Type something and hit enter

By On
Network : iQiyi iQiyi

Ketika Xi Que membuka pintu, Luo Jing langsung merasa antusias karena dia mengira itu Wu Mei. Tapi saat dia mengetahui kalau itu Xi Que, dia tampak sedikit kecewa. Dia menanyakan kepada Xi Que, apakah Wu Mei sudah pulang.
Dan Xi Que menjawab bahwa dia telah bertanya kepada Zhang Ji, tapi Zhang Ji juga tidak tahu. Lalu karena ini sudah sangat malam, dia merasa mungkin Wu Mei masih berada di Istana untuk mengurus masalah penting. Jadi lebih baik Luo Jing tidur duluan.

“Aku bahkan membuat begitu banyak makanan enak untuknya,” kata Luo Jing sedikit kecewa. “Mm… sudahlah. Setelah dia kembali, aku akan membuatkannya lagi,” lanjut Luo Jing sambil tersenyum. Lalu Luo Jing kembali ke dalam kamar.

Pagi hari. Luo Jing merebuskan obat untuk Wu Mei, dan ketika Luo Jing mencicipi obat itu dia merasa obatnya sangat pahit. Jadi dia ingin kedapur untuk membuatkan makanan manis bagi Wu Mei untuk dimakan, ketika dia pulang. Karena Wu Mei meminum obat itu setiap hari, jadi pasti Wu Mei merasa pahit juga.
“Nona. Kamu tidak seharusnya menunggu Yang Mulia lagi,” kata Xi Que, pelan.
“Mengapa aku tidak seharusnya menunggu dia?” tanya Luo Jing, tidak mengerti.

Xi Que dengan gugup beralasan bahwa selama kembali kesini, Luo Jing selalu sibuk mengurus Wu Mei. Jadi Xi Que ingin mengajak Luo Jing untuk bersantai sejenak. Mendengar itu, Luo Jing merasa ada yang aneh dengan sikap Xi Que tiba2. Jadi dia meminta Xi Que untuk memberitahunya ada apa.

“Tidak, Nona. Xi Que sangat menyanyangin Nona. Bagaimana bisa Xi Que menyembunyikan sesuatu dari Nona. Hanya saja… mm… Xi Que ingin tinggal disisi Nona sedikit lagi,” kata Xi Que dengan gugup.
“Mengapa aku merasa sepertinya hari ini kamu sedikit…” kata Luo Jing, tidak percaya.

Tiba2 terdengar suara pengawal yang berteriak mengabarkan kepulangan Wu Mei. Dan mendengar itu, Luo Jing merasa sangat gembira sekali, dan mau menemui Wu Mei segera. Tapi Xi Que memegang tangannya, dan menahannya.
“Nona. Mengapa kita tidak pergi membuat cake? Atau, apa kamu haus, Nona? Lapar? Xi Que akan menggosokan punggung mu,” kata Xi Que, sedikit melantur.
Dengan heran, Luo Jing menarik tangannya, dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Lalu karena Xi Que hanya diam, maka Luo Jing pun memutuskan untuk pergi. Dan Xi Que langsung memanggilnya dengan cemas.

Wu Mei tampak tidak fokus mendengarkan, ketika Ru Yu berbicara kepadanya. Tapi saat dia melihat kedatangan Luo Jing, dia langsung memeluk bahu Ru Yu, dan bersikap mesra kepadanya.

“Jika Yu’er (Ru Yu) ingin tinggal disini, maka tinggal lah selama yang kamu suka,” kata Wu Mei. Dan dengan senang, Ru Yu bersandar didada Wu Mei.
Tapi saat Ru Yu menyadari keberadaan Luo Jing didekat mereka, dia langsung merasa malu. “Kakak Zhong, disana ada seseorang. Siapa dia? Mengapa dia mengenakan masker?” tanyanya.

“Dia kah? Dia adalah tabib yang mengobati penyakitku. Aku dengar karena wajahnya jelek, jadi dia mengenakan masker,” jawab Wu Mei dengan nada sedikit keras. Mendengar itu, Luo Jing tampak terkejut dan terluka.

Saat Wu Mei serta Ru Yu tidak sengaja berpapasan dengan Luo Jing didalam kediaman. Wu Mei dengan sengaja mengabaikan Luo Jing, dan dengan perhatian memegang tangan Ru Yu.
“Yu’er. Kamu baru tiba di Sheng Jing. Kamu mungkin capek. Pergilah ke kamar mu untuk beristirahat hari ini. Tunggu sampai aku telah menyelesaikan beberapa urusan, lalu aku akan menemui mu,” kata Wu Mei dengan lembut.
“Baiklah,” balas Ru Yu sambil tersenyum. Lalu dia berjalan melewati Luo Jing yang berada didepannya.

Luo Jing bertanya dengan kesal, dia meminta Wu Mei untuk memberikan penjelasan apa maksud nya ini. Tapi dengan acuh, Wu Mei balas bertanya mengapa. Dan Luo Jing pun mengeluhkan bahwa dia telah menunggu Wu Mei sepanjang malam, tapi Wu Mei tidak pernah datang. Lalu sekarang Wu Mei malah pulang dengan membawa wanita lain, dan berakting seperti itu didepannya barusan.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa?” tanya Luo Jing, meminta penjelasan.
“Apa ini sesuatu yang perlu aku jelaskan kepadamu? Aku masih punya beberapa urusan yang harus diurus sekarang. Selamat tinggal,” balas Wu Mei. Lalu dia pergi.
Keesokan harinya, Luo Jing datang ke kamar Wu Mei. Tapi penjaga pintu menghalanginnya untuk masuk ke dalam. Si Penjaga pintu berbohong, dia mengatakan bahwa Wu Mei sedang pergi ke Istana, jadi Luo Jing bisa kembali nanti.
Wu Mei yang sebenarnya berada didalam kamar, ketika dia mendengar tentang kedatangan Luo Jing, dia merasa sedih dan tidak tega. Tapi dia tidak bisa perbuat apapun, dan hanya bisa diam.
Keesokan harinya, Luo Jing datang lagi ke kamar Wu Mei. Dan kali ini, Zhang Ji yang menghalanginnya. Zhang Ji memberitahu Luo Jing bahwa Wu Mei sudah pergi karena ada urusan. Jadi Luo Jing dengan terpaksa pun harus pergi darisana lagi.


Xi Que menghampiri Luo Jing yang sedang duduk termenung didepan pintu. Dia mengajak Luo Jing untuk kembali ke dalam bersamanya, karena disini sangat dingin. Tapi Luo Jing tidak menjawab, malahan dia menanyakan berapa lama Wu Mei berencana untuk menghindarinya.
“Nona. Yang Mulia mungkin sangat sibuk. Setelah beberapa hari nanti, dia pasti akan menjelaskan nya padamu,” kata Xi Que. Kemudian dia berdiri diam, menemanin Luo Jing yang masih duduk diam didepan pintu.

Keesokan harinya. Luo Jing berpapasan dengan Ru Yu. Dan Ru Yu menyuruh Luo Jing berhenti, karena dia ingin memberikan hadiah terima kasih untuk Luo Jing yang telah mengobati Wu Mei dengan baik.

Tapi Luo Jing menolak hadiah itu dengan halus, dan mengucapkan terima kasih untuk kebaikan Ru Yu. Lalu dia pun ingin pergi. Namun langkahnya terhenti, ketika dia melihat kalung yang dikenakan oleh Ru Yu.

Luo Jing teringat, dulu ketika dia dan Wu Mei berjalan-jalan dipasar malam. Saat itu dia melihat sebuah kalung yang sangat bagus, dan dia menginginkannya. Tapi Wu Mei tidak mau membelikan kalung itu.

“Kalung ini,” kata Luo Jing dengan pelan.
“Kalung ini? Ini hadiah yang diberikan kepada Putri kami oleh Yang Mulia,” jawab Pelayan pendamping Ru Yu.
Mendengar itu, Luo Jing tampak seperti sedih. Dan lalu dia pun berjalan pergi.

Setelah Luo Jing pergi. Ru Yu bertanya kenapa Pelayannya (Shan’er) berbohong kepada Luo Jing, dengan mengatakan kalau kalung ini hadiah dari Wu Mei. Kepadahal kalung ini adalah hadiah ulang tahunnya dari Ayahnya sendiri.
“Tuan Putri. Saya mendengar bahwa ada beberapa pembisnis diluar sana yang meniru design kalung ini. Dan itu sangat populer di Sheng Jing. Lalu Tabib wanita barusan tampak syok ketika melihat kalung ini barusan, jadi dia pasti ada salah paham. Jadi itu bagus bagi kita mengambil kesempatan ini untuk membuang harapannya, agar dia tidak mendekati Yang Mulia. Benarkan?” jelas Shan’er.

Ru Yu merasa bahwa itu sedikit tidak baik. Tapi Shan’er menegaskan bahwa Raja telah menyuruhnya untuk menemanin Ru Yu selama di Sheng Jing, jadi dia pasti akan melindungin Ru Yu.
“Yang Mulia begitu baik, tampan, dan mudah bergaul. Jadi pasti akan ada beberapa orang yang tertarik. Makanya Putri, kamu harus memegang erat Yang Mulia,” jelas Shan’er. Lalu dia mengatai Luo Jing yang harusnya berkaca lagi untuk melihat apa dirinya layak untuk mencoba mendekati Wu Mei.
“Kamu benar. Palsu akan tetap palsu. Itu tidak akan pernah menjadi asli,” kata Ru Yu sambil tersenyum setuju.
Didalam kamar. Wu Mei memperhatikan sepatu doraemon buatan Luo Jing. Serta dress bunga berwarna biru milik Ibunya yang pernah dipakai oleh Luo Jing. Dia mengingat setiap kenangannya bersama dengan Luo Jing.
“Xiao Jing. Aku minta maaf,” kata Wu Mei dengan raut sedih diwajahnya.

Tolong Tinggalkan Komentar, Kritik, ataupun Saran untuk Perubahan yang Lebih Baik!!! ^^

Click to comment