Saturday, December 15, 2018

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 10-2

0 comments

Sinopsis Lakorn : Happy Birthday Episode 10-2
Images by : GMM Tv
Look pergi ke sekolah dan menemui Pana. Dia bertanya mengenai bagaimana keadaan sekarang? Dan Pana menjawab kalau semua normal saja, tidak ada reporter yang datang ke sekolah, dan berita hanya menyebar melalui media sosial. Dan walaupun jika ada reporter nantinya, pihak sekolah tidak akan membiarkannya, jadi Look tidak perlu khawatir.
“Bagaimana dengan murid itu?”
“Kita tidak bisa melakukan banyak. Aku belum bertemu dengan Tonmai juga, tapi aku dapat menebak apa yang harus dilaluinya. Bagaimana denganmu?”
“Aku meminta P’Pat, mantan bos kami untuk membantu. Dia sedang mencoba menghilangkan gosip yang menyebar.”
“Jujur saja, aku tidak mengerti dengan Tee lagi. Aku tidak tahu apa yang di pikirkannya. Sebelumnya, dia sangat menolak untuk bertemu dengan Tonmai. Aku selalu mengajaknya menemui Tonmai, tapi dia selalu menolak. Dia bilang tidak ingin mengenal ataupun melihat Tonmai. Dia menolak tahu apapun mengenai Tonmai.”
“Tapi seseorang harus memperingatinya.”
“Aku rasa, ini saatnya kau bicara dengannya.”
Look terlihat ragu, karena dia merasa kalau Tee akan mengabaikannya. Pana tetap menyuruh Look untuk mencobanya, karena bagi Tee, Look sudah seperti keluarga. Look terlihat memikirkan hal tersebut.
--

Tee pergi menemui Chompu di kedainya. Chompu mengira kalau Tee datang untuk membeli minuman keras lagi, tetapi ternyata tidak. tee memberitahu kalau Pana sedang kerja, jadi dia datang untuk berbincang dengan Chompu. Chompu jelas merasa senang mendengarnya. Tetapi, dia kemudian menyadari kalau Tee tidak mengenakan penyamaran dan khawatir kalau orang-orang mengenali Tee. Tee memberitahunya kalau dia tidak ingin memakai penyamaran lagi, dia ingin hidup normal.
Chompu kemudian membahas mengenai seluruh kota yang sekarang sedang membicarakan Tee yang membawa kabur Tonmai dari sekolah. Tee kaget, karena dia baru tahu hal itu. Chompu lebih kaget lagi karena Tee tidak tahu hal itu, bahkan hal itu sudah menyebar di medsos. Tee menjawab kalau dia sudah tidak menggunakan ponsel lagi.
“Tee, kau tahu siapa Tonmai?” tanya Chompu.
Tee mengangguk.
“Sebenarnya, banyak hal yang ingin ku katakan padamu. Aku tahu kalau kau punya banyak masalah dan kau terus memendamnya. Tidak peduli seberapa banyak masalahmu yang aku ketahui, aku tidak akan memintamu untuk bercerita. Karena aku juga pernah berada dalam posisi seperti itu. Aku menderita. Frustasi. Aku tidak tahu bagaimana mengatasinya dan aku merasa tidak akan ada yang bisa menolongku. Untuk membenarkan semua masalah dengan kesedihan mendalam adalah dirimu sendiri, sangat berat bagiku. Dan aku yakin, kau juga melalui masa sulit seperti itu. Tapi, aku lega melihatmu sekarang, Tee.”
“Kesulitan yang kau lalui itu adalah tentang Noina, kan?”
“Ya. Ketika aku memilikinya, awalnya, aku seperti orang gila, kau tahu? Aku sangat frustasi ketika aku melihat wajah putriku sendiri. Kau tahu bagaimana aku bisa melalui semua itu? Karena aku memiliki putriku di sampingku. Dia tidak pernah bertanya, apa yang telah ku lalui. Tapi, dia membuatku melihat kalau dia akan selalu ada di sisiku tidak peduli apapun yang terjadi.”
Tee tersenyum mendengar cerita masa lalu Chompu. Dan untuk mengubah suasana agar tidak terlalu serius, Chompu mulai bercanda menggoda agar Tee membantunya mencari ayah baru untuk Noina. Tee tersenyum mendengarnya.
--
Pak Tai pergi ke sekolah dan membuka tokonya, tetapi dia hanya membuka pintu toko sedikit. Dia duduk dan merenung kembali.
Flashback
Usai memberi makan Tharnnam, pak Tai kembali pulang ke rumahnya. Dan ternyata, Wan bersembunyi di rumah Pak Tai. Pak Tai memberitahu kondisi Tharnnam yang sangat sedih karena Wan sudah pergi 3 hari meninggalkannya, dan Tharnnam masih berkeras tidak ingin tinggal bersama dengan Chet. Pak Tai meminta Wan untuk kembali pada Tharnnam.
“Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Aku tidak bisa menyekolahkannya seperti yang di inginkannya. Aku tidak bisa memberikan makanan yang layak untuknya. Hidupku berantakan. Dan terlalu kacau untuk menariknya jatuh ke bawah bersamaku. Aku sudah menghancurkan hidupnya lebih dari 10 tahun, hanya karena aku membenci ayahnya. Sebenarnya, aku tahu kalau Chet dapat menjaganya lebih baik daripadaku. Aku juga tahu, jika aku tetap tinggal, aku tidak akan sanggup melihatnya bersama Chet.”
“Tapi, Tharnnam mungkin lebih ingin bersamamu lebih daripada bersama Chet.”
“Pak Tai, aku tidak akan merepotkanmu lebih lama. Setelah Tharnnam tinggal dengan Chet, aku akan pergi.”
Pak Tai menghela nafas panjang. Dia berada di posisi sulit dan tidak tahu harus melakukan apa. Saat itulah, dia melihat kalau Tharnnam ternyata datang ke depan rumahnya. Pak Tai jelas kaget, dan segera keluar.
Tharnnam menangis, dia memohon untuk tinggal bersama dengan Pak Tai malam ini. Dia tidak mau sendirian. Pak Tai bingung, dia melirik ke dalam rumahnya. Jika dia menerima Tharnnam, maka akan ketahuan kalau Wan ada di rumahnya.
“Tharnnam, pulang ke rumah sekarang,” pinta Pak Tai (ini perkataan yang terngiang di telinga Tharnnam saat Tonmai mengusirnya waktu itu).
“Tolong, pak Tai. Biarkan aku tinggal bersamamu. Aku tidak ingin sendirian. Tolong!” pinta Tharnnam sambil menangis terisak.
“Tharnnam, percaya padaku. Malam ini, pulang ke rumahmu,” ujar Pak Tai sambil mengelus kepala Tharnnam.
Tharnnam tampak kecewa dan menatap Pak Tai dengan pandangan nanar. Akhirnya, dia mau pulang. Pak Tai merasa kasihan melihatnya, karena itu sebelum Tharnnam pergi, dia memanggil Tharnnam kembali dan sambil tersenyum berkata kalau besok dia akan menjemput Tharnnam untuk tinggal bersamanya. Tharnnam tersenyum sambil menangis dan berterimakasih.
Esok hari,
Pak Tai menjemput Tharnnam dengan mobilnya. Tetapi, dia tidak membawa Tharnnam ke rumahnya, melainkan ke rumah Chet.
“Kenapa Anda membawaku ke sini?” kecewa Tharnnam. “Anda bilang akan membawaku untuk tinggal bersama Anda.”
“Aku minta maaf. Tapi, kau punya ayah, dan lebih baik kau tinggal bersama ayahmu. Jangan marah padaku. Percaya padaku. Hidupmu akan lebih baik. Kau akan bisa sekolah seperti anak lainnya. Percaya padaku,” ujar Pak Tai sambil tersenyum.
Wajah Tharnnam tampak kecewa, tetapi dia berusaha tersenyum. Dia keluar dari mobil Pak Tai, dan berdiri di depan pintu pagar rumah Chet. Dia berbalik dengan pandangan nanar dan menatap Pak Tai.
Tharnnam membunyikan bel rumah. Chet dan Orn keluar dan menyambutnya dengan ramah. Saat itu, Orn sudah hamil.
“Pak Tai sudah memberitahuku. Tharnnam, tinggal bersamaku, sayang. Aku janji akan menjagamu sebaik yang ku bisa,” ujar Chet dan hendak memeluk Tharnnam. Tetapi, Tharnnam berjalan mundur, menghindari pelukan Chet.
“Tharnnam, tinggallah bersama kami. Aku dan ayahmu telah menyiapkan kamar untukmu.”
Orn mengulurkan tangannya dan mengajak Tharnnam untuk masuk. Dengan ragu, Tharnnam menyambut uluran tangan ini dan masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk, dia menoleh dan tersenyum pada pak Tai.
End
Pak Tai menghela nafas panjang mengingat kejadian masa lalu itu.
--
Noina saat jam istirahat, kembali memeriksa toko Pak Tai bersama Tonmai. Dan dia sangat senang melihat Pak Tai yang membuka toko walaupun terlambat. Dia kemudian meminta tugas yang kemarin di titipkannya karena dia harus mengumpulkan tugas itu sore ini. Pak Tai segera mengambilkannya.
“Pak Tai tidak terlihat seperti biasanya hari ini,” komentar Tharnnam dengan khawatir.
Dan agar Tharnnam tidak khawatir, Tonmai bertanya pada Pak Tai, apa dia sakit? Pak Tai langsung menjawab kalau dia baik-baik saja. Noina kemudian pamit untuk kembali ke kelas bersama dengan Tonmai.
“Tonmai, bisa aku bicara sebentar denganmu?” pinta Pak Tai.
Tonmai menatap Tharnnam, dan Tharnnam mengangguk. Jadi, Tonmai memina Noina untuk kembali duluan ke kelas, dia akan menyusul. Noina mengerti dan langsung pergi.
Pak Tai langsung bertanya mengenai rumor yang tersebar kalau kemarin Tee memegang tangan Tonmai dan mengajaknya bolos. Dia ingin tahu kemana Tonmai dan Tee pergi?
“Sebenarnya, P’Tee bukan memegang tanganku. Dia memegang tangan P’Tharnnam. Aku sudah pernah bilang sebelumnya kalau P’Tharnnam masih ada di sekitar kita. Kau ingat?”
“Aku ingat.”
“Sekarang, dia ada di sebelahku,” ujar Tonmai dan menatap ke sebelahnya. “Kau percaya padaku? P’Tharnnam khawatir padamu. Dia bilang kau tidak seperti biasanya.”
Pak Tai menghela nafas. Antara percaya dan tidak percaya. “Di hari aku mengantarmu pergi ke rumah ayahmu, apa kau marah padaku?”
Tonmai menatap Tharnnam. Tharnnam menangis dan menggelengkan kepala. Dia tidak pernah marah pada pak Tai, dia hanya merasa terluka. Dan Tonmai menyampaikan jawaban itu pada Pak Tai.
Mendengar jawaban itu, Pak Tai menangis. “Tharnnam, kau kira aku tidak menyanyangimu, kan?”
Tangis Tharnnam semakin keras. Dan Tonmai hanya bisa menatap Pak Tai dan Tharnnam bergantian. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Dan melihat Tharnnam yang menangguk, Tonmai menyampaikan jawaban itu pada Pak Tai. Pak Tai berterimakasih atas jawaban Tonmai.
“Tharnnam, aku senang karena kau masih ada.”
Tharnnam menatap tangan Tonmai. Dia ingin menggenggamnya. Dan seolah menyadari keinginan kakaknya, Tonmai memberikan tangannya untuk di genggam oleh Tharnnam. Tharnnam merasuki tubuh Tonmai, dan memanggil Pak Tai sambil menangis. Pak Tai terkejut melihat sosok Tharnnam ti dalam tubuh Tonmai.
“Sekarang, aku sangat pandai tersenyum, kau tahu?” ujar Tharnnam dan tersenyum. Dia menggenggam tangan Tharnnam.
Pak Tai tidak bisa menghentikan air matanya melihat senyuman Tharnnam. Dia menghapus air mata Tharnnam dan menatapnya. “Tharnnam, ini benar-benar kamu.”
“PR yang ku kerjakan untukmu, benar kan?”
“Tharnnam, aku dapat menyelesaikan pendidikanku, semua karena bantuan mu mengerjakan PR ku. Terimakasih.”
“Pak Tai, aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak pernah marah padamu. Tidak pernah,” ujar Tharnnam dan memeluk Pak Tai.
--

Tonmai bicara dengan Tharnnam di pinggir danau. Tonmai memberitahu kalau dia tidak pernah menyangka kalau hubungan Tharnnam dan Pak Tai sangat dekat dan kuat. Tharnnam menjawah kalau selama dia hidup, Pak Tai sudah seperti ayah kedua baginya. Jika tidak ada pak Tai, hidupnya mungkin akan lebih buruk.
Noina menghampirinya dan memberika ice cream yang telah di belinya. Noina berkomentar kalau Tonmai beberapa hari ini penuh dengan rahasia. Tonmai tidak memberitahunya mengenai Tee dan juga mengenai apa yang di bicarakannya dengan Pak Tai. Apa Tonmai masih menganggapnya sebagai teman?
Tonmai malah menyebut Noina cerewet. Lagipula, sulit baginya untuk menjelaskan, dia akan menjelaskan jika suasana hatinya sudah lebih baik. Tonmai kemudian bertanya kenapa Noina tidak kencan lagi dengan P’Top?
“Aku sudah putus.”
Tonmai jelas kaget. Tetapi, senang juga.
“Kenapa?”
“Karena aku menyadari kalau aku ingin kau di hidupku lebih daripada dia,” jawab Noina. Dan memberi harapan pada Tonmai. Tonmai sangat senang hingga tersenyum sangat lebar.
Dia dan Noina mulai saling bercanca. Tharnnam tersenyum senang melihat kedekatan mereka.
--

Look ke rumah Tee, tetapi dia tidak berani masuk, jadi dia memutuskan pergi. Ternyata, Tee tidak ada di rumah, dia ada diluar rumah dan melihat kedatangan Look. Sepertinya, dia sudah tidak begitu marah lagi pada Look.
“Bagaimana keadaanmu? Kau tampak lebih baik.”
“Ya. Aku rasa hidupku saat ini adalah yang terbaik. Aku rasa aku lebih bahagia daripada sebelumnya. Kau mencariku karena berita mengenaiku dan Tonmai, kan? Kau dapat berpikir apapun mengenai gossip itu. Aku benar-benar tidak peduli.
Dan Look memberitahu Tee kalau dia sudah berhenti kerja. Tee terkejut dan mengira kalau itu karenanya. Look mengatakan kalau itu karena keinginannya bukan karena Tee. Awalnya, dia datang untuk memperingati Tee, tetapi setelah melihat keadaan Tee, dia rasa tidak perlu lagi. Tee berterimakasih atas perhatian Look. Look tersenyum dan Tee mengajaknya untuk makan malam bersama dengannya. Dia tahu tempat makan yang enak. Dan Look setuju.
--
Tonmai dan Tharnnam sudah pulang ke rumah. Tharnnam mengingatkan Tonmai untuk ikut makan malam bersama dengan ayah dan ibu. Tonmai menjawab ya.
Tonmai kemudian membahas mengenai pertemuan pertama mereka. Saat itu dia mengira kalau Tharnnam terkurung di sini karena tidak ingat alasannya bunuh diri, tetapi ternyata Tharnnam ingat semuanya. Jadi, kenapa Tharnnam belum bisa renkrenasi?
“Apa artinya itu kau tidak perlu renkrenasi? Seperti yang kau bilang padaku kalau kau merasa telah terlahir lagi. Jadi, itu artinya kita bisa bersama seperti ini selamanya?” tanya Tonmai dengan riang.
“Mungkin, ya,” jawab Tharnnam. Tapi, dari wajahnya, tampaknya dia menyembunyikan sesuatu.
“Aku yakin itu yang terjadi. Itu yang ku percayai.”
Bel rumahnya berbunyi. Dan Tonmai pamit sebentar untuk membuka pintu. Tharnnam menggoda bisa saja itu Noina. Tonmai menyuruhnya berhenti bercanda. Setelah Tonmai pergi membuka pintu, Tharnnam terlihat memikirkan sesuatu.
Terdengar suara Tonmai yang meminta tamu untuk menunggu sebentar karena dia akan menelpon ayah dan ibunya. Si tamu menyuruh Tonmai untuk tidak usah menelpon, dia akan menunggu. Tonmai mengerti dan permisi untuk menghindangkan air. Tharnnam mendengar suara si tamu, dan merasa tidak asing dengan suara tersebut.
Dia keluar dan melihat sosok tamu wanita itu. matanya berkaca-kaca. Itu ibunya, Wan.
“Bu,” panggil Tharnnam.
Tonmai yang baru keluar dari dapur membawa air, jelas kaget. Pas sekali, Chet dan Orn pulang dan melihatnya.
“Ngapain kau ke sini?” tanya Chet dengan ketus.
Bersambung

No comments:

Post a Comment