Sunday, February 17, 2019

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 10 - 1

0 comments

Sinopsis C-Drama : Emperors and Me Episode 10 - 1
Images by : Mango TV
Luo Xi dan Qin Shang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Le Xue. Dalam perjalanan, Luo Xi memberitahu Qin Shang kalau sebenarnya ketika kecil dia juga tinggal di daerah itu, Kota Yao. Lalu, dia pindah ke kota Yue dan kuliah di sana, dan bertemu Xue di universitas. Tidak lama, dia tahu kalau ternyata Xue tinggal di kota ini sehingga mereka menjadi sangat akrab.
Tidak lama, mereka tiba di sekitar kawasan rumah Xue. Luo Xi juga tidak tahu tepat dimana rumah orang tua Xue, dia hanya tahu kawasan rumah Xue, jadi mereka harus bertanya kepada warga sekitar.
Dia dan Qin Shang mulai berkeliling dan bertanya ke masyarakat sekitar sana, “Apakah di sekitar sini ada rumah keluarga dengan marga Le?” tapi mereka sudah bertanya ke sana kemari, semua bilang tidak tahu dan bahkan tidak pernah melihat Le Xue di sekitar kawasan sana.
Qin Shang mengajak Luo Xi untuk berisitirahat sejenak dan mencari tempat untuk makan siang dulu. Luo Xi setuju dan mereka makan di sebuah tempat makan mie yang ada di sekitar sana. Saat sedang memesan makanan, Luo Xi melihat seorang wanita dan mengenalinya.
“Lho, kau bukannya Le Le? Ini aku Luo Xi.”
“Luo Xi? Beneran Luo Xi?” kaget Le Le.
“Ya. Luo Xi dari SMP XXX”
“Bukannya kau sudah mati?” tanya Le Le dengan bingung. Qin Shang sampai kaget mendengar ucapan Le Le. “Maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud. Lama tidak bertemu,” ujar Le Le memperbaiki ucapannya.
“Benar. Setelah lulus dari SMP, keluargaku pindah ke kota Yue.”
Tapi, Le Le masih merasa aneh. Dia bahkan berkesimpulan kalau mungkin dia sudah mendengar berita yang salah dan langsung untuk pamit pergi dengan canggung pada Luo Xi. (Wuuuooo, apa seharusnya Luo Xi sudah mati?)
Setelah Le Le pergi, Qin Shang baru bertanya pada Luo Xi, kenapa Le Le tadi bisa mengira kalau Luo Xi sudah mati? Luo Xi menjelaskan kalau dulu dia pernah tertabrak mobil dan terluka parah, jadi banyak yang mengira kalau dia sudah meninggal. Lalu, keluarganya mengikuti saran dari orang pintar dan pindah ke kota Yue.
“Siapa yang menabrakmu?”
“Ngapa? Kau mau balas dendam untukku? Kita ke sini itu untuk mencari orang tua Xue, bukan mencari kejadian masa laluku. Udah, mari kita makan saja.”
Tapi, Luo Xi tidak berselera makan. Dia memikirkan kemungkinan kalau dia gagal membawa Xue kembali dari Qi, apa yang akan terjadi? Qin Shang meminta Luo Xi untuk tidak khawatir karena dia pasti akan membantu Luo Xi membawa Xue kembali.
--
Malam hari,
Pada akhirnya, mereka masih belum bisa menemukan keluarga Xue. Mereka beristirahat sejenak dengan duduk di bangku yang di sediakan di pinggir jalan. Saat sedang beristirahat itu, Qin Shang akhirnya bertanya kalau dia masih belum mengerti kenapa Luo Xi sangat peduli pada Le Xue?
“Karena dia adalah sahabatku. Biar ku kasih tahu yang sebenarnya, saat aku masih kecil, aku sangat berbeda dengan diriku sekarang ini.”
“Seperti apa kamu dulu?”
“Ketika aku kecil, aku sangat sadar diri. Sangat pendiam. Orang tuaku selalu ingin aku menjadi orang hebat ketika aku dewasa. Jadi mereka bersedia untuk meninggalkan kampung halaman hanya demiku. Mereka melakukan banyak hal untukku. Tapi aku masih bukan siapa-siapa. Mama ku mulai kehilangan kesabarannya terhadap papaku dan aku. Lalu, untuk waktu yang lama, aku tidak berani bicara pada siapapun. Setiap kali orang bicara, aku sangat gugup.”
“Sulit membayangkan sependiam apa kamu dulu.”
“Kau mau bilang kalau sekarang aku sangat cerewet?”
“Bukan.”
“Jika bukan karena Le Xue, mungkin aku masih si pengecut Luo Xi. Sejak aku bertemu dengannya, dia membantuku untuk melewati permasalahan mental-ku.”
“Aku bisa mengerti dirimu.”
“Kau? Kau terlahir dari keluarga terpandang. Kau menjadi raja ketika berumur 13 tahun. Setiap orang menghormatimu. Bagaimana masalah yang hanya terjadi pada sebagian kecil keluarga, bisa kau mengerti?”
“Sebenarnya, ayahku adalah pangeran yang di pandang rendah. Dia di kirim menjadi tahanan ke negara lawan. Sebelum kakek ku meninggal, aku berada di negara itu dan hidup dalam ketakutan. Ketakutan dan tanpa harapan. Aku bisa menjadi raja karena Perdana Menteri Li Wei yang berkuasa menginginkan seorang anak yang menurut padanya. itulah kenapa dia memilihku. Menjadi sendirian dalam waktu yang lama. Tuhan mengirimkan Le Xue untukmu. Aku juga bertanya, apakah Tuhan mengirimkanmu untukku? Sebenarnya, aku pernah memimpikanmu sebelumnya,” cerita Qin Shang.

Itu adalah mimpi saat dia melihat Luo Xi di daerah pembangunan dan dia menyelamatkan Luo Xi. Mendengar mimpi itu, Luo Xi jelas kaget, karena dia juga memimpikan hal yang sama. Qin Shang jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka adalah takdir?


“Aku pasti akan selalu melindungimu,” janji Qin Shang dan menggenggam tangan Luo Xi dengan erat.
--
Karena tidak bisa menemukan rumah keluarga Xue dan hari juga sudah malam, Luo Xi dan Qin Shang akhirnya memutuskan untuk mencari hotel menginap. Tapi, hotel terdekat yang ada di sekitar sana, malah hanya memiliki sisa 1 kamar. Luo Xi jelas ragu untuk menginap, tapi Qin Shang mengingatkan kalau mereka sudah bisa berjalan lebih jauh lagi mencari hotel. Dan akhirnya, Luo Xi bersedia untuk menginap di hotel itu.

Saat sudah masuk kamar dan hendak tidur, Qin Shang langsung melempar selimut tebal ke lantai sebagai alas tidur. Muka Luo Xi langsung muram, menyadari kalau dia harus tidur di lantai. Dengan pasrah, dia mengambil bantal dan bersiap tidur. Eh, tapi, ternyata, Qin Shang melakukan itu karena dia lah yang akan tidur di lantai dingin itu, sementara Luo Xi tidur di atas tempat tidur. Luo Xi jelas senang karena Qin Shang sudah berubah.


Tapi, walaupun begitu, masing-masing di antara mereka sulit tidur. Luo Xi merasa tidak enak membiarkan Qin Shang tidur di lantai, dan akhirnya membiarkan Qin Shang tidur di sampingnya. Qin Shang jelas senang, karena dulu waktu pertama kali, Luo Xi tidak mau tidur di sebelahnya, tapi sekarang mau. Mereka akhirnya tidur di satu tempat tidur dan saling membelakangi. Tapi, keduanya tersenyum senang.
--
Esok hari,
Luo Xi dan Qin Shang akhirnya pulang kembali ke kota Yue. Begitu sampai di bandara, seorang pria botak sudah menunggu dan memanggil Qin Shang dengan sebutan “boss”. Luo Xi jelas bingung dan Qin Shang memarahi pria botak karena memanggilnya ‘boss’, dia bukan ‘boss.’ Qin Shang juga menolak masuk ke dalam mobil pria botak itu.
“Nyonya sakit,” beritahu si pria botak dan menghentikan langkah Qin Shang.
“Apa kau menyembunyikan sesuatu di belakangku?” tanya Luo Xi curiga.
“Nyonya sakit. Tidak makan dan minum. Setidaknya, Anda bisa datang untuk menjenguknya,” ujar pria botak itu lagi.
Akhirnya, Qin Shang bersedia ikut dengan pria botak itu dan menyuruh Luo Xi untuk pulang duluan. Luo Xi jelas curiga dan ingin ikut, tapi Qin Shang dan si pria botak sudah pergi.
--

Murong sudah mulai beradaptasi dengan dunia modern. Dia bahkan sudah bisa menonton tv melalui tablet. Saat itu, dia melihat program audisi menjadi model.
Luo Xi pulang dan bertanya apa yang sedang Murong tonton? Murong langsung menunjukkan video yang sedang di tontonnya. Dan Luo Xi langsung terkejut karena peserta ke-4 di kontes itu adalah Murong Yu!!
“Apa ini?” tanya Luo Xi terkejut.
“Kau haus? Aku akan mengambilkan air,” ujar Murong menghindari pertanyaan Luo Xi.
“Kau pergi audisi?”
Dan Murong memperkenalkan. MC di acara itu memperkenalkan kalau Murong adalah orang yang mengikuti audisi di jalanan. Namanya unik dan wajahnya tampan sehingga pasti akan memiliki banyak penggemar.

Flashback
“Murong Yu kenapa kau mengikuti acara kami?” tanya MC di acara itu. 
“Aku ingin menemukan keluargaku kembali.”
“Keluargamu?’
“Aku kehilangan ingatanku. Aku tidak tahu aku siapa dan dari mana. Jadi, aku berdiri di sini berharap kalau keluargaku bisa melihatku dan datang mencariku,” ujar Murong dan mendapat perhatian semua penonton.
“Sebenarnya, Murong Yu adalah satu-satunya kontestan tanpa tanda pengenal. Kami secar khusus mengijinkannya bergabung, berharap bisa membantu Murong menemukan keluarganya dan mengirimkan energi positif dari Idol Show!” jelas MC. “Murong Yu, semangat!!”
End

Luo Xi tidak menyangka kalau Murong Yu bisa berpikir untuk membuat kisah menjadi seorang pria tampan yang kehilangan ingatan. Murong menjelaskan kalau dia sudah mempelajari kalau tinggal di dunia ini, kartu identitas sangat di perlukan. Dan cara tercepat untuk memperolehnya adalah dengan cara itu. Luo Xi sangat kagum dengan kepintaran Murong.
Murong kemudian menunjukkan ponsel yang diterimanya dari acara itu. Dia ingin Luo Xi memberikan nomor ponselnya untuk di simpan.
“Aku benar-benar ingin di dunia ini. Di Negara An, tidak ada lagi kekuasaanku, tidak ada lagi kakak dan tidak ada lagi kekhawatiran. Semua yang aku pedulikan adalah di tempat ini sekarang.”
“Maksudmu Xue? Aku akan membawanya kembali dari Qi.”
“Tidak hanya dia. Ada juga kau.”
“Aku?”
“Terima kasih. Karena sudah membawa ku kemari,” ujar Murong dengan tulus. “Aku berharap bisa tinggal denganmu sama seperti aku tinggal dengan kakak.”
“Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.”
Murong tersenyum mendengar jawaban Luo Xi.
--
Qin Shang di bawa ke hadapan nyonya yang di sebut pria botak itu. Wanita itu memanggil Qin Shang dengan panggilan : “Shang.” Dan dia juga terkejut melihat Qin Shang yang sudah potong rambut. Wajah wanita itu sangat mirip dengan Ibunda Ratu, ibu Qin Shang di masa Qi.  Dia juga sangat senang karena Qin Shang datang untuk menjenguknya.
“Terakhir kali kau melihatku, bukankah kau memanggilku dengan sebutan ‘ibu’?”
Flashback
Saat terakhir Shan Gou dan anak buahnya menyerangnya, selain meminta Shan Gou membantunya terkait perayaan ulang tahun Luo Xi, dia juga bertanya siapa boss Shan Gou?

Dan karena takut dan sudah di paksa oleh Qin Shang, Shan Gou membawa Qin Shang menemui bossnya yang adalah wanita itu. Saat pertama kali bertemu, Qin Shang dan wanita itu sama-sama terkejut.
“Ibu!”
End
“Aku tidak tahu kalau mereka (Shan Gou dan anak buahnya) melakukan hal buruk padamu (terkait penculikan Luo Xi). Tapi aku bersyukur karena hal itu, kita bisa berjumpa. Bukankah itu juga takdir?”
“Pertama kali melihatmu, kau terlihat sangat mirip dengan ibuku. Hanya itu.”
“Jika kau merasa kita tidak berhubungan, kenapa kau datang menjengukku?”
Qin Shang tidak mau menjawab dan memilih pergi. Tapi wanita itu terus memanggilnya, “Shang!! Shang!!”
Qin Shang mengabaikan hal itu dan terus berjalan pergi. Dia juga berpas-pasan dengan pria tua, tapi dia tidak memperhatikan wajah wanita pria itu. Pria itu sangat mirip dengan Li Wei. Pria itu juga sangat terkejut melihat wajah Qin Shang.
“Siapa pria itu?”
“Namanya Qin Shang.”
“Qin Shang?” ujar pria itu mengulang perkataan wanita itu. “Ini sudah bertahu-tahun sejak kecelakaan surfing Lei. Kau masih bisa melepaskannya hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak? Melihat kau semakin kurus, aku merasa sakit.”
“Dengarkan aku, aku merasa ada koneksi spesial di antara aku dan Qin Shang. Kau tahu, pertama kali dia melihatku, dia memanggilku ‘ibu’. Oh ya, bukankah ada yang berkata kalau mungkin ada seseorang lain sepertiku di dunia ini (doppleganger)? Shang pasti adalah Lei lainnya. Tuhan mengirimkannya padaku, karena Tuhan kasihan padaku dan memutuskan memberikan kesempatan lain untukku. Pasti begitu!” (dan kita di perlihatkan foto-foti Lei yang sangat mirip dengan Qin Shang!)
“Kau hanya terlalu berlebihan memikirkan mengenai Lei. Aku khawatir kalau orang lain akan berniat buruk padamu dan menggunakan hal itu untuk mendekatimu.”
--
Murong dan Luo Xi masih melihat artikel-artikel mengenai kontes model itu. Dan berita mengenai Murong semuanya positif. Luo Xi sangat senang melihatnya dan memuji Murong.
Qin Shang pulang, dan melihat kedekatan Luo Xi dan Murong, membuatnya terbakar api cemburu. Dia bertanya, apa yang mereka lakukan? Luo Xi langsung memperlihatkan mengenai berita Murong dan memuji Murong yang telah menjadi populer.
“Murong Yu mendaftar audisi. Dia akan segera menjadi artis terkenal. Di akan menyanyi, menari dan berakting di TV. Aku yakin dia akan berhasil. Sekarang ini saja, dia sudah sangat terkenal!”
“Jika aku ikut mendaftar, aku akan melakukannya lebih baik dari dia,” ujar Qin Shang tidak mau kalah.
“Kau?” ragukan Luo Xi.
“Kenapa kau tidak ikut daftar aja,” tantang Murong. “Jadi kau bisa sadar kekuranganmu.”

Mereka malih jadi saling sindir menyindir hingga Luo Xi harus melerai. Murong kemudian menawari Luo Xi untuk datang melihat syuting besok, dan Luo Xi setuju. Tapi, Qin Shang malah melarang. Luo Xi akhirnya berkata tidak akan pergi.
Setelah itu, Luo Xi pamit pulang dan menyuruh mereka untuk tidak bertengkar.



No comments:

Post a Comment