Adsense

...

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 5 - part 4



Network : Channel 3



Disebuah gedung. Pat bersama temannya menjual tiket amal bersama, tapi sejak pembukaan dia hanya bisa menjual kurang dari pada 10 lots. Dan tepat disaat itu, Wes datang untuk menjemputnya, jadi Pat pun pamit untuk pergi bersama dengan anaknya itu. Tapi ketika dia melihat Pen juga ikut, maka Pat pun tidak jadi dan kembali duduk untuk menjual tiket amal bersama dengan temannya.



Pas disaat itu, seorang wanita yang mengenali Pen sebagai seorang artis, dia mengajak Pen untuk berfoto bersama, karena dia adalah fans Pen. Dan dengan senang hati, Pen berfoto bersamanya. Lalu Pen menjelaskan kepada wanita itu bahwa hari ini dia sedang membantu Klub istri rumah tangga Army dalam menjual tiket amal dan Pen menawarkan kepada wanita itu. Dan dengan senang hati, wanita itu mau membeli 2 lots.

“Mom, tolong 2 lots,” kata Pen sambil tersenyum kepada Pat. Dan dengan terpaksa, maka Pat pun tersenyum, karena dia harus melayani si wanita yang ingin membeli.


Lalu Pen berteriak dan memanggil setiap orang disana untuk ikut berpatisipasi. Dan karena itu, beberapa orang yang tertarik pun berkumpul dan membeli tiket amal tersebut. Lalu Wes mengacungkan jempol nya kepada Pen, tanda ‘kerja bagus’.



Dirumah. Wat berjalan dengan sikap gelisah dan cemas. Dan tepat disaat itu, Vi pulang sambil membawa banyak kantong belanjaan. Vi lalu menanyakan kepada Wat tentang apa yang sebenarnya Wat  bicarakan dengan Nok, karena Nok sama sekali tidak mengangkat telponnya atau bahkan menelpon balik dirinya, kepadahal dia mau membelikan tas baru untuk Nok dan mau menanyakan tentang warna mana yang Nok sukai.

“Tidak ada. Dia ada dengan Nai. Dan dia akan pulang, jika dia sudah merasa lebih baikan,” kata Wat dengan gugup.

“Merasa lebih baik? Jangan bilang padaku bahwa kamu dan Nok…” kata Vi dengan curiga.
“Aku tidak bermaksud seperti itu,” balas Wat.

Dan Vi lalu menjatuhkan semua kantong belanjaan yang ada ditangannya. “Beritahu aku detailnya,” kata Vi dengan tegas.



Nai membawa Nok berhenti disebuah restoran. Dan melihat tempat dimana mereka berada, Nok bertanya dengan heran apa Nai lapar. Lalu Nai pun menjelaskan bahwa Nok harus makan sesuatu.

“Aku tidak lapar,” kata Nok.

“Paman dan tante menelponku. Setelah pulang, kita mungkin harus menjelaskan nya. Dan kamu belum ada makan apapun sejak siang. Ayo isi beberapa energi,” balas Nai. Tapi Nok hanya diam dan tetap duduk di dalam mobil. Lalu Nai pun pergi keluar sendirian dari dalam mobil untuk membeli makanan.



Didekat air mancur. Nok duduk sambil merenung. Lalu Nai mendekat sambil membawakan roti untuk Nok. Tapi Nok menolak untuk makan. Dan dengan penuh perhatian, Nai membujuk Nok untuk makan segigit saja, lalu karena itu, maka Nok pun setuju untuk makan segigit saja.


Dan setelah Nok makan segigiti roti, Nai membujuk Nok lagi untuk makan segigit lagi. Jadi Nok pun makan lagi segigit roti, lalu kemudian dia mengatakan bahwa dia sudah kenyang. Tapi Nai membujuk lagi, dia mengatakan bahwa rotinya masih banyak tersisa dan dia meminta Nok untuk makan segigit lagi. Jadi akhirnya, Nok mengambil dan memakan semua roti itu.



“Khun Nok. Bisakah kamu membiarkan paman untuk menentukan hidupnya sendiri? Apapun pilihannya, aku percaya kamu akan selalu menjadi yang pertama dihatinya,” kata Nai, memberikan pengertian kepada Nok.

“Aku tahu bahwa Ayahku mencintaiku. Aku mencintai dia juga. Tapi wanita yang dipilihnya harus lah seorang wanita yang baik. Bukan tipe yang lapar uang yang menghisap darahnya seperti ini,” balas Nok.



Nai memberikan pengertian agar Nok mau membuka pikiran dan mengerti. Sehingga dengan itu, mungkin saja Wat akan lebih mendengarkan Nok. Tapi Nok tidak mau menerima Khae, karena kebahagiaannya hancur karena Khae.

“Dan apa yang telah kamu lakukan membuatmu bahagia?” tanya Nai.

“Kamu mencoba membujukku untuk membantu dia, kan? Kamu melakukan itu untuk Ayah, kan?” balas Nok.

“Segala yang aku lakukan… Itu hanya untuk kamu,” balas Nai dengan serius sambil tersenyum. Dan mendengar itu, Nok terdiam.



Direstoran. Dengan sikap sopan. Pen mengambilkan potongan daging ayam dan menaruhnya di piring Pat. Tapi Pat menyingkirkan ayam yang Pen berikan padanya itu dan dia mengatakan pada Pen bahwa Pen tidak perlu mengambilkan untuknya, lalu Pat meminta Wes untuk mengambilkan kartu diskon miliknya yang tertinggal di mobil. Jadi Wes pun pergi meninggalkan mereka berdua.



Lalu setelah Wes pergi, dengan sikap yang tetap sopan, Pen mengambilkan udang dan menaruhnya di piring Pat. “Kamu tidak suka ayam, kan?” kata Pen.

“Biasanya aku suka itu. Tapi aku pikir itu tidak ‘bersih’. Jadi aku tidak berani makan itu,” balas Pat, menyindir Pat.



“Tidak ada yang jelas atau yang 100% bersih. Jika kamu akan membuka pikiranmu,” balas Pen.

“Aku telah mencoba untuk ‘membuka mataku’. Tapi tindakanmu memperlihatkan latar belakangmu. Kamu terlalu gampangan atau berpura- pura terlihat baik.”

“Aku memang kurang berpendidikan. Jika Mom mau memberiku kesempatan. Tolong ajarin aku.”

“Bahkan walaupun kamu besar di dalam rumah seorang bangsawan. Kamu masih tidak bisa menyerap beberapa perilaku baik sama sekali. Aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan gadis yang tidak murni seperti kamu.”

Mendengar itu, Pen menjadi kesal. “Mom.”

“Aku tidak nyaman untuk membiarkan orang asing memanggilku ‘Mom (Ibu)’. Karena aku orang yang pemilih,” kata Pat dengan tegas.



Dengan bangga, Pen mengatakan bahwa Wes mencintainya. Dan mendengar itu, Pat tersenyum, lalu dia mengatakan bahwa itu hanyalah imajinasi Pen saja, karena ketika Wes membuka matanya, maka tidak akan terlambat untuk Wes memutuskan Pen.

Lalu tepat disaat itu, Wes kembali. Dan walaupun kesal, tapi Pen tidak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa menahan emosinya saja dengan cara memegang erat serbetnya.



Dirumah. Wat merasa sangat cemas, karena Nok belum pulang. Sedangkan Vi dengan santai, dia membaca majalah, karena dia percaya Nai akan membawa Nok pulang. Lalu Wat menanyakan kepada Vi bagaimana caranya untuk membuat Nok mengerti bahwa mereka berdua tidak akan bisa bersama lagi.

Tepat disaat itu. Nok dan Nai pulang. Lalu Nok mengatakan bahwa dia mengerti, bahkan dari sebelum dia pergi sekolah keluar negri, dia tahu kalau Ibu dan Ayahnya telah berpikiran untuk bercerai.


“Jadi jika kamu sudah tahu, bagaimana tentang apa yang baru saja berlalu itu?” tanya Vi dengan heran. Lalu Nok memandang ke arah Nai sebentar dan Nai menganggukan kepalanya.



Setelah itu Nok pun menjawab bahwa dia tahu kalau dia bukanlah anak kecil lagi dan dia sadar untuk menghormati keputusan kedua orang tuanya. Lalu Nok meminta maaf karena telah menjadi terlalu keras kepala. Dan Nok menjelaskan bahwa sebenarnya dia hanya ingin mereka bertiga bisa tinggal bersama lagi. Lalu dengan sedih, Nok pun memeluk Wat.

“Aku minta maaf,” kata Wat  sambil memeluk Nok balik. Dan Vi pun ikut memeluk Nok. Sementara Nai, dia hanya melihat itu sambil tersenyum.



“Walaupun Ibu dan Ayah berubah untuk alasan apapun itu. Aku tidak akan pernah merubah cintaku untuk kalian berdua,” kata Nok sambil melepaskan pelukanya.

“Aku menyebabkan kamu menjadi sedih. Aku bukan Ayah yang baik,” balas Wat.

“Tapi aku bangga menjadi putrimu. Ibu bilang namaku berarti ‘seperti Ayah’,” kata Nok.

“Karena kamu adalah hidupku yang lain. Aku sayang kamu, nak,” balas Wat.

“Aku juga,” balas Nok lalu memeluk Wat kembali.



Lalu Wat membahas tentang hubungannya dan Khae. Dan Nok menjelaskan bahwa itu karena cinta, maka dia bisa terima, tapi sebelum ini dia melihat Khae sebagai wanita yang serakah serta hari ini Khae berani untuk menuduhnya agar mendapatkan simpati, jadi Nok tidak bisa menerimanya.

“Nok. Biarkan aku membuat keputusan untuk masalahku sendiri,” kata Wat.

“Ya. Tapi jika aku menemukan wanita itu tidak tulus padamu, aku tidak akan tinggal diam,” balas Nok. Dan Wat ingin membalas. Tapi Nok memotong,” Kelihatannya kamu tidak percaya diri bahwa dia adalah wanita yang baik.”

“Aku yakin tapi…”

“Jika begitu, kita putuskan dengan ini. Ok,” kata Nok. Lalu dia pamit untuk istirahat, karena dia merasa capek. Dan Vi pun mengikuti Nok.



Karena Khae menelpon, maka Nai pun menemuinya. Disana sebelum Nai tiba, Khae mengingat tentang Wat yang membelanya ketika Nok mau menyerangnya dirumah sakit. Lalu tepat disaat itu, Nai datang.

Khae memegang tangan Nai dan sambil tersenyum, Khae mengatakan bahwa dia telah melakukannya seperti perjanjian mereka dan lalu dia menanyakan apa dengan ini mereka berdua bisa kembali bersama lagi.



“Aku tidak memintamu untuk menolak lamaran Paman Wat. Aku hanya meminta waktu agar Khun Nok cukup untuk menerima itu,” jelas Nai dengan tegas.

“Tapi kamu berjanji denganku bahwa jika aku putus dengan Paman Wat, maka kita akan kembali bersama,” balas Khae.

“Aku minta maaf untuk membuat mu salah paham. Tapi aku ingin kamu berpikir hati- hati. Apa aku pernah meminta mu untuk putus dengan Paman Wat,” balas Nai.



Dan Khae pun melepaskan tangan Nai serta marah kepada Nai, karena dia telah melakukan segalanya untuk cinta mereka, tapi Nai malah begini padanya. Dan Nai membalas bahwa dia berterima kasih untuk apa yang telah Khae lakukan untuknya, tapi mereka tidak bisa menjadi lebih dari pada teman sejak Khae dulu pernah meninggalkannya dan akan selalu seperti itu selamanya.

“Apa kamu balas dendam padaku?” tanya Khae dengan sedih.

“Aku tidak pernah dendam. Tapi aku memilih untuk ‘mengerti’ bahwa pada hari kamu meninggalku, itu adalah karena kamu tidak mencintai ku lagi. Hari ini, aku ingin kamu sadar bahwa aku akan tinggal dengan seseorang hanya dengan cinta.”

“Nai…”

“Tentang masalahmu, kamu mungkin butuh waktu. Khun Nok pasti akan bisa menerima itu pastinya. Dan segalanya akan membaik,” jelas Nai. Lalu dia berbalik untuk pergi.



Namun sebelum Nai pergi, Khae langsung menanyakan apa Nai mencintai Nok, bagaimana perasaan Nai ketika melihat Nok menangis, apa itu terasa sakit.

“Khae…”

“Hari ini, kamu pasti melihat nya. Betapa Khun Wat mencintaiku. Aku telah mendapatkan banyak metode untuk membuat Muanchanok terluka. Mati lebih baik daripada hidup,” kata Khae, mengancam.


“Khae! Jangan paksa aku melakukan hal yang mustahil. Aku ingin kamu tahu bahwa bahkan walau aku tidak memiliki Khun Nok. Aku tidak akan pernah kembali padamu,” balas Nai dengan tegas.

“Tidak ada yang permanent, Nai. Kita bisa mengubahnya,” kata Khae sambil tersenyum.

“Tinggal dengan seseorang yang tidak punya perasaan untukmu. Bagaimana kamu akan menjadi bahagia?”

“Sekali. Aku pernah membuatmu mencintaiku. Kamu hanya perlu untuk kembali. Aku yakin. Aku bisa membuat mu mencintaiku sekali lagi,” balas Khae.
Disclaimer : Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini

12 Responses to "Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 5 - part 4"

  1. Semangat ditunggu selalu sampai the end ya kak ☺

    ReplyDelete
  2. episode-episode selanjutnya dtunggu,,,

    ReplyDelete
  3. Ditunggu kelanjutan nya yaa😍😍😍

    ReplyDelete
  4. Ditunggu kelanjutan nya yaa😍😍😍

    ReplyDelete
  5. S3mngt kak.di tunggu terus kelanjutan ny

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Maksih kak..sinopnya..aku suka aku suka

    ReplyDelete
  8. Kreennnn ey lgsung 3 partπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ thank u

    ReplyDelete
  9. Mkasie sis. Ditunggu sinopsis selanjutnya

    ReplyDelete
  10. Terima kasih kak sinopsis nya,semangat buat episode selanjutnya y 😘😘😘

    ReplyDelete
  11. Sambunganya mana yakkk.... semangat dong nulisnyaaa

    ReplyDelete

Tolong Tinggalkan Komentar, Kritik, ataupun Saran untuk Perubahan yang Lebih Baik!!! ^^

Powered by Blogger.