menggenggamnya.

Mereka masuk menuruni tangga dam dengan cahaya dari lampu senter, mereka berjalan makin masuk kedalam. Ketika itu terlihat bahwa mereka sudah tidak saling berpegangan tangan lagi, tapi anak itu berjalan didepan Hee Yeon dan menuntun nya.


Suara tetesan air terdengar dari dalam gua. Lalu tampak penglihatan Hee Yeon jadi makin kabur, jadi ia mengucek matanya dan tanpa sadar ia terjatuh, serta bersuara. Tapi ketika ia bangun, ia mendengar suara yang bertanya. Siapa? Eomoni ya? Eommama. Kau disana?

Anak itu tampak ketakutan dan sedikti mundur. Lalu pada saat itu Hee Yeon mendengar suara suaminya,”Maaf, ada orang di sana? Mataku sekarang tidak bisa melihat sama sekali. Tolong bantu aku.”

Lalu ia mendengar juga suara anaknya, Joon Hee, yang menangis,”Eomma. Saat mengikuti Eomma, aku tersesat. Aku tidak tahu di sini itu dimana.”

Lalu suara suami yang menyahut,”Joon Hee! Joon Hee ya? Joon Hee, Eomma ada di sini. Hee Yeon, kau disana ‘kan? Hee Yeon, sekarang mataku tidak bisa melihat.”

Hee Yeon kebingungan mendengar suara-suara itu, tapi ia lalu berjalan ke arah suara anaknya. Tapi ketika itu suara suami berteriak lagi memanggilnya,”Hee Yeon, jangan dengarkan suara itu! Bisa jadi itu adalah suara gadis kecil itu. Hee Yeon jangan percaya pada anak gadis itu! Aku jadi seperti ini karena mengikuti anak kecil itu. Hee Yeon, kamu bisa dengar aku bicara?”

“Eomma,” teriak sebuah suara memanggilnya,”Di sini ada seoang ajeossi yang sangat aneh. Dia mendekatiku.”

Anak itu yang bersama Hee Yeon masih tetap berdiri dan diam saja dibelakang Hee Yeon, tapi karena mendengar suara itu Hee Yeon tidak tahan lagi dan berteriak memanggil nama anaknya,”Joon Hee! Joon Hee!”


Karena hal tersebut, anak itu memegang tangan Hee Yeon dengan wajah sedih, ia berusaha menyadarkan Hee Yeon. Tapi Hee Yeon tidak peduli lagi dan berjalan masuk makin kedalam. Dan tepat ketika itu seseorang dengan tubuh berdarah keluar dan mengejar mereka, sehingga mereka segera berlari dan bersembunyi.

Pada saat itu Hee Yeon mendengar suara-suara lagi yang membuatnya menjadi stress dan bingung, jadi ia menutup telingannya. Tapi ketika itu sebuah tangan menyentuh Hee Yeon dari belakang dan suara suaminya mengajak Hee Yeon untuk beristirahat dengan tenang karena selama ini sudah melelahkan bagi mereka.

Dan tiba-tiba Hee Yeon mendengar teriakan suaminya agar menyingkir dari situ, jadi Hee yeon tersadar dan segera berlari menjauhi tangan itu.

Lalu dia melihat suaminya dan didepan mereka ada sebuah kaca besar. Didalamnya seseorang mencoba untuk keluar dengan memecahkan kaca itu, tapi karena si suami tidak mampu untuk melihat lagi, maka ia meminta Hee Yeon untuk pergi duluan dan memanggil bantuan.

Si polisi datang dan masuk kedalam hutan. Sedangkan didalam gua Hee Yeon masih berusaha untuk memanjat naik keatas, tapi ia tidak sanggup, bahkan ponselnya pun terjatuh dan ketika tangannya akan terlepas dan ia akan jatuh. Sebuah tangan memegangnya dan bertanya apa ia tidak apa-apa.

Melihat wajah si mudang yang tampak hancur dan berdarah sambil tersenyum kepadanya, segera Hee Yeon melepaskan tangannya dan terjatuh. Si suami yang masih berada dibawah segera membantu Hee Yeo untuk berdiri dan tidak jauh dari situ, saat anak itu melihat kejadian itu dan ia segera berlari.


Si suami dan Hee yeon pun ikut berlari, tapi ketika itu mudang tersebut muncul untuk menangkap mereka dan anak itu. Sehingga mereka bertiga menjadi ketakutam, lalu tepat ketika itu cermin besar itu retak dan dari bawah mutang itu tampak sudah tidak kuat lagi.

Jadi karena manyadari situasi itu, si suami segera mengajak Hee Yeon untuk segera pergi. Tapi anak itu memanggil Hee Yeon dan menghentikan gerakan Hee Yeon,”Eomma.”

Hee Yeon tampak tidak tega untuk meninggalkan anak itu sendirian, tapi si suami yang mendengar suara anak itu segera berkata,”Anak perempuan itu? Hee Yeon. Jangan percaya padanya. Jangan sekali-sekali percaya padanya! Cepat pergi Hee yeon! Hee Yeon!”



Anak itu menangis meminta Hee yeon untuk tidak pergi, sehingga Hee Yeon menjadi dilema. Tapi tepat ketika itu Hee Yeon sadar penglihatan nya tampak makin kabur, jadi ketika si suami menarik tangannya ia pun pergi keluar mengikuti suami itu.

“Eomma, bukankah kamu bilang akan melindungiku? Eomma! Eomma! Bukankah kamu bilang akan selalu berada di sisiku?” tangis anak itu sambil memanggil-manggil Hee Yeon.

Cermin itu akhirnya pecah dan si mudang pun menghilang.


Hee Yeon menuntun suaminya untuk keluar. Tapi ketika ia mendengar suara anak nya Joon Seo, Hee Yeon berbalik. Tapi si suami gantian menuntun Hee Yeon dan mengajaknya untuk segera keluar,”Yeobo! Kita harus secepatnya naik ke atas. Yeobo! Itu bukan Joon Seo. Kau juga tahu.”

Hee Yeon tidak tega dan kembali turun kebawah, walaupun si suami berteriak memanggilnya. Hee Yeon tetap berjalan dan masuk, lalu ia meminta maaf kepada suaminya.

Sambil menangis Hee Yeon berjalan masuk makin kedalam kembali dan menuju ke arah suara anaknya. Walau ia sudah tidak bisa melihat dengan jelas, ketika Hee Yeon melihat anaknya, ia segera berlari dan memeluk anak itu,”Joon Seo! Joon Seo! Eomma sangat merindukan mu, Joon Seo.” Katanya sambil menangis. Anak itu pun balas memeluk Hee Yeon dengan erat-erat.

Si polisi membantu si suami untuk keluar. Sedangkan Hee Yeon pergi bersama dengan anak itu, masuk dan makin masuk sangat dalam, hingga akhirnya mereka menghilang.

Pintu gua itu pun ditutup dan diberikan garis polisi berwarna kuning. Tapi suara-suara didalam hutan itu masih terdengar dari jauh, Eomma, Eomma, kau mau meninggalkanku? *suara anak kecil tertawa* Eomma, kemarilah. Aku merindukanmu. *suara anak kecil tertawa*. Suara lonceng.


No comments:

Post a Comment