Wednesday, July 11, 2018

Sinopsis K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 09-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Ms. Hɑmmurɑβi Episode 09-1
Images by : JTBC
O Reum mulai memperhatikan Ba Reun sejak melihat Ba Reun bermain gitar untuk ibunya. Tetapi, Ba Reun terlihat acuh tidak acuh terhadap O Reum sekarang. Ba Reun juga pergi menemui Hakim Han untuk memberikan saran.
Sek. Lee beristirahat ke taman yang ada di sekitar pengadilan. Dan saat itu, dia melihat Bo Wang. Sek. Lee menggodanya dengan mengatakan kalau bokong Bo Wang indah. Bo Wang senang dan balik bercanda kalau apa yang di katakan sek. Lee termasuk pelecehan. Tetapi, Sek. Lee mengira ucapan Bo Wang serius, sehingga dia membungkuk meminta maaf karena seorang panitera sepertinya sudah berani melecehkan hakim. Bo Wang gagap dan berteriak kalau dia hanya bercanda. Dia menyukainya. Menyukai di puji oleh wanita menawan. Sek. Lee membalas kalau tadi dia tidak memuji bokong seorang hakim tetapi seorang pria tampan. Bo Wang terkeseima mendengarnya.
Tetapi, dia kemudian bertanya mengenai foto yang ada di meja Sek. Lee. Apa pria tua itu pacar Sek. Lee? Sek. Lee kaget mendengar pertanyaan itu, dia tidak menyangka kalau Bo Wang mengira pria itu pacarnya dan itu alasan Bo Wang tidak pernah lagi berkunjung ke ruangan Ba Reun. Sek. Lee tidak menjawabnya dan malah berlalu pergi. Bo Wang semakin kesal dan mengira kalau pria itu benar-benar pacar Sek. Lee.

Sek. Lee berbincang dengan O Reum dan O Reum menanyakan pendapat sek. Lee mengenai Bo Wang. Sek. Lee menjawab kalau Bo Wang adalah putra dari keluarga kaya yang tumbuh besar tanpa kekhawatiran. Tapi, terkadang pria sepertinya gegabah dan tidak acuh. Mendengar kata acuh, O Reum mulai bertanya apa semua pria seperti itu? O Reum bercerita kalau dia punya teman yang dimana ada kolega temannya mengunjungi ibu temannya kemarin. Tetapi, kolega temannya terlihat tidak acuh. Dan temannya jadi bertanya apa yang di pikirkan koleganya tersebut? Sek. Lee tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, dia bisa tahu kalau ‘teman’ yang di sebut oleh O Reum adalah dirinya sendiri dan ‘kolega’ yang di maksud adalah Ba Reun. Belum selesai pembicaraan mereka, Hakim Han memanggil O Reum.
Hakim Han menyarankan O Reum untuk menyerahkan beberapa kasus-nya ke Ba Reun agar cepat selesai. Dia bukannya menyalahkan O Reum, tetapi dia merasa kalau O Reum mengerjakan lebih banyak kasus daripada Ba Reun, karena hakim yang digantikan O Reum tiba-tiba berhenti sehingga kasusnya menjadi tanggung jawab O Reum. O Reum bertekad akan menyelesaikannya. Lagipula, jika Ba reun tahu, dia mungkin akan tidak senang. Hakim Han kesal mendengarnya dan menyuruh O Reum untuk menurutinya saja karena ini perintah. Dia menyerahkan berkas kasus baru untuk O Reum segera periksa.
Ditempat lain,
Seorang pria bertemu dengan broker yang akan memperkenalkannya dengan mantan hakim yang telah beralih profesi menjadi pengacara. Hwang Mal Dong. Broker menyakinkan klien-nya kalau pengacara Hwang adalah teman akrab Hakim Han karena mereka dari satu institusi dan pernah berkolega sebagai hakim.
Di pengadilan,
Hakim Han bercerita mengenai Hwang Mal Dong kepada O Reum dan Ba Reun. Dia sangat tidak suka padanya, hubungan mereka buruk. Dulu, di institusi, Hwang selalu mem-bully nya karena dia tua dan juga dia selalu membuatnya tampak bodoh di depan ketua majelis. Yang jelas, dia benar-benar tidak menyukai-nya.

Di restoran,
Broker membujuk klien itu untuk percaya padanya. Kasus ini hanya bisa di menangkan oleh pengacara yang mengenal hakim.
Sementara itu, Hakim Han sedang makan dengan O Reum dan Ba Reun diluar. Dia bertanya apa O Reum sudah mempelajari kasus yang memiliki pengacara Hwang itu? O Reum memberitahu kalau kontrak tertulis jelas, jadi kesimpulannya juga. Jadi, dia juga heran, kenapa mereka butuh pengacara?
Di restoran,
Broker meminta bayaran 30.000 dollar kepada klien. Klien terkejut mendengar angka bayaran pengacara Hwang yang sangat mahal. Broker memberitahu kalau pengacara Hwang itu ibarat tas eklusif.
Di tempat lain,
O Reum mengatakan kalau menjadi pengacara itu sulit belakangan ini, bahkan untuk menghasilkan 30.000 dollar per bulan. Hakim Han menjawab kalau lebih banyak orang yang kesulitan. Dan lucunya, Hakim Han bahkan harus berebut sepotong acar lobak terakhir dengan Ba Reun walaupun dia yang menang.
Setelah selesai, mereka pergi membeli kopi americano di cafe. Hakim Han menanti di meja, sementara O Reum yang membeli ke kasir. Ba Reun menyusulnya dan mengambil jatah kopinya sendiri. Saat dia kembali, Hakim Han mengira kalau itu miliknya dan sudah mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tetapi, Ba Reun segera meminumnya dan dengan tenang memberitahu kalau itu kopi miliknya. Hakim Han jelas malu. O Reum datang dan memberikan kopi Hakim Han.
Hakim Han pergi ke apotek. Dia mau membeli obat sakit perut dan stress. Dia sudah akrab dengan dokter apotek. Hakim Han juga mengeluh kalau anak muda jaman sekarang sangat tidak sopan. Dokter dengan ramah sambil bercanda menyuruh Hakim Han untuk tidak mengatakan hal seperti itu karena itu akan membuatnya di juluki ‘keledai tua’. Hakim Han tersinggung mendengarnya dan mengomel dia sudah stress di rumah dan di kantor, apa dia tidak boleh mengeluh?
Di pengadilan,
Sidang di mulai,
Pengacara Hwang sebagai pengacara penggugat mulai membacakan tuntutan terhadap tergugat. Dia mempermasalahkan kasus apartemen dengan panjang lebar. Hakim Han menegurnya, ini kasus mengenai wadah kosmetik bukan apartemen. Pengacara Hwang meminta maaf dan segera mencari berkas kasus yang sudah di kerjakannya dari tumpukan kasus yang di bawanya. Penggugat (klien) sampai gugup melihat tingkah pengacaranya yang asal. Pengacara Hwang meminta maaf dan beralasan kalau manager-nya salah memberikan berkas.
Pengacara Hwang mulai kembali. Dia memberitahu kalau perusahaan kosmetik sudah sewenang-wenang dengan penggugat. Dia meng-klain kalau wadah kosmetik yang di buat oleh penggugat tidak ada cacat yang cukup berarti sampai kontrak bisa di batalkan.
Saat itu, Ba Reun merasa leher-nya sakit karena kurang tidur. Sehingga, dia menunduk-nundukkan kepalanya.  
Pengacara dari pihak tergugat, perusahaan kosmetik, membantah pernyataan pengacara Hwang. Dia menengaskan kalau tutup wadah kosmetik yang dibuat penggugat cacat.
Saat itu, O Reum sempat tersenyum sedikit melihat pertengkaran antar pengacara itu. Hakim Han segera memelototinya.
Pengacara Hwang memberitahu Hakim Han kalau dia sudah menyerahkan kontrak antara penggugat dengan perusahaan kosmetik tersebut. Hakim Han dengan emosi memberitahu kalua kontrak yang di serahkan pengacara Hwang adalah kontrak kasus apartemen. Dia memarahi pengacara untuk menyiapkan berkas dengan baik. Pengacara Hwang meminta maaf dan beralasan kalau manajer-nya keliru. Hakim Han kesal dan menyuruh pengacara Hwang agar manager pengacara Hwang saja yang melanjutkan sidang (karena pengacara Hwang selalu berkata manajer setiap salah). Pengacara Hwang terdiam kesal. Sementara penggugat juga kesal melihat kinerja pengacara.
Sidang selesai.
Hakim Han mengomel kalau sidang selalu membuatnya emosi. Dia tidak bisa menahan amarahnya. Ba Reun menjawab lebih baik jika Hakim Han tidak kehilangan kendali. Hakim Han langsung memelototinya. Dan Ba Reun segera mengalihkan pandangan.
Pengacara Hwang kembali ke kantornya. Dia curhat kepada temannya, mengenai Hakim Han yang sangat galak dan kejam. Padahal dia hanya membawa kekeliruan kecil, tapi dia malah mempermalukannya tadi. Padahal mereka dulu kolega, tetapi dia sama sekali tidak menghormatinya. Temannya tertawa dan memberitahu kalau Hakim Han memang terkenal akan hal itu sehingga dia tidak pernah di promosikan.
Pengacara Hwang juga memberitahu kalau dia sudah memberikan 30% kepada broker dan merasa tidak adil. Dia yang harus menjalankan kantor pengacara sementara orang lain yang akan menuai hasil.
Penggugat bertemu dengan broker. Dia bertanya apa benar pengacara Hwang itu dekat dengan hakim? Karena yang tadi dia lihat di pengadilan tidak seperti itu. Broker malah berkata kalau pengacara Hwang dan Hakim Han tidak bisa bertingkah akrab karena sedang dilihat banyak orang. Dia beralasan kalau Hakim Han galak di pengadilan tadi agar tidak ketahuan orang lain kalau dia sudah membuat keputusan (untuk memenangkan pengacara Hwang). Penggugat dengan polosnya percaya. Broker malah meminta uang tambahan untuk biaya pemosresan. Penggugat jelas heran, biaya apa lagi?
“Pengacara Hwang harus mentraktir para hakim nantinya. Orang Korea tidak akan membuka diri jika tidak makan bersama,” jelas broker.
Dan dia meminta uang sebesar 5000 dollar. Penggugat terkejut mendengar angkanya. Broker juga menyuruh penggugat untuk membayarnya tunai. Dia juga beralasan kalau pengacara Hwang dulunya mantan hakim, jadi tidak enak jika meminta secara langsung. Karena itu, dia yang akan menerima uangnya.

Perwakilan dari perusahaan kosmetik yang tadi ikut sidang, bercerita mengenai kabar kalau dulunya pengacara Hwang adalah mantan hakim dan pasti mengenal para hakim. Mereka merasa khawatir akan kalah jika tetap memakai pengacara internal perusahaan mereka walaupun isi kontrak jelas (perusahaan tidak melakukan kesalahan). Dan kemudian, salah seroang dari mereka, berkata ada hal yang aneh. Pengacara Hwang tadi terus membuat kesalahan sepele, tetapi Hakim Han tidak berkomentar apapun. Kemudian, hakim pembantunya juga aneh. Tadi, dia melihat hakim pembantu pria (Ba Reun) terus mengganggukan kepala terhadap peryantaan pengacara Hwang (kenyataannya, ini karena leher Ba Reun sakit). Kemudian, hakim pembantu wanita (O Reum) menyeringai terhadap pengacara mereka seperti mentertawakan mereka (kenyataannya, O Reum tertawa karena melihat pertengkaran pengacara tersebut). Mereka jadi semakin cemas dan memutuskan untuk menyewa firma hukum top, jadi mereka tidak akan malu walaupun kalah. Lagipula, pihak perusahaan yang akan membayar pengacara tersebut.
Sek. Lee masuk ke ruangan Ba Reun dan memberitahu kalau akan di adakan rapat. Rapat tentang dugaan pilih kasih terhadap mantan hakim.
Repat dimulai. Hakim Kepala memberitahu kalau politikus dan media mendesak mereka untuk mencari solusi dari sikap pilih kasih terhadap mantan hakim. Tata Usaha Negara mempertimbangkan untuk merekam semua pembicaraan dari telepon ruangan hakim. Hakim Han tidak setuju, karena percuma, jika hendak membahas gratifikasi pasti para hakim (yang menyeleweng) tidak akan membicarakannya di telepon. Lagipula, mantan hakim sudah tidak punya keistemewaan lagi. Hakim Han merasa kalau itu sudah tidak relevan. Hakim Kepala memberitahu kalau mereka harus adil, jika masyarakan meragukan mereka, mereka harus mencari solusi.
Rapat selesai.

Hakim Han makan dan duduk bersama Ketua Majelis Hakim Gam, dan yang lain. Sementara Ba Reun dan O Reum duduk di meja sebelum. Hakim Han masih kesal dengan rapat tadi. Hakim Gam menyuruhnya untuk tidak selalu marah. Hakim Kwon ikut nimbrung dan setuju dengan Hakim Han.
O Reum ikut nimbrung.
“Anda pikir masyarakat merasa mantan hakim diberi keistimewaan karena masyarakat bodoh? Bukankah itu karena kita menunjukkan sikap itu dan juga pernah terjadi?”
“Kamu mempertanyakan integritas seniormu?” tanya Hakim Kwon.
“Tidak. Aku tahu sebagian besar dari kalian tidak bersalah dan hanya sedikit yang salah. Pak, meski hanya ada satu buah apel busuk dalam satu kotak penuh, tidak mengubah kenyataan bahwa apel busuk itu tidak ada. Bagaimana jika apelnya beracun? Meski kemungkinan hanya satu banding sepuluh, atau seratus, pasti orang akan mati jika memakan apel beracun itu.”
Hakim tersebut marah mendengarnya. O Reum malah lanjut kalau ketika menjadi hakim kita pasti menentang hal seperti mantan hakim. Tetapi, ketika kita sudah menjadi pengacara, kita pasti akan bilang aku berteman dengan hakim, tenang saja. Hakim Han menegurnya untuk diam. O Reum terdiam karena menyadari kalau sudah kelewatan menyuarakan pendapat. Hakim Gam membela O Reum yang berkeyakinan kuat dan itu hal bagus. Jangan terlalu keras padanya. Tetapi, Hakim Han sudah terlanjur kesal dan pergi dari sana.
O Reum sedang berjalan di taman dan melihat Hakim Gam. O Reum menyapanya dan menunduk terimakasih karena tadi dia sudah membelanya. Hakim Gam tersenyum. Dia kemudian memberikan nasihat : Ada pedang bermata tajam dan ada yang tumpul. Tugas-tugas penting di dunia ini di selesaikan dengan pedang tumpul. Pedang tajam mudah rusak. Begitulah dunia ini. Aku yakin kamu akan berbuat banyak hal hebat. Aku tidak cakap, tapi pandai menilai orang.
O reum tersentuh mendengar hal tersebut.
Hakim Han memanggil O Reum dan Ba Reun ke ruangannya. Dia menegur sikap O Reum yang sangat lancang kepada Hakim Kwon tadi. O Reum meminta maaf, tetapi dia terus menyuarakan pendapatnya. Hakim Han kesal dan menyuruhnya untuk diam. Hakim Kwon lebih berpengalaman 20 tahun dari O Reum. Jadi, dia lebih tahu daripada O Reum. Dan juga mereka juga punya kasus yang melibatkan mantan hakim, pengacara Hwang. Jadi, apa O Reum pikir dia juga pilih kasih padanya atau mantan hakim lain?
“Ketidakramahan Anda setara kepada semua orang,” jawab Ba Reun.
Hakim Han kesal mendengarnya.
O Reum dan Ba Reun lembur untuk menyelesaikan kasus. O Reum meminta maaf, karena Ba Reun harus bekerja lembur karena mendapat limpahan kasusnya. Ba Reun tidak masalah karena sudah perintah dari Hakim Han.
Ba Reun kemudian membahas sikap O Reum terhadap Hakim Kwon yang dia rasa seperti membuat musuh. O Reum tetap merasa dia benar. Dia hanya menyuarakan pendapatnya karena Hakim Kwon tadi menyalahkan ketidaktahuan orang-orang.
Esok hari,
O Reum ke kantor. Dan di depan pengadilan, terlihat sekumpulan orang melakukan demo terhadap Hakim Han dan Ba Reun.
O Reum dengan panik masuk ke ruangannya dan bertanya apa Ba Reun sudah melihat para pendemo di luar? Ba Reun dengan tenang menjawab sudah, dan dia juga merasa itu hal yang wajar karena konon katanya itu pengalaman dari menjadi hakim. Jadi dia merasa terhormat karena itu terjadi di awal karir-nya. O Reum penasaran, apa alasan mereka demo?
“Aku meminta penjelasan. Keluhannya seperti novel dan pernyataannya tidak ada yang masuk akal. Aku memintanya merevisi berdasarkan berberapa poin penting dan memberikan penjelasan lebih lanjut,” jelas Ba Reun.
“Kalau begitu, kamu membantunya.”
“’Anda menghinaku.’ Semacam itulah. Pemimpin LSM itu percaya bahwa dirinya pakar hukum autodidak. Sejujurnya orang bijaksana dan logis jarang berteriak dan protes di jalanan seperti itu. Mayoritas dari mereka pemarah, galak dan keras kepala. Astaga.”
“Mau kukatakan sebabnya? Cendekiawan terpelajar yang ‘bijaksana dan logis’ tidak akan protes di jalan begitu. Mereka hanya mengamati pemrotes di jalan dari jendela sambil duduk di kantor yang tenang dan rapi. ‘Astaga, kenapa mereka sangat keterlaluan?’ ‘Kenapa mereka berisik sekali?’ Mereka berpikir begitu.”
Ba Reun membalas O Reum. Dia tahu maksud perkataan O Reum dan merasa pemikiran O Reum terlalu dangkal. Apa menurut O Reum, kaum lemah selalu benar dan kita harus menerima begitu saja walau pernyataan mereka fitnah dan tidak beralasan? Ba Reun memberitahu kalau pemimpin protes mengajukan lebih dari 20 gugatan hukum, dia asal mengajukan gugatan hukum dan menuntut hakim jika kalah. Lalu, dia akan mengajukan gugatan hukum yang sama dengan judul berbeda. Karena dia, orang yang memang mengalami ketidakadilan harus menunggu lebih lama karena sidang mereka.
O Reum tidak setuju dengan kritikan Ba Reun. Dan Ba Reun segera menghentikan pembicaraan mereka sebelum mereka berdua semakin panas.
Hakim Gam duduk di taman. Dan banyak hakim pembantu yang dekat dengannya dan menyapanya dengan ramah. Mereka bahkan tertawa-tawa. O Reum melihatnya dan ikut bergabung.
Nn. Lee sedang menghentikan seorang pemabuk untuk masuk ke pengadilan dan dia hendak memeriksa ranselnya. Ba Reun ada di sana dan melihat hal tersebut. Bukan hanya dia, tetapi juga semua pengunjung di pengadilan. Pemabuk itu marah dan menendang tas-nya dengan kasar. Isi tas keluar sedikit dan terlihat di dalamnya ada brosur berisi protes untuk menangkap Hakim Han dan Ba Reun. Pemabuk itu bahkan memperlakukan nn. Lee dengan kasar. Nn. Lee segera mengeluarkan jurus judo-nya dan membanting pria itu karena sudah membuat kekacauan.
Nn. Lee berbincang dengan Ba reun. Dia memberitahu kalau dia sudah biasa menghadapi hal seperti tadi. Ba Reun mengira kalau nn. Lee pasti tidak takut dengan hal seperti tadi karena ahli bela diri.
“Salah. Aku juga bisa takut. Sehebat apapun kemampuan seni bela diriku, pria yang lebih besar dan lebih kuat dariku menakutkan. Tapi pria tadi hanya pemabuk, jadi, bukan masalah,” beritahu Nn. Lee.
Ba Reun kembali ke ruangan. Dan saat dia masuk, dia melihat O Reum sedang mempelajari kasus LSM itu (kasus yang orang-orangnya protes kepada Hakim Han dan Ba Reun). Ba Reun bertanya kenapa O Reum melihat kasus itu padahal itu kasusnya?
“Pasti ada alasan dia berlaku begini,” jawab O Reum.
“Hakim Park, aku mengerti kamu peduli dengan kaum lemah, tapi kamu harus lebih selektif,” jawab O Reum.
“Akan ku tangani ni. Fokuslah pada pekerjaanmu,” ujar Ba Reun dan mengambil berkas kasus. “Pekerjaanmu sudah banyak.”
O Reum kesal mendengarnya.
Bo Wang berpas-pasan dengan sek. Lee di lorong tetapi dia mengabaikannya.


No comments:

Post a Comment