Wednesday, June 26, 2019

Sinopsis C-Drama : My Classmate From Far Far Away Episode 02-2

0 comments

Sinopsis C-Drama : My Classmate From Far Far Away Episode 02-2

Images by : iQiyi


Esok pagi,
Momo sudah pulang ke rumah. Dan begitu pagi, dia langsung meminta uang pada Jian Hua. Jian Hua dengan ramah, bertanya apa yang ingin Momo beli? Dia akan belikan. Momo tidak menjawab dan hanya memandanginya. Terpaksa, Jian Hua mengeluarkan uang dari dompetnya, semuanya. Tapi, Momo tidak juga pergi. Akhirnya, dia mengeluarkan uangnya yang dia sembunyikan di balik kaus kakinya. Dia kemudian meminta agar Momo tidak memberitahu Shen Juan dan Yu Chen kalau dia memberikan uang pada Momo.
“Aku pergi dulu,” ujar Momo.
“Cepat pulang ya.”
“Aku tidak akan pulang,” jawab Momo.
Jian Hua mengira kalau Momo hanyalah bercanda. Tapi, dia merasa pusing juga karena semakin sulit berkomunikasi dengan Momo.
--

Momo berdiri di pinggir jalan raya dan memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang.  Momo mulai membuat penilaian mengenai mobil-mobil itu yang masih menggunakan mesin dan juga tidak aman.              

Momo pergi ke showroom mobil dan mencoba sebuah mobil. SPG yang bertugas langsung menghampirinya dan bertanya apa Momo ingin membeli mobil? Dimana orang tua Momo?
“Tidak ada orang dewasa. Aku sendiri. Berjalan dengan dua kaki sangat melelahkan,” ujar Momo.
“Kau sendiri? Apa kau punya uang?”
“Aku tahu kalau mau beli sesuatu butuh uang. Aku punya,” jawab Momo dengan pede. Dan dia langsung mengeluarkan uang yang Jian Hua berikan padanya tadi. Dan tentu saja, uang tersebut tidaklah cukup.

Sepasang pasangan tua yang melihat kelakuan aneh Momo langsung menghampirinya dan menemukan ada sebuah kertas berisi pesan di kantong baju Momo. Ternyata, sebelumnya, Shen Juan sudah menuliskan banyak kartu berisi pesan mengenai kondisi Momo dan meletakkannya di semua kantong baju Momo. Membaca pesan itu, para orang tua itu jadi semakin yakin kalau Momo sedikit bermasalah di otak. Jadi, mereka menarik Momo untuk pergi dari showroom.
--

Mereka mengantarkan Momo kembali ke rumah Momo. Shenjuan senang karena Momo kembali dan langsung mengantarkan Momo ke kamarnya. Sementara Jian Hua berterimakasih atas bantuan pasangan tua tersebut. Shen Juan juga berterimakasih. Pasangan tua itu langsung menasehati Shen Juan dan Jian Hua agar lebih memperhatikan Momo yang sakit jiwa agar tidak berkeliaran. Yu Chen yang mendengar Momo di sebut sakit jiwa langsung tertawa ngakak. Sementara Shen Juan langsung protes karena putrinya di sebut sakit jiwa.
“Kau harus bisa menerima kenyataannya. Penyakit harus di obati,” nasehat pasangan tua itu.
“Apa yang harus di obati! Tidak ada yang salah dengan putriku!” marah Shen Juan.
Pasangan tua itu langsung pergi karena takut.
--

Shen Juan mengawasi Momo yang sedang sikat gigi. Dan dia terkejut karena Momo menelan air kumur-kumurnya dan bukan membuangnya. Dia segera menasehati Momo kalau air kumur-kumur tidak bisa di telan.
“Momo, apa kau benar-benar jadi bodoh?” ujar Shen Juan dengan sedih.
“Bodoh? Aku adalah jenderal dari Scorpius.”
“Momo, bagaimana kau akan ke sekolah jika seperti ini?”
“Aku tidak mau sekolah,” jawab Momo, simple.
--
Anak buah Guo Sheng menyerahkan laporan mengenai insiden makhluk luar angkasa yang terbangun. Guo Sheng langsung bertanya apa ada yang unik?
“Ini,” jawab anak buahnya dan menyerahkan sebuah dokumen.
Membaca isi dokumen itu, Guo Sheng tersenyum senang. “Menyelam hingga ke kedalaman yang tidak bisa di capai manusia. Tubuh tidak terluka sama sekali. Akal sehat hilang setelah sadar. Terkadang mengatakan hal aneh. Sangat menarik.”
--
Momo mempacking barang-barangnya ke dalam tas ranselnya sambilk menggerutu kalau struktur keluarga manusia sangat tidak berguna. Karena itu, dia harus pergi sekarang juga. Dia tidak bisa terus tinggal tanpa arti seperti ini.
Dan ternyata, Guo Sheng diam-diam mengintai Momo. Dia sudah hendak keluar menghampiri Momo, ketika dia mendapat telepon kalau Huan Lina dan Li Rong telah di temukan. Dan karena itu, Guo Sheng memutuskan untuk membebaskan Momo sementara ini, sementara dia pergi menangkap Huang Lina dan Li Rong.
--

Lina dan Li Rong di kejar oleh banyak pria berpakaian hitam hingga mereka tersudut di arena konstruksi. Tidak ada pilihan lain, mereka memanjat ke gedung yang yang seperti pabrik tersebut. Tapi, karena banyaknya pengejar, mereka kesulitan untuk kabur sehingga terpaksa menggunakan kekuatan mereka untuk menjadi transparan.


Guo Sheng tiba di sana, dan dia memerintahkan anak buahnya untuk menggunakan senjata anehnya. Senjata itu berbentuk pistol dan mengeluarkan cahaya. Begitu cahaya itu mengenai Lina dan Li Rong, wujud mereka jadi kelihatan. Mengetahui kalau mereka sudah tidak bisa kabur lagi, Li Rong memilih berkorban. Dia menahan senjata itu dan berteriak menyuruh Lina untuk segera kabur. Terpaksa, dengan membuat transparan dirinya, Lina kabur dari sana. Sementara Li Rong tertangkap.
--
Shen Juan dan Jian Hua panik karena Momo kabur dan tidak mau mengangkat teleponnya. Kalau Yu Chen mah cuek saja dan sibuk melihat pantulan dirinya di cermin. Jian Hua yang bingung harus bagaimana, malah memarahi Yu Chen karena tidak menjaga Momo dengan benar. Dia langsung menyuruh Yu Chen untuk segera mencari Momo.
Saat itu, Shen Juan terpikir untuk menelpon Jingjing. Tapi, ternyata Momo tidak ada bersama dengan Jingjing.
--
Akhirnya, Shen Juan dan Jian Hua berkeliling  mencari Momo sambil terus menelpon semua teman Momo. Hasilnya, nihil.
--
Momo berada di atap gedung. Ponselnya terus berbunyi, tapi dia mengabaikannya.
“Cardosi, teknologi bumi sekarang ini masihlah belum mampu untuk membantuku berkomunikasi dengan planet Scorpius. Kenapa kau harus membangunkanku di waktu saat ini? Sumpah. Janji. Apa kau sudah lupa? Aku tertidur selama 200 tahun dan terbangun dengan banyak ekspetasi, hanya untuk melihat dunia seperti ini. Sebuah dunia yang mengecewakan,” sedih Momo.
Dan akhirnya, Momo mengangkat teleponnya yang berdering. Yang menelpon adalah petugas polwan waktu itu. Dia menelpon Momo karena seseorang bernama Lu Yu Chen.
--
Momo ke kantor polisi dan di sana sudah ada Yu Chen yang babak belur. Polisi berbincang dengan Yu Chen kalau sekarang dia mengerti kenapa waktu Momo di tangkap tempo hari, Momo bilang tidak tahu nama orang tuanya, ternyata Yu Chen dan Momo adalah yatim piatu. Dia merasa sangat kasihan (Yu Chen berbohong padanya).
“Bibi polisi. Ada sedikit masalah juga pada kepala adikku. Dan orang-orang itu terus mengejeknya. Makanya, hari ini aku berkelahi dengan mereka,” bohong Yu Chen, bahkan sambil menangis.
“Lain kali jangan seperti ini lagi ya. Jika tidak, adikmu akan khawatir. Pulanglah,” ujar polwan itu dan lanjut bekerja.
Saat itu, Momo melihat laptop yang di gunakan polwan itu dan dengan kekuatannya dia bisa melihat kalau laptop itu memilik banyak kegunaan.
“Bisakah aku menggunakan komputermu?” tanya Momo.
“Ini komputer internal,” jawab polwan.
“Adik. Kita punya komputer di rumah. Ayo pulang dan memakainya di rumah,” ajak Yu Chen dan menarik Momo untuk pulang.
Pas sudah di luar kantor polisi, Yu Chen malah mengancam Momo untuk tidak mengadukan hal ini pada orang tua mereka, atau dia akan memakai 8juta cara untuk membuat Momo memilih mati. Momo jelas kesal.
--
Jian Hua menampar Yu Chen. Shen Juan langsung melarangnya untuk memukul Yu Chen. Jian Hua benar-benar kesal karena Yu Chen berkelahi hingga masuk ke kantor polisi dan bahkan memanggil Momo untuk menjaminnya keluar. Tidak hanya itu, Yu Chen bahkan berbohong kalau sudah tidak punya orang tua. Kalau begitu dia siapa! Shen Juan kasihan dan hendak mengobati luka Yu Chen!
“Tidak usah mempedulikanku! Kau bukan ibuku!” marah Yu Chen.
Jian Hua emosi dan ingin memukul Yu Chen lagi. Yu Chen tidak takut dan bahkan menantang Jian Hua untuk memukulnya. Shen Juan langsung mencegah Jian Hua. Jian Hua benar-benar marah karena Yu Chen selalu mengganggu Momo, apalagi kalau saat mereka tidak ada! Yu Chen melotot dengan marah pada Momo.
“Dia tidak bisa menggangguku,” ujar Momo. “Di rumah ini, makan tidak perlu uang. Ada kasur untuk tidur. Aku dengar juga ada komputer untuk di gunakan. Jadi, aku akan tinggal sementara di sini. Suhu cuaca hari ini adalah 25 derajat Celcius. 77 derajat Fahrenheit. Percakapan kalian barusan memakan waktu 4 menit dan 3 detik. Dalam 1 menit 32 detik, makanan di meja ini akan kehilangan suhu yang di inginkan untuk tubuh manusia. Apa kalian masih tidak mau makan? Kalau begitu, aku makan duluan,” ujar Momo panjang lebar dan dengan santainya langsung makan.
--
Di dalam kamar mandi, Yu Chen menelpon temannya dan berkata kalau sekarang kan masih jam 20:15. Sekarang ini, ayahnya lagi sangat ketat jadi dia tidak bisa keluar sekarang. Yang penting tolong sediakan komputer untuknya di dekat jendela.
Lagi asyik telepon, Momo tiba-tiba masuk dan membuat Yu Chen terkejut. Momo menuntut komputer yang di bilang Yu Chen di kantor polisi tadi. Tapi, Yu Chen malah berkata kalau masalah hari ini masih belum selesai.
“Ibumu boleh saja menikah dengan ayahku. Tapi, kita berdua tetap tidak punya hubungan apapun! Kau membuatku kesal lagi dan aku akan menggunakan 8juta cara untuk membunuhmu, mengerti!”
“Aku tanya lagi. Dimana komputernya!” tanya Momo dengan tegas.


Yu Chen tetap tidak mau memberitahu dan malah mengusir Momo untuk pergi. Momo jadi marah apalagi teringat saat Yu Chen membully Momo asli dan mengejek dirinya. Jadi, dengan kekuatannya, dia menggerakkan botol sabun yang ada di pojok kamar mandi, sehingga botol itu terbang dengan kencang dan menabrak leher belakang kepala Yu Chen. Seketika, Yu Chen pun pingsan. Dan dengan gampangnya, Momo menarik sebelah kaki Yu Chen dan menyeretnya ke dalam kamar Yu Chen.
Momo kemudian memperhatikan ke seluruh kamar Yu Chen dan menemukan laptop Yu Chen. Tanpa meminta izin, Momo langsung mengambil laptop tersebut.
--
Yu Chen terbangun karena bunyi telepon dari ponselnya yang ada di saku celana. Kepalanya masih terasa sakit, tapi dia tetap mengangkat telepon. Yu Chen protes karena temannya sangat buru-buru padahal dia kan sudah bilang akan tiba di sana jam 21.00.
Usai mematikan telepon, Yu Chen baru sadar, kenapa dia bisa berada di dalam kamar?
--
Di warnet, seorang pria memarahi Yu Chen karena datang sangat lama.
A La Lei
Pemilik warnet
Sahabat karib Lu Yu Chen
Anggota dari team battle Thunder
Yu Chen mengerti dan langsung duduk di depan komputer. Tapi, dia masih penasaran akan sesuatu dan bertanya, jam berapa tadi Lei menelponnya pertama kali tadi?
“Jam 20.15.”
“Yang kedua?”
“Jam 20.25. Jika aku tidak menelpon dua kali, kau tidak akan tiba di sini jam 21.00.”
“Ini aneh. Ketika kau menelpon pertama kali, adikku tiba-tiba datang mencariku. Setelah 10 menit, aku anehnya malah terbaring di lantai kamarku. Apa yang terjadi selama 10 menit itu? Aku pingsan? Adikku menggendongku? Tidak mungkin, dia tidak mungkin punya kekuatan.”
Lei tidak mau mendengarkan dan menyuruh Yu Chen untuk cepat saja log in, agar mereka bisa battle.
--
Momo membuka laptop Yu Chen, tapi dia tidak tahu cara menggunakannya. Dia perlu untuk mengirimkan pesan ke luar angkasa. Tapi, apa laptop ini bisa melakukannya?
Shen Juan mengetuk pintu kamar dan masuk dengan membawakan segelas susu hangat untuk Momo. Dengan cepat, Momo segera menghabiskannya dan kemudian menyuruh Shen Juan untuk keluar lagi.
“Momo, apa mama ada salah? kau bisa memberitahu mama,” tanya Shen Juan dengan sedih karena sikap dingin Momo padanya.
“Tidak ada yang salah,” jawab Momo, dingin.
“Momo, jika kau tidak ingin mama dan paman Lu bersama, maka kita bisa pergi jalan-jalan selama beberapa hari. Gimana?”
“Kau dan mereka adalah bagian dari keluarga. Tidak perlu kemanapun.”
“Kau juga bagian dari keluarga,” ujar Shen Juan. “Momo, kau adalah orang terdekat mama. Mama mengambil langkah baru karena berharap kau bisa mempunyai kehidupan yang stabil. Jika kau tidak bahagia atau tidak ingin…”
“Berhenti. Aku bukan tidak bahagia karena kau, atau karena rumah ini. Tapi, karena diriku sendiri. Sekarang, kau bisa keluar,” ujar Momo dan langsung sibuk melihat laptopnya lagi.
Shen Juan dengan sedih dan menangis keluar dari kamar Momo.


Setelah Shen Juan keluar, Momo menggunakan kekuatannya untuk melihat isi di dalam keyboard tersebut dan entah bagaimana mengirimkan pesan melalui satelit.
MENTAL POWER LEVEL 80 %


No comments:

Post a Comment