Tuesday, November 13, 2018

Sinopsis Lakorn : Love At First Hate Episode 09 part 2

2 comments

Sinopsis Lakorn : Love At First Hate Episode 09 part 2
Images by : GMM Tv
Esok hari,
Kluay sudah bangun, dan dia secara perlahan, masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata, Pup sudah tidak ada. Dan ada pesan post it yang di tempel Pup di pintu kamar mandi bagian dalam : Istiku, suamimu harus pergi belajar. Sampai jumpa.
Kluay ngedumel kalau seharusnya Pup mengirim pesan saja padanya, tapi dalam hatinya, dia senang juga melihat post it itu. Dan Pup bahkan menggambar muka smile dan tanda heart.
--
Ploy pergi ke tukang reparasi (dengan menggunakan kacamata hitam dan topi untuk menyembunyikan identitas-nya) dan meminta untuk melihat isi kamera itu dan pilih klip yang bagus, kemudian pindahkan ke CD. Tukang reparasi bingung, klip yang bagus seperti apa?
“Lihat saja dulu isinya, dan kau akan mengerti setelah lihat,” perintah Ploy dan memberikan kartu memori kamera.
--
Pup sudah pulang. Dia membawa pulang bukunya dan ingin meletakkan bukunya itu di lemari buku, tetapi ternyata Kluay tidak punya lemari buku. Pup memberikan saran kalau dia akan meletakaan sementara boks bukunya di lantai sampai mereka beli lemari buku. Kluay menolak ide itu, dia tidak suka kamarnya terlihat berantakan, jadi dia menyuruh Pup meletakan bukunya di atas meja tempat dia meletakan barang-barang hadiah fans-nya.
Pup menurut, dia mulai mengatur meja itu agar bisa meletakan bukunya. Dan saat itulah, dia menemukan kamera tersembunyi itu.
“Kluay, kenapa kau meletakkan kamera tersembunyi di kamarmu?” tanya Pup.
Kluay jelas kaget. Dia tidak tahu menahu mengenai kamera itu.
Kluay langsung menemui Ploy di kamar, dan menuduh Ploy yang meletakaan kamera itu. Tetapi, Ploy tanpa malu, membantah hal itu. Dan Ploy malah balik menuduh Pup sebagai pelaku. Kluay langsung memberitahu Ploy kalau Pup lah yang menemukan kamera itu, dan jika dia pelakunya, untuk apa dia memberitahunya mengenai kamera itu? Tetapi, Ploy teru membantah.
Kluay tidak percaya. Dia masuk secara paksa ke kamar Ploy, dan membongkar kamar Ploy. Ploy balik marah. Pup menenangkan Kluay dan menyarankan agar mereka memeriksa lebih lanjut kamar Kluay, mana tahu masih ada kamera lainnya.
Pup dan Kluay mulai memeriksa kamar dengan seksama dan hingga ke setiap sudut. Tetapi, tidak menemukan kamera apapun lagi. Namun, hal ini membuat Kluay tidak tenang hingga malam hari.
“Kluay, aku rasa hanya ada satu kamera tersembunyi. Tapi, aku akan meminjam alat temanku untuk mendeteksi apakah masih ada kamera lain yang terpasang di kamar ini,” ujar Pup.
Pup menyarankan Kluay untuk beristirahat, tetapi Kluay tidak bisa. Dia merasa tidak tenang. Dia khawatir mengenai apa yang terambil oleh kamera itu, bagaimana jika ada foto telanjangnya? Dia merasa sangat takut. Dan karena itu, Kluay memutuskan untuk keluar kamar.
Pup menemani Kluay di ruang tamu. Jika Kluay tidak bisa tidur, maka dia juga tidak akan tidur. Dan mereka bisa menonton TV bersama-sama. Pup berusaha menghibur Kluay. Dan Kluay bisa sedikit terhibur.
“Aku mengerti yang kau rasakan. Apa yang kau hadapi sekarang bukan hal yang bisa di tertawakan. Tapi, setidaknya, kau tidak menghadapi kesulitan ini sendiri,” ujar Pup dan memeluk Kluay.
Mereka akhirnya, tertidur di ruang tamu dalam posisi saling bersandar satu sama lain.
--
Hingga besok, Kluay memberitahu ke Cholsa mengenai kamera itu, dan dia merasa tidak aman. Dia takut jika isi kamera itu tersebar, karir nya akan hancur, dan mungkin juga masa depannya. Cholsa meminta Kluay untuk tenang, dan sebaiknya melihat isi kamera itu. Kluay tidak berani, dan Cholsa menawarkan diri untuk melihatnya.
“WOAAHH!!!” teriak Cholsa kaget hingga melompat mundur.
“Bagaimana?” tanya Kluay, khawatir.
“Oh my god,” ujar Cholsa.
Kaki Kluay langsung lemas.
--
Sepertinya isi kamera itu tersebar, karena beberapa suster melihat ponsel dan menunjuk-nunjuk ke arah Pup yang sedang mengarahkan suster lain. Golf melihatnya, dan Golf juga sedang memegang ponsel di tangannya.
Golf menghampiri Pup, dan dia tahu kalau Pup pasti belum tahu yang terjadi. Tapi, dia akan memberitahunya sekarang, karena cepat atau lambat Pup pasti akan tahu.
Dan apa yang Golf perlihatkan adalah video Pup telanjang dada dan melakukan push up di dalam kamar. Itu isi kamera yang tersebar. Semua medsos heboh membicarakan tubuh hot suami Kluay, dan merasa iri.
--
P’Jub merasa lega karena video yang bocor hanyalah rekaman dr. Pup dan tidak ada Kluay. Jika ada video Kluay, pasti mereka akan terkena masalah besar. P’Jub merasa kalau keberuntungan masih ada di pihak Kluay, tetapi dia juga penasaran dengan orang yang berusaha menjatuhkan Kluay. Siapa orang itu?
--
Ploy dengan menggunakan kacamata hitam dan topi lebar, pergi menemui tukang reparasi. Dia marah-marah karena tukang itu menyebarkan video suami Kluay.
“Bukankah kau yang menyuruhku mendapatkan hal bagus. Apa yang aku sebarkan adalah hal paling bagus di kamera itu,” ujar si tukang.
“Tidak mungkin. Bagaimana bisa hanya ada video telanjang seorang pria? Jangan mencoba membodohiku.”
“Jika kau tidak percaya, lihat saja sendiri.”
Dan Ploy melihatnya. Pas sekali, Tawan menelponnya.
--
Ploy menemui Tawan dan menjelaskan kalau bukan dia yang menyebarkan video itu. Tetapi, si tukang reparasi. Dia melakukan itu hanya untuk memeriksa apakah pernikahan Kluay adalah benar atau hanya untuk membodohi publik.
“Tapi kau bilang padaku butuh kamera itu untuk melindungi diri mu sendiri.”
“Tawan, jika aku bilang niatku yang sebenarnya, kalau aku ingin membongkar rahasia P’Kluay, apa kau akan membiarkanku melakukannya?”
“Alasan aku merasa marah adalah karena aku tidak ingin kau berada dalam masalah. Kau tahu bahwa ada hukum yang melarang pemasangan kamera tersembunyi. Tapi kau terus berkata kalau aku tidak memihak padamu. Aku selalu memperingatimu, karena aku berada di pihakmu. Hal buruk yang kau buat, akan berbalik padamu suatu hari nanti.”
“Jika kau mengatakan itu hanya untuk menakutiku, tutup saja mulutmu.”
“Aku tidak ingin menakutimu. Tapi, jika polisi bertindak, kita berdua akan berada dalam masalah serius. Jangan lupa, di kamera itu tertinggal sidik jari kita.”
“Jangan khawatir, Tawan. Polisi tidak akan pernah mencurigai kita.”
“Apa maksudmu?”
Ploy tidak mau menjawab, dan malah pergi.
--
Esok hari,
Kluay dan Pup melakukan konferensi pers. Mereka memberitahu kalau sudah melaporkan kasus ini ke polisi. Para reporter, dan salah satu di antaranya adalah Tawan, bertanya apakah mereka mempunyai seseornag yang di curigai yang menyebarkan video itu?
“Aku dan P’Pup masih belum tahu siapa yang melakukan hal ini.”
“Bagaimana bisa pelaku meletakkan kamera tersembunyi di kamarmu?” tanya salah seorang reporter. “Apa kau tidak biasa mengunci pintu?”
“Kami menguncinya,” jawab P’Pup. “Kami selalu mengunci pintu kamar. Kami juga penasaran bagaimana pelakunya bisa masuk ke dalam kamar kami.”
“Jika kau menangkap pelakunya, apa yang akan kau lakukan?”
Dan Ploy melihat wawancara itu dari dalam rumah. Dia merasa cemas, apalagi ternyata kasus ini sudah sampai ke kepolisian.
--
Ploy menemui Tawan lagi. Dia merasa khawatir jika polisi bisa melacak mereka. Bahkan jika sidik jari mereka tidak di temukan di kamera itu, polisi masih bisa menginterogasi si tukang reparasi. Ploy merasa sangat takut.
Dan di saat seperti ini, dia mulai memasang wajah memelas dan meminta tolong Tawan untuk mencarikan jalan keluar untuknya. Dia masih muda, dan punya masa depan cerah, dia tidak ingin masuk dalam penjara. Tawan juga tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Tawan berpikir sesaat. Dan dia terpikirkan sesuatu dan meminta Ploy mengikutinya.
--
Kluay dan Pup sudah selesai wawancara dan sedang bersantai. Tetapi, suasana santai mereka harus hancur karena kedatangan Khun Napa. Khun Napa mengajak Kluay bicara bedua. Dia sudah melihat berita itu.
“Kalau begitu, ibu seharusnya tahu siapa pelakunya, kan?”
“Bagaimana bisa aku tahu?”
“Orang yang kau kirim padaku.”
“Maksudmu Ploy?” kaget Khun Napa. “Tidak mungkin. Ploy menyanyangimu seperti saudara kandung. Dan dia sangat peduli padamu, jadi tidak mungkin dia melakukan hal itu. Yang bisa pasti si dokter mulut kasar itu. Lupakan soal pelakunya. Sebenarnya, kita harus berterimakasih padanya.”
“Ibu, kau pikir ini bagus untukku masih dalam headline berita?”
“Ya. Kau bisa memanfaatkan hal ini dan meminta cerai dari si mulut kasar itu.”
“Tapi… video itu sengaja di bocorkan oleh orang yang berniat jahat.”
“Jadi kenapa? Kau okay untuk jalan dengan pria yang semua orang tahu ukurannya? Itu memalukan, Kluay. Percaya pada ibu. Ini kesempatan terbaik untuk meminta cerai darinya. Ibu akan meminta pada Jub untuk mengadakan konferensi pers secepat mungkin.”
“Tapi, kami baru menikah. Orang-orang pasti akan membicarakannya jika kami langsung cerai.”
“Kluay. Ibu tidak mengerti. Kau tidak mencintainya dan si mulut kasar itu juga tidak mencintaimu. Bagaimana mungkin bagi dua orang yang tidak saling mencintai untuk tinggal bersama dengan bahagia.”
“Aku rasa itu bukan alasan yang tepat untuk meminta cerai,” tegas Kluay.
Khun Napa berteriak marah dengan pemikiran Kluay tersebut. Usai bicara dengan Kluay, Khun Napa pulang setelah sebelumnya marah pada Pup. Setelah Khun Napa pulang, Pup bertanya apa yang Kluay dan Khun Napa bicarakan? Kluay tidak memberitahu mengenai saran Khun Napa yang menyuruhnya bercerai dari Pup, dia hanya memberitahu Pup kalau dia membicarakan masalah berita tadi dengan Khun Napa.
--
Ploy merasa kesal di bawa Tawan ke sebuah café. Dia mengira kalau Tawan hendak menyelesaikan masalahnya. Tawan memberitahu kalau Ploy harus melepas stress dan melihat hidup orang lain juga. Masih banyak yang lebih sulit dari mereka. Ploy tidak suka, dia hanya perlu cara agar polisi tidak melacak mereka.
Dan Tawan membawa Ploy ke kuil. Hanya ini cara yang bisa di lakukannya. Ploy tambah kesal, dia tidak percaya kalau berdoa bisa membuatnya terlepas dari masalah. Dia terus mengomel.
“Sekarang ini, kita tidak bisa melakuakn apapun selain menunggu.  Mungkin, polisi gagal melacak si tukang reparasi itu. Jika kita melakukan sesuatu sekarang, kita akan semakin di curigai sebagai orang yang terlibat.  Hal yang bisa kita lakukan sekarang, hanya berdoa untuk si tukang reparasi agar tidak tertangkap. Atau, kau punya cara yang lebih baik?”
Ploy terdiam. Dia memikirkan perkatan Tawan. Apalagi Tawan bilang kalau dia biasanya berdoa di kuil ini, dan permintaannya terkabul. Ploy bertanya apa yang Tawan doakan? Dan Tawan menjawab kalau dia berdoa agar di pertemukan dengan orang yang paling dia ingin lihat, dan akhirnya ketemu.
“Aku juga berdoa agar kau di tolong,” ujar Tawan.
Dan mereka mulai berdoa bersama.
“Ingatlah ini. Tidak peduli apapun yang kau lakukan, aku akan selalu ada untukmu dan melalui hal yang sama seperti yang kau lalui. Dan jika kau merasa stress, aku akan merasa stress juga bersamamu. Jika kau dalam masalah, aku juga akan melalui masalah yang sama denganmu.  Dan jika permintaamu tidak di kabulkan Tuhan, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Ploy tersenyum mendengar perkataan Tawan itu. Dan mulai berdoa dengan serius.
--
Malam hari, Kluay merasa tidak tenang. Dia memikirkan perkataan Khun Napa yang menyuruhnya bercerai dengan Pup karena mereka tidak saling mencintai. Kluay memutuskan untuk bicara dengan Pup, tetapi dia mengurungkannya, dan beralasan kalau dia hanya mau menggunakan kamar mandi.
Kluay berpura-pura menggunakan kamar mandi, dan setelah itu keluar. Pup heran karena Kluay cepat sekali. Kluay bersikap canggung.
“Khun, bisa aku bertanya sesuatu? Bagaimana perasaanmu… tinggal di rumah ini?” tanya Kluay.
“Aku merasa bahagia.”
“Hmm? Kau bisa merasa bahagia tinggal di rumah orang lain?”
“Aku bisa. Aku tidak tahu kenapa, tapi tinggal di rumahmu dan tidur di kamar mandimu, membuatku bahagia. Bagaimana denganmu? Apa kau bahagia aku ada di sini?”
Kluay tersenyum. “Tidak. Aku malah ingin kau segera keluar dari rumahku secepat mungking, jadi aku bisa mendapatkan kamar mandiku lagi,” bohong Kluay.
Dan Pup tahu kalau jawaban Kluay itu tidak serius. Kenapa? Karena dia ternyata menguping pembicaraan Kluay dan Khun Napa. Saat Khun Napa menyuruh Kluay bercerai darinya, dan Kluay menolak melakukan hal itu.
Mereka saling tersenyum di tempat tidur masing-masing.

Pernikahan bukan hanya tentang pindah dan tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tentang pindah dan tinggal bersama sebagai satu kesatuan.
=Love At First Hate=






2 comments: