Monday, June 10, 2019

Sinopsis J- Drama : Takane To Hana Episode 7 - part 2

0 comments



Network : Fuji TV, FOD


Diatas atap. Takane menanyakan, apakah seseorang memerintahkan Eiji untuk datang kesini. Lalu Eiji pun menjawab, dia sudah selesai menjadi spy, dan dia datang kesini karena keinginan pribadinya sendiri. Dia melakukan ini untuk kebaikan perusahaan, dan kebaikan Takane juga.

“Kebaikanku?” tanya Takane, tidak paham.
“Ini sudah tugasku untuk mendukung kamu demi masa depan Takaba Grup. Aku tidak suka melakukan apapun setengah2. Untuk kamu berada ditempat seperti ini tidak menyelesaikan apapun, itu merepotkan. Jadi supaya kamu bisa kembali masuk ke dalam perusahaan, tolong gunakan aku,” jelas Eiji.

Takane tersenyum, dan menyebut Eiji aneh. Mendengar itu Eiji tersenyum senang.
Takane lalu merapikan jasnya, “Dari sekarang, aku akan melakukan banyak diskusi bisnis denganmu. Ikuti aku,” katanya dengan tegas. Dan dengan senang hati, Eiji langsung mengikutinya.
Sambil berjalan mengikuti Takane dari belakang, Eiji menjelaskan bahwa ada banyak peluang untuk berdagang dan berdiskusi bisnis dengan perusahaan yang lain. Dan Takane mengiyakan, dia tahu itu, tapi ada banyak orang ditempat ini yang bahkan tidak bisa melakukan itu sama sekali.

Ketika Nonomura tidak sengaja berpapasan dengan Takane, dia menyapa Takane dengan sikap santai. Tapi Takane telah kembali menjadi seperti dirinya dulu, dengan ketus dan sikap mengintimidasi, dia membuat Nonomura merasa ciut.
“Aku sedang buru- buru, jadi jika kamu ingin berbicara, maka kita bisa melakukannya lain kali,” kata Takane dengan tegas.
“Iya. Terima kasih,” jawab Nonomura sambil membungkuk hormat.
“Aku tidak perlu pembicaraan kecil,” balas Takane. Lalu dia pergi melewati Nonomura begitu saja. Dan Eiji mengikutinya.
“Apa dia sudah kembali?” gumam Nonomura. Lalu dia tertawa.

Didalam kelas. Hana memperlihatkan video Takane yang sedang memakan ramen cup kepada kedua temannya. Dan menonton itu, mereka semua tertawa dengan keras. Lalu Okamoto datang, dan memukul kepala Hana dengan pelan.
“Kamu ceria lagi,” kata Okamoto, senang.
“Yeah. Kelihatannya Takane sudah sehat lagi. Terima kasih ya Okamo,” balas Hana. Lalu dia kembali tertawa lagi bersama kedua temannya, melanjutkan video Takane.

Okamoto duduk kembali ditempat duduknya, dan memperhatikan itu.
Setelah kembali dari mengurus kerja sama barang baru, Eiji melaporkannya kepada Takane. Dan dengan tidak tampak bersemangat, Takane memujinya lalu diam merenung. Melihat itu, Eiji menanyakan apakah ada masalah.
“Ketika kamu tidak memiliki uang. Bagaimana cara mu membuat seorang gadis bahagia?” tanya Takane, tidak terduga.
“Apa kamu sedang memikirkan tentang hadiah untuk Hana-san?” tebak Eiji dengan benar. Dan Takane kaget, kenapa Eiji bisa tahu. “Kamu pernah menanyakan pertanyaan yang persis seperti ini sebelumnya,” jelas Eiji.

Takane mengakui bahwa dia sedikit kurang percaya diri untuk memilihkan hadiah bagi Hana. Dan Eiji memberikan sarannya, bahkan jika tidak ada sesuatu yang mahal yang bisa Takane berikan, mengapa Takane tidak memikirkan saja apa yang akan membuat Hana bahagia.
“Apa yang membuat Hana bahagia?” gumam Takane, berpikir.

Malam hari. Hana datang dan memasak lagi ditempat Takane. Dia menaruh semua makanan diatas meja, lalu dia berdiri untuk mengambilkan sendok. Tapi Takane malah memegang tangannya, dan menahannya.
“Aku sibuk, tolong jangan halangin aku,” kata Hana sambil menepi tangan Takane.
“Te… rima… ka… sih,” kata Takane dengan pelan dan gugup.

Mendengar itu, Hana langsung menyentuh dahi Takane, memeriksa mata Takane, dan menjewer kuping Takane. Untuk memeriksa apakah Takane sedang sakit. Dan Takane berusaha menjelaskan bahwa dia baik- baik saja, tapi Hana tidak mendengarkannya sama sekali, jadi dengan kesal dia pun menepis tangan Hana.
“Berhenti menyentuhku seperti itu!” kata Takane dengan ketus. Dan Hana diam.

Takane kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil, dan memberikannya kepada Hana. “Buka dan lihatlah,” katanya.
Dan dengan heran, Hana membuka kotak kecil tersebut. “Ini…”
“Itu kunci rumah ini. Atau pada dasarnya aku memberimu hak istimewa untuk menemuiku. Itu pasti sangat sulit bagimu menunggu ku setiap hari kan? Aku tidak ingin disalahkan kalau kamu dicuri didepan rumahku. Kamu bisa datang dan menemuiku kapan pun,” jelas Takane.

Hana hanya diam saja. Dan melihat itu, Takane dengan bangga bertanya apakah Hana merasa sangat terharu sampai Hana jadi tidak bisa berbicara. Dan Hana menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Diresto Okonomiyaki. Hana dengan raut wajah bahagia, dia memperlihatkan kunci cadangan yang diberikan oleh Takane untuknya kepada kedua temannya dan Luciano. Melihat itu, mereka semua menggoda Hana.

Dan karena merasa malu, Hana pun membalikan okonomiyaki nya, dan tanpa sengaja malah menghancurkannya.

“Kunci cadangan adalah sesuatu yang biasanya diberikan oleh kekasih yang saling mencintai. Pasangan perjodohanmu, seorang pria tua mengejar seorang gadis sekolah itu agak…” komentar Okamoto.
“Itu yang aku pikirkan juga. Tapi Takane-san mungkin tidak memikirkan tentang itu sama sekali,” jawab Hana dengan raut kecewa.

Okamoto membersihkan Okonomiyaki yang Hana hancurkan. Sementara yang lainnya melanjutkan obrolan. Mereka memberikan ide untuk Hana menyatakan cinta duluan kepada Takane, daripada Hana merasa tergganggu karena masih menjadi pasangan perjodohan saja.
“Aku tidak menyukainya!” sangkal Hana dengan keras. “Umm… ini tidak seperti aku tidak menyukai nya sih…” kata Hana mengubah perkataannya.
Ayah memeluk Okamoto, dan menepuk- nepuk nya dengan pelan. Untuk menghibur anaknya yang sedang patah hati.

“Tujuan Takane adalah untuk membuat ku menyatakan cinta duluan. Aku hanya setuju dengan perjodohan ini, dan menganggapnya sebagai tantangan,” jelas Hana.
Luciano berpikir sejenak, lalu dia menjelaskan bahwa dia tidak tahu apa yang Takane akan lakukan. Tapi menurutnya, sejak Takane bertemu dengan Hana, Takane menjadi sangat menarik.

“Bukankah itu berarti dia…” kata Mizuki, ingin berkomentar.
Tapi Luciano langsung menutup bibirnya. “Tidak ada yang menyukai spoiler Mizuki- chan,” katanya sambil tersenyum. Dan Mizuki pun terdiam.

“Hana-chan. Hal yang lebih penting adalah apa yang ingin kamu lakukan,” kata Luciano kepada Hana.
“Katakan saja, meskipun aku punya perasaan seperti itu padanya. Aku tidak ingin memberitahu nya,” jelas Hana.

Okamoto memberikan bungkusan Okonomiyaki pesanan Hana, lalu dia menanyakan apakah Hana akan pergi ke tempat Takane lagi. Dan Hana mengiyakan, lalu dia pamit dan pergi.

Okamoto mengejar Hana, dan berteriak memanggil namanya sehingga Hana pun berhenti dan menanyakan ada apa.
“Ini aneh! Tinggal dengannya, dan sendirian dirumah yang sama dengan seorang pria,” kata Okamoto sambil berjalan mendekati Hana.
“Tidak sama sekali. Ketika aku tidur, dia tidak ada melakukan apapun kepadaku. Dan Takane-san bukan orang yang seperti itu,” jelas Hana, menenangkan.
“Hanya karena tidak ada yang terjadi, bukan berarti dia tidak berbahaya!” balas Okamoto dengan nada keras. Dan Hana meminta maaf serta berterima kasih, karena Okamoto begitu peduli padanya.


“Kemudian biarkan aku memberimu beberapa saran,” kata Okamoto. Lalu secara tiba- tiba dia menarik Hana ke dalam pelukannya. “Lihat? Kamu terlalu mudah,” jelas Okamoto, lalu dia melepaskan pelukannya.
“Ya. Itu mungkin benar,” balas Hana, lalu dengan gugup dia pamit dan berjalan pergi.
“Eh, apa itu barusan?” gumam Hana dengan perasaan bingung dan syok.

“Nonomura! Aku menyukai mu!” teriak Okamoto. Dan Hana terkejut mendengar itu. “Aku telah menyukai mu sejak hari pertama kita bertemu,” jelas Okamoto.

Takane ternyata ada disana. Dan dia memperhatikan mereka berdua dari jauh.

IG : @Chudrama

No comments:

Post a Comment