Sunday, June 16, 2019

Sinopsis K- Drama : Angel’s Last Mission Love Episode 15 - part 1

0 comments

Sinopsis Angel’s Last Mission : Love  Episode 15 – Part 1
Network : KBS2


“Lee Yeon Seo,” teriak Kim Dan, memanggil Yeon Seo yang datang mencarinya. Dia melambaikan tangannya yang bebas, sementara tangan nya yang lain memegang balon.
Dan Yeon Seo tersenyum melihat Kim Dan yang berada dihadapannya.

Mereka berdua jalan sambil bergandengan tangan. Lalu mereka duduk dibangku taman.

“Ini mimpi, kan?” tanya Yeon Seo.
“Benar,” jawab Kim Dan yang duduk dengan tegap.


“Lalu, dalam mimpi ini, mari berfoto sampai kita tua. Lihat kedepan,” kata Yeon Seo mengarahkan wajah Kim Dan ke arah kamera. Lalu dia bersandar dibahu Kim Dan. Kemudian clik, mereka berfoto.

Foto kedua, Yeon Seo memakai pakaian pengantin putih. Sementara Kim Dan memakai tuksedo hitam. Lalu sambil bergadengan tangan, dan tersenyum. Clik, mereka berfoto.

Foto ketiga. Rambut Yeon Seo serta Kim Dan sudah mulai memutih sebagian. Tapi dengan masih tampak bahagia. Click, mereka berfoto.

Foto keempat. Rambut Kim Dan sudah memutih sepenuhnya. Mereka berdua memakai pakaian tradisional korea. Dan Click, mereka berfoto.


Yeon Seo serta Kim Dan saling bertatapan sambil tersenyum, kemudian mereka saling medekatkan wajah mereka. Seperti ingin berciuman.

Yeon Seo terbangun dari mimpinya, tapi dia menolak untuk bangun dan ingin melanjutkan kembali tidurnya. “Mari tidur lebih lama. Aku bisa tidur. Tidur. Teruskan. Teruskan,” gumam Yeon Seo. Tapi sayangnya, dia tidak bisa.

Dengan kesal, Yeon Seo pun bangun dan dia mengeluh. “Harusnya aku tidur lebih lama. Oh, apa- apaan aku? Yeon Seo, kamu pasti gila,” gumam Yeon Seo saat sudah sepenuh tersadar.


Didapur. Yeon Seo membaca resep diinternet dan mulai memasak. Kali ini dia berhasil memasak telur dengan baik. Dia membuat dua buah roti panggang dengan telur. Lalu setelah selesai, dia mulai berpikir alasan apa yang harus dikatakannya agar tidak terlalu kentara bahwa dia sengaja membuat dua porsi sarapan.

“Ada bahan sisa, jadi aku membuatnya. Tidak bisa dibuang begitu saja,” gumamnya, lalu dia menghela nafas. “Dia akan paham, kan?”

Yeon Seo lalu menaruh sarapan yang telah dibuat nya ke atas meja. Dan tepat disaat itu, Kim Dan pulang. Dan dengan ramah sambil tersenyum, Yeon Seo segera menawarkan sarapan yang dibuatnya.


Tapi tanpa disangka, Kim Dan tiba2 saja malah mengatakan bahwa dia ingin berhenti dari pekerjaannya dan keluar dari rumah ini. Mendengar itu, Yeon Seo sangat terkejut. “Apa katamu? Apa yang kamu bicarakan?” guman Yeon Seo, tidak bisa percaya dengan pendengarannya barusan.
“Terima kasih untuk selama ini,” kata Kim Dan dengan pelan. Lalu dia pergi.


Yeon Seo mengejar Kim Dan, dan menghentikannya. “Kenapa? Pasti ada alasan. Kenapa mendadak seperti ini?” teriak Yeon Seo, menuntut penjelasan.
“Maaf,” jawab Kim Dan, tanpa menjelaskan.


“Ini konyol. Apa yang sudah kamu katakan? Kamu bilang, aku tidak akan sendirian apapun pilihanku. Kamu benci melihatku menderita. Semua itu bohong? Pikiranmu berubah dalam sehari?” tanya Yeon Seo. Tapi Kim Dan hanya diam saja. “Kenapa kamu melarikan diri? Apa yang kamu takutkan?”



“Perasaanku. Perasaanmu,” jawab Kim Dan didalam hatinya. “Kamu tidak sendirian. Ada Ny. Jung dan Kang Woo juga. Kamu akan baik2 saja tanpaku.”
“Aku mendengarmu. Katamu kamu menyukaiku. Kamu bilang, ‘bagaimana aku bisa tidak menyukaimu?’ “ kata Yeon Seo dengan keras dan tegas.


Ternyata saat Yeon Seo mabuk dan Kim Dan membawanya pulang kerumah. Disaat itu Yeon Seo tidak tidur sepenuhnya, dan dia mendengarkan semua apa yang Kim Dan katakan kepadanya.


“Kenapa kamu tidak diperbolehkan menyukaiku? Kamu anggap aku apa? Kamu manusia. Dan aku juga manusia. Aku kira kamu akan mengerahkan keberanianmu. Aku bilang pada diri sendiri, ‘Ayo jangan cengeng’, ‘Ayo bersabar’. Bahkan jika kamu bilang tidak menyukaiku, sikap orang selalu bicara lebih jelas daripada sebuah kata. Dan kamu selalu…” kata Yeon Seo. Mengingatkan kembali semua sikap penuh perhatian yang Kim Dan berikan kepadanya selama ini. “Kamu sangat hangat padaku. Bukan begitu?” tanya Yeon Seo.
“Apa perasaanku menyukaimu? Benar, ada. Tapi itu adalah persimpangan bagiku. Sama seperti mencari udara segar. Kamu tahu berapa lama ‘selamanya’? Dibandingkan ‘selamanya’, aku hanya ada 1 atau 2 bulan. Bahkan tidak layak,” jawab Kim Dan.

Yeon Seo masih tidak mengerti, apa sulitnya sehingga Kim Dan tidak boleh menyukainya. Dan Kim Dan langsung menyela, dia menjelaskan bahwa itu karena alkohol, dan apa yang dikatakannya saat mabuk itu tidak memiliki arti.
“Apa?”


“Aku adalah pembantumu untuk berjalan, tapi kamu bisa berjalan dengan baik dan bahkan menari sekarang. Kamu tidak, membutuhkanku lagi.”
“Kamu sudah selesai?”
“Ya.”



Ny. Jung datang dan menyapa mereka berdua dengan riang. Tapi dia merasa sangat heran, karena tiba2 saja Yeon Seo berteriak pada Kim Dan.
“Benar. Kamu selalu tidak berguna. Aku pasti berdelusi. Baik, berhentilah. Sementara kita membicarakannya, kemasi barang- barangmu dan pergi sekarang juga!” teriak Yeon Seo dengan marah dan mata berkaca- kaca.
Dan tanpa menjawab, Kim Dan membungkuk memberi hormat. Lalu pergi.


Ny. Jung merasa bingung dengan apa yang terjadi, jadi dia pun bertanya. Dan tanpa menjelaskan, Yeon Seo menyuruh Ny. Jung untuk mengambilkan surat penguduran diri Kim Dan, lalu biarkan Kim Dan untuk pergi segera.
“Hitung jumlah jam dia bekerja dan berikan setiap sen-nya, termasuk lembur dan semuanya. Pastikan kita tidak berutang budi padanya. Aku tidak perlu menemuinya lagi!” kata Yeon Seo dengan keras. Agar Kim Dan mendengar.
Lalu setelah Kim Dan menjauh, Yeon Seo pun pergi dengan marah darisana.


Ny. Jung menghalangin Kim Dan untuk berkemas, dan dia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua. Dan tanpa menjelaskan, Kim Dan hanya memberitahu bahwa dia tidak akan pernah kembali.
“Kamu bisa berhenti, tapi kamu harus melakukan serah terima tugasmu. Kontrak tertulis, kamu harus beritahu kami sebulan sebelum pengunduran dirimu, kamu akan pastikan menyerahkan tugas pada penggantimu,” kata Ny. Jung dengan tegas.

“Nona menyuruhku pergi segera,” balas Kim Dan dengan santai.
Ny. Jung merasa heran, dan bertanya sejak kapan Kim Dan mendengarkan perkataan Yeon Seo. Dan tanpa menjawab, Kim Dan hanya tersenyum saja.


Yeon Seo membuang semua makanan yang telah dibuatnya ke dalam tempat sampah. Lalu dia memegang pinggiran meja dengan kuat. Menahan tangisan nya, menahan rasa kecewanya, dan menahan rasa marahnya.


Setelah selesai berkemas dan keluar dari dalam kamar. Kim Dan berpapasan dengan Yeon Seo, tapi tanpa mengatakan apapun Yeon Seo seperti langsung menghindarinya. Dan melihat itu, Kim Dan pun ingin memanggilnya untuk berbicara. Tapi Ny. Jung langsung menahannya, dan menyuruhnya agar segera pergi saja.
Dan mengerti maksud Ny. Jung, maka Kim Dan pun membungkuk memberi hormat. Lalu dia pergi darisana.


Ketika Kim Dan telah beneran pergi. Yeon Seo tampak seperti ingin menangis.


Kang Woo tersenyum mengingat jawaban Kim Dan yang tidak ada menyangkal, ketika dia mengatakan bahwa Kim Dan serta Yeon Seo berada di dunia yang berbeda. “Benar, kamu tidak bisa berbohong,” gumam Kang Woo, senang.

Kang Woo menelpon Kim Dan, dan mengajaknya untuk bertemu. Tapi ternyata yang menjawab adalah Ny. Jung, dan dia pun merasa heran.

Ny. Jung memberitahukan tentang Kim Dan yang tiba2 saja mengundurkan diri hari ini, dan Kim Dan mengembalikan hape serta semua yang pernah mereka berikan kepadanya. Dan dia tidak juga tidak tahu kenapa mendadak seperti ini, tapi kali ini dia merasa nyata, karena Kim Dan serta Yeon Seo bertengkar hebat.

“Dia membicarakan tentang kebahagiaan, dan bertindak seperti akan hidup selamanya. Lalu, dia berhenti?” gumam Kang Woo, berpikir. Sambil makan sepotong coklat.


Selama sesaat, Kim Dan berdiri didepan gereja. Dia mengingat kembali semua kejadian pagi ini. Saat Hoo menghukum seorang malaikat. Lalu setelah itu, dia pergi.


“Dikatakan bahwa api akan membakar hutan dan menjadi kobaran api yang menelan gunung. Kamu harus berlindung sampai api redup,” kata Hoo yang ternyata berada diatas atap memperhatikan kepergian Kim Dan.

Tiba2 saja Hoo melihat kedatangan Kang Woo. Dan karena dia tidak ingin Kim Dan bertemu dengan Kang Woo, maka dia pun turun menghampiri Kang Woo dari belakang. Sehingga Kang Woo berhenti berjalan ke arah gereja, dan tidak bertemu dengan Kim Dan yang berjalan pergi meninggalkan gereja.
“Kamu datang pada malam hari, dan juga pagi hari. Kamu pasti sangat taat. Atau apa kamu penuh dengan kekhawatiran?” tanya Hoo, berbasa- basi.


“Seorang pendeta harusnya tidak bicara seperti peramal. Aku mencari seseorang. Kim Dan, dimana dia?” tanya Kang Woo, langsung.
“Aku tidak tahu,” jawab Hoo dengan tegas.


Kang Woo mengabaikan Hoo dan berjalan masuk ke dalam gereja. Dia mencari- cari dimana Kim Dan berada. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menemukannya.
“Kenapa kamu tidak percaya padaku?” tanya Hoo. “Saat hatimu dipenuhi keraguan, kamu takkan percaya pasta kedelai dibuat dari kacang kedelai. Orang yang terlalu banyak keraguan takkan bisa bahagia.”
“Ya. Meragukan dan menerka. Sangat melelahkan. Aku suka sesuatu yang jelas.”


Hoo mendoakan Kang Woo, lalu dia berbalik untuk pergi. “Ya. Itu sebabnya aku berencana untuk memeriksanya agar menjadi kuat,” kata Kang Woo, lalu dia mengambil tiang lilin dan mau memukul Hoo menggunakan itu.
Tapi tiba2 saja tiang lilin yang dipegangnya berubah menjadi setangkai bunga mawar. Dan Hoo tersenyum, dia berbalik dan mengambil bunga itu dari Kang Woo. “Aku akan menerima hadiah ini darimu.”

“Benar. Aku tahu kamu bukan pendeta biasa. Ditoko, gereja, disana- sini. Kamu sibuk mencari malaikat juniormu. Apa yang kamu lakukan pada Lee Yeon Seo?”
“Itu bukan sesuatu yang manusia biasa bisa tanganin,” jawab Hoo dengan serius. Dia mengulurkan tangannya untuk menghilangkan ingatan Kang Woo.

Tapi sebelum Hoo melakukan itu, Kang Woo langsung memegang tangannya dan menahannya. “Kamu pikir kamu sangat istimewa. Kamu memadang rendah manusia yang berjuang, dan memanipulasi mereka dengan menjentikkan jari mu. Itu membuatmu merasa seperti Abdi yang maha tahu dan maha kuasa. Kamu salah,” kata Kang Woo dengan nada tajam.


“Kenapa kamu tidak terkejut? Saat menghadapi makhluk dunia lain, manusia gemetar ketakutan dan tak bisa berkontak mata. Tapi daripada gemetar ketakutan, kamu marah. Kenapa demikian?” tanya Hoo, heran.
“Tanyakan dewa sialanmu, kenapa aku seperti ini. Dan apa itu Yeon Seo, atau Kim Dan. Jika dewa ingin merusak rencanaku lagi, katakan padanya untuk sadar juga,” balas Kang Woo. Lalu dia pergi darisana.

Hoo menghela nafas. “Dia bukan sembarang tulang rusuk.”

Kim Dan melakukan perjalanannya ke suatu tempat.


Hoo berlutut dihadapan Tuhan, dan bertanya apakah bisa Kim Dan mengatasi semua ini.


Kim Dan berdiri di tengah persimpangan empat arah. Dan dia merasa bingung kemanakah dia harus pergi.

Yeon Seo berdiri didepan Fantasia.

Kang Woo datang menghampiri Yeon Seo. “Bisakah aku bilang ‘akhirnya’?” tanyanya. Dan Yeon Seo memandang bingung padanya. “Kita bisa berdiri berdampingan dan menghadapi Fantasia. Akhirnya.”
“Benar. Aku pikir hari seperti ini tidak akan pernah datang,” balas Yeon Seo.


“Selamat atas kembalinya kamu, secara resmi.”
“Terima kasih, secara resmi.”

No comments:

Post a Comment